Articles
287 Documents
Mazmur Dan Kesembuhan Rohani Dan Jasmani
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penderitaan manusia itu banyak dan beraneka ragam. Ada derita kehilangan orang-orang yang paling kita cintai, kebencian, tidak dipahami, kesulitan untuk mengampuni dan masih banyak lagi. Pertanyaannya ialah dapatkah derita-derita ini disembuhkan? Dapatkah kesulitan untuk mengampuni itu disembuhkan? Saya sebutkan secara khusus di sini hal “kesulitan untuk mengampuni” berhubungan dengan tema hari studi kita. Jawaban yang diberikan di sini ialah bahwa semua derita itu bisa disembuhkan lewat doa. Jawaban ini adalah jawaban iman. Dalam tulisan ini kita mau melihat secara khusus soal pengampunan. Mengampuni itu sulit dan tidak jarang amat sulit sampai sepertinya tidak mungkin. Luka yang diderita begitu dalam sampai menimbulkan beraneka ragam penderitaan yang tak terbayangkan. Penyembuhan men- jadi suatu perjuangan yang amat melelahkan. Pengampunan itu suatu derita dan perlu penyembuhan. Proses penyembuhannya bisa makan waktu.
Penyembuhan Luka Batin Melalui Pengampunan Belajar Dari Pengalaman Yusuf Dan St. Maria Goretti
Didik Bagiyowinadi
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tubuh yang terluka bisa dibersihkan, diobati, dan dibalut (Luk 10:34) agar segera pulih dan sembuh. Tahapan proses pemulihannya bisa dicek dan diukur. Bagaimana bila yang terluka itu batin atau hati kita, adakah obatnya, bagaimana proses penyembuhannya? Bahkan kadang yang membuat hati kita terluka, tidak menyadari hal itu. Ironisnya, terkadang mereka itu justru orang-orang terdekat, yang sering kita jumpai, bahkan yang paling dekat di hati kita. Bagaimana kita perlu mengolah dan menyembuhkan batin kita agar kita tidak menjadi lumpuh dan trauma dari pengalaman pahit di masa lalu? Tulisan ini bermaksud menyajikan proses pengalaman mengampuni sesama yang bersalah kepada kita sebagai terapi penyembuhan luka batin. Di sini kita akan belajar dari pergumulan Yusuf mengampuni kakak- kakaknya, perintah dan teladan Yesus mengampuni musuh, dan kata-kata pengampunan St. Maria Goretti terhadap Alessandro Serenelli yang telah melukai dan membunuhnya. Diharapkan tulisan ini memberi inspirasi dan dorongan bagi kita untuk berani mengampuni sesama sebagai proses penyembuhan luka-luka batin yang kita alami.
Allah Tritunggal Yang Mahakasih Dan Maharahim: Sumber Kehidupan Manusia
Kristoforus Bala
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kehidupan manusia, baik sebagai individu atau pun masyarakat, erat berkaitan dengan image, gambaran, pemahaman atau pengenalan tentang Allah. Ajaran moral-religius, nilai-nilai atau kebajikan-kebajikan sebuah agama sangat dipengaruhi oleh pemahaman, gambaran atau im- age tentang Allah yang dimani. Penganut-penganut agama mendasarkan dan mengarahkan hidup mereka pada sabda atau titah Allah yang disampaikan melalui para nabi dan yang ditulis dalam Kitab Suci. Sebagai contoh saya mengutip teks dari nabi Hosea dan Yesus. “Sebab Aku menyukai kasih setia dan bukan korban sembelihan dan menyukai pengenalan akan Allah lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hos 6:6).”Hendaklah kamu murah hati [berbelaskasih] sama seperti Bapamu adalah murah hati [berbelaskasih]” (Luk 6:6). Dua kutipan di atas ini, satu dari nabi Hosea dan yang lain dari ucapan Yesus, menunjukkan bahwa image, pengenalan, pengetahuan kita tentang Allah merupakan sumber inspirasi dan dasar bagi kehidupan dan perilaku manusia. Melalui Hosea, Allah mahakasih mengajar dan meminta umatNya supaya mereka menjadi pribadi yang berbelaskasih sama seperti Allah sendiri berbelaskasih. Yesus juga mengajarkan umatNya supaya meneladani sifat dan perbuatan Allah yang berbelaskasih. Allah yang mahakasih dan maharahim adalah sumber tertinggi ajaran moral-religius dan perbuatan belaskasihNya menjadi model otentik bagi sifat, perbuatan moral manusia dalam kehidupan sosial-masyarakat. Singkatnya, Allah yang mahakasih dan maharahim adalah sumber hidup manusia.
Kerahiman Allah Dalam Doktrin Maria Dikandung Tanpa Noda
Gregorius Pasi
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pada 8 Desember 2015, Paus Fransiskus membuka Porta Santa (Pintu Kudus) di Basilika Santo Petrus untuk menandakan pembukaan Tahun Yubileum Kerahiman. Bulla Misericordiae Vultus mendedahkan dua alasan mengapa Paus Fransiskus memilih 8 Desember. Pertama, 8 Desember 2015 merupakan peringatan lima puluh tahun penutupan Konsili Ekumenis Vatikan II dan Paus Fransiskus menempatkan Tahun Yubileum Kerahiman dalam kerangka semangat Konsili Vatikan II.1 Kedua, 8 Desember merupakan hari raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda dan Paus Fransiskus melihat peristiwa marial tersebut sebagai karya kerahiman Allah dalam menanggapi gentingnya dosa manusia.2
Allah Yang Al Rahman Dan Al Rahim
Peter Bruno Sarbini
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sekelompok orang Yahudi pernah mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, “Laknat dan kematian bagimu, wahai Muhammad”. Siti Aisyah, istri Rasulullah SAW menjawab salam tersebut secara emosional dan berisi kecaman, “Laknat dan kematian bagi kamu semua”. Nabi Muhammad kemudian menegur istri tercinta, “Pelan-pelan wahai Aisyah, hendaknya kamu bersikap lemah-lembut dalam menanggapi masalah”. Dalam hadis lain dinyatakan bahwa Nabi Muhammad berpesan, “Hindarilah kekerasan dan perbuatan kasar”. Rasulullah SAW menjawab salam orang- orang Yahudi tadi dengan ucapan salam perdamaian. Peristiwa di atas menunjukkan kasih sayang, kesabaran dan keteladanan Nabi Muhammad, utamanya kepada para pengikutnya serta umat-umat agama lain pada umumnya. Teladan luhur ini sebenarnya bersumber dari Allah SWT yang dimanifestasikan dari sifatNya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Untuk itu Rasulullah SAW pernah bersabda, “Mereka yang menebarkan kasih-sayang, niscaya dikasihi Yang Maha Kasih. Kasihilah mereka yang hidup di bumi, niscaya Tuhan yang berada di langit mengasihi kalian” (HR. Tirmidzi).
Pengampunan Martiologi Awali
Edison R.L. Tinambunan
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini bukan bermaksud untuk memberikan pembahasan kemartiran secara umum, karena telah ada tulisan sebelumnya mengenai hal tersebut,1 melainkan untuk membahas aspek pengampunan dari peristiwa yang selalu dialami oleh Kristiani tersebut. Apalagi tema Seminar Nasional tahun ini adalah pengampunan, kemartiran yang tidak bisa dipisahkan dari tema tersebut, menjadi perlu untuk dikembangkan dalam penelitian. Ruang lingkup penelitian adalah kemartiran Gereja purba, karena Ia mengalami perjalanan yang khusus pada periode tersebut yang melihat aspek kematian Yesus Kristus sebagai martir. Rangkaian peristiwa yang dialami Kristiani dalam kurun waktu kurang lebih tiga abad pertama, memberikan kekhasan tersendiri akan perjalanan hidup Gereja. Menjadi martir praktis dialami oleh seluruh Kristiani pada periode itu, terlebih-lebih beberapa orang yang dianggap sebagai panutan dalam peristiwa tersebut. Mereka ini memberikan nilai hidup Kristiani yang bermutu, baik itu dari segi teologis maupun praktis yang tampak dalam keseharian.
Otobiografi Teresia Dari Yesus: Kisah Kerahiman Allah
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
St. Teresia dari Yesus (1515-1582), pujangga Gereja, adalah seorang mistikus besar. Anugerah demi anugerah besar diterimanya dari Tuhan. Dia hidup dalam persatuan mesra dengan Tuhan. Dia menyadari bahwa Tuhan hidup di dalam dia dan dia di dalam Tuhan. Berulang-ulang ditekankannya bahwa kesempurnaan hidup kristen yang sejati terletak dalam kasih kepada Allah dan kepada sesama. Itulah inti hidupnya. Peringatan atau pestanya dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 15 Oktober. Teresia juga terkenal dalam Gereja karena meninggalkan kepada kita tiga karya terkenal tentang hidup doa yakni Vida (=Otobiografi), Camino de perfeccion (Jalan Kesempurnaan) dan Moradas del Castillo interior (Tempat tinggal-tempat tinggal puri jiwa). Ketiga buku ini biasanya disebut trilogi Teresia. Buku-bukunya ini telah dibaca pula oleh banyak orang ternama. Beliau termasuk salah satu perempuan yang paling berpengaruh dalam sejarah. Pada kesempatan hari studi yang berbicara tentang dosa dan pengampunan ini, saya ingin memperkenalkan secara singkat buku otobiografinya. Buku ini oleh St. Teresia sendiri disebut “buku besar”. Beliau menyebutnya demikian mungkin karena buku ini di tempat lain disebutnya buku tentang kerahiman-kerahiman Allah. Tema dosa dan pengampunan tidak dapat dipisahkan dari tema tentang kerahiman Allah. Dalam buku ini dia tidak berbicara tentang kerahiman Allah sebagai suatu teologi “tentang”, tetapi secara praktis artinya sebagai suatu teologi berdasarkan pengalaman hidupnya yang mendalam bersama Tuhan. Kerahiman yang dibicarakan Teresia ialah kerahiman Tuhan kepadanya. Dalam studi singkat ini kita mau melihat bagaimana Teresia menulis kisah tentang hidupnya dan mengapa.
Misericordiae Vultus: Sebuah Catatan Pengantar
Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Bulla Misericordiae Vultus1 (MV) – Wajah Kerahiman dimaklumkan secara resmi dan meriah di Basilika St. Petrus tgl. 11 April 2015. Isinya terdiri atas 25 poin penting yang saling berkaitan. Dengan Bulla ini, Paus Fransiskus bermaksud melanjutkan apa yang telah dibahas secara panjang lebar dalam ensiklik Evangelii Gaudium (EG) Tahun 2013. Dalam EG Paus membuat sebuah analisa yang tajam dan mendalam tentang situasi sosial, politik, ekonomi dan kultural kontemporer yang sarat dengan beragam kontradiksi akibat relasi dan interaksi dari banyak faktor dan unsur yang ansich bertentangan satu sama lain, tetapi pada saat yang sama menyangga bangunan masyarakat global. Kontradiksi itu menyebabkan banyak sekali dampak bagi kehidupan Gereja dan dampak itu diperparah lagi oleh situasi internal Gereja yang lebih menampilkan wajah institusional- normatif-liturgis dan tua-bangka ala mummi di museum daripada wajah yang gembira dan penuh cinta kasih.
Citra Gereja Yang Rahim
Petrus Go Twan An
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tuhan memang maharahim dan kabar baik yang membebaskan ini tak boleh tinggal teori atau pengetahuan sejumlah kecil orang, melainkan harus disebarluaskan dan disambut oleh semua atau sebanyak mungkin or- ang. Tetapi harus ada pihak yang menyampaikannya, terutama agama- agama (dalam agama Islam sifat kerahiman Allah dikedepankan: Bismillah ir-rahman ir-rahim) dan khususnya bagi kita agama Katolik. Tetapi bagaimanakah citra Gereja Katolik? Bagaimana citra Gereja Indonesia yang hanya 3% dari jumlah penduduk yang kira-kira 250 juta?
Kerahiman Dan Keadilan
Petrus Go Twan An
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dalam “Misericordiae Vultus” yang mencanangkan tahun kerahiman 2015-2016 dalam art.10 dikeluhkan bahwa kerahiman kurang berperan dan bahkan perkataannya makin dilupakan, sedangkan keadilan terus menerus dituntut, maka baiklah tema hubungan antara kerahiman dan keadilan juga diangkat di sini. “Barangkali lama kita lupa menunjuk jalan kerahiman dan menempuhnya. Pada satu pihak godaan untuk terus menerus menuntut keadilan saja membuat kita lupa bahwa hal ini hanyalah langkah pertama. Langkah ini memang perlu dan tak dapat diabaikan, tetapi Gereja harus melampauinya demi tujuan yang bermakna dan lebih tinggi.Di satu sisi menyedihkan melihat bagaimana pengalaman pengampunan menjadi makin jarang dalam budaya kita. Malahan perkataannya sendiri rupanya makin menghilang”1 Banyak orang bermaksud baik, tetapi kurang memahami hal-hal yang harus mereka lakukan, meskipun seringkali mungkin lebih secara intuitif melaksanakannya. Misalnya: saya memang sudah memaafkan atau mengampuninya, (soal kerahiman), tetapi proses hukum (soal keadilan) jalan terus. Keduanya tidaklah saling bertentangan, melainkan urusan lain dan ada banyak kepentingan dan sudut pandangan yang harus diperhatikan juga.Tuhan memang mahaadil, tetapi ia juga maharahim. Kiranya faktor terakhir ini dulu kurang mendapat perhatian, dan dalam tahun kerahiman ini lebih diperhatikan, juga agar lebih berpengaruh atas hidup kita, baik sebagai orang yang diperlakukan dengan kerahiman Tuhan, maupun sebagai orang yang meneruskan anugerah itu dan bersikap penuh kerahiman terhadap sesama.