cover
Contact Name
Haerul Akmal
Contact Email
haerulakmal@unida.gontor.ac.id
Phone
+6282338265493
Journal Mail Official
jurnalcomparativeofsharialaw@unida.gontor.ac.id
Editorial Address
Jln Raya Siman, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia (Unversitas Darussalam Gontor, Gd CIES Lt.1)
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
JOURNAL OF INDONESIAN COMPARATIVE OF SYARIAH LAW
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal of Indonasian Comaparative of Syariah Law is a journal published by the University of Darussalam Gontor with its focus and scope related to Islamic Law, such as: Islamic and Positive Law Islam and Contemporary Issues Syariah Law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 128 Documents
THE REVIEW OF EMERGENCY CONCEPT IN ISLAMIC LAW TOWARDS THE FATWA OF THE INDONESIAN ULEMA COUNCIL NO. 14 OF 2021 ON THE USE OF ASTRAZENECA'S COVID-19 VACCINE Khairatun Hisan; Andini Rachmawati
Journal of Indonesian Comparative of Syari'ah Law Vol 5, No 2 (2022): Comparative of Syari'ah Law
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jicl.v5i2.7028

Abstract

The increase in the number of patients caused by COVID-19 makes the government try to reduce the number of disease victims with various efforts, one of which is vaccination. One of the vaccines that have been registered to the Indonesian Ulema Council is AstraZeneca vaccine products. Based on MUI fatwa No. 14 of 2021, the vaccine is haram because it uses pork-derived trypsin in its production but become allowed because of emergencies and some of the reasons in the fatwa. Nevertheless, the implementation of the fatwas is less than optimal, one of which is due to the fatwa MUI that is not binding.Some people refuse to use the vaccine because it is considered not currently included in the emergency. After all, other vaccines are halal and pure to use. This research aims to review emergency concepts in Islamic law towards fatwa MUI No. 14 of 2021 on AstraZeneca Product Vaccine Use Law.This research is qualitative research using normative Islamic legal research methods with document study data collection techniques. The data analysis used is inductive.The results of research that has been conducted show that the use of emergency concepts in MUI fatwa No.14 of 2021 Concerning the Use of COVID-19 Vaccine AstraZeneca products have been following the concept of emergency in Islam which includes fears of loss of life and limbs; emergencies that have occurred; there is no other way to avoid an emergency except by performing prohibited acts; the discovery of halal and sacred medicine and the recommendation of a credible doctor; not contrary to the basic Islamic sharia, including safeguarding the rights of others; there is a statement from the Government that the emergency has occurred in a country;and must prevent it with reasonable levels.Keywords: Emergency, MUI Fatwa, Islamic Law, AstraZeneca Vaccine.
Penegakan Hukum Terhadap Penguasaan Tanah Lahan Persawahan Milik Orang Lain Pada Kelurahan Rejomulyo Kota Metro (Studi Putusan Nomor : 7/Pdt.G/2022/Pn.Met) vevi Harzayni
Journal of Indonesian Comparative of Syari'ah Law Vol 5, No 2 (2022): Comparative of Syari'ah Law
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jicl.v5i2.8971

Abstract

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui, memahami dan menganalisis penegakan hukum terhadap penguasaan tanah lahan persawahan milik orang lain dan menganalisis akibat hukum penguasaan tanah lahan persawahan milik orang lain pada Kelurahan Rejomulyo Kecamatan Metro Selatan Kota Metro berdasarkan Studi Putusan Nomor : 7/Pdt.G/2022/PN.Met. metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini yaitu dengan menggunakan penelitian hukum normative. Dalam hukum tanah di kenal juga penguasaan yuridis yang tidak memberi kewenangan untuk menguasai tanah yang bersangkutan secara fisik. Kreditor pemegang hak jaminan atas tanah mempunyai hak penguasaan yuridis atas tanah yang dijadikan agunan, tetapi penguasaannya yuridis atas tanah yang dijadikan agunan, tetapi penguasaannya secara fisik tetap ada pada yang mempunyai tanah. Hak penguasaan atas tanah apabila sudah dihubungkan dengan tanah orang (badan hukum tertentu, maka yang dimaksud dengan hak penguasaan atas tanah adalah hak penguasaan yang didasarkan pada suatu hak maupun suatu kuasa yang pada kenyataannya memberikan wewenang untuk melakukan perbuatan hukum sebagaimana layaknya orang yang mempunyai hak.
Analisis Penerapan Wewenang Komisi Yudisial Dalam Hal Penyadapan Ditnjau Dari Konsep Al-Ḍararu Yuzālu Biqodri Al-Imkān Fauziah Wiranti Brilliana
Journal of Indonesian Comparative of Syari'ah Law Vol 5, No 2 (2022): Comparative of Syari'ah Law
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jicl.v5i2.7684

Abstract

Maraknya praktik judicial corruption yang diawali dengan pelanggaran kode etik Hakim, menuntut lembaga Komisi Yudisial untuk bertindak lebih tegas dalam mengawasi perilaku Hakim. Guna meminimalisir aksi “Hakim nakal” tersebut, KY memiliki pasal mengenai kewenangan penyadapan. Namun statusnya yang merupakan lembaga non-penyidik dan hanya berfungsi mengawasi kode etik hakim, membuat beberapa pihak tidak menyetujui keberadaan pasal penyadapan itu. Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis bermaksud untuk mengkaji penerapan wewenang penyadapan oleh KY dalam proses pengawasan dan penegakan kode etik Hakim dengan ditinjau melalui salah satu konsep kaidah fiqhiyyah yaitu, kaidah al-ḍararu yuzālu biqodri al-imkān. Metode penelitian dalam tulisan ini bersifat penelitian pustaka (library research). Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Teknik pengumpulan data didapat melalui analisis buku-buku, jurnal, maupun literatur lainnya. Data yang berhasil dikumpulkan kemudian diolah menggunakan analisis kualitatif deskriptif, dimana hasil penelitian dituangkan secara deskriptif bukan dengan hitungan angka. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam tinjauan konsep al-ḍararu yuzālu biqodri al-imkān, menerapkan wewenang penyadapan oleh KY sangat dibutuhkan dalam proses pengawasan dan penegakan kode etik hakim guna mencegah kejahatan Hakim yang berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar bagi masyarakat. Kata Kunci: Komisi Yudisial, Wewenang Penyadapan, Kaidah Fiqhiyyah Al-Ḍararu Yuzālu Biqodro Al-Imkān
Dowry in the light of the purposes of Sharia according to Ibn Ashour Mar'ati Sholihah; Imron Rosyadi; Mohammad Abdul Kholiq Hasan
Journal of Indonesian Comparative of Syari'ah Law Vol 5, No 2 (2022): Comparative of Syari'ah Law
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jicl.v5i2.8060

Abstract

This research deals with a topic about a woman's dowry in the light of the legitimate purposes of one of the intentional scholars, Sheikh Ibn Ashour. The research clarifies the woman's dowry, her portrayal, and the purposes of Sharia according to Ibn Ashour, then analyzes and achieves them in the three interests. And this research has tried to answer problems, the most important of which is the nature of the woman's dowry according to Ibn Ashour and how to achieve it in the three interests? This research aims to know the dowry of a woman according to Ibn Ashour. The method of this research is an analytical desk research by depicting the woman’s alimony and analyzing it according to the opinions of the legitimate purposes of Sheikh Ibn Ashour and some scholars, and as a result: that the necessary purposes of the woman’s dowry are: preserving lineage, and it is a general purpose of marriage, which is the reason for the necessity of this alimony, so the woman assumes her responsibility In the marriage in which the offspring is preserved, then the soul is preserved, because the woman is imprisoned from the benefits of her husband and she is forbidden from disposing of his rights except with his permission, so she must be provided with her provision and her maintenance, and the protection of the woman from the deadly work is the maintenance of the poor woman. Then he preserves the religion while she finds a woman who can guarantee her so that she does not go out to forbidden actions, and differentiate between adultery, incest, and cheating. Al-Tahsiniyyah is: the woman’s maintenance while she is rich, and the achievement of the woman’s respect for the authority of the man. Key words: dowry, purposes of Sharia, three interests, Ibn Ashour
PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA TANPA HAK DENGAN SENGAJA TURUT SERTA MENAWARKAN KEPADA KHALAYAK UMUM UNTUK BERMAIN JUDI (Studi Putusan Nomor: 489/Pid.B/2022/PN.Tjk) Prawira Dinata, Alga
JOURNAL OF INDONESIAN COMPARATIVE OF SYARIAH LAW Vol 6 No 1 (2023): Hukum dan Hukum Islam
Publisher : Journal of Indonesian Comparative of SyariÆah Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jicl.v6i1.9259

Abstract

The aim of the research is to analyze law enforcement efforts made by the police in uncovering the crime of gambling at Tanjung Karang Decision Number: 489/Pid.B/2022/PN.Tjk and to analyze the inhibiting factors faced by the police in handling and uncovering cases of gambling crimes in an effort to enforce the law in Tanjung Karang Decision Number: 489/Pid.B/2022/PN.Tjk. The research method uses normative research. Gambling in Indonesia is not a new problem. The development of gambling in Indonesia has been carried out for a long time. Therefore, every development of gambling in Indonesia needs to be handled seriously by law enforcement officials in order to implement and establish social life that supports better development. Criminal law enforcers in dealing with gambling problems in Indonesia have received many responses from the public regarding the difficulty of law enforcement officials in enforcing criminal law.
PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARIAH DALAM HUKUM ISLAM SERTA PANDANGAN HUKUM POSITIF PADA PELAKSANAANNYA Fatkhurakman, Fuad; Syufaat, Syufaat
JOURNAL OF INDONESIAN COMPARATIVE OF SYARIAH LAW Vol 6 No 1 (2023): Hukum dan Hukum Islam
Publisher : Journal of Indonesian Comparative of SyariÆah Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jicl.v6i1.9702

Abstract

AbstratcThis study aims to determine the Alternative Dispute Resolution (APS) model which includes mediation, negotiation, conciliation, and arbitration in Positive Law and Islamic law which are taken from the Al-Qur'an and Al-Hadith. The essence of the problem to be uncovered in this study is to find Dispute Resolution models at the time of Rasulullah SAW and the mechanism according to Positive Law in resolving sharia economic disputes. The research method used in this study is a literature study research model by relying on books, articles, journals, and turots as sources of research data. The results of this study found that at the time of the Prophet Muhammad SAW had encountered the practice of resolving disputes through Alternative Dispute Resolution (APS). This is proven by, first, the finding of the arguments for negotiation, mediation, conciliation and arbitration from the Qur'an and Hadith, secondly, the prophet Muhammad SAW negotiated with Suhail Bin 'Amr as a negotiator for the polytheists in the form of a hudaibiyah agreement, the three prophets Muhammad SAW became a mediator in reconciling two people from the ansor circles who were in dispute over material rights, fourth it was found that the prophet Muhammad SAW justified the arbitration carried out by Abu Shuraykh and Sa'ad Bin Muadz.Keywords: Dispute Resolution, Sharia Economy, Positive Law, Islamic Law.AbstrakPenelitian ini bertujuan mengetahui model Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) yang meliputi mediasi, negosiasi, konsiliasi, dan arbitrase dalam Hukum Positif dan hukum Islam yang dipetik dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Inti permasalahan yang ingin diungkap dalam penelitian ini adalah menemukan model-model Penyelesaian Sengketa pada zaman Rasulullah SAW dan mekanismenya menurut pandangan Hukum Positif dalam menyelesaikan sengketa ekonomi syariah. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian studi kepustakaan dengan mengandalkan buku, artikel, jurnal, dan turots sebagai sumber data penelitian. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa pada masa Rasululloh SAW telah dijumpai praktek pendamaian sengketa melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS). Hal ini di buktikan dengan, pertama, ditemukannya dalil negosiasi, mediasi, konsiliasi dan arbitrase dari Al-Qur’an dan Hadits, kedua, nabi Muhammad SAW melakukan negosiasi dengan Suhail Bin ‘Amr sebagai negosiator kaum musyrik dalam wujud perjanjian hudaibiyah, ketiga nabi Muhammad SAW menjadi mediator dalam mendamaikan dua orang dari kalangan ansor yang berselisih dalam hak kebendaan, keempat ditemukan bahwa nabi Muhamad SAW membenarkan arbitrase yang dilakukan oleh Abu Syuraikh dan Sa’ad Bin Muadz.Kata-kata kunci : Penyelesaian Sengketa, Ekonomi Syariah, Hukum Positif, Hukum Islam.
EFEKTIVITAS HUKUM PENERAPAN RETRIBUSI PROGRAM PARKIR BERLANGGANAN KABUPATEN SUMEDANG DIDASARKAN PADA PERATURAN YANG BERLAKU Yusup, Yuki
JOURNAL OF INDONESIAN COMPARATIVE OF SYARIAH LAW Vol 6 No 1 (2023): Hukum dan Hukum Islam
Publisher : Journal of Indonesian Comparative of SyariÆah Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jicl.v6i1.9710

Abstract

Retribusi merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah yang dalam pemungutannya harus sesuai dengan perundang-undangan. Sebagai bagian dari otonomi daerah Pemerintah Kabupaten Sumedang memberlakukan Retribusi Program Parkir Berlangganan yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Sumedang, pada pelaksanaanya belum dapat mencapai target dan tujuan karena belum efektifnya regulasi dan penerapannya serta ditemukan adanya benturan antara regulasi dengan kenyataan dilapangan. Tujuan penelitian ini adalah mengukur sejauh mana keefektivan peraturan yang berlaku dalam Retribusi Program Parkir Berlangganan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Hasil yang didapatkan adalah Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Perubahan Kedua Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Retribusi Jasa Umum dan Peraturan Bupati Kabupaten Sumedang Nomor 89 Tahun 2022 Tentang Penyelenggaraan Parkir yang menjadi dasar hukum dan pelaksanaan dari Retribusi Program Parkir Berlangganan belum efektif karena memiliki kekurangan dalam faktor hukum, faktor penegak hukum, faktor fasilitas dan sarana hukum, faktor masyarakat dan faktor kebudayaan.Kata Kunci: Efektivitas, Hukum, Retribusi Program Parkir Berlangganan
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PELAKU USAHA PADA TRANSAKSI BISNIS SOCIAL COMMERCE TIKTOK SHOP (PERSPEKTIF HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM) Ulya, Widadatul
JOURNAL OF INDONESIAN COMPARATIVE OF SYARIAH LAW Vol 6 No 1 (2023): Hukum dan Hukum Islam
Publisher : Journal of Indonesian Comparative of SyariÆah Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jicl.v6i1.9746

Abstract

Social commerce merupakan media transaksi bisnis melalui sistem elektronik yang dikembangkan dalam aplikasi social media. TikTok Shop menjadi social commerce yang tumbuh akif sejak tahun 2020 dan diminati konsumen. Transaksi bisnis menggunakan aplikasi social commerce tidak memerlukan adanya tatap muka ataupun prosedur know your customer berdampak pada kemudahan munculnya tindak pidana, seperti penipuan dan pencurian data pribadi yang mengancam pelaku usaha (seller). Oleh sebab itu, sangat penting dilakukan analisis bentuk perlindungan hukum bagi pelaku usaha dalam transaksi bisnis social commerce, khususnya TikTok Shop. Penelitian dengan jenis kualitatif ini menggunakan metode kepustakaan dan pendekatan yuridis normatif. Data sekunder yang terkumpul dianalisis dan diuraikan secara deskriptif untuk memberikan pemahaman yang komprehensif. Penelitian ini menarik kesimpulan bahwa bentuk perlindungan hukum bagi pelaku usaha secara preventif termuat dalam KUH Pidana, UUPK, UU ITE, PP PMSE dan Permendag No. 50/2020, dimana pelaku usaha berhak atas perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik. Jika terjadi tindak pidana penipuan oleh konsumen, maka konsumen dapat dihukum pidana maksimal 4 tahun. Menurut perspektif hukum Islam pelaku usaha dapat menerapkan prinsip kehati-hatian, agar terhindar dari maysir, gharar dan riba’, sehingga tercipta iklim persaingan usaha yang adil dan sehat.
MODEL SISTEM PERADILAN DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN DI INDONESIA Safira, Mirza Elmy
JOURNAL OF INDONESIAN COMPARATIVE OF SYARIAH LAW Vol 6 No 1 (2023): Hukum dan Hukum Islam
Publisher : Journal of Indonesian Comparative of SyariÆah Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jicl.v6i1.9750

Abstract

Fungsi sistem peradilan pidana untuk menanggulangi kejahatan sangat diperlukan dalam penegakan hukum. Akan tetapi sistem yang ada sekarang belum berfungsi secara optimal. Hal itu dikarenakan banyak hal-hal yang belum sesuai dengan kondisi masyarakat. Kondisi masyarakat terus berkembang, memaksa hukum untuk berkembang pula, menyesuaikan dengan keinginan masyarakat agar tetap menjaga rasa keadilan dan kepastian hukum yang selama ini diinginkan. Jenis penelitian ini  menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian ini menyarankan sesungguhnya sistem peradilan pidana yang ideal seharusnya mencakup tiga nilai pokok hukum: keadilan, kepastian hukum, dan kenyamanan. Baik secara teoritis ataupun praktis, tidak mudah untuk mengimplementasikan ketiga nilai dasar tersebut secara harmonis  Agar hukum dapat berfungsi dengan optimal dan sesuai dengan keinginan masyarakat, maka tentu sistem yang ada sekarang harus diperbaharui dengan sistem yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Sistem peradilan pidana merupakan salah satu sistem yang harus diperbaharui, mengingat fungsi dan kewenangannya yang sentral, yaitu memberikan kepastian hukum dan keadilan masyarakat. Sistem peradilan pidana adalah instrumen hukum pemberantasan kejahatan, ia harus menunjukkan keserasian dan keterkaitan antar subsistem, membentuk satu kesatuan keterkaitan yang menghadirkan rasa keadilan dan kepastian hukum bagi para pencari keadilan.
CONCURRENT MINISTERIAL POSITIONS: CONSTITUTIONAL AND AL-MAWARDI PERSPECTIVES Ridho, Muhammad Ali
JOURNAL OF INDONESIAN COMPARATIVE OF SYARIAH LAW Vol 6 No 1 (2023): Hukum dan Hukum Islam
Publisher : Journal of Indonesian Comparative of SyariÆah Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jicl.v6i1.9828

Abstract

Concurrent positions is a political phenomenon that is very widespread nowadays in Indonesia, especially the concurrent ministerial positions from party cadres to even the general chairman of the party. This concurrent position results in the emergence of problems that are very vulnerable to abuse of power and conflicts of interest. The purpose of this study is to find out the arrangements for multiple ministerial posts based on article 23 of the law on state ministries, to find out Al-Mawardi's opinion on the issue of multiple positions, and to find out how the concept of an ideal ministerial position will be in the future. In this study the research method used by researchers is normative juridical, namely the statutory approach and the doctrinal approach. From a juridical perspective, the prohibition of concurrent ministerial positions has been regulated in Article 23 of law number 39 of 2008 concerning state ministries. But in that article the prohibition of holding multiple ministerial posts is not specifically regulated. Implicitly, Al-Mawardi explained that a minister must focus on devoting himself to the head of state in particular and the state in general. Because ministers must be the eyes and ears of the head of state, that is, they are required to be sensitive and observant about a problem that exists in that country. A minister must build integrity in the ministry to prevent the emergence of power instability. Therefore, an alternative concept for dealing with multiple ministerial positions can use a meritocracy system or zaken cabinet so that in the future ministers with ideal specifications will not result in conflicts of interest and abuse of power.Keywords: Concurrent positions, Minister, Constitutional, Al-Mawardi.

Page 6 of 13 | Total Record : 128