cover
Contact Name
Didik Harnowo
Contact Email
bpalawija@gmail.com
Phone
+62341-801468
Journal Mail Official
bpalawija@gmail.com
Editorial Address
Balitkabi. Jalan Raya Kendalpayak No 8, Malang.
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Buletin Palawija
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan wadah bagi para peneliti aneka kacang dan umbi untuk mendiseminasikan hasil penelitiannya dalam bentuk naskah review (tinjauan), primer dan komunikasi pendek. Naskah review dan primer mencakup berbagai disiplin ilmu, yaitu pemuliaan tanaman dan plasma nutfah, fisiologi/budidaya, perlindungan, pascapanen, dan sosial-ekonomi termasuk kebijakan pengembangan tanaman palawija. Buletin Palawija bertujuan menyajikan karya penelitian yang dapat memberikan wawasan pada dunia ilmu pengetahuan secara nasional atau international, sehinga naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur teoritis, metodologis, dan/atau inovatif dalam penelitian aneka kacang dan umbi.
Articles 223 Documents
KULTUR TEKNIS SEBAGAI DASAR PENGENDALIAN HAMA KUTU KEBUL Bemisia tabaci Genn. PADA TANAMAN KEDELAI Alfi Inayati; Marwoto Marwoto
Buletin Palawija No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n29.2015.p14-25

Abstract

Kultur Teknis Sebagai Dasar Pengendalian Hama Kutu Kebul Bemisia tabaci Genn. pada Tanaman Kedelai. Salah satu gangguan dalam meningkatkan produksi kedelai adalah serangan hama kutu kebul Bemisia tabaci Gennadius. Kehilangan hasil akibat serangan hama kutu kebul ini dapat mencapai 80%, bahkan pada serangan berat dapat menyebabkan puso (gagal panen). Sebagian besar pengendalian hama kutu kebul pada tanaman kedelai di tingkat petani sampai kini masih mengandalkaninsektisida, namun demikian masih sering gagal karena tidak atau kurang efektif. Pengendalian hama kutu kebul dapat dilakukan dengan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Prinsip operasional yang digunakan dalam pelaksanaan PHT salah satunya adalah: Budidaya tanaman sehat. Tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama. Pengendalian kultur teknis merupakan tindakan preventif, dilakukan sebelum serangan hama terjadi dengan sasaran agar populasi tidak meningkat sampai melebihi ambang kendalinya. Pengendalian hama kutu kebul secara kultur teknis dapat dilakukan dengan cara: (a) penanaman kedelai lebih awal, (b) penanaman varietas toleran, (c) penanaman tanaman penghalang, misalnya jagung di antara kedelai, (d) sistem pengairan yang teratur misalnya pengairan curah (springkler), (e) pergiliran tanaman bukan inang, dan (f) sanitasi. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengendalian secara bercocok tanam perlu dipadukan dengan teknik-teknik pengendalian hama lainnya sesuai dengan prinsipprinsip PHT.
KERAGAAN POPULASI FAMILI HALFSIB HASIL PERSILANGAN UBIJALAR UNTUK PENGKAYAAN MIKRONUTRIEN Sri Umi Lestari
Buletin Palawija Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v15n2.2017.p78-86

Abstract

Hidden Hunger is a major health problem for the world populations, especially in developing countries. Sweet potato is one of the main staple crops to be enriched with micro nutrient content through biofortification program, to overcome the Hidden Hunger. The study aim was evaluated the offspring performance of the controlled crosses between the parent for the enrichment of micro nutrient content with other high yielding clones. A number of hybrid genotypes (297) scattered in 8 families of half sibs were evaluated by weight of storage root and vines, estimated of storage root and vines yields per hectare, and its micronutrient content (Fe and Zn). Augmented Randomized Block Design with 8 replicate blocks was applied for this trial. In each block is also planted parent clones as control cultivars. The results showed that cultivar test performance on all observed parameters was different to control cultivars, as well as among the cultivars test were also statistically different. This allows obtaining the selection of genotype based on storage root weight/plant and its micronutrient content. Among the 297 genotypes evaluated available of 140 genotypes had storage root yields ≥ 0.5 kg/plant and 6 of them had storage root weight of ≥ 1.5 kg/plant. Based on storage root weight and micro nutrient content selected 6 genotypes with the storage root weight range between 0.598 - 1.631 kg/plant and Fe and Zn content respectively ranged from 95 to 618 mg Fe/kg and 10-12 mg Zn/kg based on dry weight basis.
KONSERVASI KOLEKSI PLASMA NUTFAH UBI JALAR Tinuk Sri Wahyuni
Buletin Palawija No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n23.2012.p27-37

Abstract

Konservasi koleksi plasma nutfah ubijalar (Konservasi koleksi plasma nutfah ubijalar Ipomoea batatas (L.) Lam) perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya erosi genetic dan menjaga kelestarian sumberdaya genetik tanaman. Keragaman genetik diperlukan oleh pemulia tanaman dalam perakitan varietas unggul baru. Jenis aksesi dalam koleksi beragam, terdiri dari: varietas unggul lama hingga yang terbaru, varietas lokal dari berbagai daerah di Indonesia, varietas/klon introduksi dari luar negeri, mutan dan klon-klon harapan. Konservasi dilakukan dengan cara memeliharasejumlah tanaman hidup di lapang, pada suatu hamparan lahan yang dibentuk  guludan-guludan dan di dalam pot-pot beton yang diisi dengan media campuran tanah dan pupuk kandang. Pemeliharaan tanaman dilakukan secara intensif. Beberapa permasalahan dalam konservasi tanaman di lapang adalah cekaman biotik seperti kekeringan dan genangan serta dan cekaman abiotik yaitu kutu kebul, penyakit virus ubijalar, hama boleng dan hama tungau puru. Pada tahun 2009 tanaman koleksi berjumlah 402 aksesi, namun hingga musim hujan 2011/2012 jumlah tersebut berkurang menjadi 274 aksesi karena kematian tanaman akibat cekaman-cekaman tersebut di atas. Alternatif cara konservasi lainnya yang dapat diterapkan adalah menyimpan kultur jaringan atau menyimpan biji dari persilangan terbuka. Kontribusi plasma nutfah dalam pemuliaantanaman adalah sebagai cadangan varietas dan sebagai bahan perbaikan varietas. Sebelum dimanfaatkan sebagai tetua donor, keunggulan suatu aksesi diuji melalui tahapan evaluasi, baik terhadap kualitas umbi maupun sifat toleransi/ketahanan tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik. Kontribusi plasma nutfah untuk mendukung kegiatan pemuliaan tanaman adalah dihasilkannya 19 varietas unggul ubijalar yang sudah dilepas sejak tahun 1977 hingga 2009. 
Perbaikan Varietas Unggul Kacang Hijau Tahan Penyakit Embun Tepung dan Bercak Daun M. Anwari
Buletin Palawija No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n4.2002.p49-57

Abstract

Kacang hijau merupakan tanaman kacang-kacangan utama ketiga setelah kedelai dan kacang tanah. Tanaman kacang hijau peka terhadap serangan penyakit pada semua stadia pertumbuhannya. Penyakit embun tepung dan bercak daun tergolong penyakit yang dominan. Penyakit embun tepung banyak dijumpai pada musim kemarau, sedangkan penyakit bercak daun pada musim hujan. Dari evaluasi terhadap beberapa galur kacang hijau, diperoleh tiga galur yang memberikan hasil tinggi yaitu VC 3012B, VC 2750, dan EVO 947, masing-masing dengan sifat agak peka penyakit bercak daun, tahan penyakit embun tepung, dan tahan penyakit bercak daun. Galur VC 3012B dan VC 2750 mempunyai warna biji hijau mengkilat, sedangkan EVO 947 hijau kusam, dan ketiganya berbiji besar. Galur VC 3012B pada tahun 1998 dilepas sebagai varietas unggul dengan nama Kenari, dan pada tahun 2001 galur VC 2750 dan EVO 947 dilepas sebagai varietas unggul baru masing-masing dengan nama Perkutut dan Murai.
POTENSI NEMATODA ENTOMOPATOGEN UNTUK MENGENDALIKAN ULAT GRAYAK PADA TANAMAN KEDELAI Yuliantoro Baliadi
Buletin Palawija No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n13.2007.p29-36

Abstract

Hama merupakan salah satu kendala mempertahankan dan meningkatkan produksi kedelai, khususnya di daerah beriklim tropis. Ulat grayak (Spodoptera litura F.) adalah hama penting pada tanaman kedelai. Strategi pengendalian ulat grayak menggunakan prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu (PHT) yang ramah lingkungan. PHT menekankan penggunaan agens hayati dengan tujuan menyeimbangkan antara populasi hama dengan musuh alaminya. Oleh karena itu, musuh alami adalah komponen penting dalam PHT. Nematoda entomopatogen (NEP) dari genus Steinernema dan Heterorhabditis dengan bakteri simbionnya memiliki potensi besar sebagai agens hayati untuk mengendalikan ulat grayak. Dari semua stadia kehidupan NEP, hanya juvenil infektif stadia-3 (IJs) yang mampu bertahan hidup di luar tubuh inang dan membawa bakteri simbion (Xenorhabdus sp. untuk Steinernema dan Photorhabdus sp. untuk Heterorhabditis). Saat berada di bagian hemokul inang, bakteri dilepaskan, bakteri dengan cepat memperbanyak diri, dan 2–3 hari kemudian serangga inang mati. Mortalitas inang bergantung pada spesies NEP. Mortalitas sebesar 94,6, 90,4, 86,6, dan 58,6%, disebabkan oleh S. carpocapsae, S. glaseri, H. bacteriophora, dan H. indica 72 jam setelah inokulasi. Untuk keperluan uji laboratorium dan lapang skala kecil, NEP dibiakkan pada ulat Galleria mellonella. Pada satu ekor ulat G. mellonella dihasilkan H. bacteriophora, S. carpocapsae, dan S. glaseri masing-masing sebanyak 135.000, 128.000, dan 133.000 IJs.
PATOLOGI DAN TEKNIS PENGUJIAN KESEHATAN BENIH TANAMAN ANEKA KACANG Mudji Rahayu
Buletin Palawija Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v14n2.2016.p78-88

Abstract

Patologi benih merupakan salah satu bidang ilmu dari penyakit tanaman (fitopatologi), didefinisikan sebagai studi tentang penyakit pada benih untuk mengetahui faktor penyebab penyimpangan fungsi benih. Bidang ilmu ini juga mempelajari hubungan antara patogen dan inangnya yaitu peran biji sebagai sumber penyebaran dan penularan penyakit, serta tindakan yang perlu diambil untuk mengendalikan kerusakan yang diakibatkannya. Diperlukan dukungan pengetahuan lain di antaranya fitopatologi umum, mikrobiologi, dan teknologi benih dalam mempelajari patologi benih. Benih sehat memiliki arti bahwa biji yang digunakan sebagai benih atau bahan tanam, harus bebas dari infeksi ataupun kontaminasi patogen yang terdiri atas beberapa jenis seperti jamur, bakteri, dan virus. Patogen yang menginfeksi benih aneka kacang terdiri atas beberapa jenis jamur, bakteri, dan virus. Berbeda dengan penyakit pada bagian vegetatif tanaman seperti daun dan batang, penyakit benih seringkali tanpa gejala kerusakan sehingga sulit diketahui secara visual. Benih membawa penyakit biasanya dideteksi dengan metode standar dari ISTA (Seed International Seed Testing Association), suatu lembaga resmi di dunia yang menetapkan standar mutu benih termasuk pengujian kesehatan benih. Metode pengujian yang umum dilakukan adalah secara konvensional (pemeriksaan secara visual atau cara kering, cara basah dengan perendaman atau ekstraksi benih, dan inkubasi pada media buatan), deteksi secara serologi dan molekuler, serta metode pertumbuhan benih di rumah kaca. Uji kesehatan benih berperan penting dalam perbaikan mutu benih (seed improvement), perdagangan benih (seed trade), dan perlindungan tanaman (plant protection). ...
PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI MELALUI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU Marwoto .
Buletin Palawija No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n20.2010.p%p

Abstract

Salah satu program utama Kementerian Pertanian adalah pencapaian swasembada kedelai pada tahun 2014. Program ini harus didukung oleh semua pihak yang terkait, dalam proses produksinya. Peningkatan produksi melalui perbaikan produktivitas nasional masih cukup terbuka mengingat masih terdapat senjang hasil yang lebar antara produktivitas nasional yang baru sekitar 1,3 t/ha dengan kisaran produktivitas di tingkat petani 0,6–2,0 t/ha, dibandingkan dengan produktivitas hasil penelitian yang rata-rata mencapai 2,0 t/ha dengan kisaran 1,7–3,2 t/ha. Guna mencapai peningkatan produksi kedelai diperlukan rakitan teknologi spesifik lokasi dengan memperhatikan kesesuaian terhadap kondisi biofisik lahan, sosial ekonomi masyarakat, dan kelembagaan petani. Proses produksi yang demikian pada hakekatnya adalah merupakan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Prinsip dasar penerapan PTT kedelai adalah partisipatif, spesifik lokasi, terpadu, sinergi dan dinamis. Pendekatan PTT kedelai mengacu kepada keterpaduan antara sumberdaya setempat dengan teknologi produksi maupun antar komponen teknologi produksi, sehingga akan terbentuk suatu keserasian dalam pengelolaan sumberdaya dan pertanaman pada spesifik ekosistem pertanian. Implementasi PTT adalah mengedepankan pemanfaatan potensi sumberdaya serta memprioritaskan pemecahan kendala dan masalah setempat. Hasil penerapan rakitan teknologi PTT kedelai di lahan pasang surut tipe C di Provinsi Jambi mampu meningkatkan produksi dari 1,42 t/ha menjadi 2,77 t/ha, sedang di lahan sawah kabupaten Grobogan Jawa Tengah mampu meningkatkan dari 1,71 t/ha menjadi 2,20 t/ha.
Back matter Buletin Palawija Volume 18 No 1 Abi Supiyandi
Buletin Palawija Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v18n1.2020.p%p

Abstract

PENANGGULANGAN KLOROSIS PADA KACANG TANAH DI ALFISOL ALKALIS Abdullah Taufiq; Agustina Asri Rahmianna; Joko Purnomo
Buletin Palawija No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n3.2002.p1-16

Abstract

Di masa mendatang Klorosis daun Kacang Tanah di Alfisol Alkalis akan menjadi kendala peningkatan produksi kacang tanah. Klorosis dapat terjadi selama fase pertumubuhan tanaman dengan intensitas yang bebeda , dan sangat ditentukan oleh lingkungan tumbuh. Penyebab Klorosis sangat kompleks , faktor penyebab yang satu bisa merupakan akibat faktor yang lain. Melihat gejala pada daun, klorosis yang terjadi pada alfisol Alkalis disebabkan oleh kesehatan Fe, yang dipicu terutama oleh tingginya pH tanah dan rendahnya SO , dalam tanah. Upaya mengatasi klorosis pada kacang tanah dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu penanaman varietas toleran, kecukupan hara, ameliorasi tanah. Hingga tahun 2000 varietas yang telah dilepas dan dinilai toleran terhadap klorosis adalah Kancil. Beberapa galur harapan toleran terhadap klorosis adalah ICGV 86031, G/PI 259747-92-B-28, K/PI 405132-90-B1-2-57, K/PI 390595/K-90-B2-54, K/SHM2-88-B-7, Lokal Tuban, dan ICGV 87055 . Pemupukan dengan FeSO4 takaran 30 kg/ha yang diberikan saat tanaman berumur antara 15 hingga 45 hari atau penyemprotan dengan larutan yang mengandung 1% FeSO4 + 0,1% asam sitrat + 3% ZA + 0,2% Urea sebanyak tiga kali pada 30, 45 dan 60 hari setelah tanam, atau pemberian 20 t pupuk kandang/ha berpeluang menurunkan klorosis dan meningkatkan hasil kacang tanah. Ameliorasi tanah untuk menurunkan pH dapat dilakukan dengan pemberian bubuk belerang (So) dengan takaran 400-600 kg S/ha sepanjang baris tanaman atau 1200 kg S/ha diberikan seminggu menjelang tanam dan dicampur rata dengan tanah efektif menurunkan intensitas klorosis dan meningkatkan hasil. Pemberian S mampu menurunkan pH tanah didaerah perakaran, meningkatkan persediaan SO4, memperbaiki pertumubuhan tanaman, meningkatkan indeks kandungan Klorofil dan efektif menurunkan klorosis hingga pada tingkat yang sangat rendah. Terdapat indikasi mekanisme S dapat menurunkan klorosis adalah melalui penghambatan translokasi unsur Ca ke bagian tanaman dari tanah dan mempertahankan nisbah Ca/Fe tetap rendah sehingga mengurangi inaktivasi Fe oleh Ca
PENGELOLAAN HARA KALIUM UNTUK UBIKAYU PADA LAHAN KERING MASAM Subandi Subandi
Buletin Palawija No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n22.2011.p86-95

Abstract

Produktivitas ubikayu (Manihot esculenta Crantz). nasional tergolong rendah (18,24 t/ha ubi segar), salah satu penyebab pentingnya adalah ketersediaan hara yang rendah dalam tanah, di antaranya K. Kecukupan hara K sangat menentukan pertumbuhan tanaman serta kuantitas dan kualitas hasil ubikayu, sebab K terlibat dalam berbagai proses fisiologi, di antaranya pertumbuhan sel, pembukaan stomata, pembentukan dan translokasi karbohidrat, pembentukan protein, dan senyawa fenol yang dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Pengelolaan hara K pada ubikayu di lahan kering masam perlu mendapat perhatian besar, sebab: (a) areal ubikayu telah dan terus berkembang ke lahan kering masam yang tersedia luas, khususnya di Sumatera dan Kalimantan yang antara tahun 2005 dan 2009 tumbuh secara signifikan, berturut-turut 17,6% dan 6,5%, dan (b) ubikayu relatif banyak membutuhkan hara K jika dibandingan dengan tanaman pangan yang lain (padi, jagung, kedelai, kacang tanah). Ketersediaan K (K-dd) pada lahan kering masam umumnya kurang dari 0,10 me/100 g tanah, padahal untuk ubikayu batas kritis K-dd adalah 0,15 me/100 g tanah; sehingga tambahan K melalui pemupukan mutlak diperlukan untuk meningkatkan ketersediaan K dalam tanah. Berdasarkan pola pertumbuhan biomas dan perakaran ubikayu, serta potensi erosi dan pelindian hara K yang tinggi pada lahan kering masam, maka pupuk K dianjurkan diberikan dua kali, masing-masing 50% pada umur satu dan tiga bulan Pupuk diaplikasi secara dibenamkan/ ditugal di samping tanaman pada kedalaman 5–10 cm. Selain melakukan pemupukan, upaya lain yang harus dilakukan untuk mengurangi kehilangan serta meningkatkan ketersediaan dan penyerapan hara K dalam tanah adalah: (a) menerapkan sistem pertanaman lorong dengan menanam pagar hidup untuk mengurangi erosi dan pelindian, dan (b) meningkatkan kandungan bahan organik tanah, sebagai sumber K dan agar tanah lebih banyak mengikat/menyediakan air/lengas untuk memperlancar pergerakan K ke permukaan akar melalui proses aliran masa dan difusi. Kadar kritis bahan organik dalam tanah untuk ubikayu adalah 3,2%.

Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2022): Buletin Palawija Vol 20 No 1, 2022 Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue