cover
Contact Name
Pantjar Simatupang
Contact Email
jae.psekp@gmail.com
Phone
+62251-8333964
Journal Mail Official
jae.psekp@gmail.com
Editorial Address
Lt. III Gedung A. Kawasan Inovasi Pertanian Cimanggu Jl. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : http://dx.doi.org/10.21082/
Core Subject : Agriculture,
Ruang lingkup dari Jurnal Agro Ekonomi adalah sosial ekonomi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan
Articles 391 Documents
Analisis Permintaan Pangan di Kawasan Timur Indonesia Handewi P.S. Saliem
Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.71 KB) | DOI: 10.21082/jae.v20n2.2002.64-91

Abstract

EnglishThe research was aimed to study the demand for food in the Eastern Region of Indonesia (ERI). The study used the 1996 National Socio-Economic Survey (SUSENAS) data collected by the Central Bureau of Statistics (Biro Pusat Statistik). Descriptive method is used for studying consumption pattern and Linear Approximation Almost Ideal Demand System (LA/AIDS) is used for analyzing food demand. Result of the study show as follows: (1) rice is dominant in structure of household budget, energy contribution and household protein in ERI: (2) in some provinces of ERI, there was shifting in consumption pattern of staple food from non-rice to rice between 1976 and 1996; (3) consumption of food as source of carbohydrate in rural areas is higher than in urban areas, but it was vice versa for the consumption of food as protein sources; ( 4) the higher income of household, the higher food consumption; (5) food demands of household in rural areas was more responsive to price and income changes than the household in urban areas, and households with the higher income were less responsive to the price and income changes; and (6) variable of number of household member and education level of head of household influenced significantly to food demand of household in RI. Implication of the study are (1) it is necessary to develop and promote non-rice main food that is suitable to local potentials; (2) policies of food and nutrition in ERI should be prioritized to the household with lower income in rural areas; (3) to satisfy consumption level of energy and protein is needed to increase about 2% income of households with lower income in rural areas; and (4) socialization of education and extension of food and nutrition are still very important carried out in ERI.IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari pola konsumsi dan permintaan pangan di wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI) dengan menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 1996 yang dikumpulkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Metoda deskriptif digunakan untuk mempelajari pola konsumsi, sedangkan untuk menganalisis permintaan pangan digunakan alat analisis ekonometrika sistem persamaan permintaan "linear approximation almost ideal demand system" (LA/AIDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Beras dominan dalam struktur anggaran, kontribusi energi dan protein rumah tangga di KTI, (2) Di berbagai provinsi di KTI antara 1979-1996 telah terjadi pergeseran dari pola pangan pokok non beras ke arah pola pangan pokok beras, (3) Konsumsi pangan sumber karbohidrat di daerah pedesaan KTI lebih tinggi dari pada di kota, namun untuk pangan sumber protein terjadi hal sebaliknya, (4) Makin tinggi tingkat pendapatan makin tinggi tingkat konsumsi pangan, (5) Permintaan pangan rumah tangga di pedesaan KTI lebih responsif terhadap perubahan harga dan pendapatan dibanding rumah tangga di kota, dan makin tinggi tingkat pendapatan makin kurang responsif terhadap perubahan harga dan pendapatan, (6) Peubah jumlah anggota rumah tangga dan pendidikan kepala rumah tangga berpengaruh nyata terhadap permintaan pangan rumah tangga di KTI. lmplikasi dari temuan hasil studi ini adalah: (1) Perlunya digalakkan pengembangan dan promosi pangan pokok non-beras sesuai potensi wilayah KTI, (2) Prioritas kebijakan di bidang pangan dan gizi di wilayah KTI perlu diarahkan kepada penduduk pedesaan dan kelompok pendapatan rendah, (3) Memenuhi tingkat konsumsi energi dan protein bagi kelompok rumah tangga berpendapatan rendah di daerah pedesaan diperlukan peningkatan pendapatan sekitar 2 persen, dan (4) Sosialisasi pendidikan dan penyuluhan di bidang pangan dan gizi masih sangat diperlukan.
Effects of Some Selected Variables on Rice-Farmers Technical Efficiency Masdjidin Siregar
Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.214 KB) | DOI: 10.21082/jae.v6n1-2.1987.94-102

Abstract

IndonesianAnalisa fungsi produksi frontier terhadap data yang diperoleh dari 63 petani padi di dua desa dataran rendah pantai utara Jawa Barat menunjukkan bahwa variasi efisiensi teknis produksi padi sangat besar. Dengan keterbatasan data yang tersedia, determinan efisiensinya juga ditelaah dalam tulisan ini. Curahan jam kerja di luar usahatani, baik di dalam maupun di luar sektor pertanian, serta umur petani ternyata tidak berpengaruh negatif terhadap efisiensi teknis sedangkan keikutsertaan petani dalam program intensifikasi berpengaruh sangat positif terhadap efisiensi itu. Determinan yang lain masih perlu diteliti lebih lanjut.EnglishThe use of frontier production function towards data gathered from 63 rice farmers in two northern coastal plain villages of West Java indicates that technical efficiency indices vary considerably. Given the availability of data, factors explaining the variation are analyzed in this paper. Neither off-farm nor non-farm working hours negatively effects technical efficiency. Nor does the age of farmers. Farmers participation in intensification program does influence technical efficiency but other determinants should properly be investigated further.
Analisis Contract Farming Usaha Ayam Broiler nFN Bahari; M. Muslich Mustadjab; Nuhfil Hanani; Bambang Ali Nugroho
Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.37 KB) | DOI: 10.21082/jae.v30n2.2012.109-127

Abstract

EnglishSmall farmers’ participation in the high-value product market aims to improve quality and income. They are involved in the contract farming for supply improvement, increased production, risk reduction, and profit enhancement. Contract farming types are various as well as the motives of the actors. This study aims to analyze contract farming in broiler farms in Malang Regency, East Java Province. The methods of analyses are logit function, technical efficiency, and performance index. Implementation of contract farming benefits the broiler farms. The farms are technically efficient. Incomes of the farmers are higher due to relatively lower production costs. Contract farming program is still the best option for farmers in order to increase income.IndonesianPartisipasi peternak kecil pada pasar produk bernilai tinggi, dengan tujuan meningkatkan standar kualitas, meningkatkan dan menstabilkan pendapatan adalah  alasan rasional untuk memperluas contract farming karena kualitas persediaan, kuantitas produksi meningkat, transfer risiko dari petani ke perusahaan dan tujuan keuntungan meningkat. Contract farming dapat berfungsi sebagai sebuah alat manajemen risiko oleh karena terjadi sharing antara pelaku yakni perusahaan (inti) dan peternak. Partisipasi perusahaan dan peternak  dalam program contract farming akan memberikan  implementasi kontrak yang bervariasi, sebagai akibat adanya motif pemenuhan kontrak sehingga hal ini  merupakan hal yang sangat penting untuk analisis. Penelitian bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan contract farming usaha  ternak ayam broiler di Kabupaten Malang Jawa Timur. Metode analisis digunakan fungsi logit, efisiensi teknis dan indeks kinerja. Temuan mengungkapkan bahwa penerapan contract farming memberikan manfaat pada peternak ayam broiler serta pelaksanaan usaha ternaknya efisien secara teknis. Pendapatan peternak kontrak lebih tinggi dengan biaya produksi yang lebih rendah, sehingga program contract farming masih merupakan pilihan terbaik bagi peternak dalam rangka peningkatan pendapatan.
The Measurement of Total Factor Productivity Growth Using Production Frontier: a Case of Irrigated Rice Farming in West Java Dewa Ketut Sadra Swastika
Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.911 KB) | DOI: 10.21082/jae.v15n1.1996.1-19

Abstract

IndonesianPengukuran Produktivitas Faktor Total dengan Menggunakan Fungsi Produksi Frontier: Studi Kasus Usahatani Padi Irrigasi di Jawa Barat. Penelitian ini mencoba mengukur perubahan teknologi dan perubahan efisiensi teknis serta kontribusinya terhadap pertumbuhan produktivitas faktor total pada padi sawah irigasi di Jawa Barat, dengan menggunakan fungsi produksi frontier stokastik. Data yang digunakan ialah hasil survai pada musim hujan 1980, 1988, dan 1992. Pendugaan fungsi produksi frontier dilakukan dengan metode maximum likelihood estimation (MLE) dengan menggunakan perangkat lunak LIMDEP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan teknologi dari tahun 1980 sampai 1988 sebesar 42,74 persen. Dalam periode yang sama, efisiensi teknis turun sebesar 2 persen. Oleh karena itu, pertumbuhan produktivitas. faktor total dari tahun 1980 sampai 1988 adalah sebesar 40,74 persen. Sebaliknya, dari tahun 1988 sampai 1992 terjadi penurunan produksi frontier sebesar 51,57 persen dan kenaikan efisiensi teknis sebesar 2,06 persen. Pada periode tersebut, pertumbuhan produktivitas faktor total adalah sebesar -49,51 persen. Kenaikan produktivitas faktor total dari tahun 1980 sampai 1988 diduga disebabkan oleh perbaikan tingkat penerapan teknologi dari awal Insus sampai Supra Insus. Setelah Supra Insus, tidak ada lagi terobosan teknologi baru, baik dari segi kultur teknis maupun varietas baru yang berpotensi hasil melebihi varietas-varietas  sebelumnya. Selain stagnasi teknologi, telah banyak dijumpai adanya penurunan potensi hasil secara genetik dari varietas yang ada saat ini. Penanaman padi secara terus menerus pada lahan sawah yang sama telah dibuktikan menurunkan kualitas dan kesuburan tanah, sehingga produktivitasnya menurun. Penurunan produktivitas faktor total di daerah penelitian diduga disebabkan oleh ketiga faktor di atas. Faktor keempat yang juga diduga sebagai penyebab turunnya produktivitas ini adalah adanya serangan hama pada musim tanam 1992. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa perubahan teknologi selama periode analisis cenderung bias kearah pengurangan benih dan tenaga kerja serta peningkatan pemakaian pupuk, pestisida, dan traktor. Juga ditemukan adanya hubungan yang negatif antara peningkatan produksi frontier dengan tingkat efisiensi teknis.
Analisis Fungsi Produksi Usahatani untuk Menunjang Pengembangan Daerah Aliran Sungai Cimanuk Agus Pakpahan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.779 KB) | DOI: 10.21082/jae.v1n2.1982.50-74

Abstract

IndonesianSekitar 43 persen dari total luas DAS Cimanuk telah dijadikan lahan sawah. Hampir 50 persen sawah tersebut berada pada selang ketinggian 0-50 meter dari muka laut, atau dapat juga dikatakan berada di DAS Cimanuk bagian hilir. Dari sawah seluas itu, 48.8 persen dapat diairi dua kali setahun, 41.6 persen satu kali setahun dan 9.6 persen tadah hujan (Dent et al, 1977). Dalam pada itu, jumlah dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan keterbatasan lahan pertanian telah menyebabkan nisbah lahan pertanian-orang sangat rendah. Selain langka dalam arti kuantitas, kelangkaan lahan di DAS Cimanuk terjadi pula dalam segi kualitas, yang tergambar dalam kemampuan lahan. Di DAS ini, lahan yang terluas adalah Kelas Kemampuan Lahan (KKL) III, IV, dan V, masing-masing seluas 25 persen, 30 persen dan 13 persen dari total area. KKL I tidak dijumpai dan KKL II hanya 0.04 persen dari total area. Total luas DAS Cimanuk adalah 400 705 ha. Dilatarbelakangi oleh keadaan itu, maka pertanyaan yang timbul adalah faktor-faktor apa saja yang strategis untuk ditangani agar dalam keterbatasan tersebut produksi pangan masih tetap dapat ditingkatkan guna mencukupi kebutuhan pangan penduduk. Dalam menganalisa pertanyaan di atas digunakan tiga bentuk hubungan fungsi: (1) fungsi pangkat, (2) fungsi transcendental dan (3) fungsi inversi log-log. Data yang dianalisa terbagi dalam empat golongan: (1) DAS Cimanuk Agregat, (2) KKL III, (3) KKL IV dan (4) KKL V. Pembandingan Nilai Produk Marginal dengan Nilai Korbanan Marginal digunakan untuk menguji tingkat alokasi masukan. Dari hasil penelitian ini diperoleh informasi bahwa model yang sesuai adalah model transcendental, dan masukan usahatani yang memberikan respon terpenting adalah: luas lahan garapan dan setelah itu pupuk anorganik. Jumlah penggunaan tenaga kerja sudah harus dikurangi. Pada KKL yang berbeda respon luas maupun pupuk berbeda pula. Pada KKL III, KKL IV, dan KKL V besaran respon luas garap pada masing-masing KKL tersebut adalah: 0.75, 0.53 dan 0.24; sedangkan respon pupuk anorganik pada masing-masing KKL tersebut adalah: 0.20, 0.16 dan 0.04. Selanjutnya, hasil pembandingan Nilai Produk Marginal dengan Biaya Korbanan Marginal menunjukkan bahwa usahatani sawah pada KKL V adalah tidak efisien, sedangkan pada KKL III dan IV penggunaan masukan masih perlu dikembangkan agar mencapai tingkat  optimal, kecuali untuk masukan tenaga kerja. Untuk dapat menangkap respon dari luas garapan yang cukup tinggi mungkin dapat dilakukan melalui peningkatan intensitas tanam. Hal tersebut dapat dilakukan apabila sistim irigasi yang tersedia memadai. Sedangkan untuk mengamankan irigasi dan melestarikan sumberdaya lahan dan air maka investasi dalam bidang konservasi sumberdaya lahan/tanah dan air di DAS Cimanuk bagian hulu sangat diperlukan.
Dampak Kebijakan Pajak Ekspor dan Tarif Impor terhadap Kesejahteraan Produsen dan Konsumen Kakao di Indonesia Julia Forcina Sinuraya; Bonar Marulitua Sinaga; Rina Oktaviani; Budiman Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.38 KB) | DOI: 10.21082/jae.v35n1.2017.11-31

Abstract

EnglishThe government of Indonesia is currently promoting development of cocoa processing industries to increase the cocoa added value. The key policy is application of export tax and import tariff for cocoa beans that may cause a number of consequences for the farmers, exporters, and industries. The aim of this research is to analyze impacts of the export tax and import tariff policy on cocoa producers and consumers welfare, and to formulate better policy mix for improving the welfare of cocoa producers and consumer in Indonesia. This research used a simultaneous equation econometric model consisted of 20 structural equations and 9 identity equations that have been estimated using the 2SLS (Two-Staged Least Squares) method using data series of 1989–2014. The results show that the policy of abolishing the cocoa beans export tax increases the producer's welfare but decreases consumers' welfare and total government revenue. Reverse results are obtained if the applied export tax was more than 7%. Import tariff policy of cocoa beans that less than 20% has small impacts on welfare of producers and consumers, but it increases the total government revenue.IndonesianPemerintah Indonesia sedang berupaya meningkatkan nilai tambah kakao dengan mendorong berkembangnya industri pengolahan kakao. Dua kebijakan kunci ialah pengenaan pajak ekspor dan tariff impor yang diperkirakan dapat berdampak nyata bagi petani, eksportir, maupun industri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan pajak ekspor dan tarif impor terhadap kesejahteraan produsen dan konsumen kakao serta merumuskan kebijakan untuk perbaikan kesejahteraan produsen dan konsumen kakao di Indonesia. Penelitian menggunakan suatu model ekonometrik persamaan simultan terdiri dari 20 persamaan struktural dan 9 persamaan identitas yang diestimasi dengan metode 2SLS (Two Stage Least Squares) menggunakan data series tahunan 1989–2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan penghapusan pajak ekspor biji kakao berdampak meningkatkan kesejahteraan produsen tetapi menurunkan kesejahteraan konsumen dan total penerimaan pemerintah. Kondisi sebaliknya terjadi apabila dilakukan penerapan pajak ekspor di atas 7%. Kebijakan tarif impor biji kakao di bawah 20% memberikan dampak perubahan yang relatif kecil terhadap kesejahteraan produsen maupun konsumen akan tetapi menambah total penerimaan pemerintah.
Dampak Intervensi Pemerintah terhadap Kinerja Ekonomi Komoditas Perkebunan Utama pada Berbagai Rezim Nilai Tukar Rupiah 1979-2005 Bambang Dradjat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.323 KB) | DOI: 10.21082/jae.v27n1.2009.61-80

Abstract

EnglishThis research was focussed on the effects of production, trade and macro economic policies on the real price, level of protection and the achievement of estate crop commodities, namely cocoa, coffee, rubber, tea and crude palm oil (CPO), in the Indonesian domestic market. The method of analyses used includes the decomposition of relative prices of estate crop commodities and direct, indirect and total protection rates.  The results show that the real prices of main estate crops in the period of 1985-1997 experienced a decrease compared to that of 1979-1985.  However, in the period of 1997-2005, the real prices of cocoa and rubber, but not for coffee, tea and CPO, showed an increase compared to the preceding periods. The indirect protection, in general indicated an increase, however, the direct protection showed a decrease.  In total, the rate protection of the estate crops resulted in positive values eventhough it seemed to decrease from time to time.  Terms of trade of estate crops against the importing sugar, from 1979 to 1997 showed a decrease but they were still in positive values. The decreasing performance of main estate crops would be more significant with respect to the capacity to import.  In the future, it is suggested that the goverment of Indonesia should adjust its interventions continuously by taking into account the international price movements of main estate crops to give incentives to producers and exporters. IndonesianPenelitian ini difokuskan pada dampak dari kebijakan pemerintah di bidang produksi, perdagangan dan makro ekonomi terhadap harga riil, tingkat proteksi dan kinerja komoditas utama perkebunan, yaitu kakao, kopi, karet, teh, dan minyak kelapa sawit mentah (CPO) di pasar domestik. Metode analisis yang digunakan adalah dekomposisi harga komoditas utama perkebunan di pasar domestik dan perhitungan tingkat proteksi langsung, tak langsung dan total keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga riil komoditas perkebunan pada periode 1985-1997 menunjukkan penurunan dibandingkan pada periode 1979-1985. Pada periode 1997-2005, harga riil kakao dan karet menunjukkan kenaikan dibandingkan periode sebelumnya.  Namun, hal ini tidak terjadi untuk kopi, teh dan minyak kelapa sawit. Secara umum, tingkat proteksi tidak langsung menunjukkan kenaikan, sebaliknya tingkat proteksi langsung mengalami penurunan.  Secara total, tingkat proteksi masih positif walaupun mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Nilai tukar perdagangan komnoditas utama perkebunan terhadap komoditi impor, sebagai contoh gula, dari tahun 1979 ke 1997 mengalami penurunan tetapi masih bernilai positif.  Penurunan kinerja ini lebih nyata jika dilihat dari kapasitas untuk mengimpor. Pada masa mendatang pemerintah Indonesia sebaiknya menyesuaikan intervensinya secara terus menerus.  Pergerakan harga internasional komoditas utama perkebunan perlu diperhitungkan sehingga intervensi tersebut dapat menghasilkan insentif bagi produsen dan pengekspor untuk berproduksi dan mengekspor.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Peran Komunikasi Kelompok Tani dalam Adopsi Inovasi Teknologi Upaya Khusus (Padi, Jagung, dan Kedelai) di Jawa Timur Cut Rabiatul Adawiyah; nFN Sumardjo; Eko S. Mulyani
Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.266 KB) | DOI: 10.21082/jae.v35n2.2017.151-170

Abstract

EnglishThe government commits to achieve food sovereignty and self-sufficiency, especially those of rice, corn, and soybean (Pajale) in 2017, 2018, and 2019, respectively. One of the problems is low speed of technological innovation adoption at farm level because of extension workers and farmer group’s communication is not dynamic. This study aims to analyze factors influencing technological innovation adoption of the Rice, Corn and Soybean Special Effort (Upsus Pajale) activities and roles of farmer group communication on technology adoption in Upsus Pajale activities. The research was conducted in Malang Regency, East Java Province. Primary data were collected using questionnaires from 90 respondents. Qualitative data were collected through in-depth interviews with key informants and direct observation. Primary data were analyzed using descriptive statistics and a logistic regression model. The results showed that factors influencing technological innovation adoption in Upsus Pajale activities in Malang Regency were farmers’age, nonformal education, land holding size, mass media, farmers’ assistants, and the farmer group communication. Factors influencing the roles of farmer group communication were farmers’age, the size of controlled arable land, cosmopolity level, non-formal education, mass media, and farmers’ companion.IndonesianPemerintah saat ini telah berkomitmen untuk mewujudkan kedaulatan pangan serta swasembada pangan, terutama komoditas padi, jagung, dan kedelai (Pajale) yang ditargetkan terwujud berturut-turut pada tahun 2017, 2018, dan 2019. Salah satu permasalahannya adalah kecepatan adopsi inovasi teknologi di tingkat petani masih rendah karena peran komunikasi penyuluh dan kelompok tani masih belum dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap adopsi inovasi teknologi pada kegiatan upaya khusus (Upsus) Pajale dan menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peran komunikasi kelompok tani terhadap adopsi inovasi teknologi dalam kegiatan Upsus Pajale. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner dengan responden sebanyak 90 orang dan didukung oleh data kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap beberapa informan kunci dan observasi langsung. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensia regresi model logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi adopsi inovasi teknologi pada kegiatan Upsus Pajale di Kabupaten Malang adalah umur petani, pendidikan nonformal, luas lahan yang dikuasai, peran media informasi, peran pendamping, dan peran komunikasi kelompok tani. Faktor-faktor yang memengaruhi peran komunikasi kelompok tani adalah umur petani, luas lahan yang dikuasai, tingkat kekosmopolitan, pendidikan nonformal, peran media informasi, dan peran pendamping petani.
Analisis Kepuasan Pengunjung dan Pengembangan Fasilitas Wisata Agro (Studi Kasus di Kebun Wisata Pasirmukti, Bogor) Riandina Wahyu Oktaviani; Rita Nurmalina Suryana
Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.895 KB) | DOI: 10.21082/jae.v24n1.2006.41-58

Abstract

EnglishTourist’s preference to go back to nature makes ecotourism as a potential tourism market, including agricultural-based tourism (agrotourism). Kebun Wisata Pasirmukti is one of agrotourisms located in Citeureup, Bogor which has been opened for public in 2001.  This paper presents visitor characteristics, decision process of visitation, visitors’ response and their satisfaction on attributes provided in the area, and the importance of additional facilities to increase performance of Kebun Wisata Pasirmukti. This study uses descriptive analysis, Importance Performance Analysis, and Friedman Test and Multiple Comparison for Friedman. This study shows that the management of Kebun Wisata Pasirmukti should improve performance of promotion, accessibility to reach interesting locations and objects in the area, and worship facilities. In addition, Kebun Wisata Pasirmukti has to maintain performance of education activity known as the strong point of this location compared to other similar recreational objects.IndonesianKecenderungan wisatawan untuk kembali ke alam menyebabkan pengembangan daya tarik wisata yang berbasiskan alam menjadi potensial, tak terkecuali wisata yang berbasiskan alam pertanian (wisata agro). Kebun Wisata Pasir Mukti merupakan salah satu wisata agro yang terdapat di Citeureup, Bogor dan baru dibuka untuk umum pada tahun 2001. Artikel ini menyajikan hasil penelitian mengenai karakteristik pengunjung, proses keputusan kunjungan, respon pengunjung dan tingkat kepuasan pengunjung terhadap atribut yang ditawarkan oleh Kebun Wisata Pasirmukti, serta fasilitas yang perlu ditambahkan untuk menunjang kinerja Kebun Wisata Pasirmukti. Dalam penelitian ini digunakan beberapa alat analisis antara lain analisa deskriptif, Importance Performance Analysis, serta Uji Friedman dan Multiple Comparison untuk Uji Friedman. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa pihak manajemen Kebun Wisata Pasirmukti sebaiknya memperbaiki kinerja dari promosi, kemudahan mencapai lokasi serta sarana peribadatan. Selain itu, pihak Kebun Wisata Pasirmukti juga sebaiknya mempertahankan kinerja dari kegiatan edukatif yang merupakan keunggulan perusahaan di mata pengunjung dibandingkan dengan obyek wisata lain yang sejenis.
Cover & Pengantar nFN nLN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.775 KB) | DOI: 10.21082/jae.v36n1.2018.%p

Abstract


Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue