cover
Contact Name
Hayatullah Kurniadi
Contact Email
hayatullah.kurniadi@uin-suska.ac.id
Phone
+6285265505309
Journal Mail Official
jurnalkomunikasiana@uin-suska.ac.id
Editorial Address
Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sultan Sultan Syarif Kasim Riau. Jl. HR Soebrantas Km 15, Simpangbaru, Tampan, Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Komunikasiana: Journal of Communication Studies
ISSN : 26544695     EISSN : 26547651     DOI : -
Komunikasiana: Journal of Communication Studies Print ISSN 2654-4695 | Online ISSN 2654-7651 is an academic journal published by Dakwah and Communication Faculty of UIN Sultan Syarif Kasim Riau. This journal publishes the results of research on communication studies: Media, Journalism, Public Relations, Broadcasting, Corporate Social Responsibilty (CSR), Marketing Communication, Organizational Communication, Political Communication, Cross Culture Communication, Information Communication Technology (ICT), Health Communication, Disaster Communication, New Media.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2024)" : 6 Documents clear
Representasi Toxic Masculinity pada Tokoh Pria dalam Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Salshadilla, Illaya; Ismandianto, Ismandianto
Komunikasiana: Journal of Communication Studies Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kjcs.v6i2.29675

Abstract

Toxic masculinity menjadi salah satu bukti dari adanya ketidakadilan gender, di mana tidak hanya wanita yang dirugikan dalam budaya patriarki, namun pria juga mengalami ketidakadilan tersebut. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas merupakan salah satu film yang mengangkat isu toxic masculinity dimana menceritakan seorang pria yang menunjukkan maskulinitas untuk menyembunyikan impoten yang dia miliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna denotasi, konotasi, dan mitos toxic masculinity pada tokoh pria dalam film. Penelitian menggunakan metode kualitatif yang dianalisa melalui teori semiotika Roland Barthes. Subjek penelitian mengambil 12 dari 95 scene yang merepresentasikan toxic masculinity. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi, dan menggunakan triangulasi sumber sebagai teknik pemeriksaan keabsahan data. Hasil penelitian menemukan makna denotasi toxic masculinity tokoh pria merupakan penggambaran pria yang ingin mendominasi melalui kekerasan jika dihadapkan dengan suatu masalah. Makna konotasi toxic masculinity tokoh pria menggambarkan adanya sifat untuk memenuhi stereotipe maskulinitas, yang mana konstruksi laki-laki adalah sosok yang memiliki rasa ingin mendominasi, ingin terlihat kuat, selalu mengutamakan kekerasan jika dihadapkan dengan masalah agar tidak terlihat lemah dan selalu terlihat maskulin. Untuk makna mitos toxic masculinity tokoh pria dibuktikan dengan penggambaran bahwa laki-laki ditampilkan sesuai dengan konstruksi sosial menurut sistem budaya patriarki yang mengakibatkan ketimpangan gender.
The Role of Local Culture in the Formation of Marketing Communication Networks for Microenterprise Sustainability in Coastal Areas Subekti, Priyo; Sjuchro, Dian Wardiana
Komunikasiana: Journal of Communication Studies Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kjcs.v6i2.33905

Abstract

This research aims to examine the importance of marketing communication networks in the growth of micro-enterprises and appreciate the role of social and technological integration in developing culture-oriented marketing networks. The case study method was employed with a descriptive qualitative research design. The data was collected through in-depth interviews, participatory observation, and analysis of documents related to marketing strategies. A purposive sampling technique was adopted in sampling micro-entrepreneurs engaged in trade and tourism within the coastal region of Pangandaran Beach. The study depicts local values such as togetherness, gotong royong, and trust networks as values-based marketing communication that bridges the micro-enterprises and the local communities, families, and business partners. Social media proved otherwise in extending the marketing network through technological adaptation and brand recall. In addition, engagement with government institutions and other similar sectors, such as distributors and tourism actors, also contributes significance to the stability of the microenterprise. In summary, the inclusion of local cultural elements into marketing communicational networks creates a synergy that enhances not only the marketing strategies but also the viability of the micro-enterprises operating in the coastal region. This study helps policymakers and businesses devise culture-centered marketing strategies to enhance the growth of the local economy.
Fesyen Komunitas Subkultur Mods Kota Bandung dalam Penciptaan Program Feature Al Mulki, Abdul Arsyi; Undiana, Nala Nandana
Komunikasiana: Journal of Communication Studies Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kjcs.v6i2.31736

Abstract

Mods merupakan sebuah subkulutur yang muncul pada akhir tahun 1950-an di Inggris. Seiring perkembangan zaman, subkultur mods terus tumbuh dan diadopsi oleh komunitas subkultur mods di Kota Bandung yang memiliki ciri khas dari aspek fesyennya. Program feature ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai fesyen mods yang diadopsi oleh komunitas subkultur mods di Kota Bandung, yang digunakan untuk mengomunikasikan identitas mereka, atau terkhusus menunjukkan mereka adalah seorang penganut mods kepada masyarakat umum sebagai pembeda. Hasil penciptaan dari program feature ini didapat menggunakan teori fashion sebagai komunikasi yang digagas oleh Malcolm Barnard, agar dapat menganalisis fesyen sebagai media pesan. Adapun temuan yang didapat dalam proses penciptaan program feature ini, menunjukkan bahwa fesyen subkultur mods bukan hanya tentang penampilan yang rapih, gagah, necis (‘perlente’), tetapi bagaimana individu bisa tampil ‘smartdress’. Selain itu, komunitas subkultur mods di Kota Bandung dan di Inggris memiliki perbedaan dalam makna dan konteks sosial. Pentingnya peran media massa televisi dalam penyampaian informasi, edukasi, dan sarana rekreasi, yang ditujukan sebagai media yang efektif untuk memperkenalkan identitas subkultur mods, dan memberikan pemahaman publik tentang nilai-nilai fesyen yang diusung oleh komunitas subkultur mods di Kota Bandung.
Joget Prabowo dan Filter Bubble: Tinjauan terhadap Respon Masyarakat Pasca Pemilu di YouTube CNN Indonesia Safitri, Dini; Ramadhani, Aura; Tridewi, Sylfani; Suciati, Wening
Komunikasiana: Journal of Communication Studies Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kjcs.v6i2.33856

Abstract

Algoritma media sosial menciptakan "filter bubble", yang mengekspos pengguna hanya pada konten yang sesuai dengan preferensi mereka, yang mengarah pada polarisasi masyarakat dan memengaruhi persepsi terhadap peristiwa politik, seperti jogetan Prabowo Subianto setelah pidato kemenangannya. Penelitian ini menganalisis dampak filter bubble terhadap persepsi publik atas video joget Prabowo di kanal YouTube CNN Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mencakup wawancara mendalam dengan mahasiswa yang memiliki pandangan pro dan kontra terhadap Prabowo dan menganalisis konten media sosial terkait. Temuan menunjukkan bahwa gelembung filter dapat  membentuk persepsi dan mengekspos pengguna terutama pada konten yang menyenangkan. Keberadaan filter buble juga dapat membentuk opini publik yang terpolarisasi. Ada responden yang merasa terhibur dalam aksi joget Prabowo tersebut, namun ada juga yang tidak menyukainya dan menganggap joget tersebut tidak pantas. Polarisasi menyebabkan ada respon yang pro dan kontra di masyarakat. Untuk beberapa hal filter bubble dapat memperluas polarisasi dan mempersulit terjadinya konsensus pada masyarakat.
Modalitas Perkembangan Psikososial Erikson dan Tahapan Kedukaan Kubler-Ross pada Carl Fredricksen di Film UP Damayati, Anindita; Marta, Rustono Farady; Panggabean, Hana; Tjajadi, Octavia Putri; Briandana, Rizki
Komunikasiana: Journal of Communication Studies Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kjcs.v6i2.33766

Abstract

Seseorang dapat mengalami kesedihan mendalam dan berbagai perubahan emosi ketika kehilangan pasangan akibat penyakit kronis. Dalam film animasi "UP" yang diproduksi oleh Disney-Pixar pada tahun 2009 inilah yang memberikan sentuhan emosi pada karakter utama Carl Fredricksen, seorang duda lanjut usia (lansia). Menggunakan The Stages of Grief oleh Kubler-Ross dan Perkembangan Psikososial Erikson, studi ini bertujuan untuk memetakan visual kunci dari berbagai adegan film yang menggambarkan dinamika kedukaan pada lansia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan kerangka Multimodality Discourse Analysis (MDA) oleh O’Halloran. Hasil menunjukkan bahwa Carl tidak melalui tahap kedukaan secara berurutan, namun setelah melalui tahap penerimaan akhirnya ia mendapatkan penutupan (closure). Perasaan keutuhan tersebut membantu lansia untuk mencapai kesesuaian perkembangan psikososial berupa integrity. Studi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang dinamika kedukaan pada lansia, serta proses kehidupan yang harus dilalui hingga mencapai tahap akhir dari kedukaan mereka agar mampu mencapai perkembangan psikosial yang sesuai dengan tahapan usianya.
Penguatan Literasi Agama pada Anak melalui Komunikasi Dakwah Nuzuli, Ahmad Khairul; Rimin, Rimin
Komunikasiana: Journal of Communication Studies Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kjcs.v6i2.34181

Abstract

Penelitian ini membahas peran orang tua dalam memperkuat literasi agama anak melalui komunikasi dakwah dalam keluarga. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode fenomenologi, penelitian ini mengeksplorasi strategi orang tua dalam menghadapi tantangan era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan orang tua, komunikasi dakwah kreatif melalui cerita nabi dan media digital, serta keterlibatan anak dalam aktivitas keagamaan, berperan dalam meningkatkan literasi agama. Tantangan utama meliputi keterbatasan waktu, kurangnya pengetahuan agama, dan pengaruh negatif teknologi. Strategi parental mediation, seperti pendampingan aktif dan pembatasan konten, menjadi solusi efektif. Komunikasi berbasis kasih sayang menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran agama. Dengan pendekatan yang tepat, orang tua dapat membentuk karakter anak yang beriman dan berakhlak mulia di era digital.

Page 1 of 1 | Total Record : 6