cover
Contact Name
Evi Maha Kastri
Contact Email
redaksikelasa@gmail.com
Phone
+6285279491107
Journal Mail Official
redaksikelasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Beringin II No.40 Kompleks Gubernuran Telukbetung, Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Kelasa : Kelebat masalah bahasa dan sastra
ISSN : 19077165     EISSN : 27214672     DOI : https://doi.org/10.26499/kls.v15i1.21
Core Subject : Education,
KELASA is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. The scope of KELASA includes linguistic, applied linguistic, interdisciplinary linguistic studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. KELASA is published by Kantor Bahasa Lampung, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. KELASA accepts articles from authors of national or international institutions. Authors are free of charge throughout the whole process including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2017): Kelasa" : 10 Documents clear
DEIKSIS DALAM CERPEN “PATUNG LANDRA” KARYA YETTI A. KA Mega Noviana
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.53

Abstract

AbstractThe problem studied in this research is deixes in the short story Patung Landra by Yetti A. KA. Thisresearch aims to describe the use of deixes in Patung Landra short story by Yetti A. KA. Thebackground of this research is that because the research on this short story has never been donebefore. The method used in this research is descriptive qualitative. The source of data in thisresearch is short story entitled Patung Landra by Yetti A. KA. Based on the data analysis it is foundthe deixes include deixis of person, deixis of space, and deixis of time. The person deixes are thepronoun aku, ku-, -ku, kami, , kau, -mu, mereka , dia, and ia. The place deixes are di sini and kesini, they are used to refer the place or the space intended by the narrator. The time deixis used inthe short story is sekarang. AbstrakPermasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah deiksis yang terdapat dalam cerpen “PatungLandra” karya Yetti A. KA. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemakaian deiksis dalamcerpen “Patung Landra” karya Yetti A. KA. Latar belakang penelitian ini karena penelitian deiksisterhadap cerpen tersebut belum pernah dilakukan. Metode penelitian ini adalah deskriptifkualitatif. Teknik pengumpulan datanya melalui studi pustaka (dokumentasi). Sumber datapenelitian ini adalah cerpen “Patung Landra” karya Yetti A. KA. Berdasarkan hasil analisis dataditemukan data berupa deiksis persona, deiksis ruang, dan deiksis waktu. Penggunaan deiksispersona berupa kata aku, ku-, -ku, kami, , kau, -mu, mereka , dia, dan ia. Dekisis ruang di sini danke sini dipakai untuk mengacu pada tempat atau ruang yang dimaksud narator. Deiksis waktuyang digunakan berupa kata sekarang.
DELIR DAN SEKSUALITAS INFANTIL DALAM “AL-FIRÂSH AL-SHAGHÎR” KARYA YEHIA HAKKI As. Rakhmad Idris
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.48

Abstract

AbstractLiterary works are born from the social womb of society. Authors are just painters of everydayphenomena and human behaviors. The story of Yehia Hakki's "Al-Firâsh Al-Shaghîr" (FS) is one ofthe most interesting fictional stories of the Middle East to be studied. The main character in the FSshort story has a different mental predisposition from ordinary people. He is suspected of having adelirious and infantile desire controlled by his dreams to prove the psychological phenomenon, thewriter conducts a study using Freud's psychological approach. In his theory, Freud describes theconcept of id, ego, and superego, oedipus complex, and self-defence This study finds thepsychological phenomenon of the "young man" who "loves "his mother thus he considers thefather as a rival, and also has a pent-up desire to a black woman who is cold like a wax statue. Thedesires and pent-up desires of the main character in the FS show the delirious phenomenon ofinfantile delirium and passion in the young man. AbstrakKarya sastra lahir dari rahim sosial masyarakat. Pengarang hanyalah pelukis fenomena kesehariandan tingkah laku manusia. Cerpen “Al-Firâsh Al-Shaghîr" (FS) karya Yehia Hakki merupakan salahsatu cerita fiksi dari Timur Tengah yang menarik untuk dikaji. Tokoh utama dalam cerpen FSmemiliki kecenderungan kejiwaan yang berbeda dari manusia biasa. Ia diduga mengidap delir danhasrat infantil yang dikuasai oleh mimpinya. Untuk membuktikan fenomena kejiwaan tersebut,penulis melakukan kajian menggunakan pendekatan psikologi Freud. Dalam teorinya Freudmemaparkan konsep id, ego, dan superego, odipus kompleks, dan pemertahan diri. Kajian inimenemukan fenomena kejiwaan tokoh “si pemuda” yang “mencintai” ibunya sehinggamenganggap sang ayah sebagai saingan. Ia juga memiliki hasrat terpendam untuk memilikiseorang wanita berkulit hitam dan dingin seperti patung lilin. Keinginan dan hasrat terpendamtokoh utama dalam FS memperlihatkan fenomena delir dan hasrat infantil yang ada pada diri sipemuda.
PUISI “DIPONEGORO” KARYA CHAIRIL ANWAR DENGAN PUISI “BUNGA DAN TEMBOK” KARYA WIJI THUKUL”: ANALISIS INTERTEKSTUAL Ramlan Andi
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.54

Abstract

AbstractThe poem "Diponegoro" by Chairil Anwar and Wiji Thukul's poem "Bunga dan Tembok" are poemswhich talk about struggle. In this study, the researcher tries to find out the relationship of one toanother between two literary works from two different generations through an intertextualapproach. The method used is descriptive qualitative method which applies hermeneutic thinkingstrategy. Based on the results of the analysis, the poem "Diponegoro" by Chairil Anwar and thepoem “Bunga dan Tembok" by Wiji Thukul show the similarity of themes and messages. Thesimilarity reveals the struggle of people who were oppressed by the government. While thedifferences of both poems are the purpose of their struggle. In the poem "Diponegoro", the poetcalls for resistance against other nations which colonized Indonesia. While in the poem "Bungadan Tembok”, the poet invites the reader to fight his own government because it was consideredthat it had implemented an unjust governmental system. AbstrakPuisi “Diponegoro” karya Chairil Anwar dengan puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukulmerupakan puisi yang berbicara tentang perjuangan. Dalam penelitian ini, penulis berupayamenemukan hubungan antara karya satu dan yang lainnya dari dua generasi yang berbedamelalui pendekatan intertekstual. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatifdengan strategi berpikir hermeneutik. Berdasarkan hasil analisis, Puisi “Diponegoro” karya ChairilAnwar dengan puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul menunjukan kesamaan tema danpesan. Persamaan tersebut mengungkap perjuangan seorang rakyat kecil yang tertindas akanpenguasa yang zalim. Sementara itu perbedaan yang tampak dalam kedua puisi tersebut adalahtujuan perjuangan yang mereka lakukan. Pada puisi “Diponegoro”, pengarang menyerukanperlawanan terhadap bangsa lain yang menjajah Indonesia. Sedangkan pada puisi “Bunga danTembok”, pengarang mengajak pembaca untuk melawan pemerintahnya sendiri karena dianggaptelah menerapkan sistem pemerintahan yang tidak adil.
WHAT MAKES THE PRONOUN “DIO” IN UPSTREAM JAMBI AND PALEMBANGNESE SO SPECIAL? Bambang Kartono
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.49

Abstract

AbstractChomsky’s Canonical Binding Theory (CBT) argues that pronouns cannot be bound in the localdomain, however a locally bound pronominal occurs in Frisian. The CBT with its binary featurescannot explain why the pronoun him in Frisian can occupy a reflexive position without violatingPrinciple B. The same phenomenon of a locally bound pronoun can also be found in Jambi andPalembangnese. The pronoun dio in these languages allows a reflexive interpretation. This papertries to argue what makes the pronoun dio can be bound in the local domain. It might be the casethat dio in these two languages is more like the pronoun him in Frisian, but an alternativeexplanation may also exist. The result of the analysis shows that the pronoun dio has a differentcase compared to the pronoun him in Frisian. The pronoun dio in Upstream Jambi andPalembanese can have a reflexive interpretation due to the phi-features it carries. The pronoundio is not specified for features of number. This difference reflects the crucial determinationwhether the pronoun can be locally bound or not. AbstrakCanonical Binding Theory (CBT) dari Chomsky menyatakan bahwa pronomina tidak dapat diikatdalam domain lokal, akan tetapi pronomina tersebut dapat ditemukan di bahasa Frisian. CBTdengan fitur binarinya tidak dapat menjelaskan mengapa pronomina him dalam bahasa Frisiandapat menempati posisi refleksif tanpa melanggar Prinsip B dari CBT. Fenomena yang sama untukpronomina yang dapat diikat di domain lokal dapat ditemukan juga di bahasa Palembang danJambi. Pronomina dio di bahasa tersebut dapat memperkenankan interpretasi refleksif. Tulisan inimencoba mengemukakan apa yang membuat pronomina dio dapat diikat di domain lokal.Mungkin saja kasus pronomina dio sama seperti kasus pronomina him dalam bahasa Frisian,tetapi penjelasan alternatif lainnya mungkin saja ada. Hasil analisis menunjukkan bahwapronomina dio memiliki penjelasan yang berbeda dibandingkan pronomina him dalam bahasaFrisian. Pronomina dio dalam bahasa Palembang dan Jambi dapat memiliki interpretasi refleksifkarena phi-features yang dibawanya. Pronomina dio tidak terspesikasi untuk fitur jumlah.Perbedaan ini memberikan penentuan yang krusial apakah sebuah pronomina dapat diikat dalamdomain lokal atau tidak.
KONDISI PENGGUNAAN BAHASA LAMPUNG OLEH SISWA SMP DI KABUPATEN PESISIR BARAT Sustiyanti Sustiyanti
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.55

Abstract

AbstractNowadays there is an alarming phenomenon in Lampung province. People in this province preferto use Indonesian, the national language rather than Lampungnese, the local language. With thereality as it is, it is important to note the use of Lampung language and the language attitudestoward Lampung language, especially by the younger generation. It is also important becauseLampung is a multicultural society. The theory used is the theory of language attitudes by Garvin-Mathiot. The method used is quantitative with percentage calculation to explain the phenomenonof the use of Lampung language. The result shows that Lampung language is still used by families.The social environment and attitudes of respondents toward Lampung language is positive. AbstrakDewasa ini terdapat fenomena kebahasaan yang agak mengkhawatirkan di Provinsi Lampungyaitu sebagian besar masyarakat lebih senang menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasaLampung. Dengan kenyataan yang seperti itu, sangat penting untuk diketahui penggunaan bahasaLampung dan sikap bahasa suku Lampung terutama oleh kalangan muda sebagai generasipenerus dan berada di dalam masyarakat yang multikultural. Teori yang digunakan yaitu teorisikap bahasa Garvin-Mathiot. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan penghitunganpersentase untuk menjelaskan fenomena penggunaan bahasa Lampung. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa bahasa Lampung masih digunakan dalam ranah keluarga dan lingkungansosial dan sikap bahasa responden terhadap bahasa Lampung adalah positif.
BUDAYA MASYARAKAT DALAM CERITA RAKYAT BALIKPAPAN: ANALISIS MOTIF Diyan Kurniawati
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.50

Abstract

AbstractThis paper discusses motives in Balikpapan folklores. This study analyzes the elements of folkloremotifs using the theory of folklore and Thompson’s motif elements in order to find the main elementsof local culture. The analysis shows that there is a local belief in sacred things, like tomband animals. Society also believes that their ancestors can guide them in terms of treatment.Therefore, they hold rituals and taboos. The motifs also indicate the origin of places from supernaturalobjects. The motifs of Balikpapan folklore reveal human belief in power outside of them,like their belief to sacred things. They hold rituals and taboos for their safety. They also asked totheir ancestors that they believe can give them guidance to treat sick people. AbstrakTulisan ini membahas motif cerita yang ditampilkan dalam cerita rakyat Balikpapan, KalimantanTimur. Dengan menggunakan teori foklor dan unsur motif Thompson, penelitian ini menganalisisunsur motif cerita rakyat tersebut. Dengan analisis tersebut maka unsur utama budayamasyarakat dapat terlihat. Analisis menunjukkan bahwa terdapat kepercayaan masyarakat padabeberapa hal yang dikeramatkan, yaitu makam dan binatang. Masyarakat juga mempercayaibahwa para leluhur dapat memberikan petunjuk pada mereka dalam hal pengobatan. Olehkarena itu, masyarakat mengadakan ritual dan pantangan. Melalui motif tersebut ditunjukkanpula asal usul tempat yang berasal dari benda gaib. Motif-motif cerita rakyat Balikpapanmenampilkan kepercayaan manusia pada kekuatan di luar dirinya. Hal tersebut ditunjukkanmelalui kepercayaan manusia terhadap hal-hal yang dikeramatkan. Oleh karena itu, manusiamengadakan ritual dan pantangan untuk keselamatan mereka. Masyarakat juga meminta padaleluhur yang mereka percayai dapat memberikan petunjuk bagi pengobatan orang yang sakit.
ANALISIS DIKSI DAN CITRAAN DALAM KUMPULAN PUISI ANAK MAJALAH BOBO TAHUN 2016 Fadhilatun Hayatunnufus
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.51

Abstract

AbstractThis research entitled "An analysis on Dictions and Imageries in a Collection of Child Poems in BoboMagazines in 2016." The formulation of the problem in this study is what types of imagery containedin the poetries of children published in Bobo magazine. The purpose of this study is to describeany kinds of imagery contained in the poetry of children in Bobo magazine. The type of thisresearch is a qualitative research. The technique used in data collection is a literary study from 15poems. To analyse the data, the researcher used a descriptive analytic method which is done bydescribing facts and analyzing them. The results of this study indicate that the selection of word inthis child’s poem uses denotative words and easy to understand by readers and there are only afew poems that use connotative words in Bobo magazine. Imageries contained in the poetries ofchildren in Bobo magazine is visual imagery, kinestethic imagery, olfactory imagery, gustatory imagery,and tactile imagery. The most dominant image used by children in making poetry in Bobomagazine is visual imagery. AbstrakPenelitian ini berjudul “Analisis Diksi dan Citraan Puisi Anak dalam Majalah Bobo Tahun 2016”.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah citraan apa saja yang terdapat dalam puisi anakyang dipublikasikan dalam majalah Bobo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikancitraan apa saja yang terdapat dalam puisi anak dalam majalah Bobo. Jenis penelitian ini adalahpenelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik studi pustaka.Pengolahan data penelitian dengan metode deskriptif analitik yang dilakukan denganmendeskripsikan fakta-fakta dan menganalisisnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwapemilihan kata dalam puisi anak ini menggunakan kata-kata denotatif dan mudah dimengerti olehpembacanya serta hanya ada beberapa puisi yang menggunakan kata-kata bermakna konotatifdalam majalah Bobo. Citraan dalam puisi anak pada majalah Bobo terdiri dari citraan penglihatan,gerak, penciuman, pencecapan, dan perabaan. Citraan yang paling dominan digunakan oleh anakdalam membuat puisi pada majalah Bobo adalah citraan penglihatan.
LATAR CERPEN-CERPEN PADA BUKU ANTOLOGI DARAH PENANDA KARYA PARA PENGARANG KALIMANTAN SELATAN Agus Yulianto
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.46

Abstract

AbstractThe aim of this research is to know the description of settings including setting of place, time, andsocial cultural condition in the antology Darah Penanda. The problem of this research is how thosesettings are described in the short stories. The research method used in this research is qualitativedescriptive method and documentary method combined with reading-writing technique. Dataanalysis uses content analysis. Based on the analysis, it can be understood that settings of place ofthe short stories in Darah Penanda antology are town, rivers, peat bog houses, and food stalls.Settings of time show the relationship with factual time. Settings of socio cultural present all socialclasses in Banjarese society and the existence of cultural change phenomenon in Banjarese societyin Kalimantan Selatan Province. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendeskripsian latar yang meliputi latar tempat,waktu dan sosial budaya yang terdapat di dalam buku antologi Darah Penanda. Masalah yangterdapat dalam penelitian ini adalah bagaimana pendeskripsian latar yang meliputi latar tempat,waktu dan sosial budaya yang terdapat di dalam buku antologi Darah Penanda. Metode penelitianyang di gunakan adalah metode deskripsi kualitatif serta metode dokumentasi yang dibantudengan teknik baca dan catat. Adapun analisis data digunakan dengan menggunakan contentanalysis atau analisis konten. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa latar tempat yangterdapat dalam cerpen-cerpen dalam buku antologi Darah Penanda berupa kota-kota, sungai,rawa, rumah, dan warung. Latar waktu ditunjukkan dengan keterkaitannya dengan waktu faktual.Latar sosial budaya menampilkan seluruh lapisan kelas sosial dalam masyarakat Banjar sertaadanya fenomena perubahan budaya dalam masyarakat Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan itusendiri.
TEACHER DISCOURSE IN EFL CLASSROOM: A GENDER AND DISCOURSE STUDY Laila Ulsi Qodriani; Zahra Muti’ah
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.52

Abstract

AbstractThe relationship between language and gender has long been interest within sociolinguistic andrelated disciplines. In particular, it looks at the ways in which male and female use languagedifferently. Thus, the objective of the present study is to find out and describe how male andfemale teachers in EFL classroom use language differently in the classroom interaction,particularly in English Speaking class. This exploratory case study was carried out with 2 male and2 female English Speaking 1 teachers of English Literature Study Program Universitas TeknokratIndonesia. The data collected included direct observation of classroom interaction, audio andvideo recording of the teacher and students` interactions. The analysis of the data revealed that infact both male and female teachers used language to advice the students. It was all because theaim of teaching is to improve students’ ability, so the teachers frequently used language to giveadvices and suggestions for the students’ improvement. In the other hand, male teachers morefocus on the goal of teaching to maintain their status meanwhile female teachers more concern onthe process of teaching to build relationship with the students. AbstrakHubungan antara bahasa dan gender telah lama diminati dalam sosiolinguistik dan disiplin terkait.Secara khusus, hal ini dapat melihat cara penggunaan bahasa oleh pria dan wanita secaraberbeda. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkanbagaimana guru pria dan wanita di kelas EFL menggunakan bahasa secara berbeda dalaminteraksi kelas, khususnya dalam kelas Berbahasa Inggris. Studi kasus eksplorasi ini dilakukan pada2 orang guru pria dan 2 orang guru wanita kelas bahasa Inggris 1 Program Studi Sastra InggrisUniversitas Teknokrat Indonesia. Data yang dikumpulkan meliputi pengamatan langsung terhadapinteraksi kelas, rekaman audio dan video interaksi guru dan siswa. Analisis data menunjukkanbahwa guru laki-laki dan perempuan menggunakan bahasa untuk memberi nasehat kepada siswa.Itu semua karena tujuan pengajarannya adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa, sehinggapara guru sering menggunakan bahasa untuk memberi nasehat dan saran untuk peningkatansiswa. Di sisi lain, guru laki-laki lebih fokus pada tujuan mengajar untuk mempertahankanstatusnya sementara guru perempuan lebih memperhatikan proses pengajaran untukmembangun hubungan dengan siswa.
PESAN POLITIK MEGAWATI SOEKARNOPUTRI DALAM PIDATO ULANG TAHUN KE-44 PDI PERJUANGAN Ali Kusno
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.47

Abstract

AbstractChairman of the Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati delivered a politicalspeech in the 44th anniversary of PDIP, Megawati's speech reaped a variety of criticisms fromsome parties without intrepreting the whole content of the speech thoroughly. This study aims toanalyze the political messages contained in the discourse of Megawat’s political speech. This studyuses a model of critical discourse analysis by Fairclough. The data are taken from the discourse ofMegawati's speech. The data are analyzed using an interactive model. The results show thatMegawati’s political speech does not harm certain parties. The message delivered is a purepersuasion to the country to uphold Pancasila, the 1945 Constitution, and to maintain the nationalunity which is knows as Bhineka Tunggal Ika. Even if there is an apposing party, it could bepossible because of differences in political views and interests. The issue often arises when peoplein the political parties are sometimes too reactive to the statement and associate it with racialissues. The problems that actually have nothing to do with the racial issues can be a big issuebecause they were exaggerated. AbstrakKetua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati menyampaikan pidatopolitik dalam HUT ke-44 PDIP. Pidato Megawati itu menuai beragam kecaman dari beberapa pihaktanpa memaknainya secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan menganalisis pesan politik yangterdapat dalam pidato Megawati tersebut. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritisModel Fairclough. Data penelitian diambil dari wacana pidato Megawati tersebut. Teknik analisisdata menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Megawati dalam pidatopolitiknya tidak ada satu pernyataan pun yang mencederai pihak tertentu. Hal yang disampaikanmurni persuasi terhadap bangsa Indonesia untuk menjunjung pancasila, UUD 1945, dan menjagapersatuan bangsa yang Berbhineka Tunggal Ika. Kalaupun ada pihak lain menentang, bisadimungkinkan karena perbedaan pandangan politik dan kepentingan. Persoalan justru seringmuncul ketika tokoh-tokoh tersebut reaktif terhadap pernyataan dan mengaitkannya dengan isuSARA. Permasalahan yang sebenarnya tidak ada kaitannya (SARA) dapat menjadi isu besar karenadibesar-besarkan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10