cover
Contact Name
Moh. Shofan
Contact Email
jurnal@maarifinstitute.org
Phone
+6281316538753
Journal Mail Official
jurnal@maarifinstitute.org
Editorial Address
Jalan Tebet Barat Dalam 2 No 6, Tebet, Jakarta Selatan, 12810
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Maarif
Published by MAARIF Institute
ISSN : 19078161     EISSN : 27155781     DOI : https://doi.org/10.47651/mrf
Jurnal MAARIF diarahkan untuk menjadi corong bagi pelembagaan pemikiranpemikiran kritis Buya Ahmad Syafii Maarif dalam konteks keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Beberapa isu yang menjadi konsen jurnal ini adalah tentang kompatibilitas Islam dan demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralisme. Isu-isu lain yang juga menjadi perhatian jurnal ini adalah soal kemiskinan, kekerasan atas nama agama, terorisme dan berbagai persoalan kebangsaan dan kemanusiaan yang mengemuka dalam kehidupan Indonesia kontemporer.
Articles 273 Documents
Rekonstruksi Filsafat Kedokteran Islam: Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi Ahmad Muttaqin Alim
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.83

Abstract

“Perlawanan” cendekiawan Muslim termasuk para ilmuwan kedokteran terhadap sains modern melalui proyek Islamisasi Ilmu juga terejawantah di dalam dunia kedokteran. Para dokter Muslim mulai melirik konsep dan praktik kedokteran Islam, bahkan di beberapa universitas sudah diajarkan sejak dua dekade ini seperti “kedokteran nabi”, bekam, obat-obat herbal yang ada dalam hadits-hadits dan kitab-kitab salaf. Tak hanya itu, sumpah dokter Muslim pun dipakai di dalam sumpah dokter bersama sumpah hipokrates. Artikel ini akan memetakan persoalan yang lebih kompleks dan dalam dari sekadar fenomena cocokologi antara hadits dan ilmu kedokteran, bagaimana posisi ilmu kedokteran di dalam hierarkhi pengetahuan menurut para cendekiawan Muslim, bagaimana perkembangan dunia kedokkteran modern dan landasan filsafatnya, serta pekerjaan rumah para cendekiawan dan praktisi ilmu kedokteran bila ingin membangun konstruksi kedokteran Islam yang kokoh.
Virus Korona: Peneguh Nilai-Nilai dalam Ajaran Islam Iu Rusliana
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.84

Abstract

Artikel ini berusaha menggali nilai-nilai dalam ajaran Islam yang perlu diperkuat agar dapat menjadi peneguh sikap keberagamaan untuk melewati ujian pandemi korona. Peneliti menggunakan metode kajian pustaka (literature review) dengan membaca literatur yang relevan dengan riset ini. Dapat disimpulkan bahwa perlu usaha serius untuk menggali dan meneguhkan nilai ajaran Islam pada aspek individual dan sosial. Dari aspek individual antara lain keimanan pada qada dan qadar, bersikap sabar dan bertawakal. Pada aspek sosial antara lain peduli sesama dan taat kepada Ulama serta pemerintah. Musibah yang mendunia ini pun juga membutuhkan iman yang rasional sebagai panduan dalam bersikap dan beragama dalam keseharian.
Otoritas Agama di Era Korona: Dari Fragmentasi Ke Konvergensi? Mohammad Zaki Arrobi; Amsa Nadzifah
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.85

Abstract

Artikel ini berupaya menarasikan pandangan, sikap, dan peran otoritas keagamaan Islam dalam merespons situasi pandemi akibat penyebaran virus korona di Indonesia. Fokus artikel ini adalah artikulasi wacana keagamaan dan praksis sosial yang dilakukan oleh ‘ustad selebritis’ dan organisasi massa Islam dalam menghadapi pandemi akibat Covid-19.Tulisan ini mengulas pergeseran wacana di kalangan otoritas keagamaan menyangkut isu Covid-19. Di saat wabah korona belum terdeteksi di Indonesia yakni di bulan Januari-Februari, respons otoritas agama mengalami fragmentasi dan kontestasi. Fragmentasi ini ditunjukkan dengan adanya gap antara sikap pro aktif dan konstruktif mayoritas pemuka dan organisasi agama dengan sikap reaktif dan kontra produktif sebagian kecil pemuka agama lainnya. Lambat laun, seiring dengan kasus Covid-19 yang kian menyebar di tanah air, otoritas agama baru berupa ‘ustad selebritis’ maupun otoritas agama lama seperti MUI, Muhammadiyah, dan NU mengalami konvergensi wacana dan praksis keagamaan dalam merespons Covid-19. Mereka sama-sama bekerja keras meyakinkan umat Islam bahwa pesan otoritas agama selaras dengan panduan otoritas kesehatan.
Covid–19 Membuka Nalar Kaum Islamis: Studi Kasus Kaum Islamis di Timur Tengah Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.86

Abstract

Pandemi Covid-19 yang merupakan wabah menular yang seharusnya disikapi dengan kacamata sains, ternyata harus disikapi dengan tidak semestinya, bahkan menggunakan agama sebagai dalih-dalih pembenaran. Tentunya hal ini merupakan suatu bencana kemanusiaan yang kemudian menjadi malapetaka dan menjadi pertanyaan, untuk apa manusia diciptakan oleh Allah SWT. Apakah ibadah untuk kehidupan, ataukah kehidupan untuk ibadah? Pertanyaan ini sangat mendasar bagi kita agar kita semakin meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara introspeksi dan evaluasi diri dengan kesadaran sebagai seorang hamba-Nya yang lemah, bukan dengan keangkuhan atau kedengkian.
Integrasi Sains dan Agama: Meruntuhkan Arogansi di Masa Pandemi Covid-19 Wa Ode Zainab Zilullah Toresano
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.87

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh persoalan pandemi COVID-19 atau wabah korona yang sedang dihadapi oleh masyarakat dunia di berbagai negara. Urgensi mengangkat tema mengenai “integrasi sains dan agama” ialah untuk meminimalisir konflik antara keduanya dalam merespons fenomena tersebut. Penulis bertujuan untuk meruntuhkan arogansi sains modern dan agama yang direpresentasikan oleh saintis dan agamawan, dengan paradigma integralistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah “metode deskriptifanalitis” dengan pendekatan filosofis dan teologis. Penulis berkesimpulan bahwa upaya integrasi sains [sains modern] dan agama dalam merespons segala problem kemanusiaan, termasuk pandemi COVID-19, dapat menjadi solusi. Jadi, sains dan agama bisa memainkan peran yang sama dalam menyelesaikanwabah korona ini.
Pendidikan Masa Pandemi Covid-19: Strategi, Adaptasi dan Transformasi Moh. Shofan
MAARIF Vol 15 No 2 (2020): Pendidikan Masa Pandemi Covid-19: Strategi, Adaptasi dan Transformasi
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel-artikel dalam jurnal ini mencoba untuk melihat fenomena wajah pendidikan yang berubah drastis akibat pandemi covid-19. Selama ini guru lebih cenderung mengajar dengan bertatap muka, baik di kelas maupun di luar ruang kelas. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa sangat tidak mungkin institusi pendidikan bisa menciptakan karakter siswanya jika pembelajaran tidak dengan bertatap muka. Tentu, banyak kendala yang dihadapi guru dan siswa yang muncul dalam pembelajaran metode daring yang tidak bisa dihindari. Sebagaimana dijelaskan di atas, banyak satuan pendidikan yang terkendala dengan koneksi jaringan internet yang tidak ada.
Covid-19 dan Matinya Metode Pengajaran Tradisional: Perspektif Islam Sukron Kamil
MAARIF Vol 15 No 2 (2020): Pendidikan Masa Pandemi Covid-19: Strategi, Adaptasi dan Transformasi
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i2.116

Abstract

Covid-19 bukan hanya meluluh-lantakkan banyak bidang kehidupan yang berefek negatif, melainkan juga darinya ada banyak sisi positif dan itu berlaku juga bagi dunia pendidikan/pengajaran. Di antara sisi positifnya, Covid-19 telah memproklamirkan kematian metode mengajar tradisional. Paling tidak, metode mengajar dengan dosen/guru sebagai pusat dan metode mengajar berbasis hafalan. Keduanya bukan hanya tak sejalan dengan tuntutan Covid-19 yang menekankan proses pembelajaran sebaliknya, melainkan juga tak sejalan dengan teori pengajaran/pendidikanmodern/kontemporer. Baik Covid-19 maupun teori pendidikan modern menuntut diterapkannya metode mengajar dengan siswa/mahasiswa sebagai pusat dan metode mengajar tak berbasis hafalan. Dalam Islam meski metode mengajar dengan dosen/guru sebagai pusat dan metode mengajar berbasis hafalan merupakan tradisi yang kuat, bukan berarti metode mengajar dengan siswa/mahasiswa sebagai pusat dan metode mengajar tak berbasis hafalan bertentangan dengan Islam. Ada banyak sisi Islam, baik Islam sebagai ajaran maupun tradisi (sejarahnya) yang panjang yang memperlihatkan dua metode mengajar yang sesuai tuntutan Covid-19 itu merupakan bagian dari ajaran dan tradisi pengajaran/pendidikan dalam Islam sejak masa klasik yang tak dipisahkan. Kedua metode mengajar itu sejalan dan telah dipraktikkan dalam Islam. Karenanya, umat Islam jangan ragu untuk menerapkan dan mengembangkan metode mengajar yang sesuai tuntutan Covid-19 itu.
Transformasi Sosial dalam Proses Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 Rifma Ghulam Dzaljad
MAARIF Vol 15 No 2 (2020): Pendidikan Masa Pandemi Covid-19: Strategi, Adaptasi dan Transformasi
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i2.117

Abstract

Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan perubahan sosial yang tidak direncanakan. Pandemi Covid-19 tidak hanya menimbulkan dampak secara klinis kepada masyarakat dunia, namun juga menimbulkan konsekuensi sosial dan ekonomi yang tidak sepenuhnya sanggup ditopang oleh negara. Selain itu transformasi sosial yang terjadi akibat pandemi menyebabkan ketimpangan peran dan kekerasan di tingkat mikro keluarga, sekaligus kompleksitas masalah dalam penyelenggaraan pendidikan. Tulisan ini berusaha menganalisa kaitan antara pandemi Covid-19, perubahan sosial yang terjadi dan pentingnya pendidikan di masa pandemi dilaksanakan dalam bentuk belajar di rumah (homeschooling, home education, home based learning), pembelajaran berada dalam lokus keluarga dan komunitas dengan kesadaran mental sebagai ‘abid-khalif, berbasis kearifan nilai-nilai keadaban dan kemajuan sesuai semangat dan kebutuhan zamannya sebagaimana diajarkan Kiai Dahlan.
Menuju Pendidikan Berkeindonesiaan (Refleksi Pendidikan Masa Pandemi) Hasibullah Satrawi
MAARIF Vol 15 No 2 (2020): Pendidikan Masa Pandemi Covid-19: Strategi, Adaptasi dan Transformasi
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i2.118

Abstract

Pendidikan Berke-Indonesia-an menjadi kebutuhan yang mendesak pada era seperti sekarang. Mengingat perkembangan teknologi yang ada acap membawa kebudayaan-kebudayaan baru yang tidak dikenal asal-usulnya. Namun demikian, kebudayaan-kebudayaan itu tiba-tiba viral dan pelan-pelan dijadikan sebagai “Budaya Baru Indonesia”. Bila semua ini tidak diantisipasi, alih-alih menjadi negeri yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkeperibadian secara kebudayaan, Indonesia justru hanya menjadi landasan tempur bagi politik negeri orang lain, menjadi pasar bebas bagi ekonomi bangsa-bangsa lain dan menjadi penggemar kebudayaan bangsa-bangsa lain. Sedangkan politik nasional Indonesia justru terus cakar-cakaran antara satu kekuatan dengan kekuatan lain, distribusi ekonomi hanya menyebar di kalangan kelompok tertentu dan kebudayaan kita pun terpinggirkan dari pentas yang mewah menjadi budaya pinggiran dan bahkan hiburan jalanan. Tulisan ini ingin memotret ulang kebijakan pendidikan dengan menggali pemikiran-pemikiran cemerlang dari pendahulu yang disesuaikan dengan tantangan antarbangsa, antarnegara dan antarbudaya yang ada sekarang. Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan yang tidak merata bisa dijadikan sebagai salah satu contoh dari kekurangan yang sangat terasa akibat Covid-19.
Orang Tua sebagai Benteng Terakhir Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 Wa Ode Zainab Zilullah Toresano
MAARIF Vol 15 No 2 (2020): Pendidikan Masa Pandemi Covid-19: Strategi, Adaptasi dan Transformasi
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i2.120

Abstract

Latar belakang tulisan ini ialah munculnya problematika sistem pendidikan Belajar dari rumah (BDR) selama pandemi Covid-19. Peran pendidikan yang selama ini sebagian besar dilakukan pihak sekolah atau guru, kini dijalankan oleh orang tua atau keluarga di rumah. Adapun tujuan mengangkat tema ini adalah memberikan pandangan tentang peran orang tua sebagai ‘sekolah’ pertama bagi anak. Namun, penulis tetap berupaya memposisikan peranan keluarga dan sekolah secara proporsional, serta saling bersinergi dalam rangka menunjang hak anak memperoleh pendidikan. Metode yang digunakan penelitian ini adalah “metode deskriptif-analitis dengan pendekatan filosofis dan teologis. Penulis berkesimpulan bahwa orang tua [keluarga] dan sekolah [guru] dengan anak harus melakukan kerja sama konstruktif agar pendidikan di rumahtetap optimal, tanpa membebani pihak mana pun.