cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol. 29 No. 28 (2019)" : 20 Documents clear
Immortalitas/Umur Panjang: Antara rencana manusia dan allah Gregorius Tri Wardoyo
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia, sampai saat ini, tercatat sebagai makhluk yang paling maju dibanding dengan makhluk-makhluk ciptaan lain. Kitab Kejadian memberikan bukti bahwa manusia merupakan mahkota dari kisah penciptaan yang dilakukan oleh Allah. Sejak awal mula, manusia dengan segala kebebasannya mudah jatuh dalam iming-imingan, sebagai contoh tawaran untuk menjadi seperti Allah. Sekali lagi, Kitab Kejadian, terutama Kej. 3:4-5, menyediakan bagi kita buktinya. Siapa kiranya manusia, termasuk kita, yang tidak tergiur oleh tawaran semacam itu? Fenomena ini jamak kita jumpai di zaman kita juga. Banyak produk, termasuk teologi, yang menawarkan kesehatan, umur panjang, kemakmuran, dll.
Soal eksistensial makna hidup, Titik-Temu Soal“Siapakah Manusia, Siapakah allah” Petrus Go Twan An
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertanyaan “Siapakah manusia, siapakah Allah itu” dapat dilihat lebih eksistensial dalam riwayat hidup beberapa tokoh, a.l.Edith Stein yang setelah pergumulannya memilih jalan tertentu. Soal ini bukanlah masalah satu dua tokoh, melainkan merupakan soal semua orang, umat manusia pada umumnya. Soal ini tak melulu teoretis, melainkan sudah ribuan tahun dibahas secara akademis dan lebih eksplisit dalam filsafat dan teologi, dan lebih implisit dalam aneka ilmu, sehingga bersifat interdisipliner. Tiada maksud hanya mengulangi pelbagai jawaban itu, melainkan lebih memusatkan perhatian pada sifat eksistensialnya. Selayang pandang nampaknya dua soal ini hanya berbeda dan masing- masing harus dibahas tersendiri, agar ciri khasya lebih tampak dan menjadi lebih mendalam serta lebih jelas; tetapi terutama dari sudut eksistensial, kedua soal itu juga dapat dilihat dalam kaitan timbal-baliknya, sejauh menyangkut relasi yang memang mengandaikan substansi subsisten, tetapi juga masih dapat “dilengkapi & diperkaya” oleh suatu substansi lain. Hasil penelitian kedua soal itu tak diabaikan, melainkan justru diandaikan sejauh bukan hanya teori, apalagi hanya hipotesa, melainkan sudah dianggap sebagai ajaran tradisional Gereja dan dirumuskan dalam katekismus: misalnya Katekismus Gereja Katolik (KGK) edisi final 1997, yang demi penghematan (tulisan ini jangan terlalu panjang) tak selalu dikutip, melainkan hanya ditunjuk Dalam tulisan ini fokus diarahkan pada segi eksistensial yang terutama mengacu pada relasi antara keduanya. maka kaitannya lebih diperhatikan, meskipun biasanya merupakan dua soal.
“Manusia” Dalam Perspektif Pengalaman Hidupkristianitasabad Ii-Iv Antonius Denny Firmanto
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerakan kerohanian merupakan salah satu warna dari kehidupan agama. Salah satu ekspresi keagamaan yang paling menarik perhatian or- ang adalah tema “beragama secara radikal”. Secara semantik, kata “radikal” berasal dari kata radix (bhs. Latin) yang berarti “akar”. Sesuai dengan konteks keagamaannya, sikap radikal adalah sikap penghayatan dan pengamalan hidup keagamaan secara berakar atau secara mendasar. Berkenaan dengan hal tersebut, Galen (2011:11) berpendapat bahwa sejarah agama-agama memperlihatkan bahwa setiap agama dari dirinya sendiri memiliki tendensi seperti itu. Tradisi keagamaan Kristiani pernah memiliki pengalaman dengan orang-orang yang seperti itu pada Abad II-IV. Mereka adalah orang-orang yang disebut en theos (bhs. Yunani, artinya: dalam Tuhan; turunan kata tersebut dalam bhs. Indonesia adalah entusias/antusias). Mereka yakin bahwa mereka memiliki Tuhan dalam diri mereka karena hidup yang berakar dalam hidupnya Tuhan. Ada yang terus berlanjut dalam bentuk yang dibarui; namun, ada pula yang tidak dapat diteruskan atau menghilang karena kurang selaras dengan visi hidup Kristiani. Penelitikan ini menggunakan metodologi inkuiri historis dengan menggunakan pustaka yang relevan, sahih, dan valid. Locus dari penelitian ini adalah persepsi mengenai hidup keagamaan dimana hidup Kristianitas pada Abad II-IV menjadi konteksnya. Fokus dari penelitian ini adalah gerakan radikal Kristiani yang diwakili oleh Montanisme, Asketisme, dan Donatisme. Apa yang menjadi penyebab kemunculannya? Apa persamaan dan perbedaan dari ketiganya? Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan gagasan antropologis yang menjadi penyebab munculnya gerakan kerohanian tersebut. Uraian dalam tulisan ini adalah sebagai berikut: (1) pemaparan latar belakang atau konteks dari setiap gerakan, apa yang terjadi dan siapa tokohnya, lalu gagasan yang ada atau yang diperjuangkan oleh pencetus tindakan radikal dari tiap-tiap gerakan, (2) pemaparan perbedaan dan persamaan dari ketiganya, (3) pemaparan kekhasan gerakan radikal dalam Kristianitas pada Abad II-IV, dan (4) tanggapan dari Kristianitas main- stream yang diwakili oleh Clement dari Alexandria (150-215), Agustinus dari Hippo (354-430), dan Vincentius dari Lérins († 450).
Cur Homo Deus? Tantangan Beriman Kepadaallah Di Revolusi Industri Era 4.0 Kristoforus Bala
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seperti terbangun dari mimpi buruk, kita disadarkan oleh para pakar ekonomi dan ilmu-ilmu sosial bahwa sekarang kita semua sedang memasuki era Revolusi Industri 4.0. Seperti dikejar-kejar oleh bayangan-bayangan yang menakutkan, kita diingatkan tentang dampak-dampak negatif dari revolusi industri keempat. Memang pasti ada dampak-dampak positif dari revolusi industri 4.0, tetapi hendaknya kita tidak mengabaikan dampak- dampak negatifnya terhadap kehidupan manusia. Kurang lebih ada dua kelompok manusia yang bereaksi terhadap revolusi industri itu: ada yang menyambutnya dengan semangat optimis, tetapi juga ada yang bersikap pesimis. Apa pun reaksinya, hempasan tsunami revolusi industri 4.0 terus menerpa dan efek-efeknnya sudah mulai dirasakan oleh umat manusia apa pun latarbelakangnya, entah dia seorang agnostik dan atheis, fundamentalis, moderat atau liberal. Daya hanyut tsunami revolusi industri semakin menakutkan dan membuat kita semua bertanya tentang bagaimana cara menghadapi dan memaknainya.
Pergulatan Batin Manusia Di Era Revolusi Industri Keempat (4ir) Gregorius Pasi
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi tidak bisa terlepas dari manusia. Teknologi dikembangkan dan digunakan oleh manusia. Pada teknologi manusia mengungkapkan kemanusiaannya. Karena itu, pada teknologi, manusia dapat mengenali siapa dirinya. Asal dan alasan bagi munculnya sebuah teknologi (aspek objektif dari teknologi) ditemukan dalam diri manusia yang mengembangkan dan menggunakannya (aspek subjektif dari teknologi). Itulah sebabnya, menurut Paus Benediktus XVI, teknologi tidak pernah hanyalah sekadar teknologi (ada dari dan demi teknologi itu sendiri). Teknologi selalu mengungkapkan siapa manusia dan apa yang hendak digapainya dalam hidup. Teknologi mengekspresikan pergulatan batin manusia.
Imago Dei Dan Masa Depan Kita Raymundus I Made Sudhiarsa
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di dalam komunitas umat beriman Kristiani, kita biasa mengatakan bahwa manusia itu adalah “gambar Allah”. Dengan mengatakan demikian, tidak berarti bahwa semuanya jelas dan final. Sebutan bahwa manusia itu “gambar Allah” (Latin: imago Dei), bagi umat Kristiani sesungguhnya mengungkapkan keluhuran jati diri manusia. Dalam kitab Kejadian (1:26- 27; 5:1; 9:6), dipakai dua pilihan kata untuk tujuan yang sama, yakni gambar (Latin: imago) dan rupa (Latin: similitudo). Pertanyaannya: “Apakah pilihan diksi seperti ini hendak mengungkapkan sebuah realitas ‘demikian adanya’ ataukah suatu imajinasi atau kondisi ideal yang harus dicapai? Apakah ada konsekuensi moral-etis atau sosio-religius dari pernyataan iman ini? Apakah ini sebuah theosis ataukah anthroposis?”
Revolusi Industri 4.0 Dan Dampaknyabagi Kehidupan Keluarga I Ketut Gegel
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Globalisasi telah memasuki era baru yang bernama Revolusi Industri 4.0. Klaus Shwab, 2016). Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revo- lution.
Quo Vadis Imam – Imamat Revolusi Industri 4.0 Edison R.L. Tinambunan
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bukan membahas alasan kronologis keberadaan periode Revolusi Industri 4.0 yang saat ini banyak dibicarakan dan berpengaruh di dalam masyarakat, melainkan suatu refleksi yang didasarkan pada dokumen- dokumen gerejani mengenai imam - imamat mulai dari Konsili Vatikan II sampai dengan saat ini. Sadar atau tidak, imbas Revolusi Industri 4.0 banyak memengarui pemikiran, pola hidup, kerja dan sikap masyarakat, yang berdampak pada kondisi sosial budaya dan ekonomi. Dengan sendirinya juga berdampak pada imam - imamat saat ini.
Reksa Pastoral Gereja Di Era Revolusi Industri 4.0 (Tinjauan Hukum Gereja) Alphonsus Tjatur Raharso Tjatur Raharso
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gereja didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus di bawah penggembalaan para pengganti Petrus dan para Rasul. Kristus mengutus Gereja ke dunia untuk menyejarah di sana, namun sekaligus menggarami dan menerangi sejarah manusia dan dunia dengan warta Injil, untuk mengarahkan dan mengantar dunia kepada perwujudan kerajaan Allah. Karena didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus yang telah berinkarnasi namun bangkit mulia, dan terus dijiwai oleh kehadiran-Nya sebagai Kepala bagi Tubuh, Gereja memiliki sekaligus dimensi ilahi dan manusiawi, dimensi kharismatis dan institusional sekaligus. Dalam dimensi manusiawi dan duniawinya Gereja tentu dipengaruhi oleh perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Omnia mutantur, nos et mutamur in illis. Segala sesuatu berubah, dan kita pun berubah di dalamnya. Namun, dimensi ilahi, spiritual, dan kharismatis Gereja lantaran dikepalai dan dipimpin oleh Gembala Agung yang mulia dan tak- kelihatan, mengharuskan Gereja untuk selalu melihat tanda-tanda zaman, menafsirkan dan memberikan penilaian atasnya dalam terang Injil dan ajaran iman kristiani, agar arah dan tujuan perkembangan dunia selaras dengan tujuan akhir hidup manusia, yakni keselamatan kekal dalam Kristus.
The Fourth Industrial Revolution: Quo Vadis Agama Dengan Tuhannya? Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat kontemporer di negara-negara industri maju dan kalangan menengah ke atas serta kaum cerdik pandai di banyak negara sedang memperbincangkan dengan serius dan seru sebuah tema fundamental dan decisif bagi manusia dan alam lingkungan, yaitu “revolusi industri keempat” atau revolusi industri era 4.0. Tema ini mencuat ke ranah publik dan menjadi bahan perbincangan hangat berkat buku The Fourth Industrial Revolu- tion yang ditulis oleh Klaus Schwab, Pendiri dan Pemimpin Utama Forum Ekonomi Dunia (Founder and Executive Chairman of the World Eco- nomic Forum), yang mengorganisasikan pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia itu di kota Davos, Swiss. Terhadap Revolusi Industri 4.0 ini negeri Jepang, misalkan saja, sudah memberi satu tanggapan dengan meluncurkan Society 5.0 atau Super-smart Society.2 Tujuannya ialah “menciptakan sebuah masyarakat Klaus Schwab, The Fourth Industrial Revolution (New York: Crown Business, 2017). yang mampu memecahkan beragam tantangan sosial dengan memadukan inovasi dari revolusi industri 4.0 (seperti IoT, big data, intelligensi artifisial (AI), robot dan economi yang merata) ke dalam setiap kehidupan industri dan sosial... menjadikan hidup manusia lebih serasi dan berkelanjutan.3 In- donesia sebagai negara yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa memberikan tanggapan apa?

Page 2 of 2 | Total Record : 20