cover
Contact Name
Didik Harnowo
Contact Email
bpalawija@gmail.com
Phone
+62341-801468
Journal Mail Official
bpalawija@gmail.com
Editorial Address
Balitkabi. Jalan Raya Kendalpayak No 8, Malang.
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Buletin Palawija
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan wadah bagi para peneliti aneka kacang dan umbi untuk mendiseminasikan hasil penelitiannya dalam bentuk naskah review (tinjauan), primer dan komunikasi pendek. Naskah review dan primer mencakup berbagai disiplin ilmu, yaitu pemuliaan tanaman dan plasma nutfah, fisiologi/budidaya, perlindungan, pascapanen, dan sosial-ekonomi termasuk kebijakan pengembangan tanaman palawija. Buletin Palawija bertujuan menyajikan karya penelitian yang dapat memberikan wawasan pada dunia ilmu pengetahuan secara nasional atau international, sehinga naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur teoritis, metodologis, dan/atau inovatif dalam penelitian aneka kacang dan umbi.
Articles 223 Documents
Serapan Nitrogen dan Fosfor serta Hasil Kedelai Edamame (Glycine max (L.) Merrill) pada Tanah Alfisol akibat Aplikasi Biochar dan Vermikompos Allaganur Rochman; Joko Maryanto; Okti Herliana
Buletin Palawija Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n1.2021.p22-30

Abstract

Alfisol merupakan jenis tanah dengan kesuburan rendah, namun memiliki potensi untuk perluasan lahan bagi budidaya tanaman kedelai edamame. Aplikasi biochar dan vermikompos digunakan untuk memperbaiki nutrisi tanah dan mensuplai unsur hara pada tanah Alfisol. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi biochar dan vermikompos terhadap serapan nitrogen dan fosfor, serta hasil tanaman kedelai edamame (Glycine max (L.) Merrill) pada tanah Alfisol. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus  sampai Desember 2019 di kebun percobaan dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian menggunakan rancangan faktorial terdiri dari 2 faktor. Faktor I adalah aplikasi biochar, terdiri dari empat taraf yaitu B0: tanpa biochar, B1: 10 t/ha, B2: 20 t/ha, B3: 30 t/ha. Faktor II adalah aplikasi vermikompos, terdiri dari 3 taraf yaitu V0: tanpa vermikompos, V1: 10 t/ha, V2: 20 t/ha. Variabel yang diamati adalah sifat kimia tanah awal, kadar N dan P tersedia, laju pertumbuhan tanaman (LPT), laju asimilasi bersih (LAB), bobot polong segar per tanaman, jumlah polong per tanaman, serta analisis kadar N dan P jaringan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis biochar hingga 30 t/ha tidak meningkatkan serapan nitrogen, fosfor, dan hasil tanaman, sedangkan vermikompos hingga 20 t/ha meningkatkan kadar P jaringan, P tersedia, dan hasil tanaman, tetapi tidak meningkatkan kadar N jaringan, N tersedia, LPT, dan LAB. Hasil tertinggi diperoleh pada aplikasi biochar 30 t/ha dan 20 t/ha vermikompos. Tidak terdapat interaksi antara vermikompos dengan biochar terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, sehingga dapat diaplikasikan secara secara tunggal.
Ketahanan Beberapa Genotipe Kacang Tanah terhadap Penyakit Karat (Puccinia arachidis) dan Bercak Daun (Cercosporidium personatum) Uge, Emerensiana; Purnomo, Joko; Yusnawan, Eriyanto
Buletin Palawija Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v18n2.2020.p74-82

Abstract

Pertumbuhan tanaman kacang tanah seringkali menghadapi kendala  biotik antara lain infeksi karat dan bercak daun akhir yang disebabkan oleh jamur Puccinia arachidis dan Cercosporidium personatum. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi ketahanan 24 genotipe kacang tanah terhadap penyakit karat dan bercak daun dengan cara inokulasi kedua patogen tersebut. Penelitian disusun berdasar rancangan acak kelompok, tiga ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, perkembangan penyakit, jumlah pustul, jumlah dan diameter uredospora. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala penyakit karat ditemukan pada minggu pertama setelah inokulasi, sedangkan gejala bercak daun pada minggu ke enam setelah inokulasi. Satu genotipe bereaksi agak tahan dan genotipe lainnya agak rentan hingga rentan terhadap karat daun, sedangkan terhadap bercak daun, semua genotipe bereaksi agak tahan dan tahan pada 10 minggu setelah inokulasi (MSI). Jumlah pustul dan bercak tertinggi terdapat pada kelompok genotipe agak rentan hingga rentan dan jumlah daun berkurang sejalan dengan peningkatan intensitas penyakit. Genotipe LG5/BK10)-89-68 memiliki respons agak tahan terhadap infeksi karat dan bercak daun, sedangkan varietas Takar 1 dan Hypoma 3 memiliki respons agak rentan, dan agak tahan terhadap karat daun pada 10 MSI. Oleh karena itu, genotipe LG5/BK10)-89-68, varietas Takar 1 dan Hypoma 3 dapat digunakan menjadi tetua untuk perakitan varietas tahan karat dan bercak daun.
Back Matter Buletin Palawija Volume 19 No 1 Supiyandi, Abi
Buletin Palawija Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n1.2021.p%p

Abstract

Cover dan Daftar isi Buletin Palawija Volume 18 No 2 Supiyandi, Abi
Buletin Palawija Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v18n2.2020.pi-iii

Abstract

Keragaan Fisiologis dan Morfologis Dua Kultivar Kedelai Asal Subtropis dan Tropis Akibat Cekaman Kekeringan Mochamad Arief Soleh; Ranu Manggala; Muhamad Kadapi
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p111-116

Abstract

Strategi untuk memperbaiki sifat pertumbuhan tanaman budidaya adalah dengan melakukan penelusuran sifat tumbuh tanaman baik secara morfologi dan fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keragaan  pertumbuhan kultivar  kedelai asal subtropis yaitu Tambaguro dengan kedelai asal tropis yaitu Anjasmoro yang diberi cekaman kekeringan. Penelitian di lakukan di daerah tropis yaitu di Kelurahan Pasirwangi, Ujung Berung, Bandung menggunakan pot. Pertumbuhan tinggi tanaman kedelai kultivar Tambaguro berkisar 12 cm pada umur 2 MST (minggu setelah tanam) sampai 29 cm pada umur 6 MST, sedangkan tinggi tanaman kultivar Anjasmoro berkisar 10  cm pada 2 MST sampai 32 cm pada 6 MST. Tampilan konduktasi stomata untuk kedua kultivar menunjukkan penurunan seiring umur tanaman (2-6 MST) yaitu berkisar 1094 - 1042 mmol/m²•s untuk Tambaguro, dan 892-1319 mmol/m²•s untuk Anjasmoro. Kultivar Tambaguro memperlihatkan pertumbuhan tinggi tanaman lebih baik dari kultivar Anjasmoro pada awal tumbuh, namun tidak pada pertumbuhan umur lanjut, sedangkan Kultivar Anjasmoro memiliki keunggulan dalam pertumbuhan tinggi pada umur lanjut. Tampilan fisiologis berupa respons konduktansi stomata dan fluoresensi klorofil kultivar Tambaguro lebih baik dari Anjasmoro disemua umur pengamatan, sedangkan dalam kodisi cekaman kekeringan, tampilan fisiologis kedua kultivar  cenderung sama menunjukkan ada potensi keunggulan genetik yang perlu dipertimbangkan, terlebih kultivar Tambaguro ini merupakan jenis kedelai berbiji besar sehingga memiliki keungulan secara ekonomis.Kata Kunci: 
Adaptasi Beberapa Varietas Kedelai di Bawah Tegakan Tanaman Sawit Muda Zainudin, Zainudin; Mustikarini, Eries Dyah; Aini, Sitti Nurul
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p126-133

Abstract

Kedelai merupakan salah satu komoditas yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman sela pada perkebunan tanaman kelapa sawit muda. Namun, rendahnya intensitas cahaya akibat naungan sering menjadi kendala untuk mencapai hasil tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui varietas kedelai yang toleran dan memiliki daya hasil tinggi bila dibudidayakan di bawah naungan tegakan tanaman sawit muda (umur ± 2,5 tahun). Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga April 2020 di Desa Petaling, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka menggunakan rancangan petak terpisah, tiga ulangan. Petak utama adalah kondisi lahan ternaungi dan tidak ternaungi. Anak petak terdiri atas lima varietas kedelai yaitu: Argomulyo, Anjasmoro, Grobogan, Burangrang, dan Demas 1.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat naungan ±38%, varietas Demas 1 dan Anjasmoro lebih toleran dibandingkan varietas Argomulyo, Burangrang dan Grobongan. Varietas kedelai toleran terhadap naungan menghasilkan jumlah polong, jumlah biji, dan bobot biji per tanaman lebih tinggi dibandingkan varietas yang tidak toleran naungan.   
The Effect of Steaming Time on the Textural Characteristics of Two Sweet Potatoes with Different Flesh Colors Joko Susilo Utomo; Erliana Ginting
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p103-110

Abstract

Sweet potatoes have varied physical characteristics based on their flesh colors. Two selected sweet potato (SP) with white (WF) and yellow-fleshed (YF) colors were collected from local market and analyzed their textural characteristics using a Uniaxial compression and Texture Profile Analysis (TPA) test. The study was conducted in the Food Processing Technology Laboratory, Faculty of Food Science Technology, University of Putra Malaysia. All textural attributes were collected from the samples treated with steaming for 5, 10, 15 and 20 min. The moisture content of the samples were determined before and after steaming. The results showed that the moisture content of WF was lower than YF both before and after steaming, which could be declared as a typical moisture content for each flesh color. This resulted in a greater peak deformation or firmness of the fresh tuber found in WF relative to YF.  Steaming SP for 5 min exhibited the “raw” properties tissue, whereas steaming for more than 10 min would generate the “cooked” tissue that significantly affected the textural characteristics. The hardness level decreased considerably along with the time of steaming and was similar for both flesh colors after 15-min steaming. The WF was less adhesive and less elastic; however, it had less chewiness than that of YF. This suggests that the use of WF as a raw material for mashed products would have advantages, such as easiness to mash, less tendency to stick with the cooking tools, and less elastic.
BERTANAM KEDELAI DI TANAH JENUH AIR: OPSI INOVATIF PENGELOLAAN AIR UNTUK KEDELAI DI LAHAN SAWAH IRIGASI T. Adisarwanto
Buletin Palawija No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n1.2001.p24-32

Abstract

Tanaman kedelai masih dominan ditanam di lahan sawah dalam pola tanam padi-padi-kedelai atau padi-kedelai-kedelai. Selama dasawarsa terakhir ini telah dirasakan adanya kondisi iklim khususnya curah uhujan yang tidak menentu dalam arti saat, jumlah dan distribusi dan ditambah dengan adanya angin siklon El Nino basah sehingga tanah sawah mengalami kondisi jenuh . Di lapang menunjukkan bahwa pertanaman kedelai pada awal musim kemarau sering mengalami kondisi jenuh air pada awal pertumbuhan . untuk itu diperlukan upaya agar cekaman jenuh air tersebut tidak banyak berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Dari serangkaian penelitian di luar negeri memperlihatkan bahwa budidaya kedelai di tanah jenuh air memberikan peluang untuk meningkatkan produksi kedelai. Di Australia, budidaya tanah jenuh air dapat meningkatkan hasil kedelai sebesar 25%, sedangkan di daerah Thailand bagian tengah teknologi ini telah diterapkan oleh petani pada areal yang cukup luas dan hasil kedelai naik dari 2,0 menjadi 4 t/ha. Dari hasil penelitian di indonesia juga memberikan peluang.cekaman kondisi jenuh air ini pada umumnya terjadi pada fase vegetatif. Hasil penelitian komponen teknologi kedelai pada kondisi tanah jenuh air diperoleh bahwa tinggi permukaan air dalam saluran draenase 15cm dari permukaan tanah tidak menurunkan hasil kedelai,varietas unggul kedelai berbiji kecil(kawi)dan sedang(wilis)lebih toleran,cekaman tanah jenuh air meningkatkan jumlah bintil akar. Lebar bedengan yang optimal adalah < 2,00 m dengan cara tanam 4 baris beranjak 40cm antar baris dan 10cm dalam baris,sedangkan takaran , jenis dan saat pemberian pupuk anorganik belum menunjukkan hasil yang positif walaupun penambahan pupu Urea dapat meningkatkan hasil kedelai jenuh air ditanah oxisol.Bertanam kedelai di tanah jenuh air merupakan salah satu teknologi opsi inovatif untuk meningkatkan hasil kedelai walaupun di tanah kondisi jenuh air .walaupun begitu masih terlalu dini untuk menyatakan bahwa teknologi ini layak dikembangkan di lahan petani karena masih memerlukan klarifikasi komponen teknologi pada beberapa jenis tanah yang berbeda khususnya di lahan sawah.
Iles-Iles Umbi-Umbian Potensial Sebagai Tabungan Tahunan Astanto Kasno
Buletin Palawija No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n15.2008.p15-20

Abstract

Tanaman iles-iles atau porang tumbuhnya tidak menghedaki syarat ekologis yang terlalu tinggi. Toleransinya terhadap naungan hingga 60% dan dapat dibudidayakan secara intensif maupun non intensif di pekarangan, kawasan wanatani, perkebunan karet, kelapa, sawit dan kakao yang tanaman lain tidak dapat tumbuh. Mengingat mie-baso dan krupuk sudah menjadi pangan nasional yang disukai semua kalangan masyarakat dari sembarang etnik, dan kombinasi tepung ubi-ubian termasuk iles-iles dengan aneka daging dan ikan dapat dibuat mie, baso, krupuk, dan makanan modern seperti agar-agar, konyuku dan shirataki yang bergizi ditambah dengan kegunaannya sebagai bahan baku industri, serta tersedia pasar, maka iles-iles sudah saatnya dipromosikan sebagai tanaman sumber pangan dan pendapatan alternatif.
Back matter Buletin Palawija Volume 16 No 2 Abi Supiyandi
Buletin Palawija Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v16n2.2018.p%p

Abstract


Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2022): Buletin Palawija Vol 20 No 1, 2022 Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue