cover
Contact Name
Fajaria N. Chandra
Contact Email
fajarianurcandra@upnvj.ac.id
Phone
+62 89654211643
Journal Mail Official
jurnalkesmasupnvj@gmail.com
Editorial Address
Jalan Limo Raya, Limo, Depok
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat
ISSN : 20854366     EISSN : 2684950X     DOI : 10.52022/jikm.v13i1
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat UPN Veteran Jakarta (JIKM UPNVJ) merupakan sarana eksplorasi, ekspresi dan publikasi karya ilmiah berupa hasil penelitian dan penelusuran ilmiah bidang kesehatan masyarakat. Bidang keilmuan kesehatan masyarakat tersebut mencangkup Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Administrasi Kebijakan Kesehatan (AKK), Epidemiologi, Biostatistik, Kesehatan Lingkungan, Promosi Kesehatan, Gizi Masyarakat, dan Kesehatan Reproduksi. Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat UPN Veteran Jakarta menerima artikel ilmiah secara terbuka dari pihak manapun yang ingin berperan aktif dalam bidang kesehatan masyarakat.
Articles 209 Documents
Pajanan Timbal Terhadap Tingkat Kecerdasan Anak Hmkm, Seminar Nasional; arianty, marshela; beatrice, michelle; wulandari, suci
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i2.59

Abstract

Latar belakang: Keracunan timbal menyebabkan penyakit organ multisistemik dengan gejala non spesifik pada kelainan neurologis, seperti penurunan IQ (intelligence quotient), ketidakmampuan belajar, pertumbuhan yang lambat, hiperaktif, perilaku antisosial, pendengaran terganggu serta pada tingkat paparan yang tinggi dapat menyebabkan ADHD (Attention-Deficit/ Hyperactivity Disorder). Artikel ini bertujuan untuk mengetahui bahaya pajanan timbal terhadap tingkat kecerdasan anak.Metode: Merupakan systematic review dengan sumber data penelitian ini berasal dari 6 jurnal elektronik (DOAJ, ScienceDirect, CDC, NCBI, Springer Link, Proqeust). Inklusi jurnal termasuk; publikasi kurang dari 20 tahun kebelakang, diutamakan jurnal internasional, jurnal keracunan timbal yang berhubungan dengan penurunan kecerdasan, dan jurnal dengan kadar timbal dalam darah < 10 µg/dL. Didapatkan 29 jurnal yang terdiri dari 22 jurnal berbahasa Inggris dan 7 jurnal berbahasa Indonesia. Kata kunci yang digunakan yaitu keracunan timbal, lead exposure, lead poisoning, systematic review, children, Intelligent Quotient (IQ). Hasil: Faktor yang signifikan pada penelitian ini, yaitu faktor lingkungan rumah dan pendidikan orangtua. Kadar timbal dengan penurunan IQ tertinggi dari empat negara yaitu di Negara Amerika dengan penurunan IQ tujuh kali lipat. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa keracunan timbal dapat mempengaruhi kecerdasan. Adanya timbal dalam darah ≥5 µg/dL dapat menurunkan IQ sebesar ≥7,4 kali. Kata kunci: Anak, Darah, Kecerdasan, Pajanan timbal Lead Exposure To The Level Of Intelligence Children AbstractBackground: Lead poisoning causes multisystemic organ disease with non-specific symptoms of neurological disorders, such as decreased IQ (intelligence quotient), learning disabilities, slow growth, hyperactivity, antisocial behavior, impaired hearing and high levels of exposure can cause ADHD (Attention-Deficit / Hyperactivity Disorder). This article aimed to know the danger of lead exposure to the level of intelligence of children.Method: This article is a systematic review with the source data of this research comes from 6 electronic journals (DOAJ, ScienceDirect, CDC, NCBI, Springer Link, Proqeust). Include journal entries; publication less than 20 years back, preferably international journals, lead poisoning journals related to decreased intelligence, and journals with blood lead levels <10 μg / dL. There are 29 journals consisting of 22 English-language journals and 7 Indonesian-language journals. Keywords used are lead poisoning, lead exposure, lead poisoning, systematic review, children, Intelligent Quotient (IQ).Results: Significant factors in this study, namely poor environmental factors and parent education. Lead levels with the highest IQ decline from four countries namely in the United States with a sevenfold decrease in IQ.Conclusion: It can be concluded that lead poisoning can affect intelligence. The presence of lead in blood ≥5 μg / dL can decrease IQ by ≥7.4 times.Keyword: Child, Blood, Intelligence, Lead exposure
Pajanan Timbal Terhadap Tingkat Kecerdasan Anak Hmkm, Seminar Nasional; arianty, marshela; beatrice, michelle; wulandari, suci
JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, UPN Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i2.59

Abstract

Latar belakang: Keracunan timbal menyebabkan penyakit organ multisistemik dengan gejala non spesifik pada kelainan neurologis, seperti penurunan IQ (intelligence quotient), ketidakmampuan belajar, pertumbuhan yang lambat, hiperaktif, perilaku antisosial, pendengaran terganggu serta pada tingkat paparan yang tinggi dapat menyebabkan ADHD (Attention-Deficit/ Hyperactivity Disorder). Artikel ini bertujuan untuk mengetahui bahaya pajanan timbal terhadap tingkat kecerdasan anak.Metode: Merupakan systematic review dengan sumber data penelitian ini berasal dari 6 jurnal elektronik (DOAJ, ScienceDirect, CDC, NCBI, Springer Link, Proqeust). Inklusi jurnal termasuk; publikasi kurang dari 20 tahun kebelakang, diutamakan jurnal internasional, jurnal keracunan timbal yang berhubungan dengan penurunan kecerdasan, dan jurnal dengan kadar timbal dalam darah < 10 µg/dL. Didapatkan 29 jurnal yang terdiri dari 22 jurnal berbahasa Inggris dan 7 jurnal berbahasa Indonesia. Kata kunci yang digunakan yaitu keracunan timbal, lead exposure, lead poisoning, systematic review, children, Intelligent Quotient (IQ). Hasil: Faktor yang signifikan pada penelitian ini, yaitu faktor lingkungan rumah dan pendidikan orangtua. Kadar timbal dengan penurunan IQ tertinggi dari empat negara yaitu di Negara Amerika dengan penurunan IQ tujuh kali lipat. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa keracunan timbal dapat mempengaruhi kecerdasan. Adanya timbal dalam darah ≥5 µg/dL dapat menurunkan IQ sebesar ≥7,4 kali. Kata kunci: Anak, Darah, Kecerdasan, Pajanan timbal Lead Exposure To The Level Of Intelligence Children AbstractBackground: Lead poisoning causes multisystemic organ disease with non-specific symptoms of neurological disorders, such as decreased IQ (intelligence quotient), learning disabilities, slow growth, hyperactivity, antisocial behavior, impaired hearing and high levels of exposure can cause ADHD (Attention-Deficit / Hyperactivity Disorder). This article aimed to know the danger of lead exposure to the level of intelligence of children.Method: This article is a systematic review with the source data of this research comes from 6 electronic journals (DOAJ, ScienceDirect, CDC, NCBI, Springer Link, Proqeust). Include journal entries; publication less than 20 years back, preferably international journals, lead poisoning journals related to decreased intelligence, and journals with blood lead levels <10 μg / dL. There are 29 journals consisting of 22 English-language journals and 7 Indonesian-language journals. Keywords used are lead poisoning, lead exposure, lead poisoning, systematic review, children, Intelligent Quotient (IQ).Results: Significant factors in this study, namely poor environmental factors and parent education. Lead levels with the highest IQ decline from four countries namely in the United States with a sevenfold decrease in IQ.Conclusion: It can be concluded that lead poisoning can affect intelligence. The presence of lead in blood ≥5 μg / dL can decrease IQ by ≥7.4 times.Keyword: Child, Blood, Intelligence, Lead exposure
Perbedaan Pengetahuan Dan Sikap Deteksi Dini Diabetes Melitus Sebelum Dan Sesudah Diberikan Promosi Kesehatan Di Wilayah Kerja Puskesmas Pasar Rebo Permatasari, Putri; Fajrin, Nuril
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i2.61

Abstract

Latar belakang: Diabetes Melitus merupakan suatu kondisi kronis yang terjadi ketika ada peningkatan kadar glukosa dalam darah karena tubuh tidak dapat menghasilkan hormon insulin yang cukup atau menggunakan insulin secara efektif. Diabetes Melitus dapat dicegah dengan Deteksi Dini Diabetes Melitus. Studi pendahuluan di wilayah kerja Puskesmas Pasar Rebo diperoleh masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang Diabetes Melitus dan presepsi yang salah tentang tanda- tanda awal Diabetes Melitus. Tujuan penelitian untuk melihat perbedaan pengetahuan dan sikap tentang Deteksi Dini Diabetes Melitus sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pasar Rebo. Metode: Desain penelitian menggunakan desain pre experiment dengan rancangan one group pretest posttest. Sampel pada penelitian sebanyak 42 sampel dan menggunakan instrumen berupa kuesioner mengenai pengetahuan dan sikap tentang Deteksi Dini Diabetes Melitus. Media yang digunakan adalah powerpoint dan leaflet. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian diketahui p-value pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan 0,000 ( < 0,05). Dan p-value sikap sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan 0,000 ( < 0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap tentang Deteksi Dini Diabetes Melitus sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pasar Rebo. Saran peneliti yaitu promosi kesehatan tentang Deteksi Dini Diabetes Melitus perlu dilakukan pada masyarakat yang berisiko. Kata Kunci: Deteksi Dini, Diabetes Melitus, Promosi Kesehatan Pre-post Health Promotion to Knowledge ad Attitude in Diabetes Melitus Early Detection in Pasar Rebo Health Center Abstract Background: Diabetes Melitus is one of the problems that occurs when there is an increase in insulin levels in the body that cannot produce enough insulin or use insulin effectively. Diabetes Melitus can be prevented by Early Detection of Diabetes Melitus. A preliminary study in the work area of Pasar Rebo Health Center found that there was still a low level of public knowledge about Diabetes Melitus and a wrong perception about the early signs of Diabetes Melitus. The purpose of the study was to see differences in knowledge and attitudes about Early Detection of Diabetes Melitus before and after being given health promotion in the work area of Pasar Rebo Health Center. Methods: The study design used a pre-experimental design by designing one group of posttest pretest. The samples in the study were 42 samples and used an instrument containing a questionnaire about the knowledge and attitudes about Early Detection of Diabetes Melitus. The media used are powerpoint and leaflets. Data analysis using the Wilcoxon Test. Result: The results of the study revealed p-value knowledge before and after being given a health promotion was 0,000 (<0.05). And the p-value attitude before and after being given a health promotion was 0,000 (<0.05). Conclusion: There are differences in knowledge and attitudes about Early Detection of Diabetes Mellitus before and after being given health promotion in the work area of Pasar Rebo Health Center. Researcher's suggestion is that health promotion about Early Detection of Diabetes Mellitus is necessary for people at risk. Keywords: Early Detection, Diabetes Melitus, Health Promotion
Perbedaan Pengetahuan Dan Sikap Deteksi Dini Diabetes Melitus Sebelum Dan Sesudah Diberikan Promosi Kesehatan Di Wilayah Kerja Puskesmas Pasar Rebo Permatasari, Putri; Fajrin, Nuril
JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, UPN Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i2.61

Abstract

Latar belakang: Diabetes Melitus merupakan suatu kondisi kronis yang terjadi ketika ada peningkatan kadar glukosa dalam darah karena tubuh tidak dapat menghasilkan hormon insulin yang cukup atau menggunakan insulin secara efektif. Diabetes Melitus dapat dicegah dengan Deteksi Dini Diabetes Melitus. Studi pendahuluan di wilayah kerja Puskesmas Pasar Rebo diperoleh masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang Diabetes Melitus dan presepsi yang salah tentang tanda- tanda awal Diabetes Melitus. Tujuan penelitian untuk melihat perbedaan pengetahuan dan sikap tentang Deteksi Dini Diabetes Melitus sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pasar Rebo. Metode: Desain penelitian menggunakan desain pre experiment dengan rancangan one group pretest posttest. Sampel pada penelitian sebanyak 42 sampel dan menggunakan instrumen berupa kuesioner mengenai pengetahuan dan sikap tentang Deteksi Dini Diabetes Melitus. Media yang digunakan adalah powerpoint dan leaflet. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian diketahui p-value pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan 0,000 ( < 0,05). Dan p-value sikap sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan 0,000 ( < 0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap tentang Deteksi Dini Diabetes Melitus sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pasar Rebo. Saran peneliti yaitu promosi kesehatan tentang Deteksi Dini Diabetes Melitus perlu dilakukan pada masyarakat yang berisiko. Kata Kunci: Deteksi Dini, Diabetes Melitus, Promosi Kesehatan Pre-post Health Promotion to Knowledge ad Attitude in Diabetes Melitus Early Detection in Pasar Rebo Health Center Abstract Background: Diabetes Melitus is one of the problems that occurs when there is an increase in insulin levels in the body that cannot produce enough insulin or use insulin effectively. Diabetes Melitus can be prevented by Early Detection of Diabetes Melitus. A preliminary study in the work area of Pasar Rebo Health Center found that there was still a low level of public knowledge about Diabetes Melitus and a wrong perception about the early signs of Diabetes Melitus. The purpose of the study was to see differences in knowledge and attitudes about Early Detection of Diabetes Melitus before and after being given health promotion in the work area of Pasar Rebo Health Center. Methods: The study design used a pre-experimental design by designing one group of posttest pretest. The samples in the study were 42 samples and used an instrument containing a questionnaire about the knowledge and attitudes about Early Detection of Diabetes Melitus. The media used are powerpoint and leaflets. Data analysis using the Wilcoxon Test. Result: The results of the study revealed p-value knowledge before and after being given a health promotion was 0,000 (<0.05). And the p-value attitude before and after being given a health promotion was 0,000 (<0.05). Conclusion: There are differences in knowledge and attitudes about Early Detection of Diabetes Mellitus before and after being given health promotion in the work area of Pasar Rebo Health Center. Researcher's suggestion is that health promotion about Early Detection of Diabetes Mellitus is necessary for people at risk. Keywords: Early Detection, Diabetes Melitus, Health Promotion
Efektivitas Jaringan Komunikasi Masyarakat Terhadap Upaya Pencegahan Kejadian Stunting Di Desa Cikulur Kabupaten Lebak Provinsi Banten Tahun 2019 amar, muhammad ikhsan; Dyah, Retno
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i2.64

Abstract

Latar belakang: Prevalensi stunting di Provinsi Banten sebesar 33%, yang terdiri dari 16,4% sangat pendek dan 16,6% pendek. Kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi kedua di Banten adalah Kabupaten Lebak (38,1%), yakni sangat pendek 16,7% dan pendek 21,4%. Adanya fasilitas kesehatan dan jaringan komunikasi ini berfungsi untuk mendeteksi dini malnutrisi pada suatu daerah. Peran ini dapat dikembangkan untuk pemanfaatan sarana- prasarana di wilayah terkait untuk penyebaran informasi serta kemudahan akses dan peran aktif masyarakat, serta kader posyandu. Hal tersebut dapat memengaruhi kesehatan ibu untuk secara rutin mengecek tumbuh kembang anak. Keefektifan suatu kelompok mampu dipengaruhi oleh karateristik kelompok melalui jaringan komunikasi untuk mengetahui pemuka opini (Opinion Leader) dan aktor dari jaringan serta keefektifan penyerapan informasi mengenai stunting yang diintervensi oleh pemuka opini jaringan komunikasi, dan yang diintervensi dengan metode konseling, pembinaan dan pemberdayaan. Metode: Metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan menggunakan pendekatan realis. Pendekatan realis yaitu melihat jaringan dari perspektif responden (Aktor), dimana aktor yang akan menentukan sendiri posisisnya dalam jaringan. Hasil: Hasil penelitian yang menggunakan teknik wawancara mendalam dengan masyarakat menemukan terdapat empat individu yang banyak dipilih oleh masyarakat. Keempat individu tersebut merupakan pemuka opini (Opinion Leader) yang aktif dalam memberikan informasi terkait masalah kesehatan diantaranya masalah stunting, mampu memberikan motivasi kepada anggota keluarga serta masyarakat. Kesimpulan: Dengan melakukan komunikasi, pemuka opini (Opinion Leader) yang berisikan informasi serta motivasi dalam setiap kegiatan dapat menumbuhkan upaya preventif yaitu pencegahan awal terjadinya masalah stunting serta meningkatakan derajat kesehatan masyarakat. Kata Kunci: Jaringan Komuniasi, Pemuka Opini (Opinion Leader) Stunting, kesehatan. Effectiveness of Communication Network Toward Prevention of Stunting in Cikulur Village, Lebak District, Banten Province Abstract Background: Prevalence of stunting in Banten Province was 33%, consisting of 16.4% very short and 16.6% short. The district with the second highest stunting prevalence in Banten is Lebak (38.1%), which is very short 16.7% and short 21.4%. Health facilities and communication networks serves to detect early malnutrition in an area which can be developed for the utilization of infrastructure in related areas for the dissemination as well as ease of access and the active role of the community, and posyandu cadres. This can affect maternal health to check the growth and development of children routinely. The effectiveness is influenced by group characteristics as communication network aimed at knowing opinion leaders (Opinion Leaders) and actors from the network as well as the effectiveness of information absorption on stunting that is intervened by the communication network opinion leaders, and which is intervened by the counseling method, coaching and empowerment. Methods: Descriptive qualitative research methods, using a realist approach. The realist approach is to look at the network from the perspective of the respondent (Actor), where the actor will determine his own position in the network. Result: The results of research using in-depth interviews with the community found that there were four individuals who were chosen by the community. The four individuals are opinion leaders (Opinion Leaders) who are active in providing information related to health issues including stunting issues, able to provide motivation to family members and the community. Conclusion: By conducting communication, opinion leaders (Opinion Leaders) that contain information and motivation in each activity can foster preventive efforts, namely the early prevention of stunting problems and increasing the degree of public health. Keywords: Communion Network, Stunting Opinion Leader, health.
Efektivitas Jaringan Komunikasi Masyarakat Terhadap Upaya Pencegahan Kejadian Stunting Di Desa Cikulur Kabupaten Lebak Provinsi Banten Tahun 2019 amar, muhammad ikhsan; Dyah, Retno
JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, UPN Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i2.64

Abstract

Latar belakang: Prevalensi stunting di Provinsi Banten sebesar 33%, yang terdiri dari 16,4% sangat pendek dan 16,6% pendek. Kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi kedua di Banten adalah Kabupaten Lebak (38,1%), yakni sangat pendek 16,7% dan pendek 21,4%. Adanya fasilitas kesehatan dan jaringan komunikasi ini berfungsi untuk mendeteksi dini malnutrisi pada suatu daerah. Peran ini dapat dikembangkan untuk pemanfaatan sarana- prasarana di wilayah terkait untuk penyebaran informasi serta kemudahan akses dan peran aktif masyarakat, serta kader posyandu. Hal tersebut dapat memengaruhi kesehatan ibu untuk secara rutin mengecek tumbuh kembang anak. Keefektifan suatu kelompok mampu dipengaruhi oleh karateristik kelompok melalui jaringan komunikasi untuk mengetahui pemuka opini (Opinion Leader) dan aktor dari jaringan serta keefektifan penyerapan informasi mengenai stunting yang diintervensi oleh pemuka opini jaringan komunikasi, dan yang diintervensi dengan metode konseling, pembinaan dan pemberdayaan. Metode: Metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan menggunakan pendekatan realis. Pendekatan realis yaitu melihat jaringan dari perspektif responden (Aktor), dimana aktor yang akan menentukan sendiri posisisnya dalam jaringan. Hasil: Hasil penelitian yang menggunakan teknik wawancara mendalam dengan masyarakat menemukan terdapat empat individu yang banyak dipilih oleh masyarakat. Keempat individu tersebut merupakan pemuka opini (Opinion Leader) yang aktif dalam memberikan informasi terkait masalah kesehatan diantaranya masalah stunting, mampu memberikan motivasi kepada anggota keluarga serta masyarakat. Kesimpulan: Dengan melakukan komunikasi, pemuka opini (Opinion Leader) yang berisikan informasi serta motivasi dalam setiap kegiatan dapat menumbuhkan upaya preventif yaitu pencegahan awal terjadinya masalah stunting serta meningkatakan derajat kesehatan masyarakat. Kata Kunci: Jaringan Komuniasi, Pemuka Opini (Opinion Leader) Stunting, kesehatan. Effectiveness of Communication Network Toward Prevention of Stunting in Cikulur Village, Lebak District, Banten Province Abstract Background: Prevalence of stunting in Banten Province was 33%, consisting of 16.4% very short and 16.6% short. The district with the second highest stunting prevalence in Banten is Lebak (38.1%), which is very short 16.7% and short 21.4%. Health facilities and communication networks serves to detect early malnutrition in an area which can be developed for the utilization of infrastructure in related areas for the dissemination as well as ease of access and the active role of the community, and posyandu cadres. This can affect maternal health to check the growth and development of children routinely. The effectiveness is influenced by group characteristics as communication network aimed at knowing opinion leaders (Opinion Leaders) and actors from the network as well as the effectiveness of information absorption on stunting that is intervened by the communication network opinion leaders, and which is intervened by the counseling method, coaching and empowerment. Methods: Descriptive qualitative research methods, using a realist approach. The realist approach is to look at the network from the perspective of the respondent (Actor), where the actor will determine his own position in the network. Result: The results of research using in-depth interviews with the community found that there were four individuals who were chosen by the community. The four individuals are opinion leaders (Opinion Leaders) who are active in providing information related to health issues including stunting issues, able to provide motivation to family members and the community. Conclusion: By conducting communication, opinion leaders (Opinion Leaders) that contain information and motivation in each activity can foster preventive efforts, namely the early prevention of stunting problems and increasing the degree of public health. Keywords: Communion Network, Stunting Opinion Leader, health.
Pengaruh Jump Rope Training Terhadap Kekuatan Otot Tungkai pada Siswa Sekolah Dasar Yani, Sri; Domitilla, Flavia
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i2.66

Abstract

Latar belakang: Kebugaran jasmani adalah hal yang penting dimiliki oleh setiap orang, terutama pada siswa sekolah dasar. Dengan memiliki kebugaran jasmani yang baik, anak dapat meningkatkan konsentrasi saat belajar di sekolah maupun di rumah. Salah satu komponen kebugaran jasmani adalah kekuatan otot. Pelatihan jump rope bermanfaat untuk kekuatan otot. Jump rope adalah program kebugaran terbukti memiliki teknik yang bermanfaat dan keunggulan efektif. Studi ini bertujuan untuk mengkaji manfaat jump rope training dalam meningkatkan kekuatan otot tungkai siswa SD. Metode: Studi ini menggunakan desain kuasi eksperimen one sample population dengan pre and post test. Populasi penelitian ini adalah siswa SD Cinere 02 dengan kriteria inklusi dan ekslusi dan sampel 59 siswa. Sebelum pelatihan Jump rope dilakukan pengukuran kekuatan otot. Pelatihan jump rope diberikan selama 5 minggu, setelah itu dilakukan pengukuran kekuatan otot kembali. Hasil: Data dianalisis dengan paired T-test, mean ± SD pre-test laki-laki di dapatkan hasil 42,89 ± 2,564, perempuan 34,83 ± 2,120 . Sedangkan mean ± SD post-test laki-laki 52,00 ± 4,116 perempuaan 38,39 ± 3,040. Dari hasil uji normalitas pre-test dan post-test laki-laki dan perempuan didapatkan nilai p >0,05dan uji hipotesis menggunakan paired T-test didapatkan mean ± SD pre-test 37,29 ± 4,363, post-test 42,54 ± 71,61 dan p= 0,001. Kesimpulan: Latihan jump rope yang selama 5 minggu dapat meningkatan kekuatan otot tungkai siswa SD Negeri Cinere 02. Kata kunci : kebugaran jasmani, kekuatan otot tungkai, latihan jump rope The Effect of Jump Rope Training to Strength of Muscle in Elementary School Students Background: Physical fitness is important for everyone, especially for elementary school students. By having good physical fitness, children can increase concentration while studying at school or home. One component of physical fitness is muscle strength. Jump rope training is beneficial for muscle strength. Jump rope is a fitness program proven to have useful techniques and effective advantages. This research aims to assess the benefits of jump rope training to improve the leg muscle strength of elementary school students. Method: This research method uses a quasi-experimental method with pre and post-test design without a control group. The population of this study was elementary students of Cinere 02 who met the inclusion and exclusion criteria. The number of samples was 59 students. Before the Jump Rope training, a measurement of muscle strength is carried out. Jump rope training is given for 5 weeks, after which the muscle strength is measured again. Results: Data were obtained and analyzed statistically, the mean ± SD of the male pre-test was 42.89 ± 2.564, female 34.83 ± 2.120. While the mean ± SD post-test for men 52.00 ± 4.116, female 38 38.39 ± 3.040. From the results of normality tests for male and female pre-test and post-test p values> 0.05 and hypothesis testing using paired simple T-tests obtained mean ± SD pre-test 37.29 ± 4.363, post-test 42.54 ± 71.61 and p = 0,000. Conclusion: Jump rope exercise which for 5 weeks can increase leg muscle strength of Cinere 02 Elementary School students and there is a significant increase in leg muscle strength in male students compared to female students.
Pengaruh Jump Rope Training Terhadap Kekuatan Otot Tungkai pada Siswa Sekolah Dasar Yani, Sri; Domitilla, Flavia
JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, UPN Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i2.66

Abstract

Latar belakang: Kebugaran jasmani adalah hal yang penting dimiliki oleh setiap orang, terutama pada siswa sekolah dasar. Dengan memiliki kebugaran jasmani yang baik, anak dapat meningkatkan konsentrasi saat belajar di sekolah maupun di rumah. Salah satu komponen kebugaran jasmani adalah kekuatan otot. Pelatihan jump rope bermanfaat untuk kekuatan otot. Jump rope adalah program kebugaran terbukti memiliki teknik yang bermanfaat dan keunggulan efektif. Studi ini bertujuan untuk mengkaji manfaat jump rope training dalam meningkatkan kekuatan otot tungkai siswa SD. Metode: Studi ini menggunakan desain kuasi eksperimen one sample population dengan pre and post test. Populasi penelitian ini adalah siswa SD Cinere 02 dengan kriteria inklusi dan ekslusi dan sampel 59 siswa. Sebelum pelatihan Jump rope dilakukan pengukuran kekuatan otot. Pelatihan jump rope diberikan selama 5 minggu, setelah itu dilakukan pengukuran kekuatan otot kembali. Hasil: Data dianalisis dengan paired T-test, mean ± SD pre-test laki-laki di dapatkan hasil 42,89 ± 2,564, perempuan 34,83 ± 2,120 . Sedangkan mean ± SD post-test laki-laki 52,00 ± 4,116 perempuaan 38,39 ± 3,040. Dari hasil uji normalitas pre-test dan post-test laki-laki dan perempuan didapatkan nilai p >0,05dan uji hipotesis menggunakan paired T-test didapatkan mean ± SD pre-test 37,29 ± 4,363, post-test 42,54 ± 71,61 dan p= 0,001. Kesimpulan: Latihan jump rope yang selama 5 minggu dapat meningkatan kekuatan otot tungkai siswa SD Negeri Cinere 02. Kata kunci : kebugaran jasmani, kekuatan otot tungkai, latihan jump rope The Effect of Jump Rope Training to Strength of Muscle in Elementary School Students Background: Physical fitness is important for everyone, especially for elementary school students. By having good physical fitness, children can increase concentration while studying at school or home. One component of physical fitness is muscle strength. Jump rope training is beneficial for muscle strength. Jump rope is a fitness program proven to have useful techniques and effective advantages. This research aims to assess the benefits of jump rope training to improve the leg muscle strength of elementary school students. Method: This research method uses a quasi-experimental method with pre and post-test design without a control group. The population of this study was elementary students of Cinere 02 who met the inclusion and exclusion criteria. The number of samples was 59 students. Before the Jump Rope training, a measurement of muscle strength is carried out. Jump rope training is given for 5 weeks, after which the muscle strength is measured again. Results: Data were obtained and analyzed statistically, the mean ± SD of the male pre-test was 42.89 ± 2.564, female 34.83 ± 2.120. While the mean ± SD post-test for men 52.00 ± 4.116, female 38 38.39 ± 3.040. From the results of normality tests for male and female pre-test and post-test p values> 0.05 and hypothesis testing using paired simple T-tests obtained mean ± SD pre-test 37.29 ± 4.363, post-test 42.54 ± 71.61 and p = 0,000. Conclusion: Jump rope exercise which for 5 weeks can increase leg muscle strength of Cinere 02 Elementary School students and there is a significant increase in leg muscle strength in male students compared to female students.
Herd Immunity Tantangan New Normal Era Pandemi Covid 19 Hardy, Fathinah Ranggauni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i2.70

Abstract

Penyebaran virus corona Covid-19 semakin berkembang secara pesat di seluruh dunia. Kondisi ini menyebabkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah ini menjadi pandemi global. Di samping status wabah Covid-19 ini, muncul istilah Herd Immunity dalam dunia kesehatan sebagai upaya perlindungan diri atau imunitas tubuh dan tantangan pada era new normal saat ini. Herd immunity bisa muncul dengan cara membiarkan virus terus menyebar sehingga banyak orang terinfeksi dan apabila mereka sembuh, banyak orang akan kebal sehingga wabah akan hilang dengan sendirinya karena virus sulit menemukan host atau inang untuk membuatnya tetap hidup dan berkembang. Semakin banyak orang yang mengalami Herd Immunity akan berdampak bagi lingkungan sosialnya yaitu melindungi kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit atau virus yang menyerang. Herd Immunity bisa tercipta dengan menggunakan dua cara: Dengan cara menyuntikkan vaksinasi atau obat untuk penangkalan penyebaran virus tersebut. Kekebalan tersebut akan muncul dari vaksin yang disuntikkan dan tidak membuat virus dari orang yang terjangkit menular pada orang lain. Herd Immunity bisa tercipta tidak dengan suntik vaksin, yaitu dengan cara alami. Herd Immunity akan tercipta apabila dalam satu kelompok sudah banyak yang terpapar virus, maka orang lain dalam masyarakat tersebut akan memiliki tingkat kekebalan yang baik dengan sendirinya dan bisa menangkal penyebaran virus. Pada kasus virus Covid-19, sampai saat ini memang belum ditemukan vaksin atau obat yang dapat menangkal penyebarannya. Maka Herd Immunity hanya dapat dijalankan dengan cara alami yaitu dengan cara pemulihan pasien yang sudah terinfeksi. Cara alamiah yang dimaksud yaitu dengan membiarkan Covid-19 menginfeksi sebagian besar orang di beberapa wilayah. Banyaknya yang terinfeksi kemudian akan menciptakan Herd Immunity. Memilih menggunakan cara alami penciptaan Herd Immunity pada penanganan virus Covid-19 sebenarnya tidak disarankan untuk menjadi pilihan utama. Hal itu dikarenakan tingkat infeksi yang sangat cepat di seluruh dunia hingga dapat mengakibatkan kematian maka cara tersebut justru membahayakan lingkungan. Ada upaya lain yang bisa diterapkan untuk menahan penyebaran virus Covid-19, yaitu dengan membatasi kontak orang-ke-orang dan mendesak masyarakat untuk mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain atau yang dikenal dengan istilah Social Distancing atau Physical Distancing.
Herd Immunity Tantangan New Normal Era Pandemi Covid 19 Hardy, Fathinah Ranggauni
JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, UPN Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i2.70

Abstract

Penyebaran virus corona Covid-19 semakin berkembang secara pesat di seluruh dunia. Kondisi ini menyebabkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah ini menjadi pandemi global. Di samping status wabah Covid-19 ini, muncul istilah Herd Immunity dalam dunia kesehatan sebagai upaya perlindungan diri atau imunitas tubuh dan tantangan pada era new normal saat ini. Herd immunity bisa muncul dengan cara membiarkan virus terus menyebar sehingga banyak orang terinfeksi dan apabila mereka sembuh, banyak orang akan kebal sehingga wabah akan hilang dengan sendirinya karena virus sulit menemukan host atau inang untuk membuatnya tetap hidup dan berkembang. Semakin banyak orang yang mengalami Herd Immunity akan berdampak bagi lingkungan sosialnya yaitu melindungi kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit atau virus yang menyerang. Herd Immunity bisa tercipta dengan menggunakan dua cara: Dengan cara menyuntikkan vaksinasi atau obat untuk penangkalan penyebaran virus tersebut. Kekebalan tersebut akan muncul dari vaksin yang disuntikkan dan tidak membuat virus dari orang yang terjangkit menular pada orang lain. Herd Immunity bisa tercipta tidak dengan suntik vaksin, yaitu dengan cara alami. Herd Immunity akan tercipta apabila dalam satu kelompok sudah banyak yang terpapar virus, maka orang lain dalam masyarakat tersebut akan memiliki tingkat kekebalan yang baik dengan sendirinya dan bisa menangkal penyebaran virus. Pada kasus virus Covid-19, sampai saat ini memang belum ditemukan vaksin atau obat yang dapat menangkal penyebarannya. Maka Herd Immunity hanya dapat dijalankan dengan cara alami yaitu dengan cara pemulihan pasien yang sudah terinfeksi. Cara alamiah yang dimaksud yaitu dengan membiarkan Covid-19 menginfeksi sebagian besar orang di beberapa wilayah. Banyaknya yang terinfeksi kemudian akan menciptakan Herd Immunity. Memilih menggunakan cara alami penciptaan Herd Immunity pada penanganan virus Covid-19 sebenarnya tidak disarankan untuk menjadi pilihan utama. Hal itu dikarenakan tingkat infeksi yang sangat cepat di seluruh dunia hingga dapat mengakibatkan kematian maka cara tersebut justru membahayakan lingkungan. Ada upaya lain yang bisa diterapkan untuk menahan penyebaran virus Covid-19, yaitu dengan membatasi kontak orang-ke-orang dan mendesak masyarakat untuk mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain atau yang dikenal dengan istilah Social Distancing atau Physical Distancing.

Page 6 of 21 | Total Record : 209


Filter by Year

2019 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 4 (2025): JIKM Vol 17, Issue 4, November 2025 Vol 17 No 3 (2025): JIKM Vol 17, Issue 3, August 2025 Vol 17 No 2 (2025): JIKM Vol. 17, Issue 2, May 2025 Vol 17 No 1 (2025): JIKM Vol. 17, Issue 1, February 2025 Vol 16 No 4 (2024): JIKM Vol. 16, Edisi 4, November 2024 Vol 16 No 3 (2024): JIKM Vol. 16, Edisi 3, Agustus 2024 Vol 16 No 2 (2024): JIKM Vol. 16, Edisi 2, Mei 2024 Vol 16 No 1 (2024): JIKM Vol. 16, Edisi 1, Februari 2024 Vol 15 No 4 (2023): JIKM Vol. 15, Edisi 4, November 2023 Vol 15 No 3 (2023): JIKM Vol. 15, Edisi 3, Agustus 2023 Vol 15 No 2 (2023): JIKM Vol. 15, Edisi 2, Mei 2023 Vol 15 No 1 (2023): JIKM Vol. 15, Edisi 1, Februari 2023 Vol 14 No 4 (2022): JIKM Vol. 14, Edisi 4, November 2022 Vol 14 No 3 (2022): JIKM Vol. 14, Edisi 3, Agustus 2022 Vol 14 No 2 (2022): JIKM Vol. 14, Edisi 2, Mei 2022 Vol 14 No 1 (2022): JIKM Vol. 14, Edisi 1, Februari 2022 Vol 13 No 4 (2021): JIKM Vol. 13, Edisi 4, November 2021 Vol 13 No 3 (2021): JIKM Vol. 13, Edisi 3, Agustus 2021 Vol 13 No 2 (2021): JIKM Vol. 13, Edisi 2, Mei 2021 Vol 13 No 1 (2021): JIKM Vol. 13, Edisi 1, Februari 2021 Vol 12 No 4 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 4, November 2020 Vol 12 No 3 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 3, Agustus 2020 Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020 Vol 12 No 1 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 1, Februari 2020 Vol 11 No 4 (2019): JIKM Vol. 11, Edisi 4, November 2019 Vol 11 No 3 (2019): JIKM Vol. 11, Edisi 3, Agustus 2019 Vol 11 No 2 (2019): JIKM Vol. 11, Edisi 2, Mei 2019 Vol 11 No 1 (2019): JIKM Vol. 11, Edisi 1, Februari 2019 More Issue