cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 287 Documents
Mewartakan Injil Dengan Gembira Dan Berbelas Kasih Belajar Dari Gereja Para Rasul Didik Bagiyowinadi
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam anjuran apostolik Evangelii Gaudium Paus Fransiskus mendorong Gereja agar lebih berani dan berkomitmen untuk keluar menjumpai yang menjauh dan menyambut yang tersingkir (EG 14). Beliau tegaskan “Saya lebih menyukai Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena keluar di jalan-jalan daripada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri” (EG 49). Maka Gereja diajak sungguh-sungguh membagikan kabar gembira Injil dengan penuh sukacita. Sementara dalam bula Misericordiae Vultus untuk menyambut Tahun Yubileum Kerahiman sebagai kenangan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II yang akan dimulai pada Hari Raya Maria Immakulata, 8 Desember 2015, Paus Fransiskus menekankan sifat belas kasih Allah yang terpancar dalam diri Yesus. Maka para pengikut Kristus pun diundang untuk menjadi saksi belas kasih Allah, “Hendaklah kamu berbelas kasih (oiktirmones), sama seperti Bapamu adalah berbelas kasih (oiktirmôn)” (Luk 6:36). Sebagai- mana orang Samaria yang tergerak hati oleh belas kasihan (splagkhnizomai, Luk 10:33),1 kita diajak untuk menyembuhkan mereka yang terluka dengan siraman minyak penghiburan, membalutnya dengan belas kasih dan mengobatinya dengan solidaritas dan merawatnya dengan penuh kesiagaan. Selama tahun Kerahiman ini kita diajak untuk merefleksikan dan mengembangkan karya-karya belas kasih yang membantu kebutuhan sesama baik dalam bidang jasmani maupun rohani.
Israel Bercerita Tentang Masa Lampaunya Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tema hari studi ini ialah tentang Gereja Katolik Indonesia, masa lalu, sekarang dan masa depan. Kita mau menengok ke masa lampau, merenungkan yang sekarang ini dan mau menatap ke depan. Tiga dimensi waktu ini merupakan hal yang tidak terpisahkan satu sama lain dan memang demikian. Hidup manusia itu punya masa lalu sebagai akarnya, masa sekarang sebagai waktu yang sedang dihayati dan masa depan sebagai arah. Tema ini menarik dan saya mau mendekatinya dari sudut Perjanjian Lama. Perjanjian Lama sendiri mempunyai ciri-ciri seperti itu yakni menengok ke masa lampau, merefleksikan kehidupan yang sekarang ini dan menatap ke masa depan. Itulah pembagian pokok dari Perjanjian Lama yang terdiri atas Pentateukh dan Kitab-Kitab Sejarah (lampau), Kitab-kitab Kebijaksanaan dan Nyanyian (sekarang) dan Kitab-kitab Para Nabi (masa depan). Perjanjian Lama adalah bagian yang hakiki dari Kitab Suci kita. Teologi tentang Gereja Katolik Indonesia (lampau, sekarang dan masa depan) tidak dapat mengabaikan Perjanjian Lama sebagai sumber ilhamnya, karena Perjanjian Lama selalu digunakan Gereja dalam Liturginya. Perjanjian Lama harus menjadi jiwa dari teologi. Persoalannya ialah apakah Perjanjian Lama dapat menolong kita untuk merefleksikan tema ini dan melihatnya dengan lebih jelas? Bagaimana kita harus kembali ke masa lalu Gereja Katolik Indonesia sebagai orang beriman? Apakah Perjanjian Lama dapat menjadi ilham bagi kita untuk berteologi? Menurut 2 Tim 3:16, “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”. Marilah sekarang kita melihat apa yang dilihat Israel dari masa lalunya, mengapa dan bagaimana dia melihatnya.
Berdoa Bagi Gereja Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di mana tempat doa dalam pembangunan Gereja masa depan yang gembira dan berbelaskasihan? Apa yang dapat dilakukan doa? Apakah berdoa bagi Gereja itu penting? Menurut hemat saya bukan saja penting, melainkan amat mendasar. Hal ini sudah menjadi keyakinan para nabi Perjanjian Lama dalam doa mereka bagi keselamatan Israel dan selalu diteruskan dalam perjalanan sejarah. Tulisan ini mau menunjukkan hal tersebut. Tanpa doa Gereja masa depan tidak bisa dibangun. Hal ini sudah diyakini oleh para rasul (bdk Kis 6:2-4). Injil selalu menekankan hal yang kelihatannya tidak berarti, yang kecil dalam pandangan manusia. Doa termasuk salah satunya. Untuk itu kita perlu mendalami persoalan ini.
Gereja Dalam Pusaran Ideologi Global: Sebuah Diagnosis Dan Prognosis Seturut Evangelii Gaudium Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi massa menafikan kebudayaan dan pengetahuan. Tidak ada persoalan tentang realitas simbolis atau proses didaktif yang berperanserta, karena hal itu akan mengkompromikan partisipasi kolektif yang menjadi makna perayaan, suatu partisipasi yang bisa dijalani melalui sebuah liturgi semata, kode resmi tanda-tanda yang secara teliti telah mengosongkan muatan makna.1
Menghadirkan Wajah Gereja Berparas Kemanusiaan: Potret Gereja Menjadi Pius Pandor
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehadiran agama (Gereja Katolik) memainkan salah satu peran kunci untuk ikut merasa dan terlibat dalam “duka dan kecemasan, harapan dan kegembiraan” dunia dan masyarakat. Namun kehadirannya berwajah ganda seperti wajah dewa Janus dari mitologi Romawi kuno yang darinyalah kata Januari berasal. “Satu sisi melihat ke masa depan, siap menyongsong yang tak terduga dan yang sedang datang tetapi di sisi lain memandang ke belakang yaitu ke masa lalu, seakan tak mau meninggalkan yang silam.”2 Persis seperti bulan Januari kita sadar bahwa hari-hari baru sudah tiba, tapi kenangan pada yang silam tetap enggan beranjak. Seperti dewa Janus itu pula wajah gereja dalam dunia dan masyarakat dewasa ini. Pada satu sisi dalam gambaran ideal, Gereja menampilkan sinar pembebasannya, karena ia merupakan tempat di mana orang menemukan kedamaian, kedalaman hidup, harapan yang kokoh, dan kehidupan yang dipenuhi semangat kasih dan kerendahan hati. Namun di sisi lain, dalam wajah aktualnya, struktur dan regulasi Gereja, seringkali dipakai untuk melakukan diskriminasi, sarang korupsi, dan dijadikan sebagai justifikasi untuk melanggengkan status quo. Kita sendiri menyaksikan dan sejarah mencatat betapa besar andil agama (Gereja Katolik) dalam membakar kebencian, menimbulkan skandal, meniupkan kecurigaan, membangkitkan salah pengertian dan mengundang konflik.
Memahami Medan Pelayanan Gereja Indonesia Dewasa Ini (Tantangan Menghadirkan Gereja Gembira Dan Berbelaskasih) Robertus Wijanarko
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

etiap zaman mempunyai narasi besarnya sendiri. Narasi besar merupakan wacana-wacana atau fenomena mencolok yang mempunyai pengaruh luas dan mendalam bagi kehidupan manusia, di manapun manusia itu tinggal. Gereja menyebutnya dengan ungkapan “tanda-tanda zaman”. Dokumen seruan Apostolik Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium, dan Bula Misericordiae Vultus juga mempunyai konteks tersendiri dan dimaksudkan untuk memberi wawasan dan semangat baru kepada Gereja untuk meng- hadirkan diri dengan mengindahkan narasi-narasi besar tersebut. Mengingat referensi dokumen Kepausan adalah konteks Gereja Universal, maka wacana-wacana besar yang dirujuk merupakan kondisi masyarakat Global. Untuk konteks Gereja Indonesia, kita masih perlu mengidentifikasi narasi- narasi besar yang mempunyai pengaruh luas dan mendalam terhadap kehidupan kita, karena disanalah kita menemukan wajah dan apa yang dibutuhkan oleh manusia-manusia Indonesia. Namun demikian perlulah kita menyimak terlebih dahulu fenomena zaman yang menjadi perhatian Gereja Universal, yang diidentifikasi dalam Anjuran Apostolik dan Bula Paus Fransiskus, baru kemudian kita mengidentifikasi narasi-narasi besar yang relevan dengan kehidupan bangsa Indonesia. Biarpun, di era Globalisasi dewasa ini, sebenarnya tidak mungkin bagi kita untuk memisahkan keduanya.
Konsili Vatikan Ii: Sebuah Revolusi Sunyi Dan Pengaruhnya Bagi Gereja Katolik Indonesia Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanpa terasa Konsili Vatikan II telah memasuki usia setengah abad. Andaikata seorang manusia, Konsili Vatikan II sedang berada di usia dewasa dan merupakan periode yang produktif kalau disimak dari aspek karya. Konsili Vatikan II merupakan salah satu dari aktivitas Gereja, yang secara esensial dan eksistensial adalah Umat Allah sendiri, persekutuan dari manusia di seluruh dunia yang mengimani Yesus Kristus sebagai Sang Juruselamat. Karena alasan demikian, usia 50 tahun ialah usia Umat Allah sendiri yang telah melakukan pembaharuan diri secara radikal untuk menemukan jatidiri sebagai kaum pilihan yang dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia dengan semangat kasih, persaudaraan dan pengampunan yang tulus. Apakah di usia setengah abad ini Gereja menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, bersukacita, humanis, dialogal, solider, melayani, berbelaskasihan dan mengampuni seperti diamanatkan oleh Konsili Vatikan II?
Membaca Wajah Gereja Katolik Yang Bersukacita Dan Berbelas Kasih Di Indonesia Dewasa Ini Dalam Terang Filsafat Sosial Sermada Kelen Donatus
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tema hari studi STFT tahun 2015 diangkat dari dua dokumen gereja yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus. Kedua dokumen itu adalah seruan apostolis “Evangelii Gaudium” dan bula “Misericordiae Vultus”. Meskipun kedua dokumen ini bukanlah traktat filsafat-teologi, tetapi butir- butir yang termuat di dalam kedua dokumen tersebut bisa diteropong oleh disiplin filsafat-teologi. Penulis meneropong kedua dokumen itu dalam kaca mata filsafat sosial yang membaca dan memahami butir-butir pemikirannya sebagai seruan-seruan etis yang dilandasi oleh nilai-nilai religius kristiani, dalam hal ini nilai-nilai injili. Seruan-seruan etis ini sudah direfleksikan juga oleh pemikir-pemikir besar katolik seperti Agustinus, Thomas Aquinas, para penganut Neo-Thomisme yang ide-ide mereka sejalan dengan filsafat Pancasila, ketika para pemikir itu berbicara tentang realitas sosial-historis masyarakat. Wajah Gereja Katolik Indonesia dewasa ini diteropong dengan pendekatan tersebut.
Wajah Islam Nusantara Bagi Gereja Peter Bruno Sarbini
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejumlah kejadian besar tentang kekerasan dan teror terkait orang atau kelompok Muslim sejak peristiwa 11 September 2001 di AS, pengeboman di Bali (12 Oktober 2002) yang menewaskan banyak warga Australia, disusul Bom Bali II (1 Oktober 2005), pengeboman di Madrid (11 Maret 2004), pengeboman di London (2 Juli 2005) membuat wajah/citra Islam dan kaum Muslim kian memburuk (Republika, 10/9/2015). Kemunculan Boko Haram dan IS (Islamic State) yang menyebabkan eksodus migran dari Timur Tengah ke Eropa dalam beberapa bulan terakhir menambah buruknya citra dan wajah Islam serta kaum Muslim di mata banyak kalangan masyarakat non-Muslim. Kekacauan politik dan kekerasan yang terus berlanjut di Suriah, Irak, Libya, dan banyak wilayah di Timur Tengah turut menjadi faktor meningkatnya gelombang migrasi ke Eropa (Azyumardi Azra: 2015). Berbagai peristiwa dan perkembangan tidak menguntungkan itu memberi kesan kuat bahwa Islam dan kaum Muslim tidak berwajah humanis. Islam tidak lagi dipandang dan dirasakan sebagai pembawa keramahan, tetapi kemarahan. Benarkah Islam dan umat Muslim tidak lagi berwajah serta berhati humanis? Bila hal ini benar, maka Islamofobia sungguh tak terelakkan bagi umat beragama lain. Wajah macam apa yang hendak ditampilkan dari Islam Nusantara yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan bagi Gereja?
Pengadilan Gerejawi Yang Berbelas Kasih Sesudah M.P. Mitis Iudex Dominus Iesus: Cita-Citadan Tantangan Alphonsus Tjatur Raharso Tjatur Raharso
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menjadi Gereja yang berbelas kasih bagi Paus Fransiskus berarti menjadikan orang miskin dan menderita pusat perhatian Gereja, dan Gereja melakukan tindakan belas kasih dan murah hati yang nyata bagi mereka.1 Di antara orang miskin dan menderita yang ada begitu banyak di dalam Gereja dan masyarakat, Paus Fransiskus memperhatikan secara khusus penderitaan tidak sedikit umat Katolik yang ingin mencari kepastian dan kejelasan yang menenteramkan hati nurani mereka, namun sering kali berada jauh dari struktur yuridis Gereja, karena jarak fisik dan moral yang jauh dan menjauhkan mereka. Orang miskin di pinggiran Gereja itu adalah pasangan suami-istri Katolik yang bercerai, di mana perkawinannya terindikasi cacat hukum atau tidak sah pada awal, namun tidak dapat menikmati pelayanan hukum dari pihak Gereja untuk memastikan ketidaksahan perkawinan mereka.2 Karena itu, Paus menginginkan Gereja tampil dan bertindak sebagai “lapangan rumah sakit” (field hospital) bagi umat yang mengalami “luka khusus” semacam itu, dengan memberikan intensive care dalam bentuk proses persidangan nulitas yang lebih cepat dan lebih murah.3 Untuk itu, pada tanggal 8 September 2015 yang lalu telah dipublikasikan Litt. Ap. M.P. Mitis iudex Dominus Iesus (selanjutnya disingkat MI) untuk Gereja Katolik Ritus Latin, dan Litt. Ap. M.P. Mitis et misericors Iesus untuk Gereja Katolik Ritus Timur.4 Kedua dokumen motu proprio itu dimaksudkan untuk mereformasi hukum kanonik mengenai persidangan nulitas perkawinan di tribunal-tribunal gerejawi.

Page 11 of 29 | Total Record : 287