cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 198 Documents
KERAWANG GAYO: STUDI ETNOGRAFI DI KAMPUNG BEBESEN KABUPATEN ACEH TENGAH Rosdiani Rosdiani; Ibrahim Chalid
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i1.6204

Abstract

Kerawang Gayo is the name for decorative motifs of traditional Gayo clothing that has been designated as an intangible cultural heritage through the Decree of the Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia Number 270/P/2014 concerning the Determination of Indonesian Intangible Cultural Heritage in 2014. This study uses an ethnographic approach by observing directly in the field to see the existence of openwork gayo in various crafts and the manufacturing process. Conducted interviews with artisans and openwork shop owners, especially the community in Bebesen Village, Bebesen District, Central Aceh Regency. Based on the research results, it is known that the existence of Kerawang Gayo is preserved by modifying the motifs, both on functional products of traditional clothing and other functional products by utilizing cultural values to attract buyers' interest. The Kerawang Gayo motif found on woven products is called Lintem, on wood, it is called chisel, on metal, it is called carving and on cloth, it is called embroidery. Before the 1980s, openwork gayo was still called Gayo Weaving. The various motifs found in Gayo weaving are called Bebunge Betabur clothes, Upuh Kio, Upuh Pawaq, Upuh Ketawaq, Kut clothes, Dede split clothes, Bunge shoots, and so on. Abstrak: Kerawang Gayo adalah sebutan untuk ragam hias motif pakaian adat Gayo yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 270/P/2014 tentang Penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. pada tahun 2014. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan melakukan observasi langsung ke lapangan untuk melihat keberadaan Kerawang Gayo pada berbagai kerajinan dan proses pembuatannya. Melakukan wawancara dengan pengrajin dan pemilik toko kerawang khususnya masyarakat di Desa Bebesen Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa keberadaan Kerawang Gayo dilestarikan dengan melakukan modifikasi motif, baik pada produk fungsional pakaian adat maupun produk fungsional lainnya dengan memanfaatkan nilai-nilai budaya untuk menarik minat pembeli. Motif Kerawang Gayo yang terdapat pada produk tenun disebut Lintem, pada kayu disebut pahat, pada logam disebut ukiran dan pada kain disebut bordir. Sebelum tahun 1980-an, Kerawang Gayo masih disebut Tenun Gayo. Berbagai motif yang terdapat pada Tenun Gayo disebut Baju Bebunge Betabur, Upuh Kio, Upuh Pawaq, Upuh Ketawaq, Baju Kut, Baju Dede, Bunge Tunas, dan sebagainya.
DINAMIKA SOSIAL DAN STRATEGI EKONOMI PEDAGANG PIDIE DI KOTA PANTON LABU Fitriyani Fitriyani
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.357

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tanah Jambo Aye khususnya di Kota Panton Labu Kabupaten Aceh Utara, dengan melihat “Dinamika Sosial dan Strategi Ekonomi Pedagang Pidie Di Kota Panton Labu. Penelitian  ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dinamika sosial dan strategi ekonomi yang dilakukan oleh para pedagang Pidie di Kota Panton Labu dalam mendapatkan lahan untuk berdagang dan cara pedagang Pidie dalam mempertahankan lahan tempat berdagangnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif analisis dengan metode kualitatif, untuk menganalisis data yang lebih akurat. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dengan informan pedagang pidie di Kota Panton Labu, studi dokumen dan literatur. Fenomena yang tejadi bahwasanya banyak pedagang Pidie yang menetap di Kota Panton Labu yang sudah mampu membuka usaha sendiri dalam bidang ekonomi yaitu dengan cara berdagang. Masyarakat Pidie dikenal oleh khalayak banyak dengan sistem berdagangnya karena mayoritas orang Pidie pekerjaannya adalah pedagang.Masyarakat Pidie memiliki talenta cara berdagang yang baik. Dari hasil ini menunjukkan strategi yang dilakukan pedagang Pidie lebih kepada sistem harga, pelayanan dan mengutamakan kualitas produk, selain harga, pedagang Pidie ini juga mampu menarik perhatian pembeli dengan cara pelayanan yang baik. Dinamika kehidupan sosial muncul dalam upaya memahami masyarakat secara lebih memadai perkembangan hubungan tersebut yang dapat memunculkan dua kemungkinan, yaitu: kedua masyarakat terebut akan membuat rencana untuk melakukan penyesuaian sehingga dapat memelihara keanekaragaman budaya dalam suatu situasi dari unit sosial yang dianggap bermanfaat, atau mereka akan berbaur dengan  pola-pola dominasi pengabdian dan tidak merupakan unit sosial.
KOPI: OTENTISITAS MATERIAL DAN GAYA HIDUP Ade Ikhsan Kamil
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i2.2777

Abstract

This paper aims to see the extent to which coffee is a consumable commodity that is devoid of meaning, but coffee is also seen as a material that has been commodified so as to cause different meanings for people who consume it. By using qualitative research methods, the author wants to show that how changes in coffee as a commodity can become a lifestyle that has an impact on the meaning of the coffee commodity itself as if coffee has changed itself and given meaning to itself.Abstrak:  Tulisan ini bertujuan untuk melihat sejauh mana kopi sebagai sebuah komoditas konsumsi yang hampa makna, namun kopi juga dilihat sebagai sebuah materi yang mengalami komodifikasi sehingga menimbulkan pemaknaan yang berbeda bagi orang yang mengonsumsinya. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penulis ingin menunjukkan bahwa bagaimana perubahan kopi sebagai komoditas dapat menjadi gaya hidup yang berdampak pada pemaknaan komoditas kopi itu sendiri seolah-olah kopi telah merubah dirinya sendiri dan memberikan makna terhadap dirinya
REVITALISASI NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM PENGUATAN KARAKTER DI ERA DISRUPSI PADA MASYARAKAT SUKU ALAS Iromi Ilham; Amiruddin Ketaren; Richa Meliza
Aceh Anthropological Journal Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v5i2.5663

Abstract

Ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi era disrupsi menimbulkan berbagai gejolak dan instabilitas sosial. Kemajuan teknologi dan informasi yang tidak dibarengi dengan revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal semakin memperparah kondisi tersebut. Oleh karena itu, kajian ini fokus pada upaya memahami kembali nilai-nilai yang berbasis local wisdom dalam masyarakat suku Alas agar dapat menjadi benteng moral masyarakat dalam menyongsong era globalisasi. Kajian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, kajian pustaka, dan FGD. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebenarnya tiga prinsip dasar yang harus dipahami kembali oleh masyarakat suku Alas sebagai bentuk local indigenous, yaitu tulahan (kutukan akan perbuatan salah), pantang (menjaga diri dari hal-hal yang dilarang) dan kemali (menjaga diri dari hal-hal tabu dalam masyarakat) dapat menjadi benteng infiltrasi budaya. Ketiga hal tersebut menjadi dasar dalam membentuk karakter yang metoh simejile (mengetahui yang baik), kokhjeken simejile (melakukan yang baik), dan dhakhami simejile (mencintai yang baik).
PALAWIK DALAM PASUNGAN KEMISKINAN: Relasi Patron Klien dalam Industri Perikanan Kepulauan Banyak, Aceh Singkil Muhajir al Fairusy
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i2.1160

Abstract

Discussion of maritime human life and fisheries, at least be an effort to reaffirm the existence of coastal society and culture. Moreover, if the people are in the geopolitical boundaries of Aceh, which is rarely touched the attention of social researchers. This study is an attempt to understand, and describe the portrait of fisherman life of the Pulau Banyak, Aceh Singkil, which is stuck in a patron-based client relationship. Interest to study coastal communities, as an effort to see the phenomenon of poverty of fisherman community of Pulau Banyak, which is termed palawik. Therefore, it is important to see thoroughly the dynamics of the life of the fishing industry that has been held by the fishermen community. This research is descriptive, with historiography approach, and phenomenology paradigm. Data collection techniques through Library Research, and in-depth interviews with informants to find the emic side. The results showed that the Pulau Banyak fisheries industry is the main livelihood of the island community. In order to seek social security, most fishermen establish patron-clientpatterned relationships with tauke. However, the patronage pattern of working relationships has trapped and locked fishermen into poverty.
Mengidentifikasi Sikap Toleran Sunan Kudus melalui Situs Budaya Muhammad Rosyid
Aceh Anthropological Journal Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v5i1.3500

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendedahkan fakta bahwa nilai toleransi perlu diuri-uri. Teknik perolehan data dengan observasi dan pendalaman literatur dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil riset, Kota Kudus Jawa Tengah terdapat situs khas di antaranya bangunan kuno disebut Langgar Bubrah. Bangunan itu terdapat lingga dan yoni sebagai karakter candi. Argumen ilmiah dengan pendekatan arkeologi menandaskan bahwa lestarinya Langgar Bubrah hingga kini sebagai bentuk toleransi Sunan Kudus yang tetap melestarikannya dilanjutkan oleh generasi muslim adanya lingga dan yoni hingga kini. Pemkab Kudus perlu optimal merawatnya sehingga diagendakan penyelamatan objek budaya yakni restorasi, revitalisasi, dan memfasilitasi sarana dan prasarana kebudayaan berupa fasilitas penunjang yakni ruang sanggar budaya. Anggota DPRD Kudus pun perlu mewujud politik anggaran dalam APBD yang berpihak pada cagar budaya dengan penyediaan pendanaan pemajuan kebudayaan didasarkan atas pertimbangan investasi.
PENGUATAN BUDAYA LOKAL DALAM KERANGKA PENDIDIKAN KARAKTER: STUDI PADA BUDAYA JAWA Adoniati Meyria Widaningtyas
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i1.1148

Abstract

Character education that planned since 2010 by the Ministry of National Education until seven years after the declaration still hasn’t shown significant impact for the Indonesian. The issue of globalization and the unstoppable flow of information perceive to begin erode the cultural values that become the identity of the Indonesian nation. Through Presidential Regulation Number 87/2017 on Strengthening Character Education, emphasized the principles of character education, one of which is local wisdom. One of Indonesia's local wisdom is the Javanese culture that characterizes the community in Central Java, East Java and Yogyakarta. This paper aims to explore the values of Javanese culture and relate it to the values of character education developed through strengthening the character education program, as well as giving ideas of its application in school.
BOSAN DENGAN RAMBUT HITAM: KAJIAN BUDAYA TENTANG TREN MEWARNAI RAMBUT DI KECAMATAN KOTA KUALA SIMPANG KABUPATEN ACEH TAMIANG Eli Suprida
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3155

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kota Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang, dengan judul “Bosan Dengan Rambut Hitam” (Tren Mewarnai Rambut di Kota Kuala Simpang  Kabupaten  Aceh Tamiang).  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif, untuk menggali data yang lebih akurat, serta penulis juga menggunakan teknik  pengumpulan  data  melalui  observasi,  wawancara,  mendalam,  dan dokumentasi. Dari penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mewarnai rambutnya dikarenakan  mengikuti tren mewarnai rambut  yang  sedang  berkembang  saat  ini. Melihat persoalan ini, Kebiasaan mewarnai rambut pada dasarnya tidak tumbuh pada hari ini, Keinginan untuk mewarnai rambut memang sudah berkembang sejak zaman Mesir Purba.  Tak  hanya  itu,  pemilihan  kosmetika  harus  senantiasa  didasarkan  kepada kondisi rambut dan tujuan yang hendak dicapai.  mimikri adalah suatu hasrat dari subjek yang berbeda menjadi subjek yang lain yang hampir sama, tetapi tidak sepenuhnya (as subject of a difference, that is almost the same, but not quite). Amerikanisasi telah menjadi salah satu aspek sejumlah ketakutan dan kecemasan umum atas semakin besarnya kapasitas kaum muda dan kelas pekerja untuk berpartisipasi dalam masyarakat konsumen yang lahir secara perlahan-lahan. Dampak amerikanisasi tidak luput dari peranan media massa yang berhasil merekontruksi jati diri mereka.
PERGESERAN FUNGSI EAR-RING SEBAGAI AKSESORIS HIJAB DI KALANGAN PEREMPUAN KOTA LHOKSEUMAWE (Kajian Antropologi Budaya) Erma Yunita
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.362

Abstract

Artikel ini melihat pergeseran fungsi Ear-ring sebagai aksesoris hijab pada masyarakat Lhoksemawe, Aceh. Artikel ini mendeskripsikan bagaimana pergeseran fungsi Ear-ring yang merupakan anting-anting sehingga dapat dipakai sebagai aksesoris perempuan berhijab serta mengetahui perubahan makna terhadap Ear-ring. Menggunakan analisis deskriptif,  data dikumpulkan melalui observasi partisipatif serta wawancara dengan informan yaitu perempuan pengguna Ear-ring hijab di Kota Lhokseumawe. Serta penulis juga menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan observasi partisipatif dimana penulis ikut menjadi subjek dalam penelitian. Perempuan memerankan peran kunci dalam ruang publik baru kota-kota modern, modernitas disimbolkan dalam sosok perempuan modern yang sangat bergaya. Berbicara tentang trend masa kini, era reformasi di Indonesia membentuk suatu budaya populer yaitu trend Ear-ring Hijab. Media sosial memiliki peranan penting dalam mempopulerkan Ear-ring hijab, salah satunya adalah media sosial Instagram. Ear-ring hijab populer di kalangan perempuan kota Lhokseumawe tak luput dari peran para selebgram yang menerima endorse Ear-ring hijab.
PROBLEMATIKA PENGGUNAAN BAHASA ACEH DI KOTA LANGSA Elvira Siti Humairah; Saifullah Saifullah; Awaluddin Arifin
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i2.2782

Abstract

Penelitian ini bertema tentang Antropologi Linguistik yang mengkaji tentang “Problematika Penggunaan Bahasa Daerah” (Studi Antropologi Linguistik Pada Penutur Bahasa Aceh Di Kota Langsa). Secara mendalam diceritakan untuk mengetahui sejauh mana penggunaan bahasa daerah (Bahasa Aceh), yang digunakan oleh masyarakat yang ada di Kota Langsa. Penelitian ini menggunakan metode sosial kualitatif yang bersifat deskriftif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Fenomena menurunnya penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa ibu sudah menjadi persoalan yang sering dibicarakan oleh kalangan ahli bahasa. Hal ini tidak lepas dari perkembangan globalisasi dan modernisasi yang semakin cepat Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masyarakat melihat fenomena berkurangnya penggunaan Bahasa Aceh di Kota Langsa yang dihuni oleh masyarakat multikultural sebagai sesuatu yang yang lumrah terjadi. Namun, masyarakat tetap berharap agar Bahasa Aceh tetap ada di tengah masyarakat dan terus dilestarikan.

Page 8 of 20 | Total Record : 198