cover
Contact Name
Acep Aripudin
Contact Email
staialfalah19@gmail.com
Phone
+6222-7948748
Journal Mail Official
staialfalah19@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kapten Sangun No.6, Panenjoan, Bandung, Jawa Barat 40395
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS)
ISSN : 00000000     EISSN : 27155374     DOI : -
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) menerima dan mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dengan tema kajian keislaman pendekatan sejarah, sosial, budaya, pendidikan, sains, politik dan ekonomi dan kajian Quran. AJIQS menerapkan sistem Double Blind Peer Review dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Falah Cicalengka Bandung dua kali terbit setiap tahunnya. Tujuan AJIQS untuk memfasilitasi dan mempublikasikan tulisan-tulisan ilmiah dalam bentuk artikel dari para peneliti dalam maupun luar negeri. Artikel dapat ditulis dalam bahasa Inggris, Indonesia atau Arab yang mengacu pada aturan penulisan yang dijadikan pijakan AJIQS.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2019): Asyahid" : 6 Documents clear
Gerakan  Pembaharuan Pemikiran Islam Era Reformasi di Indonesia Alam, Aam Saepul
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 1 No. 2 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Two thinkers and modernists who are different in education and organization genealogy, i.e. Nurcholis Madjid (Cak Nur) dan Hasyim Muzadi. Cak Nur was born in Western education and Hasyim was born in “pesantren” education (boarding school) with its locality. Two of these figures give a change that is significant in modernity context in Indonesia. Theoretical framework that was built by Nurcholish Madjid starts from a fundamental question, i.e. how universal Islam can be placed in local modernity and culture framework. Islam is universal and implication of its universality is Islam must be understood and performed in every place and time. Cak Nur practiced critical to single truth and paid attention on humanistic value in universal religious life. Different to Hasyim Muzadi who built thoughts framework Rahmatan lil alamin through freedom and harmony. Starting from nation problems, how to perform religious function (Islam) in a country without cause national disintegration. Theory framework built by Hasyim starting from a NU’s jargon, i.e.  Tasamuh, Tawazun, dan Tawasut. Bringing Islam with full good manners and bland, not make Islam image isolated and grow phobia toward terms what are born from Islam womb. In practice, Hasyim paid attention on preventing of radicalism and terrorism undersrtanding that grow in Indonesia, that threaten NKRI totality. Keywords: modernity, Islam universal, Islam and country   Abstrak Dua pemikir dan pembaharu yang berbeda geneologi pendidikan dan organisasi, yaitu Nurcholis Madjid dan Hasyim Muzadi. Nurcholis Madjid (Cak Nu)r lahir dari pendidikan Barat dan Hasyim Muzadi lahir dari pendidikan pesantren yang lokalitas. Kedua tokoh ini, dalam kehadirannya memberikan perubahan yang signifikan dalam konteks  pembaharuan di Indonesia.  Kerangka Teoritis yang dibangun  Nurcholish Madjid berawal dari dari sebuah pertanyaan yang fundamental yaitu bagaimana Islam yang universal bisa ditempatkan dalam kerangka kemodernan dan budaya lokal? Islam adalah universal dan implikasi dari keuniversalannya adalah bahwa Islam harus dapat dipahami dan dilaksanakan pada setiap ruang dan waktu. Cak Nur mempraktekan  kritik terhadap kebenaran tunggal dan memperhatikan nilai kemanusian dalam kehidupan beragama yang universal.  Berbeda dengan Hasyim Muzadi membangun kerangka pemikiran Rahmatan lil alamin  melalui kerangka  perdamainan dan kerukunan. Berawal dari permasalahan bangsa, bagaimana menjalankan   fungsi profetik  agama  (Islam) dalam sebuah  negara,  tanpa menimbulkan  disintegrasi bangsa. Kerangka teori yang dibangun Hasyim Muzadi berawal dari jargon NU, yaitu: Tasamuh , Tawazun , dan Tawasut. Membawa Islam  yang penuh kesantunan dan kelemahlembutan, bukan  menjadikan  citra Islam  terpinggirkan  dan menumbuh-kembangkan  phobia  terhadap istilah-istilah  yang lahir dari  rahim Islam. Melaui prakteknya Hasyim  memberikan perhatian dalam pencegahan paham radikalisme dan terorime   yang berkembang di bumi Indonesia, yang mengancam keutuhan NKRI. Kata kunci: pembaharuan, Islam universal, Islam dan negara
Keberpihakan Al-Qur'an terhadap Perempuan (Studi atas Hermeneutika Amina Wadud) Mardhatillah, Masyithah
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 1 No. 2 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Amina Wadud is one of hermeneutics experts about contemporary Quran who is popular and controversial related to thoughts or her background. This article tries to find relation between Wadud’s biographical tracks and her view about Quran and explain theory and hermeneutics principal what is done her. As literature study, this article uses figure thematic approach method by descriptive-analytics technique. This article finds existing of strong relation between Wadud’s biography and her interpretation product. Her experience as triple minority is really visible in interpretation and method what is chosen her. Beside not use tahlili method, she also limits her research in some cases and keywords in Quran. Beside it, her interpretation product is directed to fulfil category as holistic interpretation according to herself typology, constitutes critics from traditional and reactive interpretation. Her hermeneutic framework is consisting of three aspects, i.e. revelation context, grammar and language, and views of Quran life. One of keywords what is peered by Wadud is nafs which she has opinion that although feminine grammatically, it has universal meaning conceptually. Therefore, it can’t be considered easily as feminine only or masculine (Adam) only is like mainstream understanding all this time. Keywords: Amina Wadud, Quran hermeneutic   Abstrak Amina Wadud merupakan salah seorang pakar hermeneutika Al-Qur’an kontemporer yang populer sekaligus kontroversial perihal pemikiran maupun latar belakangnya. Artikel ini berupaya menemukan hubungan antara jejak biografis Wadud dengan pandangannya seputar Al-Qur’an serta memaparkan teori maupun prinsip hermeneutik yang ia gunakan. Sebagai studi pustaka, artikel ini menggunakan metode pendekatan tematik tokoh dengan teknik deskriptis-analitis. Artikel ini menemukan adanya hubungan yang kuat antara riwayat hidup Wadud dengan produk penafsirannya. Pengalamannya sebagai triple minority begitu tampak dalam kerja penafsiran maupun metode yang ia pilih. Selain tak menggunakan metode tahlili, ia juga membatasi kerja penelitiannya pada beberapa kasus dan kata kunci dalam Al-Qur’an.  Selain itu, produk tafsirnya ia arahkan untuk memenuhi kategori sebagai tafsir holitstik yang menurut tipologinya sendiri, merupakan kritik dari tafsir tradisional dan tafsir reaktif. Kerangka hermeneutisnya terdiri dari tiga aspek yakni konteks pewahyuan, susunan gramatika dan bahasa dan pandangan hidup Al-Qur’an. Salah satu kata kunci yang dibidik Wadud adalah nafs yang menurutnya meski bermakna feminine secara gramatika, secara konseptual ia bermakna universal. Karenanya, ia tidak bisa begitu saja dianggap feminin saja ataupun maskulin (Adam) saja seperti yang selama ini menjadi pemahaman mainstream. Kata kunci: Amina Wadud, Al-Qur'an, hermeneutika
Ahmadiyah dan Kontroversinya Sejak Muncul di Indonesia Hingga Menjelang Reformasi 1998 Mugni, Asep
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 1 No. 2 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emerging of religious movement or sect frequently caused controversy. This research discuss about Ahmadiyah movement. This research uses phenomenology method illustrates Ahmadiyah movement issued as non-Islam because of its controversial and deviate understanding that smudged, even humiliated Islam. Ahmadiyah movement is very systematic and controversial till caused flaming and refusal in an Islam society, not only Indonesia, but many countries with Muslim Majority call Ahmadiyah as a deviate understanding or sect. MUI also decided “fatwa haram” (forbidden) for Ahmadiyah. Minister of Religion Suryadarma Ali in SBY era proposed four options about Ahmadiyah, i.e. letting Ahmadiyah or dispersing it, grouping it as a religious sect, or they make new religion and get out from Islam. This case constitutes some unprotested phenomenon anymore. Keywords: deviate sect, Ahmadiyah controversy, fatwa Haram   Abstrak Munculnya gerakan atau aliran dalam agama seringkali menimbulkan kontroversi, penelitian ini mengungkapkan tentang pergerakan Ahmadiyah. Penelitian dengan metode fenomenologi ini menggambarkan pergerakan Ahmadiyah yang dianggap bukan Islam karena kontroversi dan kesesatan fahamnya yang mencoreng bahkan menghina agama Islam. Gerakan Ahmadiyah sangat sistematis dan kontroversi, sehingga memicu gejolak dan penolakan dikalangan umat Islam tidak hanya Indonesia bahkan banyak negara yang mayoritas penduduknya penganut agama Islam menyebutkan Ahmadiyah adalah faham atau aliran sesat. MUI juga menegaskan fatwa Haram Ahmadiyah, menteri Agama Suryadarma Ali di era SBY mengajukan empat opsi tentang Ahmadiyah, yaitu membiarkan Ahmadiyah atau membubarkannya, menjadikannya sekte keagamaan, atau membuat agama baru dan keluar dari Islam, hal ini merupakan suatu fenomena yang tak terbantahkan lagi. Kata kunci: aliran sesat, kontroversi Ahmadiyah, fatwa Haram
Kajian Konteks Eksternal Penafsiran Alquran: Studi Kritis Terhadap Pandangan Fazlur Rahman Fauzian, Rinda
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 1 No. 2 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to elaborate on the interpretation of the Quran in the view of Fazlur Rahman through study about external context interpretation of the Quran. The research method in this study is library research, which examines the interpretation of the Quran through library research. The result of his research is Fazlur Rahman's view of the Quran as a Divine response to the Arab socio-moral setting, through the memory and thoughts of the Prophet. Such assumptions illustrate that the Quran descended in a concrete historical context. In space and time filled with nuances and dialogue, even cultural and religious tensions. To understand it through the double movement method, emphasizes two contextual movements. The first movement, departing from the contemporary situation into the Quran era. In his understanding, that the need to understand the meaning and meaning of a statement by examining historical situations or problems, where the Quranic statement is present as the answer. The second movement, from the time of the Quran was revealed (after finding general principles) returned to the present. In his understanding, that these general teachings must be established in a concrete socio-historical context in the present. Keywords: External context, Interpretation, Alquran   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi tafsir Alquran berdasarkan pandangan Fazlur Rahman melalui kajian konteks ekternal penafsiran Alquran. Metode penelitian dalam kajian ini adalah studi literature, yang menguji penafsiran Quran melalui penelitian pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah pandangan Fazlur Rahman tentang Alquran sebagai respon ketuhanan kepada keadaan sosial-moral Arab melalui memori dan pemikiran Nabi. Asumsi seperti itu menunjukkan bahwa Alquran diturunkan dalam konteks historis konkrit. Dalam ruang dan waktu yang diisi dengan nuansa dan dialog, bahkan tensi-tensi kultural dan relijius. Untuk memahami ini melalui metode pergerakan ganda, memberi penekanan dua pergerakan kontekstual. Pergerakan pertama, berangkat dari situasi kontemporer ke dalam era Alquran. Dalam pemahamannya, harus memahami makna demi makna sebuah pernyataan dengan menguji situasi-situasi dan permasalahan historis, di mana pernyataan Qurani hadir sebagai jawabannya. Pergerakan kedua, dari saat Alquran diturunkan (setelah menemukan prinsip-prinsip umum) hingga sekarang. Dalam pemahamannya, ajaran-ajaran umum ini harus ditetapkan dalam konteks sosio-historis konkrit saat ini. Kata kunci: Konteks Eksternal, Penafsiran, Alquran
Gerakan Sosial Keagamaan FPI (Front Pembela Islam) Muslim, Muslim
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 1 No. 2 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emerging of Front Pembela Islam (FPI) is very interesting for public in Indonesia, even controversial. Besides its activities that are often exposed in mass media, sometimes there is issue that the organization is radical. Although meaning of “radical” is still debatebale, but piercing of the FPI’s great leader when expressing opinions and criticals make oppositions feel enough challenged. This research discusses history of FPI, lineage, and leadership style of its great leader. This research uses phenomenology method illustrates FPI movement that is viewed “radical”. FPI movement is very systematical, active, shrill and controversial, till growing refusal from some Indonesian Muslim group, even there are people who propose so that government disperse it. Involvement of FPI in politics world is very clear when movement 212 occurred in December 2, 2016. Packaging of together prayers that was accessoried by “‘flag’ solidarity of Muslim for the country” made many people impressed and called to attend, though some people must be on foot. They believed that it is a “jihad” (holy war). Influence of Habieb Rizieq is very strong, even there are people state that he can combine some theories, i.e. greath man theory, contingency leadership theory, situational leadership theory, partisipative theory and relationship/transformation leadership theory. Today, FPI is known as a religious movement that is like participcate to support Indonesian politics world actively. Keywords: radical organization, FPI controversy, Habieb Rizieq   Abstrak Kemunculan Front Pembela Islam (FPI) sangat menarik perhatian publik di Indonesia, bahkan kontroversial. Selain aktitvitasnya yang cukup sering terekspos media massa, tidak jarang muncul isu bahwa organisasi tersebut disebut radikal. Walaupun makna “radikal” masih dalam perdebatan, tapi kelantangan imam besar FPI ketika mengemukakan pendapat dan kritik cukup membuat lawan bicaranya terasa “tertantang. Penelitian ini mengungkapkan sejarah FPI, nasab dan gaya kepemimpinan imam besarnya. Penelitian dengan metode fenomenologi ini menggambarkan pergerakan FPI yang dianggap “radikal”. Gerakan FPI sangat sistematis, aktif, lantang dan kontroversial, sehingga memicu penolakan di sebagian kalangan umat Islam Indonesia bahkan ada yang mengusulkan agar pemerintah membubarkannya. Keterlibatan FPI dalam kancah politik sangat terlihat jelas pada saat terjadi gerakan 212 yang terjadi pada tanggal 2 Desember 2016. Balutan doa bersama yang dipenuhi “’bendera’ solidaritas umat Islam untuk negeri” sangat membuat banyak orang terpesona dan terpanggil untuk menghadirinya walaupun ada yang dengan berjalan kaki. Mereka yakin ini adalah jihad. Pengaruh Habieb Rizieq tampak sangat kuat, bahkan ada yang menyatakan bahwa beliau mampu menggabungkan beberapa teori, yakni greath man theory, teori kepemimpinan kontingensi, teori kepemimpinan situasional, teori kepemimpinan partisipatif dan teori kepemimpinan relationship/transformasi. Saat ini, FPI dikenal sebagai gerakan agama yang suka berpartisipasi mendukung dunia politik secara aktif. Kata kunci: organisasi radikal, kontroversi FPI, Habieb Rizieq
Darul Islam Fillah: Tipologi Gerakan “Utofia” Islam di Jawa Barat Sonjaya, Adang
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 1 No. 2 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of important phenomenons in Indonesia history is growing of Negara Islam Indonesia (NII) founded by SM. Kartosoewiryo in early independence. NII is stated as an insurgent movement that disturbed country stability. The government finished this movement by military operation (operasi pagar betis), then its leader was executed to death in September 5, 1962. But NII buffetings was not ended because after SM. Kartosoewiryo, NII was divided become some groups, among others NII Fillah in Garut by Sensen Komara’s leadership who could defend it till now. This research uses qualitative approach. This research concludes that NII Fillah Sensen Komara constitutes continuance of NII Kartosoewiryo after some leadership changes, from Jaja Sudjadi, Bakar Misbah, and Sensen Komara as the third leadership till now. While NII Fillah understanding about Islam country concept, they have opinion that Islam country constitutes politics power having function to apply and put Islam laws into effect and only one tariqah in applying a system and its laws overall in national and state life. Keyword: religious social movement, NII Fillah   Abstrak Salah satu peristiwa penting yang meninggalkan bekas dalam catatan sejarah Indonesia adalah berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) di bawah pimpinan SM. Kartosoewiryo di awal masa kemerdekaan. NII dinyatakan sebagai gerakan pemberontak yang mengganggu stabilitas negara. Pemerintah menghabisi gerakan ini dengan operasi militer (operasi pagar betis), kemudian pimpinannya di eksekusi mati pada 5 September 1962. Namun perjalanan perjuangan NII tidak berakhir begitu saja, karena pasca SM. Kartosoewiryo, NII terpecah menjadi beberapa faksi, diantaranya adalah NII Fillah di Garut dengan pimpinan Sensen Komara yang berhasil mempertahankan eksistensinya hingga sekarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa NII Fillah pimpinan Sensen Komara merupakan kelanjutan dari NII Kartosoewiryo setelah mengalami beberapa pergantian kepemimpinan, dari Jaja Sudjadi sebagai pimpinan NII Fillah pertama, Bakar Misbah sebagai pimpinan NII Fillah kedua, kemudian tonggak kepemimpinan jatuh kepada Sensen Komara sebagai pimpinan NII Fillah ketiga hingga sekarang. Sedangkan pemahaman NII Fillah mengenai konsep negara Islam, mereka berpendapat bahwa negara Islam merupakan kekuatan politik yang berfungsi untuk menerapkan dan memberlakukan hukum-hukum Islam serta satu-satunya tariqah dalam menerapkan sistem dan hukum-hukumnya secara menyeluruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kata kunci : Gerakan sosial keagamaan, NII Fillah

Page 1 of 1 | Total Record : 6