cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 1 (2012): Oktober" : 5 Documents clear
BERIMAN DAN BERDOA KARENA ALLAH SUATU EKSPOSISI LUKAS 18:1-8 Stevri Indra Lumintang
Missio Ecclesiae Vol. 1 No. 1 (2012): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v1i1.18

Abstract

Karakter janda dalam perumpamaan ini merupakan representatif dari orang-orang pilihan Allah (orang percaya) yang sedang berada dalam dunia. Sekalipun tidak memiliki pengaruh politis, ekonomi, dan sosial, sehingga tidak diperhitungkan dunia (hakim yang lalim), namun mereka diperhatikan oleh Allah secara khusus dalam konteks pemuridan dengan prinsip-prinsip kerajaan Allah. Orang pilihan (orang percaya) yang memang hidup dengan prinsip-prinsip kerajaan Allah pastilah berbeda dengan prinsip-prinsip kerajaan dunia, dan itulah sebabnya mereka menderita. Penderitaan orang pilihan disebabkan oleh karena ketidakadilan dalam dunia. Dalam penderitaan karena ketidakadilan, Tuhan memberikan jaminan bahwa Ia pasti membenarkan atau memberikan keadilan kepada mereka. Jaminan inilah yang sesungguhnya menjadikan orang-orang pilihan bertekun dalam iman mereka kepada Tuhan, dan mengekpresikan ketekunan iman mereka melalui ketekunan atau ketahanan berdoa. Dalam hal ini, Tuhan adalah penyebab orang beriman dan berdoa. Tidak ada alasan atau dasar dari pendoa sehingga doanya terkabalkan, Tuhanlah subjek doa. Tidak seorang pun tahu bagaimana sebenarnya berdoa. Dialah yang sesunguhnya berdoa di dalam dan melalui kita. Melalui Roh Kudus, Ia memimpin kita berdoa sesuai dengan kehendak-Nya, seperti yang Paulus nyatakan sebagai berikut. Roh Kudus menolong kita di dalam kelemahan kita, karena kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa, tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, bahwa Ia sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus (Rm 8:26-27).
RANCANG BANGUN TEOLOGI MULTIKULTURAL DALAM PERSPEKTIF PERJANJIAN BARU Gunaryo Sudarmanto
Missio Ecclesiae Vol. 1 No. 1 (2012): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v1i1.19

Abstract

Diversitas humanitas mesti dipandang sebagai kreatifitas Allah yang patut dihargai sebagaimana Allah menghargainya sebagai gambar dan rupa-Nya sendiri. Diskriminasi humanitas justru bukti sikap antagonis terhadap otoritas penciptanya. Radikalisme doktrin yang melulu berorientasi pada kebenaran vertikal harus dibarengi dengan pemahaman horisontalnya. Kebenaran sejati justru menjadi utuh ketika kedua aspek tersebut diposisikan secara proporsional. Perbedaan bukan alasan untuk saling melawan dan menghancurkan, karena kasih kepada Tuhan dan sesama bukanlah kebenaran yang dapat dipisahkan sama sekali. Allah sendiri telah berbuat baik kepada semua orang sesuai hakikat Diri-Nya sendiri sebagai Pencipta segalanya. Allah juga menghendaki agar manusia, yang telah diciptakan dalam gambar dan rupa-Nya, saling melakukan perbuatan baik. Semua manusia memiliki tanggung jawab bersama selama kehidupannya di dunia ini, sehingga dibutuhkan solidaritas dengan sesama. Melalui interaksi yang baik justru dimungkinkan adanya point of contact bagi Injil, sehingga dapat terjadi transformasi kesadaran terhadap hakikat kebenaran Injil yang meresap ke segala aspek hidup manusia seperti garam mengasinkan dunia yang tawar (Mat 5:13). Teologi Multikultural melandasi sikap Kristen untuk berelasi dengan semua orang dalam segala bentuk perbedaannya tanpa kehilangan jati diri (keunikan) kekristenannya.
KARUNIA ROH MENURUT PENGAJARAN RASUL PAULUS: SUATU KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP PANDANGAN NEO-PENTAKOSTA TENTANG KARUNIA SPEKTAKULAR Robert Calvin Wagey
Missio Ecclesiae Vol. 1 No. 1 (2012): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v1i1.20

Abstract

Menurut Rasul Paulus, yang dimaksud dengan karunia Roh adalah suatu kesanggupan khusus yang diberikan Allah kepada setiap orang percaya sesuai kehendak-Nya guna dipakai bagi kepentingan jemaat sebagai tubuh Kristus. Pemberian ini dimungkinkan karena karya keselamatan Kristus di atas kayu salib. Dasar pemberian karunia Roh adalah semata-mata karena kasih dan anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia atau sebagai suatu pahala atas jasa manusia. Karunia Roh berbeda dengan talenta. Karunia Roh diberikan Allah kepada orang percaya untuk kemuliaan Allah. Talenta adalah bakat atau kesanggupan khusus pembawaan seseorang sejak lahir, digunakan untuk kepentingan umum manusia. Setiap talenta/bakat dapat dipakai dan diubah-Nya sebagai karunia Roh pada saat orang tersebut percaya kepada-Nya. Berdasarkan pengertian bahwa karunia-karunia Roh diberikan Allah kepada jemaat untuk pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus, maka setiap anggota jemaat atau orang percaya mempunyai tanggung jawab di dalam pelayanan jemaat. Tanggungjawab itu tidak dapat diwakilkan dan dimonopoli orang lain, secara khusus oleh para pelayan jemaat. Para pelayan jemaat bertanggung jawab untuk memperlengkapi dan mempersiapkan setiap anggota jemaat bagi pelayanan dan pembangunan jemaat, sebagai tubuh Kristus. Jemaat dengan segala karunianya merupakan potensi yang amat besar bagi perkembangan dan pertumbuhan tubuh Kristus. Melalaikan potensi ini berarti kehilangan kesempatan bahkan dapat menghalangi pertumbuhan jemaat. Sebaliknya, melibatkan setiap anggota jemaat, sesuai dengan karunianya, dalam Pelayanan Kesaksian (Marturia), Pelayanan Persekutuan (Koinonia), Pelayanan Sosial (Diakonia) akan berakibat pada pertumbuhan jemaat secara kualitatif dan kuantitatif. Karena itulah tujuan Allah memberikan karunia-karunia Roh kepada jemaat-Nya. Karunia-karunia Roh yang diberikan Allah kepada setiap orang percaya beranekaragam dan berbeda-beda. Perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan atau diistimewakan melainkan untuk saling melengkapi satu dengan yang lain, agar seluruh orang percaya sampai kepada kesempurnaan Kristus. Setiap karunia tidak lebih penting dan istimewa daripada karunia-karunia yang lain. Semua sama penting dan sama kualitasnya karena bersumber dari Allah yang sama. Pandangan yang menganggap karunia-karunia Roh yang bersifat spektakular lebih penting daripada karunia-karunia Roh yang lain, tidak benar. Demikian juga, memutlakkan karunia berkata-kata dengan bahasa roh bagi setiap orang percaya tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Setiap orang percaya menerima karunia yang berbeda-beda, sesuai dengan kehendak Allah. Karunia-karunia Roh diberikan Allah kepada setiap orang percaya, pada saat percaya kepada Kristus dan dibaptis di dalam nama-Nya. Pengalaman orang percaya menerima karunia-karunia Roh berlangsung secara simultan. Saat seseorang percaya kepada Kristus dan dibaptis dalam nama-Nya, pada saat itu secara simultan ia menerima keselamatan, menjadi anggota tubuh Kristus, menerima Roh Kudus dan karunia-karunia Roh. Dan menurut Paulus, inilah yang dimaksud dengan dibaptis dengan Roh Kudus. Oleh karena itu, pandangan yang menyatakan pengalaman tersebut berbeda, tidak simultan dengan kelahiran baru melainkan merupakan pengalaman kedua atau second blessing dan karena itu hanya merupakan pengalaman beberapa orang percaya tertentu saja adalah tidak benar.
IBADAH PERJANJIAN BARU SUATU URAIAN DESKRIPTIF TENTANG IBADAH DAN KONTRIBUSINYA BAGI IBADAH MASA KINI Ferdinan Samuel Manafe
Missio Ecclesiae Vol. 1 No. 1 (2012): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v1i1.21

Abstract

Ibadah dalam Perjanjian Baru adalah penggenapan perjanjian Allah kepada manusia, bahwa akhirnya semua orang akan berhadapan dengan takhta Allah yang kudus, dan Anak Domba. Semua bangsa akan bertekuk lutut di hadapan Anak Domba yang menghapus dosa isi dunia. Dengan kata lain, Allah Tritunggal adalah arah dan alamat pujian dan penyembahan orang percaya. Allah Bapa disembah di dalam nama Allah Anak yaitu Yesus Kristus dan dikerjakan oleh Allah Roh Kudus sebagai dinamisator ibadah. Ibadah kitab Wahyu adalah ibadah kepada Tuhan, Allah Bapa, Pencipta alam semesta (Why 4:10-11). Yesus Kristus, Anak Allah, Penebus dan Anak Domba Allah (Why 1:5,6; 5:11-14; 7:9-10). Roh Kudus, ialah tujuh Roh yang ada di hadapan takhta-Nya (Why.1:4). Ibadah dalam kitab Wahyu adalah Trinitarian. Bukan kepada; Iblis, “seluruh dunia menyembah naga itu” (13:3); anti Kristus, “iblis memberi kekuasaan kepada binatang itu dan mereka menyembah dia” (13:4); kepada nabi anti-Kristus, “ia menyebabkan seluruh bumi menyembah binatang pertama” (13:11-12). Allah Tritunggal adalah pusat ibadah Perjanjian Baru sebagaimana dinyatakan dalam kitab Wahyu.
FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT DAN PENUNJANG PERTUMBUHAN GEREJA Morris Phillips Takaliuang
Missio Ecclesiae Vol. 1 No. 1 (2012): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v1i1.22

Abstract

Sebagai suatu fenomena rohani dan teologis, gerakan pertumbuhan Gereja yang dimulai oleh beberapa hamba Tuhan, tidak dapat tidak harus diakui dan diterima sebagai jawaban Tuhan atas kebutuhan rohani Gereja Kristen dan sekaligus sebagai jawaban Tuhan terhadap kemerosotan-kemerosotan rohani dalam kehadiran dan pelayanan Gereja Tuhan terhadap dunia ini. Karena itu, disarankan supaya Gereja-gereja Tuhan masa kini, perlu masuk dan mengambil bagian yang aktif dan konkrit dalam arus pertumbuhan Gereja ini demi terlaksananya Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20. Akhirnya, kemajuan pertumbuhan Gereja juga sangat ditentukan oleh faktor strategi Tuhan yang dapat kita pelajari dari Alkitab, khususnya kitab Kisah Papa Rasul. Di sana dijelaskan bahwa pertumbuhan Gereja mesti dimulai: (1) di tempat yang dipilih Tuhan, (2) Dilaksanakan dalam waktu Tuhan, (3) Didukung oleh hamba-hamba Tuhan yang dipersiapkan dan dibentuk Tuhan secara khusus, dan (4) Perlu diarahkan dan dibimbing oleh visi misi universal dari Tuhan sendiri. Karena itu, tulisan ini menyarankan agar Gereja-gereja masa kini sungguh-sungguh mencari dan menemukan strategi Tuhan yang khusus untuk tiap-tiap pelayanan misi yang kita kerjakan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5