cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 287 Documents
Peran Keibuan Gereja Dalam Katekese Gregorius Pasi
Seri Filsafat Teologi Vol. 28 No. 27 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam obrolan biasa, penyematan kata “bunda” pada Gereja tidak selasim pada Maria. Biasanya, frase “bunda Gereja” membawa imajinasi orang beriman Kristiani pertama-tama pada Maria, baru - mungkin - setelah itu kepada Gereja. Mungkinkah hal itu terjadi karena orang kurang menyadari peran keibuan Gereja dalam hidupnya sebagai anggota Gereja? Ketika orang kurang menyadari peran keibuan Gereja, impetus untuk ambil bagian dalam aktivitas-aktivitas khas keibuan Gereja pun menjadi berkurang. Tulisan sederhana ini dimaksudkan untuk memprovokasi pembaca untuk terlibat dalam katekese. Keterlibatan itu hendak dipicu dengan membangkitkan kesadaran bahwa katekese timbul dari hakikat Gereja sebagai bunda yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Dalam konteks itu, menjadi anggota Gereja berarti menjadi bunda yang melahirkan dan membesarkan sesama melalui Katekese. Tulisan ini dibuat atas keyakinan bahwa metafor “bunda” pada Gereja memiliki daya imperatif bagi para anggota Gereja untuk mewujudkan fungsi keibuan Gereja melalui katekese. Daya imperatif ini hendak disokong dengan berpaling pada Maria model keibuan bagi Gereja dan sekali ibu bagi para anggota Gereja.
Kewajiban Orangtua Dalam Katekese Anak Di Era Digital: Urgensi Dan Tantangannya Alphonsus Tjatur Raharso Tjatur Raharso
Seri Filsafat Teologi Vol. 28 No. 27 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kata ‘orangtua’ (Latin: parens, -entis) disebut 50 kali di dalam Kitab Hukum Kanonik. Ada istilah lain, yaitu coniuges yang disebut sebanyak 51 kali, namun dikenakan pada suami-istri sebatas relasi di antara mereka berdua sebagai pasangan, tanpa mengaitkannya dengan anak- anak yang sudah mereka miliki. Atribut “orangtua” dikenakan pada pasangan suami-istri dalam relasi mereka dengan anak, meski hanya satu anak, entah anak kandung ataupun anak adopsi. Sebutan itu selalu dikaitkan dengan tugas dan tanggung jawab mereka terhadap anak, khususnya pendidikan, baik pendidikan umum, maupun dan terutama pendidikan religius atau pendidikan iman. Kitab Hukum Kanonik memberi perhatian dan penekanan istimewa pada peranan orangtua dalam pengajaran kateketik. Kan. 774, §2 menetapkan: “Melebihi semua yang lain, orangtua terikat kewajiban untuk membina anak-anak mereka dalam iman dan dalam praktek kehidupan kristiani, baik dengan perkataan maupun teladan hidup mereka; demikian pula terikat kewajiban yang sama mereka yang menggantikan orangtua dan para bapak/ibu baptis”. Frase “melebihi semua yang lain” dalam edisi resmi Bahasa Indonesia (2016) sebenarnya kurang pas untuk menerjemahkan teks asli berbunyi “prae ceteris”. Kata Latin itu lebih tepat diterjemahkan dengan kata “sebelum yang lain-lain” (before all others, prima di tutti), karena dalam pelaksanaan pengajaran kateketik tempat dan peran orangtua didahulukan sebelum Uskup diosesan (kan. 775, §1; 780), Konferensi para Uskup (kan. 775, §§2-3), pastor paroki (kan. 776-777), superior religius dan serikat hidup kerasulan (kan. 778), dan para katekis (kan. 780). Tulisan sederhana ini ingin mengulas tempat dan peran orangtua kristiani dalam pengajaran kateketik terhadap anak-anak mereka. Akan dipaparkan di sini bagaimana hukum Gereja mengatur tugas itu, apa alasan, maksud, dan tujuan legislator gerejawi mendahulukan mereka di antara semua yang lain. Selain itu, bagaimana Gereja sendiri, terutama magisterium, terus melakukan penyadaran dan penekanan mengenai tugas dan tanggung jawab khas orangtua itu? Di sini kita juga akan melihat sepintas kendala dan tantangan berat yang dihadapi orangtua dalam melaksanakan tugas itu terhadap anak-anak mereka yang hidup di zaman now?
Ritual Maggid Sebagai Model Berkatekese Pius Manik
Seri Filsafat Teologi Vol. 28 No. 27 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fokus dari artikel ini ialah mengenai pembaharuan Gereja melalui katekese. Katekese yang dimaksud tentunya bukan dalam arti sempit (materi ajaran iman yang terdapat dalam buku katekismus) melainkan dalam artil lebih luas, yakni pengajaran iman Gereja. Artikel ini akan merefleksikan ritual Maggid1 dalam tradisi liturgi Yahudi sebagai model atau contoh bagaimana kaitan antara liturgi dan katekese, atau dapat juga dikatakan merayakan liturgi adalah berkatekese. Di samping itu artikel ini juga akan mengulas secara umum dan sepintas karakteristik ritual perayaan iman pada agama-agama dan kaitannya dengan ajaran iman dan pembaharuan “komunitas”, kemudian kajiannya diaplikasikan pada konteks Gereja masa kini. Pada bagian penutup akan diuraikan sebuar refleksi yang mengenai tantangan liturgi masa kini dalam kaitannya untuk memperbaharui Gereja melalui katekese (pengajaran iman Gereja) serta kesimpulan.
Tradisi Semana Santa: Suatu Bentuk Katekese Yang Hidup Sermada Kelen Donatus
Seri Filsafat Teologi Vol. 28 No. 27 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Semana Santa yang penulis kemukakan di sini adalah tradisi perayaan pekan suci yang dihayati umat katolik di Larantuka, Konga dan Wure di Kabupaten Flores Timur hingga dewasa ini. Tradisi itu diwariskan oleh para misionaris Ordo Dominikan yang berkarya di wilayah itu pada pertengahan abad ke 16 hingga akhir abad ke 17. Penulis mencoba merefleksikan konteks sosio-historis yang melatarbelakangi lahirnya tradisi itu dan mengangkat sepenggal pengalaman penulis yang terlibat langsung di dalam kegiatan dan perayaan itu di desanya. Pada bagian akhir dari tulisan ini, penulis menghubungkan tulisan ini dengan tema hari studi STFT tentang katekese. Tradisi Semana Santa itu sendiri dilihat sebagai suatu bentuk katekese yang hidup-hidup, bagian dari pendidikan iman katolik.
Kontribusi Teori Ujaran Dan Tindakan Bahasa Dalam Filsafat Analitik John Langshaw Austin Terhadap Bahasa Pewartaan Pius Pandor
Seri Filsafat Teologi Vol. 28 No. 27 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Disinyalir bahwa bahasa pewartaan Gereja terkadang sulit dipahami terutama bagi generasi zaman now. Dikatakan demikian karena bahasa pewartaan Gereja merupakan hasil olahan kebudayaan Barat, khususnya zaman abad pertengahan, dengan latar belakang budaya Yunani-Romawi. Bagi generasi zaman now yang tidak mengetahui latar belakang tersebut, tentu akan kesulitan menangkap pesan yang terkandung dalam bahasa pewartaan yang disampaikan lewat budaya itu. Perbedaan logika berpikir itulah yang sering kali menyebabkan isi iman yang termuat dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) sulit dipahami oleh generasi zaman now. Dalam situasi ini, terobosan Paus Benediktus XVI yang pernah mengupayakan penulisan You Cat, Katekismus Populer, menurut saya merupakan salah satu solusi bagaimana mengolah bahasa pewartaan sehingga dapat dipahami oleh generasi zaman now. Dengan cara tersebut, diharapkan banyak generasi zaman now yang tertarik untuk mengetahui (to know), menyebarkan (to share) dan mewujudkan (to express) isi iman yang termuat dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan gagasan dasar di atas, dalam tulisan ini akan ditampilkan tema ”Kontribusi teori ujaran dan tindakan bahasa dalam Filsafat Analitik John Langshaw Austin terhadap bahasa pewartaan”. Pertama-tama akan ditampilkan riwayat hidup John Langshaw Austin yang memperlihatkan minatnya pada filsafat bahasa. Uraian dilanjutkan dengan membahasFilsafat Bahasa John Austin yang berkonsentrasi pada ujaran dan tindakan bahasa. Setelah itu menguraikan kontribusi teori ujaran dan tindakan bahasa Austin terhadap bahasa pewartaan. Tulisan akan diakhiri dengan kesimpulan.
Hidup Sebagai Anak-Anak Allah Yang Terkasih Sebuah Contoh Katekese Calon Baptis1 Antonius Sad Budianto
Seri Filsafat Teologi Vol. 28 No. 27 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bagaimana hidup saya selama ini? Apakah saya puas dan mensyukuri hidup saya? Apakah saya hidup sehat dan bahagia? Apa makna pembaptisan dalam hidup saya? Adakah yang berubah dalam diri saya dengan menerima pembaptisan? Apa yang sebenarnya Tuhan inginkan dengan hidup saya? (panggilan dan tujuan hidup saya)
Arah Katekese Di Indonesia Antonius Sad Budianto
Seri Filsafat Teologi Vol. 28 No. 27 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kalau kita mau berbicara tentang Pembaharuan Gereja di Bidang Katekese, tentu kita perlu tahu arah katekese Gereja di Indonesia selama ini. Sebuah buku dengan judul “Arah Katekese di Indonesia???”1 merupakan laporan dan makalah yang disampaikan pada Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se Indonesia (PKKI) pertama yang diselenggarakan 10-16 Juli di Wisma Syalom Sindanglaya, Jawa Barat. Pertemuan tersebut merupakan tonggak sejarah penting Gereja Katolik Indonesia, terutama di bidang katekese. Tiga tahun kemudian diselenggarakan PKKI yang kedua di Wisma Samadi Klender, Jakarta. Kemudian rupanya disepakati pertemuan tiap 4 tahun hingga yang terakhir PKKI XI, Makssar 2016.
Wajah Agamayang Beringas Di Ruang Publik Peter Bruno Sarbini
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buku yang baru terbit berjudul “Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau”, cukup menarik. Sang penulis, Haidar Bagir menuturkan terjadinya pergeseran paradigma pemikiran keagamaan di Indonesia kontemporer. Paradigma pemikiran agama yang lebih mengedepankan harmoni itu kini digeser dan sedang digantikan oleh paradigma takfiri (kebencian, mengafir-ngafirkan). Ideologi takfiri ini mendorong sebagian umat beragama menjadi radikal dan melakukan pelbagai tindakan teror serta kekerasan.
Beragama Di Indonesia Petrus Go Twan An
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika Paus Benediktus XVI mengunjungi Inggris, dalam pidato 17- 09-2010 di depan masyarakat Inggris yang dihadiri korps diplomatik, akademisi, politisi dan pengusaha, Ia mengritik beberapa soal beragama, yakni: Marginalisasi agama Reduksi agama menjadi soal privat belaka, soal melakukan ibadat di depan publik 1. Hal ini saya sebut sebagai bahan perbandingan dengan keadaan di Indone- sia. Kritik Paus Benediktus XVI tak berlaku untuk Indonesia di mana peran agama juga di ranah publik amat besar. Keadaan ini memang tak selalu mudah untuk minoritas.
Agama Dan Negara Dalam Masyarakat Pluralindonesia Paulinus Yan Olla
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterlibatan agama di ruang publik, secara khusus di bidang politik, semakin hari semakin menjadi bahan perbincangan yang menarik perhatian publik. Di satu pihak diakui adanya sumbangan agama-agama bagi kohesi sosial suatu masyarakat, tetapi di pihak lain ada pula gejolak, ketegangan dan keterpecahan dalam masyarakat karena penggunaan isu-isu keagamaan untuk perebutan kekuasaan.1 Tulisan ini ingin pertama-tama menggambarkan secara garis besar tempat agama dalam masyarakat plural, modern dan rasional-sekularistis. Suatu situasi di mana di satu pihak ada ketegangan atau keraguan misalnya di Eropa tentang peran agama di ruang publik. Di pihak lain masyarakat yang sekular tersebut kehilangan daya rohani untuk mengontrol per- kembangannya sendiri. Dalam konteks demikian apakah agama dapat memberi sumbangan positif bagi suatu masyarakat plural dan sekular- rasionalistis? Pertanyaan lain yang ingin dihadapi adalah: bagaimana relasi yang seharusnya ada antara negara dan pluralitas agama dalam suatu masyarakat majemuk seperti Indonesia? Pada bagian ini kebijakan politik negara terhadap agama-agama disoroti. Dalam kerangka itu diperlihatkan pula berbagai alasan mengapa Gereja Katolik perlu terlibat dalam politik dan ikut menghargai keanekaragaman agama, etnisitas dan budaya yang dimiliki bangsa ini.

Page 6 of 29 | Total Record : 287