cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 44 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta" : 44 Documents clear
Isolasi dan Uji Resistensi Bakteri Endofit Eceng Gondok Terhadap Krom Ade Nurmalasari; Oedjijono Oedjijono; Sri Lestari
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.425 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.2142

Abstract

Endophytic bacteria are bacteria that live in plant tissues and are not pathogenic to the host. One of endophytic bacterial host is water hyacinth. Water hyacinth could accumulate heavy metals, one of which is chrome. The purpose of this study was to obtain endophytic bacteria of water hyacinth (Eichhornia crassipes Mart.), to identify the endophytic bacteria of water hyacinth, and to determine the resistance of endophytic bacteria of water hyacinth to Chrome (Cr). The research method used was a survey with a purposive random sampling technique. Stages of research include root sampling, sterilization of root samples using 2% NaOCl3, isolation of water hyacinth endophytic bacteria on agar nutrient medium (NA), characterization of bacterial endophytes and resistance test of water hyacinth bacteria to chromium. Based on the results of the study, 8 isolates of endophytic bacteria were isolated from the roots of water hyacinth. Based on Bergey's Manual Determinative of Bacteriology, 6 bacterial isolates (E1, E2, E3, E5, E6, E8) were identified as Bacillus and 2 isolates (E4, E7) were identified as Pseudomonas. All water hyacinth endophytic bacteria obtained were resistant to chromium to a concentration of 750 mg/L.
DETEKSI MOLEKULER VIRUS DENGUE SEROTIPE 3 PADA NYAMUK Aedes aegypti DI WILAYAH PURWOKERTO TIMUR Priskila Agnesia Prayitno; Endang Srimurni Kusmintarsih; Daniel Joko Wahyono
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.398 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1826

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk tersebut merupakan vektor utama dalam penularan virus Dengue (DENV) dengan ciri khas tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan garis-garis putih keperakan. Persebarannya luas di daerah tropis dan subtropis, Purwokerto termasuk daerah endemis DBD dan sekaligus ditemukan nyamuk sebagai vektornya. Kecamatan Purwokerto Timur menempati urutan tertinggi dari banyaknya kejadian DBD di wilayah Banyumas, bahkan kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi di Kelurahan Sokanegara pada tahun 2016 hingga menyebabkan kematian. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa virus Dengue yang paling banyak ditemukan di Purwokerto adalah serotipe 3. Oleh karena itu, deteksi molekuker nyamuk Ae. aegypti perlu dilakukan berkaitan dengan prediksi penularan Dengue untuk memperoleh informasi awal dalam pencegahan dan pengendalian DENV.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi virus Dengue serotipe 3 pada nyamuk dewasa Ae. aegypti sebagai vektornya. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei dengan pendekatan secara cross sectional dan teknik pengambilan sampel purposiveAnalisis data survei dilakukan dengan melihat positivitas DENV serotipe 3 pada nyamuk. Hasil penelitian menunjukkan DENVserotipe 3 tidak terdeteksi pada nyamuk yang di sampling di Purwokerto Timur. Kata kunci : Aedes aegypti, Demam Berdarah Dengue, DENV
Pengaruh Cercospora sp. terhadap Kandungan Asam Askorbat pada MekanismePatogenisitas Bercak Daun Tanaman Cabai : Kajian secara In vitro dan In planta Nasriyatun Yuliawati; Aris Mumpuni; Juni Safitri Muljowati
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.143 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1896

Abstract

Red chili is a vegetable commodity that has high economic value in Indonesia. Leaf spot disease caused by the fungus Cercospora sp. is one of the limiting factors in red chili production. The occurrence of leaf spot disease is determined by the success of the pathogenesis by the fungus Cercospora sp. In addition, red chilies that are resistant to leaf spot disease have higher ascorbic acid content than vulnerable red chilies. The purpose of this study was to determine the ability to grow pathogens Cercospora sp. on the medium which was given ascorbic acid and know the effect of inoculation of the pathogen Cercospora sp. against ascorbic acid content in red chili leaves (C. annuum L.). This study used an experimental design with a completely randomized design (CRD). In vitro tests carried out consisted of PDA and PDB medium which were given ascorbic acid with a concentration of 0 mg.l-1, 0,25 mg.l-1, 0,5 mg.l-1, 0,75 mg.l-1 and 1,0 mg.l-1. In planta testing was using hot chili red chili varieties, large red chili varieties and curly red chili varieties. The treatments that were tested included calculation of disease intensity and ascorbic acid content in red chili leaves. In vitro test the main parameters observed were the diameter colony of the fungus Cercospora sp. dan mycelium dry weight. In planta test the main parameters observed were the intensity of the disease, while the supporting parameters were the incubation period of the disease, the content of ascorbic acid in the red chili leaves, temperature and humidity. In vitro test data obtained were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 95% confidence level, then the treatment that gave a real or very real difference was followed by the Least Significant Difference test (LSD). In planta test data obtained were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 95% confidence level, then the treatment that gave a real or very real difference was followed by the Least Significant Difference test (LSD). The results showed that the pathogen Cercospora sp. able to grow well on the PDA medium and GDP medium which were given ascorbic acid. Inoculation of pathogen Cercospora sp. can increase ascorbic acid content in red chili leaves.
Deteksi Molekuler Virus Chikungunya pada Nyamuk Aedes aegypti Menggunakan Metode Two Step RT PCR Alvira Rifdah Sativa; Endang Srimurni Kusmintarsih; Trisnowati Budi Ambarningrum
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.752 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1834

Abstract

The Chikungunya fever is a disease caused by an Alphavirus from the family Togaviridae with the symptoms of a patient's posture that is bent over by severe joint pain (arthalgia). Chikungunya disease can be transmitted to humans through an Aedes aegypti as a vector. The outbreak of Chikungunya in Indonesia was first reported in 1973 in Samarinda and then spread to various other regions. Surveillance data show almost every year of the outbreak occurred in various regions in Indonesia. In 2013 there was the outbreak of Chikungunya in North Purwokerto, especially in Bancarkembar and Grendeng.Until now, the medicine or vaccine has not been found to prevent Chikungunya disease. The purpose of this research is to know the infection of virus Chikungunya on Ae. aegypti. This research was conducted by surveying methods with sampling techniques using purposive sampling The observed parameter is th positivity of virus Chikungunya. Analysis data by observing the appearance of DNA band on UV Transilluminator. The results that the amplikon cDNA CHIKV is not detected by the two step RT-PCR method. Key Words : Aedes aegypti, Chikungunya, DNA, Vector
KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA : RHOPALOCERA) DI CAGAR ALAM BANTARBOLANG, JAWA TENGAH Ulfah Nuraini; Imam Widhiono; Edy Riwidiharso
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.128 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1756

Abstract

Kupu-kupu adalah serangga yang termasuk dalam Ordo Lepidoptera, artinya serangga yang hampir seluruh permukaan tubuhnya tertutupi oleh lembaran-lembaran sisik yang memberi corak dan warna sayap kupu-kupu. Keanekaragaman dan Kelimpahan kupu-kupu di pengaruhi oleh faktor lingkungan seperti intensitas cahaya matahari, temperatur, dan kelembapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan kupu-kupu di Cagar Alam Bantarbolang, Jawa Tengah. Data yang di dapat di analisis menggunakan indeks keanekaragaman indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, indeks kemerataan Shannon-Evenners, dan Indeks dominansi. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ditemukan 359 individu dalam 6 familia. Keanekaragaman tertinggi yaitu pada jarak 0 m (H’ = 2.760; E: 0,752). Kelimpahan tertinggi pada jarak 0 m dengan jumlah individu sebanyak 192. Keanekaragaman tertinggi pada jarak 0 m di tepi hutan, sedangkan keragaman terrendah pada jarak 150 m di dalam hutan. Keanekaragaman kupu-kupu didominasi oleh H. glaucippe dari famili Piridae sebanyak 64 individu. Faktor lingkungan yang paling mempengaruhi keanekaragaman dan kelimpahan kupu-kupu adalah intensitas cahaya matahari. Kata kunci: Kupu-kupu, Keanekaragaman, Kelimpahan, Cagar Alam Bantarbolang
Decolorization Of Indigosol Blue Dye Using Trametes versicolor F200 and Aspergillus sp Sunu Pertiwi; Ratna Stia Dewi; Ajeng Arum Sari
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.848 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1835

Abstract

The dyeing process of batik eventually produces much of wastewater. The difficult degradation and the dangers posed within the synthetic dyes are the main concerns in finding efficient wastewater treatment. Biological treatment has been known to be an effective technique of reducing or eliminating color intensity in wastewater. Fungi is one organism that can decompose many environmental pollutants. The aims of this research were to determine the ability of fungal isolates in decolorizing the synthetic dyes and analyzed which treatment has the highest decolorization percentage. Fungal isolates of Trametes versicolor F200 and Aspergillus sp. were used as a biological agent to decolorize of Indigosol Blue dye. The decolorization percentage was analyzed by spectrophotometer method. The result showed that T. versicolor F200 and Aspergillus sp. able to decolorize Indigosol Blue dye. The decolorization treatment of Indigosol Blue dyes using T. versicolor F200 showed the highest decolorization percentage reaching 97.21%.
PENGARUH Colletotrichum coccodes TERHADAP KANDUNGAN ASAM ASKORBAT PADA MEKANISME PATOGENISITAS ANTRAKNOSA TANAMAN CABAI: KAJIAN SECARA IN VITRO DAN IN PLANTA fadhila meilasari; Juni Safitri Muljowati; Aris Mumpuni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.766 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1918

Abstract

Patogen Colletotrichum coccodes merupakan salah satu patogen yang dapat menginfeksi tanaman cabai dan menyebabkan penyakit antraknosa terutama pada bagian buah dan daun. Tanaman dengan kandungan asam askorbat tinggi memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap serangan patogen. Tanaman cabai yang tahan memiliki kandungan asam askorbat yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman cabai toleran maupun rentan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan tumbuh patogen C. coccodes pada medium yang diberi asam askorbat dan mengetahui pengaruh inokulasi patogen C. coccodes terhadap kandungan asam askorbat pada daun cabai. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi, Laboratorium Lingkungan, & Greenhouse Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan dua uji yaitu uji in vitro dan uji in planta dengan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL), Uji in vitro menggunakan A) Medium PDA diberi asam askorbat; B) Medium PDB diberi asam askorbat dengan perlakuan penambahan asam askorbat sebanyak 0 mg.L-1 (kontrol); 0,25 mg.L-1; 0,50 mg.L-1; 0,75 mg.L-1; dan 1 mg.L-1, diulang sebanyak lima kali. Variabel bebas yang digunakan yaitu berbagai dosis asam askorbat, variabel terikatnya adalah pertumbuhan patogen C. coccodes. Parameter utama yaitu diameter koloni dan bobot kering miselium. Uji in planta menggunakan tiga varietas cabai (V1: Cabai merah hot chili; V2 Cabai merah keriting; V3: Cabai merah besar), uji A) Uji intensitas penyakit pada tanaman dan B) Uji kandungan asam askorbat. Masing-masing kelompok uji diulang sebanyak lima kali. Variabel bebas yang digunakan adalah varietas cabai merah, variabel terikatnya adalah nilai kerusakan tanaman berdasarkan kategori yang diamati pada waktu pengamatan yang ditentukan. Parameter utama yaitu intensitas penyakit, dan parameter pendukung yaitu periode masa inkubasi, kandungan asam askorbat pada daun cabai, temperatur, kelembaban dan pH tanah. Data uji in vitro dan uji in planta yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, dan perlakuan yang memberikan perbedaan nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian pada uji in vitro menujukkan bahwa patogen C. coccodes memiliki kemampuan tumbuh yang baik pada medium PDA dan medium PDB dengan penambahan asam askorbat. Hasil penelitian pada uji in planta, inokulasi patogen C. coccodes pada daun cabai merah dapat meningkatkan kandungan asam askorbat pada tanaman cabai merah Kata kunci : Colletotrichum coccodes, Cabai Merah, Antraknosa, Asam askorbat.
pemanfaatan ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai pewarna alami jaringan daun dan batang krokot (Portulaca oleracea L.) Gita Fitri Yani; Muachiroh Abbas; Siti Samiyarsih
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.845 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.2139

Abstract

The dye functions to clarify the plant tissue that will be observed with a microscope, the dye that is commonly used is synthetic dyes that are carcinogenic, the price is expensive and can pollute the environment. Natural dyes are an alternative to synthetic dyes because they are safe, inexpensive and environmentally friendly. natural dye sources obtained from plant parts such as fruit peels. Efforts to use mangosteen rind waste as an herbal remedy can also be used as a natural dye because it has a high enough anthocyanin content. Anthocyanins in mangosteen peel can be obtained through extraction. Maceration is an easy extraction method where the results are only affected by the type of solvent and the extraction time. Purslane (Portulaca oleracea L.) is used as research material because currently purslane has been widely used because of its nutritional content including high metabolic and antioxidant regualting substances. This study aims to determine the ability of mangosteen rind extract in coloring the leaf and stem tissue of purslane, and to determine the type of solvent and optimal immersion time to produce mangosteen rind extract so that it can color the leaf tissue and stems purslane well. The study was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) with 2 factors: factor 1 was the type of solvent using ethanol 96% and citric acid 14%, the second factor was immersion time, namely 26, 27 and 28 hours. The data obtained were analyzed descriptively qualitatively including the contrast and clarity of the preserved tissue preparation of leaf and stem purslane. The results showed mangosteen rind extract has the ability to dye leaf tissue and stems. The type of 14% citric acid solvent with 28 hours soaking time was optimal in producing mangosteen rind extract so that it was able to dye the leaf and stem tissue of purslane.
Keragaman dan Kelimpahan Kupu – Kupu Familia Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah Edwin Muttaqin; Imam Widhiono; Darsono Darsono
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.092 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1858

Abstract

Penelitian mengenai keanekaragaman kupu-kupu famili Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah belum pernah dilakukan sebelumnya. Mengingat pentingnya familia Papilionidae di alam dan untuk mengantisipasi kerusakan habitatnya maka perlu diadakan penelitian mengenai keanekaragaman kupu-kupu familia Papilionidae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman dan kelimpahan kupu-kupu famili Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah. Penelitian dilakukan di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah dengan menggunakan metode survey. Penelitian menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode Pollard Walk. Stasiun penelitian di bagi menjadi 5 stasiun berdasarkan jarak dari tepi hutan ke dalam hutan yaitu 0 m, 50 m, 100 m, 150 m, dan 200 m dari tepi hutan.. Setiap stasiun dibuat transek sebanyak 4 garis transek tetap dengan panjang 200 m dan lebar 5 m. Penangkapan kupu-kupu dilakukan menggunakan jaring serangga sepanjang garis transek. Data kekayaan spesies dan kelimpahan dihitung keragamanya menggunakan indeks Shannon-Wienner, indeks dominasi Simpson, dan indeks kemerataan (Shannon Evenness E). Penghitungan indeks keragaman menggunakan bantuan software Biodiversity Pro. Hasi penelitian menunjukan Keanekaragaman kupu-kupu famili papilionidae di kawasan cagar alam Bantarbolang pada jarak 0 – 150 m tepi hutan masuk kategori sedang karena memiliki nilai 1≤H’≤3. Keanekaragaman pada jarak 200 m tepi hutan masuk kategori rendah karena memiliki nilai ≤3. Kelimpahan kupu-kupu famili Papilionidae cenderung mengalami penurunan dari 0 m tepi hutan kearah 200 m tepi hutan hutan dikarenakan adanya efek tepi hutan berupa faktor lingkungan meliputi suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya. Spesies kupu-kupu paling jarang ditemukan adalah Papilio coon coon dan terdapat species langka yang dilindungi yaitu Troides Helena
Deteksi Molekuler Virus Dengue dan Chikungunya pada Nyamuk Aedes spp. di Kecamatan Cilongok Dwi Iva Fitriana; Endang Srimurni Kusmintarsih; Trisnowati Budi Ambarningrum
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.673 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1815

Abstract

Kecamatan Cilongok merupakan salah kecamatan endemis DBD dan pernah mengalami KLB chikungunya. Deteksi virus pada nyamuk sebelum menginfeksi manusia penting sebagai peringatan dini dalam upaya pencegahan wabah di daerah endemis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui infeksi virus Dengue dan Chikungunya pada nyamuk Aedes spp. asal kecamatan Cilongok. Penelitian ini dilakukan di empat desa di Kecamatan Cilongok yang meliputi Desa Cilongok, Pernasidi, Kalisari, dan Jatisaba. Desain penelitian ini adalah studi purposive random sampling . Deteksi virus Dengue dan Chikungunya pada nyamuk dilakukan menggunakan teknik Reverse-Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Hasil positif virus dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan potensi transmisi virus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nyamuk Aedes spp. yang tertangkap tidak mengandung virus Dengue dan Chikungunya. Kata kunci: Aedes spp., chikungunya virus, dengue virus, teknik RT-PCR