Articles
21 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 26 No. 25 (2016)"
:
21 Documents
clear
Dosa Dan Pembebasan Dalam Sorotan Filsafat Agama
Sermada Kelen Donatus
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tema hari studi tahun 2016 berhubungan dengan bulla Paus Fransiskus “Misericordiae Vultus” (Wajah Belaskasih) dan pencanangan Paus Fransiskus tahun 2016 sebagai tahun kerahiman ilahi. Seruan Paus ini ditujukan kepada umat Katolik sejagad untuk berorientasi pada Allah yang maha rahim sebagai sumber moral penghayatan hidup manusia kristiani. Karena Allah itu berbelaskasih dan maha rahim terhadap manusia lewat etika Yesus Kristus yang berbelaskasih, maka tindakan manusia kristiani dibangun di atas pemikiran teologis itu. Tetapi nomor 23 dari bula Paus Fransiskus itu berisikan perjumpaan sifat belaskasih kristiani secara khusus dengan sifat belaskasih yang ditemukan dalam tradisi agama monotheistis (Yudaisme dan Islam) dan ditemukan juga di dalam tradisi religius lain yang berharga. Filsafat agama mencoba merefleksikan dasar moral universal yang bisa digali dari tradisi agama-agama timur seperti Hinduisme, Buddhisme dan Konfusianisme. Ulasan di bawah ini bersifat filosofis, dan sifat belaskasih direfleksikan sebagai pembebasan, sementara kelemahan dan kekurangan manusia direfleksikan sebagai dosa dalam terang filsafat agama. Bagian terakhir artikel berbicara tentang nilai religius kerahiman ilahi dalam persaingannya dengan etika modern.
Trilogi Gerak Belas Kasih: Dosa, Pertobatan Dan Pengampunan (Sebuah Penelitian Fenomenologis Atas Karya Belas Kasih Romo Paul Jansen, Cm)
Pius Pandor
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Fenomenologi adalah sebuah cara mendekati realitas yang pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh Edmund Husserl. Orientasi dasarnya adalah menjadikan fenomenologi sebagai ilmu tentang kesadaran (science of consciousness). Seturut orientasi dasarnya ini fenomenologi merupakan sebuah cara untuk memahami realitas sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama. Dalam tataran ini, fenomenologi terkait dengan pengalaman subjektif manusia atas sesuatu. Dengan demikian, fenomenologi merupakan sebuah cara untuk memahami kesadaran yang dialami seseorang atas dunianya melalui sudut pandangnya sendiri atau dari sudut pandang orang pertama. Namun fenomenologi juga tidak mau terjatuh pada deskripsi perasaan semata karena yang ingin dicapainya adalah pemahaman akan pengalaman konseptual yang melampaui pengalaman inderawi itu sendiri. Pemahaman akan pengalaman tersebut mengantar kita untuk masuk dalam salah satu gagasan kunci dalam fenomenologi yaitu terkait makna (mean- ing). Setiap pengalaman manusia selalu memiliki makna. Manusia selalu memaknai pengalamannya akan dunia. Inilah yang membuat kesadarannya akan pengalaman yang unik atau khas. Dalam proses memaknai sesuatu, orang bersentuhan dengan dunia sebagai sesuatu yang teratur dan dapat dipahami. Dalam tataran ini, dunia dalam kajian fenomenologis merupakan sebuah kombinasi antara realitas yang dialami (dunia objektif) dengan proses orang memaknai realitas tersebut (dunia subjektif).
Mazmur 130: Mazmur Pertobatan Yang Ke-6
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini berbicara tentang doa permohonan ampun dari Mzm 130. Teologi tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga kepada Tuhan. Itulah teologi yang sejati dan kitab Mazmur adalah salah satu buku Kitab Suci yang memiliki ciri semacam itu secara kuat. Dia tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga kepada Tuhan. Mazmur digunakan oleh Gereja setiap hari dalam ibadatnya. Gereja yang dalam liturginya mendidik anak-anaknya untuk berdoa menghitung 7 mazmur pertobatan yakni Mzm 6;32;38;51;102;130 dan 143.1 Dari ketujuh mazmur pertobatan ini, yang paling banyak digunakan Gereja ialah Mzm Mazmur ini digunakan oleh Gereja dalam ibadatnya setiap hari Jumat bila tidak ada pesta dalam Ibadat Akan tetapi, Mzm 130 juga menjadi cukup dikenal karena sudah sejak zaman dahulu biasanya didoakan pada salah satu peristiwa yang paling menyentuh hidup manusia yakni pada waktu merayakan kematian atau berdoa untuk arwah. Mengapa digunakan untuk arwah? Di samping untuk arwah Mzm 130 juga digunakan Gereja pada kesempatan yang bertolak belakang dengan kematian yaitu kelahiran, pada Ibadat Sore selama oktaf Natal. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?
Tulisan ini berbicara tentang doa permohonan ampun dari Mzm 130. Teologi tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga kepada Tuhan. Itulah teologi yang sejati dan kitab Mazmur adalah salah satu buku Kitab Suci yang memiliki ciri semacam itu secara kua
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
PENGAMPUNAN termasuk salah satu tema yang berat. Berat karena kita hidup dalam dunia yang sulit mengampuni. Kita sendiri mungkin sulit mengampuni kesalahan sesama kita. Sulitnya mengampuni merupakan pengalaman banyak orang dan kiranya tidak perlu diberikan data-datanya di sini. Ada pengalaman-pengalaman yang amat memedihkan seperti pengkhianatan dalam cinta dan persahabatan, kebencian dan kekerasan, pemerkosaan, penghinaan dan masih banyak lagi. Semuanya itu bisa membawa dampak yang luar biasa pada jiwa manusia. Bagaimana saya bisa mengampuni orang yang telah melakukan hal itu terhadap saya atau terhadap orang-orang yang paling saya cintai? Kitab Suci sendiri telah memberi kesaksian tentang hal sulitnya mengampuni itu. Ada dua teks dalam Perjanjian Baru yang memberi kesaksian tentang hal ini. Keduanya terdapat dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Yang pertama, dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak tahu mengampuni (Mat 18:20-35) dan kedua, dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Tujuan tulisan ini ialah merenungkan kedua perumpamaan ini dan mendalami artinya bagi Gereja dewasa ini.
Mazmur Dan Kesembuhan Rohani Dan Jasmani
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penderitaan manusia itu banyak dan beraneka ragam. Ada derita kehilangan orang-orang yang paling kita cintai, kebencian, tidak dipahami, kesulitan untuk mengampuni dan masih banyak lagi. Pertanyaannya ialah dapatkah derita-derita ini disembuhkan? Dapatkah kesulitan untuk mengampuni itu disembuhkan? Saya sebutkan secara khusus di sini hal “kesulitan untuk mengampuni” berhubungan dengan tema hari studi kita. Jawaban yang diberikan di sini ialah bahwa semua derita itu bisa disembuhkan lewat doa. Jawaban ini adalah jawaban iman. Dalam tulisan ini kita mau melihat secara khusus soal pengampunan. Mengampuni itu sulit dan tidak jarang amat sulit sampai sepertinya tidak mungkin. Luka yang diderita begitu dalam sampai menimbulkan beraneka ragam penderitaan yang tak terbayangkan. Penyembuhan men- jadi suatu perjuangan yang amat melelahkan. Pengampunan itu suatu derita dan perlu penyembuhan. Proses penyembuhannya bisa makan waktu.
Penyembuhan Luka Batin Melalui Pengampunan Belajar Dari Pengalaman Yusuf Dan St. Maria Goretti
Didik Bagiyowinadi
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tubuh yang terluka bisa dibersihkan, diobati, dan dibalut (Luk 10:34) agar segera pulih dan sembuh. Tahapan proses pemulihannya bisa dicek dan diukur. Bagaimana bila yang terluka itu batin atau hati kita, adakah obatnya, bagaimana proses penyembuhannya? Bahkan kadang yang membuat hati kita terluka, tidak menyadari hal itu. Ironisnya, terkadang mereka itu justru orang-orang terdekat, yang sering kita jumpai, bahkan yang paling dekat di hati kita. Bagaimana kita perlu mengolah dan menyembuhkan batin kita agar kita tidak menjadi lumpuh dan trauma dari pengalaman pahit di masa lalu? Tulisan ini bermaksud menyajikan proses pengalaman mengampuni sesama yang bersalah kepada kita sebagai terapi penyembuhan luka batin. Di sini kita akan belajar dari pergumulan Yusuf mengampuni kakak- kakaknya, perintah dan teladan Yesus mengampuni musuh, dan kata-kata pengampunan St. Maria Goretti terhadap Alessandro Serenelli yang telah melukai dan membunuhnya. Diharapkan tulisan ini memberi inspirasi dan dorongan bagi kita untuk berani mengampuni sesama sebagai proses penyembuhan luka-luka batin yang kita alami.
Allah Tritunggal Yang Mahakasih Dan Maharahim: Sumber Kehidupan Manusia
Kristoforus Bala
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kehidupan manusia, baik sebagai individu atau pun masyarakat, erat berkaitan dengan image, gambaran, pemahaman atau pengenalan tentang Allah. Ajaran moral-religius, nilai-nilai atau kebajikan-kebajikan sebuah agama sangat dipengaruhi oleh pemahaman, gambaran atau im- age tentang Allah yang dimani. Penganut-penganut agama mendasarkan dan mengarahkan hidup mereka pada sabda atau titah Allah yang disampaikan melalui para nabi dan yang ditulis dalam Kitab Suci. Sebagai contoh saya mengutip teks dari nabi Hosea dan Yesus. “Sebab Aku menyukai kasih setia dan bukan korban sembelihan dan menyukai pengenalan akan Allah lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hos 6:6).”Hendaklah kamu murah hati [berbelaskasih] sama seperti Bapamu adalah murah hati [berbelaskasih]” (Luk 6:6). Dua kutipan di atas ini, satu dari nabi Hosea dan yang lain dari ucapan Yesus, menunjukkan bahwa image, pengenalan, pengetahuan kita tentang Allah merupakan sumber inspirasi dan dasar bagi kehidupan dan perilaku manusia. Melalui Hosea, Allah mahakasih mengajar dan meminta umatNya supaya mereka menjadi pribadi yang berbelaskasih sama seperti Allah sendiri berbelaskasih. Yesus juga mengajarkan umatNya supaya meneladani sifat dan perbuatan Allah yang berbelaskasih. Allah yang mahakasih dan maharahim adalah sumber tertinggi ajaran moral-religius dan perbuatan belaskasihNya menjadi model otentik bagi sifat, perbuatan moral manusia dalam kehidupan sosial-masyarakat. Singkatnya, Allah yang mahakasih dan maharahim adalah sumber hidup manusia.
Kerahiman Allah Dalam Doktrin Maria Dikandung Tanpa Noda
Gregorius Pasi
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pada 8 Desember 2015, Paus Fransiskus membuka Porta Santa (Pintu Kudus) di Basilika Santo Petrus untuk menandakan pembukaan Tahun Yubileum Kerahiman. Bulla Misericordiae Vultus mendedahkan dua alasan mengapa Paus Fransiskus memilih 8 Desember. Pertama, 8 Desember 2015 merupakan peringatan lima puluh tahun penutupan Konsili Ekumenis Vatikan II dan Paus Fransiskus menempatkan Tahun Yubileum Kerahiman dalam kerangka semangat Konsili Vatikan II.1 Kedua, 8 Desember merupakan hari raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda dan Paus Fransiskus melihat peristiwa marial tersebut sebagai karya kerahiman Allah dalam menanggapi gentingnya dosa manusia.2
Allah Yang Al Rahman Dan Al Rahim
Peter Bruno Sarbini
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sekelompok orang Yahudi pernah mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, “Laknat dan kematian bagimu, wahai Muhammad”. Siti Aisyah, istri Rasulullah SAW menjawab salam tersebut secara emosional dan berisi kecaman, “Laknat dan kematian bagi kamu semua”. Nabi Muhammad kemudian menegur istri tercinta, “Pelan-pelan wahai Aisyah, hendaknya kamu bersikap lemah-lembut dalam menanggapi masalah”. Dalam hadis lain dinyatakan bahwa Nabi Muhammad berpesan, “Hindarilah kekerasan dan perbuatan kasar”. Rasulullah SAW menjawab salam orang- orang Yahudi tadi dengan ucapan salam perdamaian. Peristiwa di atas menunjukkan kasih sayang, kesabaran dan keteladanan Nabi Muhammad, utamanya kepada para pengikutnya serta umat-umat agama lain pada umumnya. Teladan luhur ini sebenarnya bersumber dari Allah SWT yang dimanifestasikan dari sifatNya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Untuk itu Rasulullah SAW pernah bersabda, “Mereka yang menebarkan kasih-sayang, niscaya dikasihi Yang Maha Kasih. Kasihilah mereka yang hidup di bumi, niscaya Tuhan yang berada di langit mengasihi kalian” (HR. Tirmidzi).
Pengampunan Martiologi Awali
Edison R.L. Tinambunan
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini bukan bermaksud untuk memberikan pembahasan kemartiran secara umum, karena telah ada tulisan sebelumnya mengenai hal tersebut,1 melainkan untuk membahas aspek pengampunan dari peristiwa yang selalu dialami oleh Kristiani tersebut. Apalagi tema Seminar Nasional tahun ini adalah pengampunan, kemartiran yang tidak bisa dipisahkan dari tema tersebut, menjadi perlu untuk dikembangkan dalam penelitian. Ruang lingkup penelitian adalah kemartiran Gereja purba, karena Ia mengalami perjalanan yang khusus pada periode tersebut yang melihat aspek kematian Yesus Kristus sebagai martir. Rangkaian peristiwa yang dialami Kristiani dalam kurun waktu kurang lebih tiga abad pertama, memberikan kekhasan tersendiri akan perjalanan hidup Gereja. Menjadi martir praktis dialami oleh seluruh Kristiani pada periode itu, terlebih-lebih beberapa orang yang dianggap sebagai panutan dalam peristiwa tersebut. Mereka ini memberikan nilai hidup Kristiani yang bermutu, baik itu dari segi teologis maupun praktis yang tampak dalam keseharian.