cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 287 Documents
“Aku Indonesia, Aku Pancasila” Sebuah Refleksi Kesadaran Konstruksi Diri FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filsafat berawal dari “aku.” Filsafat mulai dengan kesadaran diri1. Atau, filsafat mulai dengan kesadaran “aku”. Kesadaran akan “aku” artinya apa? Bila kita menyadari nama dan asal usul keluarga atau tempat kita dilahirkan, kesadaran itu bukan kesadaran akan “aku”. Kesadaran itu sekedar satu dua pengetahuan informatif tentang sebagian dari keberadaanku. Bila kita menyadari kelemahan dan kekuatan diri sendiri, itu pun belum bisa disebut kesadaran akan “aku.” Sebab, itu sekedar pengenalan ciri atau karakter fisik atau sekitar itu.
Asal Usul “Liyan” FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menguraikan filsafat Liyan atau “Other” mengandaikan pemahaman tentang eksplorasi “Self”. Filsafat pertama-tama adalah filsafat tentang “Self”. Jika “Self” adalah kepenuhan manusia sebagaimana kita simak dalam metafisika Timur (Hinduisme) dan juga Filsafat Yunani, dan di luar “Self” tidak bisa dibayangkan dan dipikirkan, dimana letaknya “Other” (Liyan) secara filosofis dapat diuraikan? Di bawah ini sebuah upaya sederhana untuk menggali makna Liyan “the Other”.
Gerakan-Gerakan Pencerahan Indonesia FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Uraian di bawah ini memiliki asumsi berikut: Perjalanan panoramik politik Indonesia pertama-tama adalah “sembulan-sembulan aneka gerakan pencerahan”. Disebut “sembulan”, karena merupakan peristiwa-peristiwa yang secara khas milik zamannya, lahir dari kreativitas dan pasionitas (rasa cinta yang berkobar-kobar) anak-anak muda negeri ini terhadap bangsanya. Dikatakan “sembulan” karena juga bukan merupakan sebuah seri peristiwa yang berlangsung sistematis. Di suatu waktu muncul dahsyat. Di kesempatan lain, tampil redup. Tetapi peristiwanya menggebrak, mengubah, mencerahkan.
Agama Dalam Ruang Publik Di Indonesia Dan Posisi Gereja Katolik - Satu Telaah Filsafat Sosial Sermada Kelen Donatus
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filsafat sosial, yang menyoroti agama dalam ruang publik, merupakan sebuah filsafat sistematis yang merefleksikan agama sebagai satu realitas sosial-religius. Ruang publik tempat agama dihayati secara kolektif mengacu pada sisi sosialitas yang melekat pada penghayatan keagamaan. Ulasan di bawah tidak bermaksud mereduksi hakekat agama ke dalam ruang publik, tetapi merupakan suatu refleksi filosofis yang menyoroti kehadiran agama di dalam ruang publik Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan realitas tersebut dikaitkan dengan posisi gereja Katolik di Indonesia.
Pancasila di Ruang Keseharian FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konon tanggal 6 Juni 1901, saat Bung Karno lahir, Indonesia mendapat “pulung” (kilatan cahaya dari langit). Tradisi nenek moyang mengatakan bahwa jatuhnya “pulung” menandakan sebuah pesan datangnya peristiwa dahsyat di hari depan. Salah satu peristiwa dahsyat itu terwujud ketika Bung Karno mencetuskan kristalisasi nilai-nilai luhur yang diderivasi dari tradisi tata hidup bersama bangsa sendiri. Kristalisasi itu disebutnya Pancasila. Sejak di bangku SD, setiap orang Indonesia diajar menghapal ke- lima sila. Orang memang hapal Pancasila, tetapi kerap tidak mengerti nilai dan maknanya. Yang terlupakan: manusia Indonesia tidak pernah melakukan diskursus rasional kebalikannya, yang saya sebut “de- Pancasila-isasi”. “De-Pancasila-isasi” merupakan fenomena-fenomena peristiwa dan kemunculan paham ideologis-agamis maupun non agamis yang berusaha merelativir dan menggeser Pancasila.
Revitalisasi Pancasila Demi Indonesia Yang Religius Dan Beradab Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri pada tgl. 21 Mei 1998 berakhirlah regim Orde Baru yang telah menguasai panggung kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia selama 32 tahun secara otoritarian. Pengunduran diri Soeharto merupakan dampak dari krisis multi-dimensi yang diawali dengan krisis finansial ’98 yang melanda benua Asia. Mo- mentum krisis dan kritis itu dimanfaatkan oleh segenap unsur yang anti- Soeharto untuk menumbangkannya yang mendapat dukungan sangat luas dari kalangan kampus dalam bentuk demonstrasi massif berskala nasional dan kontinyu. Benturanpun tidak dapat dihindarkan, sehingga berujung pada kerusuhan sosial bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang melanda Jakarta dan sekitarnya pada tgl. 13-14 Mei 1998.
Janganlah Kamu Melawan (Mat 5:39) Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut hemat saya hari studi 2017 ini memberi kesempatan kepada kita untuk merenungkan kembali beberapa kebenaran pokok tentang panggilan kita sebagai orang kristen “yang adalah garam dan terang dunia”. Khotbah di bukit dalam Mat 5-7 tentang “Hidup baru dalam Kristus” merupakan suatu bahan yang sangat cocok. Teks yang sangat menantang ini telah sangat banyak direnungkan, tetapi harus terus menerus direnungkan kembali apabila kita mendapat persoalan dan tantangan baru. Tanpa renungan iman kita tidak akan disegarkan. Kekerasan yang terus menerus terjadi dalam masyarakat kita memanggil kita untuk merenungkan panggilan kita dalam soal cinta kasih. Tema ini dibicarakan dengan sangat mendalam dalam Mat 5:17-48. Kita akan membatasi renungan kita hanya pada antitesis ke-5 yang berbicara tentang soal pembalasan (5:38-42) dan antitesis ke-6 tentang soal kasih kepada musuh (5:43-48)1. Kedua antitesis ini berhubungan.
Jangan Takut Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pilkada DKI 2017 telah selesai, tetapi seluruh peristiwa yang mendahuluinya kiranya sulit dilupakan dan menurut hemat saya punya dampak besar bukan hanya bagi kesatuan bangsa, melainkan pula utuk penghayatan iman. Unsur SARA dalam pemilihan Gubernur DKI 2017 sangat terasa. Agama diperalat.1 Dampaknya Gubernur Ahok menjadi terdakwa, diadili dan kemudian divonis dengan hukuman 2 tahun penjara. Ada suatu kekuatan besar yang menantang kita yakni kekuatan SARA. Kita bisa menjadi takut dan ragu-ragu untuk berlangkah. Kita mengambil sikap diam karena agama (di sini Islam) ikut bermain. Lalu apa yang harus kita perbuat? Bagaimana seharusnya sikap kita?
Misteri Salib Tuhan Pasca Vonis Janggal Ahok Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus dugaan penistaan agama (Islam) oleh gubernur DKI Jakarta Ahok (sekarang mantan)1 menjadi berita besar dan menghebohkan karena sesudahnya digerakkan demo besar-besaran di Jakarta sampai dua kali. Menjadi berita besar karena terjadi persis sebelum Pilkada Gubernur Jakarta 2017. Dugaan adanya unsur politik di balik semuanya itu tidak dapat dielakkan. Siapa yang bersih dalam hidup ini dan siapa yang tidak akan membela diri kalau dituduh? Istilah “penistaan agama” tidak ada dalam kamus teologi Katolik. Dari sebab itu, sebelum menulis artikel ini saya memeriksa dahulu Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa untuk melihat nuansa katanya. Kata pertama yang bertalian dengan nista ialah hina. Selanjutnya kata-kata yang bertalian dengan hina (menghinakan) cukup banyak.
Surat Pakahok Dari Rumah Tahanan Depok Suatu Refleksi Iman Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini adalah suatu bentuk penghormatan terhadap Pak Ahok yang berada di Rumah Tahanan Depok. Dari tempat ini beliau telah menulis surat kepada para relawan dan pendukungnya berhubung keputusannya untuk mencabut permohonan banding atas vonis dua tahun penjara. Surat ini yang telah dibacakan sendiri oleh istrinya yang tercinta Ibu Veronica Tan pada tanggal 23 Mei 2017 selengkapnya kami lampirkan di sini. Pak Ahok lewat suratnya ini1 berterima kasih pertama-tama karena dukungan doa dan segala bentuk dukungan yang lain bahkan dengan berkumpul menyalakan lilin. Pak Ahok mengakui bahwa tidak mudah bagi mereka dan lebih-lebih lagi bagi dirinya sendiri untuk menerima kenyataan ini. Akan tetapi, atas segala perlakuan tidak adil ini Ahok “belajar mengampuni dan menerima semua ini”. Mengampuni dalam konteks ini memang sangat tidak mudah dan karena itu beliau mengatakan bahwa sekarang dia “belajar mengampuni” tentu saja seperti yang dilakukan dan diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Dia meminta para simpatisannya untuk menghentikan unjuk rasa dalam proses pada saat ini “Jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara”.

Page 7 of 29 | Total Record : 287