Buletin Palawija
Buletin Palawija merupakan wadah bagi para peneliti aneka kacang dan umbi untuk mendiseminasikan hasil penelitiannya dalam bentuk naskah review (tinjauan), primer dan komunikasi pendek. Naskah review dan primer mencakup berbagai disiplin ilmu, yaitu pemuliaan tanaman dan plasma nutfah, fisiologi/budidaya, perlindungan, pascapanen, dan sosial-ekonomi termasuk kebijakan pengembangan tanaman palawija. Buletin Palawija bertujuan menyajikan karya penelitian yang dapat memberikan wawasan pada dunia ilmu pengetahuan secara nasional atau international, sehinga naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur teoritis, metodologis, dan/atau inovatif dalam penelitian aneka kacang dan umbi.
Articles
223 Documents
ISU GLOBAL KEAMANAN PANGAN KACANG TANAH II: PROTEIN ARA H SEBAGAI ALERGEN
Eriyanto Yusnawan;
C.P. Marquis;
N.A. Lee
Buletin Palawija No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (249.137 KB)
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n25.2013.p11-17
Konsumsi kacang tanah dapat menimbulkan alergi dengan gejala ringan hingga berat, bahkan dapat menimbulkan kematian bagi pasien yang hipersensitif. Peristiwa ini umum terjadi di negara-negara barat, sehingga menjadi salah satu isu global keamanan pangan kacang tanah. Konsumsi kacang tanah dalam jumlah yang sedikit, mulai dari 100 µg mampu memicu terjadinya alergi. Hingga saat ini terdapat 13 protein kacang tanah, yaitu Ara h1 hingga Ara h13 yang sudah diidentifikasi dan dikarakterisasi. Mayoritas sumber alergen tersebut termasuk dalam seed storage protein. Di antara ke-13 protein Ara h tersebut, Ara h1, Ara h2 dan Ara h3 dikategorikan sebagai alergen utama karena dapat dikenali oleh > 50% serum IgE pasien. Ara h1 dan Ara h2 bersifat tahan terhadap perlakuan suhu dan enzim pencernaan. Tulisan ini mengulas secara komprehensif isu alergen yang disebabkan oleh protein Ara h dan beberapa pendekatan yang sudah dilakukan untuk mengurangi terjadinya alergi ditinjau dari aspek penurunan kandungan Ara h. Beberapa pendekatan untuk mengeliminasi Ara h pada kacang tanah antara lain pengolahan, rekayasa genetika, pemuliaan konvensional selektif dan perlakuan menggunakan enzim. Kombinasi dari beberapa perlakuan akan memberikan hasil yang lebih baik untuk menurunkan kandungan Ara h.
STRATEGI OPTIMALISASI PENGENDALIAN PENYAKIT BERCAK DAUN DAN KARAT PADA KACANG TANAH
Nasir Saleh
Buletin Palawija No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (345.512 KB)
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n3.2002.p37-47
Kacang tanah merupakan sumber lemak dan protein nabati yang penting bagi sebaian besar penduduk Indonesia. Meskipun demikian komoditas ini belum banyak disentuh oleh program-program pembangunan pertanian yang dilakukan oleh pemerintah sehingga produktivitasnya masih rendahyaitu 1,1 t/ha. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas tersebut adalah akibat serangan penyakit karat oleh Puccinia arachidas. Pola perkembangan epidemi, penyakit bercak daun dan karat mengikuti penyakit pola bunga maremuk. Strategi pengendalian yang dapat dilakukan untuk menekan perkembangan epidemi penyakit di lapang adalah dengan cara menekan proporsi tanaman sakit pada saat awal, memperkecil laju inflasi dan mempersingkat waktu terjadinya epidemi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui penerapan pengendalian penyakit secara terpadu (PPT) yang meliputi pengaturan pola tanam, rotasi tanam, saat tanam, menanam varietas tahan, sanitasi lingkungan, eradikasi tanaman sakit dan menyemprot fungisida apabila diperlukan. Optimalisasi hasil pengendalian dapat dilakukan melalui pendekatan kelompok-kelompok tani mencakup hamparan-hamparan luas.
Inovasi Rekayasa Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu Kedelai
Sudaryono Sudaryono
Buletin Palawija No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (59.258 KB)
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n14.2007.p47-59
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) kedelai memiliki makna filosofis sebagai suatu pendekatan dalam budidaya tanaman kedelai yang menekankan pada pengelolaan tanaman, lahan, air, organisme pengganggu tanaman (OPT), sosial ekonomi, dan kelembagaan wilayah secara terpadu. Inovasi rekayasa teknologi PTT kedelai mengandung empat pengertian, yaitu (1) perbaikan, (2) pembaharuan (innovation), (3) kreasi rancangan teknologi, dan (4) pengaturan kombinasi komponen teknologi untuk budidaya tanaman kedelai agar lebih efektif dan efisien. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dikerjakan dapat dirumuskan teknologi budidaya tanaman kedelai untuk agroekologi sawah irigasi teknis, sawah tadah hujan, lahan kering, lahan rawa lebak maupun lahan rawa pasang surut yang mampu meningkatkan produktivitas kedelai di masing-masing agroekologi tersebut. Penerapan PTT pada skala yang lebih luas pada daerah-daerah sentra produksi kedelai di lahan sawah dan lahan kering masam akan berhasil meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani kedelai, dan diharapkan pada gilirannya apabila diterapkan pada skala nasional akan mampu meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri. Gairah petani kedelai akan meningkat bilamana didukung kebijakan dan sistem kelembagaan yang kondusif terhadap serapan kedelai produk petani dalam negeri. Alih teknologi sekaligus sosialisasi teknologi di tingkat petani dapat dirancang dan dilaksanakan di setiap agroekologi.
Kemampuan Daya Saing Komoditas Kedelai pada Wilayah Perluasan Areal Tanam Baru (PATB)
Fachrur Rozi;
Didik Harnowo
Buletin Palawija Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.556 KB)
|
DOI: 10.21082/bulpa.v16n2.2018.p94-103
Swasembada kedelai nasional telah dicanangkan kembali untuk dicapai pada tahun 2020. Namun, saat ini areal tanam kedelai cenderung turun dan daya saingnya rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kesesuaian agroekonomi, dan mengidentifikasi permasalahan dan peluang pengembangan komoditas kedelai pada wilayah perluasan areal tanam baru (PATB). Penelitian dilakukan di lima wilayah yaitu Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, dan Lampung. Permasalahan dan peluang PATB kedelai diidentifikasi internal dan eksternalnya dengan teknik analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peta kekuatan PATB kedelai di masing-masing wilayah berbeda, sehingga diperlukan strategi khusus untuk masing-masing lokasi tersebut. Dengan menghitung indeks daya saing kedelai terhadap tanaman kompetitor di masing-masing PATB dapat disimpulkan bahwa saat ini daya saing kedelai masih lemah dengan tanaman kompetitor kedelai antara lain jagung, ubi kayu, kacang tanah, tembakau, cabai, bawang merah, dan tanaman tahunan. Kemampuan daya saing kedelai di masing-masing wilayah PATB bergantung kepada produktivitas kedelai, tingkat harga kedelai, produktivitas tanaman kompetitor dan tingkat harga komoditas kompetitor. Upaya untuk memperkuat daya saing sekaligus meningkatkan semangat berusahatani kedelai dapat dilakukan dengan penerapan regulasi harga dan atau peningkatan produktivitas kedelai.
PEMULIAAN KACANG TANAH UNTUK KETAHANAN TERHADAP LAYU BAKTERI Ralstonia DI INDONESIA
Novita Nugrahaeni
Buletin Palawija No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (460.77 KB)
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n21.2011.p1-12
Penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum E.F. Smith adalah kendala biotik penting dalam budidaya kacang tanah di Indonesia. Penyakit tersebut sukar dikendalikan dengan hanya satu cara, sehingga perlu dilakukan pengendalian secara terpadu. Penggunaan varietas tahan merupakan komponen penting dalam pengendalian penyakit layu bakteri pada kacang tanah dan salah satu faktor yang dapat menunjang stabilitas hasil. Arti penting ketahanan terhadap penyakit bakteri telah disadari oleh pemulia kacang tanah di Indonesia, sehingga genotipe tahan layu selalu digunakan sebagai salah satu tetua dalam persilangan buatan. Namun, pada kenyataannya ketahanan pada varietas yang didapatkan belum ada yang melebihi atau menyamai ketahanan tetuanya sehingga area penyebaran varietas unggul yang dihasilkan menjadi terbatas. Untuk memperbaiki tingkat dan stabilitas ketahanan terhadap penyakit layu bakteri pada varietas unggul kacang tanah diperlukan beberapa informasi, diantaranya informasi terinci tentang status distribusi penyakit layu terkini, keragaman strain R. solanacearum di lintas sentra produksi, skrining ekstensif plasma nutfah kacang tanah untuk mendapatkan sumber ketahanan yang lebih tinggi dengan karakteristik agronomi yang lebih baik, studi sistematis genetika pewarisan gen pengendali karakter ketahanan untuk memperluas latar belakang genetik ketahanan dan mengetahui hubungan genetik antara ketahanan terhadap penyakit layu bakteri dan penyakit lain, ketahanan terhadap kekeringan, dan penyakit lainnya. Selain itu diperlukan kajian mekanisme dan komponen ketahanan kacang tanah terhadap layu bakteri R. solanacearum untuk memperbaiki teknik penilaian ketahanan dan identifikasi genotipe tahan. Studi yang menyeluruh dan sistematis tentang aspek-aspek penyakit layu bakteri tersebut akan meningkatkan efektivitas strategi pengendalian dan pengembangan varietas unggul kacang tanah dengan ketahanan yang lebih tinggi.
KARAKTERISTIK KEDELAI TOLERAN LAHAN KERING MASAM
Heru Kuswantoro;
Darman M. Arsyad;
Purwantoro .
Buletin Palawija No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3264.477 KB)
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n25.2013.p1-10
Banyaknya kendala yang membatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti kemasaman tanah, keracunan unsur mikro dan kahat unsur makro mengakibatkan hasil biji di lahan kering masam tidak setinggi di lahan optimal. Oleh karena itu awal dari perakitan kedelai untuk lahan kering masam terutama diarahkan untuk perbaikan hasil biji. Secara genetik perbaikan hasil biji menghadapi kendala berupa rendahnya keragaman genetik dan heritabilitas yang tergolong sedang. Genotipe kedelai toleran lahan kering masam biasanya memiliki ukuran biji yang tergolong kecil. Di lain pihak, petani dan industri berbahan baku kedelai lebih senang menggunakan kedelai berbiji besar daripada kedelai berbiji kecil, sehingga selain perbaikan hasil biji juga diperlukan perbaikan ukuran biji. Kendala yang juga dihadapi dalam perbaikan ukuran biji adalah heritabilitas tergolong sedang, namun keragaman genetiknya tergolong luas. Kemajuan yang dicapai dalam perakitan varietas kedelai toleran lahan kering masam saat ini berpeluang untuk diperolehnya kedelai berdaya hasil tinggi dan berbiji lebih besar daripada varietas yang sudah dilepas
Lalat Kacang, Ophiomyia phaseoli Tryon (Diptera: Agromyzidae) pada Tanaman Kedelai dan Cara Pengendaliannya
Wedanimbi Tengkano
Buletin Palawija No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (75.033 KB)
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n5-6.2003.p43-56
Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli Tr.), berstatus hama penting pada tanaman kedelai di Indonesia. Serangan yang berlangsung sejak 4–10 hari setelah tanam (HST) mengakibatkan kematian tanaman, dan serangan setelah 10 HST menyebabkan tanaman kerdil dan polong yang terbentuk hanya sedikit. Lalat kacang tersebar di berbagai negara di dunia termasuk di berbagai daerah di Indonesia, dengan tingkat populasi dan serangan yang tinggi pada musim kemarau. Untuk dapat mengendalikan populasi dan serangan lalat kacang secara tepat, efektif, dan efisien, penelitian berbagai aspek ekobiologi lalat kacang dan cara pengendaliannya telah banyak dilakukan baik di Indonesia maupun di negara-negara lain. Faktor dominan yang menunjang pertumbuhan populasi lalat kacang di alam bebas adalah tersedianya tanaman inang sepanjang tahun secara berlimpah. Di lain pihak, faktor yang berperan dalam menekan populasi lalat kacang adalah musuh alami yaitu parasitoid dan predator. Periode kritis tanaman kedelai terhadap serangan lalat kacang adalah sejak tumbuh sampai tanaman berumur 10 HST. Puncak populasi imago terjadi pada saat tanaman berumur 5 HST atau 6 HST dan terdapat preferensi imago terhadap umur tanaman untuk meletakkan telurnya. Imago lebih menyukai tanaman umur 5 HST sebagai tempat untuk meletakkan telur. Telur diletakkan di permukaan atas kotiledon sebesar 98,16%. Pemantauan populasi imago dapatdilakukan pada pukul 06.00–08.00 saat tanaman berumur 5 HST atau 6 HST, dan pengamatan tanaman terserang dilakukan pada 7 HST atau 8 HST. Cara penentuan tanaman contoh yang akan diamati menggunakan metode diagonal. Keputusan pengendalian didasarkan pada ambang kendali yaitu populasi imago 14ekor/500 tanaman (=1,4 ekor/50 tanaman) pada saat tanaman berumur 5 HST atau 6 HST. Ambang kendali berdasarkan tanaman terserang saat tanaman berumur 7 HST atau 8 HST adalah sebesar 2,5%. Waktu aplikasi insektisida yang tepat adalah pada saat tanaman kedelai berumur 8 HST (= 4 hari setelah tumbuh), pada pukul 06.00–08.00. Berbagai teknologi pengendalian lalat kacang yang secara parsial efektif mengendalikan populasi dan serangan lalat kacang, ternyata di antara berbagai teknologi pengendalian tersebut terdapat perbedaan efektivitas dalam mengendalikan lalat kacang. Selain itu juga terdapat perbedaan efisiensi dalam mempertahankan kapasitas hasil kedelai Wilis. Teknologi pengendalian lalat kacang yang efektif dan efisien adalah cara kimiawi dengan menggunakan insektisida yang bersifat sistemik (monokrotofos), diaplikasikan pada pagi hari saat tanaman berumur 8 HST (= 4 hari setelah tumbuh), dan berdasarkan pemantauan populasi atau tanaman terserang. Usaha untuk mendapatkan varietas kedelai tahan lalat kacang dengan metode seleksi berdasarkan persen kematian tanaman, penting untuk dilanjutkan.
UPAYA PENYEDIAAN VIRUS MURNI UNTUK PEMBUATAN ANTISERUM Soybean Mosaic Virus
Wuye Ria Andayanie
Buletin Palawija No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (226.683 KB)
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n28.2014.p84-92
SMV merupakan salah satu penyebab penyakit mosaik penting pada kedelai (Glycine max L. Merr.) karena dapat mengakibatkan penurunan hasil hingga 57%. Hingga saat ini SMV masih merupakan salah satu kendala bagi peningkatan produksi kedelai. Hingga saat ini, pemuliaan tanaman kedelai lebih diarahkan untuk hasil tinggi, belum ada program pemuliaan untuk ketahanan terhadap penyakit soybean mosaic virus. Pemurnian virus merupakan salah satu langkah penting untuk kajian suatu virus dan pengelolaan penyakit virus tersebut. Virus murni dapat diisolasi dari satu luka lokal (local lesion) pada Chenopodium amaranticolor yang diinokulasi SMV. Tanaman untuk perbanyakan virus (propagative plants) kebanyakan berbeda dengan tanaman inangnya. Pada SMV hanya diperbanyak pada tanaman kedelai. Salah satu faktor untuk keberhasilan pemurnian virus adalah perbanyakan virus pada tanaman inang yang tepat. Metode pemurnian sangat ditentukan oleh karakter virus. Sifat-sifat kimia fisika protein dan asam nukleat yang berbeda antara virus atau strain virus akan menyebabkan metode pemurnian virus sangat bervariasi. Virus murni ini digunakan untuk karakterisasi virus dan pembuatan antiserum. Identifikasi SMV dengan memanfaatkan reaksi antara antigen dan antibodi telah banyak diaplikasikan sebagai alat deteksi keberadaan virus pada tanaman dan evaluasi genotipe sebagai sumber gen dalam program pemuliaan untuk ketahanan terhadap SMV berdaya hasil tinggi.
DERAAN KEKERINGAN PADA TANAMAN UBIJALAR
St. A. Rahayuningsih
Buletin Palawija No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (168.186 KB)
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n20.2010.p%p
Isu perubahan iklim secara global merupakan salah satu tantangan bagi para ahli di bidang masing-masing yang berkaitan dengan iklim. Bidang pertanian menerima dampak yang banyak meresahkan petani. Kekeringan yang berkepanjangan mengakibatkan turunnya produksi pangan lebih dari 22%, bahkan di Papua penurunan produksi pangan lebih dari 50%. Sejak terjadi bencana kekeringan pada tahun 1997 yang berkelanjutan mengakibatkan, kematian yang tinggi pada pertanaman ubijalar (Ipomoea batatas (L.) Lam). Namun masih terdapat kultivar yang tersisa yang diharapkan merupakan kultivar yang secara genetis toleran terhadap deraan kekeringan. Sebagai reaksi terhadap bencana kekeringan telah dilakukan pengujian ketahanan ubijalar terhadap deraan kekeringan dan hasilnya sangat beragam antarkultivar. Hasil evaluasi ketahanan plasma nutfah ubijalar asal Papua yang telah dilakukan tahun 1998 telah diperoleh 14 kultivar yang toleran terhadap kekeringan dan mampu menghasilkan umbi pada perlakuan kekeringan. Penelitian ketahanan terhadap kekeringan di Balitkabi terus berlanjut hingga sekarang, namun indikator morfologis dan fisiologis belum dapat diketahui secara pasti. Pada kultivar ubijalar tertentu kelayuan tajuk dapat digunakan sebagai indikator peka terhadap kekeringan, pada kultivar lain indikator ketahanan ditunjukkan dengan sifat perakaran. Kandungan prolin kultivar ubijalar yang meningkat pada kondisi terdera kekeringan belum dapat digunakan sebagai indikator toleransinya terhadap deraan kekeringan walaupun pada jenis tanaman tertentu peningkatan kadar prolin dapat digunakan sebagai ketahanan terhadap kekeringan. Pada kultivar ubijalar yang peka terhadap kekeringan produksi umbi dapat turun lebih dari 50–70 % terhadap kondisi normal, sedang kultivar yang toleran penurunan produksi di bawah 20%. Dengan menanam kultivar yang toleran terhadap deraan kekeringan kerugian petani dapat ditekan.