cover
Contact Name
nanang
Contact Email
kjc@uin-suka.ac.id
Phone
+6281229023291
Journal Mail Official
kjc@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Prodi KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Kalijaga Journal of Communication
ISSN : -     EISSN : 26851334     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
KKalijaga Journal of Communication always places studies related to Islamic broadcasting and journalism as the main focus on academic inquiry and invites comprehensive observations of multidisciplinary studies. The journal, which functions as a forum for the study of Islamic broadcasting in Indonesia and other parts of the world in a challenging local and global context, supports studies that focus on specific themes and studies across disciplines. Subjects include textual studies and fieldwork with a media development perspective.
Articles 89 Documents
Konstruksi Realitas Media Online atas Pemberitaan “Raja Jokowi”: Sebuah Analisis Framing Muhammad Anshori
Kalijaga Journal of Communication Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/kjc.11.06.2019

Abstract

This paper explores the meaning of reality constructions coverage two online media, Tribunnews.com and Detik.com, about "Raja Jokowi" in the general election 2019. The study uses a qualitative method with Entman analysis framing to express means of the media coverage—data collected by taking primary and secondary sources. Primer data took from two online media news that is restricted to November 11-20, 2018. Furthermore, I collected second sources from journals, research reports, online news portals, and books. All online media have been limited by news numbers; Tribunnews.com is five news, and Detik.com is five news. Resulting studies that two online media have been featured a neutral information about "Raja Jokowi" poster. It can be proved with choosing diction word that does not contain controversial. This condition is essential as a social stabilization strut in other to does not occurs a vertical conflict in the political momentum. Meanwhile, the campaign team of Jokowi, know as Tim Kampanye Nasional (TKN), has wisely explored in the media for all of the black campaigns; it will all be taken care by the authorities. The political elite’s consciousness to dampen the masses and fanatical society towards one of the spouses of presidential candidates is a maturity in democracy.Artikel ini mengeksplorasi makna konstruksi realitas pemberitaan dua media online, Tribunnews.com dan Detik.com, tentang “Raja Jokowi” pada momentum pemilihan presiden tahun 2019. Untuk mengungkapkan makna tersebut, studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis framing Entman. Data dikumpulkan dengan pengambilan sumber data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari berita online dua media dengan batasan waktu 11-20 Nopember 2018. Masing-masing media online di batasi jumlah beritanya; Tribunnews.com berjumlah 5 berita dan Detik.com berjumlah 5 berita. Sementara itu, sumber sekunder dikumpulkan melalui sumber dari jurnal, laporan penelitian, portal berita online, dan buku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua media online tersebut memberitakan tentang poster “Raja Jokowi” bersifat netral. Hal ini dapat dibuktikan dengan pilihan diksi kata yang tidak mengandung kontroversi. Kondisi ini penting sebagai penyangga stabilitas sosial agar tidak terjadi konflik vertikal di tengah politik nasional yang memanas. Sementara itu, kampanye yang mengarah kepada Tim Sukses pemenangan Jokowi, disebut juga Tim Kampanye Nasional (TKN), dapat dihandel secara bijak. Pernyataan Ketua Tim Sukses Jokowi, Erick Tohir, secara bijak menyampaikan dalam media, segala sesuatu yang mengarah kepada kampanye hitam (black campign), semua akan diurus oleh pihak berwenang. Kesadaran elit politik untuk meredam masa dan masyarakat yang fanatik terhadap salah satu pasangan Calon Presiden adalah bentuk kedewasaan dalam berdemokrasi.
Komunikasi dan Kebudayaan Islam di Indonesia Ahmad Yadi
Kalijaga Journal of Communication Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/kjc.21.04.2020

Abstract

This study tries to explore the link between communication and Islamic culture in Indonesia. To see the linkages, the authors used research with a library research method which focused three issues, namely first, the relationship between communication and culture; second, the relationship between culture and religion; and thirdly, the institutionalization of Islamic cultural values in Indonesia. The results of the study turned out that communication and culture are two things that are inseparable. If we talk about communication then we also talk about culture. Religion and culture are closely related and complementary such as the influence of Islam on culture and cultural influence on Islam. Therefore we know the term "Islamization of culture and the teaching of Islam". Institutionalization of Islamic values is very strong in shaping the system of knowledge and intellectuality of society, belief system, national culture, economic system and the formation of the behavior of Muslims in Indonesia. In short, Islamic values have been rooted in Indonesia national culture.Studi ini mencoba untuk mengeksplorasi keterkaitan antara komunikasi dan budaya Islam di Indonesia. Untuk melihat keterkaitan tersebut, penulis menggunakan penelitian dengan metode penelitian pustaka yang mana memfokuskan tiga isu yaitu pertama, hubungan antara komunikasi dan budaya; kedua, hubungan antara budaya dan agama; dan ketiga, institusionalisasi nilai-nilai budaya Islam di Indonesia. Hasil studi yang dilakukan ternyata komunikasi dan budaya adalah dua hal yang tak terpisahkan. Jika kita membicarakan komunikasi berarti kita juga bicara tentang budaya. Agama dan budaya memiliki kaitan yang erat dan saling melengkapi misalnya pengaruh Islam terhadap budaya dan pengaruh budaya terhadap Islam. Oleh karena itu kita mengenal istilah “Islamisasi budaya dan mengadabkan Islam”. Institusionalisasi nilai-nilai Islam sangat kuat dalam membentuk sistem pengetahuan dan intelektualitas masyarakat, system kepercayaan, budaya nasional, sistem ekonomi dan pembentukan perilaku umat Islam di Indonesia. Pendeknya nilai-nilai Islam telah mengakar ke dalam budaya nasional Indonesia.
Efektifitas Media Komunikasi di Tengah Pandemi: Respon Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tulungagung Latif Syaipudin
Kalijaga Journal of Communication Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/kjc.12.06.2019

Abstract

This study aims to find the significance of messages conveyed through communication media in a pandemic situation. The demands of a pandemic era have crisis dimensions on various fronts, making the choice of communication media more careful. This problem will then have an impact on the misinformation received by the community. Therefore, the selection of mass communication as a strategic media in response to various existing problems can be an alternative as a means of early education that directly targets the wider community effectively and efficiently. The main discussion in this research is related to the important role of mass communication in the midst of the COVID-19 pandemic. This research uses qualitative methods with the type of field study research. Data collection techniques using observation, interviews, and documentation. To sharpen the data analysis, this study uses the Peter L. Berger and Thomas Luckmann social construction approach. This study found that mass communication has a central role in responding to the COVID-19 pandemic. This role forms a new behavior that emerges from a new social order and reconstruction in the face of a social order that is more adaptive to the pandemic situation. To create this situation, it requires close communication between stakeholders and the community in responding to this problem.Penelitian ini bertujuan untuk menemukan signifikansi pesan yang disampaikan melalui media komunikasi dalam keadaan pandemi. Tuntutan masa pandemi yang berdimensi krisis dalam berbagai lini, menjadikan pemilihan media komunikasi harus lebih hati-hati. Persoalan ini kemudian akan berdampak pada kesalahan informasi yang diterima oleh masyarakat. Oleh sebab itu, pemilihan komunikasi massa sebagai media yang strategis dalam menanggapi berbagai persoalan yang ada dapat menjadi alternatif sebagai sarana edukasi dini yang langsung menyasar terhadap masyarakat luas dengan efektif dan efisien. Bahasan utama dalam penelitian ini berkaitan dengan peran penting komunikasi massa di tengah pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian studi lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk mempertajam analisa data, penelitian ini menggunakan pendekatan konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Penelitian ini menemukan bahwa komunikasi massa memiliki peranan sentral dalam menanggapi pandemi COVID-19. Peran ini membentuk perilaku baru yang muncul dari tatanan dan rekonstruksi sosial baru dalam menghadapi tatanan sosial yang lebih adaptif dengan keadaan pandemi. untuk menciptakan keadaan ini, diperlukan komunikasi yang erat antara stakeholder dengan masyarakat dalam menanggapi permasalahan ini.
Arah Politik Muhammadiyah dalam Pemilihan Presiden 2019: Sebuah Analisis Framing Media Online Ali Ridho
Kalijaga Journal of Communication Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/kjc.11.01.2019

Abstract

This paper aims to discover how to frame Muhammadiyah’s political direction news in the 2019 Presidential Election on Republika.co.id, Kumparan.com, and Tribunnews.com. From this phenomenon arises a question of precisely the political direction of Muhammadiyah in the 2019 Presidential Election? The method used in this research is the framing analysis of Robert N. Entman’s model, which states that each media constructing news must go through two stages, namely the selection of issues and the highlighting of aspects. Analyzing data obtained through 4 steps, (1) Define problems, (2) Diagnose causes, (3) Make moral judgment, and (4) Treatment Recommendation. This research shows that Muhammadiyah is a social organization in an association engaged in da'wah Amar Ma'ruf Nahi Munkar and Tajdid. Muhammadiyah as a religious movement has always been a lyric for the participants of the presidential election because it has an excellent political power second after Nahdlatul Ulama (NU), which is said to be a representation of the voice of Muslims. In early September, the number one vice-presidential candidate, Ma'ruf Amin, visited the central office. Muhammadiyah, and the previous month, the number two pair, Prabowo-Sandiaga, also asked for a blessing to participate in the 5th Annual event. After that, I reveal that this study showed three online mass media: Republika.co.id, Kumparan.com, and Tribunnews.com in their coverage of Muhammadiyah's political direction in the 2019 presidential election were neutral. Muhammadiyah, as a religious organization, chose consistency to maintain neutrality in the presidential election and give all Muhammadiyah citizens freedom to vote at the five-yearly event.Paper ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembingkaian berita arah politik Muhammadiyah pada Pemilihan Presiden tahun 2019 di portal berita Republika.co.id, Kumparan.com dan Tribunnews.com. Dari fenomena ini muncul sebuah pertanyaan kemana sebenarnya arah politik Muhammadiyah pada Pemilihan Presiden Tahun 2019? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis framing model Robert N. Entman, yang menyatakan bahwa setiap media mengkontruksi berita harus melalui dua tahap, yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek. Data yang diperoleh dianalisis melalui 4 tahap, (1) Define problems, (2) Diagnose causes, (3) Make moral judgement, dan (4) Treatment Recommendation. Penelitian ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi sosial kemasyarakatan dalam bentuk persyarikatan yang bergerak pada wilayah dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan selalu menjadi lirikan bagi peserta pemilihan presiden di setiap waktunya, sebab digadang-gadang memiliki kekuatan politik yang menjanjikan kedua setelah Nahdlatul Ulama (NU) yang konon merupakan representasi dari suara umat Islam. Pada awal bulan September yang lalu, calon wakil presiden nomor urut 1 Ma’ruf Amin berkunjung ke kantor PP. Muhammadiyah, dan bulan sebelumnya, pasangan nomor urut 2 yaitu Prabowo-Sandiaga juga meminta restu untuk mengikuti ajang 5 Tahunan tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan ketiga media massa online yakni: Republika.co.id, Kumparan.com dan Tribunnews.com dalam pemberitaannya terhadap arah politik Muhammadiyah dalam Pilpres 2019 bersikap netral. Muhammadiyah sebagai ormas keagamaan memilih istiqomah menjaga netralitas dalam Pilpres tersebut dan memberikan kekebasan bagi seluruh warga Muhammadiyah untuk memberikan hak suaranya pada perhelatan lima tahunan tersebut.
Bingkai Yusril Ihza Mahendra menjadi Pengacara Jokowi-Ma’ruf dalam Media Daring M. Sabron Sukmanul Hakim
Kalijaga Journal of Communication Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/kjc.22.01.2020

Abstract

This paper discusses the mass media polemic when Yusril Ihza Mahendra became a lawyer for Jokowi-Ma'ruf in the 2019 presidential election. Previously, Yusril was a lawyer for Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) which later became a banned organization in Indonesia. In addition, Yusril was previously known as a critic of Jokowi and an active defender of Prabowo along with the party he leads, the Crescent Star Party (PBB). The focus of this research is to explore three mass media that are well known to the general public: Sindonews.com, Kompas.com, and Republika.co.id to see how the mass media dared to frame the coverage of Yusril Ihza Mahendra's decision to become Jokowi-Ma'ruf's campaign team. By using a qualitative research methodology, this study also uses Robert N. Entman's framing analysis to see the framing. This is done in order to penetrate the reporting frame made by the three brave mass media. The findings of this study indicate that the three media have different attitudes. Sindonews.com showed Yusril's choice neutrally with all parties involved. Meanwhile, Kompas.com seems to be more inclined to side with the Jokowi-Ma'ruf camp with the proportion of the Yusril and the Jokowi-Ma'ruf camp being more. Meanwhile, Republika.co.id appears to be contravening by presenting parties who feel aggrieved by Yusril's decision to become Jokowi-Ma'ruf's successful lawyer.Tulisan ini membahas polemik media massa saat Yusril Ihza Mahendra menjadi pengacara Jokowi-Ma’ruf pada pemilihan umum presiden 2019. Sebelumnya, Yusril menjadi pengacara bagi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang kemudian menjadi organisasi terlarang di Indonesia. Selain itu, Yusril sebelumnya juga dikenal sebagai pengkritik Jokowi dan pembela aktif Prabowo bersama partai yang dipimpinnya, Partai Bulan Bintang (PBB). Fokus penelitian ini adalah meneroka tiga media massa daring yang sudah dikenal khalayak umum: Sindonews.com, Kompas.com, dan Republika.co.id untuk melihat bagaimana media massa daring membingkai pemberitaan keputusan Yusril Ihza Mahendra menjadi pengacara tim sukses Jokowi-Ma’ruf. Dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif, penelitian ini juga menggunakan analisis framing Robert N. Entman untuk melihat pembingkaian tersebut. Hal ini dilakukan agar dapat meneroka bingkai pemberitaan yang dilakukan oleh ketiga media massa daring. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga media tersebut memiliki sikap yang berbeda. Sindonews.com menunjukkan secara netral pilihan Yusril dengan menghadirkan semua pihak yang terlibat. Sedangkan Kompas.com terlihat lebih condong berpihak pada kubu Jokowi-Ma’ruf dengan proporsi pihak Yusril dan kubu Jokowi-Ma’ruf lebih banyak. Sementara Republika.co.id terlihat kontra dengan menampilkan pihak-pihak yang merasa dirugikan atas keputusan Yusril menjadi pengacara tim sukses Jokowi-Ma’ruf.
Kontroversi Tiruan Slogan Donald Trump dalam Pidato Pipres Prabowo: Analisis Framing dalam Tiga Media Online Erna Kurniawati
Kalijaga Journal of Communication Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/kjc.12.01.2019

Abstract

This study has a problem how three online media, Detik.com, Tribunnews.com and Tempo.co, in framing the reporting of the slogan “Indonesia First, Make Indonesia Great Again” delivered by Prabowo Subianto in his speech on Thursday, October 11, 2018 which considered imitating the President of the United States, Donald Trump. The three online media were selected on the basis of consideration of news sites that were quite intense and enthusiastic in reporting the slogan in the two-week period after the event (11-25 October 2018). The method in this study uses framing analysis proposed by Robert N. Entman. The data were analyzed in four stages, that is define problems, diagnose causes, make moral judgement, and treatment recommendation. The results of this study indicate that Detik.com provides news from both pros and cons; Tribunnews.com places more emphasis on using more refined language, and Tempo.co puts forward the use of wise and contemporary languages.Studi ini memiliki belakang masalah bagaimana tiga media online, Detik.com, Tribunnews.com dan Tempo.co, dalam membingkai pemberitaan slogan “Indonesia First, Make Indonesia Great Again” yang disampaikan oleh Prabowo Subianto dalam pidatonya pada Kamis 11 Oktober 2018 yang dinilai meniru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ketiga media online tersebut dipilih atas dasar pertimbangan situs-situs berita yang cukup intens dan antusias dalam memberitakan slogan tersebut pada periode waktu dua minggu pasca kejadian (11-25 Oktober 2018). Metode pada penelitian ini menggunakan analisis framing yang dikemukakan oleh Robert N. Entman. Data dianalisis dalam empat tahap, yakni pendefinisian masalah, memperkirakan sumber masalah, membuat keputusan moral, dan menekankan penyelesaian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Detik.com menyajikan berita dengan sumber baik dari yang pro maupun kontra; Tribunnews.com lebih menekankan pada penggunaan bahasa yang lebih diperhalus, dan Tempo.co lebih mengedepankan penggunaan bahasa-bahasa yang bijak dan kekinian.
Pencegahan “Privacy Violation” di Media Sosial Pada Kalangan Remaja Seiren Ikhtiara
Kalijaga Journal of Communication Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/kjc.12.05.2019

Abstract

This article is the result of research on social Media based on the results of the development of internet technology as a new media (newmedia)that has implications in it to give a positive influence andnegatif on human life. The method used is qualitative descriptive whose data is taken through observation at SMAN 1 Pleret Bantul Yogyakarta school. The results of this study show that social media makes it easier for a person to interact and communicate.  Socialcare can also have a big impact on teenagers. Kaum teenagers who are also the most users on social media are very vulnerable and can be victims or perpetrators of cyber   crime, namely privacy  violations.   Remaja as the next generation of the nation must be wise in using social media. Remaja must quickly take langkah by frequently following socialization containing information about actions against cyber crime.Artikel ini adalah hasil penelitian tentang media sosial berbasis dari hasil perkembangan teknologi internet sebagai media baru (new media) yang menimbulkan implikasi didalamnya memberikan pengaruh positif dan negatif pada kehidupan manusia. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang datanya diambil melalui observasi di sekolah SMAN 1 Pleret Bantul Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa media sosial memudahkan seseorang dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Media sosial juga bisa memberikan dampak yang besar bagi remaja. Kaum remaja yang juga sebagai pengguna terbanyak di media sosial sangat rentan dan bisa menjadi korban ataupun pelaku dari cyber crime yaitu pelanggaran privasi atau privacy violation. Remaja sebagai generasi penerus bangsa harus dengan bijak dalam menggunakan media sosial. Remaja harus sigap mengambil langkah dengan sering mengikuti sosialisasi yang berisi informasi perihal tindakan melawan cyber crime.
Polemik Majelis Ulama Indonesia tentang Konsep Islam Nusantara: Sebuah Analisis Framing Media Online Zanniro Sururi Hsb
Kalijaga Journal of Communication Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/kjc.11.02.2019

Abstract

This study explores the Indonesian Ulema Council’s polemic coverage about the concept of Islam Nusantara through online media framing analysis. To look at online media framing, I use qualitative methods with Robert N. Etnman’s framing study that examines two things: selecting issues and the emphasis or promotion of certain aspects. The analysis contained four concepts: defining problems, diagnosing causes, making a moral judgment, and treatment recommendations. The results showed that three online media gave rise to a variety of news reports. Detiknews.com brings up news about scholars’ polemic in the Indonesian Ulema Council area behind Islam Nusantara’s concept eight times, CNNIndonesia.com five times, and Kompas.com three times. Interpretations of the three online media have different attitudes. Detiknews.com in framing can not be said to be neutral, but there has been a bit of a splash of neutrality by displaying statements as a bit of a counterparty, although dominated by pre-party views. CNNIndonesia.com is more impressed to provoke the public to respond to the construction of reality in framing because many use the election diction provocative title. Kompas.com is more neutral compared to Detiknews.com and CNNIndonesia.com. Kompas media tends to use the principle of cover both sides, and the news is more in the form of articles or public opinion.Studi ini mencoba untuk mengeksplorasi pemberitaan polemik Majelis Ulama Indonesia tentang konsep Islam Nusantara melalui analisis framing media online. Untuk melihat framing media online, penulis menggunakan metode kualitatif dengan analisis framing Robert N. Etnman yang mengkaji dua hal, yaitu seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu. Analisis tersebut terdapat empat konsep, yaitu define problems (pendefenisian masalah), diagnose causes (memperkirakan penyebab masalah), make moral judgement (membuat pilihan moral), dan treatment recommendation (menekankan penyelesaian). Hasil studi menunjukkan bahwa tiga media online memunculkan vitur berita yang beragam. Detiknews.com memunculkan berita tentang polemik ulama di kawasan MUI dibalik konsep “Islam Nusantara sebanyak 8 kali”, CNNIndonesia.com sebanyak 5 kali, dan Kompas.com sebanyak 3 kali. Interpretasi dari ketiga media online tersebut memiliki sikap berbeda-beda. Detiknews.com dalam melakukan framing belum bisa dikatakan netral, akan tetapi sudah ada sedikit percikan kenetralan dengan menampilkan pernyataan sekelumit pihak kontra walaupun didominasi pernyataan pihak yang pro. CNNIndonesia.com lebih terkesan memprovokasi masyarakat untuk menanggapi konstruksi realitas yang di framing karena banyak menggunakan pemilihan diksi judul yang provokatif. Kompas.com lebih netral dibandingkan dengan Detiknews.com dan CNNIndonesia.com. Media Kompas cenderung menggunakan prinsip cover both side dan pemberitaannya lebih banyak berbentuk artikel ataupun opini masyarakat.
Dakwah Gus Miftah dalam Bingkai Media Daring Putra Pujiantara
Kalijaga Journal of Communication Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/kjc.22.04.2020

Abstract

This article explores the mass media's framing of the preaching of Miftah Maulana Habiburrahman or better known as Gus Miftah who is considered different by the public because he preaches in a club and a nightclub. This has attracted the attention of several parties such as the Majelis Ulama Indonesia (MUI) and some politicians. The focus of this research is to uncover and compare Gus Miftah's coverage by Detik.com and JPNN.com in the framework of Robert N. Entman's framing analysis and qualitative approaches. The results of this study indicate that the two media are framing different news. Detik.com looks more neutral by presenting Gus Miftah's missionary journey and some pro and contra responses. Meanwhile, JPNN.com featured many parties who disagreed with Gus Miftah's preaching that was carried out in nightclubs.Tulisan ini meneroka pembingkaian media massa atas dakwah Miftah Maulana Habiburrahman atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Miftah yang dianggap berbeda oleh khalayak karena berdakwah di sebuah klub dan tempat hiburan malam. Hal ini mengundang perhatian beberapa pihak seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan beberapa kalangan politisi. Fokus penelitian ini menyingkap dan membandingkan pemberitaan Gus Miftah yang dilakukan oleh Detik.com  dan JPNN.com  dalam kerangka analisis framing Robert N. Entman dan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua media tersebut melakukan pembingkaian berita yang berbeda. Detik.com  terlihat lebih netral dengan menampilkan perjalanan dakwah Gus Miftah dan beberapa tanggapan yang pro dan yang kontra. Sementara itu, JPNN.com  banyak menampilkan pihak-pihak yang tidak setuju dengan dakwah gaya Gus Miftah yang dilakukan di tempat hiburan malam.
Polemik “Buta” dan “Budek” dalam Pidato K.H. Ma’ruf Amin: Analisis Framing Robert N. Enmant pada Media Online Sutan Kumala Pontas Nasution
Kalijaga Journal of Communication Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/kjc.12.02.2019

Abstract

The background of the problem in this research is how three online media, CNNIndonesia.com, Republika.co.id, and Tempo.co, framed speeches containing the words “blind” and “deaf” delivered by the candidates for Vice President of the Republic of Indonesia. K.H. Ma’ruf Amin on Saturday, November 10 2018 in the presence of Barisan Nusantara (BarNus) volunteers. The three media were chosen based on the argumentation about the diversity of ideologies they held. This research method uses framing analysis proposed by Robert N. Entman. The data obtained were analyzed in four stages, that is define problems, diagnose causes, make moral judgement, and treatment recommendation. The results show that CNNIndonesia.com focuses more on the responses that arise from the community, especially people with disabilities; while Republika.co.id stated that the meaning of Ma’ruf Amin’s words did not refer to people with disabilities; and Tempo.co tended to be impartial by presenting neutral news.Latar belakang masalah pada penelitian ini adalah bagaimana tiga media online, CNNIndonesia.com, Republika.co.id, dan Tempo.co, membingkai pidato yang berisi kata-kata “buta” dan “budek” yang disampaikan oleh calon Wakil Presiden Republik Indonesia, K.H. Ma’ruf Amin pada hari Sabtu 10 November 2018 di hadapan relawan Barisan Nusantara (BarNus). Ketiga media tersebut dipilih dengan argumentasi keragaman ideologi yang dianut pemiliknya. Metode penelitian ini menggunakan analisis framing yang dikemukakan oleh Robert N. Entman. Data yang diperoleh dianalisis ke dalam empat tahap, yakni pendefinisian masalah, memperkirakan sumber masalah, membuat keputusan moral, dan menekankan penyelesaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CNNIndonesia.com lebih menyoroti respon yang timbul dari masyarakat khususnya kaum disabilitas; sedangkan Republika.co.id menyebut bahwa maksud dari perkataan Ma’ruf Amin tidak menjurus kepada kaum disabilitas; dan adapun Tempo.co cenderung tidak berpihak dengan menyajikan berita yang netral.