cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2016): Oktober" : 4 Documents clear
MEMAKNAI NILAI DASAR DARI TINDAKAN ORANGTUA DALAM MENOLONG ANAK Yustus Adipati
Missio Ecclesiae Vol. 5 No. 2 (2016): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v5i2.60

Abstract

Di era globalisasi dan perubahan lingkungan yang demikian cepat ini, maka dalam perjalanan gereja selanjutnya telah menimbulkan berbagai tantangan baru dan menuntut gereja untuk peka terhadap berbagai persoalan berkaitan dengan keberadaan jemaat di masa kini dan yang akan datang. Dalam mengantisipasi perubahan zaman ini, gereja menghadapi tantangan yang cukup berat sebagai dampak atau akibat negatif dari kemajuan umat manusia dan hal yang nyata, salah satu di antaranya adalah terabaikannya hak anak dalam hal pendidikan. Bentuk-bentuk kegiatan mulai dari perencanaan, proses pelaksanaan pembelajaran, sampai dengan penilaian hasil belajar merupakan unsur-unsur penting dalam pendidikan. Sedangkan, upaya menolong anak, semuanya bermuara pada kegiatan pendidikan. Tanggungjawab keluarga menjadi sangat penting terutama bagi dan untuk masa depan anak di kemudian hari. Salah satu implementasi akademisnya adalah bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran serta pengembangan pribadi dengan tingkat kecerdasan sesuai dengan minat dan bakat anak. Sekalipun, tugas dan tanggungjawab terhadap pembinaan serta pendidikan anak secara teologis masih terkait dengan fungsi gereja; namun dalam praktik pelaksanaannya bahwa tugas pokok ini sangat tergantung sepenuhnya pada keterlibatan semua orangtua agar berperan nyata di tengah keluarga berdasarkan kemurahan hati.
RELEVANSI LUKAS 10:1-12 BAGI HAMBA TUHAN SEBAGAI PELAKSANA MISI ALLAH Olivia Masihoru
Missio Ecclesiae Vol. 5 No. 2 (2016): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v5i2.61

Abstract

Pekerjaan misi yaitu membawa orang-orang berdosa untuk mengenal Tuhan Yesus merupakan tugas semua orang yang percaya kepada-Nya. Semua orang percaya mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memberitakan Injil, seperti yang diamanatkan Tuhan Yesus (Mat 28:18-20). Namun lebih khusus lagi Allah memanggil dan menetapkan orang-orang tertentu untuk mengerjakan tugas misi itu. Dalam pekerjaan misi membutuhkan banyak pekerja, karena ladang misi sangat luas. Pekerja yang dibutuhkan adalah hamba Tuhan yang memiliki beban misi untuk memenangkan sebanyak mungkin jiwa bagi kemuliaan Tuhan. Hamba Tuhan perlu memahami misi sehingga dapat terlibat dalam pelayanan misi. Injil Kerajaan Allah harus diberitakan kapada semua orang, terutama kepada orang-orang yang belum mengenal Injil, seperti penugasan Yesus kepada ketujuh puluh murid (Luk 10:1-12). Injil adalah berita sukacita yang harus diberitakan kepada segala bangsa melalui para Hamba-Nya, sehingga setiap orang percaya dan mengenal Yesus sebagai Juruselamat dunia. Dalam pelayanan misi Tuhan memakai hamba Tuhan, tentunya dengan penyertaan-Nya melalui kuasa Roh Kudus.
TRADISI PEMAKAMAN DALAM MASYARAKAT SUMBA TIMUR SEBAGAI PENDEKATAN KONTEKSTUAL Yuliana Lu
Missio Ecclesiae Vol. 5 No. 2 (2016): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v5i2.62

Abstract

Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan berbudaya, termasuk masyarakat Sumba Timur. Namun di kecenderungan manusia, meekspresikan budaya mereka, tidak bisa dipisahkan dengan ekspresi spiritual mereka, karena manusia memang adalah makhluk spiritual, yang selalu berkerinduan untuk memiliki relasi dengan Sang Pencipta. Berbagai usaha dilakukan manusia, yang biasanya sarat dengan penyembahan berhala. Masyarakat Sumba Timur, juga sarat dengan penyembahan berhala, sejak seorang bayi berada di kandungan ibunya, hingga dia harus meninggalkan dunia ini. Namun bagi Masyarakat Sumba Timur yang sudah bertobat dan menjadi orang Kristen sebaliknya harus merefleksikan imannya yang relevan dan bermakna bagi masyarakat dan budaya Sumba Timur. Adapun rekomendasi-rekomendasi yang penulis berikan kepada Masyarakat Sumba Timur adalah sebagai berikut: 1) Harus menghindari ritus-ritus yang tidak sesuai dengan Firman Allah. Orang Kristen harus bersikap kritis terhadap budaya-budaya setempat yang merusak iman Kristen. Firman Tuhan harus menjadi tolak ukur etika; 2) Orang Kristen juga harus menjadi saksi yang hidup bagi masyarakat yang masih terlibat dalam upacara pemakaman. Misalnya dalam upacara pemakaman ini, pemukulan gong dengan irama duka bisa dilaksanakan oleh orang Kristen sebagai pertanda bahwa di tempat tersebut terjadi kematian. Tetapi pemukulan gong dengan irama pata lamba yang bertujuan untuk memanggil arwah leluhur (marapu) tidak boleh dilakukan oleh orang Kristen. Pemotongan hewan untuk menjamu makan para keluarga dan kerabat yang datang melayat untuk dimakan, orang Kristen dapat melakukannya. Tetapi pemotongan hewan yang tidak untuk dimakan, namun hanya sebagai simbol mendampingi arwah si mati, atau sebagai bekal si mati menuju alam baka tidak perlu dilakukan oleh orang Kristen, dan gereja harus melarang hal ini karena dari segi ekonomi hal tersebut sangat merugikan, dan dari segi teologis hanyalah menyia-nyiakan berkat Tuhan. Penyimpanan mayat yang terlalu lama dari segi kesehatan tidak menguntungkan, demikian juga dari segi ekonomi sangat merugikan karena membutuhkan biaya yang sangat besar. Sebaliknya seluruh keluarga berembuk dan menyelesaikan pertikaian, yang mungkin ada, dalam waktu yang tidak terlalu lama, agar si mati dapat dikubur cepat. Upacara padita waimata dapat dilakukan oleh orang Kristen dalam bentuk ibadah pengucapan syukur tutup duka. Upacara paludungu (menyampaikan arwah si mati) tidak perlu dilakukan oleh orang Kristen. Karena bagi orang Kristen setelah mati ia kembali berada dalam tangan Tuhan Sang Pencipta bukan menjadi marapu.
BERSAKSI TENTANG KRISTUS SEBAGAI GAYA HIDUP PEMUDA GEREJA MASA KINI Natalia Debora Pantas
Missio Ecclesiae Vol. 5 No. 2 (2016): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v5i2.64

Abstract

Pada umumnya pemuda memiliki gaya hidup yang cenderung instant, mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang ada di sekitarnya. Demikian juga dengan pemuda gereja. Keluarga maupun komunitas di mana dia berada turut mempengaruhi gaya hidupnya. Secara khusus perihal kerohanian seseorang sangat mempengaruhi gaya hidupnya. Karena itu seorang pemuda gereja atau pemuda Kristus harus memiliki gaya hidup yang berbeda dari dunia ini yaitu gaya hidup yang sesuai dengan standar Alkitab yaitu Firman Allah. Salah satunya adalah gaya hidup yang bersaksi tentang Kristus. Berkenaan dengan hal ini pemahaman seseorang mengenai bersaksi sangat berpengaruh pada penerapan hal tersebut dalam kehidupannya. Apakah pemahamannya mengenai bersaksi bersifat sempit atau secara luas. Pada umumnya pemuda gereja memahami bersaksi dalam arti sempit yaitu menyaksikan kebaikan Tuhan, pertolongan Tuhan dalam study, keluarga, keberhasilan yang diperoleh. Lebih dari itu pemahaman mengenai bersaksi harus dimengerti dalam arti yang luas yakni dalam arah bersaksi tentang Kristus. Pengalaman seseorang dengan Tuhan dalam arti perjumpaan seseorang secara pribadi dengan Tuhan memulihkan kehiduapannya bahkan mendorong dia untuk menyaksikan itu bagi orang lain dengan tujuan orang lain mengalami hal yang sama. Tujuan bersaksi tentang Kristus supaya orang boleh mengenal Tuhan, percaya kepada Tuhan bahkan dapat juga menjadi saksi Kristus. Ada tantangan ataupun hambatan yang dihadapi pada saat bersaksi tentang Kristus. Adapun hambatan yang dialami berasal dari dalam pribadi yang bersaksi maupun dari luar. Tantangan dari luar berkaitan dengan konteks masyarakat setempat, perbedaan suku, budaya dan agama yang mengarah pada perbedaan pemahaman atau konsep tentang keselamatan. Sedangkan tantangan dari dari pribadi yang bersaksi adalah adanya rasa takut, malu, tidak berani berkata-kata bahkan tidak siap untuk menghadapi resiko atau konsekuensi yang akan dialami termasuk menghadapi penganiayaan. Berkaitan dengan hal ini diperlukan hikmat Tuhan dan pertolongan Roh Kudus dalam menyampaikan berita kesaksian tentang Kristus dan karyaNya. Secara khusus pemuda gereja yang hidup dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk. Bersaksi tentang Kristus dapat dilakukan bukan hanya secara verbal tetapi juga non-verbal. Melalui perkataan dan perbuatan pemuda gereja yang berbeda dari gaya hidup dunia ini, bahkan menjadi berkat bagi banyak orang.Pengalaman hidup bersama Tuhan dan anugerah keselamatan yang dianugerahkan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus tidak dapat digantikan atau ditukar dengan apapun. Hal itu merupakan suatu kesukaan dan berita yang harus disampaikan kepada orang lain secara khusus orang yang belum percaya. Perbuatan Tuhan yang ajaib yang dialami orang percaya dapat diceritakan kepada orang lain sehingga orang tersebut dikuatkan iman percayanya. Tetapi dalam arti yang lebih luas berita tentang Kristus harus disampaikan kepada semua orang. Setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Seorang saksi adalah seorang yang mengalami sendiri suatu peristiwa sehingga dapat menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Demikian juga dengan seorang saksi Kristus harus memberitakan Injil tentang Yesus Kristus; memberitakan tentang kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, dan barangsiapa yang percaya kepada-Nya mendapat pengampunan dosa dan memperoleh hidup yang kekal. Demikian juga dengan para pemuda dipanggil untuk menjadi saksi Kristus yaitu bersaksi tentang Kristus melalui kehidupan para pemuda dan menjadikan itu sebagai gaya hidup setiap hari. Gaya hidup berarti pola perilaku yang sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan seseorang, dan hal ini sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Para rasul dalam kitab Kisah Para Rasul menjadikan bersaksi tentang Kristus sebagai gaya hidup mereka. Walaupun mengalami tantangan ataupun penganiayaan, para rasul tetap mentaati perintah Tuhan Yesus untuk bersaksi (Kis. 1: 8).Bersaksi bukan hanya sekedar berkata-kata tentang pertolongan Tuhan, tetapi menyampaikan tentang berita kesaksian yaitu Injil Yesus Kristus, bahkan hidup sesuai dengan teladan Kristus. Pentingnya bagi orang percaya untuk menyatakan kesaksiannya melalui perkataan dan perbuatan sehingga orang yang belum percaya dapat mengenal Kristus melalui kehidupan orang percaya. Gereja perlu terus mendorong para pemuda untuk menggunakan dan memaksimalkan semua potensi yang ada pada mereka dalam arah yang benar yaitu terus dipakai untuk melayani Tuhan. Bahkan gereja perlu juga mendorong semua pemuda untuk terlibat dalam pelayanan gereja melalui program-program pelayanan yang dibuat oleh gereja. Tentunya masing-masing pemuda dilibatkan dalam bidangnya sesuai dengan apa yang dapat dikerjakannya. Bagi pemuda gereja, perlunya dibuat kelompok-kelompok kecil atau kelompok tumbuh bersama bagi para pemuda, sehingga dari situ para pemuda semakin bertumbuh di dalam Tuhan. Tentunya hal berdampak pada kerohanian yang semakin dewasa bukan hanya pada satu pribadi tetapi kepada semua pemuda. Selain itu pokok-pokok pengajaran tentang bersaksi dapat diajarkan kepada para pemuda. Mulai dari sikap pribadi yang bersaksi, landasan dari bersaksi tentang Kristus, bagaimana cara bersaksi, tujuan dari bersaksi dan gaya hidup seorang yang menjadi saksi Kristus. Dengan demikian hal ini dapat mendorong pemuda gereja untuk semakin giat bersaksi tentang Kristus dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

Page 1 of 1 | Total Record : 4