cover
Contact Name
Susanto Dwiraharjo
Contact Email
jurnalgraciadeo@gmail.com
Phone
+6282310002924
Journal Mail Official
jurnalgraciadeo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO
ISSN : 26556871     EISSN : 26556863     DOI : 10.46929
Jurnal Teologi Gracia Deo merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan bidang ilmu teologi dan Pendidikan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2655-6863 (online), ISSN: 2655-6871(print), diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Jakarta. Focus dan Scope dalam Jurnal ini adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Misiologi Kepemimpinan Kristen Pendidikan Kristiani
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1: Juli 2024" : 8 Documents clear
Beragama yang Humanis: Sebuah Konstruksi Spiritualitas Persaudaraan Antarumat Beragama melalui Refleksi Teologis Surat-surat Paulus Gea, Sefen Krisman; Daeli, Gordenisobek
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.214

Abstract

Pluralistic societies need inter-religious brotherhood to strengthen harmony and peace, especially in Indonesia. This study aims to explore the Apostle Paul's humanistic values through textual analysis of Paul's letters and how these values can be applied in building interfaith brotherhood. The methodology used is qualitative analysis with a narrative approach, focusing on Paul's letters such as Romans, 1 and 2 Corinthians, Philippians, Galatians, and 2 Timothy. The study explores the main themes in Paul's texts, which include love, humility, and service as the basis for brotherly relationships. The findings show that Paul's teachings offer concrete guidelines for building harmonious and mutually supportive relationships between religious communities. By understanding and applying the humanistic values of Paul's teachings, individuals can strengthen interfaith relationships and create a more harmonious environment. This research contributes to a more specific understanding of the practice of brotherhood in the context of interfaith interactions. AbstrakMasyarakat majemuk memerlukan persaudaraan antarumat beragama untuk memperkuat kerukunan dan perdamaian, terutama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keteladanan humanis Rasul Paulus melalui analisis teks surat-surat Paulus dan bagaimana nilai-nilai ini dapat diterapkan dalam membangun persaudaraan antarumat beragama. Metodologi yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan naratif, fokus pada surat-surat Paulus seperti Surat Roma, Surat 1 dan 2 Korintus, Filipi, Galatia dan 2 Timotius. Penelitian ini menggali tema-tema utama dalam teks Paulus yang mencakup kasih, kerendahan hati, dan pelayanan sebagai landasan untuk hubungan persaudaraan. Temuan menunjukkan bahwa ajaran Paulus menawarkan panduan konkret untuk membangun hubungan yang harmonis dan saling mendukung di antarumat beragama. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai humanis dari ajaran Paulus, individu dapat mempererat hubungan antarumat beragama dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman praktik persaudaraan yang lebih spesifik dalam konteks interaksi antarumat beragama.  
Konflik Sosio-Religius Jemaat Korintus: Sebuah Investigasi tentang Kesimpangsiuran Makna Karunia Rohani Siagian, Handra
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.210

Abstract

 The Apostle Paul is a crucial figure in the New Testament who played a significant role in the early development of Christianity, particularly among non-Jews. He established congregations in various cities such as Corinth, Galatia, Ephesus, Philippi, and Thessalonica, successfully crossing ethnic, cultural, and religious boundaries. However, the presence of co-workers like Apollos, Cephas, and James often caused divisions among the congregations. These divisions were influenced by the immaturity of the believers' faith and the socio-economic differences within the Corinthian society, leading them to idolize certain preachers rather than focusing on the core message of the Gospel. The confusion over understanding spiritual gifts further complicated the conflicts within the Corinthian church. Paul emphasized that spiritual gifts are meant to unite and strengthen the congregation's faith, equip them with power, and build up the body of Christ. Through his letters, Paul sought to reaffirm the principles of God's Word and address the divisions, aiming to create a harmonious and strong-faith congregation in Christ. This research employs a qualitative approach with historical analysis and exegesis of biblical texts, along with contextual analysis of the social, economic, and cultural conditions of Corinthian society in the first century AD. The findings indicate that the socio-religious conflicts within the Corinthian church can be resolved by understanding the meaning of spiritual gifts and applying appropriate solutions to foster harmony in congregational life. AbstrakRasul Paulus merupakan tokoh kunci dalam Perjanjian Baru yang berperan besar dalam perkembangan awal Kekristenan, terutama di kalangan non-Yahudi. Ia mendirikan jemaat di berbagai kota seperti Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, dan Tesalonika, dan berhasil melintasi batas suku, budaya, dan agama. Namun, kehadiran saudara sepelayanan seperti Apolos, Kefas, dan Yakobus sering menyebabkan perpecahan di antara jemaat. Perpecahan ini dipengaruhi oleh ketidakdewasaan iman jemaat dan perbedaan sosial-ekonomi masyarakat Korintus, yang lebih mengidolakan pelayan tertentu daripada fokus pada inti Injil. Kesimpangsiuran pemahaman tentang karunia rohani menambah kompleksitas konflik di jemaat Korintus. Paulus menekankan bahwa karunia rohani bertujuan untuk mempersatukan dan memperkuat iman jemaat, memperlengkapi mereka dengan kuasa, dan membangun tubuh Kristus. Melalui surat-suratnya, Paulus berusaha menegaskan prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan dan mengatasi perpecahan, dengan harapan menciptakan jemaat yang harmonis dan beriman kuat dalam Kristus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis historis dan analisis kontekstual terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Korintus pada abad pertama Masehi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik sosio-religius di jemaat Korintus dapat diatasi dengan memahami makna karunia rohani dan menerapkan solusi yang sesuai untuk menciptakan keharmonisan dalam kehidupan berjemaat.  
Formasi Resiliensi Spiritual Umat dalam Pembacaan Yesaya 46:4: Sebuah Refleksi Teologis tentang Pemeliharaan Allah bagi Kelompok Usia Emas di Gereja Baptis Indonesia Grogol Jakarta Hadiningtyas, Dyah Erwina; Apolonia, Lili Soares
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.217

Abstract

 Penelitian ini mengambil fokus pada keterlibatan pelayanan usia emas dalam konteks Gereja Baptis Indonesia Grogol Jakarta, dengan landasan teks Alkitab Yesaya 46:4 yang menjanjikan pemeliharaan ilahi bagi mereka yang setia kepada Tuhan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keterlibatan pelayanan usia emas, mengeksegesis teks Yesaya 46:4 tentang pemeliharaan Allah, dan menerapkan hasil eksegesis tersebut dalam konteks pelayanan di gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan pelayanan usia emas memiliki peran yang penting dalam pertumbuhan gereja dan memberikan teladan bagi generasi muda. Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa pemeliharaan Allah senantiasa hadir bagi mereka yang setia kepada-Nya, sesuai dengan janji yang tercantum dalam Yesaya 46:4. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pelayanan usia emas memegang peranan yang signifikan dalam konteks gereja, dan pemeliharaan Allah merupakan kepastian bagi mereka yang setia dalam pelayanan tersebut. Implikasi praktis dari penelitian ini dapat menjadi landasan bagi pengembangan pelayanan usia emas yang lebih efektif dan berdaya guna di Gereja Baptis Indonesia Grogol Jakarta, serta memberikan inspirasi bagi gereja-gereja lain dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip pemeliharaan ilahi dalam pelayanan generasi yang lebih tua.Kata kunci :
Counseling of a Traumatic Theological Student with Involvement in Syncretism: A Traumatology-Case Study to an Indonesian Theological Student Trihandarkha, Daniel
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.213

Abstract

Indonesian theological students often come to seminary with a handful of problems from the onset of their lives. The expectation from the traditional Christian family for their son and daughters to set the behavior right in the seminary is outdatedly common. This case study explores a 21-year-old theological male student who suffered verbal and physical abuse from his parents. During the initial four weeks of the therapeutic alliance with the author, he exhibits the traumatic symptoms of severe hostility and somatic re-enactment of past adverse experiences. He had been known to possess talismans and some sacred relics for witchcraft in the past, which contemporarily yielded nightmares and terror at night. The qualitative case study explored the traumatic problem of the student through 12 months of observation and in-depth interviews. Through experiential therapy of gestalt, CBT, and forgiveness therapy in the last seven months, the student showed reduced symptoms of hostility, somatic complaints, and impulse behavior. The spiritual formation of prayer and meditating on the Scripture has been seen as valuable by the patient in dealing with his spiritual problems.  
“Kekayaan yang Menumbuhkan Sayap”: Faktor Tindakan-Evaluasi terhadap Disorientasi Penggunaan Harta dalam Kajian Interpretatif Amsal 23:4-5 Sualang, Farel Yosua
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.209

Abstract

The book of Proverbs stands out in the wisdom genre due to its use of figurative language, including comparison, substitution, addition, and parallelism. The interpretation of Proverbs 10-29 reveals a unique use of figurative language in the expression 'riches that grow wings' found in Proverbs 23:4-5. There has been a difference in interpretation between Thomas Ulrich and Kojo Okyere regarding the figurative use of the phrase 'wealth that grows wings'. Ulrich and Okyere believe it refers to building organizational relationships and exercising self-control when using wealth earned through one's work. However, this article's qualitative study of the sub-interpretative design of the wisdom genre, which focuses on the use of figurative language, inter-topic context, and parallelism structure, reveals that the expression 'wealth that grows wings' in Proverbs 23:4-5 serves as an action-evaluation factor against hasty action and a reminder of the futility of using wealth. The interpretation's findings are based on a stylistic debate of each stitch line of Proverbs that relates reciprocally to character building in Proverbs 23:4-5.  AbstrakKitab Amsal memberikan suatu kekhasan dari sudut pandang genre hikmat, khususnya pada penggunaan bahasa kiasan (gaya bahasa perbandingan, penggantian, penambahan) dan pemakaian paralelisme (kesejajaran). Interpretasi dalam kumpulan-kumpulan Amsal 10-29 menunjukkan adanya penggunaan bahasa kiasan yang unik terhadap ungkapan “kekayaan yang menumbuhkan sayap” dalam Kitab Amsal 23:4-5. Sejauh ini, terjadi kesenjangan interpretasi antara Thomas Ulrich dan Kojo Okyere terhadap maksud dari penggunaan bahasa kiasan “kekayaan yang menumbuhkan sayap” yang hanya berorientasi pada sarana terhadap relasi organisasi dan pengendalian diri kepada pemakaian harta sebagai suatu hasil dari pekerjaan seseorang. Namun begitu, dengan menjalankan suatu kajian kualitatif sub interpretative design genre hikmat (berpusat pada penggunaan gaya bahasa kiasan, konteks antar topik dan struktur paralelisme), artikel ini menemukan bahwa ungkapan “kekayaan yang menumbuhkan sayap” pada Amsal 23:4-5 menunjukkan adanya faktor tindakan-evaluasi terhadap tindakan yang tergesa-gesa sebagai disorientasi terhadap suatu nilai dari kesia-siaan tentang penggunaan harta. Temuan terhadap interpretasi ini didasarkan adanya suatu kekahasan gaya bahasa tindakan-evaluasi dari masing-masing baris Amsal yang berhubungan secara resiprokal kepada pembentukan karakter dalam Amsal 23:4-5.  
Implikasi Teologi Kovenan terhadap Keutamaan Yesus dalam Kehidupan Jemaat: Perspektif Ibrani 7:22 Purwonugroho, Daniel Pesah; Latunussa, Reinhart Helbert Albrow
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.215

Abstract

This article aims to explore the relationship between covenant theology and the supremacy of Jesus from the perspective of Hebrews 7:22, as well as its implications for the congregation's life. Covenant theology describes the relationship between God and humanity as recorded in the Bible, from Genesis to Revelation. It articulates God's promises to humanity, including the promise of salvation. The Book of Hebrews is a text that contains both covenant theology and high Christology. The supremacy of Jesus is also described in Hebrews. Hebrews 7:22 is a verse that explains the intersection between covenant theology and the supremacy of Jesus. Understanding covenant theology can lead the congregation to reverence and awe toward a God who interacts directly with humanity. The supremacy of Jesus plays a central role as the fulfiller and guarantor of the new covenant for humanity through His redemptive work. Using a qualitative descriptive approach, this study will expose the implications of covenant theology for the supremacy of Jesus from the perspective of Hebrews 7:22. AbstrakArtikel ini dibuat untuk menjelajahi hubungan teologi kovenan terhadap keutamaan Yesus dalam persepktif Ibrani 7:22 serta implikasinya bagi kehidupan jemaat. Teologi kovenan melukiskan hubungan antara Allah dan manusia yang terdapat di dalam catatan Alkitab dari Kejadian sampai dengan Wahyu. Teologi kovenan mengartikulasikan janji Allah kepada manusia termasuk janji keselamatan. Kitab Ibrani adalah termasuk kitab yang mengandung teologi kovenan dan juga kristologi yang tinggi. Keutamaan Yesus juga dideskripsikan di dalam kitab Ibrani. Ibrani 7:22 adalah ayat yang menjelaskan persinggungan antara teologi kovenan serta keutamaan Yesus. Pengenalan teologi kovenan akan membawa jemaat mengalami rasa hormat dan takjub tentang Allah yang berinteraksi secara langsung kepada umat manusia. Keutamaan Yesus memiliki peranan sentral sebagai pemenuh dan penjamin kovenan baru bagi manusia melalui karya penebusanNya. Dengan penelitian kualitatif deskriptif, penelitian ini akan mengekspos implikasi teologi kovenan terhadap keutamaan Yesus dalam sudut pandang Ibrani 7:22.  
Pernikahan Adalah Perjanjian: Sebuah Kajian Teologis Maleakhi 2:10-17 Dwiraharjo, Susanto
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.216

Abstract

Many Christian marriages experience breakdowns amid their journey. The marriage vows spoken during the wedding ceremony no longer serve as guiding principles. These vows seem meaningful only when uttered; afterward, they are disregarded. This study will employ the biblical exegetical method to uncover the biblical truth regarding the meaning of marriage vows. This method is suitable because it can reveal the truth behind the biblical text. The truth discovered is hoped to provide insights into the significance of marriage vows spoken during the wedding ceremony. Thus, it can be understood that marriage vows are not merely lip service but must be a dedication and commitment of the couple. This is what will ensure that the marriage can endure a lifetime. AbstrakBanyak pernikahan Kristen mengalami kehancuran di tengah perjanalanannya. Janji pernikahan yang diucapkan saat upacara pernikahan dilaksanakan tidak lagi menjadi pegangan. Janji pernikahan itu sepertinya bermakna pada saat diucapkan saja, dan setelah itu akan diabaikan. Untuk menemukan kebenaran biblika terkait dengan makna dari suatu janji pernikahan, maka penelitian ini akan menggunakan metode eksegesis. Metode ini dinilai cocok karena dapat menemukan kebenaran yang berada di balik teks Alkitab tersebut. Melalui kebenaran yang ditemukan, diharapkan dapat memberi petunjuk akan bermaknanya janji pernikahan yang diucapkan saat upacara pernikahan dilangsungkan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa janji pernikahan itu bukan semata ucapan bibir belaka, tetapi itu harus menjadi dedikasi dan komitmen pasangan. Hal itulah yang akan menjamin pernikahan dapat bertahan seumur hidup.  
Dari Nazareth ke Ruang Rapat: Implikasi Kristologi bagi Kepemimpinan Kontemporer dalam Menghadapi Krisis Global Wijayanto, A. R.; Gultom, Junifrius
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.221

Abstract

Christian leadership must adapt to global changes and contemporary challenges by integrating the principles of Jesus Christ's leadership. Jesus' incarnational leadership model, which focuses on service, humility, and inclusivity, can provide relevant solutions amid global crises such as pandemics and economic instability. The philosophy of inclusive, transparent, flexible, and sustainable meeting rooms is an analogy for developing effective Christian leadership. Christian leaders must ensure inclusivity, transparency, and their congregations' emotional and spiritual well-being, utilizing technology to support effective communication. By applying these principles, Christian leaders can face global challenges with integrity and justice, bringing positive change to the lives of their congregations and society at large. AbstrakKepemimpinan Kristen harus beradaptasi dengan perubahan global dan tantangan kontemporer dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip kepemimpinan Yesus Kristus. Model kepemimpinan Yesus yang inkarnasional, yang berfokus pada pelayanan, kerendahan hati, dan inklusivitas, dapat memberikan solusi relevan di tengah krisis global seperti ketidakstabilan ekonomi, sos-pol. Filosofi ruang rapat yang inklusif, transparan, fleksibel, dan berkelanjutan menjadi analogi untuk mengembangkan kepemimpinan Kristen yang efektif. Pemimpin Kristen harus memastikan inklusivitas, transparansi, dan kenyamanan emosional serta spiritual jemaat, memanfaatkan teknologi untuk mendukung komunikasi yang efektif. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, pemimpin Kristen dapat menghadapi tantangan global dengan integritas dan keadilan, membawa perubahan positif dalam kehidupan jemaat dan masyarakat luas.   

Page 1 of 1 | Total Record : 8