cover
Contact Name
Pantjar Simatupang
Contact Email
jae.psekp@gmail.com
Phone
+62251-8333964
Journal Mail Official
jae.psekp@gmail.com
Editorial Address
Lt. III Gedung A. Kawasan Inovasi Pertanian Cimanggu Jl. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : http://dx.doi.org/10.21082/
Core Subject : Agriculture,
Ruang lingkup dari Jurnal Agro Ekonomi adalah sosial ekonomi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan
Articles 391 Documents
Volatilitas Pasar Bawang Merah di Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur Susanti Evie SULISTIOWATI; Ratya Anindita; Rosihan Asmara
Jurnal Agro Ekonomi Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v39n1.2021.15-27

Abstract

EnglishShallot is an agricultural strategic commodity. Understanding the market dynamics is necessary in formulating the market management policy. This study aims to analyze the volatility magnitude and spillover of shallot production, import, and consumption. This study was conducted in Probolinggo Regency, a major shallot production center, using monthly time series data of 2013-2019 period. Volatility was analyzed using the ARCH/GARCH method, spillover was analyzed using the EGARCH method. The results showed low volatility in production quantity and producers price. High volatility was found for quantity of consumption, import price and consumer price. Volatility spillover was found between producer’s price and production quantity as well as between consumer’s price and consumption quantity. There was no volatility spillover between producer’s price and consumer’s price or between quantity of production and consumption. The findings indicate the existence of asymmetrical information between producers’ market and consumers’ market. Therefore, market stabilization intervention should be focused in the consumers’ market. Price reference may be used as a benchmark in market intervention which includes market operations and import controls. Government should develop market information system to prevent asymmetrical information between the producers’ market and the consumers’ market.IndonesianBawang merah adalah salah satu komoditas pertanian strategis. Pemahaman tentang dinamika pasar sangat penting dalam perumusan kebijakan pengelolaan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besaran dan spillover volatilitas produksi, impor dan konsumsi bawang merah. Penelitian dilakukan di Kabupaten Probolinggo, salah satu sentra produksi bawang merah dengan menggunakan data bulanan deret waktu selama tahun 2013–2019. Untuk menganalisis volatilitas harga, produksi, dan konsumsi digunakan metode ARCH/GARCH, sedangkan untuk menganalisis volatilitas spillover digunakan metode EGARCH. Hasil analisis menujukkan volatilitas rendah untuk kuantitas produksi dan harga konsumen. Volatilitas tinggi ditemukan untuk kuantitas konsumsi, harga impor, dan harga konsumen. Volatilitas spillover terjadi antara harga produsen dan kuantitas produksi serta antara harga konsumen dan kuantitas konsumsi. Volatilitas spillover tidak terjadi antara harga produsen dan konsumen maupun antara kuantitas produksi dan konsumsi. Temuan ini mengindikasikan adanya asimetri informasi antara pasar produsen dan pasar konsumen. Karena itu, upaya stabilisasi harga bawang merah sebaiknya difokuskan di pasar konsumen. Kebijakan referensi harga dapat dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan intervensi pasar yang mencakup operasi pasar dan pengendalian impor. Pemerintah perlu pula membangun sistem informasi pasar untuk menghilangkan masalah asimetri informasi antara pasar produsen dan pasar konsumen.
Indeks Judul, Penulis, dan Subjek nFN nLn
Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v37n2.2019.%p

Abstract

Ketahanan Pangan Rumah Tangga Penerima Bantuan Program Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Sumba Tengah Yosua Umbu Osa Sabaora; Sony Heru Priyanto; Tinjung Mary Mary Prihtanti
Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v38n2.2020.105-125

Abstract

EnglishThe Food Resilient Village is a major program of the Ministry of Agriculture to ensure food security of rural households which effectiveness should be evaluated. This study aims to determine status, determinants, and food coping strategies of the household participants of the Food Resilient Village Program in Sumba Tengah Regency. The data was collected through a survey with 85 randomly selected household samples in 2019. The food security status was determined through a cross tabulation of food expenditure share and the level of energy consumption. The determinants of food security were identified using the logistic regression analysis. Food fulfillment strategy was evaluated with a food coping index. Results show that 25.58% sample households were food insecure, 40.00% were vulnerable food insecure, 14.12% were food insufficient, and 20.00% were food insecure. The food security was positively affected by the age of the family head, house hold income, rice prices, dummy balanced areas of paddy fields and dry land. The negative determinants were the number of household members, land size controlled and meat prices chicken. In general the coping strategy was at moderate level with a categorial composition of low 14.12%, medium 51.76%, and high 34.12%.IndonesianProgram Desa Mandiri Pangan adalah salah satu program utama Kementerian Pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga perdesaan yang perlu diteliti efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan status, mengindentifikasi determinan, dan mengevaluasi strategi penyesuaian pangan rumah tangga penerima program Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Sumba Tengah. Data dikumpulkan melalui survei dengan responden sebanyak 85 rumah tangga contoh yang dipilih secara acak sederhana pada tahun 2019. Status ketahanan pangan ditetapkan berdasarkan kombinasi silang antara pangsa pengeluaran pangan dan kecukupan konsumsi energi rumah tangga. Determinan ketahanan pangan dianalisis dengan regresi logit. Strategi penyesuaian pangan diukur dengan food coping index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan pangan rumah tangga yang dalam kategori tahan pangan sebesar 25,88%, rentan pangan 40,00%, kurang pangan 14,12%, dan rawan pangan 20,00%. Faktor-faktor yang berpengaruh positif terhadap ketahanan pangan adalah umur kepala keluarga, pendapatan rumah tangga, harga beras, dan agroekosistem berimbang lahan sawah dan lahan kering, sedangkan yang berpengaruh negatif adalah jumlah anggota rumah tangga, luas penguasaan lahan, dan harga daging ayam. Secara umum, strategi penyesuaian pangan yang dilakukan responden berada pada tingkatan sedang dengan komposisi kategori rendah sebanyak 14,12%, sedang 51,76%, dan tinggi 34,12% dari total rumah tangga contoh.
Ucapan Terima Kasih Mitra Bestari nFN nLn
Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efisiensi Teknis dan Profitabilitas Peternakan Rakyat Ayam Broiler di Kabupaten Kupang Maryance Vivi Murnia Bana; Netti Tinaprilla; Rachmad Pambudy
Jurnal Agro Ekonomi Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v39n1.2021.29-49

Abstract

EnglishTechnical efficiency and profitability are the key for business enterprise development. Kupang regency is a center of smallholder broiler farms in East Nusa Tenggara Province that evolve with partnership and non-partnership types of enterprises. The study aims to analyze technical efficiency and profitability of the two types enterprises that may be useful in formulating broiler farming development in policy in Kupang Regency. Data was collected from purposively selected of 30 partnership farmers and 30 non partnership farmers in July 2019-August 2020. Technical efficiency was measured using the stochastic frontier production function. Profitability was measured using the R/C ratio. Results showed that both partnership and non-partnership enterprises are technically efficient, but technical efficiency of the non-partnership group is higher than the partnership group. Determinants of technical inefficiency of the partnership group are farmers’ education and family size. Determinants of technical inefficiency of the non-partnership group are farmers’ education, length of farming experience and family size. The non-partnership enterprises are more profitable than the partnership enterprises with average R/C ratio 1.19 and 1.06, respectively. Appropriate use of inputs, technology innovation and good farm management practices should be facilitated by the government in order to further increase farm technical efficiency and profitability.IndonesianEfisiensi teknis dan profitabilitas adalah kunci utama perkembangan suatu usaha. Kabupaten Kupang merupakan salah satu daerah sentra peternakan rakyat ayam broiler di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang sedang berkembang dengan pola usaha sistem mitra dan nonmitra. Penelitian bertujuan untuk menganalisis efisiensi teknis dan profitabilitas kedua pola usaha ternak ayam broiler yang diharapkan berguna dalam perumusan kebijakan pengembangan peternakan ayam broiler di Kabupaten Kupang. Data dikumpulkan dari 30 peternak mitra dan 30 peternak nonmitra yang dipilih secara purposif pada Juli 2019–Agustus 2020.  Efisiensi teknis diukur dengan mempergunakan fungsi produksi stochastic frontier.  Profitabilitas diukur dengan R/C rasio. Penelitian menunjukan bahwa peternakan ayam broiler pola kemitraan maupun nonmitra adalah efisien secara teknis namun efisiensi teknis kelompok nonkemitraan lebih tinggi dari kelompok kemitraan. Inefisiensi teknis usaha ternak mitra dipengaruhi oleh tingkat pendidikan peternak dan jumlah tanggungan keluarga. Sedangkan inefisiensi teknis usaha ternak nonmitra dipengaruhi oleh tingkat pendidikan peternak, pengalaman beternak, dan jumlah tanggungan keluarga. Usaha ternak nonmitra lebih menguntungkan dibandingkan sistem mitra dengan nilai R/C rasio berturut-turut 1,19 dan 1,06. Penggunaan input yang sesuai, inovasi teknologi dan penerapan manajemen usaha ternak yang baik perlu difasilitasi pemerintah guna meningkatkan efisiensi teknis usaha dan profitabilitas usaha ternak.
Ucapan Terima Kasih Mitra Bestari nFN nLn
Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v37n2.2019.%p

Abstract

Perubahan Efisiensi Teknis Usaha Tani Jagung pada Agroekosistem Lahan Kering Rangga Ditya Yofa; Yusman Syaukat; nFN Sumaryanto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v39n2.2021.97-116

Abstract

EnglishThe level of corn productivity during the 2008-2018 period experienced sloping growth. From various previous research results, it is known that the use of corn production inputs is not optimal. This study aims to analyze changes in technical efficiency of corn farming and the factors that influence it on the dry land agroecosystem. The data used is National Farmer Panel data (Patanas) in 2008 and 2017 sourced from Indonesian Center for Agricultural Socio Economics and Policy Studies (ICASEPS), Ministry of Agriculture. The analytical method used are the stochastic frontier production function with the Time-Varying Decay (TVD) model, and the random-effects tobit model. The results of the analysis show that the average level of technical efficiency of corn farming reaches 70.27 percent. There was an increase in the score of technical efficiency in 2017 compared to 2008. Factors influencing this increase were the age and level of education of family heads, the share of corn farming income, and the status of land ownership. It is recommended to the government to increase the use of dry land for food crop businesses and ensure the availability of hybrid corn seeds at an affordable price.IndonesianTingkat produktivitas jagung selama periode 2008–2018 mengalami pertumbuhan yang melandai. Dari beragam hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa penggunaan input produksi jagung belum optimal. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis perubahan tingkat-efisiensi teknis usaha tani jagung dan faktor-faktor yang memengaruhi-nya pada agroekosistem lahan kering. Data yang digunakan adalah data Panel Petani Nasional (Patanas) tahun 2008 dan 2017 yang bersumber dari Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP), Kementan. Metode analisis yang digunakan adalah fungsi produksi Stochastic Frontier dengan model Time-Varying Decay (TVD), dan model Random-Effects Tobit. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata tingkat efisiensi teknis usaha tani jagung mencapai 70,27%. Terjadi peningkatan skor efisiensi teknis pada tahun 2017 dibandingkan tahun 2008. Faktor yang memengaruhi peningkatan ini yaitu umur dan tingkat pendidikan kepala keluarga, pangsa pendapatan usaha tani jagung, dan status kepemilikan lahan. Disarankan kepada pemerintah agar meningkatkan pemanfaatan lahan kering untuk usaha tanaman pangan dan menjamin ketersediaan benih jagung hibrida dengan harga yang terjangkau.
Daya Saing dan Potensi Pengembangan Ekspor Pati Sagu Indonesia Andi Pangeran Rivai; Musran Munizu; nFN Mahyuddin
Jurnal Agro Ekonomi Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v39n2.2021.155-163

Abstract

EnglishIndonesa has comparative advantage on sago production because it has the largest sago planted area in the world and sago is an Indonesia origin crop. The challenge, then, is how to convert the comparative advantage into competitive advantage as reflected in exportation of the sago derived products. This study is, therefore, intended to analyze competitiveness export potential of the Indonesian sago starch (HS 110819). The analysis was conducted using the Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Product Dynamics (EPD) dan X-Model Potential Export Products methods. The export-import data by country was obtained from the UN Comtrade for the 2010-2019 period. RCA dan EPD analysis showed that Indonesia had a strong competitiveness in the sago starch export markets. Further analysis with the X-Model showed that the optimistic markets for the Indonesia sago export were the Philippines, China dan Sri Lanka, the potential markets were Japan, Malaysia, Australia, Amerika, Thailand dan Hongkong, and the less potential market was Singapore. It is recommended for the Indonesia Government to promote export-oriented sago starch industry development with China, Sri Lanka and the Philippines as the priority markets and Japan, Malaysia, Australia, Amerika, Thailand dan Hongkong as the export potential markets. IndonesianIndonesia memiliki keunggulan komparatif dalam menghasilkan sagu karena memiliki pertanaman sagu yang terluas di dunia dan sagu adalah tanaman asli Indonesia. Tantangan kemudian ialah bagaimana mengubah keunggulan komparatif tersebut menjadi keunggulan kompetitif yang tercermin dari eksportasi produk turunan sagu seperti pati sagu. Sehubungan dengan itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis daya saing dan potensi ekspor pati sagu (HS 110819) Indonesia. Analisis dilakukan dengan metode Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Product Dynamics (EPD) dan X-Model Potential Export Products. Data ekspor-impor antarnegara diperoleh dari UN Comtrade untuk periode 2010–2019. Analisis RCA dan EPD menunjukkan bahwa pati sagu indonesia memiliki daya saing yang kuat di pasar ekspor. Analisis lanjutan dengan X-Model menyimpulkan bahwa pati sagu memiliki potensi pengembangan pasar ekspor optimis untuk tujuan ke Filipina, China, dan Sri Lanka, potensial untuk tujuan ke Jepang, Malaysia, Australia, Amerika, Thailand, dan Hongkong, dan kurang potensial untuk tujuan ke Singapura. Disarankan agar Pemerintah Indonesia mendorong pengembangan industri pati sagu untuk tujuan ekspor dengan negara China, Sri Lanka, dan Filipina sebagai prioritas tujuan utama dan negara Jepang, Malaysia, Australia, Amerika, Thailand, dan Hongkong sebagai kelompok tujuan ekspor potensial.
Ucapan Terima Kasih Mitra Bestari nFN nLN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v39n1.2021.%p

Abstract

Analisis Saling-Pengaruh Harga Kopi Indonesia dan Dunia Budiman Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v24n1.2006.21-40

Abstract

EnglishMarket destination of Indonesian coffee remains directed into external markets because domestic consumption per capita of coffee is still very low as well as its rate of growth,  while the rate of consumption growth in foreign markets were kept very high and persistently growing. The question is whether or not these coffee markets were integrated and whether or not the prices in the two production centers in Indonesia were also integrated. To formulate policies that could be used to empower coffee farmers and manage their production, information and data pertaining to integration and causal relationship among these markets are badly needed. This paper aims (a) to evaluate the growth and variation of prices in two production locations in Indonesia and a number of consumer markets abroad, namely Japan, the US, Germany, Italy and the Netherlands and estimate the percentage of price received by the coffee producers, and (b) to analyze orientation trend, integration and cointegration and their impacts on the long-term relationship among the prices in the various markets. The research was undertaken during March throughout December 2003, using time series data from 1983 through 2002. The research shows that retail prices in Japan were always higher than those of in US, Germany, Italy and the Netherlands with positive trends until 1995 and negative trend afterwards. Retail price movements in the US and the Netherlands tended to be similar, and retail prices in Germany had almost similar pattern with those of in the Netherlands, while producer prices in Indonesia were hardly fluctuate. Uncertainty, as reflected by coefficient of variations was more significant for prices received by coffee producers in Indonesia than those of prices paid by consumers in the developed countries. Aside from uncertainty factor, the percentage prices received by the coffee farmers in Indonesia (Lampung and Jawa Timur) are diminutive relative to retail prices in major importing countries. Coffee prices in Jawa Timur were only valued between 4.8 to 24.2 percent of retail prices in the importing countries and coffee prices in Lampung are much lower, only about 1.2 to 7.5 percent of retail prices in the importing countries. The coffee industry in Western Europe seemed to have strong relationship with the coffee industry in Lampung and be less strong with that of in Jawa Timur.  In contrary, coffee industry in the US had strong link with that of in Jawa Timur and less strong with that of in Lampung. Despite its large size of coffee import volume from Indonesia, the market relationship between Japan and Indonesia was not that strong as generally perceived. Indonesian government should prescribe export and import policies that are required to enhance agricultural sector and agribusiness development.IndonesianSasaran pasar komoditas kopi Indonesia sampai saat ini masih mengarah ke pasar ekspor yang tersebar di berbagai kota besar di negara maju, karena konsumsi per kapita di dalam negeri sendiri masih sangat rendah dan pertumbuhannya pun juga rendah, sementara di pusat-pusat konsumen di luar negeri pertumbuhan konsumsi tampaknya cukup mantap. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah dua simpul pasar kopi ini terintegrasi dan apakah harga di pusat produksi kopi di Indonesia juga terintegrasi? Untuk merancang langkah-langkah pemberdayaan dan pengelolaan produksi petani kopi, diperlukan informasi dan data hubungan saling pengaruh dan integrasi antara pasar produsen dan konsumen ini. Makalah ini ditujukan untuk mengevaluasi perkembangan dan keragaman harga di dua lokasi produsen di Indonesia dan beberapa lokasi konsumen di luar negeri, menganalisis perubahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS), serta kecenderungan orientasi dan dampaknya dalam menuju hubungan sesamanya dalam jangka panjang. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Desember 2003, menggunakan data sekunder deret waktu tahun 1983 sampai dengan 2002. Penelitian menunjukkan harga eceran di Jepang selalu lebih tinggi daripada harga-harga di negara konsumen seperti AS, Jerman, Italia dan Belanda dan tren perkembangan harga cenderung positif sampai dengan tahun 1995 dan negatif sesudahnya. Harga eceran di AS dan di Belanda cenderung mempunyai pola yang sama, sedangkan harga eceran di Jerman mempunyai pola yang hampir sama dengan di Belanda dan harga produsen di Indonesia terlihat bergerak mendatar. Ketidakpastian, seperti ditunjukkan oleh koefisien keragaman lebih nyata pada harga yang diterima produsen kopi di Indonesia dibanding para konsumen di negara-negara maju. Selain faktor ketidakpastian, harga kopi yang diterima petani kopi Indonesia (Lampung dan Jawa Timur) sangat kecil jika dibandingkan dengan harga eceran di negara-negara pengimpor utama. Harga kopi di Jawa Timur hanya bernilai sekitar 4,8-24,2 persen dari harga eceran di negara konsumen dan bagi petani produsen di Lampung persentase yang diterima jauh lebih rendah, yakni hanya bernilai sekitar 1,2-7,5 persen. Industri kopi di Eropa Barat berhubungan erat dengan industri kopi di Lampung dan kurang erat dengan industri kopi di Jawa Timur. Sebaliknya, industri kopi di Amerika Serikat berhubungan erat dengan industri kopi di Jawa Timur dan kurang dengan industri kopi di  Lampung. Perubahan nilai tukar dolar AS dalam jangka pendek memberikan perubahan pada harga-harga kopi di Jawa Timur lebih rendah daripada harga kopi di Lampung. Meskipun Jepang mengimpor kopi dalam jumlah besar dari Indonesia, hubungan kedua pasar kopi ini tidaklah terlalu kuat seperti diprakirakan. Seperti halnya di negara-negara lain, pemerintah seyogianya mempunyai kebijakan ekspor dan impor yang mendukung pengembangan sektor pertanian dan agribisnis yang tidak merugikan negara.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue