cover
Contact Name
Johannis Siahaya
Contact Email
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Phone
+6281322661998
Journal Mail Official
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Editorial Address
Ds. Daratan 2, Sendang Arum, Kec. Minggir, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta 55562
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TERUNA BHAKTI
ISSN : 2622514X     EISSN : 26225085     DOI : 10.47131
Jurnal Teruna Bhakti merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Agam Kristen Teruna Bhakti, Yogyakarta, dengan Scope: Teologi Sistematika, Teologi Biblika, Pendidikan Agama Kristen, Kepemimpnan Kristen, Teologi Praktika.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2: Pebruari 2021" : 9 Documents clear
Analisa Kritis terhadap Konsep Allah yang tidak Kreatif dalam Teologi Retribusi Kitab Ayub Nathanael Yoel Damara; Firman Panjaitan
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.57

Abstract

The story of Job describes the suffering experienced by believers. The interesting thing in this story is that when Job's three friends intend to comfort Job, but instead of comforting Job, they make things worse by accusing Job of committing sins. The theological attitudes of the three friends of Job are based on the orthodox wisdom tradition which is commonly referred to as retribution theology, namely that all actions that humans take will be rewarded by God. This understanding is contrary to the wisdom tradition which emphasizes the power and creative works of God so that the theology of retribution makes God passive and uncreative of His works. By using a literature research method that is equipped with a narrative approach, this article intends to criticize the theological view of retribution with the understanding that God is dynamic, active, and not limited by human will and actions. The results of the research show that God must be understood as an initiator and free to do whatever He wants. Through His creative power, God can be known by humans through each of His infinite works. Abstrak Kisah Ayub menggambarkan penderitaan yang dialami oleh orang percaya. Hal yang menarik dalam kisah ini adalah ketika ketiga sahabat Ayub berniat menghibur Ayub, tetapi alih-alih menghibur Ayub, mereka malah memerkeruh suasana dengan menuduh Ayub telah melakukan dosa. Sikap teologis ketiga sahabat Ayub dilandaskan pada tradisi hikmat orthodoks yang umumnya disebut dengan teologi retribusi, yaitu bahwa segala tindakan yang dilakukan manusia pasti akan diberikan ganjaran oleh Tuhan. Paham ini berlawanan dengan tradisi hikmat yang menekankan kuasa dan karya-karya kreatif Allah sehingga teologi retribusi membuat Allah menjadi pasif dan tidak kreatif akan karya-karya-Nya. Dengan menggunakan metode literature research yang dilengkapi dengan pendekatan naratif, artikel ini hendak mengritisi pandangan teologi retribusi dengan pemahaman bahwa sejatinya Allah itu dinamis, aktif, dan tidak dibatasi oleh kehendak dan tindakan manusia. Hasil penelitian memerlihatkan bahwa Allah harus dipahami sebagai inisiator dan bebas melakukan apa saja yang diinginkan oleh-Nya. Melalui kuasa-Nya yang kreatif, Allah dapat dikenal oleh manusia melalui setiap karya-Nya yang tak terbatas.
Implikasi Makna Sabat bagi Tanah dalam Imamat 25:1-7 bagi Orang Percaya Sabda Budiman; Enggar Objantoro
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.60

Abstract

One of the most important themes in the Old Testament is the Sabbath. In the life of the Israelites, discussion of the Sabbath was not only related to days, but to years. In its application, the Sabbath is not only reserved for humans and animals, it is also applied to the land. The concept of the Sabbath for the land also gave deep meaning to the life of the Israelites, starting from the practical to the main thing. One of the current issues is what are the implications of the meaning of the sabbath for the land for believers today? These questions become the writer's reference in examining more deeply the meaning of the Sabbath for the land in the lives of the Israelites. In the discussion, the author gives an explanation of the meaning of the Sabbath for the Israelites, of course with a focus on God. The method that I use in this article is a qualitative method with a descriptive approach. The author collects various data sources related to the topics discussed and analyzes in order to find a complete and precise understanding. Through this research, it was found that believers have a social responsibility and responsibility in maintaining the environment. Abstrak Salah satu tema penting di dalam Perjanjian Lama ialah tentang sabat. Dalam kehidupan bangsa Israel, pembahasan tentang sabat tidak hanya dikaitkan dengan hari saja, berhubungan dengan tahun. Dalam penerapannya pun sabat tidak hanya diperuntukkan bagi manusia dan hewan, sabat juga diberlakukan bagi tanah. Konsep sabat bagi tanah juga memberikan makna yang mendalam bagi kehidupan bangsa Israel, mulai dari hal yang praktis hingga kepada hal yang pokok. Salah satu persoalan saat ini ialah apakah implikasi makna sabat bagi tanah bagi orang percaya masa kini? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi acuan penulis untuk mengkaji lebih mendalam makna sabat bagi tanah dalam kehidupan umat Israel. Dalam pembahasan, penulis memberikan paparan terhadap makna sabat bagi orang Israel, tentunya dengan berpusat pada Allah. Metode yang penulis gunakan dalam artikel ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penulis mengumpulkan berbagai sumber data yang berkaitan dengan topik yang dibahas dan menganalisis guna menemukan pengertian yang utuh dan tepat. Melalui penelitian ini, didapati bahwa orang percaya memiliki tanggung jawab social dan tanggung jawab dalam memelihara lingkungan.
Peran Orang tua dalam Kelompok Kecil di Masa Pandemi: Analisis Kisah Para Rasul 2:41-47 Arif Indrianta; Stimson Hutagalung; Rolyana Ferinia
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.65

Abstract

The early church has been succeeded in becoming an effective model of small group ministry. Acts 2: 41-42 lays out the principle of effective small groups. When They believed and were baptized their number increased so that they not only worshiped in the temple but also gathered to break bread in their homes. There are many situations that the church has to go through. God's people need to endure every challenge of the Age. During the Covid-19 pandemic, all worship activities have experienced restrictions, including all programs and services in local churches. With a small group model, Church members can gather in their nearest homes. The principle of group dynamics can still be implemented effectively. Online worship has filled the family room. By using literature studies and descriptive methods, it is concluded that the Covid-19 pandemic has stimulated online small group services. AbstrakGereja mula-mula telah berhasil menjadi model pelayanan kelompok kecil yang efektif.  Kisah Para Rasul 2:41-42 menjabarkan prinsip kelompok kecil yang efektif.  Pada saat Mereka menjadi percaya dan dibaptis jumlah mereka bertambah, sehingga mereka tidak hanya beribadah dalam Bait Allah namun juga berkumpul untuk memecahkan roti di rumah masing-masing. Banyak situasi yang harus dilalui oleh gereja.  Umat Tuhan perlu bertahan dari setiap tantangan zaman. Di masa pandemi Covid-19 ini semua kegiatan ibadah telah mengalami pembatasan, termasuk semua program dan pelayanan di gereja lokal.  Dengan model kelompok kecil Anggota gereja dapat berkumpul di rumah-rumah mereka yang terdekat.  Prinsip dinamika kelompok tetap dapat dijalankan dengan efektif.  Ibadah online telah mengisi ruang keluarga. Dengan menggunakan studi literatur, dan metode deskriptif, maka disimpulkan bahwa masa pandemi Covid-19 ini telah menstimulasi pelayanan kelompok kecil secara online.
Pendidikan Kristiani dalam Membangun Kesadaran Hukum Positif di Indonesia Desi Arisandi Laga Nguru
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.47

Abstract

Problems that arise in social life, in general, are due to community considerations regarding the observance of positive laws that apply. It is known that the law has a function to provide protection for the interests of every human being. Therefore the law must be implemented so that these interests can be protected. Every human being will be able to understand, negotiate, and obey positive laws that must be approved and understood through formal and non-formal education. Christian Religious Education is an effective means to take part in efforts to educate the nation's life through positive legal assistance in Indonesia. Christians do not oppose the positive laws that apply in Indonesia and the Bible which is the basis of all related to Christian Education clearly provides support for the observance of applicable laws. As such, Christian Religious Education seeks to improve relations with obedience to the law in society through formal and non-formal education in families, churches, and schools. Abstrak Persoalan-persoalan yang timbul dalam kehidupan bermasyarakat pada umumnya disebabkan oleh kurangnya kesadaran hukum dari masyarakat tentang ketaatan terhadap hukum positif yang berlaku. Diketahui bahwa hukum mempunyai fungsi untuk memberikan perlindungan terhadap kepentingan setiap manusia. Oleh karena itu hukum harus dilaksanakan agar kepentingan tersebut dapat terlindungi. Setiap manusia akan dapat mengerti, memahami, dan mentaati hukum positif yang berlaku apabila diberikan pemahaman dan diajarkan secara terus-menerus lewat pendidikan formal maupun nonformal. Pendidikan Agama Kristen merupakan sarana yang efektif untuk mengambil bagian dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa lewat pengajaran implementasi hukum positif di Indonesia. Sebab dapat diketahui bahwa secara umum pendidikan kristen tidak bertentangan dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia dan Alkitab yang merupakan dasar dari semua pengajaran Pendidikan Kristen sangat jelas memberikan dukungan terhadap ketaatan hukum yang berlaku. Dengan demikian Pendidikan Agama Kristen berperan untuk mengimplementasikan pengajaran tentang ketaatan terhadap hukum di dalam masyarakat lewat pendidikan formal maupun nonformal di keluarga, gereja dan sekolah.percaya memiliki tanggung jawab social dan tanggung jawab dalam memelihara lingkungan.
Analisis Yehezkiel 37:1-6 sebagai Identifikasi Kesetiaan Janji Allah di Masa Sulit Bimo Setyo Utomo
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.59

Abstract

God's faithfulness to His promises is an eternal guarantee to His people that He will act according to what He has said. God's promises are certainly not just ideas, but steadfast initiatives from God that help every believer to find hope for a more victorious future. However, it cannot be denied that God's promises always intersect with pressing problems on the human side and make people doubt God's promises. This is the same as what was experienced by the Israelites when they were in Babylonian exile, their condition collapsed exactly as the vision of the dry bones seen by the prophet Ezekiel. This study aims to analyze the text of Ezekiel 37: 1-6 to obtain identification of the faithfulness of God's promises. The method used in this research is qualitative, by applying descriptive methods through grammatical and lexical analysis. In terms of identifying God's faithfulness to His promises in Ezekiel 37: 1-6, the following understanding is obtained: God initiates the promise of restoration, God acts in the history of salvation, and God assures His promises. Abstrak Kesetiaan Allah terhadap janji-Nya merupakan suatu jaminan yang kekal bagi umat-Nya bahwa Ia akan bertindak sesuai dengan apa yang telah difirmankan-Nya. Janji Allah tentu bukanlah sekedar ide saja, melainkan inisiatif yang teguh dari Allah dan membantu setiap orang percaya untuk mendapatkan pengharapan bagi masa depan yang lebih berkemenangan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa di pihak manusia, janji Allah selalu bersinggungan dengan permasalahan yang menghimpit dan membuat manusia ragu terhadap janji Allah. Hal ini sama dengan yang dialami oleh bangsa Israel ketika berada di pembuangan Babel, kondisi mereka terpuruk sama persis seperti penglihatan tulang kering yang dilihat oleh nabi Yehezkiel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa teks Yehezkiel 37:1-6 untuk diperoleh identifikasi kesetiaan janji Allah. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan menerapkan metode deskriptif melalui analisis gramatikal dan leksikal. Dalam hal identifikasi kesetiaan Allah terhadap janji-Nya dalam Yehezkiel 37:1-6, maka didapatkan pemahaman sebagai berikut: Allah memberikan inisiatif janji pemulihan, Allah bertindak dalam sejarah penyelamatan, dan Allah memberikan jaminan dalam janji-Nya.
Merefleksikan Prinsip dan Tanggung Jawab Kepemimpinan Adam dalam Kepemimpinan Kristen: Kajian Biblis Kejadian 2-3 Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.112

Abstract

The main task in Christian leadership is to guide, direct and educate God's people so that they can experience eternal salvation. This study outlines the discussion of Adam's leadership that ignores responsibility as God's chosen leader based on an analysis of the books of Genesis 2 and 3. The purpose of this study is to identify Adam's leadership points and describe the reflection of that leadership for today's church leaders. The method used is descriptive qualitative with an interpretive approach to the biblical text of Genesis 2-3. The results of the study found that the attitude of responsibility became the main point in carrying out Christian leadership duties so that they were in accordance with the truth of God's word. The attitude of responsibility contains several important points, namely: the first point, the responsibility for self-awareness as the holder of God's mandate. The second point is the responsibility to maintain, supervise and guide the people to follow God's decrees. The third point is the responsibility to maintain continuous interaction with God so that decisions and actions are based on God's wisdom alone. The fourth point is a responsibility as a living example. The fifth point, is the responsibility of continuous repentance and introspection.AbstrakTugas terutama dalam kepemimpinan Kristen adalah membimbing, mengarahkan dan mendidik umat Tuhan agar dapat mengalami keselamatan kekal. Penelitian ini menguraikan pembahasan tentang kepemimpinan Adam yang mengabaikan tanggung jawab sebagai pemimpin pilihan Tuhan didasarkan pada analisis kitab kejadian 2 dan 3.  Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi poin-poin kepemimpinan Adam dan memaparkan refleksi dari kepemimpinan tersebut bagi para pemimpin jemaat masa kini. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan interpretasi terhadap teks Alkitab Kejadian 2-3.  Hasil penelitian menemukan bahwa sikap tanggung jawab menjadi poin utama dalam menjalankan tugas kepemimpinan Kristen agar sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Sika tanggungj jawab tersebut memuat beberapa poin penting yaitu: poin pertama, tanggung jawab kesadaran diri sebagai pemegang amanat Tuhan. Poin kedua, tanggung jawab menjaga, mengawasi dan membimbing umat untuk mengikuti ketetapan Tuhan. Poin ketiga, tanggung jawab memelihara interaksi dengan Tuhan secara terus menerus sehingga keputusan dan tindakan berdasarkan hikmat Tuhan semata. Poin keempat, tanggung jawab sebagai teladan yang hidup. Poin kelima, tanggung jawab pertobatan terus menerus dan mawas diri.
Membangun Budaya Hukum dalam Konteks Pelayanan Hamba Tuhan Harlin Yasin; Hendrik Ananias; Ho Lucky Setiawan; Budi Wibowo
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.125

Abstract

Law can be interpreted as regulations that are regulating and coercive, which if violated will result in acting in the form of sanctions. To avoid violations of the law, legal awareness is needed which is a conscious attitude that is born in humans about something that arises from the heart through the soul and inner attitude towards what should be done and what should not be done. One indicator of the level of legal awareness in society is knowledge of the law. This study uses a descriptive method that describes, describes reality in clear words based on sources from various literature. Thus, through this research method, it can provide an explanation of how to realize legal awareness in the context of the ministry of God's servants, so that every servant of God can set a good example for his people in building a good legal culture. For this reason, every servant of God really needs to understand the laws that apply where they carry out service activities so that they can become examples for the people to realize legal awareness in the context of church life. AbstrakHukum dapat diartikan sebagai peraturan-peraturan yang sifatnya mengatur dan memaksa, yang jika dilanggar akan berakibat diambilnya tindakan berupa sanksi. Untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran hukum maka di perlukan kesadaran hukum yang merupakan sikap sadar yang lahir dalam diri manusia tentang sesuatu yang timbul dari dalam hati melalui penjiwaan dan sikap batin terhadap apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Salah satu indikator mengenai tingkat kesadaran hukum dalam masyarakat, adalah pengetahuan terhadap hukum. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang memaparkan, menggambarkan realitas dengan kata-kata yang jelas berdasarkan sumber dari berbagai literatur. Dengan Demikian maka melalui metode penelitian ini dapat memberikan suatu pemaparan bagaimana mewujudkan kesadaran hukum pada konteks pelayanan hamba Tuhan, agar setiap hamba Tuhan dapat memberikan teladan yang baik bagi umatnya didalam membangun budaya hukum yang baik. Untuk itu, setiap hamba Tuhan sangat perlu memiliki pemahaman dan pengertian tentang hukum yang berlaku di tempat mereka melakukan aktifitas pelayanan agar dapat menjadi contoh bagi umat guna mewujudkan kesadaran hukum dalam konteks kehidupan bergereja.
Pendidikan Kristiani Berbasis Multikultural dalam Konteks Moderasi Beragama Joice Ester Raranta
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.96

Abstract

Given that the Indonesian people come from various ethnic groups, races, cultures, and religions, schools in the country must implement multicultural education. Partly because the Indonesian people are quite diverse, and this can lead to various differences of opinion. Multicultural education plays an important role in Indonesian society because of the country's reputation for embracing diversity and resolving conflicts that may develop as a result of societal change and reform in a way that contributes to the betterment of the entire nation. This article aims to build church life in the context of religious moderation through multicultural-based Christian education. The method used is descriptive with a literature analysis approach, both through books and journal articles from previous studies. The importance of building Christian education based on cultural diversity as a reflection of Indonesianness in religion in a pluralistic public space. In conclusion, Christian education can be a way to build a moderate church life.AbstrakMengingat masyarakat Indonesia berasal dari berbagai suku, ras, budaya, dan agama,, sekolah-sekolah di tanah air harus menerapkan pendidikan multikultural. Antara lain karena masyarakat Indonesia cukup beragam, dan hal ini dapat menimbulkan berbagai perbedaan pendapat. Pendidikan multikultural memainkan peran penting dalam masyarakat Indonesia karena reputasi negara untuk merangkul keragaman dan menyelesaikan konflik yang mungkin berkembang sebagai akibat dari perubahan dan reformasi masyarakat dengan cara yang berkontribusi pada perbaikan seluruh bangsa.  Artikel ini bertujuan untuk membangun kehidupan gereja dalam konteks moderasi beragama melalui pendidikan kristiani yang berbasis multikultural. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan analisis literatur, baik melalui buku maupun artikel jurnal hasil kajian sebelumnya. Pentingnya membangun pendidikan kristiani yang berbasis pada keragaman kultur sebagai refleksi ke-Indonesiaan dalam beragama di ruang publik yang pluralitas. Kesimpulannya, pendidikan kristiani dapat menjadi cara yang digunakan untuk membangun kehidupan menggereja yang moderat.
Pendidikan Kristiani Kontekstual dan Signifikansinya bagi Implementasi Profil Pelajar Pancasila Yohanes Hadi Wibowo; Suhadi Suhadi; Yonatan Alex Arifianto
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.113

Abstract

Christian education aims to build and live a Christian worldview, practice evangelism and equip oneself to live a more impactful life based on the Bible's metanarrative. Christian education must be able to integrate interrelated learning faiths that impact not only academic matters but also character change. An effective Christian education enables one to study the history of Christianity, both past and present; develop skills to practice faith; reflect a conscious life of the truth of the Christian faith; and maintain the sensitivity needed to live as God's people, helping a sinner to realize his sinfulness which is marked by a change in his image to become like Christ. A good Christian education will be very accommodating to implementing the Pancasila student profile launched by the government. Contextual Christian education will succeed in the government's plan to achieve it and will help Christian schools to maintain their existence amid existing challenges. AbstrakTujuan pendidikan Kristen adalah membangung dan menghidupi Christian world view,  menjalankan penginjilan dan memperlengkapi diri untuk hidup berdasarkan metanarasi Alkitab yang lebih berdampak. Pendidikan Kristen harus mampu mengintegrasikan antara iman pembelajaran yang saling berketerkaitan yang berdampak tidak hanya pada hal akdemis tetapi juga perubahan kharakter. Pendidikan Kristen yang efektif memungkinkan seseorang mempelajari sejarah kekristenan, baik dimasa lalu maupun terkini; mengembangkan keterampilan untuk mempraktekan iman; merefleksikan hidup yang sadar kebenaran iman Kristiani; dan memelihara kepekaan yang diperlukan untuk hidup sebagai umat Allah,  menolong seseorang yang berdosa menyadari keberdosaannya yang ditandai perubahan citra dirinya menjadi serupa dengan Kristus. Pendidikan Kristen yang baik akan sangat akomodatif terhadap impelmentasi profil pelajar Pancasila yang dicanangkan oleh oleh pemerintah. Pendidikan Kristen secara kontekstual akan menyukseskan rencana pemerintah dalam mencapainya dan akan menolong sekolah-sekolah Kristen untuk tetap mempertahankan eksistensinya di tengah-tengah tantangan yang ada.

Page 1 of 1 | Total Record : 9