cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2017): Oktober" : 5 Documents clear
TUHAN MENGUBAH MARA MENJADI MATOV ( KITAB RUT) Awasuning Manaransyah
Missio Ecclesiae Vol. 6 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v6i2.71

Abstract

Firman Tuhan dalam kitab Rut ini sangat istimewa. Pada bagian awal, kita melihat kepahitan hidup yang sangat menyedihkan hati Naomi, namun di bagian akhir, kepahitan hati Naomi diselesaikan Tuhan dengan rencana Tuhan yang spektakuler. Tentu Naomi tidak pernah berpikir dan merencanakan bahwa ia akan menjadi seorang nenek (band. Rut 1:11-13), tetapi Tuhan membuat lebih dari pada itu. Penghiburan dan pemulihan yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan Naomi, harus dijalani oleh Naomi tahap demi tahap dan inilah yang disebut dengan proses. Proses itu sendiri membutuhkan waktu, ketekunan, kesetiaan, kebergantungan kepada Tuhan. Saya ingin katakan bahwa belajarlah, berusahalah mengerti kehendak Tuhan dari kepahitan hati yang terjadi. Bangkit dan arahkan langkah hidupmu ke dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan. Nikmatilah setiap langkah-langkah yang Tuhan pimpin menuju kehidupan yang sangat/sungguh indah bersama dengan Tuhan.
SOROTAN ALKITABIAH TERHADAP KONSEP KESELAMATAN MENURUT JOHN HICK Dora Hutasoit
Missio Ecclesiae Vol. 6 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v6i2.72

Abstract

Setelah disinggung sekilas-lintas tentang latar belakang Hick, yaitu dari segi biografinya dan revolusi Kopernikusnya yang merupakan titik balik dari paham Ptolomeus; serta setelah menyoroti secara alkitabiah terhadap konsep “keselamatan”nya, maka penulis menyimpulkan sebagai berikut: 1) Hick telah membuang atau meninggalkan landasan yang terpenting dalam Firman Tuhan atau tradisi kekristenan, yaitu dengan menyangkal keabsolutan, keunikan, dan finalitas Kristus. Dengan demikian dia tidak mengakui bahwa keselamatan hanya oleh penebusan Yesus Kristus; 2) Hick telah berusaha dengan kemampuan intelektualnya, melalui revolusi Kopernikusnya, menciptakan suatu teori “keselamatan” yang menurutnya berlaku bagi semua agama; dan 3) Paham/teori keselamatannya Hick tentang transformasi dari self-centeredness kepada reality-centeredness, patut ditolak karena sangat kontradiksi dengan Firman Tuhan (Alkitab).
PENDERITAAN MENURUT ROMA 8:18-25 DAN IMPLIKASINYA BAGI GEREJA TUHAN MASA KINI Iwan Setiawan
Missio Ecclesiae Vol. 6 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v6i2.73

Abstract

Penderitaan adalah kata yang sering dihindari oleh manusia termasuk orang percaya. Selain itu situasi zaman sekarang yang semakin menekan umat manusia, seperti yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa zaman akhir dunia ini ditandai bukan oleh perdamaian, melainkan oleh peperangan yang bertambah-tambah (Mat. 24:6). Banyak martir di negara-negara komunis yang menjadi korban kekerasan dan penindasan, yang mengakibatkan penderitaan. Mengenai Indonesia, meskipun bukan negara komunis atau negara terlarang untuk Injil, namun ratusan gereja telah dirusak dan dibakar, yang mengakibatkan korban yang cukup banyak. Ada cukup banyak kesaksian tentang penderitaan orang percaya karena iman mereka kepada Kristus, namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang percaya yang belum memahami arti penderitaan itu. Hal ini nampak pada seringnya jemaat disuguhkan Firman Tuhan yang menawarkan kesenangan hidup belaka, tanpa harus mengalami penderitaan. Karena itu mereka lebih banyak melarikan diri, putus asa dan kecewa ketika mengalami penderitaan, padahal sesungguhnya penderitaan tidak dapat dihindari, namun yang dimaksudkan penulis adalah cara menanggapi penderitaan itu harus sesuai dengan apa yang Tuhan ajarkan, yaitu bahwa penderitaan yang dialami manusia itu tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan (Rm. 8:18). Paulus menegaskan bahwa bahwa orang percaya akan mengalami penderitaan, namun penderitaan itu hanya sedikit atau sebagian kecil dari kemuliaan yang akan dinyatakan. Penderitaan dan hawa nafsu terjadi karena dunia ini memang berdosa. Penderitaan yang diderita umat manusia terjadi setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa. Masa sekarang ini semuanya jahat, diwarnai oleh dosa, kematian dan kebinasaan. Suatu ketika akan datang hari Tuhan, yaitu hari penghakiman, ketika dunia akan digoncangkan sampai ke dasarnya; tetapi sesudah itu akan datang suatu dunia baru. Ketika Paulus menggambarkan ini, ia memakai pengertian yang setiap orang Yahudi sudah mengenal dan mengerti. Ia berbicara tentang masa sekarang dan tentang kemuliaan yang akan dinyatakan. Dengan demikian, yang dimaksud Paulus dalam bagian ini adalah keyakinan kita bahwa penderitaan sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang yang akan dinyatakan kepada kita orang yang percaya kepada-Nya. Jadi penderitaan yang kita tanggung sebagai pengikut Kristus menunjukkan keikutsertaan kita dalam penderitaan Kristus, dan dapat disebut juga “menggenapkan apa yang belum tercakup dalam penderitaan Kristus”, supaya kita dapat bersekutu dengan Kristus dalam penderitaan-Nya. Dengan demikian pengharapan di sini berarti harapan adanya suatu keyakinan dan kepastian bahwa orang percaya akan dibebaskan atau dimerdekakan dari kesia-siaan. Tuhan telah mengaruniakan Roh Kudus sebagai jaminan pemberian lebih besar yang akan diterima di masa depan. Inilah pengharapan orang percaya, yaitu penantian penuh keyakinan akan berkat-berkat yang dijanjikan yang sekarang belum ada atau belum tampak. Tidak ada ketekunan yang tidak diawali dengan penderitaan. Ketekunan disediakan bagi kita sebagai hasil penderitaan. Orang yang menolak penderitaan dengan mengeluh dan mencari jalan keluar sendiri tidak akan memperoleh ketekunan.
KUALIFIKASI PEMIMPIN MENURUT RASUL PAULUS (STUDI EKSEGETIS SURAT TITUS 1:5-9) Jeny Marlin
Missio Ecclesiae Vol. 6 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v6i2.74

Abstract

Dari hasil analisa eksegetis Titus 1:5-9, penulis menyimpulkan bahwa: Titus bukan orang Yahudi, namun menjadi satu tim dalam pelayanan Rasul Paulus, dan ditugaskan di Pulau Kreta untuk memelihara jemaat di sana. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Titus, bermaksud mendorong dan menghimbau Titus, tentang betapa pentingnya mengatur kembali agar lebih baik lagi apa yang masih perlu/kurang/seharusnya diatur, yaitu menetapkan para pemimpin rohani yaitu para penatua yang ditempatkan atau ditugaskan sebagai ketua gereja atau pemimpin bagi jemaat. yang terdapat di tiap-tiap kota. 1) Pemimpin yang sedang dan terus-menerus tidak tercela” di antara para jemaat dan suami dari seorang/satu istri saja; 2) Pemimpin yang mempunyai anak-anak yang beriman, yang memiliki pola hidup anak-anak seorang pemimpin rohani, tidak hidup dalam tuduhan/tidak hidup dalam kekacauan/hidup tidak liar, tidak punya malu, bukan tidak bermoral, atau anak-anak yang bukan tak mau patuh, tidak durhaka dan bukan pemberontak. Sebaliknya anak-anak seorang pemimpin rohani adalah anak-anak yang hidup tertib, tahu malu, bermoral, patuh, menjaga nama baik keluarga dan menghormati orang tua; 3) Seorang pemimpin rohani adalah pengawas jemaat yang sedang dan terus-menerus hidup suci dan tidak bercela, tetapi dia juga menjadi sedang dan terus-menerus menjadi (must be above reproach as God's steward), artinya “harus sempurna seperti pelayan Tuhan” atau is entrusted with God's work artinya “dipercayakan pekerjaan Tuhan; 4) Seorang pemimpin rohani adalah “bukan seorang yang memuaskan diri sendiri, bukan seorang yang keras kepala dan bukan seorang yang angkuh.” Hal ini identik terlihat jelas dengan karakter atau temperamen seseorang dalam memimpin demi kepentingan orang banyak, yang bersedia menerima kritik atau teguran dan yang rendah hati atau tidak sombong; 5) Pemimpin rohani adalah bukan seorang pemimpin yang dikuasai kemarahan/pemarah, berdarah panas dan cepat marah, tetapi pemimpin yang mampu menundukkan kemarahan, panjang sabar, dan lemah-lembut; 6) Seorang pemimpin rohani hidupnya tidak mengkomsumsi minuman keras seperti anggur yang membuat dia mabuk, karena akan kecanduan, sehingga hidupnya dikuasai oleh kemabukan. Tetapi sebaliknya seorang pemimpin rohani memiliki hidup yang senantiasa menjaga tubuhnya dalam kesucian dan kekudusan; 7) Seorang pemimpin rohani adalah seorang yang tidak suka berkelahi, tidak pemarah dan seorang yang tidak kejam, melainkan seorang yang suka damai, pembawa damai, lemah-lembut atau baik; 8) Seorang pemimpin rohani adalah seorang yang jujur atau tidak tamak akan uang dan tidak berlaku curang atau serakah; 9) Pemimpin rohani ialah seorang yang ramah, penuh kasih dan kebaikan dan yang mencintai kebaikan serta suka akan hal-hal yang baik dalam masa kepemimpinannya; dan10) Seorang pemimpin rohani ialah seorang yang bijaksana, tertata, masuk akal, seorang yang taat terhadap hukum, tegak lurus, benar, adil dan seorang yang tulus, memuaskan ke Tuhan, taat, bermoral dan yang kudus.
ESENSI KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF PERJANJIAN LAMA Wilianus Illu
Missio Ecclesiae Vol. 6 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v6i2.75

Abstract

Penulis menyimpulkan bahwa memang kepemimpinan di abad postmodern ini telah mengalami krisis yang sangat signifikan yang merambat pada semua elemen dalam bidang kehidupan manusia, mengapa tidak? Karena para pemimpin lebih kepada kepentingan pribadi, keluarga, kelompok dan komunitas yang mendukungnya sebagai pemimpin. Yang lebih ironisnya adalah massa atau komunitas yang tadinya mendukung, namun ada hal-hal teknis yang kemudian berbeda pendapat antara massa atau komunitasnya dengan pemimpinnya. Sebagai reaksinya seorang pemimpin langsung mengambil keputusan dengan cara memecat. Maka dalam tulisan-tulisan sebelumnya dalam makalah ini secara gamblang telah menjelaskan bahwa krisis ini bukan hanya terjadi pada kepemimpinan yang sekuler saja, melainkan terjadi pada kepemimpinan gereja, yayasan bahkan lembaga Kristen lainnya juga telah mengalami krisis yang begitu berbahaya bagi kepemimpinan sekarang maupun pada kepemimpinan yang akan datang. Jika tidak segera dibuat standar pembaharuan-pembaharuan di dalamnya, tentu akan memunculkan permasalah-permasalahan yang baru lagi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5