cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
Technology Of Green Pepper Processing For Farmer TOWAHA, JUNIATY; FERRY, YULIUS
Perspektif Vol 10, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v10n1.2011.%p

Abstract

International markets other product as white pepper and black pepper is also known other products such as green pepper, orange pepper, pepper powder, oleoresin of pepper and pepper oil.  Pepper product from Indonesia is still predominantly exported in black and white pepper, while green pepper only a small portion of total exports of Indonesian pepper. Green was more expensive when compared with black pepper and white pepper. The green pepper have comparative superiority than others product, that is special flavour, color and natural appearance, with the result that able to make used of spices and as food garnishing. The technology as easy to adopt by farmers, so the developing a green pepper on the scale of farmer home industry have a good prospects, as well as alternative products that can increase market absorption, this product is also expected to increase the farmers income. Keywords:  Technology, processing, green pepper, farmers.
DIVERSIFIKASI PRODUK TEMBAKAU NON ROKOK Diversification of Non-Cigarette Tobacco Products Nurnasari, Elda; Subiyakto, Subiyakto
Perspektif Vol 17, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.699 KB) | DOI: 10.21082/psp.v17n1.2018.40-51

Abstract

ABSTRAK Selain sebagai bahan baku utama rokok, tembakau dapat dimanfaatkan untuk produk lain, yaitu dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah sebagai pengembangan diversifikasi produk. Kebijakan diversifikasi tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Aditif Berupa Produk Tembakau Kesehatan (PP Tembakau). Dalam PP Tembakau tersebut (Pasal 58 ayat 1) menyebutkan bahwa diversifikasi dimaksudkan agar penggunaan produk tembakau tidak membahayakan bagi kesehatan.Hasil penelitian yang telah dilakukan, daun tembakau dapat dimanfaatkan menjadi bahan kimia dasar antara lain sebagai bahan baku pestisida, produk kosmetik dan industri farmasi. Tulisan ini ingin menyajikan status penelitian diversifikasi produk tembakau untuk non rokok, antara lain untuk pestisida nabati, identifikasi minyak atsiri dan pemanfaatannya untuk campuran parfum (tabac perfume) dan debu tembakau untuk pupuk kompos. Beberapa produk seperti parfum dan asap cair tembakau sudah dipatenkan. Produk hasil diversifikasi tembakau ini diharapkan dapat memiliki nilai tambah bagi pendapatan petani dan bermanfaat bagi masyarakatAbstractAddition to the main raw material for cigarettes, tobacco can be used for other products, which is in order to support government policy as product diversification. Diversification policy listed in the Indonesian Government Regulation No. 109/2012 on the safeguarding of Materials Containing Additive Form Health Tobacco Products (Tobacco Regulation) In the Tobacco Regulation (Article 58 paragraph 1).rticle 58 paragraph 1) states that diversification is intended that the use of tobacco products are not harmful to health. The results of research that has been done, tobacco leaves can be used as basic chemicals, among others, a raw materials for pesticide, drug, cosmetic products, and pharmaceutical industry. This paper wants to present research status of product diversification to non-cigarette tobacco among others for the pesticide plant, the identification of essential oil and used for the perfume (tabac perfume) and the tobacco dust for the fertilizer. Some products such as perfume and tobacco liquid smoke have been patented. The products of this tobacco diversification are expected to have added value for farmers' income and benefit the community
Pasokan dan Permintaan Tanaman Obat Indonesia Serta Arah Penelitian dan Pengembangannya PRIBADI, EKWASITA RINI
Perspektif Vol 8, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.42 KB) | DOI: 10.21082/p.v8n1.2009.%p

Abstract

ABSTRAKDi Indonesia, terdapat sekitar 31 jenis tanaman obat digunakan sebagai    bahan baku industri obat tradisional (jamu), industri non jamu, dan bumbu, serta untuk kebutuhan ekspor, dengan volume permintaan lebih dari 1.000 ton/tahun.  Pasokan bahan baku   tanaman   obat   tersebut   berasal   dari   hasil budidaya (18 jenis) dan penambangan (13 jenis).  Oleh karena itu, perlu usaha yang lebih intensif supaya pasokan bahan baku tanaman obat dapat terpenuhi, terutama tanaman obat yang masih ditambang dari habitat alaminya.  Berdasarkan data neraca pasokan dan permintaan, serta teknologi yang tersedia, arah kebijakan pengembangan dan penelitian tanaman obat  bagi menjadi 4 kelompok.  Pertama, untuk kelompok tanaman obat yang telah dibudidayakan dalam skala luas, seperti jahe, maka prioritasnya adalah penelitian untuk   pengendalian   penyakit layu  bakteri yang disebabkan oleh Raltsonia solanacearum.Untuk tanaman obat yang masih memungkinkan dikembangkan areal budidayanya, seperti temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan lempuyang wangi (Zingiiber aromaticum),   prioritasnya   adalah   penelitian   untuk menghasilkan varietas unggul dan teknologi budidaya untuk   meningkatkan   produksi   dan   bahan   aktif. Sedangkan  untuk  tanaman  obat  lainnya,  prioritas penelitian  ditujukan  pada  diversifikasi  vertikal  dan horizontal.    Kedua,  untuk  menunjang  kemandirian pasokan  tanaman  obat  budidaya  yang  diusahakan dalam skala sempit, seperti ketumbar, adas, dan cabe jawa,    prioritas  penelitian  adalah  penelitian  untuk mendapatkan  varietas  unggul  dan  teknik  budidaya Ketiga, untuk tanaman obat yang masih ditambang dari habitat alami dan permintaannya cukup besar, seperti beluntas, majakan, kunci pepet, seprantu, dan brotowali, maka prioritas penelitian diarahkan pada domestikasi,   benih   unggul,   cara   bercocok   tanam, pemupukan  dan  pengendalian hama  dan  penyakit. Keempat,  untuk  tanaman  obat  yang  sudah langka, seperti kedawung, pulasari, pulai, bidara putih, bidara laut, bangle, temu giring, dan joho keling, prioritas penelitiannya adalah penangkaran, penentuan kesesuaian lingkungan tumbuh dan teknologi budidaya.Kata kunci : Tanaman obat, pasokan, permintaan, pengembangan, penelitian ABSTRACTStatus of Supply and Demand of Indonesian Medicinal Crops and Their Research and Development PrioritiesThere are 31 medicinal crops of Indonesia that are demanded more than 1.000 tones/year for traditional medicine (jamu)  industry, spices and export.  Some of these crops (18 species) are cultivated  and the others (13 species) are harvested directly from their natural habitat, such as forest.  Therefore, the intensive effort to supply the demand of the raw material of medicinal plants is needed, especially the medicinal plants which were still harvested from their natural habitat. Based on the supply and demand data, as well as current available   cultivation   technologies,   research   and development strategy of medicinal crops in Indonesia can be grouped in 4 classifications.  First, for those medicinal crops which are used in large scale, such as ginger, the research priority is to find effective contro measure   of   bacterial   wilt   caused   by   Raltsonia solanacearum.    However,  for  those  which  can  be expanded, such as Curcuma xanthorrhiza (temulawak) and  Zingiiber  aromaticum (lempunyang  wangi),  the research  priority  should  be  focused  on  developing high-yielding varieties and cultivation technology for improving yield and lead compounds of the plants. For other crops within this group, diversification of secondary products need to be intensified.  Second, to sustain the supply of medicinal crops that grow in small-scale areas, such as coriander, fennel, and long pepper, research on crop improvement and cultivation technologies  must  be  intensified.  Third,  medicinal plants which are harvested directly from their natural habitat in large scale, such as Pluchea indica (beluntas), Querqus   lusitania (majakan),   Kaempferia   angustifolia (kunci   pepet),   Sindora   sumatrana (seprant)u,   and Tinospora tuberculata (brotowali), domestication of these crops should be carried out to fulfill the demand of raw materials, supported by studies on improving plant breeding and their cultivation technologies.  Finally, the endanger medicinal plants  such as Parkia roxburghii (kedawung,  Alyxia  reinwardti  (pulasari), Alstonia scholaris (pulai),  Merremia  mammosa (bidara  putih), Strychnos  lucida  (bidara  laut), Zingiber cassumunar (bangle), Curcuma heyneana (temu giring), and Terminalia arbereae (joho keling), the research priority is conservation,  finding  site-specific  location  for  their growth, and cultivation technology.Key words: Medicinal crops, supply, demand, research, development
Peningkatan Dayasaing Industri Mente Indonesia Melalui Pembentukan Klaster Industri Mente CHANDRA INDRAWANTO
Perspektif Vol 3, No 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3300.256 KB) | DOI: 10.21082/p.v3n1.2004.15-23

Abstract

Keunggulan dayasaing di masa depan sangat dientukan oleh kemampuan merespon keinginan konsumen dan menemukan inovasi-inovasi baru. Kemampuan ersebut dapat tergali melalui pembentukan klaser industi yang mengkoordinasikan industri inti dengan industi terkait dan industri pendukungnya. Peningkatan dayasaing industri mente Indonesia melalui pembentukan klaster industri mente dapat dilakukan pada tingkat kabupaten di sentra-sentra produksi untuk industi pengacipan, dan di ingkat nasional untuk industri hilirnya. Pengembangan industi pengacipan skala rumah tangga dengan teknologi sederhana di senia produksi dapat meningkatkan posisi tawar petani dan meningkatkan efisiensi industi pengacipan sehingga dayasaing meningkat. Pengembangan industri hilir berbahan baku hasil mente akan meningkatkan permintaan produk mente dan meningkatkan nilai tambah yang didapat dari produk mente yang berujung pada meningkatnya dayasaing industri mente. Untuk itu perlu koordinasi yang baik antara klaster industri mene dengan klaster industri erkait yaitu industri yang memakai bahan baku produk hasil turunan mente dengan klaster industri pendukungnya seperi industri mesin dan peralatan, lembaga penelitian, dan pendidikan untuk mendukung penemuan inovasi baru.Kata Kunci: Mente, Anacardium ocadentale, dayasaing, klaster industi ABSTRACT Improving the competitiveness of Indonesian cashew industry through cluster industryCompetiive advantage in the future will be determined significantly by the ability of the industry to respond consumer's need and by the ability to search new innovations. Those abilities can be generaed through cluser industry between core industry, supporing industry and related industry. The improvement of Indonesia cashew industry's compeiiveness through cashew cluster industry can be done in regency level, in the producion ceners, for peeling industry, and in naional level for its downstream industries. The development of peehng industry at household level with simple technology in the production centers can increase the bargaining posiion of the farmers and improve the efficiency of the peeling industry. The development of cashew downstream industry can increase the demand of cashew product and increase the value added gained from cashew product that leads to the increasing of the competitiveness of cashew industry. To support that, a good coordinaion between cashew cluster industries as a coe industry with related cluster industies, which use cashew and cashew downstream products as input, and with support cluster industies is needed.Key Words: Cashew, Anacardium occidentale, competitiveness, cluster industry
PROSPECT OF ESSENTIAL OILS DEVELOPED AS BOTANICAL PESTICIDES SRI YUNI HARTATI
Perspektif Vol 11, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v11n1.2012.%p

Abstract

Some essential oils exhibit biological activities against microbes, insect pests, as well as vectors pathogens of human, animals, and plants. The properties of essential oils have been exploited and their products have been commercialized and widely used especially in food industries, such as additives and preservatives. Essential oils have a great potential for botanical pesticides, since their biological activities, effectivity, compatibility, target organisms, and environmentally-friendly. Some essential oil-base pesticides have been produced and widely used to control microbial pathogens, insect pests, and vector pathogens in the environment of houses, glass houses, and veteriner. The Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of most essential oil-based pesticides are generally low. In the other hand, they are also compatible with other control measures and produce free residues of agricultural products. However, essential oil-base pesticides have some barriers, as well as other botanical pesticides, especially in their stability and effectivity. In addition commercializing essential oil-based pesticides is limited, such as, in the scarcity of the row materials, there is a need for chemical standardization and quality control, and  difficulties in registration. If those barriers and constrains could be solved, essential oils would have a great potential to be developed in commercial scale. The development of essential oil-base pesticides in industrial and commercial scale hopefully would increase farmers income and devisa as well to reduce the use of synthetical pesticides, therefore environmental disasters  would be reduced. Key words: Essential oil, biological activity, microbes, insects, botanical pesticide
PERBAIKAN BIOPROSES UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI BIOETANOL DARI MOLASE TEBU / Bioprocess Improvement for Enhanching Bioethanol Production of Sugarcane Molase Suminar Diyah Nugraheni; Mastur Mastur
Perspektif Vol 16, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.205 KB) | DOI: 10.21082/psp.v16n2.2017.69-79

Abstract

ABSTRAK Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang strategis untuk dikembangkan. Salah satu substrat yang menjanjikan untuk digunakan adalah molase.  Molase merupakan hasil samping industri gula kristal tebu yang masih  mengandung gula yaitu sekitar 45-54,6%.  Bioetanol dari molase tebu  berpotensi untuk dikembangkan karena sangat menguntungkan, pasokan cukup besar, tersedianya teknologi proses, serta tidak bersaing dengan pangan. Tulisan ini mengulas hasil-hasil penelitian dan implikasinya tentang bahan baku, proses, lingkungan yang berpengaruh serta strategi untuk meningkatkan produktivitas bioetanol dari molase tebu melalui rekayasa proses fermentasi. Pada pembuatan etanol, fermentasi merupakan proses yang memegang peranan penting.  Pengaturan lingkungan fermentasi seperti suhu, pH, dan tekanan berpengaruh terhadap bioproses dalam fermentasi.  Begitu pula penambahan bahan suplemen seperti gula, garam, dan ion logam menurut jenis dan konsentrasi yang tepat juga dapat mengoptimalkan proses fermentasi.  Selain pengelolaan lingkungan dan penambahan bahan suplemen, strategi untuk peningkatan produktivitas bioetanol dari molase dapat dilakukan dengan: 1) penggunaan mikrobia selain Saccharomyces cerevisiae; 2) pretreatment; dan 3) metode fermentasi kontinyu. Penggunaan mikrobia selain Saccharomyces cerevisiae, seperti Zymomonas mobilis dapat meningkatkan produktivitas etanol hingga 55,8 g/L atau 27,9% dari total gula reduksi.  Perlakuan pretreatment dapat meningkatkan produktivitas mikrobia dalam mengkonversi gula menjadi etanol, sedangkan penggunaan metode fermentasi secara kontinyu dapat meningkatkan produktivitas sebesar + 4.75 g/L/jam.  ABSTRACT Bioethanol is one of strategic alternative fuel to develop.  One of substrate that promises to be used is molasses. Molasses is by-product of sugar industry which contain of sugar about 45-54,6%. Bioethanol from sugarcane molase is necessary to develope because it is very profitable, large supply, availability technology, and no-competion to  food.  This paper was aimed to reviews some research results and their implications on raw materials, processes, advanced environments and strategies to increas bioethanol productivity of molasses through the fermentation process engineering. In the manufacture of ethanol, fermentation is an important holding process.  In ethanol production, fermentation plays an important role.  Fermentation environments arragement such as temperature, pH, and pressure can effect on bioprocess of fermentation. Similarly, the addition of supplemental ingredients such as sugar, salt, and metal ions by appropriate type and concentration can also optimize the fermentation process. In addition to environmental arrangement and supplemental adding, strategies to improve bioethanol productivity of molasses can be accomplished by 1) the use of microbes other than Saccharomyces cerevisiae; 2) pretreatment; and 3) continuous fermentation method. The use of microbes other than Saccharomyces cerevisiae, such as Zymomonas mobilis can increase ethanol productivity up to 55.8 g / L or 27.9% of total sugar reduction.  Pretreatment can increase microbial productivity in converting sugar to ethanol, while continuous use of fermentation method can increase productivity by + 4.75 g / L / hr. 
Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana : Potensi dan Prospeknya dalam Pengendalian Hama Tungau DECIYANTO SOETOPO; I.G.A.A. INDRAYANI
Perspektif Vol 8, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.698 KB) | DOI: 10.21082/p.v8n2.2009.%p

Abstract

ABSTRAKTungau menyerang sejumlah besar tanaman, termasuk beberapa komoditas perkebunan penting di Indonesia, seperti: kapas, jarak pagar, jarak kepyar, tembakau, teh, kelapa, dan wijen. Pengendalian tungau sebagian besar   masih   mengandalkan   pestisida   kimia   yang seringkali  malah  mengakibatkan  ledakan  populasi yang semakin sulit dikendalikan. Hingga kini belum ada  teknik  pengendalian hama  tungau  secara non-kimiawi yang efektif dan efisien. Penggunaan varietas tahan mampu menekan populasi, tetapi kenyataannya varietas-varietas   tahan   masih   terbatas   jumlahnya. Beberapa   spesies   serangga   juga   telah   berhasil diidentifikasi sebagai predator tungau, tetapi belum dikembangkan  secara optimal dalam pengendalian. Tulisan   ini   bertujuan   untuk   menginformasikan prospek pemanfaatan jamur entomopatogen B. bassiana dalam   pengendalian   hama   tungau.   B.   bassiana mempunyai prospek cukup baik karena selain kisaran inangnya luas, juga patogenisitasnya terhadap inang tinggi.   Hasil-hasil   penelitian   menunjukkan   bahwa aplikasi   B.   bassiana   efektif   menurunkan   populasi berbagai   spesies  tungau   dan   menekan   kerusakan tanaman. Konidia B. bassiana mampu menyebabkan mortalitas  tungau  hingga  mencapai 80-100%.  Oleh karena itu,  peluang  untuk  meneliti lebih  jauh  dan mengembangkan   B.   bassiana   untuk   dimanfaatkan dalam pengendalian hama tungau terbuka luas, karena koleksi  isolat  yang  tersedia  cukup  banyak  untuk dipilih. Untuk mencapai tujuan ini beberapa penelitian masih  perlu  dilakukan,  seperti  teknik  perbanyakan yang efisien dan formulasi yang tepat, serta penelitian untuk   meningkatkan   patogenisitas   dan   stabilitas jamur.Kata kunci: Entomopatogen, Beauveria bassiana, morta-litas, tungau, patogenisitas. ABSTRACTEntomopathogenic fungi Beauveria bassiana: Its potency and prospects for mites controlMites attack large number of plants including several following  estate  crops,  viz.  cotton,  Jatropha  curcas,Richinus  communis,  tobacco,  tea,  coconut  tree,  and sesame.  The great reliance on chemical pesticides for controlling   mites   had   its   serious   drawbacks, manifested  in  resistance  problems  and  population outbreaks which is more difficult to solve. The effective and  efficient  non-chemical  control  method  has  not available so far to decrease the plant damage. There is resistant  variety  that can  be  used  to  reduce  mites population, in fact, however, some of these varieties are still developed. A number of insect species have been identified as predator of mites, however, most of these species have not been developed for bio-control of  mites.  The  paper  informs  the  potential  use  of entomopathogenic fungus  B. bassiana as a promising control method against mites.  Besides broad spectrum bio-pesticide, this fungus produces high pathogenicity against its hosts.  Research studies showed that B. bassiana effectively reduced both mites population and plant damage.  Mortality of mites infected with the fungus ranged in 80-100%. The possibility of using B. bassiana in pest control would also be a better tool for control mites population.  Several strains of B. bassiana isolate have been collected and might be able to use in further green house and field tests. To achieve this goal, several studies need to be conducted, including appropriate production method and formulation, as well as study to increase pathogenicity and stability of the fungus.Key words: Entomopathogen, Beauveria bassiana,  mor-tality, mites, pathogenicity
STATUS DAN STRATEGI TEKNOLOGI PENGENDALIAN PENYAKIT UTAMA TEBU DI INDONESIA Status and Control Strategy of Important Sugarcane Diseases In Indonesia Titiek Yulianti
Perspektif Vol 19, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.934 KB) | DOI: 10.21082/psp.v19n1.2020.01-16

Abstract

Sejak tebu dibudidayakan untuk menghasilkan gula di Indonesia pada tahun 1650, tercatat lebih dari 30 jenis penyakit yang pernah ditemukan.  Namun, hanya beberapa jenis penyakit yang  berpotensi menurunkan produktivitas tebu dan mutu nira bahkan kerugiannya bisa mencapai 20%.  Jenis penyakit tersebut antara lain adalah: penyakit sereh yang disebabkan oleh Phytoplasma, pokkah boeng yang disebabkan oleh Fusarium moniliformae, blendok oleh bakteri Xanthomonas albineans, luka api oleh jamur Sporisorium scitamineum, pembuluh oleh bakteri Leifsonia xyli  sub sp  xyli, lapuk akar dan pangkal batang oleh jamur Xylaria warbugii, mosaik dan mosaik bergaris oleh virus.  Dominasi penyakit-penyakit tersebut berbeda dari waktu ke waktu akibat perubahan sistem tanam, perubahan ekosistem lahan sawah ke lahan tegal dan tadah hujan yang lebih kering, pergantian jenis varietas yang ditanam, serta akibat terjadinya perubahan iklim. Sampai saat ini pengendalian penyakit tebu yang paling efektif adalah penanaman varietas tahan, penggunaan benih yang sehat bebas patogen dan karantina. Saat ini penyakit luka api dan mosaik bergaris merupakan penyakit yang belum bisa diatasi dan cenderung meningkat kejadian dan penyebarannya.  Tulisan ini mengulas perkembangan dan hasil penelitian pengendalian penyakit yang pernah menjadi masalah penting pada periode waktu tertentu karena menurunkan produksi tebu secara nyata sejak tebu dibudidayakan secara komersial di Indonesia serta strategi pengendalian yang harus dilakukan secara terpadu demi kelangsungan perkebunan tebu dalam mendukung industri gula nasional.ABTRACT There were more than 30 diseases have been recorded since sugarcane grown for sugar in Indonesia.  And yet, only few diseases considered as major diaseases since they decreased productivity up to 20% and sugar content significantly.  They were: sereh caused by Phytoplasm, pokkah boeng caused by Fusarium moniliformae, leafscald caused by Xanthomonas albineans, smut caused by Sporisorium scitamineum, ratoon stunting caused by Leifsonia xyli  sub sp  xyli, root and basal stem rot by Xylaria warbugii, mosaic, and streak mosaic caused by virus.  Domination of the diseases was different from time to time due to the change of cropping sytem, change of ecosystem from wetland (sawah) to drier rainfed area, shift of varieties, and also the occurence of climate change.  The most effective controls of sugarcane disease were the use of resistant varieties, healthy seed, and quarantine.  At the moment smut and streak mosaic have not effectively controlled and tend to increase their occurrence and distribution.  the This paper reviews the development of important diseases which have significantly reduced sugarcane production since sugarcane commercially cultivated in Indonesia and integrated disease control strategies to support the sustainability of sugarcane industry.
Identifikasi Faktor Penyebab Lambannya Alih Teknologi Pada Usahatani Tembakau Virginia di Kabupaten Bojonegoro MUKANI MUKANI
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.337 KB) | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKAlih teknologi  merupakan tolok ukur keberhasilan suatu   lembaga   penelitian.   Karena   alih   teknologi mencerminkan  manfaat  keberadaan  suatu  lembaga penelitian dan sekaligus dapat memperoleh umpan balik   dari   pengguna   untuk   perbaikan   teknologi. Teknologi tembakau virginia Bojonegoro mulai dari teknologi  benih  sampai  dengan  pasca  panen  telah tersedia. Penerapan teknologi anjuran pada program Intensifikasi   Tembakau   Virginia                 (ITV) mampu meningkatkan produksi 2.529 kg/ha dan pendapatan Rp 260.297/ha. Demikian juga penelitian penerapan di lahan petani dapat meningkatkan produksi sebesar 932 kg   diikuti   kenaikan   pendapatan   sebesar   Rp 205.588/ha. Namun demikian alih teknologi masih lamban,   karena   teknologi   tersebut   tidak   mampu mengurangi   resiko   kegagalan   yang   disebabkan kelebihan air maupun kekeringan. Sebagian besar areal tembakau virginia adalah sawah tadah hujan. Peluang kegagalan   karena   kekurangan   dan   kelebihan   air masing-masing 37% dan 42%. Pengembalian jerami padi   sebagai   mulsa   tanaman   tembakau   memberi harapan untuk mengurangi resiko kegagalan.Kata kunci : Tembakau, Nicotiana tabacum, usahatani, tembakau virginia, alih teknologi, JawaTimur. ABSTRACTIdentification of Factors Affecting Slow Technology Transfer of Virginia Tobacco Farming in Bojonegoro DistrictTransfer of technology represents an indicator of the success of a research institute. Because it can express the benefit of the research institute and at the same time it can give feed back from the consumers to the research  institute  to  improve  the  technology.  The technology of virginia tobacco of  Bojonegoro from seeds to post harvest are available. Application of recommended technology at Intensification of Virginia Tobacco program could increase the tobacco product and  earnings  per  ha  each  of 2.529  kg  and  Rp 260.297/ha. And so do the application of research technology on farmer farm could increase the tobacco product equal to 932 kg/ha  followed by the increase of earnings equal to Rp 205.588/ha. However, the transfer of technology was still  low, because it could not reduce the failure due to dryness and excessive water. Returning dried rice stalks as the mulch for tobacco plantation was promising to lessen the risk.Key words : Tobacco, Nicotiana tabacum, technology transfer, farming, virginia tobacco, East Java.
Potensi Pengembangan Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw)di Lahan Terdegradasi DIBYO PRANOWO; MAMAN HERMAN; . SYAFARUDDIN
Perspektif Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1385.545 KB) | DOI: 10.21082/p.v14n2.2015.87-101

Abstract

ABSTRAKKemiri sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak nabati yang memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku untuk biodiesel. Tingkat produktivitas yang dapat mencapai 8-9 ton minyak kasar atau setara dengan 6-8 ton biodiesel/ha/tahun memiliki nilai strategis terkait dengan program pemerintah dalam mencari alternatif sumber energi baru yang terbarukan. Pengembangan sumber energi terbarukan seperti yang berasal dari minyak nabati kemiri sunan merupakan salah satu alternatif dalam upaya memenuhi defisit energi untuk keperluan domestik sehingga Indonesia dapat keluar dari himpitan krisis energi. Lahan-lahan yang telah terdegradasi di Indonesia dari tahun ke tahun luasnya semakin bertambah baik karena faktor alam maupun karena eksploitasi yang tidak terkendali. Disisi lain pengembangan tanaman sumber BBN terkendala karena keterbatasan lahan. Kajian yang telah dilakukan secara intensif terhadap karakteristik tanaman, minyak dan biodiesel yang dihasilkannya, serta daya adaptasinya yang sangat luas terhadap beragam agroekosistem yang ada di Indonesia, tanaman kemiri sunan memberikan harapan yang baik disamping sebagai sumber bahan baku biodiesel, juga dapat berfungsi sebagai tanaman konservasi untuk mereklamasi lahan-lahan marginal yang telah terdegradasi. Disamping itu, pengembangan tanaman kemiri sunan di lahan yang telah terdegradasi tidak hanya akan dapat meningkatkan nilai ekonomi lahan tersebut, tetapi juga dapat dijadikan tanaman yang bernilai ekonomi tinggi, serta mampu menyediakan kebutuhan energi bagi masyarakat sekitar maupun ke wilayah yang lebih luas. Kata kunci: Kemiri sunan, biodiesel, energi baru terbarukan, lahan terdegradasi, lahan bekas tambang.ABSTRACTThe Multiple Benefits of Developing Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) In Degraded LandKemiri sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) is one kind of vegetable oil crops that have great potential as a source of raw material for biodiesel. The productivity level that can reach 8-9 tons of crude oil, equivalent to 6-8 tons of biodiesel/ha/year make as a strategic commodity associated with government programs to find alternative sources of renewable energy. Development of renewable energy such as from vegetable oils of kemiri sunan is one of the alternatives in an effort to solve the deficit of energy for domestic use so that Indonesia can way out of the crush of the energy crisis. Lands that have been degraded in Indonesia continuously increasing both cause of the extent of natural factors and uncontrolled exploitation. On the other hand the development of this plants retricted by aviability of land. The research88 Volume 14 Nomor 2, Des 2015 : 87 - 101 studies have been conducted on the characteristics of plants, oil and biodiesel production, and adaptability in very broadly of Indonesian agro-ecosystem, this plant show well hopes besides as a source of raw material for biodiesel, it can also function as a conservation plant to reclaim marginal lands that have been degraded. In addition, the development of kemiri sunan on degraded land will not only be able to increase the economic value of the land, but also can be used as crops of high economic value, and able to provide for the energy needs of the surrounding communities and to the wider region.Keywords: Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw, biodiesel, renewable energy, degraded land, post mained land.

Page 3 of 21 | Total Record : 201