Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Herd Immunity Tantangan New Normal Era Pandemi Covid 19 Hardy, Fathinah Ranggauni
JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 2 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 2, Mei 2020
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, UPN Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i2.70

Abstract

Penyebaran virus corona Covid-19 semakin berkembang secara pesat di seluruh dunia. Kondisi ini menyebabkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah ini menjadi pandemi global. Di samping status wabah Covid-19 ini, muncul istilah Herd Immunity dalam dunia kesehatan sebagai upaya perlindungan diri atau imunitas tubuh dan tantangan pada era new normal saat ini. Herd immunity bisa muncul dengan cara membiarkan virus terus menyebar sehingga banyak orang terinfeksi dan apabila mereka sembuh, banyak orang akan kebal sehingga wabah akan hilang dengan sendirinya karena virus sulit menemukan host atau inang untuk membuatnya tetap hidup dan berkembang. Semakin banyak orang yang mengalami Herd Immunity akan berdampak bagi lingkungan sosialnya yaitu melindungi kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit atau virus yang menyerang. Herd Immunity bisa tercipta dengan menggunakan dua cara: Dengan cara menyuntikkan vaksinasi atau obat untuk penangkalan penyebaran virus tersebut. Kekebalan tersebut akan muncul dari vaksin yang disuntikkan dan tidak membuat virus dari orang yang terjangkit menular pada orang lain. Herd Immunity bisa tercipta tidak dengan suntik vaksin, yaitu dengan cara alami. Herd Immunity akan tercipta apabila dalam satu kelompok sudah banyak yang terpapar virus, maka orang lain dalam masyarakat tersebut akan memiliki tingkat kekebalan yang baik dengan sendirinya dan bisa menangkal penyebaran virus. Pada kasus virus Covid-19, sampai saat ini memang belum ditemukan vaksin atau obat yang dapat menangkal penyebarannya. Maka Herd Immunity hanya dapat dijalankan dengan cara alami yaitu dengan cara pemulihan pasien yang sudah terinfeksi. Cara alamiah yang dimaksud yaitu dengan membiarkan Covid-19 menginfeksi sebagian besar orang di beberapa wilayah. Banyaknya yang terinfeksi kemudian akan menciptakan Herd Immunity. Memilih menggunakan cara alami penciptaan Herd Immunity pada penanganan virus Covid-19 sebenarnya tidak disarankan untuk menjadi pilihan utama. Hal itu dikarenakan tingkat infeksi yang sangat cepat di seluruh dunia hingga dapat mengakibatkan kematian maka cara tersebut justru membahayakan lingkungan. Ada upaya lain yang bisa diterapkan untuk menahan penyebaran virus Covid-19, yaitu dengan membatasi kontak orang-ke-orang dan mendesak masyarakat untuk mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain atau yang dikenal dengan istilah Social Distancing atau Physical Distancing.
PEMBERDAYAAN IBU RUMAH TANGGA DI KELURAHAN CINERE MEMANFAATKAN SAMPAH ANORGANIK MENJADI BARANG KERAJINAN YANG BERNILAI EKONOMI Setiyawati, Marina Ery; Hardy, Fathinah Ranggauni; Permatasari, Putri
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.445 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v2i1.4336

Abstract

Sampah rumah tangga khususnya sampah anorganik merupakan masalah tersendiri karena sampah jenis inisulit didegradasi. Peran serta ibu rumah tangga dalam mengelola sampah rumah tangga, terutama sampahanorganik, akan sangat bermanfaat bagi lingkungan. Permasalahannya adalah bagaimanakah caramengumpulkan dan mengelola sampah anorganik yang berasal dari aktivitas rumah tangga danbagaimanakah cara memberikan pengetahuan kepada ibu-ibu rumah tangga untuk meminimalisasi limbahanorganik dengan cara memanfaatkannya menjadi barang-barang kerajinan yang bernilai ekonomi. Metodeyang dilakukan adalah dengan mengadakan kegiatan pelatihan dan praktek langsung kepada ibu-ibu rumahtangga di lokasi kegiatan, yaitu di Kelurahan Cinere. Materi pelatihan meliputi seluk-beluk sampahanorganik rumah tangga, serta cara pengelolaan dan pengolahannya menjadi barang kerajinan yang bernilaiekonomi. Jenis sampah yang dimanfaatkan terbatas pada sampah sedotan bekas, karton bekas, dan anekaplastik bekas kemasan. Kegiatan kemitraan masyarakat dilakukan pada Jumat, 14 September 2018 di KantorLurah Kel. Cinere Kec. Cinere Kota Depok. Kegiatan dilakukan dengan metode ceramah dan demonstrasi.Metode ceramah untuk menjelaskan tentang pengolahan sampah anorganik yang akan dijadikan kerajinantangan yang bernilai ekonomi. Hasil kegiatan pelatihan diadakan dapat memberikan bekal keterampilankepada peserta untuk mengelola sampah anorganik, terutama sampah plastik, menjadi barang-barangkerajinan yang mempunyai nilai jual, seperti produk tas daur ulang dari sampah plastik bekas kemasan.
PEMBERDAYAAN IBU RUMAH TANGGA DI KELURAHAN CINERE DALAM PENANAMAN DAN PEMANFAATAN TANAMAN OBAT KELUARGA (TOGA) Permatasari, Putri; Hardy, Fathinah Ranggauni
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.145 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v2i1.4337

Abstract

Pemberdayaan ibu rumah tangga di Kelurahan Cinere dalam penanaman dan pemanfaatan TOGA salah satunyadapat digunakan untuk mendukung pemberdayaan Ibu Ibu PKK dengan pemanfataan lingkungan yang ada diwilayah tersebut. TOGA adalah tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat. Penanaman TOGAdapat di pot atau di lahan sekitar rumah, dan jika lahan yang ditanami cukup luas maka sebagian hasil panen dapatdijual dan menambah pendapatan keluarga. Adapun pemanfaatan TOGA selain sebagai obat, juga dapatdimanfaatkan untuk: (1) penambah gizi keluarga (pepaya, timun, bayam), (2) bumbu atau rempah-rempah masakan(kunyit, kencur, jahe, serai, daun salam), (3) menambah keindahan (mawar, melati, bunga matahari, kembang sepatu,tapak dara, kumis kucing). Kegiatan kemitraan masyarakat dilakukan pada Jumat, 7 September 2018 di MusholaNurul Arifin RW. 12 Kel. Cinere Kec. Cinere Kota Depok. Kegiatan dilakukan dengan metode ceramah dandemonstrasi. Metode ceramah untuk menjelaskan tentang khasiat TOGA secara ilmiah, penanaman Tanaman ObatKeluarga (TOGA), dan pengolahan TOGA. Metode demonstrasi untuk mempraktekan penanaman Tanaman ObatKeluarga (TOGA). Kelurahan Cinere merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kota Depok. Umumnyamasyarakat di wilayah tersebut masih memiliki lahan pekarangan yang cukup luas, sehingga pemanfaatan danpengelolaanemnas lingkungan dapat dioptimalkan dengan penanaman TOGA. Oleh karena itu perlu dilakukanpelatihan tentang khasiat TOGA secara ilmiah. Masyarakat yang telah memiliki pengetahuan tentang khasiat TOGAdan menguasai cara pengolahannya dapat membudidayakan tanaman obat secara individual dan memanfaatkannyasehingga akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga. Selain itu juga dapat dikembangkanmenjadi usaha kecil dan menengah di bidang obat-obatan herbal, yang selanjutnya dapat disalurkan ke masyarakat.
HUBUNGAN KEBISINGAN DAN BEBAN KERJA MENTAL DENGAN STRES KERJA DI PT. DURAQUIPT CEMERLANG: Relationship Between Noise and Mental Workload with Work Stress at PT. Duraquipt Cemerlang Annur Aini; Utari, Dyah; Fithri, Nayla Kamilia; Hardy, Fathinah Ranggauni
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 4 No. 1 (2021): OCTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v4i1.62

Abstract

ABSTRACT Work stress is stress that is related to the work environment that can cause discomfort so that it affects the productivity of a worker. Several factors that cause work stress include individual factors, noise that exceeds the threshold value, and excessive mental workload. This study aims to determine the relationship between noise exposure, mental workload, and individual factors with work stress on workers at PT. Duraquipt Cemerlang. This study is a quantitative study using a cross-sectional study design with chi-square test analysis. The population of this study was all workers of PT. Duraquipt Cemerlang as many as 132 people. The sample of this study amounted to 106 people using the random samplng technique. This research instrument uses a sound level meter to measure noise levels, a DASS-42 questionnaire to measure work stress levels, and a NASA-TLX questionnaire to measure the mental workload. The results showed there was a relationship between education level (p=0,033) and mental workload (p=0,011) with work stress, and there was no relationship between noise (p=0,570), age (p=0,429), years of service (p=0,273), and marital status (p=0,719) with work stress. There was a relationship between mental workload and education level with work stress on PT. Duraquipt Cemerlang. The company should provide education about the prevention and control of work stress and provide consulting services for all workers.Keywords: Noise, Mental Workload, Individual Factors, Work Stress. ABSTRAKStres kerja merupakan stres yang berkaitan dengan lingkungan kerja yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan sehingga memengaruhi produktivitas seorang pekerja. Beberapa faktor penyebab terjadinya stres kerja antara lain faktor individu, kebisingan yang melebihi NAB, dan beban kerja mental berlebih. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara paparan kebisingan, beban kerja mental, dan faktor individu dengan stres kerja pada pekerja di PT. Duraquipt Cemerlang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain studi potong lintang dengan analisis uji chi-square. Populasi penelitian ini adalah seluruh pekerja PT. Duraquipt Cemerlang sebanyak 132 orang. Sampel penelitian ini berjumlah 106 orang dengan menggunakan teknik random sampling. Instrumen penelitian menggunakan sound level meter untuk mengukur tingkat kebisingan, kuesioner DASS-42 untuk mengukur tingkat stres kerja, serta kuesioner NASA-TLX untuk mengukur beban kerja mental. Hasil: Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pendidikan (p=0,033) dan beban kerja mental (p=0,011) dengan stres kerja serta tidak adanya hubungan antara kebisingan (p=0,570), usia (p=0,429), masa kerja (p=0,273), dan status pernikahan (p=0,719) dengan stres kerja. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara beban kerja mental dan tingkat pendidikan dengan stres kerja pada pekerja PT. Duraquipt Cemerlang. Bagi perusahaan diharapkan dapat melakukan sosialisasi mengenai pencegahan dan pengendalian stres kerja serta memberikan layanan konsultasi untuk seluruh pekerja.Kata Kunci: Kebisingan, Beban Kerja Mental, Faktor Individu, Stres Kerja
Inovasi Berbasis Masyarakat Desa Tangguh Bencana (Destana) Berbasis Komunitas Hardy, Fathinah Ranggauni; Pulungan, Rafiah Maharani; Permatasari, Putri
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju Vol 1 No 01 (2020): Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju Volume 01 Nomer 01 Tahun 2020
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.885 KB) | DOI: 10.33221/jpmim.v1i01.528

Abstract

Kabupaten Lebak, Provinsi Banten merupakan salah satu daerah di Indonesia yang telah masif terjadi gempa bumi selama 1 tahun terakhir. BNPB telah melaporkan terjadinya gempa bumi tektonik dengan kekuatan M=6.1 SR yang paling besar terjadi pada hari Selasa, 23 Januari 2018. Kecamatan Cikulur salah satu kecamatan di Kabupaten Lebak yang memiliki kerusakan yang parah dan mengalami kerugian secara fisik yaitu Sebanyak 2.760 unit rumah rusak itu rinciannya 291 rumah rusak berat (RB), 575 rusak sedang RS), dan 1. 894 rusak ringan (RR) (BNPB, 2018) dan secara non fisik banyak warga yang mengalami trauma akibat kejadian gempa tersebut. Kegiatan yang akan dilakukan dalam pembentukan Desa Tangguh Bencana adalah Penilaian Risiko, Perencanaan Penanggulangan Bencana (PB) di Desa, Pembentukan Forum PB di Peningkatan Kapasitas Warga dan Aparat dalam PB melalui Pelatihan Kebencanaan pada warga dan perangkat desa, Pemaduan PB ke dalam Rencana Pembangunan Desa dan Legalisasi Desa Tangguh Bencana. Target Luaran dari PKM ini adalah terbentuknya Desa Tangguh Bencana.
Faktor yang Memengaruhi Kejadian Tuberkulosis Paru pada Penderita Diabetes Mellitus di Rumah Sakit X Yosephine, Michel Kezia; Hardy, Fathinah Ranggauni; Wenny, Dwi Mutia; Nurrizka, Rahmah Hida; Pulungan, Rafiah Maharani
Jurnal Kesehatan Vol 12 No 3 (2021): Jurnal Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jk.v12i3.2542

Abstract

People with diabetes mellitus are at higher risk for developing active tuberculosis. The diabetes mellitus epidemic has increased the incidence of lung tuberculosis. The purpose of this study is to determine factors that affect the incidence of lung tuberculosis in diabetic patients at “X” hospital in 2020. The method used analytic with case-control research design. The sampling technique is purposive sampling and involved 110 respondents using a sample ratio of 1:1 for the case and control groups. The data source in this study is secondary data from the patient’s medical record. The analysis used is chi-square and logistic regression. The variables studied are age, sex, employment, nutritional status, HbA1C levels, and duration of having diabetes mellitus. The result show factors associated with tuberculosis patients are age (p-value=0,038; OR=3,068), sex (p-value=0,022; OR=2,625), nutritional status (p-value=0,013; OR=0,352), and HbA1c level (p-value=0,046; OR= 2,440). Based on the results of the multivariate analyses factor that has more effects is the HbA1C level (Adjusted OR= 3,141; 95%CI= 1,299-7,594). Recommended for diabetic patients to do a healthy diet, regular exercise, comply with diabetes mellitus treatment, and regularly check blood glucose to maintain normal blood glucose levels. 
Kejadian Penyakit Jantung Koroner pada Pasien di RSUD Pasar Rebo Aisyah, Aisyah; Hardy, Fathinah Ranggauni; Pristya, Terry Y.R.; Karima, Ulya Qoulan
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 6 No 4 (2022): October 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v6i4.48650

Abstract

Diperkirakan bahwa PJK mewakili 2,2% dari keseluruhan beban penyakit global dan sebesar 32,7% dari penyakit kardiovaskular. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner pada pasien di RSUD Pasar Rebo tahun 2020. Penelitian kuantitatif observasional ini menggunakan desain studi case control dengan simple random sampling. Sampel berjumlah 96 orang. Sumber data penelitian ini adalah rekam medis. Hasil uji chi square, menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian PJK pada pasien adalah jenis kelamin (OR= 2,553; 95%CI= 1,120-5,820) dan diabetes melitus (OR= 0,274; 95%CI= 0,118-0,637). Berdasarkan hasil analisis multivariat, dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berpengaruh dengan kejadian PJK yaitu hipertensi (Adjusted OR= 3,432; 95%CI= 1,191-9,886) setelah dikontrol oleh variabel usia, jenis kelamin, merokok, dan diabetes melitus. Disarankan bagi pasien dengan hipertensi untuk rutin mengontrol tekanan darah dan melakukan pemeriksaan kesehatan jantung agar mengurangi risiko untuk terkena PJK.
Primary Health Service Integration Policy as a Key Strategy to Achieve Universal Health Coverage (UHC): Primary Health Service Integration Policy Permatasari, Putri; Hardy, Fathinah Ranggauni; Setiawati, Marina Ery
Jurnal Kesmas Jambi Vol. 9 No. 2 (2025): VOLUME 9 - NUMBER 2 - July 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jkmj.v9i2.45799

Abstract

Integration of primary health care services is an approach that combines various health services, both at the prevention, treatment, and rehabilitation levels, into one integrated system framework. This study aims to ensure the policy better coordination between service providers, minimize resource waste, and improve accessibility and quality of health services for the wider community. Literature review with articles from the last 5 years, free-full text, using predetermined keywords, and utilizing 2 databases, namely Google Scholar and PubMed. Findings indicate that the implementation of the UHC policy through the National Health Insurance (JKN) program in Indonesia has not been effective and still faces challenges. The WHO recommends PHC as a community health approach that focuses on meeting the needs of the community from prevention efforts to treatment or rehabilitation. Strengthening primary health care services is very effective in supporting the achievement of Universal Health Coverage (UHC) targets in Indonesia. Implementation of the UHC Policy through the National Health Insurance (JKN) program in Indonesia has not been effective and still faces challenges. The WHO recommends PHC as a health approach to the community that focuses on meeting community needs from prevention efforts to treatment or rehabilitation. Strengthening primary health services is very effective in supporting the achievement of the Universal Health Coverage (UHC) target in Indonesia. This study highlights the challenges faced by UHC in Indonesia are budget constraints, infrastructure, and human resources, which impact the quality of healthcare services.
FAKTOR RISIKO SINDROM DISPEPSIA PADA REMAJA WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN PALMERAH Sari, Erin Kurnia; Hardy, Fathinah Ranggauni; Karima, Ulya Qoulan; Pristya, Terry Yuliana R.
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 9, No 3 (2021): EDITION NOVEMBER 2021
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v9i3.2296

Abstract

ABSTRACT Dyspepsia syndrome is a disorder that is often experienced by adolescents because it is caused by an irregular diet and an improper lifestyle. The purpose of this study was to determine the risk factors for dyspepsia syndrome in adolescents in the work area of the Palmerah District Health Center in 2020. This study used a cross sectional study design, data collection techniques were accidental sampling with a sample size of 400 adolescent respondents. The research instrument is a questionnaire in the form of google forms. Data analysis used multiple logistic regression test (α = 0.05). The results showed the risk factors with dyspepsia syndrome, including gender (p value = 0,000; POR = 2,6), consumption of spicy food rarely to frequent (p value = 0.004; POR = 0.4), consumption of acidic foods ( p value = 0.005 and p = 0.0012; POR = 0.4), consumption of risky drinks is rare to frequent (p value = 0.006; POR = 0.4), and stress (p value = 0.000; POR = 4.5 ). The most risk factor with dyspepsia syndrome is stress. Adolescents are advised to reduce consumption of risky drinks and organize their thoughts properly so that they are not prone to stress. Keywords: Adolescents, Dyspepsia Syndrome, Risk Factors   ABSTRAK Sindrom dispepsia menjadi gangguan yang sering dialami oleh banyak orang terutama pada remaja karena disebabkan pola makan yang tidak teratur serta memiliki gaya hidup yang tidak benar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko sindrom dispepsia pada remaja wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Palmerah tahun 2020. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study, teknik pengambilan data secara accidental sampling dengan besar sampel 400 responden remaja di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Palmerah. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner berbentuk google forms. Analisis data menggunakan uji regresi logistik berganda (α=0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan faktor yang berisiko dengan sindrom dispepsia, antara lain jenis kelamin (nilai p=0,000; POR=2,6), konsumsi makanan pedas dengan kategori jarang terhadap sering (nilai p=0,004; POR=0,4), konsumsi makanan asam (nilai p=0,005 dan p=0,0012; POR=0,4), konsumsi minuman berisiko dengan kategori jarang terhadap sering (nilai p=0,006; POR=0,4), dan kondisi stres (nilai p= 0,000; POR=4,5). Faktor yang paling berisiko dengan sindrom dispepsia adalah kondisi stres. Disarankan untuk remaja mengurangi konsumsi minuman berisiko secara berlebihan dan mengatur pikiran serta perasaan dengan baik sehingga tidak mudah mengalami kondisi stres. Kata Kunci: Faktor Risiko, Remaja, Sindrom Dispepsia
Pembentukan Puskesmas Percontohan untuk Pelayanan Kesehatan yang Lebih Baik di Era JKN Sinaga, Ganda Raja Partogi; Hardy, Fathinah Ranggauni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2019): JIKM Vol. 11, Edisi 1, Februari 2019
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.898 KB) | DOI: 10.52022/jikm.v11i1.12

Abstract

Latar Belakang: Pembentukan satu Puskesmas percontohan di setiap Kabupaten/Kota. Dalam mewujudkan hal tersebut diatas perlu didukung dengan keberadaan Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang ideal untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Puskesmas ideal tersebut akan digunakan sebagai percontohan untuk pengembangan Puskesmas lainnya dalam upaya mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan tetap mengedepankan upaya promotif dan preventif. Metode: Metode yang digunakan dalam pembentukan Puskesmas Percontohan ini adalah riset implementatif. Instrumen yang dibangun untuk monev Puskesmas Percontohan akan dibuat secara elektronik berbasis aplikasi web. Hasil: Dalam membentuk Puskesmas Percontohan ini didukung oleh para pemangku kepentingan (stakeholder) terkait. Peran dinas kesehatan kabupaten/kota dalam membentuk Puskesmas Percontohan akan di monitoring dan evaluasi secara elektronik, agar proses dapat mudah dipantau, sehingga kendala/hambatan yang ada nantinya dapat didiskusikan atau diatasi bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi dan atau Kementerian Kesehatan. Kesimpulan: Proses pembentukan Puskesmas percontohan di kabupaten/kota dilaksanakan melalui pembinaan secara berjenjang. Peran dinas kesehatan kabupaten/kota sangat penting, karena Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan (UPTD). Background: Establishment of a pilot health center in each district / city. In realizing the above, it is necessary to support the existence of Puskesmas as a first-rate health care facility that is ideal for providing better health services in the era of National Health Insurance (JKN). The ideal Puskesmas will be used as a pilot for the development of other Puskesmas in an effort to realize quality health services while promoting promotive and preventive efforts. Method: The method used in forming the Pilot Health Center is implementative research. The instrument built for monitoring and evaluation Puskesmas Pilot will be made electronically based on web applications. Results: In forming the Pilot Health Center, it was supported by relevant stakeholders. The role of district / city health offices in forming Pilot Health Centers will be electronically monitored and evaluated so that the process can be easily monitored, so that existing constraints / obstacles can be discussed or addressed together with the Provincial Health Office and or the Ministry of Health. Conclusion: The process of forming a pilot health center in the district / city is carried out through tiered guidance. The role of the district / city health office is very important, because the Puskesmas is the technical service unit for the health department (UPTD).