cover
Contact Name
Nabil
Contact Email
anisbata124@gmail.com
Phone
+6281296863466
Journal Mail Official
journal@almarhalah.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Marhalah Al ‘Ulya Bekasi Jl. KH. Mas Mansyur No. 91, Bekasi
Location
Kota bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
Al Marhalah
ISSN : 0126043X     EISSN : 27162400     DOI : 10.38153
The Al Marhalah | Jurnal Pendidikan Islam published by STIT Al Marhalah AL ‘Ulya Bekasi, is a peer-reviewed open access international journal published twice in a year (May and November). Al Marhalah | Jurnal Pendidikan Islam is a Islamic Education research and article journal. Intended to communicate original researches, methodology and current issues on the subject. The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives: education, psychology, sociology, anthropology and many more. This journal warmly welcomes to articles contributions from scholars of related disciplines.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah" : 10 Documents clear
Reaksi Agama dan Budaya Dalam Dimensi Perencanaan Kepemimpinan di Dunia Pendidikan Sadari Sadari
Almarhalah Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/almarhalah.v4i1.23

Abstract

Agama yang bersumber dari Allah Swt, kemudian agama bereaksi menjadi kecerdasan spiritual dalam kehidupan masyarakat, kemudian dihidupkan dalam bentuk ritual ibadah. Selanjutnya ritual ibadah dalam beragama dipahami manusia sebagai salah satu aspek budaya. Dari situlah dimensi kepemimpinan akan terencana melalui pemahaman agama, terlebih bila dikaitkan dengan dunia pendidikan.  Perbedaan agama dan budaya terlihat dari sebuah proses yang berbeda, agama dipahami dari proses vertikal, sedangkan budaya dipahami dari proses horizontal. Agama bersifat spiritual sedangkan budaya bersifat akal, sehingga menurut sistem sosial budaya manusia disebut al-Insan yang memiliki akal pikiran, mampu mengembangkan budaya yang berdampak luas terhadap kehidupan dan lingkungan di permukaan bumi. Kemampuan akal pikiran dapat dinyatakan juga sebagai kemampuan budaya, memiliki makna yang tinggi bagi manusia sebagai makhluk hidup. Aspek-aspek atau komponen-komponen materi seperti ruang, alam semesta, bangunan, pakaian, peralatan dan non-materi semisal pengetahuan, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, peranan, merupakan suatu sistem yang disebut sistem budaya.Sistem budaya merupakan rangkaian hubungan komponen-komponen budaya sebagai ungkapan prilaku, perbuatan, dan tindakan manusia sebagai makhluk budaya. Namun demikian, dalam mekanisme budaya tersebut, tidak terpisahkan dari hubungan antara manusia sebagai makhluk sosial yang menghubungkan antar individu, antara individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok manusia lainnya. Di sini terbentuk suatu tatanan yang dikonsepkan sebagai sistem sosial. Sistem ini terbentuk, sebagai akibat hubungan sosial antar komponen-komponen.
Konsep Musyawarah Dalam Alquran (Kajian Tafsir Tematik) Zamakhsyari Abdul Majid
Almarhalah Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/almarhalah.v4i1.24

Abstract

Al-Qur'an al-Karim rnerupakan kitab suci umat Islam yang terdiri dari kumpulan pesan-pesan Tuhan diturunkan kepada Nabi Muhamsriad saw baik melalui malaikat Jibrilataupun secara langsung memuat berbagai aturan yang diperpegangi manusia.Term musyawarah menjadi wacana publik di kalangan intelektual muslim pada abad-abad terakhir ini, terutarna abad ke-21. Hal tersebut disebabkan adanya pengaruh kalau, tidak dikatakan sebagai infiltrasi budaya dan teori politik barat terhadap dunia Islam, khususnya dalam wacana demokrasi. Sebenarnya jauh sebelum barat mendengungkan ide tentang demokrasi, dalam Islam telah lahir konsepsi dan aplikasi dan musyawarah. Hal itu dapat dilihat pada masa Nabi memimpin negara Madinah dan menjadikan musyawarah sebagai salah satu prinsip kenegaraan.Tradisi seperti ini dipraktekkan pula oleh para sahabat, khususnya para khulafa' al-Rasyidun pada masa kepemimpinan mereka.
Kiprah Dakwah Bi Al-Qalam Dan Bi Al-Lisan Syaikh Muhajirin Amsar Al-Dary Ahmad Khotib
Almarhalah Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/almarhalah.v4i1.25

Abstract

Artikel ini menemukan bahwa Sayikh Muhammad Muhadjirin Amsar al-Dary masuk dalam kategori pendakwah (muballigh) yang aktif berdakwah lewat media lisan dan tulisan. Hal ini terbukti dari banyaknya karya-karya tulis dalam bidang keagamaan yang beliau hasilkan semasa hidupnya. Selain itu, keikutsertaan Syaikh Muhajirin dalam dakwah lisan juga terbukti lewat pemikiran-pemikiran yang beliau lontarkan kala mengisi sebuah ceramah ataupun menanggapi sebuah permasalahan yang muncul di tengah masyarakat. Karya dan pemikiran yang beliau hasilkan dapat dikatakan telah mampu melakukan tugasnya untuk mengubah perspektif masyarakat awam tentang Islam dengan menawarkan pandangan-pandangan beragam dari berbagai sudut pandang mazhab untuk memahami bahwa Islam adalah agama yang universal
Dinamika Guru Dalam Menghadapi Media Pembelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Nabil Nabil
Almarhalah Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/almarhalah.v4i1.26

Abstract

Teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia, kemajuannya yang begitu pesat telah merambah ke dunia pendidikan. Kondisi ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga-lemabaga pendidikan yang terus tumbuh dan berkembang yang menerapkan media pembelajaran berbasis teknologi.Media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.Peranan media yang semakin meningkat sering menimbulkan kekhawatiran pada guru. Namun sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, masih banyak tugas guru yang lain seperti: memberikan perhatian dan bimbingan secara individual kepada siswa yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kondisi ini akan terus terjadi selama guru menganggap dirinya merupakan sumber belajar satu-satunya bagi siswa. Jika guru memanfaatkan berbagai media pembelajaran secara baik, guru dapat berbagi peran dengan media. Peran guru akan lebih mengarah sebagai manajer pembelajaran dan bertanggung jawab menciptakan kondisi sedemikian rupa agar siswa dapat belajar. Untuk itu guru lebih berfungsi sebagai penasehat, pembimbing, motivator dan fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar.
Konsep Musyawarah Dalam Alquran (Kajian Tafsir Tematik) Zamakhsyari Abdul Majid
Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/alm.v4i1.24

Abstract

Al-Qur'an al-Karim rnerupakan kitab suci umat Islam yang terdiri dari kumpulan pesan-pesan Tuhan diturunkan kepada Nabi Muhamsriad saw baik melalui malaikat Jibrilataupun secara langsung memuat berbagai aturan yang diperpegangi manusia.Term musyawarah menjadi wacana publik di kalangan intelektual muslim pada abad-abad terakhir ini, terutarna abad ke-21. Hal tersebut disebabkan adanya pengaruh kalau, tidak dikatakan sebagai infiltrasi budaya dan teori politik barat terhadap dunia Islam, khususnya dalam wacana demokrasi. Sebenarnya jauh sebelum barat mendengungkan ide tentang demokrasi, dalam Islam telah lahir konsepsi dan aplikasi dan musyawarah. Hal itu dapat dilihat pada masa Nabi memimpin negara Madinah dan menjadikan musyawarah sebagai salah satu prinsip kenegaraan.Tradisi seperti ini dipraktekkan pula oleh para sahabat, khususnya para khulafa' al-Rasyidun pada masa kepemimpinan mereka.
Kiprah Dakwah Bi Al-Qalam Dan Bi Al-Lisan Syaikh Muhajirin Amsar Al-Dary Ahmad Khotib
Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/alm.v4i1.25

Abstract

Artikel ini menemukan bahwa Sayikh Muhammad Muhadjirin Amsar al-Dary masuk dalam kategori pendakwah (muballigh) yang aktif berdakwah lewat media lisan dan tulisan. Hal ini terbukti dari banyaknya karya-karya tulis dalam bidang keagamaan yang beliau hasilkan semasa hidupnya. Selain itu, keikutsertaan Syaikh Muhajirin dalam dakwah lisan juga terbukti lewat pemikiran-pemikiran yang beliau lontarkan kala mengisi sebuah ceramah ataupun menanggapi sebuah permasalahan yang muncul di tengah masyarakat. Karya dan pemikiran yang beliau hasilkan dapat dikatakan telah mampu melakukan tugasnya untuk mengubah perspektif masyarakat awam tentang Islam dengan menawarkan pandangan-pandangan beragam dari berbagai sudut pandang mazhab untuk memahami bahwa Islam adalah agama yang universal
Membangun Komunikasi Harmonis Berbasis Al-Qur’an Mahfudzi Mahfudzi
Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/alm.v4i1.36

Abstract

Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial yang selalu menggunakan komunikasi untuk melakukan interaksi. Setiap hari kita melakukan komunikasi dengan teman, keluarga, sahabat, guru, dan masyarakat lainnya. Sebelum membahas faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi sebaiknya kita mengetahui apa arti komunikasi. Komunikasi adalah penolong seseorang dalam upaya memenuhi kebutuhan interpersonal jika merasa sedih atau gelisah, maka membutuhkan sebuah percakapan dengan orang lain untuk memberikan sebuah kenyamanan, persahabatan dan bahkan kehangatan.Dalam perspektif Islam, potensi berkomunikasi pada manusia merupakan pemberian Allah yang sudah otomatis ada sejak dia diciptakan. Allah berfirman : “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Alquran, Dia menciptakan manusia, mengajarkan pandai berbicara”. (QS. Al-Rahmān : 1-4). Setelah unsur jasad dan ruh berpadu dalam dirinya di hari ke-120, Dalam sebuah hadis disebutkan : “Sesungguhnya kalian diciptakan di perut ibunya empat puluh hari fase ‘nutfah’, kemudian fase ‘alaqah’ juga 40 hari, kemudian fase ‘mudghah’ 40 hari, dan setelah itulah ruh diciptakan…” (HR.Bukhari, no.2969, dan Muslim no.4781). Manusia harus berkomunikasi secara sehat dan berkualitas dngan tujuan untuk menghindari rusaknya suasana karmonisasi  antar manusia bahkan terhadap Allah SWT
Dinamika Guru Dalam Menghadapi Media Pembelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Nabil Nabil
Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/alm.v4i1.26

Abstract

Teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia, kemajuannya yang begitu pesat telah merambah ke dunia pendidikan. Kondisi ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga-lemabaga pendidikan yang terus tumbuh dan berkembang yang menerapkan media pembelajaran berbasis teknologi.Media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.Peranan media yang semakin meningkat sering menimbulkan kekhawatiran pada guru. Namun sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, masih banyak tugas guru yang lain seperti: memberikan perhatian dan bimbingan secara individual kepada siswa yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kondisi ini akan terus terjadi selama guru menganggap dirinya merupakan sumber belajar satu-satunya bagi siswa. Jika guru memanfaatkan berbagai media pembelajaran secara baik, guru dapat berbagi peran dengan media. Peran guru akan lebih mengarah sebagai manajer pembelajaran dan bertanggung jawab menciptakan kondisi sedemikian rupa agar siswa dapat belajar. Untuk itu guru lebih berfungsi sebagai penasehat, pembimbing, motivator dan fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar.
Reaksi Agama dan Budaya Dalam Dimensi Perencanaan Kepemimpinan di Dunia Pendidikan Sadari Sadari
Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/alm.v4i1.23

Abstract

Agama yang bersumber dari Allah Swt, kemudian agama bereaksi menjadi kecerdasan spiritual dalam kehidupan masyarakat, kemudian dihidupkan dalam bentuk ritual ibadah. Selanjutnya ritual ibadah dalam beragama dipahami manusia sebagai salah satu aspek budaya. Dari situlah dimensi kepemimpinan akan terencana melalui pemahaman agama, terlebih bila dikaitkan dengan dunia pendidikan.  Perbedaan agama dan budaya terlihat dari sebuah proses yang berbeda, agama dipahami dari proses vertikal, sedangkan budaya dipahami dari proses horizontal. Agama bersifat spiritual sedangkan budaya bersifat akal, sehingga menurut sistem sosial budaya manusia disebut al-Insan yang memiliki akal pikiran, mampu mengembangkan budaya yang berdampak luas terhadap kehidupan dan lingkungan di permukaan bumi. Kemampuan akal pikiran dapat dinyatakan juga sebagai kemampuan budaya, memiliki makna yang tinggi bagi manusia sebagai makhluk hidup. Aspek-aspek atau komponen-komponen materi seperti ruang, alam semesta, bangunan, pakaian, peralatan dan non-materi semisal pengetahuan, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, peranan, merupakan suatu sistem yang disebut sistem budaya.Sistem budaya merupakan rangkaian hubungan komponen-komponen budaya sebagai ungkapan prilaku, perbuatan, dan tindakan manusia sebagai makhluk budaya. Namun demikian, dalam mekanisme budaya tersebut, tidak terpisahkan dari hubungan antara manusia sebagai makhluk sosial yang menghubungkan antar individu, antara individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok manusia lainnya. Di sini terbentuk suatu tatanan yang dikonsepkan sebagai sistem sosial. Sistem ini terbentuk, sebagai akibat hubungan sosial antar komponen-komponen.
Membangun Komunikasi Harmonis Berbasis Al-Qur’an Mahfudzi Mahfudzi
Almarhalah Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/almarhalah.v4i1.36

Abstract

Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial yang selalu menggunakan komunikasi untuk melakukan interaksi. Setiap hari kita melakukan komunikasi dengan teman, keluarga, sahabat, guru, dan masyarakat lainnya. Sebelum membahas faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi sebaiknya kita mengetahui apa arti komunikasi. Komunikasi adalah penolong seseorang dalam upaya memenuhi kebutuhan interpersonal jika merasa sedih atau gelisah, maka membutuhkan sebuah percakapan dengan orang lain untuk memberikan sebuah kenyamanan, persahabatan dan bahkan kehangatan.Dalam perspektif Islam, potensi berkomunikasi pada manusia merupakan pemberian Allah yang sudah otomatis ada sejak dia diciptakan. Allah berfirman : “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Alquran, Dia menciptakan manusia, mengajarkan pandai berbicara”. (QS. Al-Rahmān : 1-4). Setelah unsur jasad dan ruh berpadu dalam dirinya di hari ke-120, Dalam sebuah hadis disebutkan : “Sesungguhnya kalian diciptakan di perut ibunya empat puluh hari fase ‘nutfah’, kemudian fase ‘alaqah’ juga 40 hari, kemudian fase ‘mudghah’ 40 hari, dan setelah itulah ruh diciptakan…” (HR.Bukhari, no.2969, dan Muslim no.4781). Manusia harus berkomunikasi secara sehat dan berkualitas dngan tujuan untuk menghindari rusaknya suasana karmonisasi  antar manusia bahkan terhadap Allah SWT

Page 1 of 1 | Total Record : 10