cover
Contact Name
Johan Winarni
Contact Email
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Phone
+6281314950038
Journal Mail Official
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Editorial Address
Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, RT.6/RW.5, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410 +62 21-7693262/7657156
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
ISSN : 25800795     EISSN : 27162648     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2010): Juni 2010" : 8 Documents clear
Toleransi Antar Umat Beragama dan Perdamaian ABUDDIN NATA
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i2.16

Abstract

Islam mengajarkan toleransi dan perdamaian dengan sesama manusia dari berbagai agama.Ajaran itu bisa dibaca dari teks wahyu dan teks sejarah. Upaya mewujudkan perdamaian bisadilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, mewujudkan perdamaian denganmencari titik temu universalitas antar agama. Kedua, mewujudkan perdamaian dengan mencarititik temu antar agama melalui pendekatan teologis tansformatif humanis. Pendekatan inimengandaikan sebuah kerukunan yang hendak dibangun adalah kerukunan yang bukan diatursecara eksternal, melainkan tumbuh secara otentik dari dalam diri setiap umat beragama dengancara penghayatan iman yang bersangkutan dan melalui dinamika hidup bersama antara umatberagama. Ketiga, mewujudkan perdamaian dengan menumbuh kembangkan tekad untukmewujudkan budaya nonviolence (tanpa kekerasan) sebagai kekuatan moral. Budaya nonkekerasantersebut dapat dirintis dengan etos anti kekerasan yang disuburkan melaluipengembangan teologi keagamaan yang kondusif, yaitu teologi perdamaian.
Aksara Perdamaian Ella Yulaelawati
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i2.26

Abstract

Meningkatkan Budaya Damai Melalui Pendidikan Karakter R. Siti Zuhro
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i2.41

Abstract

Perlu dilakukan revitalisasi pendidikan karakter. Revitalisasi pendidikan karakter mensyaratkan agar kita tetap fokus dan memprioritaskan kualitas SDM (pembukaan Konstitusi). Budaya damai dan kecenderungan bangsa Indonesia untuk menjaga harmoni menghadapi tantangan serius ketika demokrasi belum mampu memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Demokrasi berkorelasi positif terhadap budaya damai. Secara teori, semakin berkualitas demokrasi yang dipraktikkan, akan semakin berkurang praktik kekerasan. Oleh karena itu, demokrasi yang kita laksanakan harus mampu menghasilkan tatakelola pemerintahan yang baik (good governance), yang bersih dan berwibawa. Good governance yang mampu menekan jumlah skandal korupsi agar pelayanan publik yang dilakukan birokrasi lebih bagus dan tugas untuk mensejahterakan rakyat pun terwujud. Era demokrasi prosedural belum berdampak positif terhadap kanalisasi aspirasi dan kepentingan masyarakat. Perilaku pemimpin/elit politik akan menjadi tauladan bagi masyarakat. Untuk kasus Indonesia pendidikan karakter tak hanya cukup melalui bangku sekolah, tapi juga pendidikan di luar sekolah.
Membangun Karakter Melalui Aksara Seni Budaya Lokal JAMILIN SIRAIT
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i2.43

Abstract

Dorongan untuk mengarahkan pendidikan pada upaya pembentukan karakter tentu tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang terjadi di negeri ini. Degradasi moral yang terlihat dari meningkatnya tindak kekerasan, kriminalitas, korupsi, kecabulan, dan tindakan lainnya dalamkehidupan sehari-hari sudah sangat nyata dan meresahkan. Melalui Pendidikan karakter diharapkan masyarakat kita memiliki karakter unggul.Ada dua hal yang diharapkan dapat membawa kita kepada pembangunan karakter dan peradaban, yaitu seni budaya lokal dan perdamaian. Kedua bidang ini bisa diterjemahkan dengan “budaya lokal” dan “agama”. Dalam konteks keberagamaan, ada empat perbedaan pendekatan, yaitu literal, simbolis, statis, dan dinamis. Konflik antar agama sering terjadi disebabkan oleh keempat faktor ini. Seharusnya relevan dengan asumsi dasar pluralitas, adanya saling ketergantungan hubungan di antara hal-hal yang berbeda menjadi keutamaan. Konsekuensi logisnya, pluralitas mengacu pada adanya kebersamaan yang utuh dan bersifat mengikat. Pluralitas bukan untuk pluralitas itu sendiri, tetapi meniscayakan kita – umat beragama – untuk meluaskan cakrawala berpikir dan bertindak melampaui domain dan batas-batas primordialistik menuju pemahaman yang integral-komprehensif dalam beragama.
Pendidikan Hak Asasi Manusia dan Strategi Pembangunan Perdamaian Hafid Abbas
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i2.46

Abstract

HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagi makhluk Tuhan Yang Mahaesa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (Pasal 1 ayat 1 UU No 39/1999). Pendidikan HAM bisa berkontribusi untuk pendidikan perdamaian. Pengembangan kurikulum pendidikan HAM di jenjang pendidikan dasar dan menengah pada hakikatnya dapat diperkenalkan secara integratif. Artinya, Pendidikan HAM diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang terkait. Di SD dan SMP misalnya terdapat sejumlah mata pelajaran yang secara ontologis keilmuan mempunyai common grounds yang sama dengan Pendidikan HAM, seperti Pendidikan Agama, Pancasila, IPS, dan lain sebagainya. Selain pendekatan integratif, Pendidikan HAM di SD dan SMP dapat pula diperkenalkan secara tematik. Artinya, Pendidikan HAM diintegrasikan ke dalam tema-tema terkait di seluruh substansi mata pelajaran dan bahan bacaan yang ada. Misalnya dalam Biologi pada pembahasan konsep saling ketergantungan, dan Ilmu Alam dalam pembahasan Hukum Kekekalan Energi, dan IPS pada topik Penawaran dan Permintaan, dan lain sebagainya.
Aksara Perdamaian Melalui Pendidikan Masyarakat NFN ABEEDNEGO
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i2.48

Abstract

Sebagai bangsa yang multikultural, sudah barang tentu kita dapat menghindari diri dari konflik. Namun, kenyataannya membuktikan bahwa hampir setiap hari media massa memberitakan berbagai konflik dan tindak kekerasan. Memang telah begitu banyak upaya dilakukan oleh berbagai kalangan untuk menyelesaikan konflik, seperti pemerintah, tokoh agama, pendidik, tokoh masyarakat, LSM, bahkan masyarakat umum. Dari pengamatan kami, upaya perdamaian yang telah dilakukan oleh berbagai pihak tersebut memang mampu menyelesaikan konflik namun tidak sampai memecahkan akar persoalannya. Karena itu, tulisan ini mengajukan alternatif penyelesaian konflik dengan cara mengusahakan kerjasama kemitraan antara berbagai pihak dan memberikan ruang partisipasi yang besar kepada masyarakat untuk terlibat secara aktif dalam usaha menyelesaikan konflik itu sendiri. Partisipasi masyarakat secara aktif diawali dengan pendidikan yang utuh tentang konflik dan perdamaian sehingga upaya-upaya masyarakat tersebut terarah, sistematis, dan tuntas.
Kepemimpinan Pemuda dan “Sekolah Perdamaian“ M.P. LALU MALAPUI
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i2.49

Abstract

Al-Quran mewasiatkan pada manusia sebuah peringatan ; Hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah.. (QS. An. Nisa: 9). Ayat ini merupakan peringatan bagi generasi tua, para pemimpin ummat dan bangsa untuk memperhatikan amanah pentingnya mempersiapkan generasi penerus yang yang kuat : kuat aqidah, ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup (life skills), akhlak, fisik dan ekonomi. Allah juga menjadikan hidup sebagai kesempatan untuk berlomba-lomba melakukan yang terbaik, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al_Mulk: 2 ; “Dialah Allah yang menjadikan Mati dan hidup untuk menguji siapa diantara kamu yang paling baik ‘Amalnya“ dan dibagian lain Juga ditegaskan misi sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fil Ardh).Generasi yang kuat yang harus dipersiapkan itu adalah pemuda, harapan bangsa, pewaris amanah perjuangan dan penerus cita-cita luhur bangsa menuju Indonesia yang adil dan makmur, mencerdaskan bangsanya dan memerangi segala bentuk penindasan dan ketidakadilan, mencintai perdamain. Pemuda sebagai aset memiliki potensi kreatif dan kepemimpinan yang niscaya harus dikembangkan. Termasuk dikembangkan untuk berkontribusi mengembangkan Aksara Perdamaian yang meliputi : wacana, wicara, wisesa dan wibawa (Yulaelawati, 2010). Kedamain, adalah prasyarat, kondisi dinamis yang memungkinkan optimal dan efektifnya upaya pengembangan potensi pemuda dan pada sisi lain kedamain sekaligus juga menjadi muara akhir dari seluruh aktivitas mempersiapkan generasi muda yang memiliki karakter dan kemampuan kepemimpinan yang dipersyarat oleh masyarakat dan bangsa menghadapi masa depan yang semakin kompleks
Toleransi untuk Meningkatkan Perdamaian AMSAL BACHTIAR
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i2.254

Abstract

Indonesia pernah mencoba menerapkan konsep kerukunan beragama melalui apa yang disebut trikerukunan, yakni kerukunan interen umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dan pemerintah. Tiga bentuk kerukunan ini kemudian disosialisasikan secara struktural melalui program pemerintah sampai ke daerah. Hasilnya memang relatif bagus, karena mesin birokrasi bekerja secara baik, tapi setelah berakhirnya pemerintahan, kerukunan yang sejati rupanya tidak muncul karena akarnya tidak terbangun dengan baik. Hal ini mungkin disebabkan adanya pendekatan kekuasaaan yang lebih dikedepankan daripada pendekatan kultural. Saatnya sekarang kita membangun tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara vang berdasarkan pada basis yang lebih kokoh, yakni yang menyeimbangkan pendekatan kekuasaan dengan pendekatan budaya dan adat.

Page 1 of 1 | Total Record : 8