cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
gtm_jd@yahoo.co.id
Phone
+6287861886493
Journal Mail Official
adetantri87@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No.11 Singaraja Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Filsafat Indonesia
ISSN : 26207990     EISSN : 26207982     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jfi.v3i3
Core Subject : Education,
Jurnal Filsafat Indonesia is a scientific journal published by LPPM Ganesha Educational University, which publishes scientific articles on the development and research in philosophy. Journal of Philosophy is published three times a year, in April, June, and September. Editorial Team Journal of Philosophy accepts manuscripts in the field of philosophy which have never been published in other media. The Editorial Team has the right to edit the text to the extent that it does not change the substance of its contents.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 3 (2018)" : 5 Documents clear
REFLEKSI KONSEP KETUHANAN AGAMA KRISTEN DAN AGAMA ISLAM DALAM PANDANGAN FILSAFAT PERENIAL Milton Thorman Pardosi; Siti Murtiningsih
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 1 No. 3 (2018)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v1i3.16130

Abstract

Agama Kristen dan Agama Islam adalah dua agama yang diturunkan oleh Allah, keturunan Abraham dan memiliki Kitab Suci yang diwahyukan Allah.  Keduanya sama-sama mempercayai Allah Yang Maha Esa, Sang Pencipta.  Tujuan penulisan ini untuk memahami konsep ketuhanan agama Kristen dan Islam dan memahami refleksi ketuhanan kedua agama tersebut dalam Filsafat Perenial.  Dalam pemahaman agama Kristen, Allah itu Esa yang merujuk kepada kualitatif.  Sementara kata Allah bukanlah nama Oknum yang disembah melainkan gelar karena kata “Allah” juga digunakan baik kepada sesembahan Bangsa Israel dan Non-Israel.  Salah satu nama Allah dalam Alkitab adalah Yahweh.  Sementara dalam pemahaman agama Islam, konsep Allah adalah Esa merupakan salah satu rukun iman (Tauhid) dan ini merujuk kepada kuantitatif.  Konsep Esa ini adalah monoteisme murni, di mana Tuhan bukan hanya jumlahnya Esa melainkan sifatnya pun Esa.  Perbedaan pemahaman ketuhanan kedua agama tersebut dapat dilihat melalui Filsafat Perenial di mana Filsafat Perenial merupakan metafisika yang mengakui realitas Ilahi yang substansial bagi dunia benda, hidup dan pikiran.  Filsafat Perenial memberikan analog tentang Tuhan seperti cahaya matahari yang satu dan ketika ditangkap oleh prisma memunculkan beraneka macam warna.  Itu sebabnya Filsafat Perenial melakukan dua pendekatan yaitu: Eksoteris yang berfungsi sebagai dasar pijakan pemahaman tentang Tuhan berdasarkan perkataan Tuhan tentang dirinya melalui wahyu; Pendekatan Esoterik adalah pemahaman langsung tentang Tuhan melalui penyatuan seluruh potensi kemanusiaan yang dikenal sebagai “jalan” mistik.  Kesimpulannya, agama Kristen dan agama Islam adalah menyembah Allah yang sama yaitu Allah Yang Maha Esa, Sang Pencipta (Esoterik).  Kedua, kata Esa, dalam pemahaman agama Kristen berarti kualitatif sementara dalam Agama Islam berarti kuantitaf (Eksoterik).  Ketiga, kata Allah dipahami berbeda, yang satu sebagai gelar, namun bagi yang satu sebagai nama (Eksoterik).    Kata Kunci: Perenial, Allah, Esa
TINJAUAN METAFISIKA ANTON BAKKER DALAM PRINSIP HIDUP ORANG JAWA KAWRUH BEGJA Krisna Yogiswari; Siti Murtiningsih
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 1 No. 3 (2018)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v1i3.16135

Abstract

Artikel ini secara garis besar bertujuan untuk memahami prinsip hidup kawruh begja dalam masyarakat Jawa berdasarkan teori metafisika Anton Bakker.  Memaparkan kedudukan orang Jawa sebagai pengada yang berada di antara pengada-pengada lain di dalam suatu struktur realitas. Manusia Jawa dalam konteks ini diandaikan bermetafisika, yakni menempatkan dirinya sebagai subjek sekaligus sebagai objek metafisika, serta menempati posisi sebagai pengada bagi dirinya sendiri sekaligus pengada bagi orang lain. Prinsip kawruh begja memang lebih dominan memperlihatkan aspek mental yang berupa jiwa tetapi, ditekankan kembali bahwa jiwa dan badan tetaplah merupakan kesatuan realitas yang tak terpisahkan dengan perannya masing-masing. Orang Jawa pun tidak semata-mata memandang realitas melalui perspektif dirinya, tetapi juga memandang realitas fisik dunia di luar dirinya, kemudian melihat jangkauan keterhubungan antara dirinya dengan realitas di luar dirinya.
Epistemologi Saintifik Thomas S. Kuhn terhadap Munculnya Ilmu Pengetahuan Sosial septi nur damayanti
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 1 No. 3 (2018)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v1i3.16192

Abstract

Pada fase normal science, paradigma yang mapan sudah tidak dilihat secara kritis. Paradigma tersebut sudah dianggap benar begitu saja, taken for granted. Sampai akhirnya, paradigma yang mapan ini digugat karena ada anomali dimana muncul masalah atau pertanyaan-pertanyaan yang tidak sanggup lagi dijawab oleh paradigma lama. Kamudian masuklah pada fase krisis. Pada fase krisis, paradigma lama bertarung dengan paradigma baru. Jika paradigma baru menang dan masyarakat ilmiah menyepakati kebenaran paradigma baru tersebut maka lahirlah apa yang disebut sebagai revolusi saintifik dimana paradigma lama tergeser oleh paradigma baru. Thomas Kuhn tidak melihat klaim objektivitas pengetahuan dari sisi perkembangan pengetahuan itu sendiri. Kuhn melihat objektivitas pengetahuan dan keilmuan itu sendiri di dalam perkembangan pengetahuan di dalam pertemuan antarmanusia di dalam masyarakat. Sumber pertumbuhan dan pemekaran bukan saja dari masalah-masalah internal pengetahuan, tetapi dari faktor-faktor sosial yang majemuk dan dinamis. Akibatnya, tidak ada klaim objektivitas yang bersifat tunggal (kumulatif) di dalam pengetahuan atau keilmuan. Oleh karena itu, semestinya tidak ada ilmu normal yang bertahan terus apalagi menjadi abadi karena pengetahuan atau ilmu selalu berada pada tuntutan dinamika sosial kemanusiaan yang dinamis dan majemuk. Fase normal science cepat atau lambat, akan mengalami anomali, krisis, dan akhirnya terjadilah revolusi dimana paradigma lama digantikan oleh paradigma baru.
PHILOSOPHY TVET DI ERA DERUPSI REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DI INDONESIA Unung Verawardina; Jalius Jama
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 1 No. 3 (2018)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v1i3.17156

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji Philosophy TVET di era derupsi revolusi industri 4.0 di Indonesia, yang meliputi tentang bagaimana filsafat pendidikan kejuruan, TVET, pembelajaran di Abad XXI hingga Revolusi industri 4.0. Praksis pendidikan kejuruan di Indonesia lebih cendrung mengarah penggunaan mazab Prosser melalui filosfi esensialisme dan mazab Dewey filosofi pragmatis. Namun dalam perjalannyan perubahan-perubahan yang terjadi dalam pembelajaran Abad XXI dan perkembangan teknologi modern, maka peran TVET sebagai pendidikan dan pelatihan yang tujuanya mempersiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan dunia kerja memiliki tantangan tersendiri. TVET cenderung kefilosofi pragmatism, dan sepanjang perubahan yang terjadi pada perkembangan berbasis sains, teknologi dan rekayasa. Terkait dengan perkembangan teknologi yang modern ini merupakan ciri dari filosofi pragmatis rekonstruksi yakni reformasi sosial yang menghendaki budaya modern. Menjawab reformasi sistem TVET dibutuhkanya antisipatif terhadap perubahan Abad XXI, maka pembelajaran disesuai dengan 21st Century Skills. Revolusi Industri 4.0 menjadi era baru perindustrian yang banyak menggunakan teknologi virtual dan canggih, sehingga di era ini menjadi pendorong munculnya ide-ide baru, ciptaan baru maupun sesuatu yang lama dimodifikasi untuk berinovasi dalam mengembangkan teknologi baru. Oleh karena itu pendidikan kejuruan saat ini menghadapi tantangan yang cukup besar, maka pendidikan kejuruan mesti mempersiapkan segala hal dalam menghadapi transisi ini. Kata kunci: Philosophy TVET, pendidikan kejuruan, revolusi industri 4.
Analisis Nilai Moral Dalam Film Animasi “The Boss Baby” Produksi Dreamworks Animation Bagi Siswa Sekolah Dasar Dhanang Lukmantoro; Singgih Adhi Prasetyo; Husnul Hadi
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 1 No. 3 (2018)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v1i3.17157

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja nilai moral dalam Film Animasi “The Boss Baby” karya DreamWorks Animation bagi Siswa Sekolah Dasar. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan subjek penelitian yaitu siswa kelas V SD Negeri 2 Tamanrejo. Data yang diperoleh menggunakan teknik simak catat, Kangket, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil penelitian yang telah dideskripsikan yaitu film animasi “The Boss Baby” mengandung nilai moral yang baik untuk anak usia sekolah dasar antara lain nilai kejujuran, keadilan, toleransi, bijaksana, disiplin diri, suka menolong, berbelas kasih, kerja sama, berani, dan demokratis. Namun untuk anak usia sekolah dasar hanya mampu menganalisis nilai kerja sama dan suka menolong dari film tersebut. Film ini dapat dijadikan sarana penanaman moral untuk anak dengan bimbingan guru ataupun orang tua..Kata kunci: Nilai Moral, The Boss Baby, Sekolah Dasar

Page 1 of 1 | Total Record : 5