cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 287 Documents
Pengampunan Dalam Perspektif Orang Maybrat-Papua Imanuel Tenau
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia senantiasa hidup dan berkembang dalam relasi baik dengan Yang Ilahi, alam semesta, sesama dalam kelompoknya, maupun dengan orang lain di luar kelompoknya. Relasi tersebut menganut unsur aku dengan yang lain di luar diriku. Hal ini merupakan relasi personal, yang melukiskan bagaimana relasi personal dapat mendefinisikan kodrat kenyataan. Karena itu, pengampunan merupakan pusat eksistensi orang Maybrat untuk dapat didefinisikan cara mereka berpartisipasi dalam relasi dengan sesama, dunia, dan Yang Ilahi (Tuhan). Pengalaman berrelasi itu selanjutnya melahirkan cara pandang yang khas mengenai apakah alam semesta itu dan siapakah sesama yang dengannya mereka berrelasi. Cara pandang itu kemudian mewujud dalam tata sopan santun, adat istiadat, norma moral, tabu, serta berbagai tata sosial kemasyarakatan. Manusia juga mengalami bahwa relasi- relasi horizontal itu belum menjawab dan memuaskan seluruh kehausan spiritualnya akan makna, asal dan tujuan hidupnya. Dengan demikian, pertanyaan tentang hakekat dan makna peristiwa- peristiwa eksistensial seperti kehamilan, kelahiran, sehat dan sakit, bahagia danderita, perang dan damai, kehidupan dan kematian, tak menemukan jawaban yang memuaskan hanya dalam relasi dengan alam serta sesama, tetapi adanya Realitas Yang Lebih Tinggi merupakan fenomena yang dapat kita temui di hampir semua kebudayaan. Demikian pula halnya dengan suku Maybrat. Sebagai satu kelompok masyarakat yang memiliki sejarah sendiri dalam aneka kekayaan tradisi budayanya – hidup mereka pun dilingkupi dan diberi arah oleh kepercayaan akan adanya suatu kekuatan yang melebihi dirinya, yang menjadikan mereka ada, yang mengatur kehidupan, dan menguasai seluruh alam semesta.
Dosa Dan Pengampunan: Sebuah Petualangan Manusiawi Dan Rohani (Penghayatan Spiritualitas Pengampunan) Paulinus Yan Olla
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengampunan merupakan sebuah peristiwa teologis yang melibatkan Allah dan sekaligus peristiwa manusiawi karena menyentuh pengalaman dasar manusia sebagai manusia. Dosa berkaitan relasi dengan Allah, jika manusia memberi jawaban negatif. Sebagaimana iman adalah pengalaman manusia yang terwujud dalam perbuatannya, begitu pula dosa adalah pengalaman manusia yang bersikap melawan Allah dan terwujud dalam perbuatan moral. Pengampunan merupakan pengalaman dasar relasi manusia dengan Allah. Inisiatif pengampunan selalu berasal dari Allah. Relasi kedosaan dijembatani kembali dengan tawaran pengampunan. Pengampunan dialami ketika manusia mengalami kerahiman Allah. Dosa dan pengampunan mengandaikan adanya keterlibatan pihak Allah maupun manusia. Ia menyangkut dinamika relasi manusia dengan Allah. Allah yang berkuasa menciptakan permulaan baru melawan kegagalan dan penolakan dalam dosa.1 Selanjutnya manusia yang mengalami pengampunan Allah dalam hidupnya dipanggil tidak hanya untuk menerima tetapi ia pun perlu belajar mengampuni sesamanya. Dinamika keterlibatan Allah dan manusia dalam pengampunan itulah yang ingin dipaparkan dalam karya ini.
Perkawinan Diawali Dengan Love, Dilanggengkan Oleh Mercy Alphonsus Tjatur Raharso Tjatur Raharso
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kita sudah terbiasa berpendapat dan mengajarkan bahwa perkawinan antara 2 (dua) orang yang dibaptis diangkat oleh Kristus Tuhan ke martabat sakramen.1 Sakramentalitas adalah unsur pembeda yang khas antara perkawinan orang-orang beriman kristiani dan orang-orang yang tidak dibaptis. Unsur pembeda ini amat sangat sederhana dan bahkan tidak kelihatan dari luar, karena dalam realita konkret sehari-hari sebenarnya tidak ada bedanya antara perkawinan orang kristiani dan perkawinan orang- orang yang tidak dibaptis. Mereka sama-sama menghadapi masalah perkawinan dan keluarga yang sama, baik masalah klasik maupun masalah modern: ekonomi rumah tangga, kesehatan, pendidikan anak, pergaulan anak, pertengkaran suami-istri atau orangtua-anak, pergaulan suami atau pergaulan istri, relasi dengan mertua, dan sebagainya. Sakramentalitas tidak tampak dari luar, karena merupakan anugerah dari Kristus yang hadir dan bekerja dari dalam, yakni dari communio dan relasi kasih suami-istri kristiani.
Problem Kemurah-Hatian Dan Belas Kasih Sebagai Indikator Hidup Jemaat (Berdasarkan Konteks Hidup St. Agustinus) Antonius Denny Firmanto
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Murah hati dan belas kasih yang terwujud dalam ekspresi peng- ampunan merupakan landasan dari sebuah persekutuan hidup. Pengampunan sendiri bisa terwujud ketika kerendahan hati menjadi ungkapan hidup dari mereka yang menjadi anggota komunitas. Dalam situasi konkrit, berkenaan dengan hal ini, Petrus pernah menanyakan: “Berapa kali aku harus mengampuni? Tujuh kali?” Pertanyaan itu dapat dijabarkan ke dalam pertanyaan: “Berapa kali aku harus bermurah hati dan berbelas kasihan? Tujuh kali?” Atas pertanyaan ini, jawaban Yesus kiranya tetap sama: “Tujuh puluh kali tujuh kali”. Paparan berikut ini berisi tiga hal. Hal yang pertama adalah konsep Agustinus (354-430) berkenaan dengan persekutuan hidup. Hal yang kedua adalah tiga peristiwa yang mempengaruhi hidup dan pemikiran Agustinus berkenaan dengan kemurah-hatian dan belas kasih sebagai rahmat. Hal yang ketiga adalah implementasi pemikiran Agustinus di dalam konteks kehidupan masa kini.
Menyembah “Allah Yang Kalah” Pergulatan Absurditas Salib FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengapa Yesus yang tidak bersalah disalib secara amat keji? Malah, tidak hanya itu, Dia disesah, dicambuki secara brutal dengan cambuk yang ujungnya bertembilang besi? Mengerikan. Sebuah derita absurd. Itulah satu dua pertanyaan dari seorang sahabat kala merenungkan The Passion of Christ, Penderitaan Kristus. Orang terhenyak oleh sebuah tontonan derita yang absurd. Kita larut dalam sebuah kekejaman salib. Di sana Allah jelas kalah, kalah oleh kekuatan yang menderanya. Kita menyaksikan sebuah pengorbanan luar biasa dari Kristus. Dalam teologi kita menyimak bahwa derita itu dimaksudkan untuk menebus manusia.
Kristiani Purba Indonesia (Pancur – Barus) Edison R.L. Tinambunan
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empat Ratus Lima Puluh Tahun Gereja Katolik Indonesia (1534- 1984), inilah judul Buku Acara Perayaan yang dilaksanakan secara besar- besaran di Jakarta dari 8—12 Juli 1984 yang diakhiri dengan perayaan ekaristi di Stadion Senayan.1 Di setiap keuskupan di Indonesia merayakan peringatan yang sama dengan caranya masing-masing.2 Alasan yang diberikan oleh Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI)3 adalah karena sejak tahun 1534, Gereja hadir secara tidak terputus di bumi Nusantara, yang diambil dari buku tulisan Mgr. B. Visser, MSC, dengan judul “Onder Portugeesche Vlag” yang menceritakan seorang saudagar Portugis bernama Gonsales Veloso yang menetap di Moro, Halmahera Utara. Dengan bantuan pemerintah Portugis, dia mem- permandikan raja Mamoya, kampung utama di pulau Moro. Bersamaan dengan raja, juga dipermandikan para pengikutnya.4
Panorama Gereja Katolik Indonesia [1] Menyimak Kontribusi Muskens Dan Steenbrink FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melukiskan panorama sejarah Gereja Katolik Indonesia dalam beberapa halaman dapat terjebak dalam “ketidakadilan”, karena begitu luas rentangan waktu dan cakupan aneka peristiwanya. Karena itu, saya mengajukan terlebih dahulu dua kontribusi dari dua penulis buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia (SGKI), Martinus Muskens (seorang imam diosesan) dan Karel Steenbrink (seorang awam Katolik). Muskens berasal dari tahun-tahun tujuhpuluhan; sementara Steenbrink berasal dari kurun saat ini. Dua kontribusi penulis ini saya pandang representatif untuk maksud agar kita mengerti perspektif sekaligus “pesona” perjalanan panoramik Gereja Katolik Indonesia. Dari kedua penulis kita belajar bahwa penulisan sejarah meminta keketatan dan keakuratan riset sumber-sumber (asli) sekaligus pentingnya perspektif yang benar. Misi Katolik di Hindia Belanda Timur (Indonesia) dihidupkan kembali sejak tahun 1808 dengan susah payah1, sebab selama kurun dua ratus tahun sejak tahun 16022, Gereja Katolik telah dihancurkan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Nyaris tidak ada lagi kegiatan misi Gereja Katolik di tahun-tahun itu. Pusat-pusat Katolik peninggalan Portugis telah dipadamkan oleh VOC atau kaum Protestan (imbas suasana perang agama di Eropa). Orang-orang Katolik “diregristrasi” ke dalam komunitas- komunitas Protestan.
Panorama Gereja Katolik Indonesia [2]: Pendudukan Jepang Dan Pemulihannya (Konteks Misi Surabaya) FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Panorama sejarah Gereja Katolik di Indonesia dalam ruang yang terbatas pasti tak mungkin menjangkau secara adil seluruh momen perjalanannya. Pilihan periode pendudukan Jepang dan pemulihannya menjadi aksentuasi tulisan ini. Tetapi, beberapa panorama tahun-tahun sebelum periode pendudukan Jepang kiranya perlu disimak sepintas1, agar posisi aksentuasi tulisan ini (Sejarah Gereja Katolik periode hancurnya karya misi konteks Misi Surabaya) dapat lebih dimengerti. Konteks misi Surabaya dipilih karena alasan praktis, i.e., selama ini menjadi tema wilayah riset penulis hampir lima belasan tahun.
St. Maria Ratu Rosario Sebagai Bintang Misi - Evangelisasi Di Nusa Tenggara Kristoforus Bala
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya keselamatan tidak bisa dipisahkan dari inisiatif Allah Tritunggal dan jawaban “ya” St. Maria terhadap tawaran Allah. Kabar Gembira (euangelion) yang diwahyukan Allah kepada umat manusia selama berabad- abad melalui para nabi telah mencapai pemenuhannya dalam diri Yesus. Oleh kuasa Roh Kudus, Sabda Allah menjadi manusia. Dia dikandung dan dilahirkan oleh St. Perawan Maria. Dia membesarkan dan menyertai Yesus dalam karya misiNya sampai Dia wafat pada salib. St. Maria layak disebut adalah tokoh evangelisasi pertama karena dia yang menghadirkan dan mewartakan Yesus, Sang Sabda ke dalam dunia. Setelah kematian Yesus, St. Maria hidup bersama para Rasul dan berdoa bersama Gereja Perdana menantikan pencurahan Roh Kudus. Maria menyertai Gereja Perdana dan menyaksikan dimulainya karya misi-evangelisasi ke seluruh dunia. Karena itu Paus Paulus VI1 dan Paus Fransiskus 2 menyebut St. Maria Bintang Evangelisasi. Paus Yohanes Paulus II juga mengatakan bahwa sejak dikandung tanpa noda dosa, St. Maria adalah “Stella Matutina”3 (Bintang Fajar atau Bintang Timur) yang selalu terbit mendahului terbitnya matahari. Maria lebih dahulu mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus dalam sejarah umat manusia dan terus menyertai Gereja Puteranya.
Umat Terpilih Hidup Dari Belaskasih Dan Kegembiraan Supriyono Venantius
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tema besar hari studi ke-40 STFT Widya Sasana ini adalah “Menjadi Gereja Indonesia yang Gembira dan Berbelaskasih: Dulu, Kini dan Esok”. Dalam sesi ini kita diajak untuk melihat dialektika Gereja dan kebudayaan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (aspek eklesiologi PL), sebagai inspirasi untuk membaca dinamika hidup Gereja paska Vatikan II.1 Menanggapi tema ini, seorang pasien di sebuah rumah sakit menulis catatan kepada saya: “Orang akan berbelaskasih jika Allah ada di dalam hatinya. Belaskasih seseorang hanya dapat dikenali dari tindakannya. Kalau Gereja mau berbelaskasih maka harus ditunjukkan dalam tindakannya, tindakan klerus dan tindakan awam. Dengan tindakan konkret, para klerus mengorbankan diri menjadi sarana penyalur berkat rohani dan jasmani bagi siapa saja yang membutuhkan; awam mengorbankan dana, tenaga, talenta dan apa saja yang dibutuhkan sesamanya. Hanya lewat tindakan konkret itu, baru boleh dikatakan ada belaskasih. Makna belaskasih Gereja menjadi nyata bila ada tindakan konkret untuk menciptakan suasana damai dan solidaritas antar umat manusia.”

Page 10 of 29 | Total Record : 287