cover
Contact Name
Rizki Susanto
Contact Email
jrtie.pai.2018@gmail.com
Phone
+6285345430860
Journal Mail Official
Rizkisusanto.pai@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjend Suprapto, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78113
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Journal of Research and Thought on Islamic Education (JRTIE)
ISSN : 26228203     EISSN : 26225263     DOI : https://doi.org/10.24260/jrtie
JRTIE mengundang para cendekiawan, peneliti, pengkaji, peminat, dan mahasiswa untuk menyumbangkan hasil penelitian dan pemikirannya tentang Pendidikan Agama Islam yang mencakup penelitian pustaka dan penelitian lapangan dengan berbagai perspektif, seperti; hukum, filsafat, mistisisme, sejarah, seni, teologi, sosiologi, antropologi, ilmu politik dan lain-lain. Naskah yang diserahkan kepada JRTIE adalah artikel yang belum diterbitkan, tidak sedang dipertimbangkan untuk publikasi di tempat lain dan semua orang yang berhak atas kepenulisan telah disebutkan namanya dan telah menyetujui versi terakhir dari naskah yang diserahkan.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2018)" : 8 Documents clear
PENGUATAN LITERASI BARU PADA GURU MADRASAH IBTIDAIYAH DALAM MENJAWAB TANTANGAN ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Hamidulloh Ibda
Journal of Research and Thought on Islamic Education Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.086 KB) | DOI: 10.24260/jrtie.v1i1.1064

Abstract

Abstract: In answering the fourth industrial revolution era, basic Islamic education institutions did not adequately apply old literacy (reading, writing, arithmetic), but had to apply new literacy (data literacy, technology literacy and human resource literacy or humanism). This article discusses the challenges and opportunities of basic Islamic education in the era of the fourth industrial revolution. Strengthening new literacy in Islamic elementary education teachers as a key to change, revitalizing literacy-based curriculum and strengthening the role of teachers who have digital competencies. The teacher plays a role in building competency generation, character, having new literacy skills, and high-level thinking skills. Islamic elementary education as a basis for determining intellectual, spiritual, and emotional intelligence in children must strengthen 21st century literacy skills. Start creative aspects, critical thinking, communicative, and collaborative. Islamic elementary education is urgently needed to strengthen new literacy and revitalize digital-based curriculum. Curriculum revitalization refers to five basic values of good students, namely resilience, adaptability, integrity, competence, and continuous improvement. Islamic elementary education educators must be digital teachers, understand computers, and be free from academic illness. The goal is to realize high competency generation, character and literacy to answer the challenges of the fourth industrial revolution era. Abstrak: Dalam menjawab era Revolusi Industri 4.0, lembaga pendidikan dasar Islam tidak cukup menerapkan literasi lama (membaca, menulis, berhitung), tetapi harus menerapkan literasi baru (literasi data, literasi teknologi dan literasi sumber daya manusia atau humanisme). Artikel ini membahas tantangan dan peluang pendidikan dasar Islam di era Revolusi Industri 4.0. Penguatan literasi baru pada guru pendidikan dasar Islam sebagai kunci perubahan, revitalisasi kurikulum berbasis literasi dan penguatan peran guru yang memiliki kompetensi digital. Guru berperan membangun generasi berkompetensi, berkarakter, memiliki kemampuan literasi baru, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Pendidikan dasar Islam sebagai dasar penentu kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional pada anak, harus memperkuat keterampilan literasi abad 21. Mulai aspek kreatif, pemikiran kritis, komunikatif, dan kolaboratif. Pendidikan dasar Islam urgen memperkuat literasi baru dan revitalisasi kurikulum berbasis digital. Revitalisasi kurikulum mengacu pada lima nilai dasar dari peserta didik yang baik, yaitu ketahanan, kemampuan beradaptasi, integritas, kompetensi, dan peningkatan berkelanjutan. Pendidik pendidikan dasar Islam harus menjadi guru digital, paham komputer, dan bebas dari penyakit akademis. Tujuannya mewujudkan generasi berkompetensi tingkat tinggi, karakter dan literasi untuk menjawab tantangan era Revolusi Industri 4.0.
MANAJEMEN PENINGKATAN KUALITAS DOSEN (Studi Kasus pada Fakultas Tarbiyah UIN Malang) S. Nor Hasanah Yasir
Journal of Research and Thought on Islamic Education Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.728 KB) | DOI: 10.24260/jrtie.v1i1.1069

Abstract

Abstract: This paper aims to uncover the management of improving the quality of Tarbiyah Faculty lecturers at UIN Malang about why and how universities conduct management to improve the quality of lecturers related to Tri Dharma. The method used in this study is a qualitative method with a case study approach of naturalistic inquiry. There are three dominant factors that influence the quality of the Tarbiyah Faculty lecturers at UIN Malang choosing the management of improving the quality of lecturers, namely internal factors, external factors, and the leader's excellence factors which then have divine, natural, human, scientific and global characteristics. The fundamental reason for the Tarbiyah Faculty of UIN Malang to choose management to improve the quality of lecturers is to realize the big ideals of making UIN Malang as the center of Islamic civilization with the power of solidity of faith, spiritual depth, majesty of knowledge, breadth of knowledge, and professional maturity. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap manajemen peningkatan kualitas dosen Fakultas Tarbiyah UIN Malang tentang mengapa dan bagaimana PTIN melakukan manajemen peningkatan kualitas dosen terkait dengan Tri Dharma PTIN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif denagn pendekatan studi kasus bersifat inquiry naturalistik. Ada tiga faktor dominan yang memengaruhi kualitas dosen Fakultas Tarbiyah UIN Malang memilih manajemen peningkatan kualitas dosen, yaitu faktor internal, faktor eksternal, dan faktor keunggulan pemimpin yang selanjutnya memiliki karakteristik ilahiyah, alamiah, insaniyah, ilmiah, serta global. Alasan mendasar Fakultas Tarbiyah UIN Malang memilih manajemen peningkatan kualitas dosen ialah ingin mewujudkan cita-cita besar yaitu menjadikan UIN Malang sebagai pusat peradaban Islam dengan kekuatan kekokohan aqidah, kedalaman spritual, keagungan ahlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional
NILAI-NILAI MULTIKULTURAL DAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM TRADISI TEREMPOH MELAYU SINTANG Dian Findhiani Eka Hadi Lestari; Syamsul Kurniawan
Journal of Research and Thought on Islamic Education Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.401 KB) | DOI: 10.24260/jrtie.v1i1.1065

Abstract

This research is a study of the trempoh tradition that was carried out by the Malay community in sub-district Sintang, Districts Sintang, province West Borneo. The trempoh tradition is a repertoire of local culture that serves as a means of friendship and unifying between tribes, religions and ethnicities living in sub-district Sintang. This research determine to know how the implementation, multicultural values, and Islamic education values from the trempoh tradition. This research is a field research that uses descriptive qualitative method to describe the implementation and values of the tradition that are supplanted through observation, interviews and documents related to the tradition. The results of this study explain that the implementation of the trempoh tradition consists of the takbiran activities, family terempoh, male trempoh, female trempoh, and family terempoh. In the trempoh traditions there are multicultural values, such as: diversity, equality, humanity, justice, and democracy, while the Islamic education values from trempoh traditions, such as: religious, compassion, politeness, and social care. Penelitian ini merupakan studi terhadap tradisi terempoh yang dilakukan oleh masyarakat Melayu di Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Tradisi terempoh merupakan khasanah budaya lokal yang berfungsi sebagai sarana silaturahmi dan pemersatu antar suku, agama dan etnis yang tinggal di Kecamatan Sintang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan, nilai-nilai multikultur, dan nilai-nilai pendidikan Islam dari tradisi terempoh. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk memaparkan pelaksanaan dan nilai-nilai dari tradisi terempoh melalui observasi, wawancara dan dokumen terkait tradisi terempoh. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pelaksanaan tradisi terempoh terdiri dari kegiatan takbiran keliling, terempoh keluarga, terempoh laki-laki, terempoh perempuan, dan terempoh kaum kerabat. Dalam tradisi terempoh terdapat nilai-nilai multikultural, berupa: keragaman, kesetaraan, kemanusiaan, keadilan, dan demokrasi, sementara nilai-nilai pendidikan Islam dari tradisi terempoh, yaitu: religius, kasih sayang, kesantunan, dan kepedulian sosial.
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DALAM PANDANGAN ADIAN HUSAINI Ahmad Yazid
Journal of Research and Thought on Islamic Education Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.219 KB) | DOI: 10.24260/jrtie.v1i1.1070

Abstract

Abstract: Education character that has been done at this time seems still unable to show its success in improving the nation character. Although it is too early to assess the success of the new idea, by looking at the various cases of moral degradation which is lately increased by students, it strengthens that character education still needs attention and improvement. By this, the government is supposed to provide the space for the education observers for contributing their thought and patching the gap that is still lacking from the character education. In this occasion, the researcher raises the thought of one of the Islamic Education form, namely Adian Husaini, discussing about his contributions aim to improve the education. By borrowing the concept of Islamic Education from Syed Muhammad Naquib Al-Attas, which bases on ta’dib, Adian Husaini arranges that Islam is the main principle in Islamic education and character education. Thus, all important aspects such as objectives, curriculum and evaluation must run according to the Islamic worldview. The hope is that education can generate the generation of believers, devout, civilized, and intelligent and noble. Abstrak: Pendidikan karakter yang telah dilaksanakan saat ini, terlihat masih belum mampu menunjukkan keberhasilannya dalam memperbaiki karakter bangsa. Meskipun terlalu dini untuk menilai keberhasilan dari gagasan yang masih berusia muda tersebut, namun dengan melihat berbagai kasus degradasi moral yang semakin marak dilakukan oleh para pelajar akhir-akhir ini, menguatkan bahwa pendidikan karakter masih perlu mendapatkan perhatian dan perbaikan. Dengan ini, maka sudah sepatutnya pemerintah memberikan ruang kepada para pemerhati pendidikan untuk menyumbangkan pemikirannya, menambal celah yang masih kurang dari pendidikan karakter. Pada kesempatan ini, peneliti mengangkat pemikiran salah satu tokoh pendidikan Islam, yaitu Adian Husaini, mengenai sumbangsihnya dalam rangka perbaikan pendidikan. Dengan meminjam konsep pendidikan Islam dari Syed Muhammad Naquib Al-Attas, yaitu berbasis pada ta’dib, Adian Husaini merumuskan bahwa Islam merupakan asas utama dalam pendidikan Islam dan pendidikan karakter. Dengan demikian, segala aspek penting seperti tujuan, kurikulum dan evaluasi pendidikan haruslah berjalan sesuai dengan pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Harapannya, pendidikan dapat melahirkan generasi yang beriman, bertakwa, beradab, cerdas, serta berakhlak mulia.
KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN SEKOLAH EFEKTIF DI MTS MUHAMMAD BASIUNI IMRAN SAMBAS Alhadi Alhadi
Journal of Research and Thought on Islamic Education Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.895 KB) | DOI: 10.24260/jrtie.v1i1.1066

Abstract

Abstract: Madrasah is one of the educational institutions of Islam to educate the next generation and the most important element is the leader. As a leader, the head of the madrasah plays an important role in determining the direction of policy. In order to make the madrasah that they lead become madrasah that have competitiveness in the melinial era, these madrasah must develop effective schools. By using descriptive methods and equipped with a qualitative approach, this paper describes the effective school that has been implemented by the Head of MTs Muhammad Basaranai Imran Sambas as stated in Minister of National Education Regulation No. 19/2007 concerning Education Management Standards by Primary and Secondary Education Units. First, program planning, including; the initial planning process, the strategy of designing program planning, standards or indicators of success in achieving goals, the influence of planning on the managerial course of the principal. Second, program implementation, including; share tasks and routine explanations about work and responsibilities, build communication with all school residents well, provide motivation to colleagues so that they can work effectively and efficiently in achieving goals, running managerial based on school management guidelines, managing human resources, managing relationships with parents and the community, overcoming managerial constraints. Third, program evaluation, including; the method used in evaluating, follow-up program, the things discussed in the evaluation, and the perceived influence after evaluation. Abstrak: Madrasah merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang menjadi wadah untuk mendidik generasi penerus bangsa dan elemen terpentingnya ialah pemimpin. Sebagai seorang pemimpin, kepala madrasah memegang peranan penting dalam menentukan arah kebijakan. Untuk menjadikan madrasah yang dipimpinnya menjadi madrasah yang memiliki daya saing di era melinial, madrasah tersebut harus mengembangkan sekolah efektif. Dengan menggunakan metode deskriptif dan dilengkapi dengan pendekatan kualitatif, tulisan ini menggambarkan sekolah efektif yang telah diterapkan oleh Kepala MTs Muhammad Basiuni Imran Sambas sebagaimana yang tertuang dalam Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Pertama, perencanaan program, meliputi; proses awal perencanaan, strategi merancang perencanaan program, standar atau indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan, pengaruh perencanaan terhadap jalannya manajerial kepala sekolah. Kedua, pelaksanaan program, meliputi; membagi tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan dan tangung jawab, membangun komunikasi dengan seluruh warga sekolah dengan baik, pemberian motivasi kepada rekan-rekan kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan, menjalankan manajerial berdasarkan pedoman pengelolaan sekolah, mengelola SDM, mengelola hubungan dengan orang tua dan masyarakat, mengatasi kendala-kendala dalam manajerial. Ketiga, evaluasi program, meliputi; metode yang digunakan dalam melakukan evaluasi, program tindak lanjut, hal-hal yang dibicarakan dalam evaluasi, dan pengaruh yang dirasakan setelah evaluasi.
INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMP NEGERI 4 SUNGAI RAYA Purwaningsih- Rianawati- Kartini
Journal of Research and Thought on Islamic Education Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.315 KB) | DOI: 10.24260/jrtie.v1i1.1071

Abstract

This research conducted because of the gap between what is done by Islamic religious education teachers in the process of internalizing the character values carried out by the teacher towards studentsespecially in the preparation of lesson plan This study used descriptive method with a qualitative approach. The technique of checking the validity of the data using triangulation and member check. Based on the results of the data obtained by the researchers, the following conclusions are produced: 1) internalization of the preliminary activities with the character values of discipline, religious, social care and discipline, curiosity, independence, communicative, 2) internalization of the core learning activities emphasize the process the formation of students' learning experiences in certain subject matter/material; and 3) internalization of the final activity by means of the teacher concludes the lesson that has been delivered (the character value is creative, cooperative and communicative) then the teacher evaluates at the end of the learning (the character value is independent, creative and responsible) provides the final motivation for students (character value is curiosity and respect for achievement) then reads the prayer and ends with greeting (the value of the character is religious). Penelitian ini terjadi karena adanya kesenjangan antara apa yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam dalam proses internalisasi nilai-nilai karakter yang dilakukan guru terhadap siswa. terutama dalam penyusunana RPP. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tehnik pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi dan member check.Berdasarkan hasil data yang diperoleh peneliti, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: 1) internalisasi pada kegiatan pendahuluan dengan nilai karakter disiplin, religius, peduli sosial dan disiplin, rasa ingin tahu, mandiri, komunikatif;2) internalisasi pada Kegiatan inti pembelajaran ini lebih menekankan pada proses pembentukan pengelaman belajar (learning experience) siswa dalam materi/bahan pelajaran tertentu; dan 3) internalisasi pada kegiatan akhir dengan cara guru menyimpulkan pelajaran yang telah disampaikan (nilai karakter adalah kreatif,kerja sama dan komunikatif) kemudian guru melakukan evaluasi di akhir pembelajaran (nilai karakter adalah mandiri,kreatif dan tanggung jawab) memberikan motivasi akhir kepeserta didik (nilai karakter adalah rasa ingin tahu dan menghargai prestasi) lalu membaca doa dan di akhiri dengan mengucap salam (nilai karakter adalah religius).
PENGAJIAN KITAB KIFAYAH WA MINHAJ AL-AHFIYA JAMAAH MASJID DARUL MUTTAQIN KOTA PONTIANAK Abdusy Syakur
Journal of Research and Thought on Islamic Education Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.101 KB) | DOI: 10.24260/jrtie.v1i1.1067

Abstract

Abstract: This research was conducted because the implementation of the study taught by KH. Syamsuddin Husein al-Hafidz using Book of the Kifayah al-Atqiya 'Wa Minhaj al-Aṣfiya' that carried out every Sunday, the Maghrib about two years followed by few students and mostly by men. The study done was still rigid and monotonous, which eventually can lead to boredom in the congregation. Research uses descriptive method with a qualitative approach. The technique of checking validity of the data using triangulation and member checking. Based on the results of the data obtained by the researchers, the following conclusions are produced: 1) The objectives obtained in the study of the book Kifayah al-Atqiya 'Wa Minhaj al-Aṣfiya' a) Assembly of science, b) Advice, and c) Arguing while for the long-term goal of worshiping God alone. 2) The material presented nine suluk (paths) to Allah, namely: a) At-Taubah, b) Al-Qana'ah, c) Az-Zuhud, d) Learning science Syar'i, e) Maintain the sunnah of the Prophet, f) At-Tawaqal, g) Al-Ikhlas, f) Al-Uzlah (aloof), and g) Keep time with dhikr. 3) The method used by the bandongan method. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi Ta’lim yang diisi oleh KH. Syamsuddin Husein al-Hafidz dengan kajian kitab kuningnya yaitu kitab Kitab Kifayah al-Atqiya’ Wa Minhaj al-Aṣfiya’ nya di Masjid Darul Muttaqien, Pontianak, di mana ta’lim ini dilakukan setiap Ahad, ba’da Maghrib kurang lebih dua tahunan hanya diikuti oleh sedikit jamah dan hampir semua jamaah laki-laki. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tehnik pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi dan member check. Berdasarkan hasil data yang diperoleh peneliti, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: 1) Tujuan yang didapatkan dalam pelaksanaan kajian a) Majelis ilmu, b) Nasehat, dan c) Berdebat sedangkan untuk tujuan jangka panjangnya yaitu untuk beribadah kepada Allah semata. 2) Materi yang disampaikan ada sembilan suluk (jalan)menuju Allah yaitu: a) At-Taubah, b) Al-Qana’ah, c) Az-Zuhud, d) Belajar ilmu Syar’i, e) Menjaga sunnah-sunnah Nabi, f) At-Tawaqal, g) Al-Ikhlas, f) Al-Uzlah (menyendiri), dan g) Menjaga waktu dengan dzikir. 3) Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kajian yaitu dengan metode bandongan. Kyai membacakan, menerjemahkan, menerangkan, kalimat demi kalimat kitab itu dengan makna dan menjelaskan berdasarkan contoh kehidupan sehari-hari. Ta’lim yang dilakukan masih bersifat kaku dan monoton, yang akhirnya nanti dapat menimbulkan kebosanan pada jama’ah.
MAQASHID AL-SYARI’AH: Kajian Mashlahah Pendidikan dalam Konteks UN Sustainable Development Goals Mohamad Anang Firdaus
Journal of Research and Thought on Islamic Education Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.004 KB) | DOI: 10.24260/jrtie.v1i1.1068

Abstract

Abstract: This paper will discuss the concept of maqashid Sharia as an Islamic education approach in realizing global goals. Education as a development instrument for Human Resources (HR) that encourages competent management and use of Natural Resources (SDA) should play an important role in the realization of the Sustainable Development Goals (SDGs) program. And educational goals oriented to the SDGs program can be conceptualized by the maqashid shari’ah approach. Because Ibn ‘Asyûr thinks that the benefits that will be achieved by maintaining the maqashid shari’ah are the main objectives of Islamic sharia. In the context of social piety, noble character is the ultimate goal of Islamic education. This is part of the Islamic mission as a religion which is "rahmatan lil ‘alamin". By spreading the Mashlahah in all the joints of life. On a global scale, Islamic education is required to be able to answer various contemporary problems that arise and create benefits for all parties. It can be seen from the purpose of Islamic shari’ah. Substantially the objectives of the Shari’a which we call "Maqashid al-Syari’ah" contain benefits. And SDGs also contain the mashlahah that the world wants to achieve. Although this study is included in the shari’ah discipline, according to al-Nahlawi, the concept of maslaha has a close relationship with education. In this case, Islamic education must be able to realize the Sustainable Development Goals (SDGs) agreed upon by 193 world leaders on September 25, 2015 and then through the UNDP (United Nations Development Program). Makalah ini akan membahas konsep maqashid syariah sebagai pendekatan pendidikan Islam dalam mewujudkan tujuan global. Pendidikan sebagai instrumen pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendorong untuk cakap dalam mengelola dan memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) harusnya bisa memainkan peranan penting dalam upaya realisasi program Sustainable Development Goals (SDGs). Tujuan pendidikan yang berorientasi pada program SDGs bisa dikonsepsi dengan pendekatan maqashid syari’ah. Karena Ibn ‘Asyûr beranggapan kemaslahatan yang akan diraih dengan memelihara maqashid syari’ah merupakan tujuan utama syariah Islam. Dalam konteks kesalehan sosial, budi pekerti yang luhur menjadi tujuan akhir pendidikan Islam. Hal ini menjadi bagian misi Islam sebagai agama yang "rahmatan lil ‘alamin". Dengan menyebarkan mashlahah dalam semua sendi kehidupan. Dalam skala global, pendidikan Islam dituntut untuk dapat menjawab berbagai masalah kontemporer yang muncul dan menciptakan kemaslahatan untuk semua pihak. Hal itu bisa dilihat dari tujuan syari’at Islam. Secara substansial tujuan syariat yang kita sebut dengan ”Maqashid al-Syari’ah” mengandung kemashlahatan. SDGs juga memuat mashlahah yang hendak dicapai dunia. Meski kajian ini masuk dalam disiplin ilmu syari’ah, namun menurut al-Nahlawi, konsep mashlahah ini memiliki hubungan yang erat dengan pendidikan. Dalam hal ini, pendidikan Islam harus mampu mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang telah disepakati oleh 193 pemimpin dunia pada 25 September 2015 dan kemudian melalui UNDP (United Nations Development Programme).

Page 1 of 1 | Total Record : 8