cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
Perkembangan Jambu Mete dan Strategi Pengendalian Hama Utamanya ELNA KARMAWATI
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.372 KB) | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKTanaman jambu mete menghasilkan komoditas ekspor yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan relatif stabil dibanding komoditas ekspor Indonesia lainnya. Selain gelondong dan kacang  mete tanaman tersebut menghasilkan pula minyak laka dan produk lain yang diolah dari buah semu. Arealnya bertambah  terus tiap tahun,  sehingga  akhir 2006  mencapai 595.111  ha. Organisme  pengganggu  tumbuhan  terutama  hama merupakan   salah   satu   penyebab   kematian   dan mengakibatkan  produktivitas  serta  mutu  menjadi rendah.   Pada   beberapa   daerah   sentra   produksi Helopeltis  merupakan  hama  yang  luas  serangannya paling tinggi diikuti oleh S. indecora dan hama lainnya. Beberapa   permasalahan telah   ditemukan   yang menyebabkan hama Helopeltis spp seringkali muncul atau  Sanurus  menjadi  hama  baru,  diantaranya  a). percabangan tanaman yang semakin banyak sehingga tumpang tindih dan mengakibatkan perubahan iklim mikro, b). Helopeltis spp dan S. indecora mempunyai rentang   tanaman   inang   yang   sangat   lebar   dan berlimpah  di  lapangan,  c).  penggunaan  insektisida kimia  yang  berlebihan,  d).  kurangnya  pengetahuan petani  mengenai tanaman sela, e). adanya interaksi antara Helopeltis spp, S. indecora dan Delichoderus sp. Upaya  pengendalian  sebelum  tahun 2001  sebagian besar  masih    menggunakan  bahan  kimia,  namun perbaikan-perbaikan teknologi  telah dilakukan setiap tahun. Strategi pengendalian yang digunakan adalah a).  pemanfaatan  dan  perekayasaan  lingkungan pertanaman jambu mete, b). pengkajian skala luas di beberapa agroekologi sekaligus melanjutkan pembinaan  pemandu  dan  petani  dalam  wadah sekolah  langsung pengendalian hama terpadu (SLPHT).Kata  kunci:  Anacardium  occidentale  L.,  gelondong  , kacang  mete,  Helopeltis  spp.,  Sanurus indecora,  iklim  mikro,  tanaman  inang, perekayasaan lingkungan, SLPHT ABSTRACTCashew   nut   Development   and   Control Strategy of Its Main PestsCashew plant produces export commodity having a very high value and stability compared with other Indonesian  export  commodities.  Beside    shells  and nuts, the plant produces  lacca oil and other  products from the fruits. The cashew growing area increases every year and the end of 2006 achieved 595.111 ha. Pests can cause  the death or the lower productivity and nut quality. In several production area, Helopeltis has  the  largest  attack  area,  followed  by  Sanurus indecora or other pests. Several problems have been found in the  field, such as: a). more branches produced by   the   plant   caused   micro   climate   changes,   b). Helopeltis spp and  S. indecora have a very wide host range, c). the over usage of  synthetic insecticide, d). the lack of farmers knowledge of intercropping, e). there is interaction  among Helopeltis spp, S. indecora and Dolichoderus sp. Before 2001, synthetic insecticide were commonly used for controlling insect pest. Since then, other control methods have been developed. The control strategy are a). ecosystem engineering and its utilization surrounding cashew plantation and b). large scale  assessment  of  agroecologies  and  farmer  and extension   worker   supervision   in   Field   School   of Integrated Pest Management (FSIPM).Key words : Anacardium occidentale L., shell, cashew, Helopeltis  spp,  Sanurus indecora, micro climate, host     plant,      ecosystem engineering, FSIPM
Pemberdayaan Lahan Podsolik Merah Kuning dengan Tanaman Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) di Kalimantan Selatan BUDI SANTOSO
Perspektif Vol 5, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.771 KB) | DOI: 10.21082/p.v5n1.2006.%p

Abstract

ABSTRAKRosela  (Hibiscus  sabdariffa  L)  merupakan  tanaman penghasil serat alam yang dapat digunakan sebagai bahan baku kertas (pulp) berkualitas. Pengembangan rosela   di   lahan   podsolik   merah   kuning (PMK) memberikan harapan yang menjanjikan. Permasalahan yang dihadapi di lahan PMK sangat komplek, terutama mengenai tingkat kesuburan tanahnya. Perbaikan lahan melalui penambahan kapur dan   bahan   organik   serta   pemakaian galur-galur introduksi rosela yang tahan terhadap deraan lingkungan di lahan PMK merupakan langkah yang sesuai   untuk  mengatasi   masalah  tersebut.   Kapur (CaCO3)  yang  berasal  dari  kapur  pertanian  dapat meningkatkan pH, menetralisir pengaruh Al dan Fe serta menaikkan nilai basa dalam tanah. Dosis kapur di lahan  PMK  Kalimantan  Selatan  cukup 1,5  ton/ha. Disamping itu khasiat kapur pertanian mempunyai daya susul/residu dari tahun kedua sampai dengan tahun  ketiga.  Bahan  organik  yang  bersumber  dari blotong dan kotoran unggas memiliki kemampuan yang sama dengan CaCO3 walaupun sifatnya agak lamban.   Keistimewaan   bahan   organik dapat memperbaiki sifat kimia tanah, akibat dari aktivitas mikroorganisme. Penggunaan bahan organik untuk memperbaiki sifat kimia lahan PMK diperlukan sekitar 3 - 5 ton/ha.  Disamping itu, galur-galur introduksi rosela yang tahan terhadap keracunan Al dan Fe di lahan PMK yaitu Hs 53a, Thay 146-H dan CPI 115357. Tingkat produksi serat kering rosela di lahan PMK setelah diperbaiki kondisinya berubah dari 1 ton/ha Menjadi 2,649-2,870 ton/ha. Disamping itu, penerapan pola tumpang sari rosela +  jagung akan meningkatkan pendapatan petani dari Rp 5.400.000 menjadi Rp 7.858.000 atau sebanyak Rp 2.458.000/ha. Hasil  studi  yang  telah  dilaksanakan  menunjukkan bahwa pemberdayaan lahan podsolik merah kuning melalui   pengembangan   tanaman   rosela,   disertai dengan   perbaikan   sifat-sifat   kimia   tanah   dan penerapan pola tanam tumpang sari, rosela + jagung akan  mampu  memperbaiki  pendapatan  petani  di Kalimantan Selatan.Kata  kunci:  Rosela,  Hibiscus  sabdariffa  L.,  podsolik merah kuning, perbaikan lahan, produksi, Kalimantan Selatan  ABSTRACTDevelopment of Yellow Red Podzolic Land for Roselle Plantation in South KalimantanRoselle (Hibiscus sabdariffa L.) is a fiber crop that can produce raw material for paper industry (pulp). The development of roselle in yellow red podzolic land is potential.  However,  the  problems  in  yellow  red podsolic land is also complicated, particularly the soil infertility. Soil improvement through application of lime (CaCO3),  organic  materials,  and  utilization  of roselle promising lines which are resistant to YRP soil are good to solve the problems. The lime (CaCO3) derived from agriculture lime can increase soil pH, netralizer Al and Fe, and increase basa value of the soil. The dosage of lime for YRP soil in South Kalimantan is 1.5 tons/ha. Besides, the lime has residual effect for three years. The organic material which are derived from blotong and chicken manure have the same effect with that of CaCO3 but slower. The advantage of organic material is they improve. The soil chemical characteristics,  as  the  results  from  microorganism activities. It needs 3-5 tons organic materials per ha to improve the soil chemical characteristics. The roselle promising lines which are resistant to Al and Fe are Hs  53a, Thay 146-H, and CPI 115 357. The production of dry  fiber  in  the  YRP  soil  after  the  condition  is improved increased from 1 ton/ha up to 2.65-2.87 tons/ha.  Beside,  intercropping  roselle  with  maize increased farmers’ income from Rp 5,400,000 to Rp 7,858,000 or Rp 2,458,000/ha. The results of the studies that have been conducted showed that the utilization of YRP soil for roselle platnation implemented with the improvement    of    soil    chemical    characteristics, intercropping roselle and maize can increase farmes’ income in South Kalimantan.Key word: Roselle, Hibiscus sabdariffa L., Yellow Red Podzolic,  soil  improvement,  production, South Kalimantan.
Dinamika Cara Panen Tembakau Rajangan Madura JOKO HARTONO
Perspektif Vol 2, No 1 (2003): Juni 2003
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2262.313 KB) | DOI: 10.21082/p.v2n1.2003.1-10

Abstract

Teknologi cara panen tembakau rajangan madura seringkali mengalami suatu dinamika atau penyesuaian Semakin dinamis cara panen, mutu tembakau yang dihasilkan menjadi semakin bervariasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa panen terbaik tembakau madura yang ditanam di dataran rendah dilakukan dengan memetik secara serentak sekitar 12 lembar daun teratas untuk rajangan dan 6-8 lembar daun bawah untuk krosok. Sementara itu untuk tembakau dataran tinggi sekitar 8-12 lembar daun teratas untuk rajangan dan 4-8 lembar daun bawah untuk krosok Dinamika cara panen antara lain disebabkan karena: (1) Pola perkembangan harga, yaitu harga tertinggi terjadi pada minggu pertama buka gudang yang kemudian berangsur-angsur menurun hingga tutup gudang; (2) Tidak adanya konsistensi penilaian dan penetapan mutu; (3) Terbatasnya tenaga kerja dan sarana pengolahan. Selain itu, pembatasan kandungan tar dan nikotin melalui Peraturan Pemerintah diperkirakan berdampak pada dinamika cara panen tembakau madura, yaitu dengan tidak memanen daun pucuk yang berpotensi mengandung tar dan nikotin tinggi. Daun-daun atas dan pucuk yang tidak digunakan dalam industri rokok perlu dikaji pemanfaatannya sebagai bahan industri lain, seperti untuk bahan baku industri aromatik, pestisida nabati, bahan permen, dan tembakau isap atau kunyah.Kata kunci: Tembakau (Nicotiana tabacum), tembakau madura, tembakau rajangan, cara panen, peraturan pemerintah, tar, nikotin
Sago Supports Food Security Dealing with the Impact of Climate Change JANES BERTHY ALFONS
Perspektif Vol 10, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v10n2.2011.%p

Abstract

Sago (Metroxylon spp.) is one source of traditional foods potentially to be developed to support local and national food security. Nutritional value of sago is almost equal to other food sources, such as rice, maize, cassava, and potato. The potential area of sago in Moluccas is large enough. In addition, its production potential in the region is high enough (30 t/ha/yr), far exceeding other sources of food (rice, corn, and potato). Sago flour and its processed products can be classified as functional foods because it has high carbohydrate content (84.7%) and dietary fibre (3.69 to 5.96%), low glycemic index (28), resistant starch, non-starch polysaccharide, and short chain carbohydrates that are very useful for health. In the sago farming, from the sago cultivation (pre-harvest) until the wet sago flour processing (post-harvest) is done naturally, hence, the sago starch can be categorized as 100% organic food. Wet sago starch can be dried to increase the storage durability and the packaging attractiveness. Moreover, the flour can be processed into a variety of cakes and pastries. The strategy taken in the development efforts of sago as a component of local and national food security needs to be done starting from up-stream to down-stream, including technical and management aspects by developing a competitive, pro-poor, sustainable, and decentralized sago agribusiness. In order to strengthen the food security, utilization of the sago as a component of food security should consider the following matters: (1) diversification of sago processed products should be diverse, nutritious, and balanced, (2) maintain and improve consumption  patterns of the sago-based foods, (3 ) quality and food safety to be guaranteed, (4) use of appropriate technology, and (5) efforts increase added value through improving and increasing highly competitive sago-based products.   Key words: Sago, traditional food, functional food, organic food, food security.
PERKEMBANGAN PENYAKIT LAPUK AKAR DAN PANGKAL BATANG TEBU (Xylaria warbugii ) DI SUMATERA DAN STRATEGI PENGENDALIANNYA / The Development of Root and Basal Stem Rots of Sugarcane (Xylaria warbugii) in Sumatera and its Control Strategies Titiek Yulianti
Perspektif Vol 16, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.708 KB) | DOI: 10.21082/psp.v16n2.2017.122-133

Abstract

ABSTRAK Di Indonesia, penyakit lapuk akar dan pangkal batangtebu yang disebabkan oleh jamur Xylaria warburgii, baru ditemukan di perkebunan tebu Lampung dan Palembang. Kerugian yang ditimbulkan cukup besar dan penyebarannya semakin luas.  Perubahan alih fungsi lahan dan intensifikasi usaha perkebunan tebu selama tiga dasa warsa menyebabkan degradasi kesuburan tanah, menipisnya bahan organik, dan perubahan dominasi dan komposisi mikroba. Kondisi ini dapat memunculkan penyakit baru, misalnya penyakit lapuk akar dan batang. Gejala penyakit lapuk akar dapat dilihat pada perubahan warna daun yaitu menjadi kekuningan, layu kemudian mengering dan akhirnya tanaman mati.  Di area yang endemik, gejala terlihat lebih jelas sebagai kelompok pertanaman yang kuning dan kering.   Jika tidak ada inang baru, jamur bertahan dalam tunggul tebu lebih dari tujuh bulan sebagai saprofit dan akan kembali menginfeksi akar/pangkal batang tebu jika sudah tersedia. Kemampuannya bertahan hidup menyebab-kan jamur ini sulit dikendalikan. Sampai saat ini pengendalian menggunakan fungisida selain mahal dan berdampak negatif, belum memberikan hasil yang memuaskan, Varietas tebu yang tersedia tidak ada yang tahan.  Mengingat X. warbugii merupakan jamur tular tanah, maka strategi pengendaliannya tidak hanya dengan menangani jamur patogennya saja, tetapi juga harus mengembalikan keseimbangan ekosistem mikro dalam tanah melalui pengelolaan tanah.   Perbaikan pengelolaan tanah dapat dilakukan dengan mengintegrasikan beberapa komponen pengendalian, seperti pengolahan tanah minimum, solarisasi, penambahan pupuk silikon dan bahan organik termasuk vermikompos yang diperkaya dengan antagonis. Oleh karena itu, perlu upaya penelitian serius untuk menguji efektivitas komponen-komponen tersebut di atas dan kelayakan ekonominya kemudian memadukannya agar memperoleh hasil yang optimum. ABSTRACT In Indonesia, root and basal stem rots of sugarcane caused by Xylaria warburgii is only found in sugarcane plantations in Lampung and Palembang. However, the  disease has expanded gradually and caused significant yield losses. Land conversion and sugarcane plantation intensification for more than three decades have caused  soil degradation, shallow organic matter and a changed of microbial domination and composition. This conditions triggered a new borne disease, such as root and basal stem rots. As e result, the leaves became yellow, wilt, dry and eventually plant death.  In endemic area, the late symptomwas more clearly as yellow and dry spots., the fungus survive more than seven months in the diseased stubble as a saprophyte and would infect root or basal stem later. The capability of the fungus survived in the absence of the hosts made it difficult to control. So far, fungicide was used to control the disease, and yet has not given satisfactory result.  Beside expensive, fungicide was also gave negative impact to the environment.  Meanwhile, resistant varieties for the fungus was not available.  X. warbugii is a soil-borne pathogen, so the control strategy should not only control the fungus, but also repaired the soil microecosystem balance through improving soil management.  The management could be applied by integrating some control components such as minimum tillage, solarization, addition of silicon fertilizer and organic matter including antagonist enriched vermicompost are neaded to control the disease.  Therefore, we need intense studies to test effectiveness of those components and their feasibilty, and then integrate them to gain optimum result.  
Pengelolaan Patogen Tular Tanah Untuk Mengembalikan Kejayaan Tembakau Temanggung di Kabupaten Temanggung Titiek Yulianti
Perspektif Vol 8, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.771 KB) | DOI: 10.21082/p.v8n1.2009.%p

Abstract

ABSTRAKTembakau   Temanggung   mempunyai   aroma   khas senyawa  nikotin  dan  digunakan  sebagai  campuran rokok  kretek.    Penanaman  tembakau  Temanggung telah dilakukan secara intensif selama bertahun-tahun oleh   sebagian   petani   tembakau   di   lereng-lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, Kabupaten Temanggung.   Kondisi   ini   telah   menyebabkan kerusakan lahan dan akumulasi patogen tular tanah, seperti  Ralstonia  solanacearum  dan  Meloidogyne  spp., yang   telah   mengakibatkan   kematian   pertanaman tembakau cukup tinggi, serta menurunkan produksi dan mutu tembakau.  Selama 10 tahun terakhir, luas lahan pertanaman tembakau Temanggung menurun sampai 50%, dari sekitar 20.284 ha pada tahun 1996 menjadi 9.326 ha pada tahun 2006. Namun, petani setempat tetap saja menanam tembakau karena harga tembakau temanggung masih cukup tinggi. Makalah ini membahas keterkaitan antara pengelolaan tanaman tembakau  Temanggung  oleh  petani  dengan  tingkat kerusakan    lingkungan    dan    kerugian    tanaman tembakau. Untuk mengembalikan kejayaan Kabupaten Temanggung   sebagai   penghasil   utama   tembakau Temanggung. Strategi yang perlu dilakukan adalah penerapan teknologi pengelolaan pertanian berkelanjutan    berbasis    lingkungan    yang    telah dihasilkan   oleh   Balai   Peneltian   Tembakau   dan Tanaman Serat, seperti penanaman varietas tahan R. solanacearum dan Meloidogyne spp., konservasi lahan menggunakan tanaman pencegah erosi, rotasi tanaman dengan   jenis   tanaman   bukan   inang   patogen, pemupukan dengan bahan organik, dan pengelolaan agens hayati dalam tanah.  Diharapkan usaha-usaha tersebut akan meminimalkan kerusakan lingkungan sekaligus   meningkatkan   produksi   tembakau.   Di samping   itu,   keterlibatan   petani,   penyuluh,   dan pemerintah  daerah  setempat  secara  terus  menerus perlu  digalakan  untuk  mengoptimalkan  hasil  yang diharapkan.Kata kunci: Tembakau Temanggung, Lincat, degradasi lahan, Ralstonia solanacearum,  Meloidogyne, pengelolaan berkelanjutan, lingkungan ABSTRACTManagement of Soil-Born Diseases to Sustain the Greatness of Temanggung District as the Center Producer of Temanggung TobaccoTemanggung Tobacco has a unique nicotine flavour for cigarette blending. Continuous growing tobacco for many years on the slope of Sindoro and Sumbing Mounts has led to land degradation and accumulation of pathogens, i.e Ralstonia solanacearum and Meloidogyne spp.  Many tobacco plants suffered from wilt disease and died resulting in production and quality decreased which made significant income loss. In the last 10 years, tobacco areas in Temanggung decreased up to 50%, from 20,284 ha in 1996 to 9,326 ha in 2006. And yet, local farmers are continuing to grow tobacco plants because of its highly steady price. This paper discusses the   correlation   of   farmers   habits   during   tobacco cultivation and environmental degradation to sustain the Temanggung District as the centre producer of Temanggung tobacco. The study comments adoption of  ecologically  friendly  cultivation  technologies  as resulted by the Indonesian Tobacco and Fiber Research Institute   of   Malang,   including   land   conservation, planting tobacco resistant varieties to R. solanacearum and Meloidogyne spp., increase biodiversity through growing economic non host crops, organic fertilizers, and   management   of   soil   microbial   antagonists. Furthermore, farmer participation, agricultural services and  local  institutions  need  to  be  strengthening  to optimize expected results.Keywords:  Temanggung  tobacco,  land  degradation, Ralstonia               solanacearum,         Meloidogyne, sustainability management practices
Perakitan Kelapa Hibrida Intervarietas dan Pengembangannya di Indonesia ELSJE T. TENDA
Perspektif Vol 3, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.362 KB) | DOI: 10.21082/p.v3n2.2004.35-45

Abstract

Perakitan kelapa hibrida intervarietas oleh para pemulia kelapa di Indonesia ditujukan untuk mendapatkan berbagai jenis kelapa yang cepat berbuah, produksi tinggi, medium input, tahan hama dan penyakit tertentu, spesifik lokasi, dan sesuai kebutuhan konsumen. Beberapa jenis kelapa hibrida potensial yang telah dihasilkan oleh Balitka adalah Kelapa Hibrida Dalam x Dalam yaitu: KB-1, 2, 3, dan 4 serta Kelapa Hibrida Genjah x Dalam yaitu: KHINA-1, 2, dan 3 yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian tahun 1984. Di samping itu beberapa jenis Kelapa Hibrida Genjah x Dalam yang telah diuji yaitu: kelapa hibrida yang sesuai lahan kering iklim basah GRA x DMT, GKB x DMT, GKN x DTE, dan GKB x DTE, produksi sekitar 3 ton kopra/ha/tahun dengan medium input, kelapa hibrida toleran pasang surut yaitu GSK x DRU, GTT x DRU, dan GKN x DRU. Kelapa hibrida resisten terhadap penyakit busuk pucuk dan gugur buah sebanyak 25 jenis. Penyebaran Kelapa Hibrida PB-121 dan NIWA telah mencapai kurang lebih 244.000 ha, tapi produksinya tidak optimal. Permasalahan ditemui dalam pengembangan kelapa hibrida tersebut antara lain: membutuhkan input tinggi, peka terhadap penyakit busuk pucuk dan gugur buah, ukuran buah kecil sehingga tidak disukai konsumen terutama pabrikan. Ke depan pengembangan Kelapa Hibrida Genjah x Dalam masih diperlukan untuk mempercepat peningkatan produktivitas kelapa. Konsep yang ditawarkan adalah menggunakan kelapa hibrida lokal yang cepat berbuah dan produksi tinggi, medium input, ukuran buah sedang sampai besar, resisten terhadap penyakit busuk pucuk dan gugur buah, serta spesifik lokasi.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucifera L., kelapa hibrida, pengembangan. ABSTRACT The Coconut Hybrid from Intervarieties Hybridization and its Development in IndonesiaThe objective of coconut intervarities hybridization in Indonesia is to find out some coconut accessions which are early bearing, high production, medium input, resistant to pest and diseases, spesific location , and suitable with consumer needs. Some of potential coconut hybrids produced by ICOPRI, such as Tall x Tall hybrids namely KB-1,2,3,4 and coconut hybrid Dwarf x Tall namely KHINA 1, 2, and 3 were released by the Minister of Agriculture in 1984. Moreover, some of Dwarf x Tall hybrids which were suitable for dry area and wet climate had been tested, there were GRA x DMT, GKB X DMT, GKN x DTE, and GKB X DTE. The production of those hybrids were approximately 3 tonnes copra/hectar/year with medium input. Coconut hybrids wich were tolerant to swampy area were GSK x DRU, GTT x DRU, and GKN X DRU, and there were also 25 coconut hybrids which were resistant to bud rot and nut fall diseases. PB-121 and NIWA hybrids were planted around 244,000 hectars, but the productions were not optimal. The problems faced in the field were that these hybrids need high input, sensitive to bud rot and nut fall diseases, and nut size was small so that it was not accepted by the consumers especially coconut factories. In the future, the development of coconut hybrid Dwarf x Tall is still needed to accelerate increasing of coconut productivity. The consept proposed for the development is using local coconut hybrids wich have characteristics early bearing, high production, medium input, medium to big size of nuts, resistant to bud rot and nut fall diseases and spesific location.Key words : Coconut, Cocos nucifera L., coconut hybrid, development
Revealing the Endophyte Potentials to Improve Sugarcane Health and Support an Increase in Sugar Production TITIEK YULIANTI
Perspektif Vol 11, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v11n2.2012.%p

Abstract

Escalation of sugarcane productivity to support self-sufficiency in sugar in 2014 should be followed with improving environmentally friendly cultivation sys-tem. One of the alternatives is the use of endophyte. Endophyte is a microorganism naturally integrated with healthty plant and lives inside plant tissues without giving any negative effects. Endophyte could act as plant growth promotor, increase yield through phytohormone production and nutrition supplyer, and as soil contaminant neutralizer so it increases phyto-remediation and plant resistance against abiotic stress, and acts as biocontrol agent for pests and diseases. Even through biotechnology evolution, endophyte is used to produce antibiotic for medicine or pharmacy, biomass, biofuel, and media for transgenic resistance to insect pest or pathogen. Bacterial endohyte Acetobacter diazotrophicus (Syn. : Gluconacetobacter diazotrophicus) provides 60-80% of Nitrogen required by sugarcane through N2 fixation from air, so it suits as source of biofertilizer. In addition, there are many endophytes found as root or plant growth promotor and as biocontrol agent for pathogen. In Indonesia, research on the role of endophyte on sugarcane is still limited, hence it needs to reveal and determine the potential of endophyte to improve sugarcane health as wel as supporting acceleration of increasing sugar production.   Keyword: endophyte, sugarcane, environment, pathogen, nutrition
Current status of mosaic disease on patchouli and its control in Indonesia Rita Noveriza
Perspektif Vol 15, No 2 (2016): Desember, 2016
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19522.22 KB) | DOI: 10.21082/psp.v15n2.2016.87-95

Abstract

ABSTRACKIn Indonesia, the patchouli plant has been developed in twenty one Province and now there are 10 provinces that would be the area of development of patchouli with an area of 150 ha and a seed garden is focused in North Sulawesi with an area of 6 hectares. Mosaic disease on patchouli has been developing very fast, within a period of 3 years have spread to the central cultivation of patchouli in Sumatera, Java and Sulawesi. This is mainly due to the multiplication of patchouli by vegetative cutting. Therefore, the use of virus-free seed patchouli and early detection methods of patchouli seed is a major concern. In addition, the maintenance of patchouli seeds in the nursery to be free of mosaic disease and its vector is very important. Sanitation and spraying the plants with formulation of clove and citronella oil needs to be done every one or two weeks to protect the seed patchouli in nursery and every four weeks in field.Keywords: Pogostemon cablin, Potyvirus, biopesticide, mosaic disease control. ABSTRAKStatus terkini penyakit mosaik pada tanaman nilan dan pengendaliannya di IndonesiaDi Indonesia, tanaman nilam telah dikembangkan di duapuluh satu Provinsi dan sekarang ada 10 provinsi yang akan menjadi daerah pengembangan nilam dengan luas 150 ha dan kebun bibit difokuskan di Sulawesi Utara dengan luas 6 hektar. Penyakit mosaik dari nilam telah berkembang sangat cepat, dalam jangka waktu 3 tahun telah menyebar ke budidaya pusat nilam di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Hal ini terutama disebabkan oleh perbanyakan nilam dengan memotong vegetatif. Oleh karena itu, penggunaan nilam benih bebas virus dan metode deteksi dini benih nilam merupakan perhatian utama. Selain itu, pemeliharaan bibit nilam di persemaian untuk bebas dari penyakit mosaik dan vektor yang sangat penting. Sanitasi dan penyemprotan tanaman dengan formulasi cengkeh dan minyak sereh perlu dilakukan setiap satu atau dua minggu untuk melindungi benih nilam di persemaian dan setiap empat minggu di lapangan.Kata kunci: Pogostemon cablin, Potyvirus, biopestisida, pengendalian penyakit mosaik.
Potential Use of Botanical Termiticide SUPRIADI SUPRIADI; AGUS ISMANTO
Perspektif Vol 9, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.565 KB) | DOI: 10.21082/p.v9n1.2010.%p

Abstract

ABSTRACTTermite is one of the most dangerous wood destroying insects and life crop plantations. Termites are commonly controlled using synthetic chemicals which can cause environmental hazzards. However, there are various   environmentally   methods   for   controlling termites,  including  the  use  of  plant  extracts  and essential oils derived from plants such as orange, clove, and citronella oils.  Orange oil has been used quite intensed in  the USA, though many questioned concerning the long lasting effect of the oil.  The paper is aimed to present general view on the potential use of botanical  termiticides  and  its  possible  strategy  to develop.  Various kinds of termites can be found in different ecosystems in Indonesia, such as urban forest trees, plantations, and soils.  Synthetic termiticides can be applied as whole treatment and localized treatment. Although the whole treatment is more expensive, but it is more effective because it uses fumigants such as chemicals (sulfuryl fluoride and methyl bromide) or heat.  However, these chemicals are known to be ozon depletors.   In   contrary,  the  localized   treatment   is cheaper, but it is less effective and require repetead aplications.  The key success in all treatment of termites in any structures is  early detection  of termite infestation such as signs of damage wood, fecal pellets, and  discarded  wings.  Various  plant  extracts and essential   oils   show   termiticide   activities   against different  kinds  of  termites comparable  to  synthetic termiticide. For  example,  a  formulated  botanical pesticide containing clove and citronella oils is effective against dry-wood termite (Cryptotermes cynocephalus). Application of 5% of the formula kill the termite and protect the treated wood almost complete (score 9,8 out of 10) indicating that the formula is potential to be developed.  This formula and other potential botanical termiticides need to be evaluated and improved to become    more    feasible    both    practically    and economically.  A main limitation for developing of botanical termiticides is its mass production and its price which can compete with the synthetic ones.Keywords: Termite, essential oil, botanical termiticide ABSTRAKPotensi Antirayap NabatiRayap  adalah  salah  satu  serangga  perusak  kayu paling berbahaya dan juga dapat merusak pertanaman yang masih hidup. Umumnya rayap dikendalikan dengan menggunakan senyawa kimia sintetik   yang   dapat   membahayakan   lingkungan, padahal ada cara-cara cara pengendalian rayap yang ramah lingkungan, termasuk penggunaan ekstrak dan minyak atsiri berasal dari tanaman, seperti minyak kulit jeruk (orange oil), minyak cengkeh dan minyak serai wangi.  Formula anti rayap dari minyak kulit jeruk  sudah  dijual  di  Amerika  Serikat,  walaupun masih ada kontroversi tentang keefektifannya jangka panjang.    Tulisan    ini    menguraikan    kemajuan perkembangan pestisida nabati anti rayap dan strategi pengembangannya.  Berbagai jenis rayap ditemukan pada   beragam   ekosistem   di   Indonesia,   seperti tanaman hutan kota, tanaman perkebunan, dan tanah. Anti   rayap   sintetik   dapat   diaplikasikan   secara menyeluruh atau secara lokal.  Walaupun aplikasi secara menyeluruh lebih mahal biayanya, tetapi lebih efektif, karena menggunakan senyawa kimia fumigan seperti sulfuril fluorida dan methyl bromida atau uap panas.  Sayangnya, bahan-bahan kimia tersebut dapat merusak lapisan ozon.  Sebaliknya, aplikasi secara lokal   lebih   murah   tetapi   kurang   efektif   dan memerlukan   aplikasi   ulang.   Salah   satu   kunci keberhasilan pengendalian rayap adalah mendeteksi gejala rayap secara dini, misalnya adanya kerusakan pada kayu, bubuk halus dari kayu yang rusak, dan ditemukannya   potongan   sayap   rayap   dewasa. Beragam  ekstrak  tanaman  dan  minyak  atsiri  anti rayap  menunjukkan  sifat  anti  rayap  yang  baik sebanding   dengan   senyawa   anti   rayap   sintetik. Misalnya,  salah  satu  formula  anti rayap  berbahan baku minyak cengkeh dan serai wangi menunjukkan dapat  mematikan  rayap  kayu  kering  (Cryptotermes cynocephalus).  Aplikasi 5% formula pada kayu dapat melindungi  kayu hampir  sempurna  (skor  9,8 dari maksimal skor 10).  Hasil ini mengindikasikan bahwa formula anti rayap nabati tersebut berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.  Formula tersebut dan beberapa anti rayap nabati potensial lainnya perlu diuji  dan  diperbaiki  sehingga  layak  baik  secara praktis            maupun    ekonomi.    Kendala    utama pengembangan  anti  rayap  nabati  adalah  produksi masal dan harga yang kompetitif terhadap anti rayap  sintetik.Kata kunci: Rayap, minyak atsiri, anti rayap nabati.

Page 5 of 21 | Total Record : 201