cover
Contact Name
Johan Winarni
Contact Email
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Phone
+6281314950038
Journal Mail Official
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Editorial Address
Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, RT.6/RW.5, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410 +62 21-7693262/7657156
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
ISSN : 25800795     EISSN : 27162648     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles 224 Documents
LITERASI DIGITAL DALAM MEMANFAATKAN MEDIA SOSIAL ( Studi Kasus Pada Asisten Rumah Tangga Usia Remaja) Adi Irvansyah
Jurnal AKRAB Vol. 13 No. 2 (2022): JURNAL AKRAB
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v13i2.428

Abstract

Abstrak: Di era digital saat ini, interaksi antar manusia dapat dilakukan secara terbuka melalui komunikasi yang dialogis dan partisipatif. Realitas yang ada, tidak semuanya individu memiliki pemahaman dan kehati-hatian dalam berinteraksi di dunia maya. Ketidakpahaman tersebut dapat dikategorikan sebagai niraksasara secara digital dalam pemanfaatan media sosial. Urgensi penelitian ini ialah dilatarbelakangi adanya kasus pada asisten rumah tangga usia remaja yang menjadi korban penipuan di media sosial dikarenakan rendahnya pemahaman dan sikap kehati-hatian di dunia maya, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengkosplorasi faktor-faktor penyebab rendahnya literasi digital dan menganalisis Kriteria literasi digital dari aspek keterampilan kesadaran yang terdiri dari etika, melek hukum, dan menjaga diri. Paradigma penelitian ini menggunakan paradima konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Studi kasus dipilih dikarenakan penelitian ini berfokus pada satu kasus tertentu yaitu pada asisten rumah tangga berusia remaja, sehingga penelitian ini tidak bisa digeneralisasikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor pengalaman dan jam terbang masih sangat minim dalam berinteraksi di media sosial, karena informan DA baru pertama kali menggunakan gawai. Kehati-hatian dalam berinteraksi di media sosial oleh informan DA pun masih sangat kurang karena menganggap berinteraksi sosial di media sosial dengan di dunia nyata pada saat di kampung halaman dianggap sama. Tingkatan pendidikan informan DA pun mempengaruhi kemampuan literasi digitalnya dalam bermedia sosial, hal ini terlihat pada kurangnya pemahaman terkait dengan aturan-aturan bermedia sosial dengan bijak. Dengan demikin dapat disimpulkan bahwa rendahnya pemahaman mengenai realitas sosial yang terjadi di dunia maya menyebabkan informan DA mudah terkena bujuk rayu dan menyebabkan terjadinya penyimpangan sosial. Proses transformasi merubah perilaku dalam meningkatkan literasi digital diperlukan pendidikan informal dengan pendekatan heutagogi melalui digitalisasi penyuluhan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam berinteraksi di media sosial. Kata-kata kunci: dialogis, partisipatif, niraksara, heutagogi. DIGITAL LITERACY IN USING SOCIAL MEDIA(Case Study on Adolescent Household Assistants) Abstract: In today's digital era, interaction between humans can be done openly through dialogue and participatory communication. The reality is that not all individuals have understanding and caution in interacting in cyberspace. This misunderstanding can be categorized as digitally savvy. The urgency of this research is motivated by the case of teenage household assistants who are victims of fraud on social media due to low understanding and prudence in cyberspace, so this study aims to explore the factors that cause low digital literacy and analyze digital literacy criteria. from the aspect of awareness skills consisting of ethics, legal literacy, and self-preservation. This research paradigm uses the constructivism paradigm with a qualitative approach and the type of case study research. The case study was chosen because this study focuses on one particular case, namely on adolescent household assistants, so this research cannot be generalized. The results showed that the experience factor and flight hours were still very minimal in interacting on social media, because DA informants were using gadgets for the first time. The DA informants are still very careful in interacting on social media because they consider social interaction on social media to be the same in the real world when they are at home. The educational level of DA informants also affects their digital literacy skills in social media, this can be seen in the lack of understanding related to the rules of social media wisely. Thus, it can be concluded that the low understanding of social realities that occur in cyberspace causes DA informants to be easily persuaded and cause social deviations. The transformation process to change behavior in improving digital literacy requires informal education with a heutagogy approach through digitizing counseling to increase public understanding in interacting on social media. Keywords: Dialogical, participatory, iliterate, heutagogy.
MENINGKATKAN FUNGSI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI “KLINIK BUDAYA LITERASI” Ainur Rasyid Ridha
Jurnal AKRAB Vol. 13 No. 2 (2022): JURNAL AKRAB
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v13i2.430

Abstract

Dalam tulisan yang berjudul Lingkungan Keluarga Sebagai Klinik Budaya Literasi ini, penulis memiliki tujuan agar budaya membaca terus digalakkan khusunya dalam lingkungan keluarga. Peran keluarga diharapkan bisa seoptimal mungkin mendesain lingkungannya dengan unsur unsur yang ada di dalamnya bisa menjadi pemicu munculnya gairah membaca di lingkungan keluarga sehingga lingkungan keluarga dapat menjadi klinik budaya literasi. Literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca, budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Keluarga merupakan komponen penting yang membentuk suatu masyarakat. Habitual individu yang dibentuk oleh sebuah lingkungan keluarga akan banyak mempengaruhi kultur masyarakat secara makro terkait dalam hal keberaksaraan masyarakat. Layaknya sebagai klinik yang memfasilitasi suatu layanan terkait dengan literasi maka perlu dipersiapkan lingkungan rumah yang dapat mendukung terjadinya pembiasaan beraksara. Lingkungan tersebut haruslah memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut : Menggerakkan dan Memotivasi, Bertujuan, Pengalaman , Pengakuan dan Penghargaan, Transmisi social, Keteladanan. Bagian penting untuk merealisasikan klinik budaya literasi di rumah.adalah mempersiapkan Pengelolaan Sumber Belajar. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan terkait pengelolaan sumber belajar antara lain: Pengklasifikasian Buku (Classification of Book)s , Penempatan Buku (Placement of Book), Pemeliharaan (Maintenance), Pemanfaatan (Utilization). Klinik budaya literasi dalam lingkungan keluarga jika terus difungsikan, maka manfaat layanan yang telah diberikan akan dapat membiasakan anggota keluarga menjadi : Gemar membaca, Memperbaiki komunikasi, Diskusi menjadi jalan keluar menyelesaikan masalah, Meningkatkan pemikiran inovatif dan kreatif serta Kaya pengalaman/informasi.
PELATIHAN KETERAMPILAN PEMBUATAN TAS TALI KUR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK KEAKSARAAN USAHA MANDIRI Miko sethmiko; Alpera Yani
Jurnal AKRAB Vol. 13 No. 2 (2022): JURNAL AKRAB
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v13i2.431

Abstract

Pengembangan program pendidikan masyarakat terus dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat di luar sistem persekolahan, sebagai penambah, pelengkap, dan pengganti. Salah satu program pendidikan keaksaraan yang menjadi fokus pemerintah melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan ialah program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM). Pada prakteknya di masyarakat, keaksaraan usaha mandiri telah banyak diterapkan oleh berbagai satuan pendidikan nonformal. Berbagai satuan pendidikan nonformal saat ini telah banyak diterapkan di Indonesia, baik oleh masyarakat, swasta, maupun perorangan. Pendirian berbagai satuan pendidikan nonformal tersebut tidak hanya didasari oleh filosofi pendidikan nonformal di atas, tetapi lebih karena kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat. Satu diantara PKBM di Palangka Raya yang menyelenggarakan program KUM, sekaligus menjadi lokasi pada kajian ini adalah PKBM Al-Alim, Kota Palangka Raya. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode pre eksperimen melalui One Group Pretest Posttest Design. Jadi Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah sampling (totally sampling) bertujuan karena warga belajar KUM yang aktif dan berkelanjutan dalam mengikuti keterampilan berjumlah 10 orang, dengan tujuan mendapatkan data yang spesifik dari penerapan pelatihan keterampilan pembuatan tas di PKBM Al-Alim Kota Palangka Raya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai peningkatan kreativitas pada pelatihan keterampilan membuat tas berbahan dasar tali kur tersebut yang didapat dari pre test dan post test yakni nilai rata-rata pre test 62 dan nilai rata-rata post test 73. The development of community education program was always did based on felt need and alos society dynamic outside the formal educatinal regulation as complement, suplement and cubtitue. One of the literacy education program that have government concern was independent business literacy, also known by KUM. At the practicaly did, independent business literacywas held by many types of nonformal education institution based on society, independent and also non-goverment. Many of the nonformal education institution was build not only based on nonformal philosophy, but also based on society felt need. One of the community learning center at Palangka Raya which is also held KUM education is PKBM Al-Alim.Research approach that use was quantitative with pre experiment method and one grup pre test-post tes design. So, the sampel at this research was totally purposed sampling, to cover all of the students (10 person) as a sample. This method was use to get specific data aboyt the implementation of bag maker skills at PKBM Al Alim, City of Palangka Raya.The research results shows there was an increasing students creativity by using pre-post test design, which is the mean score of pre test was 62 and at pros test increasing to 73.
PENINGKATAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KEAKSARAAN DASAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PE-DE-KA-TE Cecep Suryana
Jurnal AKRAB Vol. 13 No. 2 (2022): JURNAL AKRAB
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v13i2.432

Abstract

Pemberantasan buta aksara di Indonesia tetap mendapat perhatian yang besar dari pemerintah Indonesia terutama setelah terbitnya Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2006 Tentang GNPWBA, program pemberantasan buta huruf di Indonesia menjadi massif. Kegiatan pembelajaran pendidikan keaksaraan juga semakin efektif sejak terbitnya Permendikbud Nomor 86 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Dasar (KD) dan Permendikbud Nomor 42 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Lanjutan (KL). Untuk menstimulasi pemerintah daerah dan lembaga atau satuan pendidikan, Kemendikbudristek memberikan dana Bantuan Pemerintah Program Pendidikan Keaksaraan. Selama periode 2020 hingga 2021 jumlah sasaran banper sebanyak 98 ribu orang per tahun untuk Pendidikan KD dan KL. Sedangkan untuk tahun anggaran 2022 jumlah sasaran sebanyak 33 ribu orang untuk Pendidikan Keaksaraan Dasar. Terlepas dari berbagai kebijakan tersebut, ternyata pelaksanaan pembelajaran pendidikan keaksaraan tetap memiliki permasalahan tersendiri. Penelitian ini didasarkan pada temuan permasalahan bahwa rendahnya kesiapan belajar calon peserta didik, pendidik belum memahami konsep Andragogi, homogentias perencanaan pembelajaran, serta minimnya capaian kompetensi hasil belajar peserta didik. Mengacu pada hal tersebut, maka diperlukan peningkatan kompetensi pendidik terutama untuk membuat perangkat pembelajaran yang sederhana, proses pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan serta pengukuran capaian kompetensi yang ringan. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dengan tujuan untuk mengimplementasikan model pembelajaran Pe-De-Ka-Te dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran pendidikan keaksaraan dasar. Melalui perlakuan yang diberikan selama penelitian ini, diperoleh hasil bahwa model pembelajaran melalui pendekatan Pe-De-Ka-Te cukup efektif meningkatkan motivasi belajar peserta didik serta meningkatkan rata-rata capaian kompetensi baca tulis dan hitung (calistung) peserta didik. The eradication of illiteracy in Indonesia continues to receive great attention from the Indonesian government, especially after the issuance of Presidential Instruction Number 5 of 2006 concerning the GNPWBA, the illiteracy eradication program in Indonesia has become massive. Literacy education learning activities have also become more effective since the issuance of Permendikbud Number 86 of 2014 concerning the Implementation of Basic Literacy Education (KD) and Permendikbud Number 42 of 2015 concerning the Implementation of Advanced Literacy Education (KL). To stimulate regional governments and educational institutions or units, the Ministry of Education and Culture provides government assistance funds for the Literacy Education Program. During the period 2020 to 2021 the target number of assistance is 98 thousand people per year for KD and KL Education. Whereas for the 2022 fiscal year the target number is 33 thousand people for Basic Literacy Education. Apart from these various policies, it turns out that the implementation of literacy education learning still has its own problems. This research is based on the findings of the problem that the low readiness of prospective students to learn, educators do not understand the concept of Andragogy, homogeneity of learning planning, and the lack of competency achievement of student learning outcomes. Referring to this, it is necessary to increase the competence of teachers, especially to make simple learning tools, the learning process is interesting and not boring and the measurement of competency achievements is light. This research was carried out using a qualitative approach with the phenomenological method with the aim of implementing the Pe-De-Ka-Te learning model in increasing the effectiveness of learning basic literacy education. Through the treatment given during this study, the results obtained were that the learning model through the Pe-De-Ka-Te approach was quite effective in increasing students' learning motivation and increasing the average achievement of students' literacy and arithmetic (calistung) competencies.