cover
Contact Name
Muhammad Rizky HK
Contact Email
jurnalsophist@gmail.com
Phone
+62370-621298
Journal Mail Official
jurnalsophist@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram Jalan Gajah Mada No.100 Jempong Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Sophist Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir
ISSN : 26561220     EISSN : 27458571     DOI : https://doi.org/10.20414/sophist
Sophist aims to publish and promote the integrative interconnected ideas about the comparative collaborative studies between islamic studies and social political studies. the study of quranic verses and its relation with the social phenomena and political ethics.
Articles 68 Documents
Moderasi Beragama Berbasis Komunitas Agus Dedi Putrawan; Abdul Gafur
Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2021): Masa Depan Dan Tantangan Moderasi Beragama
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sophist.v3i2.44

Abstract

Moderasi beragama dengan keberterimaan tanpa syarat adalah cita-cita semua manusia di dunia ini, karena itu jejak DNA yang paling dasar dalam diri manusia adalah kedamaian. Maka dari itu manusia harus membenci kekerasan atas nama apapun. Manusia harus saling menghargai, menerima, menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Terciptanya gerakan moderasi beragama tidak bisa lepas dari jalan panjang meilitasi sistem sosial yang telah mengerah ke kehancuran sistem sosial. Berita-berita yang disodorkan terlevisi dan di beranda-beranda media sosial tentang korupsi, kolusi dan nepotisme, pemerkosaan, pencurian, perampokan, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, kekerasan sosial dan kekerasan di dalam rumah tangga, bullying serta konflik di masyarakat karena perbedaan inter dan antar umat beragama. Tulisan ini mengasumsikan bahwa semua problem-problem sosial yang melibatkan individu, kelompok dan organisasi dalam masyarakat bermula dari perjumpaan yang tidak normal. Karena setiap saat manusia tidak dapat menghindari suatu perjumpaan dan menggunakan berbahasa maka perbaikannya dimulai di ranah itu. Mempertimbangkan bahwa perbaikan sistem sosial untuk menciptakan moderasi agama tidak boleh elitis yang memakan biaya mahal maka pendekatannya haruslan dengan pendekatan populis bengkelnya terdapat pada komunitas perjumpaan yang diberi nama Komunitas Sekolah Perjumpaan.. Sekolah perjumpaan merupakan teknologi sederhana namun sangatlah prinsipil yaitu bagaimana mengoptimalisasi perjumpaan dan mengedepankan tindakan berbahasa.
Dangerous Implication Of Takfir Agam Royana
Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2021): Masa Depan Dan Tantangan Moderasi Beragama
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sophist.v3i2.45

Abstract

Faith is a fundamental principle in religion. It is the foundation of belief in living which is based on God's rules. In Islam faith is an initial unitary step in undergoing worship which is called the pillars of faith. They are belief in Allah SWT, angels, scriptures, prophets, afterlife, and in the good and bad conditions which are had by His servants. However, in modernity and the treasures of Islam, Islam seems to be a late religion to be born. By reviving the strong desire in the golden era of the Salaf al-S{alih{, but with a textual understanding and regardless of the historical context. Some people are not aware that time is changing, dynamic and developing, but Islam tends to be an exclusive, old-fashioned and not in line with modernity. A textual understanding emerges too much religious believers which had been reproached by previous believers. In fact, the Qur'an has presented testimony in its diction, reminded its people not to be too much, strict and radical. The Messenger of Allah himself in his sunnah forbade his fellow to be too much in practicing Islam, spend all night in worship and tahajjud, or fast all day or even not get married. The phenomenon of over-practicing in religion cannot be underestimated, especially in this age of pluralism. Rigidity, and self-righteousness and even labeling other groups having different views as kafir or unbelievers really have negative effects, impacts and consequences. No wonder these dynamics make Moslems dichotomous and splitted, even easily played to fight against each other. This journal tries to present how much the effect, impact and bad consequences on the label of kafir on other Moslems. The researcher hopes to reduce people's carelessness on labeling other Moslems as kafir.
Transformasi Musik Pada Ritual Tradisi Kebangru’an: Kajian Sosiologi Seni Yuga Anggana Sosani
Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2021): Masa Depan Dan Tantangan Moderasi Beragama
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sophist.v3i2.46

Abstract

This paper discusses the role of artists in society as things that influence the creative process of artists in transforming works of art in the Kebangru'an ritual, as well as the form of presentation, functions and values that are ​​contained in Kebangru'an Music. The method of this research uses a qualitative research paradigm with a sociology of art study approach to find out how the role of artists in society as a matter of influencing the creative process of artists in transforming works of art in the Kebangru'an ritual, as well as the form of presentation, functions and values that are ​​contained in Kebangru'an Music. The data was collected by means of observation and in-depth interviews. The observations are carried out by observing various actions that are patterned and reflected the thinking system of the Kebangru'an Music artist which includes speech, expression, statement, outlook on life, and his life history. The result of the study shows that the social status of artists as civil servants and community leaders is a factor that affects the work of artists, the role of artists in society is also a factor in changing the paradigm of society towards Kebangru'an Music. Kebangru'an music is presented with the addition of song texts that function as a means of communicating advice, moral messages in life, also a media that strengthen conformity to social norms. Kebangruan music has values ​​of worship and tolerance or community harmony.
Persepsi Masyarakat Terhadap Kegiatan Dakwah Majelis Taklim Al-Barkah : Di Kepenghuluan Bagan Punak Meranti Fadhlur Rahman Armi; Heri Rahmatsyah Putra
Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2021): Masa Depan Dan Tantangan Moderasi Beragama
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sophist.v3i2.47

Abstract

Majelis taklim dalam persoalan kehidupan masyarakat dan bangsa mempunyai fungsi yang sangat signifikan, terutama bagi ukhuwah islamiyah. Adapun kedudukan majelis taklim secara sosiologis bukan hanya sekedar tempat berkumpulnya kaum bapak-bapak atau kaum ibu-ibu saja, melainkan mempunyai nilai telogis yang akan memberikan pengetahuan, penghayatan dan bimbingan perilaku untuk melaksanakan nilai-nilai luhur Islam. Penelitian ini diangkat atas dasar pemikiran yang menyatakan bahwa adanya persepsi masyarakat terhadap majelis taklim, maka dapat mendorong masyarakat dalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari. pada sisi inilah penulis mengkaji tentang adanya persepsi masyarakat terhadap majelis taklim dalam melakukan kegiatan dakwah.
Makna Ghuluw Dalam Perspektif Hasbi As-Shiddieqy, Hamka, dan M. Quraish Shihab M. Khoiril Anwar
Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2021): Masa Depan Dan Tantangan Moderasi Beragama
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sophist.v3i2.48

Abstract

Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan prilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah yang dilandasi dengan keadilan serta tidak ekstrem dalam beragama. Lawan kata dari moderasi adalah berlebihan, atau al-tat}arruf dalam bahasa Arab yang mengandung makna extreme, radical, dan excessive dalam bahasa Inggris. Lalu dalam bahasa Arab setidaknya ada dua kata yang maknanya sama dengan kata extreme, yaitu al-ghuluw dan tasyaddud. Penelitian ini terfokus pada makna ghuluw yang ditelaah dari beberapa tafsir yang ditulis oleh intelektual Muslim Indonesia. Kemudian penelitian ini menggunakan studi kepustakaan atau library research. Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubunganya dengan masalah yang akan dipecahkan serta menggunakan metode perbandingan antar mufassir. Permasalahan yang diangkat oleh penulis adalah bagaimana penafsiran para mufassir dalam memaknai kata ghuluw dan bagaimana ciri—ciri perbuatan yang termasuk ghuluw dalam beragama. Penulisan temukan mengenai makna ghuluw diantaranya berlebih-lebihan, melampaui batas dalam beragama. Adapun ciri-ciri perbuatan yang termasuk ghuluw antara lain adanya sifat fanatik berlebihan ini mengakibatkan seorang akan menutup diri dari pendapat kelompok lain dan menyatakan bahwa pandangannyalah yang paling benar sehingga berdampak pada selain pandangannya adalah salah. Kemudian selain itu adalah mengkafirkan orang lain, bahkan menghalallkan darahnya.
Moderasi Beragama Di Ruang Publik Dalam Bayang-Bayang Radikalisme Nazar Naamy; Ishak Hariyanto
Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2021): Masa Depan Dan Tantangan Moderasi Beragama
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sophist.v3i2.51

Abstract

Moderasi beragama dan saling mencintai menjadi cita-cita manusia di dunia ini, karena itu jejak yang paling dasar dalam diri manusia. Maka dari itu, kita harus membenci kekerasan atas nama apapun, baik itu agama, dan kemanusiaan. Manusia harus saling menghargai, menerima, menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Kekerasan atas nama agama sering dijadikan alat legitimasi aksi dan reaksi kekerasan, baik radikalisme maupun terorisme oleh para pengusungnya. Kemunculan gerakan radikalisme dan terorisme yang didorong oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Hal ini dapat ditelusuri dari gejala radikalisme di masyarakat, yang ditandai dengan adanya kecenderungan individu maupun kelompok untuk menafsirkan teks secara leterlek serta mengabaikan konteks, ingin penegakan syari’ah, dan cenderung intoleransi terhadap sesama manusia. Dalam artikel ini, penulis menawarkan bahwa moderasi beragama harus hidup di ruang publik, meski dibayang-bayangi oleh radikalisme. Meskipun dalam bayang radikalisme, moderasi beragama harus menjadi jalan keluar di tengah masyarakat yang pluralis dan harus diangkat pada ruang publik sebagai ruang demokratis, yang mana warga negara dapat menyatakan opini, kepentingan, dan kebutuhan mereka secara diskursif. Berkomunikasi mengenai kegelisahan-kegelisahan politisnya, bebas menyatakan sikap, dan argumen, terlibat dalam membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan bersama, bukan ditentukan oleh satu individu; Presiden, Tuan guru, Pejabat, Pendeta, Dan Kepala Suku. Ia bersifat bebas dari pengaruh siapapun termasuk pemerintah dan harus mudah diakses oleh semua anggota masyarakat.
Islamophobia Dan Dampaknya Bagi Kehidupan Beragama Di Indonesia Bintang Rosada
Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2022): Teologi dan Isu Sosial Kemasyarakatan
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sophist.v4i1.53

Abstract

Abstract The collapse of the US superpower WTC and the Pentagon In 2011 which was done by Osama Bin Laden and his Al Qaeda network, made the negative impact into Islam and Muslims, created image that far from the real essence of Islam. A series of suicide bombings in the name of Jihad, has brought the negative essence of Islam far from its nature; peace. In the end, Islamophobia emerged as a fear of Islam and of all matter that related to it. This study try to to reveal the emergence of Islamophobia in Indonesia and its impact on the harmony between religions in Indonesia. This research is a qualitative research, with the library research methods. The data were taken from journals, e-books, bulletins, dissertations, theses, and other literatures. The purpose of this study is to explain the emerge of islamophobia and its impact. The result of this study is that the emergence of Islamophobia begins with a person's fear of the repetition of the glory of Islam as in its previous golden age. The danger of Islamophobia is always accompanied by suspicious, false perception and in long term can abolish the harmony between religions in Indonesia  
Corona Virus Disease 19 On Islamic Theological Reflection Muhammad Rizky HK
Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2022): Teologi dan Isu Sosial Kemasyarakatan
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sophist.v4i1.62

Abstract

The Covid 19 pandemic has changed the entire structure of human life. From economic problems, social relations, to the most intimate parts of human life; Faith. Aqida as a foundation of religious belief in Islam, shaken by various theoretical problems, to answer questions; How does Islam from a theological reflection facing this pandemic situation? Through this article, the author demands to present a theological reflection in the face of the COVID-19 pandemic. By recollecting the thoughts of Islamic classical theology, with various ideologies and schools of thought in Islam as secondary sources, with the humanist theology’s approach this article seeks to provide theological perspective and reflection, to nurture religious beliefs, and provide theological explanations for the pandemic situation related to the Muslim community.
Kritik Ibn Al-‘Arabi Terhadap Aqidah Syiah Dalam Kitab al-'Awasim wa al-Qawasim Muhammad Iqbal
Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2022): Teologi dan Isu Sosial Kemasyarakatan
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sophist.v4i1.64

Abstract

This article aims to analyze the methods used by Ibn ‘Arabi al-Ma’rifi in order to reject all the theological concepts of Shia, the second Islamic sect after Sunni based on his book al-‘Awasim wa al-Qawasim. This article used qualitative methods based on library research by reading the book of the author and analyse the methodological point of the author in his critics. The life of Imam Abu Bakr Ibn al-Arabi al-Ma’afari - may God have mercy on him - was full of knowledge since his childhood, as he grew up in a house of knowledge and righteousness, and his journey to the countries of the Orient had the greatest impact on his brilliance in the types of sciences and knowledge. With the breadth of his knowledge and the length of his sale, he is an investigator and an auditor. He is a Sunni scholar keen on the Book and the Sunnah. Imam Abu Bakr bin al-Arabi al-Ma’afari, may God have mercy on him, followed the method of Ahl al-Sunnah wal-Jamaa’ah in criticizing the beliefs of the Shiites. His clear position in responding to Ali's succession, may God be pleased with him, in the belief of the Shiites, and his eminent response, may God have mercy on him, to their suspicions about the Companions.
Filsafat Ketuhanan Mulla Shadra Halimatuzzahro Marzuki
Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2022): Teologi dan Isu Sosial Kemasyarakatan
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sophist.v4i1.66

Abstract

Mulla Shadra adalah seorang intelektual Muslim terbesar pada masanya dengan sebuah karya yang sangat fenomenal berjudul Al-Hikmah Al-Muta’aliyah. Secara garis besar, sumber ajaran Mulla Shadra berasal dari empat sumber utama. Pertama, Filsafat Paripatetik Islami. Kedua, teosofi dari Suhrawardi dan para pensyarahnya seperti Quth al-Din Syirazi dan Jalal al-Din Dawani. Ketiga, ajaran tasawuf Ibnu Arabi. Keempat, Syari’at Islam termasuk sabda Rasulullah dan Imam-imam Syi’ah. Sedangkan bangunan al-Hikmah al-Muta’aliyah secara epistemologis didasarkan pada tiga prinsip: intuisi intelektual, pembuktian rasional dam syari’at. Sedangkan secara ontologis, al-Hikamah al-Muta’aliyah didasarkan pada tiga hal: Ashalah al-Wujud, Tasykik al-Wujud dan gerakan Substansial. Seperti filosof sebelumnya Mulla Shadra berusaha untuk menjawab masalah esensi (mahiyah) dan eksistensi (wujud).