cover
Contact Name
Cecep Romli
Contact Email
cecep.romli@uinjkt.ac.id
Phone
+6281210424703
Journal Mail Official
jurnal.dakwah@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Gedung Faklutas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta Jl. Ir. H. Juanda no 95 Ciputat Tangerang Selatan
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan
ISSN : 14112779     EISSN : 26861283     DOI : https://10.15408/dakwah
DAKWAH: Jurnal Dakwah dan Kemasyarakatan is a journal that publishes original research and current issues on dawah and communication studies in Indonesian and Asean society. The focus study of DAKWAH: Jurnal Dakwah dan Kemasyarakatan are Dakwah Management Islamic Guidance and Counseling Study Communication and Broadcasting of Islam Journalistic Social Welfare. Development of Islamic Society.
Articles 105 Documents
Peran Pesantren dan Surau dalam Dakwah Islam di Indonesia Panji Putrawan Makalalag; Rizky Amalia
Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan Vol. 29 No. 2 (2025): Dakwah: Jurnal Dakwah dan Kemasyarakatan
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/b4xrhe73

Abstract

Pesantren and surau are traditional Islamic educational institutions that play an important role in the spread of Islam in Indonesia. Pesantren, which developed extensively in Java, integrate religious education and community development through boarding schools and direct guidance from kyai. During the Walisongo period, pesantren became centers for da'wah, education, and training for Islamic missionaries. Despite facing challenges during the Dutch and Japanese colonial periods, pesantren continued to contribute to education and the struggle for independence. In the modern era, pesantren have adapted to the demands of the times without abandoning traditional values. Surau, which developed in Sumatra, originally functioned as places of Hindu-Buddhist worship. After Islam entered the region, surau transformed into centers of Islamic education and spirituality. Surau played an important role in non-formal education through halaqoh methods, Quranic teaching, book studies, and tarekat practices. These institutions not only spread Islamic teachings but also preserved local cultural values, shaping the religious and civilized character of the Minangkabau people. Through a combination of educational, social, and spiritual functions, pesantren and surau have become important pillars in the development of Islamic society in Indonesia. Both institutions remain relevant in the era of globalization by preserving traditions while innovating to respond to the challenges of the times.    Pesantren dan surau merupakan institusi pendidikan Islam tradisional yang memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Pesantren, yang banyak berkembang di Jawa, mengintegrasikan pendidikan agama dan pengembangan komunitas melalui asrama dan bimbingan langsung oleh kyai. Pada masa Walisongo, pesantren menjadi pusat dakwah, pendidikan, dan pelatihan kader penyebar agama Islam. Meskipun menghadapi tantangan selama penjajahan Belanda dan Jepang, pesantren terus berkontribusi dalam pendidikan dan perjuangan kemerdekaan. Di era modern, pesantren beradaptasi dengan tuntutan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional. Sedangkan surau, yang berkembang di Sumatera, awalnya berfungsi sebagai tempat ibadah Hindu-Buddha. Setelah Islam masuk, surau bertransformasi menjadi pusat pendidikan dan spiritualitas Islam. Surau memainkan peran penting dalam pendidikan nonformal melalui metode halaqoh, pengajaran Al-Qur'an, kajian kitab, dan praktek tarekat. Institusi ini tidak hanya menyebarkan ajaran Islam tetapi juga melestarikan nilai-nilai budaya lokal, membentuk karakter masyarakat Minangkabau yang religius dan beradab. Melalui kombinasi fungsi-fungsi pendidikan, sosial, dan spiritual, pesantren dan surau telah menjadi pilar penting dalam pengembangan masyarakat Islam di Indonesia. Kedua lembaga ini terus relevan di era globalisasi dengan mempertahankan tradisi sambil berinovasi untuk menjawab tantangan zaman.
The Impact of a Qur’an-, Hadith-, and Historical Exemplar–Based Religious Literacy Intervention on Students’ Wasatiyyah Attitudes:  a Pre-Experimental Study R. Cecep Romli
Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan Vol. 29 No. 2 (2025): Dakwah: Jurnal Dakwah dan Kemasyarakatan
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bs78jr03

Abstract

Religious illiteracy constitutes an epistemic problem that contributes to the reproduction of intolerant attitudes and discriminatory practices. Drawing loosely on the notion of Critical Religious Literacy (CRL), this study examines the impact of a religious literacy intervention on students’ wasatiyyah (moderate) attitudes. The study employs a pre-experimental design with a post-test administered to two intact groups of students, and the data are analyzed using Mann–Whitney U and Chi-square tests. The intervention draws on primary Islamic textual sources (the Qur’an and Hadith) and historical exemplars from the Prophet Muhammad and his Companions, framing religious moderation as an internal ethical commitment rooted within the Islamic tradition rather than as an externally imposed concept. The findings indicate that the intervention shifted students’ cognitive understanding of wasatiyyah and strengthened moderate attitudes across several issues, including support for Muslims’ obligation to protect all houses of worship and willingness to live as neighbors with Jews and Christians. However, the intervention did not produce behavioral change regarding students’ willingness to provide food to Jewish neighbors. Overall, the study suggests that religious literacy interventions grounded in Islamic textual and historical sources can effectively reinforce moderate religious attitudes, particularly at the cognitive and attitudinal levels, while behavioral change may require more sustained or intensive engagement.   Ketidaktahuan tentang agama (religious illiteracy) merupakan persoalan epistemik yang berkontribusi terhadap reproduksi sikap intoleran dan praktik diskriminatif. Berangkat secara longgar dari gagasan Critical Religious Literacy (CRL), penelitian ini mengukur pengaruh intervensi literasi agama terhadap sikap wasathiyah (moderasi) siswa. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan post-test pada dua kelompok siswa yang utuh (intact groups), dan data dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney U dan Chi-kuadrat. Intervensi pembelajaran ini bertumpu pada sumber-sumber tekstual utama Islam (Al-Qur’an dan Hadis) serta keteladanan historis Nabi Muhammad dan para sahabatnya, dengan menempatkan moderasi beragama sebagai komitmen etis yang berakar dari tradisi Islam itu sendiri, bukan sebagai konsep yang berasal dari luar. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi ini berhasil menggeser pemahaman kognitif siswa tentang konsep wasathiyah dan memperkuat sikap moderat pada sejumlah isu, termasuk dukungan terhadap kewajiban umat Islam untuk melindungi seluruh rumah ibadah serta kesediaan hidup berdampingan sebagai tetangga dengan pemeluk agama Yahudi dan Kristen. Namun, intervensi ini tidak mendorong perubahan perilaku terkait kesediaan siswa untuk memberi makanan kepada tetangga yang beragama Yahudi. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi literasi agama yang berakar pada sumber tekstual dan historis Islam efektif dalam memperkuat sikap moderasi beragama, terutama pada ranah kognitif dan afektif, sementara perubahan pada ranah perilaku tampaknya memerlukan keterlibatan yang lebih berkelanjutan dan intensif.  
Strategi Komunikasi Dakwah dalam Upaya Deradikalisasi Kelompok Islam Garis Keras di Indonesia Sutiono Purwosunu; Tantan Hermansah; Muhammad Fanshoby; Wildian Fajrin Nur Rahman
Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan Vol. 29 No. 2 (2025): Dakwah: Jurnal Dakwah dan Kemasyarakatan
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/q1thys84

Abstract

This study aims to analyze the role of dakwah (Islamic preaching) as a communication strategy in the deradicalization of hardline Islamic groups in Indonesia. Using a qualitative descriptive approach and a library research method, this study examines various academic sources, official reports, and religious organization publications through thematic analysis. The findings reveal that dakwah, when framed as persuasive communication, functions as an ideological intervention that promotes awareness, empathy, and social reintegration. The study identifies three strategic stages of dakwah-based deradicalization: preventive (education and public awareness), curative (dialogue and spiritual counseling), and rehabilitative (social and economic reintegration). The effectiveness of these strategies depends on three key elements: the communicator’s credibility, the persuasiveness of the message, and the participatory nature of communication. This research offers a new perspective by positioning dakwah not merely as a religious ritual, but as a transformative communication tool, an instrument of soft power that strengthens Islamic moderation and social peace in Indonesia. Radikalisme keagamaan tetap menjadi ancaman nyata di Indonesia, yang semakin mengkhawatirkan dengan maraknya radikalisasi pada generasi muda. Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi dakwah sebagai instrumen deradikalisasi yang efektif bagi kelompok Islam garis keras. Dengan metode studi pustaka dan analisis tematik terhadap berbagai sumber akademik dan laporan resmi, temuan penelitian mengungkap bahwa dakwah yang dirancang sebagai komunikasi persuasif berperan strategis pada 3 tahap yaitu preventif, kuratif , dan rehabilitatif. Studi ini menegaskan bahwa dakwah tidak hanya berfungsi sebagai penyampai ajaran, tetapi lebih sebagai instrumen komunikasi ideologis yang memfasilitasi perubahan kesadaran, empati sosial, dan transformasi keyakinan secara sukarela. Dengan memposisikan dakwah dalam kerangka strategi komunikasi, artikel ini menawarkan perspektif baru sebagai respons terhadap tantangan deradikalisasi yang kian kompleks.    
Analogi Sebagai Kekuatan Dakwah KH. Zaenuddin MZ: Penerapan Model Rethorical Discourse Analysis Bitzer Zakaria Zakaria; M. Hudri; Pia Khoirotun; Fatiman
Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan Vol. 29 No. 2 (2025): Dakwah: Jurnal Dakwah dan Kemasyarakatan
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/08cxkv13

Abstract

This study investigates the patterns of analogical reasoning in the sermons of KH. Zainuddin MZ using Bitzer’s Situational Analysis, which consists of exigence, audience, and constraints. The data were drawn from ten sermons addressing themes of morality, faith, and socio-religious issues. The findings indicate that exigence is the dominant rhetorical force shaping the emergence of analogies (60%), particularly as a response to moral decline, ethical problems, and social phenomena that require religious guidance. The audience dimension (20%) is reflected in the use of analogies closely tied to the daily experiences of Indonesian Muslims—agriculture, commerce, nature, and urban life—thus enhancing clarity, relevance, and emotional resonance. Meanwhile, constraints (20%) appear through cultural norms, ethical boundaries, and the preacher’s distinctive style, characterized by politeness, humor, and communicative clarity. The study concludes that the effectiveness of KH. Zainuddin MZ’s preaching lies in his ability to link social urgencies with the concrete experiences of his listeners while maintaining ethical and cultural coherence. These findings contribute to the field of Islamic rhetorical studies by demonstrating how rhetorical situations shape analogical strategies in religious communication.   Penelitian ini menganalisis pola penggunaan analogi dalam ceramah KH. Zainuddin MZ dengan menggunakan kerangka Analisis Situasional Bitzer, yang mencakup exigence, audience, dan constraints. Data diperoleh dari sepuluh ceramah bertema akhlak, keimanan, dan persoalan sosial keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa exigence merupakan unsur dominan yang membentuk lahirnya analogi retoris (60%), terutama sebagai respons terhadap problem moral masyarakat, degradasi etika, serta fenomena sosial yang membutuhkan pengarahan dakwah. Unsur audience (20%) tercermin melalui pemilihan analogi yang dekat dengan pengalaman hidup jamaah, seperti dunia pertanian, perdagangan, alam, dan dinamika masyarakat urban, sehingga meningkatkan pemahaman dan kedekatan emosional. Sementara itu, constraints (20%) tampak dari batas nilai, norma budaya Betawi, serta etika dakwah yang dijaga KH. Zainuddin MZ, termasuk gaya komunikasinya yang santun, humoris, dan komunikatif. Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas dakwah KH. Zainuddin MZ didukung oleh kemampuannya menghubungkan urgensi sosial dengan pengalaman konkret pendengar, sekaligus menjaga pesan tetap berada dalam batas etis. Temuan ini memperkaya kajian retorika dakwah dan menunjukkan bagaimana situasi retoris membentuk strategi analogi dalam komunikasi keagamaan.  
Suara Demokrasi  di Pesantren dalam Perspektif Dakwah dan Komunikasi: Studi atas Kitab al-Qirā’ah al-Rasyīdah  pada Mata Pelajaran al-Muthala’ah di Pondok Pesantren Daar El Qolam Savran Billahi; Idris Thaha; Muhammad sungaidi
Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan Vol. 29 No. 2 (2025): Dakwah: Jurnal Dakwah dan Kemasyarakatan
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/1d79qc38

Abstract

This article examines how democratic values are conveyed as da‘wah messages through the al-Muṭāla‘ah subject, using Al-Qirā’ah al-Rasyīdah as the primary reference, at Daar El Qolam Islamic Boarding School in Gintung, Jayanti, Tangerang, Banten. Employing a qualitative descriptive approach with a content analysis method, the study analyzes selected narratives taught to students in grades II through VI. The analysis focuses on forms of narrative communication, da‘wah messages, and the democratic values embedded in the texts, including honesty, justice, tolerance, freedom, solidarity, and participation. The findings indicate that al-Muṭāla‘ah learning functions as an effective medium of textual da‘wah for internalizing democratic social ethics through persuasive and non-confrontational communication. Through its curriculum and educational practices, the pesantren serves as a strategic actor in transmitting democratic values rooted in Islamic principles. These findings affirm that pesantren and democracy are not contradictory but instead operate synergistically through a value-based communication process grounded in da‘wah.   Artikel ini mengkaji bagaimana nilai-nilai demokrasi dikomunikasikan sebagai pesan dakwah melalui mata pelajaran al-Muṭāla‘ah dengan rujukan kitab Al-Qirā’ah al-Rasyīdah di Pondok Pesantren Daar El Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang, Banten. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan metode analisis isi, penelitian ini menelaah cerita-cerita terpilih yang diajarkan kepada santri kelas II hingga VI. Analisis difokuskan pada bentuk komunikasi naratif, pesan dakwah, serta nilai-nilai demokrasi yang dikandungnya, seperti kejujuran, keadilan, toleransi, kebebasan, kebersamaan, dan partisipasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran al-Muṭāla‘ah berfungsi sebagai media dakwah tekstual yang efektif dalam menginternalisasikan etika sosial demokratis secara persuasif dan nonkonfrontatif. Pesantren, melalui kurikulum dan praktik pendidikannya, berperan sebagai aktor strategis dalam transmisi nilai-nilai demokrasi yang berakar pada prinsip-prinsip Islam. Temuan ini menegaskan bahwa pesantren dan demokrasi bukanlah dua entitas yang saling bertentangan, melainkan saling bersinergi melalui proses komunikasi nilai berbasis dakwah.  

Page 11 of 11 | Total Record : 105