cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 34 No. 33 (2024)" : 15 Documents clear
Menyusuri Jalan Keluar Dari Kecenderungan Bunuh Diri Orang Muda Arianto, Josep; Mariano, Andreas; ., Jepli; ., Patris Hasan; ., Yustinus
Seri Filsafat Teologi Vol. 34 No. 33 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v34i33.247

Abstract

Bunuh diri kerap kali menjadi jalan keluar yang dipilih oleh sebagian orang. Situasi sulit itu, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut. Antara faktor tersebut bisa berasal dari keluarga, psikologis dan sosial. Selain itu, budaya menghakimi dan bullying cukup tinggi. Dari pernyataan tersebut, pembahasan terfokus pada eksplorasi penyebab kecenderungan bunuh diri. Temuan dan data kebaruan dari penelitian ini adalah kesadaran akan hidup religius bagi kaum muda yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Oleh karena itu, pertanyaan status yang memandu penelitian ini adalah: Apa saja faktor yang menyebabkan orang muda melakukan bunuh diri? Bagaimana jalan keluar untuk sembuh dari perilaku keinginan bunuh diri? Dengan demikian penelitian ini juga dilengkapi dengan sumber literatur yang mendukung pembahasan.
Mencegah Bunuh Diri dengan Mengembangkan Makna Hidup Menurut Victor Frankl Dwi Madyo Utomo, Kurniawan; Abner Hubertus
Seri Filsafat Teologi Vol. 34 No. 33 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v34i33.248

Abstract

Bunuh diri telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Cukup banyak individu yang memandang kematian karena bunuh diri sebagai solusi yang tepat untuk mengatasi tantangan hidup dan penderitaan. Salah satu pendekatan terapeutik yang digunakan untuk membantu individu yang ingin bunuh diri adalah dengan menemukan makna dalam hidup. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji teori logoterapi dari Viktor Frankl yang bertujuan untuk membantu individu, khususnya yang ingin bunuh diri, untuk menemukan makna hidupnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan studi pustaka. Buku-buku yang ditulis oleh Victor Frankl dikaji secara mendalam dengan menggunakan analisis wacana kritis. Penelitian ini menemukan bahwa manusia pada hakikatnya mencari dan menciptakan makna. Makna hidup itu tidak hanya ditemukan dalam keberhasilan dan kesenangan. Penderitaan yang suram dan hidup tanpa kesenangan sekalipun, bisa menjadi masa-masa bagi manusia untuk menemukan makna hidup. Cara manusia menanggapi penderitaan menunjukkan siapa dirinya dalam mewujudkan hidup yang lebih bermakna.
Mengkonstruksi Makna Hidup Wijanarko, Robertus
Seri Filsafat Teologi Vol. 34 No. 33 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v34i33.249

Abstract

Studi ini hendak mengeksplorasi pandangan Filsafat Eksistensialisme, baik pandangan Teistik maupun non-Teistik tentang hakekat hidup dan makna hidup manusia. Pemikiran Arthur Schopenhauer, Soren Kierkegaard, dan Martin Heidegger akan ditelaah. Mengingat pemikiran tentang makna hidup tidak terpisahkan dari refleksi ontologis tentang hakekat akan yang ada, maka gagasan fundamental akan hakekat realitas yang ada akan diketengahkan pada bagian pertama. Untuk mencapai maksud tersebut penuli menggunakan pendekatan analisis literer sebagai metodologi dalam menggali pemikiran para Filosof, dan memakai perspektif analisis kritis untuk menelaah gagasan-gagasan tersebut. Temuan studi ini adalah, dengan dasar dan perspektif yang berbeda, baik pandangan teistik maupun non-teistik berpendapat bahwa hidup itu bermakna, dan layak untuk dirawat dan dipertahankan
Soteriologi Antropologis: Menanggapi Tantangan Fenomena Bunuh Diri I Made Sudhiarsa, Raymundus
Seri Filsafat Teologi Vol. 34 No. 33 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v34i33.250

Abstract

Bunuh diri ditengarai sebagai fenomena sosial yang semakin mengkhawatirkan baik secara mondial maupun nasional. Jumlahnya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Banyak Lembaga, baik sekuler maupun religius, baik akademis maupun praktis, telah berupaya merespon dengan penuh minat. Dengan menggunakan data sekunder, baik dalam format cetak maupun elektronik, tulisan ini ingin menelaah masalah kemanusiaan ini dari perspektif teologi, khususnya soteriologi antropologis. Penulis ingin mengajak pembaca untuk bekerja sama menanggapi fenomena ini dari kacamata iman. Pertama, hidup ini harus disyukuri sebagai anugerah Allah. Itulah yang kita sebut ars vivendi, seni hidup beriman, yang bukan hanya sekedar modus vivendi. Lalu, hidup ini perlu diterima sebagai tanggungjawab sosial, yakni mandat Ilahi untuk membangun masyarakat yang saling menolong dan saling mengasihi. Juga, penulis ingin memberi semangat kepada keluarga-keluarga yang anggotanya pernah melakukan bunuh diri dan para penyintas lainnya untuk menghayati hidup ini dengan penuh syukur. Hidup yang dihayati dengan tanggungjawab iman adalah suatu bentuk perayaan keselamatan itu sendiri. Setiap orang yang menghayati hidupnya dalam ketaatan kepada Tuhan, sebagai ars vivendi, akan selalu siap menyerahkan kembali hidupnya dengan sukacita kepada Tuhan. Itulah ars moriendi, meninggal dengan baik.
Tertawa sebagai anugerah: Memaknai Hidup Personal dan Mewujudkan Gereja yang Gembira Iswandir, Lorentius
Seri Filsafat Teologi Vol. 34 No. 33 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v34i33.251

Abstract

Ada ungkapan: Dunia saat ini tidak baik-baik saja. Perang dan bencana massal ataupun persoalan dan pergulatan hidup personal membawa dampak bagi manusia ke dalam masa yang suram, penuh derita dan kecemasan. Untuk membantu manusia dalam menghadapi situasi ini, Gereja dipanggil seturut perutusannya, untuk mewartakan kabar gembira, Injil (euangelion [yun.]). Pertanyaannya ialah bagaimana Gereja bisa mewujudkan panggilan dan perutusannya dengan menghadirkan wajah yang gembira dan berpengharapan. Tulisan tentang tertawa sebagai anugerah bertujuan untuk memberi paradigma dan kesadaran kembali akan panggilan dan perutusan Gereja. Penulis menggunakan metode kualitatif dari studi Pustaka dengan gabungan metode fenomenologis dan teologi sistematis. Diawali dengan mengambil contoh fenomen pengalaman hidup personal dan dilanjutkan dengan melihat makna tertawa dalam Kitab Suci dan Tradisi dalam hubungannya dengan hakikat perutusan Gereja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tertawa, senyum dan humor dimungkinkan untuk menjadi tampilan wajah Gereja dalam mewujudkan perutusannya sebagai pewarta kabar gembira

Page 2 of 2 | Total Record : 15