cover
Contact Name
Nastiti Mufidah
Contact Email
nastiti@iainponorogo.ac.id
Phone
+6281217198353
Journal Mail Official
asanka@iainponorogo.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No. 156, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia Po. Box. 116. Kodepos 63471
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
ASANKA: Journal of Social Science And Education
ISSN : 27230007     EISSN : 27229998     DOI : 10.21154/asanka
Journal of Social Science and Education [e-ISSN 2722-9998 | p-ISSN 2723-0007] is a journal research published by Institute for Social Science And Education, State Islamic Institute of Ponorogo. This journal first published in 2020 to facilitate the publication of research and articles. ASANKA accepts original scientific writings that have never been published in the field of social science, education, including conceptual thoughts, research reports, case reports, application of theory, critical studies and literature reviews. The Journal issued biannually in March and September.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2022)" : 10 Documents clear
Pendidikan Islam Multikultural : Analisis Historis Masa Dinasti Abbasiyah Uswatun Hasanah; Heni Verawati
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i2.4847

Abstract

ABSTRAKMultikulturalisme merupakan pengakuan terhadap keragaman yang ada dalam masyarakat. Indonesia merupakan negara yang multi kultur, multi etnis, juga multi agama. Meskipun demikian seakan masyarakat Indonesia kurang kesadaran dan kemampuan dalam mengelola keragaman dengan baik. Sehingga konflik dengan latarbelakang perbedaan tersebut banyak terjadi. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengkaji konsep dasar pendidikan multiktural dengan analisis historis pada masa dinasti Abbasiyah dan mengkaji model pendidikan Islam multikultural pada masa Abbasiyah yang dapat diteladani dan diimplementasikan pada masa sekarang. Penelitian ini mengkaji konsep pendidikan Islam multikultural pada masa Dinasti Abbasiyah, yang dilakukan dengan pendekatan deskriptif berbentuk studi pustaka dengan teknik content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa multikulturalisme pada masa Dinasti Abbasiyah mulai berkembang karena khalifahnya memiliki keterbukaan akan keragaman, khususnya pada masa Harun al-Rasyid dan puncaknya pada masa al-Ma’mun. Penerapan pendidikan Islam multikultural pada lembaga Bayt al-Hikmah bersifat eksternal dan umum sedangkan di luar Bayt al-Hikmah bersifat internal dan khusus. Selanjutnya kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa, multikulturalisme pada masa Dinasti Abbasiyah mulai berkembang, hal ini karena keterbukaan khalifah dalam menerima kebudayaan di luar Arab juga peran dari masyarakatnya. Selanjutnya pendidikan Islam multikultural masa dinasti Abbasiyah meliputi aspek kelembagaan, pendidik dan metode terbukti berhasil menanamkan nilai-nilai multikultural dan membawa Islam pada puncak kejayaan. ABSTRACTMulticulturalism can be considered an acknowledgment of the diversity that exists in society. Indonesia is a multicultural, multi-ethnic, and multi-religious country. Even so, it seems that the Indonesian people lack proper awareness and ability to manage this diversity as some conflicts from these differences still occur. This study aims to examine the basic concepts of multicultural education with historical analysis during the Abbasid dynasty and the model of multicultural Islamic education during the Abbasid period that can be imitated and implemented today. This study examines the concept of multiculturalism in Islamic education during the Abbasid dynasty, which was carried out using a descriptive approach in the form of literature studies and content analysis techniques. Multiculturalism during the Abbasid dynasty began to develop because the Khalifah was open to diversity, especially during the era of Harun al-Rasyid and at its peak during the era of al-Ma'mun. The application of multiculturalism in Islamic education at the Bayt al-Hikmah institution was external and general, while multiculturalism education outside Bayt al-Hikmah was internal and more specific. Furthermore, the conclusion of this study shows that multiculturalism during the Abbasid dynasty began to develop because of the caliph's openness in accepting cultures outside of Arabia and the role of the community. Furthermore, multicultural Islamic education during the Abbasid dynasty includes aspects of institutions, educators, and methods that have proven successful in instilling multicultural values and bringing Islam to its peak of glory.
Pembentukan Karakter Sosial Melalui Kisah dalam Al-Qur’an Niken Diani Pangestika Asyari
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i2.4278

Abstract

ABSTRAKAdanya indikasi penurunan kualitas moral dan karakter generasi bangsa menjadi problem dalam menyiapkan generasi yang unggul. Perlu adanya karakter sosial yang dimiliki oleh generasi bangsa agar mampu bertahan dalam era globalisasi. Generasi bangsa yang unggul harus memiliki kemampuan dalam mengenali diri dan lingkungannya agar mampu beradaptasi dengan lingkungan hidupnya. Melalui kisah Qarun banyak pelajar yang bisa diambil, serta diaplikasikan dalam kehidupan dan penguatan karakter sosial. Pemilihan kisah yang tepat penting untuk dilakukan, agar pelajaran yang dapat diambil selaras dengan tujuan pembentukkan karakter sosial. Upaya ini diharaapkan mampu menanankan karakter sosial yang kuat guna menciptakan generasi bangsa yang kuat dan berkualitas, baik dari segi intelektual, sosial, dan agama. Metode penelitian yang digunakan mengunakan library research, dengan jenis penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif. Qarun dikisahkan sebagai seorang yang telampau membanggakan hartanya hingga melupakan kewajiabannya sebagai makhluk Allah SWT dan sesama manusia. Qarun mendapat balasan dari Allah SWT atas sikap sombong dan kufurnya. Ada lima karakter sosial yang dapat diinternalisasi dalam pembentukan karakter sosial melali kisah Qarun yaitu, Rendah hati, Syukur, Kepekaan Sosial, Peduli Lingkungan, dan Sabar. Kelima karakter sosial tersebut apabila diimplementasikan dengan baik akan memberikan manfaat bagi pembemtukan karakter sosial guna menyiapan generasi bangsa yang unggul dan berkualitas. Internalisasi nilai karakter sosial dapat dilakukan dengan mengidentifikasi nilai-nilai karakter sosial yang terdapat dalam kisah Qarun. Aplikasi penggunaan kisah Qarun dalam al-Qur’an sebagai inspirasi pembentukan karakter sosial dapat dijadikan alternatif dalam memberikan pemahaman kepada generasi bangsa pentingnya memiliki karakter sosial. ABSTRACT There are indications of a decline in the moral quality and character of the nation's generation, which is a problem in preparing a superior generation. There needs to be a social character possessed by the nation's generation to survive in the era of globalization. The superior-nation generation must have the ability to recognize themselves and their environment to adapt to it. Through the story of Al-Qur’an, many lessons can be learned and applied in life, strengthening social character. It is crucial to choose the right story so that the lessons drawn can be in harmony with its social character. Hopefully, this effort will develop a solid social character to create a strong and quality nation generation, intellectually, socially, and religiously. The research method used is library research, with a qualitative research type and a descriptive approach. Al-Qur’an is described as too proud of his wealth to remember his obligations as a creature of Allah SWT and a fellow human being. Al-Qur’an received a reply from Allah SWT for his arrogant attitude. Through the story of Al-Qur’an, five characteristics can be internalized in forming social character: humility, gratitude, social sensitivity, environmental care, and patience. These five social characters, if properly implemented, will benefit the formation of a social character to prepare a superior and quality generation for the nation. Internalization of social character values can be done by identifying the social character values in the story of Al-Qur’an. Applying the story of Al-Qur’an in the Al-Qur’an as inspiration for the formation of social character can be used as an alternative to providing an understanding of the importance of social character to the nation's youth. 
Penguatan Literasi Pembelajaran IPS dalam Menghadapi Perubahan Sosial Budaya Generasi Z Era 4.0 Fatma Laili Khoirunnida; Siti Maryam Yusuf
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i2.5028

Abstract

ABSTRACTThis study has the aim of analyzing the form of activities for strengthening social studies learning literacy in dealing with socio-cultural changes of generation Z era 4.0 in class IX A MTsN 6 Sampung Ponorogo. Analyzing the supporting and inhibiting factors for strengthening social studies learning literacy in the face of social change. As well as analyzing the changes that occurred in students after the social studies learning literacy movement in the face of socio-cultural changes. This research is a qualitative research with data collection methods of observation, interviews and documentation. Based on the results of the analysis of research data, it was found that efforts to strengthen literacy in the 4.0 era for students, the majority of which were Generation Z, were carried out with the help of several approaches such as communicative approaches, CBSA, integrative, process skills, science, society and technology. This is stated in the school literacy movement starting from early literacy, basic literacy, library literacy, media literacy, technological literacy and visual literacy. Inhibiting factors come from internal and external such as lack of motivation, environmental influences and limited facilities either at school or at each child's home. The conclusion of this study is literacy strengthening activities using forms of early literacy, basic literacy, library literacy, media literacy, technological literacy and visual literacy that bring students to be more aware and understand the importance of reading, be innovative and humanize humans today. They have now been able to instill values, norms, morals and love for local culture in themselves. In addition, they have been aware to be wise in the use of students' insights.ABSTRACTPenelitian ini memiliki tujuan  menganalisis bentuk kegiatan penguatan literasi pembelajaran IPS dalam menghadapi perubahan sosial budaya generasi Z era 4.0 di kelas IX A MTsN 6 Sampung Ponorogo. Menganalisis faktor pendukung dan penghambat penguatan literasi pembelajaran IPS dalam menghadapi perubahan sosial. Serta menganalsis perubahan yang terjadi pada siswa setelah gerakan literasi pembelajaran IPS dalam menghadapi perubahan sosial budaya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengambilan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan perolehan hasil analisis data penelitian ditemukan bahwa pengupayaan penguatan literasi era 4.0 kepada peserta didik yang mayoritas generasi Z dilakukan dengan bantuan beberapa pendekatan seperti pendekatan komunikatif, CBSA, integratif, ketrampilan proses, ilmu, masyarakat dan teknologi. Hal tersebut dituangkan dalam gerakan literasi sekolah mulai dari literasi dini, literasi dasar, literasi library, literasi media, literasi teknologi dan literasi viasual. Faktor penghambat berasal dari internal maupun eksternal seperti kurangnya motivasi, pengaruh lingkungan dan keterbatasan fasilitas baik di sekolah ataupun di rumah masing-masing anak. Kesimpulan pada penelitian ini yakni kegiatan penguatan literasi dengan menggunakan bentuk literasi dini, literasi dasar, literasi library, literasi media, literasi teknologi dan literasi viasual yang membawa peserta didik lebih sadar dan paham akan pentingnya membaca, inovatif dan saling memanusiakan maunisia saat ini. Mereka kini telah mampu menanamkan nilai, norma, moral dan cinta kebudayaan lokal kepada dirinya. Selain itu mereka telah sadar untuk bijak dalam penggunaan wawasan peserta didik.
Implementasi Kearifan Lokal Gusjigang dalam Perspektif Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Pada Pondok Al Mawadah Kudus Khoirun Alan Nauri; Noor Fatmawati
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i2.4671

Abstract

ABSTRAKImplementasi Kearifan Lokal Gusjigang dalam Perspektif Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Pada Pesantren Al Mawadah Kudus: Penarapan dan penghayatan terhadap Gusjigang sering digaungkan dalam ceramah tetapi dalam pendidikan yang dituntut sesuai dengan kebutuhan kurikulum maka perlu adanya penerapan dalam lingkup Pendidikan Pesantren. Santri yang bagus pintar mengaji dan berdagang. Pendidikan pesantren umumnya masih dianggap hanya seputar ngaji,  ternyata lebih dari duduk dan mendengarkan. Santri mepraktekkan kehidupan bersosial sehari hari berlandaskan kearifan lokal yaitu dituntut melaksanakan bagus, ngaji, dan berdagang sesuai dengan kebutuhan era modern dalam lingkup pesantren agar stigma tersebut mengalami pergesran menuju kepeningkatan kualitas santri. Terlebih dalam penanggulangan dan mitigasi efek pandemi maka penting dilaksanakan penyelidakan tentang eksistensi pelaksanaan kearifan lokal Gusjigang. Dengan mewawancarai santri dan pengurus pesantren serta mengamati keadaan pesantren yang dekat dengan permukiman masyarakat secara berkala, kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif maka diperoleh informasi kaitannya selaras dengan sudut pandang Ilmu Pengetahuan Sosial yang memadukan ilmu ilmu sosial seperti sejarah, antropologi, demografi, ekonomi dan kewirausahaan. Tujuan penulisan ini menyatakan Pertama memuat cara pendidikan pesantren dalam memunculkan ciri khas sebagai memperkuat produk santri, kedua cara bagaimana pesantren Al Mawadah dalam menghayati Gusjigang, sebagai nafas dalam melakukan kependidikan meliputi aspek Spiritualitas, dan Ekonomi. Ketiga  kebermanfaatan dan kebermaknaan pembelajaran ala santri sebagai bahan ajar dan pijakan dalam keseharian. Relevansi karakter Gusjigang yang dipegang teguh dengan penyesuaian zaman ABSTRACT An Implementation of Gusjigang Local Wisdom in the Perspective of Social Science Learning at Pesantren Al Mawadah Kudus: The absorption and passion for Gusjigang is often echoed in lectures but in education that is required in accordance with curriculum needs, it is necessary to apply it within the scope of Pesantren Education. Good students (Santri) are good (bagus) at studying(ngaji) and trading (dagang). Boarding school education is generally still considered only about paying, it turns out that it is more than sitting and listening. Students(Santri) practice daily social life based on local wisdom, namely being required to carry out good, paycheck, and trade in accordance with the needs of the modern era within the scope of pesantren so that the stigma is shifted towards improving the quality of students. Especially in overcoming and mitigating the effects of the pandemic, it is important to carry out an investigation about the existence of the implementation of Gusjigang's local wisdom. By interviewing students and pesantren administrators and observing the situation of pesantren that are close to community settlements periodically, then analyzed with a qualitative descriptive approach, information is obtained in relation to the point of view of Social Sciences that combines social sciences such as history, anthropology, demography, economics and entrepreneurship. The purpose of this paper; Firstly contains the way of pesantren education in bringing out characteristics as strengthening student products, secondly the way how Al Mawadah pesantren in living Gusjigang, as a breath in conducting education covering aspects of Spirituality, and Economics. Third, the usefulness and meaningfulness of student-style learning as teaching material and foothold in everyday life. The relevance of Gusjigang's character is firmly held to the adjustment of the times. 
Pelaksanaan Lesson Study Bagi Pengembangan Kompetensi Pedagogik Guru (Studi Kasus Pada MGMP PKn SMP Kabupaten Ogan Ilir) Mita Purnama
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i2.5027

Abstract

ABSTRAKKompetensi pedagogik guru saat ini belum mencapai kondisi optimal dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tahapan pelaksanaan kegiatan lesson study dan mengidentifikasi pengembangan kompetensi pedagogik guru setelah mengikuti lesson study oleh musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) PKn SMP Kabupaten Ogan Ilir. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumnetasi. Data dianalisis dengan reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, tahapan lesson study mulai perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi berjalan dengan baik sesuai dengan tujuannya. Kedia terkait pelaksanaan lesson study memberi dampak positif terhadap perkembangan kompetensi pedagogik guru baik secara manajerial maupun praktik pembelajaran. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa tahapan-tahapan pelaksanaan lesson study mampu mengembangkan kompetensi pedagogik guru. Hal ini dapat dilihat dari kesiapan MGMP dalam memfasilitasi guru mengikuti kegiatan di lapangan. Selanjutnya, dampak dari pelaksanaan tahapan lesson study bagi pengembangan kompetensi pedagogik guru dapat dilihat dari perubahan sikap, kebiasaan, kesiapan, dan pola pengajaran yang ditunjukkan oleh guru dalam setiap proses kegiatan belajar dan mengajar di kelas.ABSTRACTTeachers' current pedagogical competence has not yet reached optimal conditions for supporting the improvement of national education quality. This study aimed to identify the development of teacher pedagogic competence after attending lesson study by subject teachers' deliberations (MGMP) in Civics at SMP in Ogan Ilir Regency. The research employed a qualitative approach with case studies. The technique of data collection methods included interviews, observation, and documentation. Data were analyzed through data reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings revealed that the stages of lesson study, from planning to implementation to reflection, were completed successfully and following their objectives. Secondly, the use of lesson study positively impacts the development of teachers' pedagogical competencies, both managerially and in terms of learning practices. The findings of this study indicate that the stages of implementing lesson study can help teachers develop their pedagogical skills. It is evidenced by the MGMP's readiness to assist teachers in field activities. Furthermore, the impact of implementing the lesson study stages for the development of teachers' educational competencies can be seen in changes in attitudes, habits, readiness, and teaching patterns demonstrated by teachers in all teaching and learning activities in the classroom. 
Siti Walidah Dahlan Pelita Pemberdayaan Perempuan Yogyakarta 1917-1946 Difa Annida Utami; Hendra Afiyanto
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i2.4763

Abstract

ABSTRAK             Melihat realitas pada awal abad ke-20 di Yogyakarta kaum perempuan hanya berada pada posisi pasif di ranah domestik, dan laki-laki dianggap lebih superior dari perempuan. Upaya peningkatan peran perempuan sebagai mitra sejajar dengan laki-laki tentunya tidak terlepas dari peran para tokoh, termasuk Siti Walidah. Tentunya dari permasalahan umum di atas, dapat dirinci ke dalam beberapa permasalahan, pertama, apa pengaruh gerakan Siti Walidah terhadap kaum perempuan Yogyakarta? Kedua, bagaimana bentuk partisipasi dan kontribusi Siti Walidah dalam organisai Aisyiyah? Ketiga, bagaimana reaksi masyarakat mengenai pergerakan Siti Walidah yang menjunjung hak-hak perempuan? Pada penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi empat tahap, yaitu: heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Terdapat 3 (tiga) hasil temuan dalam kajian ini, pertama, Siti Walidah membawa perubahan baru dan memberikan pengetahuan dengan mendirikan Sapa Tresno sebagai bentuk upaya Siti Walidah dalam memberdayakan kaum perempuan. Kedua, Siti Walidah dalam perjalanannya membersamai Aisyiyah selalu memberikan dukungan juga teladan kepada anggota Aisyiyah, selain itu Siti Walidah juga turut berkontribusi dalam beberapa kegiatan di Aisyiyah. Ketiga, perjungannya dalam melepaskan belenggu kaum perempuan dari adat istiadat yang sudah mapan menuai pro-kontra. Siti Walidah harus berhadapan dengan masyarakat yang konservatif dan memegang prinsip bahwa perempuan hanya merupakan “konco wingking”. ABSTRACT Seeing the reality at the beginning of the 20th century in Yogyakarta, women were only in a passive position in the domestic sphere, and men were considered superior to women. Efforts to increase the role of women as equal partners with men certainly cannot be separated from the role of figures, including Siti Walidah. Of course, from the general problems above, it can be broken down into several problems, first, what was the influence of the Siti Walidah movement on the women of Yogyakarta? Second, what is the form of Siti Walidah's participation and contribution in the Aisyiyah organization? Third, how is the public's reaction to the Siti Walidah movement which upholds women's rights? In this study, the author uses historical research methods which include four stages, namely: heuristics, verification, interpretation, and historiography. There are 3 (three) findings in this study, first, Siti Walidah brought new changes and provided knowledge by establishing Sapa Tresno as a form of Siti Walidah's efforts in empowering women. Second, Siti Walidah in her journey with Aisyiyah always provides support as well as role model to Aisyiyah members, besides that Siti Walidah also contributes to several activities in Aisyiyah. Third, her struggle to release women's shackles from established customs has brought pros and cons. Siti Walidah has to deal with a conservative society and holds the principle that women are only "konco wingking".
Metode Pembelajaran Problem Based Learning dalam Meningkatkan Keterampilan Abad Ke- 21 Siswa SMPN 1 Kedungpring Lamongan Shovia Wahyu Purwati
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i2.4946

Abstract

ABSTRAKDi abad 21 ini, banyak model pembelajaran yang dapat menjadi referensi guru untuk meningkatkan kreativitas maupun tanggungjawab siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah problem-based learning dimana siswa dituntut untuk memecahkan masalah, bekerja sama dan bertanggungjawab sampai akhir pelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pembelajaran dengan menggunakan model problem-based learning untuk meningkatkan keterampilah abad ke-21 siswa di SMPN 1 Kedungpring, Lamongan. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif. Sedangkan untuk teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan signifikan prestasi belajar peserta didik kelas VIII C pada mata pelajaran PPKn dengan menggunakan model pembelajaran problem-based learning. Hal ini dibuktikan dengan sebanyak 80 %  peserta didik berhasil lulus uji kompetensi.  Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem-based learning mampu meningkatkan prestasi belajar para peserta didik. ABSTRACTThere are many learning models available in the twenty-first century that teachers can use to increase creativity and student responsibility. Problem-based learning is one of the learning models that can be used in which students are required to solve problems, collaborate, and be responsible until the end of the lesson. This study aimed to determine the efficacy of learning by using a problem-based learning model to improve students' 21st-century skills at SMPN 1 Kedungpring, Lamongan. The descriptive quantitative method was used in the research. This study collected data through observation, interviews, questionnaires, and documentation. The study finding revealed a significant increase in the learning achievement of class VIII C students in Civics subjects when a problem-based learning model was used. It is demonstrated by the fact that up to 80% of students passed the competency test. This study concluded that learning using problem-based learning models could improve student achievement. 
Penggunaan Media Powtoon dalam Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Daring pada Pembelajaran IPS Balqis Nahdliya Azzaha; Nastiti Mufidah; Muthia Aprianti
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i2.5167

Abstract

Tingkat perkembangan suatu bangsa juga ditentukan oleh unsur-unsur kemajuan dan perkembangan suatu pendidikan Pandemi covid menjadikan dampak yang besar pada sistem pendidikan dimana banyak siswa yang tidak bisa menerima materi pembelajaran dengan baik karena pandemi.banyak siswa yang mengeluh pembelajaran yang diberikan oleh bapak ibu guru cenderung monoton dan membosankan. Selain itu peneliti  juga menapat informasi bahwa banyak guru yang kesulitan untuk menciptakan pembelajaran yang efektif pada masa pandemi. Ristiwa ini adalah akibat dari Pandemi Covid 19 Menjadikan Peralihan Pembelajaran dari tatap muka menjadi pembelajaran daring dari rumah, hal ini menjadikan faktor dimana pentingnya teknologi yang berperan aktif dalam memberikan inovasi dan kreatifitas penyampain materi  Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Dari hasil penelitian  yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan sebagai berikut : 1)penggunaan media powtoon sangat membantu meningkatkan efektitas pembelajaran daring pada pembelajaran IPS, powtoon menjadi salah satu media pembelajran yang mampu memberikan kemudahan bagi peserta didik/ siswa dalam lebih memperhatikan materi yang telah dismpaikan karena sangat menarik perhatian siswa dalam memahami materi karena mudah dipahami dan diingat, yang tidak selalu berfokus pada media buku saja. 2) hambatan yang dihadapi oleh guru dan siswa SMPN 1 Sambit Ponorogo adalah belum terbiasa beradaptasi dengan pembelajaran daring dengan penerapan system, apalagi kebijakan sekolah yang menggunakan banyak aplikasi maupun media pembelajaran, dan masih banyak sekali siswa yang mengeluh kuota internet, sinyal yang tidak stabil. ABSTRACTThe level of development of a nation is also determined by the elements of progress and development of an education The covid pandemic has had a big impact on the education system where many students cannot receive learning materials properly because of the pandemic. Many students complain that the learning provided by the teachers tends to be monotonous and boring. In addition, researchers also received information that many teachers had difficulty creating effective learning during the pandemic. This incident is the result of the Covid 19 Pandemic. Making the Learning Switch from face-to-face to online learning from home, this is a factor where technology plays an active role in providing innovation and creativity in delivering material. This research was carried out through a qualitative approach with a descriptive type. From the results of research conducted by researchers, it can be concluded as follows: 1) the use of powtoon media is very helpful in increasing the effectiveness of online learning in social studies learning, powtoon is one of the learning media that is able to provide convenience for students / students in paying more attention to the material that has been conveyed because it is very attract students' attention in understanding the material because it is easy to understand and remember, which does not always focus on the media of books only. 2) the obstacles faced by teachers and students of SMPN 1 Sambit Ponorogo are that they are not used to adapting to online learning by implementing the system, especially school policies that use many applications and learning media, and there are still many students who complain about internet quotas, unstable signals.
Nilai Pendidikan Moral yang Terkandung dalam Seni Reyog Ponorogo Sebagai Media Pengembangan Islam di Ponorogo Warsini Warsini
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i2.4856

Abstract

ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan sejarah reog, perlengkapan dan busana reog, serta peran reog sebagai media dalam penyebaran agama Islam di Ponorogo. Proses penelitian dilakukan dengan teknik studi literatur yang berasal dari buku dan internet. Reog Ponorogo memiliki nilai moral yang tinggi untuk mendorong sikap hidup cinta tanah air, yang di dalamnya terdapat ajaran yakni, tenang, ketekunan, ketangguhan, siaga, mampu mengantisipasi, perhatian, terampil, trengginas (lincah), dicintai, penyayang, responsif, sasmito (peka), dihormati, penuh wibawa. Setelah reog disempurnakan oleh Batoro Katong, maka pengikut Bethoro Katong semakin banyak. Hal ini membuat Batoro Katong, Kyai Ageng Mirah dan Patih Selo Aji semakin ada cara dalam mengembangkan Islam di Ponorogo kala itu. Makna dari alat musik dan busana pun juga  diterjemahkan oleh Batoro katong, seperti udeng, penadhon, kolor (usus-usus). Selain itu, terdapat pula alat musik lainnya seperti terompet, kenong, kempul, saron, slenthem, gender, gambang, siter, kempul, kenong dan gong. Dalam kesenian Reog di dalamnya mengandung makna nilai moral seperti dakwah kepada manusia atau penguasa atau pejabat agar tidak terlalu terpengaruh oleh istrinya sehingga lalai dengan tanggung jawab. Nilai moral selanjutnya adalah larangan zina karena zina adalah perbuatan keji dan terkutuk. Bagi masyarakat yang menonton kesenian reog, hal ini bisa menjadi tontonan sekaligus tuntunan agar mengambil hikmah dibalik kesenian tersebut. Dapat disimpulkan dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan antara seni reog dengan perkembangan Islam di Ponorogo. ABSTRACT This research aimed to describe the history of reog, reog equipment, clothing, and the role of reog as a medium in spreading Islam in Ponorogo. The research uses techniques derived from books and the internet for literature study. Reog Ponorogo has high moral values to encourage a love of the homeland, which include teachings such as calm, perseverance, toughness, alertness, ability to anticipate, caring, skilled, trengginas (agile), loved, compassionate, responsive, sasmito (sensitive), respected, and full of authority. Batoro Katong's fan base increased exponentially after he perfected reog. It made Batoro Katong, Kyai Ageng Mirah, and Patih Selo Aji increasingly find ways to develop Islam in Ponorogo. The meaning of musical instruments and clothing was translated by Batoro Katong, such as udeng, penadhon, and kolor (intestines). In addition, there are also other musical instruments such as trumpet, kenong, kempul, saron, slenthem, gender, xylophone, siter, kempul, kenong, and gong. The art of reog contains the meaning of moral values, such as preaching to humans, rulers, or officials so that they are not too influenced by their wives and are negligent with responsibilities. The prohibition of adultery is the next moral value because adultery is a vile and cursed act. For those who observe the art of reog, this can be both a spectacle and a guide to the wisdom behind the art. This study concludes that there is a connection between reog art and the development of Islam in Ponorogo. 
Penanaman Nilai-Nilai Demokrasi Melalui Pembelajaran IPS Sub Pokok Pluralitas (Studi Kasus di SMP Islam Terpadu Nuurusshidiiq Kota Cirebon) Fadillah Fadillah; Cecep Sumarna; Yunita Yunita
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i2.4876

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang penanaman nilai-nilai demokrasi melalui pembelajaran IPS sub pokok pluralitas di kelas VIII SMP Islam Terpadu Nuurusshidiiq Kota Cirebon. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai demokrasi, cara penanaman nilai-nilai demokrasi, faktor pendorong dan penghambat nilai-nilai demokrasi, serta mengintegrasikan strategi nilai-nilai demokrasi dalam sistem pendidikan, terutama pada aspek pembelajaran di kelas VIII SMP Islam Terpadu Nuurusshidiiq Kota Cirebon. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan metode study kasus. Penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai demokrasi telah ditanamkan dengan baik dalam pembelajaran IPS. Nilai-nilai demokrasi yang dikembangkan dengan baik diantaranya nilai toleransi, nilai kebebasan berkelompok, nilai kebebasan berpendapat, kerjasama dengan sesama, percaya diri. Cara penanaman nilai-nilai demokrasi dengan menggunakan metode diskusi, tanya jawab, ceramah, di luar kelas dan demonstrasi. Faktor pendorong penanaman nilai-nilai demokrasi melalui pembelajaran IPS adalah pendidik, sarana prasarana, dan budaya di sekolah. Faktor penghambat dalam penanaman nilai-nilai demokrasi melalui pembelajaran IPS adalah alokasi waktu dan kurangnya motivasi dalam diri siswa.  ABSTRACTThis study aims to describe the cultivation of democratic values through social studies learning, the sub-subject of plurality in class VIII of SMP Islam Terpadu Nuurusshidiiq, Cirebon City. In addition, this study aims to determine democratic values, how to instill democratic values, driving and inhibiting factors for democratic values, and integrate the strategy of democratic values in the education system, especially in the aspects of learning in class VIII of SMP Islam Terpadu Nuurusshidiiq Cirebon City. This study's data collection uses a qualitative and case study approach. This study used observation, interviews, and documentation. The results showed that democratic values had been well instilled in social studies learning. Well-developed democratic values include the value of tolerance, the value of freedom of the group, the value of freedom of opinion, cooperation with others, and self-confidence. How to instill democratic values by using the methods of discussion, question and answer, lectures, outside the classroom, and demonstrations. The driving factors for cultivating democratic values through social studies learning are educators, infrastructure, and school culture. The inhibiting factor in cultivating democratic values through social studies learning is the allocation of time and the lack of motivation in students.

Page 1 of 1 | Total Record : 10