cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
STRATEGI PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI KARET DALAM MERESPON HARGA KARET RENDAH / Strategy to Increase Rubber Farmers’ Income to Respond Low Rubber Price Nugraha, Iman Satra; Sahuri, Sahuri
Perspektif Vol 18, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.502 KB) | DOI: 10.21082/psp.v18n2.2019.79-86

Abstract

Karet merupakan tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan penghasil devisa terbesar 10. Produsen karet di Indonesia terdiri dari pulau Sumatera dan Kalimantan. Indonesia merupakan salah satu produsen karet terbesar setelah Thailand dengan jumlah penduduk yang terlibat pada usahatani karet mencapai 2,2 juta KK. Adanya penurunan harga karet pada akhir-akhir ini berdampak terhadap penurunan pendapatan petani karet. Sehingga diperlukan strategi untuk meningkatkan pendapatan petani karet. Makalah ini memberikan gambaran strategi yang perlu dilakukan petani karet untuk meningkatkan pendapatannya. Adapun strategi yang dilakukan adalah peningkatan adopsi klon unggul ditingkat petani, pengoptimalan kebun karet dengan memodifikasi jarak tanaman karet menjadi lebih lebar sehingga dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman sela selama siklus tanaman karet dan petani menggunakan pemasaran karet melalui UPPB karena dapat meningkatkan bagian harga yang diterima petani sehingga petani mendapatkan harga yang tinggi
Bahan Bakar Nabati Asal Tanaman Perkebunan Sebagai Alternatif Pengganti Minyak Tanah Untuk Rumah Tangga PRASTOWO, BAMBANG
Perspektif Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.982 KB) | DOI: 10.21082/p.v6n1.2007.%p

Abstract

RINGKASANDi  antara  masalah  yang  berkenaan  dengan  energi nasional antara lain adanya kecenderungan konsumsi energi fosil yang semakin besar, energi mix yang masih timpang,  dan  harga  minyak dunia yang tidak menentu. Ketimpangan energi mix adalah terjadinya penggunaan  salah  satu  jenis  energi  yang  terlalu dominan, yaitu penggunaan minyak bumi sebesar 54,4 %. Ketimpangan energi mix dan penggunaan energi yang  masih  boros  mengakibatkan  beban  nasional semakin berat. Khusus untuk minyak tanah, subsidi pemerintah  khusus  masih  mencapai  sekitar 34,51 triliun rupiah. Oleh karena itu, perlu upaya-upaya lain, di  antaranya adalah penggunaan bahan bakar nabati (BBN), untuk mengurangi subsidi, sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat bawah berupa pengganti minyak tanah. Bahan bakar nabati (BBN) adalah semua bahan bakar yang berasal dari minyak nabati, dan dapat berupa biodiesel, bioetanol, bio-oil (minyak  nabati  murni).  Minyak murni umumnya dapat digunakan untuk pengganti minyak tanah dan sejenisnya, melalui peralatan atau kompor khusus. Penggunaan langsung minyak murni maksudnya adalah penggunaan minyak hasil tanaman (pure plant oil atau crude oil) tanpa perlu proses transesterifikasi yang memerlukan tambahan bahan dan biaya. Jika tujuannya adalah membantu masyarakat kelas rendah pengguna minyak tanah, maka minyak murni menjadi pilihan. Menurut sifatnya, maka minyak murni harus dalam bentuk kabut atau uap agar dapat terbakar secara baik, sehuingga harus mendapat tekanan yang cukup   sebelum   pembakaran,   dan   minyak   dapat terbakar secara baik. Hal ini memerlukan kompor yang memiliki tabung bertekanan cukup (sekitar 2 - 3 bar). Kompor semacam ini sudah banyak digunakan oleh para penjual jajanan atau kaki lima, tetapi biasanya menggunakan minyak tanah, dan masih harus dimodifikasi agar dapat digunakan untuk BBN dalam bentuk minyak murni. Uji coba awal jenis baru kompor bertekanan di Indonesia maupun di beberapa negara lain  terbukti berhasil baik sehingga perlu segera dituntaskan penelitiannya dan diformulasikan, agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Fabrikasi kompor tersebut di daerah-daerah dengan menggunakan bahan lokal akan membuka kesempatan kerja serta kesempatan berusaha bagi masyarakat di daerah.  Tanaman  kelapa  dan  jarak  pagar  sebagai tanaman penghasil bahan bakar nabati, potensinya lebih baik dibandingkan jenis tanaman perkebunan lainnya, terutama penggunaan minyak murninya sebagai pengganti minyak tanah dengan memanfaatkan kompor bertekanan yang sesuai.Kata kunci : Bahan bakar nabati, pengganti minyak tanah rumah tangga, kompor bertekanan ABSTRACTEstate Crops Origin Of Biological Fuel As An Alternative Of Kerosene For Household Amongst the problems of national energy, are the trend of increasing fossil energy consumption, unbalance of mix energy, and uncertaint world oil price. Unbalance of mix energy and the wasteful use of energy  consumption,  caused  national  responsibility increased. Especially for kerosene, government subsidy reach to 34.51 trillion rupiahs. To reduce government subsidy and to fulfil necessity of low community at once, therefore, another efforts are needed. Biological fuel  is  all  fuel  that  originated  from  botanical  oil, namely  biodiesel,  bioetanol  or  bio-oil (pure  oil). Generally, pure oil can be used as an alternative of kerosene or others through special equipment (special stove). Direct use of pure oil is the use of crude oil (pure plat oil), without any transesterification proses and additional budget. In order to get proper ignition, pure plant oil must be in the form of mist or vapour. The equipment (stove) with enough pressure (approx. 2-3 bar), therefore is needed. In Indonesia and other countries, the experiment of stove with pressure were successful, and need to be formulated to be used by community.  Stove fabrication in the district (territory areas) by using of local material, will open a job opportunity, as well as the opportunity of community to do a business in the districs. As fuel producing plants, coconut (Cococ nucifera) and Jatropha curcas  are more potential than those of other estate crops.Key words : Biological fuel, kerosene, pure plant oil, stove pressured
Research Status of Clove, Application of Technology and Development Strategy with Ecological Basic Setiawan, Setiawan; Rosman, Rosihan
Perspektif Vol 14, No 1 (2015): Juni, 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.187 KB) | DOI: 10.21082/p.v14n1.2015.27-35

Abstract

ABSTRACTClove (Syzygium aromaticum L.Marr and Perr) is a native spice crop of Indonesia. Development of clove estate areas has experienced up and downs fluctuation doe to desease and price fluctuation that cause farmers do not maintenat plant. Hence, it is necessary to perform extensification and intensification. Extensification means development through the expansion, while the intensification means development through the improvement of technology. Results of previous studies include land suitability maps and climate, fertilization technology, cropping pattern, maintenance, nurseries and the search for improved varieties have been done. But has not answered the problems of cloves, especially fluctuations in the yield. Extensification efforts require land suitabilityand climate maps, while intensification requires land/environment based technology. Ecology-based cultivation technologies including varieties, planting, fertilizer, maintenance, cropping pattern, harvest and post harvest should be given attention in order to archive effectively, efficiently and high productivity. The criteria of land and climate suitability, and cultivation technology can be used as guidelines for the development of cloves and as a basis for making a map at operational scale and for determining the appropriate technological package. This paper aims to examine the technological research that has been done and integrate into a form more efficient cultivation technology-based ecology (soil and climate) for use as the direction and strategy of the development of clove in the future.Keywords : Clove, technology, ecology, land suitability 28 Volume 14 Nomor 1, Juni 2015 : 27 -36 Status Penelitian, Penerapan Teknologi dan Strategi Pengembangan Tanaman Cengkeh Berbasis Ekologi ABSTRAKCengkeh (Syzygium aromaticum L. Marr. and Perr.) merupakan tanaman rempah asli Indonesia. Perkembangan perkebunan cengkeh mengalami pasang surut akibat adanya serangan penyakit dan fluktuasi harga cengkeh yang menyebabkan petani tidak mau memelihara tanaman. Oleh karena itu diperlukan upaya ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi berarti pengembangan melalui perluasan areal sedangkan intensifikasi berarti pengembangan melalui peningkatan teknologi tanaman cengkeh. Hasil penelitian terdahulu antara lain peta kesesuaian lahan dan iklim, teknologi pemupukan, pola tanam, pemeliharaan, pembibitan dan pencarian varietas unggul telah dilakukan. Namun belum menjawab permasalahan cengkeh terutama fluktuasi hasil. Upaya ekstensifikasi diperlukan peta kesesuaian lahan dan iklim sedangkan intensifikasi diperlukan teknologi berbasis kondisi lahan/lingkungan. Teknologi budidaya berbasis ekologi mulai dari varietas, penanaman, pemupukan, pemeliharaan, pola tanam hingga panen dan pasca panen harus mendapat perhatian, karena selain mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi, juga efektif dan efisien. Kriteria kesesuaian lahan, iklim dan teknologi budidaya dapat dijadikan pedoman pengembangan tanaman cengkeh dan sebagai dasar pembuatan peta skala operasional dan menentukan paket teknologi yang tepat. Makalah ini bertujuan untuk menelaah teknologi hasil penelitian yang telah dilakukan dan mengintegrasikan ke dalam bentuk teknologi budidaya yang efisien berbasis ekologi (lahan dan iklim) untuk digunakan sebagai arah dan strategi pengembangan cengkeh dimasa yang akan datang.Kata kunci : Cengkeh, teknologi, ekologi, kesesuaian lahan 
The potency of Plant Growth-Promoting Rhizobacteria as Biological Controller Agent of Estate Crops Diseases in The Environmentally Friendly TOMBE, MESAK
Perspektif Vol 12, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v12n2.2013.%p

Abstract

Estate crops is one of the foreign exchange producers that can be relied on in the globalization era. Therefore the production of estate crops process requires means of production that is efficient and environmentally friendly to raise the competitiveness in the global market. Plant disease control by using biological  controlle agent such as PGPR is necessary to be utilized in the estate crops enterprise that is environmentally friendly and sustainable. Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR ) is a bacterium that lives in the root and can produce antibiotic, as competitor, induce plant resistance to control pathogenic disease and pest and can secrete useful compounds  for plant growth. PGPR  user can reduce the utization of synthetic pesticide and inorganic fertilizer. The application of PGPR to control diseases in the estate crops such as pepper, tea, tobacco, and vanilla  effective to control the main pathogens such as Phytophthora capsici, Phytophthora nicotianae,Fusarium oxysporum, Pseudomonas solanacerum, Rigidoporus lignosis, Exobasidium vexans,Tobacco Mosaic Virus and nematodes. PGPR has the potency to reduce the pesticide utilization upto 50% and in the organic cultivation. PGPR has been published could complety replace the pesticide utilization especially if it is used continuously. Indonesia is the second biggest country in the biological resources including PGPR. This potency is necessary to be developed and utilized to build the estate crops that is environmentally friendly and suatainable. Key words : PGPR, biological control, environmentally friendly, induce resistance.
PROSPEK PENGEMBANGAN BIOINSEKTISIDA NUCLEOPOLYHEDROVIRUS (NPV) UNTUK PENGENDALIAN / Prospect of Development of Nucleopolyhedrovirus (NPV) Bioinsecticide Against Samsudin, Samsudin
Perspektif Vol 15, No 1 (2016): Juni, 2016
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.476 KB) | DOI: 10.21082/psp.v15n1.2016.18-30

Abstract

Chemical insecticides for estate crop pests control are ineffective, impractical, expensive, and causing environmental pollutions. The entomopathogenic virus (EPV) mainly the nucleopolyhedrovirus (NPV) can be developed as an effective, efficient, and environmentally friendly biopesticide. NPV can be survived in the field in the form of polyhedra and spread naturally through the vertical and horizontal transmission process. The infected larvae usually hang by pseudolegs to the leaves or entrees. Research to increase virulence, host spectrum and its persistence has been done to overcome some weaknesses of NPV if developed as biopesticide. Some NPV isolates that infect the estate crop pests and potential to be developed in Indonesia, among others: Spodoptera litura NPV (SlNPV), S. exigua NPV (SeNPV), Helicoverpa armigera NPV (HaNPV), Sethotosea asigna NPV (SaNPV), Hyposidra talaca NPV (HtNPV) and Maenas maculifascia NPV (MmNPV). Based on several advantages of NPV compared with the chemical insecticides, the development of NPV biopesticide for controlling estate crop pests in Indonesia has very good prospects.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN RENDEMEN TEBU MELALUI REKAYASA FISIOLOGIS PERTUNASAN KHULUQ, AHMAD DHIAUL
Perspektif Vol 13, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.531 KB) | DOI: 10.21082/p.v13n1.2014.%p

Abstract

ABSTRAKTebu  (Saccharum  officinarum  L.)  merupakan  salah  satu komoditas  strategis,  karena  digunakan  sebagai  bahan baku  berbagai  industri  seperti  gula,  bioetanol,  asam amino,  asam  organik  dan  bahan  pangan.  Oleh  karena  itu, program pengembangan dan peningkatan produk­tivitas  menjadi  hal  yang  prioritas.  Salah  satu  upaya untuk  meningkatkan  produksi  dan  rendemen  tebu dapat dilakukan melalui optimalisasi pertunasan, yaitu dengan  mengatur  keseimbangan  horman  auksin  dan sitokinin di dalam tanaman. Pengaturan hormon dapat menghilangkan  dominansi  apikal  dan  menginisiasi tunas  lateral  sehingga  meningkatkan  jumlah  anakan tebu.  Hal  itu  dibuktikan  pada  pemberian  sitokinin (BAP:kinetin)  0,5  mg/l  sampai  1,5  mg/l  secara  in  vitro didapatkan multiplikasi tunas berjumlah 3,5 sampai 11 tunas  tebu.  Pengaturan  dominansi  apikal  dapat dilakukan dengan zat penghambat tumbuh (retardan) seperti  glyphosate  dan  paraquat  dengan  dosis  subletal. Faktor  eksternal  seperti  intensitas  cahaya,  suhu, pengairan,  pemupukan  dan  pemilihan  benih  menjadi pendukung  keberhasilan  optimalisasi  pertunasan. Keberhasilan optimalisasi pertunasan diharapkan dapat menghasilkan keseragaman pertumbuhan tanaman dan mengurangi  pembentukan  sogolan,  menghemat penggunaan  bibit,  mempertahankan  serta  meningkatkan  produktivitas  dan  umur  keprasan  tanaman  tebu, mengembangkan pola tanam tumpang sari.Kata kunci:  Produktivitas,  rendemen,  tebu,  tunas, hormon Sugarcane Productivity and Yield Increased with Sprouting Physiological EngineeringABSTRACTSugarcane  (Saccharum  officinarum  L.)  was  one  of  the strategic commodity, because it was used as raw material for  various  industries  such  as  sugar,  ethanol,  amino acids,  organic  acids  and  foodstuffs.  Therefore, development  and  improvement  of  productivity programs became the priority. One of the efforts to boost the  production  and  yield  of  sugarcane  could  be  done through  optimization  of  budding,  ie  by  adjusting  the balance  of  hormones  auxin  and  cytokinin.  Hormone regulation  could  eliminate  apical  dominance  and initiated lateral buds, thereby increasing the number of tillers of sugarcane. This was evidenced in the addition of cytokines (BAP:kinetin) 0.5 to 1,5 mg/l in vitro showed shoot  multiplication  by  3,5  to  11  shoots  of  sugarcane. Regulation  of  apical  dominance  could  be  done  with growth  inhibitor  (retardants)  such  as  glyphosate  and paraquat with sublethal doses. External factors such as light  intensity,  temperature,  watering,  fertilization  and seed selection into a budding optimization success. The success  of  budding  optimization  was  expected  to  be produced  uniformity  of  plant  growth  and  reduce  bull shoot  formation,  eficiency  of  seeds,  maintained  and improved  the  productivity  and  logging  time  of sugarcane and intercropping pattern development.Keyword :  Productivity, yield, sugarcane, bud, hormone
DIVERSIFIKASI PRODUK BERBASIS TEH PADA INDUSTRI PANGAN, FARMASI, DAN KOSMETIK Diversification of Tea Based Products in the Food, Pharmaceutical and Cosmetic Industry Prawira-Atmaja, Mukhammad Iqbal; Rohdiana, Dadan
Perspektif Vol 17, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.38 KB) | DOI: 10.21082/psp.v17n2.2018.150-165

Abstract

ABSTRAKTeh adalah minuman populer di dunia yang memiliki manfaat kesehatan. Selama periode 2006-2016 jumlah produksi dan konsumsi teh dunia meningkat signifikan. Intenational Tea Committee melaporkan bahwa jumlah produksi teh dunia di tahun 2016 mencapai 5,46 Juta Ton dengan jumlah konsumsi rata-rata mencapai 5,1 juta Ton. Namun, peningkatan produksi dan konsumsi teh tidak berbanding lurus dengan harga jual teh dipasaran. Rerata harga teh di rumah lelang berkisar US$ 2,6/kg.Indonesia merupakan negara produsen teh ke 7 dengan sumbangsih 3% dari total ekspor dunia. Tahun 2016 produksi teh Indonesia mencapai 125.000 Ton menurun 7% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan jumlah produksi teh tersebut salah satunya dikarenakan luas area tanaman teh dalam beberapa tahun terus mengalami penurunan dan banyak beralih fungsi menjadi tanaman hortikultura. Selain itu biaya produksi seperti upah buruh, pengelolaan lahan, dan utilitas yang terus meningkat berdampak terhadap semakin sedikit margin keuntungan yang diperoleh. Perkembangan dan terobosan teknologi dewasa ini telah banyak berperan di dalam mengembangkan keragaman produk berbasis teh. Diversifikasi produk berbasis teh mampu meningkatkan nilai tambah dan nilai jual produk tersebut. Keragaman produk berbasis teh telah banyak diaplikasikan dan dimanfaatkan pada industri pangan, industri farmasi, maupun industri kosmetik kecantikan. Meskipun begitu, kestabilan senyawa bioaktif teh seperti polifenol, katekin, theaflavin, dan senyawa bioaktif lainnya masih menjadi isu utama. Masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kestabilan senyawa bioaktif teh pada saat pengolahan, pengemasan dan penyimpanan, dan selama distribusi hingga ke tangan konsumen. Pemanfaatan bagian tanaman teh yang lain seperti biji dan bunga teh perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Pemanfaatan tersebut diharapkan bisa mendukung pohon industri teh dan mampu meningkatkan keragaman produk berbasis teh di masa mendatang. Review ini merangkumkan diversifikasi produk berbasis teh yang telah banyak dikomersialkan di pasaran dan memiliki nilai jual yang tinggi.ABSTRACTTea is a popular beverage in the world that have health benefits. Over the period 2006-2016 the amount of tea production and consumption in the world increased significantly. International Tea Committee reported that amount of world tea production in 2016 reached 5.46 million tons with total consumption reaching 5. 1 million tons. However, the increase in tea production and consumption is not directly proportional to the selling price of tea in the market. The average price of tea at the auction house is around US $ 2.6 / kg. Indonesia is the 7th tea producing country with a contribution of 3% of total world exports. In 2016 Indonesian tea production reached 125,000 tons, down 7% compared to the previous year. Decrease the amount of tea production due to a decline in the area of tea and many converted into horticultural crops. The condition is worsen by the increasing cost of processing production in the plantation and in the factory so that the profit margin obtained is very low. Recently developments and technological breakthroughs have much role in developing diversified tea products so as to increase the selling tea products. The diversity of tea-based products have been widely applied in the food industry, the pharmaceutical industry, as well as beauty cosmetic industries. Nevertheless, the stability of bioactive compounds such as tea polyphenols, catechins, theaflavins, and other bioactive compounds still a major issue. Further research is still needed to determine the stability of tea bioactive compounds during processing, packaging and storage, and during distribution to consumers. Utilization of other plant parts such as seed tea and flower tea needs to be done further research. The utilization is expected to support the tea industry tree and be able to increase the diversity of tea-based products in the future. This review we will summarize the diversification of tea-based products that have been widely commercialized on the market and have high selling points
Biofumigan untuk Pengendalian Patogen Tular Tanah Penyebab Penyakit Tanaman yang Ramah Lingkungan YULIANTI, TITIEK; SUPRIADI, SUPRIADI
Perspektif Vol 7, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.322 KB) | DOI: 10.21082/p.v7n1.2008.%p

Abstract

ABSTRAKMetil  bromida  adalah  pestisida  berspektrum  luas untuk   mengendalikan   serangga,   nematoda,   dan patogen,   baik   dalam   tanah   maupun   di   gudang. Senyawa ini sudah dilarang penggunaannya di dunia berdasarkan  kesepakatan  Montreal  Protocol  tahun 2000, bahkan harus dimusnahkan di seluruh dunia pada tahun 2015.  Di beberapa negara maju sudah gencar dilakukan penelitian untuk mencari senyawa biofumigan sebagai alternatif pengganti metil bromida. Tulisan ini menguraikan salah satu sumber biofumigan  yang  cukup  prospektif  dan  cukup  banyak  diteliti, yaitu, glukosinolat (GSL), termasuk beberapa aspek berkaitan dengan biosintesis dan hidrolisis senyawa tersebut dan produk yang dihasilkan, sumber tanaman penghasil   GSL,   pengaruh   biofumigan   terhadap patogen tular tanah dan mikroorganisme lainnya, serta prospek  dan  kendala  pemanfaatan  biofumigan  di Indonesia.  GSL  berasal  dari  tanaman  famili  kubis-kubisan (Brassicaceae).  Ada sekitar 350 genera dan 2500   spesies   famili   Brassicaceae   yang   diketahui mengandung senyawa GSL. GSL merupakan senyawa yang   mengandung   nitrogen   dan   belerang   hasil metabolit sekunder tanaman.  GSL akan dihidrolisis apabila   terjadi   kontak   dengan   enzim   mirosinase, biasanya melalui pelukaan jaringan tanaman.  Hasil hidrolisis adalah beberapa senyawa, baik yang bersifat volatil maupun tidak, misalnya isotiosianat (ITS), ion tiosianat (SCN-),  nitril,  epitionitril,  indolil  alkohol, amin, sianid organik dan oksazolidinetion. Senyawa yang dihasilkan dari proses hidrolisis tergantung pada suhu, pH, dan jenis tanah.  Meskipun sudah banyak bukti  bahwa  senyawa  ITS  mampu  mengendalikan patogen-patogen    tular    tanah,    namun    untuk penerapannya  di  Indonesia  masih  perlu  penelitian supaya diperoleh hasil yang efektif, seperti eksplorasi jenis-jenis Brassicaceae    lokal    sebagai    sumber biofumigan, teknik aplikasi di lapangan (pola tanam, rotasi, tumpangsari,  tanaman penutup tanah), dan faktor-faktor   abiotik   yang   berpengaruh   terhadap biosintesis maupun hidrolisis GSL di dalam tanah.Kata   kunci:   Brassicaceae,   biofumigan,   hidrolisis, sumber   tanaman,   prospek   pengem-bangan di Indonesia ABSTRACTBiofumigant as an environmentally friendly method to control soilborne plant pathogensMethyl bromide (MBr) is a broad spectrum pesticide used to control insects, nematodes, and pathogens both in soils and storages.  Under the Montreal Protocol 2000, MBr has been banned excempted for critical use and it is scheduled to be eliminated completely as of 2015. Several  developed  countries  are  intensively seeking for biofumigants as an alternative substances to substitute MBr. This paper discuses glucosinolate (GSL),   one  of  the  most  prospective  biofumigant, including its biosynthesis, hydrolisis process and their products, effect on soilborne pathogen and other soil microorganisms, as well as its prospect and constrains of  the  development  of  biofumigant  in  agricultural system in Indonesia.  There are about 350 genus and 2500 spesies of Brassicaceae plants known to contain GSLs. The GSLs are secondary metabolites that contain sulfur, nitrogen and a group of glucose.  The GSL is only hydrolysed when it is contacted with myrosinase enzym in the presence of water, commonly occured when plant tissue is damaged.  Various hydrolysis products of volatile and non volatile compounds are known such as isothiocyanates (ITCs), ion thiocyanates (SCN-), nitrile, epithionitrile, indolyl alcohol, amine, organic   cyanide   and   oxazolidinethion.   Type   of hydrolised products depends on soil temperature, pH, and soil types.  Ample evidences support the use of ITCs to control soilborne pathogens and yet to obtain effective control in a large scale application, especially in Indonesia, needs more comprehensive studies, such as exploration of biofumigant sources from indigenous or local species of Brassicaceae, application methods (cropping  system,  rotation,  intercropping,  or  cover crop) and other abiotic factors affecting the hydrolysis process of GSL in soil.Keyword: Brassicaceae, biofumigant, hydrolisis, plant source, prospect, Indonesia.
Permasalahan Gambir (Uncaria gambir L.) di Sumatera Barat dan Alternatif Pemecahannya AZMI DHALIMI
Perspektif Vol 5, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.634 KB) | DOI: 10.21082/p.v5n1.2006.%p

Abstract

ABSTRAKTanaman gambir merupakan komoditas spesifik lokasi dan unggulan daerah provinsi  Sumatera Barat. Usahatani gambir adalah salah satu mata pencaharian untuk meningkatkan pendapatan petani. Gambir juga sebagai komoditas ekspor yang memiliki sumbangan besar terhadap PDRB daerah yang pada gilirannya akan meningkatkan devisa Negara. Delapan puluh persen kebutuhan gambir dunia dipasok oleh Provinsi Sumatera Barat dengan negara tujan Bangladesh, India, Pakistan, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Perancis , dan Swiss. Permintaan terhadap gambir terus meningkat sepanjang tahun dan selama periode lima tahun (2000 - 2004) peningkatan volume ekspornya mencapai 87,49% dan nilainya meningkat 17,16%. Kegunaan utama gambir adalah sebagai bahan baku industri obat-obatan,  makanan,  industri  tekstil  serta  bahan baku pewarna yang tahan terhadap cahaya matahari, disamping juga sebagai bahan penyamak kulit. Permasalah utama dari tanaman gambir saat ini adalah rendahnya produktivitas dan kualitas produk sebagai akibat dari cara bercocok tanam dan proses pasca panen                (pengolahan) yang belum optimal dan minimnya dukungan teknologi. Salah satu langkah dalam   mengatasi   masalah   ini   adalah   melakukan identifikasi permasalahan dalam rangka menghasilkan program perencanaan penelitian/pengkajian yang komperhensif, sinergis, dan berkelanjutan. Atas dasar desk study dan informasi dari lapangan, baik data teknis maupun sosial ekonomi sudah diperoleh rumusan permasalahan dan alternatif pemecahannya dalam bentuk matrik program aksi  yang diharapkan dapat  dijadikan langkah awal bagi instansi terkait dalam penanganan permasalahan gambir di Sumatera Barat. Hal ini sangat berguna dalam menghindar duplikasi perencanaan dan pelaksanaan, dan untuk evaluasi program penelitian dan pengkajian, sehingga menghasilkan suatu program aksi yang strategis dan dinamis sejak pra produksi sampai dengan pengolahan dan pemasaran.Kata kunci: Gambir, Ucaria ambir, indentifikasi masalahj, Sumatera Barat ABSTRACTProblem of gambir (Uncaria gambir) in West Sumatera and its their alternative solutionsGambir plant is a specific location commodity of West Sumatera. Gambir farming is  obne  of activities to increase farmers income. It is also  an export commodity which contributes to local PDRB and increases  export  earnings. Around 80% of world demand is fulliled by West Sumatera Province with destiniation  country :  Bangladesh,  India,  Pakistan, Taiwan, Japan, South Korea, France, and Switzerland. Demands for gambir have increased all the years, and during five years (2000-2004) export vlume increased 87.49% and export value increased 17.16%. Gambir is esed  raw  material  for  medicine,  food,  and  textile industries, and also as sunlight proof color agent and for leather processing. The main problems of gambir are low producticvity and low quality resulted from inoptimal  cultivation  and  post  harvest  processing technoloque. One step to value the problems is to identify the problems and to draw a program for research and development  of  gambir  which  are comprehensive, synergic, and  sustainable. This program  in  solving the  gambir  problems  in  West Sumatera, and it is also important to avoid duplication in planning and implementation, and also for research evaluastion so that it can produce action program which is strategic and dynamic since pre-production to post-harvest and marketing.Key word: Gambir, Uncaria gambir, problem identification, West Sumatera.
Pengendalian Nitrosamin dan Diversifikasi Bahan Bakar Pada Pengovenan Tembakau Virginia nFN SAMSURITIRTOSASTRO
Perspektif Vol 1, No 2 (2002): Desember 2002
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2791.575 KB) | DOI: 10.21082/p.v1n2.2002.55-65

Abstract

Luas tanaman tembakau Virginia di Indonesia seiap tahun (1996-2000) mencapai 40 133 ha dengan produksi 41 680 ton. Sedangkan kebutuhan tembakau ini untuk konsumsi sebesar 51 723 ton dan masih memerlukan 35 375 ton dari Negara lain senilai US$ 67 536 089 iap tahun. Pengolahan daun tembakau Virginia menjadi daun tembakau kering atau krosok fc (flue-cured) menggunakan bangunan oven dan minyak tanah sebagai bahan bakar utama. Sesuai kebijaksanaan energi nasional, yang menetapkan minyak tanah hanya sebagai sumber energi petani di pedesaan, telah dilakukan peneliian diversifikasi bahan bakar lain sebagai penggani minyak tanah. Nitrosamin (tobacco specific nitrosamin-TSNA) adalah bahan karsinogenik pada daun tembakau selain terdapat pada bahan makanan lain. Komponen ini terbentuk selama pengovenan dan idak terdapat pada daun tembakau segar yang bam dipeik. Saat ini telah diketahui terdapat lima macam nitrosamin pada daun tembakau masing-masing NNN (N-nitrosonorikoine), NAB (nitrosoanabasine), NNK (4-methylnitrosamino-l-l(3-pysidyl)-l-butanone), NATB (nitrosoanatabine) and NNA (4-methylnitrosamino-4-(3-pysidyl)-l-butanal). Nitrosamin merupakan hasil reaksi antara nitit dan alkaloid pada daun tembakau. Nitrit terbentuk melalui dua cara, pertama, sebagai hasil degradasi mikrobia anaerobik terhadap senyawa nitrat daun untuk menghasilkan energi dan sisa nitrit. Kedua, nitrit merupakan residu pembakaran bahan bakar minyak, gas, dan juga biomasa yang menempel pada permukaan daun tembakau. Sesuai dengan cara pembentukan nitrit pada daun tembakau, pembentukan nitrosamin dapat diturunkan dengan sistem pemanasan udara ruang oven secara idak langsung. Tetapi cara ini akan meningkatkan konsumsi bahan bakar 1-2 kali lebih besar dan diikui peningkatan biaya produksi. Minyak tanah sendiri menunjukkan harga yang selalu meningkat, Rp 300,-pada tahun 2000, Rp 6000,- pada tahun 2002 dan diperkirakan akan meningkat lagi pada tahun-tahun mendatang. Penggunaan analis simulasi dengan skenario harga minyak tanah Rp 800,-/1 dan konsumsi minyak tanah 1.5-3.0 1/kg krosok menghasilkan tiik impas jika petani memperoleh harga rata-rata Rp 11 260 sampai dengan Rp 12 550/kg krosok. Paket teknologi untuk diversifikasi bahan bakar yang telah tersedia seperi penggunaan minyak solar, LPG, energi surya dan batubara masih belum kompeiif dibandingkan minyak tanah selama minyak tanah masih memperoleh subsidi yang tinggi dari pemeintah.Kata kunci : Nicotianan tabacum, Virginia, nitrosamine, diversifikasi, bahan bakar.

Page 2 of 21 | Total Record : 201