cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 198 Documents
Resiliensi Komunitas dan Kerawanan Pangan di Pedesaan Aceh Nuwita Maliati; Ibrahim Chalid
Aceh Anthropological Journal Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v5i1.4602

Abstract

Pasca bencana tsunami, masyarakat Aceh menghadapi situasi yang sulit dan permasalahan yang kompleks secara fisik dan sosial, terutama bagi rumah tangga di pedesaan yang memiliki keterbatasan aksesibilitas terhadap sumberdaya dan ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap sumberdaya alam. Penelitian tentang resiliensi komunitas masyarakat Aceh ini adalah upaya untuk mengkaji dimensi sosial-budaya sebagai dampak perubahan pasca konflik dan bencana tsunami.  Hal itu penting diketahui karena ada banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Aceh akibat dampak tsunami terkait dengan kehidupan masyarakat di pedesaan yang tidak hanya menyangkut hubungan masyarakat dengan sumberdaya alam yang terganggu, tetapi juga penting diketahui lebih jauh tentang interaksi sesama anggota komunitas dan luar komunitas sehingga komunitas tetap bertahan walaupun selalu dihadapkan pada situasi yang rawan pangan. Oleh karena itu perlu upaya untuk menjelaskan bagaima resiliensi masyarakat  pedesaan di Aceh pasca konflik dan bencana tsunami dalam kaitannya dengan kerawanan pangan.  Analisis ini bermanfaat dalam upaya antisipasi dan mengatasi kerawanan pangan di masyarakat dengan sistem atau kelembagaan yang berbasis pada budaya lokal dan berorientasi pada pemecahan masalah kerawanan pangan
RESISTENSI MASYARAKAT TERHADAP ELITE BARU PASCA-HELSINKI DI ACEH Iromi Ilham
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i1.1149

Abstract

The reconcilement of Helsinki became the gateway of the Acehnese transformation which has implicated to the social and political change in Aceh. One other thing is the emergence of former GAM fighter as the new Acehnese elite. The collective trauma of the Aceh community led by "outsiders" before Helsinki treaty years ago made the people of Aceh want to leave hope to the awaknanggroe. However, over the time, as if the history of the past was repeated. People feel the social imbalance that practiced by the new elite who ever once existed as "justice fighters". The failure of reciprocity practiced by the elite as a form of responsibility to the people causes the resistance from society, whether it is in an insinuation or in the open pattern. This is the main study in this paper. Finally, the propaganda Meunyoe keun ie, mandum leuhob.Meunyoeu keun droe teuh, mandum gob which was once massively accepted, has expressed to a new antithesis; Nibak ngeun ie, mangat ngeun leuhob, nibak ngeun droeu teuh, mangat that ngeun gob.
DILEMA WISATA DI KOTA LHOKSEUMAWE: STUDI SOSIAL BUDAYA PADA TEMPAT WISATA WADUK JEULIKAT Yanti Yanti; Teuku Kemal Fasya; Ibrahim Chalid
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3156

Abstract

: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pandangan masyarakat terhadap wisata waduk Jeulikat, untuk mempelajari dan mendeskripsikan dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat sekitar wisata waduk Jeulikat serta untuk mengetahui konflik yang hadir di tempat wisata waduk Jeulikat. Metode pada penelitian ini adalah menggambarkan proses antropologi sosial budaya. Sumber data penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pandangan masyarakat terhadap wisata waduk Jeulikat sejauh ini dirasakan masih stabil, selama Pemerintah Kota Lhokseumawe mampu mengelola waduk Jeulikat sebaik mungkin, mengutamakan kepentingan umum demi masyarakat sekitar, melakukan kerjasama dan komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat, sehingga pengembangan wisata berjalan dengan yang diharapkan. Dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat sekitar dengan adanya wisata waduk Jeulikat pada umumnya membawa perubahan dalam membangun roda perekonomian masyarakat, membuka kesempatan lapangan kerja, berdagang atau berbisnis serta prospek yang menjanjikan terhadap Gampong Jeulikat, sehingga membantu memperlancar perekonomian masyarakat. Namun disisi lain berdampak kurang menguntungkan bagi masyarakat sekitar, hal ini dikarenakan aktivitas masyarakat terhambat karena tidak berfungsi lagi saluran irigasi sawah. Konflik yang hadir di tengah-tengah tempat wisata waduk Jeulikat yaitu adanya permasalahan dari faktor keamanan dalam hal pembebasan lahan yang terjadi antara Pemerintah Kota Lhokseumawe dengan masyarakat setempat, karena waduk yang sebelumnya dipergunakan sebagai pengairan irigasi, kini telah dijadikan sebagai tempat wisata yang handal. Selain itu juga hadir permasalahan dari faktor yang berbaur politik, dimana waduk Jeulikat yang dulunya milik masyarakat, kini telah dijadikan sebagai tempat rekreasi
FENOMENA BUDAYA MASYARAKAT ACEH TERHADAP PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Cut Andyna
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i1.6711

Abstract

Breastfeeding to infants have a positive impact on their health. But not all women understand the importance of breastfeeding for babies. Various aspects affect, including the cultural factors that are still so dominant among the people of Aceh. This research was conducted with a phenomenological qualitative approach in Aceh Province to examine the cultural phenomenon of the decision to breastfeed. The results showed that the cultural aspect influenced the mother's decision to breastfeed babies exclusively. Understanding mothers and those around them and the lack of information and education from local health workers to educate from pregnancy to postpartum is the dominant factor for breastfeeding mothers not to breastfeed exclusively. Besides giving formula milk, other foods such as bananas and filtered porridge are given before entering the MPASI period, which should be at the age of 6 (six) months. Therefore, it is necessary to continue socialization and complete so that public knowledge increases according to the expectations of the government, which has strived and launched programs related to exclusive breastfeeding by paying attention to points that the community has not fully understood.Abstrak: Pemberian ASI pada bayi memberikan dampak positif bagi kesehatannya. Namun tidak semua wanita memahami pentingnya ASI bagi bayi. Berbagai aspek mempengaruhi, termasuk faktor budaya yang masih begitu dominan di kalangan masyarakat Aceh. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologi di Provinsi Aceh untuk mengkaji fenomena budaya keputusan menyusui. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek budaya mempengaruhi keputusan ibu untuk menyusui bayi secara eksklusif. Pemahaman ibu dan orang di sekitarnya serta kurangnya informasi dan edukasi dari petugas kesehatan setempat untuk mengedukasi sejak hamil (antenatal) hingga nifas (pasca melahirkan) menjadi faktor dominan ibu menyusui untuk tidak memberikan ASI eksklusif. Selain pemberian susu formula, makanan lain seperti pisang dan bubur saring diberikan sebelum memasuki masa MPASI yang seharusnya pada usia 6 (enam) bulan. Oleh karena itu perlu terus dilakukan sosialisasi dan lengkap agar pengetahuan masyarakat meningkat sesuai harapan pemerintah yang telah mengupayakan dan mencanangkan program-program terkait ASI eksklusif dengan memperhatikan poin-poin yang belum sepenuhnya dipahami masyarakat. 
BELANJA “ONLINE” SEBAGAI CARA BELANJA DI KALANGAN MAHASISWA (Studi Kajian Budaya Di Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh) Nurhayati Nurhayati
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i2.1140

Abstract

Artikel ini membahas tentang belanja online di kalangan mahasiswa. Lokasi artikel ini adalah di kampus Bukit Indah, Universitas Malikussaleh. Faktor-faktor dominan yang menyebabkan pemilihan cara berbelanja secara online yaitu karena adanya faktor kebutuhan dan faktor prestige, selanjutnya dalam berbelanja secara online sebagian mahasiswa berperilaku konsumtif karena lebih cenderung mengkonsumsi nilai tanda atau prestige. Hal tersebut membuktikan bahwa teori masyarakat konsumsi Baudrillard dialami oleh para informan. Mereka dalam memilih cara berbelanja secara online memiliki intended meaning (makna yang dimaksudkan) kepada suatu objek yang dituju dan dalam kegiatan belanja secara online banyak mengkonsumsi nilai tanda daripada nilai guna. Metode analisis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif yang melihat fenomenalogis yang terdiri atas observasi dan wawancara mendalam pada mahasiswa Unimal yang aktif belanja online. Observasi untuk melihat fenomena belanja online di kalangan mahasiswa Universitas Malikussaleh dan mengetahui faktor yang mendorong mahasiswa Unimal memilih cara belanja dengan menggunakan online. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa bentuk gaya hidup konsumtif mahasiswa dalam berbelanja secara online meliputi dua nilai yang sangat menonjol yaitu simulakra dan nilai tanda.
COMMUNITY DIASPORA IN THE MARITIM STRAIT OF MALAKA MALAYSIA : A CASE STUDY OF THE ACEH RUNCIT SHOP Muhammad Ichsan
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i2.2892

Abstract

This journal article was written as a study of the Diaspora of the Aceh community in Malaysia. The Tsunami in Aceh 16 years ago has brought big changes to the people, both from the cultural aspects and new ideas that are constantly developing. The earthquake disaster followed by the tsunami caused damage and exacerbated political conflict between GAM and the TNI, which had a major impact on the Acehnese community. This condition made the people of Aceh start thinking about migrating to neighboring countries such as Malaysia because they saw more profitable opportunities. The Diaspora that occurred as a result of the Acehnese who migrated to Malaysia gave birth to a new culture. The presence of the Acehnese in Malaysia is marked by the formation of the Acehnese community and small shops which are the embodiment of the Aceh-Malaysia Diaspora. This study refers to ethnographic principles in the area of the village of Aceh, Yan Kedah. This research is a case study, an exploration and analysis technique in the investigation of a particular social unit. This research was conducted to determine the impact of the presence of the Acehnese diaspora on Malaysia. From the results of the discussion, it was found by researchers that the underlying reason for the Aceh and Malaysian Diaspora was due to the desire of the Acehnese people to leave the conflict zone which threatened the lives of the Acehnese community traders. Then the religious aspects also affect so that it is easy for the Acehnese people to adapt to Malaysia and be able to survive and unite the cultures of Aceh and Malaysia.
PROBLEMATIKA DI BALIK PROSES RELOKASI KORBAN BENCANA DI SITI AMBIA Juhaina Juhaina; T. Kemal Fasya; Ade Ikhsan Kamil
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i1.2788

Abstract

Bencana alam selalu memunculkan dampak pembangunan baru di wilayah tertentu. Pembangunan dikonsepsikan sebagai usaha untuk kemajuan ekonomi yang berarti keluar dari zona kemiskinan. Masyarakat harus saling mendukung dalam hal pembangunan, karena masyarakat menentukan keadaan sosial dan pembangunan suatu negara. Dari dampak bencana gempa yang ditimbulkan maka muncullah pembangunan daerah pascabencana untuk memulihkan kembali luka mayarakat. Namun, masyarakat terlihat gagap terhadap pembangunan tersebut, hal ini dapat dilihat dari tingkah laku masyarakat yang lebih memilih kembali ke lokasi awal bencana daripada menempati relokasi bantuan. Penelitian ini mengambil tema pembangunan pasca bencana, dengan pendekatan Antropologi Pembangunan. Studi Antropologi Pembangunan yang digunakan mengangkat judul “Rekonstruksi Kampung Siti Ambia Pascabencana” (Studi Antropologi Pembangunan di Kampung Siti Ambia, Kecamatan Singkil, Kabuaten Aceh Singkil). Metode yang dilakukan dalam penelitian ini ialah jenis sosial kualitatif. Kampung Siti Ambia adalah salah satu Kampung di Kecamatan Singkil yang terkena bencana gempa pada 28 Maret 2005. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data yakni, data primer dan data sekunder. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mengapa masyarakat lebih memillih kembali ke tempat semula daripada menempati lokasi bantuan. Padahal lokasi bantuan jauh lebih baik daripada lokasi semula yang mereka tinggali. Dengan penelitian ini penulis berharap akan menambah wawasan mengenai pembangunan pasca gempa dalam studi Antropologi Pembangunan, serta memberi pandangan mengenai pembangunan terhadap masyarakat.
PROGRAM RATIFIKASI KONVENSI PBB TENTANG DAFTAR HITAM ORGANISASI TERORIS DI INDONESIA Al Chaidar; Herdi Sahrasad; Iskandar Zulkarnaen; Fauzi A Rahman; Muntasir Abdul Kadir
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i2.272

Abstract

Untuk secara efektif menangani ancaman teroris saat ini, kita harus mulai dengan cara pemahaman yang unik di mana jihadisme ternyata mendorong kekerasan, dan dilanjutkan dengan menilai mana negara-negara Barat yang memiliki kekuatan nyata sekaligus kerentanan nyata dalam pendekatan mereka terhadap terorisme. Pada dekade belakangan ini dan sejak 11 September 2001, jelas bahwa kita tidak hanya perang melawan teror tapi prinsipnya terhadap ide-ide jihad yang mengilhaminya. Dengan melihat ke belakang sejak lima tahun terakhir, dan khususnya dua tahun terakhir sejak ISIS mengumumkan khilafah, bisa dikatakan bahwa jihad jauh dari kata statis dengan berbagai ketegangan yang memiliki kecenderungan untuk beradaptasi dan berkembang. Seiring serangan yang baru-baru ini terjadi di Paris, Brussels, San Bernardino dan Orlando menunjukkan bahwa para pebuat kebijakan tidak menganggap secara serius kekuatan ide jihad. Hal ini jelas terlihat ketika pemerintah AS melalui program Countering Violent Extremism (CVE) dari laporan Homeland Security Advisory Council merekomendasikan tidak menggunakan kata-kata seperti “jihad” dan “syariah,” karena takut mengobarkan sebuah narasi “kita lawan mereka.“ Padahal ancaman jihad hanya dapat benar-benar diatasi jika kita peduli untuk memahami bahwa ide-ide jihad memegang peranan dalam mendorong aksi kekerasan. Jihadisme perlu di-packing kembali dari konsep tradisional untuk mengeksploitasi situasi politik dunia Islam terutama di Timur Tengah. Ini berdasarkan fakta ketika ide-ide jihad secara meyakinkan berubah wujud dengan cepat menjadi ancaman fisik kinetik.
HARMONI DI KAKI GUNUNG KUMBANG Ngasa, Komunitas Jalawastu dan Jejak Sunda di KabupatenBrebes Wijartno Wijanarto
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i2.1157

Abstract

The diversity of Brebes Regency has been attributed through scattered heritage tracks both tangible and intangible. All of them frame the identity of the community in Brebes Regency. Among them are the Jalawastu community which is on the slopes of the Kumbang mountain. Jalawastu is a trace of Sundanese in Brebes Regency which still survives. They still maintain some traditions as one of the strengthening of identity as heirs of Sundanese culture. It feels synonymous with the appreciation of the Jalawastu community for their natural cosmology that lives at the foot of Mount Kumbang. In Ngasa's footsteps, the Jalawastu community explores their historical traces inherited through memory memories. Memory is the inheritance of traditional historiography stored in the folklore story. Most Jalawastu folklores include oral folklore. The substance of this study is based on cultural ecological relations with the physical environment that produces a number of cultural systems as well as symbols of social harmony
LIVING IN HARMONY BETWEEN MUSLIM AND BUDDHIST: Comparative Study: Indonesia and Southeast Asia Watini Watini
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i1.1145

Abstract

This article attempts to describe connection between Indonesia and Southeast Asia also India. First part, it describes Islam Nusantara as one of Islam Indonesian style. Islam Indonesia is very close with tradition, for example Islam Aboge, Islam Ammatoa and Islam Java/Islam Kejawen. Islam Indonesia have relationship with tradition that some scholars perceived it as indigenous religion. So, after that part it is followed by Buddhism Nusantara style because particularly Islam Java have strong encounter with Buddhist tradition. The study is descriptive and qualitative research. This research looks at how Muslim and Buddhist relation is preserved in Southeast Asia. This research was standing in Muslim-Buddhist relation framework. Simplicity speaking, this paper shows that Indonesia have connection peacefully with other countries such as India and Southeast Asia. Since Islam came to Indonesia in 12-15th century, Islam encounter with Hindu Buddhist tradition but Islam can develop and make one style of Islam Indonesia/Islam Nusantara such as Islam Ammatoa, Islam Aboge and Islam Java.

Page 10 of 20 | Total Record : 198