cover
Contact Name
Pantjar Simatupang
Contact Email
jae.psekp@gmail.com
Phone
+62251-8333964
Journal Mail Official
jae.psekp@gmail.com
Editorial Address
Lt. III Gedung A. Kawasan Inovasi Pertanian Cimanggu Jl. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : http://dx.doi.org/10.21082/
Core Subject : Agriculture,
Ruang lingkup dari Jurnal Agro Ekonomi adalah sosial ekonomi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan
Articles 391 Documents
Profil Tebu Rakyat di Jawa Timur Muchjidin Rachmat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v11n2.1992.39-57

Abstract

IndonesianTulisan ini menggambarkan profil tebu rakyat di Jawa Timur melalui gambaran tentang pengusahaan lahan tebu, kategori pertanaman, sistim pengelolaan, tehnik budidaya, penyaluran hasil, tingkat produksi dan pendapatan usahatani. Kajian lebih mendalam tentang teknologi produksi dianalisa melalui analisa fungsi produksi. Hasil studi menunjukkan bahwa komoditas tebu telah berkembang diusahakan oleh rakyat dengan baik di Jawa Timur. Umumnya petani tebu tersebut adalah kelompok petani yang menggarap lahan lebih luas. Hasil analisa menunjukkan bahwa pengusahaan tebu cenderung ekstensif melalui berkembangnya tebu keprasan. Perkembangan tebu keprasan tersebut menghambat upaya peningkatan produktivitas tebu. Dalam pelaksanaan usahatani, petani cenderung mengarah kepada minimisasi biaya melalui pengeprasan berulang, pemakaian bibit pucuk yang lebih murah dan pengurangan tenaga kerja usahatani. Dan untuk mempertahankan bobot tebu petani lebih cenderung kepada peningkatan pemakaian pupuk N. Pelaksanaan tebu program terutama secara kooperatif masih merupakan media yang baik dalam introduksi teknologi baru. Dengan arah pengembangan tebu mendatang ke lahan tegalan, sangat diperlukan kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi kearah tersebut melalui temuan varietas tebu tegalan tahan keprasan berulang serta temuan teknologi budidaya tepat guna di lahan tegalan.
Indeks Penulis JAE Vol. 01 -11 Nomor 1 nFN nLN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor Penentu Tingkat Efisiensi Teknik Usahatani Cabai Merah di Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong Ketut Sukiyono
Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v23n2.2005.176-190

Abstract

EnglishThe purpose of this paper is to  determine factors influencing technical efficiency of red chili farming in Sub-District of Selupu Rejang, Rejang Lebong District. The analysis use frontier production function estimated using MLE estimation procedure assuming that Cobb-Douglas is a functional form of production function for red chili farming in the research area the estimation is based on technique. Cross sectional data set of 60 respondent selected using simple random sampling technique.  The research shows that most variables are significant and have expected  signs, except for TSP and labour which have  negative signs. The research also find that farmers operate between 7 percent to 99 percent of efficiency, are 65 percent on average. Furthermore, more than 65 percent of farmers are operated above 50 percent technical efficiency.  It is also found that only education has an expected sign and a significant impact on technical efficiency while land size was not even though it has a positive sign.  Furthermore, farmer’s age and experince have  unexpected signs, i.e, negative and insignifant impact on technical efficiency.IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknik usahatani cabai merah di Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong. Untuk tujuan ini, digunakan fungsi produksi frontier dan diduga dengan menggunakan metode MLE dengan mengasumsikan Cobb-Douglas adalah bentuk fungsional fungsi produksi cabai di daerah penelitian. Jumlah responden 60 orang dipilih secara acak dengan menggunakan metode acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peubah yang diikutkan dalam model adalah signifikan dan mempunyai tanda sesuai harapan, kecuali peubah TSP dan tenaga kerja yang mempunyai tanda negatif. Penelitian ini juga menemukan bahwa petani mempunyai efisiensi teknik antara 7 persen hingga 99 persen dengan rata-rata 65 persen. Hasil penelitian juga menemukan bahwa lama pendidikan mempunyai tanda sesuai harapan dan nyata pada taraf 95 persen, sementara ukuran usahatani tidak meskipun mempunyai tanda positif.  Lebih lanjut, faktor umur dan pengalaman petani mempunyai tanda negatif dan bukan merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat efisiensi teknik yang diperoleh petani.
Analisis Efisiensi Ekonomi Relatif Usahatani Kopi Rakyat di Lampung Budi Santoso; Chairil A. Rasahan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v8n1.1989.50-61

Abstract

EnglishOne of the ways to evaluate farm level production process is by conducting farm efficiency analysis. The study is an efficiency analysis on coffee smallholders in Lampung for the 1984/85 season. Two main factors are considered: farm size and geographical location. It was found that there is similarity in the relative efficiency between small scale farms and the larger one, either in terms of economic, price, and technical efficiencies. There is also no significant difference between farms in the lowland and in the upland areas. The evidence is that the upland areas are mostly remote areas, while the lowland farms are more open to their surroundings.IndonesianSalah satu cara untuk menilai keberhasilan proses produksi usahatani adalah dengan melalui penilaian efisiensi usahatani. Penelitian ini ingin mengetahui perbedaan efisiensi relatif berdasarkan perbedaan luas usahatani dan perbedaan lokasi geografi terhadap usahatani kopi rakyat di Lampung pada musim kopi 1984/1985. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan efisiensi relatif, baik efisiensi ekonomi, harga maupun teknik relatif antara usahatani kopi berlahan sempit dengan usahatani kopi berlahan luas dan antara usahatani kopi di dataran tinggi yang relatif terpencil dengan usahatani kopi di dataran rendah yang relatif terbuka.
Ucapan Terima Kasih Mitra Bestari nFN nLN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v36n2.2018.%p

Abstract

Dampak Penurunan Hambatan dan Peningkatan Kemudahan Perdagangan Terhadap Produksi, Neraca Perdagangan Pertanian, dan Kesejahteraan Masyarakat Budiman F. Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v33n1.2015.73-89

Abstract

EnglishIn tandem with the effort of WTO that insists its members to cut their tariff, standardization, and in general, the non-tariff measures/NTMs have been gaining its role in today’s world agricultural and food trade. The objectives of this paper is to review information and data pertaining to NTM and trade facilitation imposed by Indonesia’s partner countries and investigate their impact on agricultural production and welfare. Based on GTAP Data Base Version 8.1, the paper concludes that Vegyfru (Vegetables, fruit, nuts) and Vegyoil (Vegetable oils and fats) production tend to increase, but for those of Oilseed, Othfoodpr (Food products nec) and Oth_sectors (Other sectors), some scenarios project to their increases and other scenarios show otherwise. Inspite of that all scenarios results in positive increases in welfare of Indonesians and world’s population between US$ 16 to 1,734 million. For Indonesia, improvement in trade facilitation in all regions would give the most benefits, relative to import tariff reduction done by partner countries or export tax/subsidy reduction done by all regions, including Indonesia. The paper suggests that Indonesia should actively follow the policy dynamics that relate to NTMs and trade facilitation applied by the partner countries on agricultural products’ tariff lines in terms of types, size, and its characteristics. By so doing, Indonesia would gain a deeper understanding on defensive and offensive trade and economic interests of each of its partner countries and its own.         IndonesianSeiring dengan pemotongan tarif secara menyeluruh di seluruh dunia yang digalakkan Organisasi Perdagangan Dunia (OPD), pembakuan, dan secara umum tindakan bukan-tarif/TBT atau non-tariff measures/NTMs, menjadi makin penting perannya dalam perdagangan pertanian dan pangan dunia saat ini. Tujuan makalah ini adalah mendapatkan informasi dan data tentang hambatan perdagangan bukan-tarif dan kemudahan perdagangan yang diterapkan negara-negara mitra dan dampaknya pada produksi pertanian dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Hasil analisis dengan menggunakan Basis Data GTAP Versi 8.1 menunjukkan bahwa produksi Vegyfru (Vegetables, fruit, nuts) dan (Vegetable oils and fats), dan untuk Oilseed, Othfoodpr (Food products nec) dan Oth_sectors (Other sectors) beberapa skenario menunjukkan peningkatan, tetapi beberapa lainnya menunjukkan penurunan. Semua skenario yang dipertimbangkan memberi peningkatan kesejahteraan bagi Indonesia dan dunia, antara US$ 16 sampai US$ 1.734 juta dolar AS. Bagi Indonesia kebijakan peningkatan keefisienan perdagangan di seluruh dunia memberikan manfaat yang paling besar dibandingkan dengan kebijakan pemotongan tarif impor atau pemotongan tarif ekspor. Saran kebijakan yang dapat disampaikan antara lain Indonesia perlu secara aktif mengikuti perkembangan kebijakan yang menyangkut tindakan bukan tarif/TBT dari sisi jenis, besaran, dan sifatnya untuk setiap pos tarif komoditas pertanian yang lebih rinci yang dilakukan negara-negara mitra. Dengan demikian, pengetahuan yang mendalam tentang daya bertahan dan daya serang perdagangan suatu negara mitra dan Indonesia sendiri dapat diperoleh.
Volatilitas dan Transmisi Harga Cabai Merah Keriting pada Pasar Vertikal di Provinsi Bengkulu Miftahuljanah, nFN; Sukiyono, Ketut; Asriani, Putri Suci
Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v38n1.2020.29-39

Abstract

EnglishRed chili is a commodity of high value for farmers and a significant contribution to general price inflation in aggregate economy. The impacts on farmers’ income and national inflation are related to the chili price volatility due to harvest seasonality. The objective of the study is to analyze curly red chili price volatility and price formation at producers’, wholesales’ and consumers’ market levels. The data used is secondary data of monthly chili prices in Rejang Lebong Regency, the chili production center in Bengkulu, from 2007 to 2017. The price volatility was analyzed using the ARCH-GARCH method and the price transmission was analyzed using the ECM (Error Correction Model) method. The results showed that the price volatilities were high at producers’ and wholesales’ levels but low at consumer level. The price formation at producer level is primarily determined by price at wholesales’ level that contributes 71% and at consumers’ level that contributes 16%. The short run adjustment coefficient toward long run equilibrium is -0.5849. The appropriate strategy to stabilize the curly red chili price at both producers’ and consumers’ levels in Bengkulu is combination of controlling the price at distributors’ level policy and expanding and stabilizing production policy.IndonesianCabai merah adalah komoditas bernilai ekonomis tinggi bagi petani dan penyumbang nyata inflasi harga umum secara agregat. Dampak terhadap pendapatan petani maupun inflasi terutama berkaitan dengan harga cabai yang amat fluktuatif sebagai akibat dari panen musiman. Penelitian bertujuan untuk menganalisis volatilitas dan pembentukan harga cabai merah keriting di tingkat produsen, grosir, dan konsumen. Data yang digunakan adalah data sekunder bulanan harga cabai merah keriting di Kabupaten Rejang Lebong, sentra produksi cabai di Provinsi Bengkulu, pada tahun 2007–2017. Volatilitas harga dianalisis dengan metode ARCH-GARCH sedangkan transmisi harga dianalisis dengan metode ECM (Error Correction Model). Hasil penelitian menunjukkan bahwa volatilitas harga di tingkat produsen dan grosir tergolong tinggi sedangkan di tingkat konsumen tergolong rendah. Pasar grosir adalah pemimpin pasar dan pembentuk harga di tingkat produsen maupun konsumen. Faktor utama pembentuk harga cabai di tingkat produsen adalah harga di tingkat grosir sebesar 71% dan harga di tingkat konsumen sebesar 16%. Koefisien penyesuaian harga dalam jangka pendek menuju keseimbangan jangka panjang adalah -0,5849. Strategi yang tepat untuk stabilisasi harga cabai merah keriting baik di tingkat produsen maupun di tingkat konsumen di Provinsi Bengkulu ialah kombinasi kebijakan mengendalikan harga di tingkat grosir dan kebijakan peningkatan dan stabilisasi produksi.
Pemilahan Volatilitas Harga Daging Sapi Menggunakan Metode Ensemble Empirical Mode Decomposition Fitria Hasanah; Hari Wijayanto; I Made Sumertajaya
Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v38n1.2020.41-54

Abstract

EnglishStaple food prices include the major determinants of households food security and general inflation. Beef is a basic food which its price is controlled by the Government of Indonesia. This study aims to identify the determinants beef price volatility using the Ensemble Empirical Mode Decomposition (EEMD) method. The data was a weekly series of Januari 2006–Desember 2018 obtained from the Ministry of Trade. EEMD extracts data into a number of Intrinsic Mode Functions (IMFs) that are independent which are then used to forecast beef prices with the ARIMA model. EEMD produced 6 IMFs and one residual. The residual contributed 99.85% to beef price volatility. This means that the long-term trend of beef prices is determined by the residual trends. The EEMD results indicate that the high beef price volatility in certain periods is mainly due to high demand during the Ramadhan month and Idul Fitri, import quota policy, and changes in exchange rates and petroleum prices. The IMF and residual based ARIMA forecasting model obtained MAPE value of 0.42% but with contradicting directions. The Government may use the import quota as a policy instrument for stabilizing the beef price.IndonesianHarga pangan pokok termasuk faktor penentu utama ketahanan pangan rumah tangga dan inflasi umum. Daging sapi adalah salah satu bahan pangan pokok yang harganya dikendalikan Pemerintah Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor penentu volatilitas harga daging sapi dengan metode Ensemble Empirical Mode Decomposition (EEMD). EEMD menguraikan data menjadi sejumlah Intrinsic Mode Function (IMF) yang saling bebas yang selanjutnya digunakan untuk melakukan peramalan harga daging sapi dengan model ARIMA. Data yang digunakan adalah harga daging sapi mingguan Januari 2006–Desember 2018 yang diperoleh dari Kementerian Perdagangan. EEMD menghasilkan 6 IMF dan satu sisaan. Sisaan IMF memberikan kontribusi sebesar 99,85% terhadap pergerakan harga daging sapi. Artinya bahwa tren jangka panjang harga daging sapi ditentukan oleh tren sisaan. Berdasarkan hasil EEMD, volatilitas harga daging sapi yang tinggi pada periode-periode tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama tingginya permintaan selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri dan kebijakan kuota impor, serta perubahan nilai tukar rupiah dan harga BBM. Model peramalan ARIMA yang diduga berdasarkan IMF dan sisaan IMF menghasilkan nilai MAPE sebesar 0,42%, namun arah perubahannya tidak bersesuaian. Disarankan agar pemerintah menggunakan kuota impor sebagai salah satu instrumen kebijakan stabilisasi harga daging sapi.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Petani dalam Mengadopsi Teknologi Persemaian Bibit Cabai di Provinsi Jawa Barat Rizka Amalia Nugrahapsari; Apri Laila Sayekti; Muhammad Prama Yufdy; Idha Widi Arsanti
Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v38n2.2020.143-153

Abstract

EnglishNursery technology is the key determinant of seedling quality for supporting high chilli yield potential. The adoption rates of nursery technology vary by the chilli varieties and are determined by the appropriateness of the dissemination. The main objective of the study is to identify the determinants of farmers’ decisions in adopting chilli seedling nursery technology. The data was obtained by interviewing 231 farmers using the GeoODK Collect application in Ciamis, Tasikmalaya, and Garut in May-June 2016. The determinants of farmers' decisions in adopting chilli seedling nursery technology were analyzed with the logit regression. Results showed that most farmers produce their own seedlings using commercial seeds. The determinants of farmers’ decisions on chilli seedling nursery technology are non-farm income, travel time to seed suppliers, seed credit, seed sources, and main occupation. Dissemination of chilli seeding nursery should be consistent with the chilli variety types. The open-pollinated variety may be introduced to farmers who save seeds for seedlings and need a long travel time to seed suppliers. The hybrid seedling nursery technology can be introduced to farmers who have access to hybrid seed suppliers and sufficient working capital. The government should facilitate farmers to access the necessary supporting infrastructures and inputs to increase the adoption rates.IndonesianTeknologi persemaian adalah penentu mutu benih penunjang potensi tinggi produktivitas cabai. Tingkat adopsi teknologi persemaian bervariasi menurut varietas cabai yang diintroduksikan dan ditentukan oleh metode diseminasi yang sesuai dengan karakteristik petani. Tujuan utama penelitian adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani dalam mengadopsi teknologi persemaian benih cabai. Data diperoleh dengan mewawancarai 231 petani melalui aplikasi GeoODK Collect di Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut pada bulan Mei – Juni 2016. Determinan keputusan petani dalam penyemaian benih cabai dianalisis dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani menyemai sendiri benih yang dipergunakannya pada usaha tani cabai dengan menggunakan benih komersial. Determinan keputusan dalam adopsi teknologi penyemaian benih adalah pendapatan dari nonusaha tani, waktu tempuh dari lahan usaha ke penjual benih, kredit benih, sumber benih, dan pekerjaan utama. Diseminasi metode persemaian benih cabai perlu disesuaikan dengan jenis varietas cabai. Introduksi teknologi persemaian benih varietas cabai open-pollinated dapat diperkenalkan kepada petani yang menyimpan hasil panen sebagai benih dan lokasinya jauh dari penjual benih. Introduksi teknologi persemaian benih cabai hibrida dapat diperkenalkan kepada petani yang memiliki akses bibit dari kios pemasok terdekat dan modal kerja memadai. Pemerintah perlu memfasilitasi petani dalam mengakses sarana dan prasarana yang diperlukan serta input untuk meningkatkan tingkat adopsi.
Dampak Kebijakan Domestik terhadap Ketersediaan Jagung untuk Bahan Baku Industri Pengolahan di Indonesia Veralianta Br Sebayang; Bonar Marulitua Sinaga; nFN Harianto; I Ketut Kariyasa
Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v37n2.2019.141-155

Abstract

EnglishMaize is a strategic commodity for Indonesia. In line with the consumption pattern, the domestic demand for maize has changed from previously dominated by household consumption to presently dominated by raw material for feed and food processing industries. The maize demand of the processing industry increases rapidly, outpaced   domestic production growth, that makes Indonesia must import maize in an increasing amount. This study aims to determine the impact of government policy on maize production which is the input of the maize processing industry. The analysis was conducted using an econometric simultaneous equation system model which was estimated with the two stages least squares technique using time series data of 1985-2017. The results show that the maize harvest area is negatively related with labor wage and urea price, and is positively related with the maize farm price. Maize productivity is positively related with quantity of urea fertilizer and hybrid seeds. but negatively related with composite seeds. The scenario of subsidizing urea prices and hybrid seed, raising import tariffs can increase the availability maize for processing industries as indicated by increasing domestic production and decreasing maize imports.IndonesianJagung termasuk komoditas strategis untuk Indonesia. Seiring dengan perubahan pola konsumsi, permintaan jagung dalam negeri berubah dari sebelumnya didominasi oleh konsumsi rumah tangga menjadi kini didominasi oleh bahan baku industri pengolahan pakan dan pangan.  Kebutuhan jagung untuk bahan baku industri pengolahan meningkat pesat, bahkan melampaui peningkatan produksi jagung dalam negeri, sehingga Indonesia terpaksa mengimpor jagung dalam jumlah yang terus meningkat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dampak kebijakan pemerintah terhadap produksi jagung yang menjadi input industri pengolahan jagung. Metode analisis yang digunakan ialah model ekonometrika sistem persamaan simultan yang diduga dengan teknik two stages least squares memakai data deret waktu 1985-2017. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas areal panen jagung berhubungan negatif dengan upah buruh tani dan harga pupuk urea, sebaliknya, berhubungan positif terhadap harga jagung di tingkat petani. Produktivitas jagung berhubungan positif dengan volume penggunaan pupuk urea dan benih hibrida, namun berhubungan negatif dengan benih komposit. Skenario kebijakan subsidi harga pupuk urea, subsidi harga benih hibrida, dan kenaikan tarif impor dapat meningkatkan ketersediaan bahan baku industri pengolahan dan peternak mandiri sebagaimana ditunjukkan oleh kenaikan produksi dalam negeri dan penurunan impor jagung.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue