cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 287 Documents
Wartasukacita Dan Belas Kasih Bagi Kaum Miskin (Landasan-Landasan Spiritual Keberpihakan Gereja Pada Kaum Miskin Dalam Eg Dan Mv) Paulinus Yan Olla
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan berikut merupakan upaya menyimak landasan-landasan spiritualitas yang melandasi keberpihakan Gereja pada kaum miskin dan terpinggirkan. Berbagai bentuk spiritualitas yang tumbuh dan berkembang dalam Gereja setelah Vatikan II lebih dilandasi Kitab Suci dan Liturgi, tetapi juga sangat peka terhadap dunia dan persoalan-persoalan kemanusiaan.1 Lebih dari itu berbagai corak spiritualitas yang muncul setelah Vatikan II memberi landasan kerohanian yang tanggap terhadap tantangan-tantangan baru yang muncul dalam dunia modern. Salah satu tantangan yang berkembang menjadi masalah global adalah hadirnya kemiskinan yang menjadikan hidup banyak orang menjadi tidak manusiawi. Berbagai bentuuk spiritualitas itu menjadi dasar opsi Gereja untuk terlibat dan memperjuangkan kepentingan kaum miskin. Ulasan berikut mencoba menelusuri keberpihakan Paus Fransiskus terhadap kaum miskin dalam konteks Ensiklik Evangelii Gaudium (EG) dan Bulla Misericordiae Vultus (MV). Kedua dokumen tersebut secara umum menegaskan perlunya sikap dan semangat baru dalam pewartaan Gereja. Paus menunjukkan kepada Gereja sukacita dan belas kasih sebagai jalan rohani bagi seluruh Gereja tetapi sekaligus sebagai opsi keberpihakan Gereja pada kaum miskin yang berada di periferi kemanusiaan.
Homili Dan Pembangunan Gereja Masa Depan (Evangelii Gaudium, Art.135-159) Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paus Fransiskus memberi perhatian besar pada homili. Menurut beliau homili menduduki tempat yang istimewa dalam konteks pewartaan Injil. Hal ini terungkap dalam bab III.II dari surat apostoliknya Evangelii Gaudium. Dalam bagian II ini Paus berbicara tentang pentingnya homili (art.135-136), hakekatnya (art.137-144) dan bagaimana harus dipersiapkan (art.145-159).1 Dapat dilihat bahwa Paus Fransiskus memberi perhatian istimewa kepada tema ini dan membicarakannya sebagai seorang guru yang bijaksana. Nadanya mendesak. Dalam uraiannya ini beliau juga mengutip beberapa kali pernyataan dan ajakan para pendahulunya, khususnya dari Beato Paulus VI dan Benediktus XVI.2 Menurut hemat saya para imam dan diakon perlu membaca bagian ini dan merenungkannya kembali dengan baik. Dalam tulisan ini saya ingin mengangkat kembali tema ini agar dapat direnungkan kembali oleh setiap imam dan dapat memperbaharui semangatnya dalam memberikan homili.
Membangun Gereja Yang Berbelaskasih: Belajar Dari Santo Vinsensius Depaul Antonius Sad Budianto
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak agama kristen katolik diakui kekaisaran romawi pada abad ke empat, Gereja semakin berkembang dan semakin berpengaruh. Dari para rasul yang rakyat jelata pengikut Gereja semakin menjangkau para bangsawan, bahkan kaisar dan raja juga katolik. Pada abad pertengahan bahkan raja raja Eropa harus mendapat pengakuan dari atau dimahkotai oleh Paus. Mau tak mau Gereja masuk dalam lingkaran kekuasaan politik, bahkan juga ekonomi. Pejabat Gereja bekerja sama dengan pejabat politik dan para bangsawan yang kaya raya. Sementara orang miskin semakin jauh dari perhatian Gereja. Dalam keadaan seperti ini tidak mengherankan bila banyak orang menjadi pejabat Gereja untuk melestarikan atau meningkatkan status kebangsawanannya. Bagi mereka yang berasal dari kelas menengah bawah menjadi pejabat Gereja adalah sarana untuk menaikkan status sosial, ekonomi, politik dirinya maupun keluarganya. Sejak pertobatannya Vinsensius Depaul membangun wajah Gereja yang berbelaskasih berdasarkan Kristus yang diakrabinya dalam injil. Vinsensius meninggalkan cita-citanya sendiri, dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan untuk menyatakan belaskasihNya terutama kepada orang miskin, mengikuti Tuhan Yesus pewarta kabar sukacita kepada kaum miskin (Luk 4:18). Selanjutnya ia mengikuti bimbingan Penyelenggaraan Ilahi yang menunjukkan kepadanya kebutuhan orang miskin dan bagaimana dia dapat menanggapinya, termasuk dengan menggerakkan seluruh Gereja umat Allah, imam maupun awam, bangsawan bahkan hingga ratu maupun rakyat jelata. Ia sungguh telah mengubah wajah Gereja yang menampakkan kekuasaan menjadi Gereja yang berbelaskasih dan melayani, dari umat Al- lah yang pasif menjadi umat Allah yang peduli dalam pelayanan nyata. Memang pengaruh Vinsensius tidak mencegah, walau mungkin memperlambat- meletusnya Revolusi Prancis se abad setelah wafatnya, ketika rakyat memberontak melawan monarki kerajaan dan melawan Gereja yang dianggap rakyat ada di pihak penguasa dan menyengsarakan mereka. Namun pengaruh Vinsensius yang sangat besar dalam membangun Gereja belaskasih terus terasa dalam Gereja lebih-lebih di abad 19 ketika kemiskinan merajalela akibat Revolusi Industri. Ratusan tarekat dan serikat awam didirikan dengan tujuan melayani orang miskin menurut kharisma santo Vinsensius. Gereja mengangkatnya sebagai Santo Pelindung dan Model(Patron) Karya Belaskasih.
“Murid-Murid Yang Diutus”, Sukacita Gereja Indonesia Raymundus I Made Sudhiarsa
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Judul artikel ini meminjam ungkapan Paus Fransiskus yang menyebut Gereja sebagai ‘murid yang diutus’ (EG, 40) atau ‘murid-murid yang diutus’ (EG, 120). Perutusan yang dimaksudkan di sini adalah tugas evangelisasi. Ungkapan ini memiliki padanannya pada rumusan lain yang dipakai dalam Anjuran Apostolik Evangelii Nuntiandi (1975) dari Paus Paulus VI, yakni ‘tugas evangelisasi merupakan perutusan hakiki dari Gereja’ (no. 14). Sedangkan Konsili Vatikan II, dalam Dekrit Ad Gentes menulis bahwa “Ecclesia peregrinans natura sua missionaria est” –Gereja peziarah pada hakikatnya misioner (no. 2). Sebagaimana kita ketahui, Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium (November 2013) ini merupakan hasil langsung dari Sinode Para Uskup (Oktober 2012), yang mengambil tema “Evangelisasi Baru untuk Pewartaan Iman Kristiani”. Saya pikir, dokumen ini tentu juga memiliki keterkaitan langsung dengan Ensiklik Lumen Fidei (Juni 2013) dari ‘Tahun Iman’ (2012- 2013), seperti yang telah dicanangkan oleh Paus Benediktus XVI guna membangun kembali antusiasme dan upaya-upaya evangelisasi. Artinya, tugas perutusan –yang sekarang lebih populer dikenal dengan ungkapan ‘evangelisasi’– merupakan jati diri Gereja. Artikel ini akan mencoba menguraikan (kembali) secara singkat ‘arus utama’ yang mengalir dalam ‘cara berada’ umat Allah ini, yakni evangelisasi. ‘Cara berada’ ini akan diteliti dalam kesadaran dan praksis umat Allah di tanah air, sebagaimana itu tampak dalam sharing para aktivis Gereja, yang ikut dalam pertemuan para ketua KKM Keuskupan dan para Dirdios KKI dengan timnya masing- masing selama tahun 2014-2015. Lalu, di masa yang akan datang, kontribusi apakah yang bisa diberikan Gereja Indonesia kepada Gereja Universal?
Mengenal Anjuran Apostolik “Evangelii Gaudium” Dan Bula “Misericordiae Vultus” Merry Teresa Sri Rejeki
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hari studi STFT Widya Sasana tahun ini (2015) bertemakan: “Menjadi Gereja Indonesia yang gembira dan berbelaskasih. Dulu, kini dan esok”. Kata sifat ‘gembira’ dan ‘berbelaskasih’ terinspirasi dari ungkapan Paus Fransiskus dalam dua dokumennya, yaitu Anjuran Apostolik “Evangelii Gaudium” (2013) dan dari Bula “Misericordiae Vultus” (2015). Sebagai pengantar untuk memahami wajah Gereja Indonesia yang gembira dan berbelaskasih di masa lampau, kini dan esok, berikut uraian singkat untuk mengenal Anjuran Apostolik dan Bula yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus dalam tahun pertama dan ketiga masa pontifikatnya.
Mengapa Bergembira Dan Berbelaskasih? Petrus Go Twan An
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam judul tulisan ini tak disebut subyek, karena sifat Tuhan seharusnya didekati manusia yang tak hanya menerima, melainkan pada gilirannya juga memberi (kegembiraan dan belaskasih). Hidup kita campuran suka-duka yang sering berhimpitan. Sukacita yang merupakan nada dasar Gereja Katolik yang tak tersingkirkan oleh dukacita yang juga kenyataan tak terbantahkan, apalagi dalam kesadaran bahwa kita pendosa dapat terus hidup berkat belaskasihan Tuhan. Tulisan ini pendek dan skematis, agar cukup jelas untuk dapat cepat dibaca.
Sulitnya Mengampuni Dan Sukacita Pengampunan Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGAMPUNAN termasuk salah satu tema yang berat. Beratkarena kita hidup dalam dunia yang sulit mengampuni. Kita sendiri mungkinsulit mengampuni kesalahan sesama kita. Sulitnya mengampuni merupakanpengalaman banyak orang dan kiranya tidak perlu diberikan data-datanyadi sini. Ada pengalaman-pengalaman yang amat memedihkan sepertipengkhianatan dalam cinta dan persahabatan, kebencian dan kekerasan,pemerkosaan, penghinaan dan masih banyak lagi. Semuanya itu bisamembawa dampak yang luar biasa pada jiwa manusia. Bagaimana sayabisa mengampuni orang yang telah melakukan hal itu terhadap saya atauterhadap orang-orang yang paling saya cintai?Kitab Suci sendiri telah memberi kesaksian tentang hal sulitnyamengampuni itu. Ada dua teks dalam Perjanjian Baru yang memberi kesaksiantentang hal ini. Keduanya terdapat dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Yangpertama, dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak tahu mengampuni(Mat 18:20-35) dan kedua, dalam perumpamaan tentang anak yang hilang(Luk 15:11-32). Tujuan tulisan ini ialah merenungkan kedua perumpamaanini dan mendalami artinya bagi Gereja dewasa ini.
Derai Dosa, Derasnya Ampunan Sang Penguasa Semesta (Membincang Dosa Dan Pengampunan Dalam Perspektif Islam) Halimi Zuhdy
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia, makhluk luar biasa yang diberikan kecerdasan berpikir danberdzikir, berpikir tentang dirinya dan di luar dirinya, bahkan juga mampuberfikir sesuatu yang tidak tampak (ghaib). Sedangkan kecerdasan berdzikir(mengingat) melampaui batas-batas antara dirinya dan di luar dirinya, iamampu menembus Tuhan Yang Esa, menjadi ajang bercinta antara maklukdan Sang Pencipta, dan hanya orang-orang yang beriman kepada Tuhannyayang mampu melakukan keduanya, berpikir dan berdzikir. Kalau berpikirberada dalam ranah otak, sedangkan berdzikir dalam ranah hati dan mulut.Dan keduanya mampu memainkan peranan dalam kehidupan manusia untukselalu serasi dan seimbang menuju gerbang kemanusiaan dan memanusiakanmanusia, tetapi banyak yang melupakan bahwa “perilakulah” yang benarbenarwujud dari fikir dan dzikir itu. Dan perilakulah sebagai ajang berbuatdosa, dari pola pikir dan dzikir yang keliru. Maka, dalam pembahasan inipenulis memberi tema “Derai Dosa, Derasnya Ampunan dalam Islam” untukmelihat bagaimana dosa dan ampunannya dalam Islam, dan apa saja yangtermasuk dosa dan bagaimana cara bertaubat, dan bagaimana seharusnyamanusia menuju Rahmatan lil Alamin.
Sukacitaku Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Puisi St.Teresia dari Kanak-kanak Yesus
Arti Kebahagiaan Sebuah Tinjauan Filosofis Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tiada seorang manusia pun senang lapar, bersukaria menahan dahagadan memohon doa dari rekan dan kenalan supaya jatuh sakit dan terussakit-sakitan. Semua orang ingin kenyang, sembuh dari sakit, hidupberkecukupan dan tenang lahir-batin tanpa terus diliputi kegalauan,kekhawatiran dan ketakutan. Secara kodrati manusia mencari kesenanganbadani bersamaan dengan ketentraman hati, menghindari sejauh mungkinkesakitan badan dan kecemasan batin. Singkat kata, secara naluri semuaorang mencari kebahagiaan dan menghindari kemalangan.