cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 287 Documents
Proselit - Penistaan - Perburuan Sikap Kaisar Terhadap Kristiani Sampai Dengan 313 Edison R.L. Tinambunan
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini akan membahas perlakuan para Kaisar dari kekaisaran romawi terhadap Kristiani, mulai sejak kematian Yesus Kristus sampai dengan kaisar Konstantinus yang mengeluarkan Edit Milan pada tahun Periode yang berdurasi kurang lebih tiga abad ini adalah kegelapan yang paling kelam di dalam Gereja, karena nama Kristiani sebagai taruhan melalui tuduhan sebagai proselit,1 penista dan konsekuensinya adalah pemburuan untuk dianiaya dengan cara dipenjarakan, dibunuh, melawan binatang buas, dibakar, dan dipancung.
Relevansi Doktrin Trinitas Bagi Kehidupan Bemasyarakat Gregorius Pasi
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Misteri Tritunggal Mahakudus merupakan inti iman kristiani. Semua orang Kristen dibaptis dalam “nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Sebelum dibaptis mereka menyatakan imannya akan Bapa, Putera dan Roh Kudus.1 Mereka tidak dibaptis dalam “nama-nama” (jamak), tetapi dalam nama (tunggal) Bapa, Putra dan Roh Kudus. Mereka mengimani Tritunggal Mahakudus: “ada hanya satu Allah, Bapa yang Mahakuasa dan Putra-Nya yang tunggal dan Roh Kudus”.2 Umat Kristen menyembah Allah Tritunggal Mahakudus. Trinitas menempati posisi sentral dalam Liturgi Gereja. Liturgi Gereja bercorak Trinitaris.
Kehadiran Gereja Di Ruang Publik Perspektif Eklesiologis Di Dalam Memandang Keadaan Akhir-Akhir Ini Antonius Denny Firmanto
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang majemuk. Bangsa ini tersusun atas aneka suku, agama, ras, dan golongan. Gagasan Pancasila yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari merupakan daya hidup bangsa Indonesia. Gagasan dalam Pancasila, yaitu: “Persatuan Indone- sia”, adalah kesadaran kesatuan dalam masyarakat yang majemuk dan kesadaran untuk mengembangkan sikap kerjasama di tengah perbedaan yang ada. Pendalaman gagasan di atas adalah bidang ini garapan Eklesiologi. Eklesiologi sebagai teologi mengenai Gereja adalah refleksi tentang Gereja sebagai himpunan murid-murid yang beriman kepada Yesus Kristus yang hidup di dalam ruang dan waktu tertentu, yaitu ruang dan waktu Indone- sia. Karena itu, cara orang Kristiani memandang diri dan keberadaannya sebagai Gereja mempengaruhi cara memandang diri dan keberadaannya sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Tulisan ini berangkat dari pertanyaan: seperti apa orang Katolik harus memandang ruang publik? Kemudian, dimana tempat orang Katolik? Dapatkah orang Katolik menemukan nilai-nilai iman melalui interaksinya di ruang publik?
Jelajah Mengatasi Parokialisme Raymundus I Made Sudhiarsa
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ada sebuah cerita. Dua orang sahabat berjalan-jalan di hutan. Tiba- tiba mereka mendengar seekor singa mengaum keras. Salah seorang dari mereka segera memutar otak untuk mencari tempat berlindung bagi mereka berdua. Sedangkan yang lain cepat-cepat mengenakan sepatunya untuk lari. Yang pertama keheranan, lalu bertanya: “Kau buat apa? Apakah kau sangka bahwa kau bisa lari lebih cepat daripada singa?” Jawab sahabatnya dengan enteng: “Bukan itu! Aku tidak perlu lari lebih cepat daripada singa. Aku cuma perlu bisa lari lebih cepat daripada engkau!”
Menakar Peranagama Di Tengah Merebaknya Patologi Ruang Publik Pius Pandor
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diskursus terkait peran agama dalam ruang publik, merupakan sebuah diskursus paradoksal. Dikatakan paradoksal karena peran dan kehadiran agama yang sering kali berwajah ganda seperti wajah dewa Janus dari mitologi Romawi kuno yang darinyalah kata Januari berasal. Satu sisi melihat ke masa depan, siap menyongsong yang tak terduga dan yang sedang datang tetapi di sisi lain memandang ke belakang yaitu ke masa lalu, seakan tak mau meninggalkan yang silam.1 Persis seperti bulan Januari kita sadar bahwa hari-hari baru sudah tiba, tapi kenangan pada yang silam tetap enggan beranjak. Seperti dewa Janus itu pula wajah agama dalam ruang publik. Pada satu sisi agama menampilkan sinar pembebasannya karena ia merupakan tempat di mana orang menemukan kedamaian, kedalaman hidup, dan harapan yang kokoh. Namun di sisi lain, agama dipakai untuk melakukan diskriminasi, dijadikan sebagai ideologi politik, dan digunakan sebagai justifikasi atas tindakan kekerasan, bahkan sampai pada pembunuhan. Kita sendiri menyaksikan dan sejarah mencatat betapa besar andil agama dalam membakar kebencian dan meniupkan kecurigaan, membangkitkan salah pengertian, dan mengundang konflik.
Merawat Kebinekaan, Membumikan Pancasila (Refleksi Data Risetkondisi Kebebasan Beragama/ Berkeyakinan Dan Potret Toleransi)1 Halili Hasan
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebinekaan merupakan fakta alamiah sekaligus konsensus sosio- politik bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Pancasila hadir sebagai norma dasar, cita hukum (rechtsidee), dasar filosofis (philosofische gronslag), pandangan hidup (weltanschauung), ideologi nasional, dasar negara, serta sumber dari segala sumber hukum di Indonesia berhulu dari dan bermuara pada kebinekaan itu. Pancasila, dengan demikian, merupakan ideologi pluralis. Maka merawat kebinekaan dan membumikan Pancasila merupakan dua agenda yang harus diikhtiarkan dan diwujudkan dalam satu tarikan nafas. Namun demikian, implementasi Pancasila sekaligus penguatan kebinekaan Indone- sia bukanlah perkara mudah. Menurut Bung Karno, “Pancasila harus menjadi realiteit!”3 Menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam realitas tentu membutuhkan perjuangan yang simultan juga spartan.
Dosa Dan Pembebasan Dalam Sorotan Filsafat Agama Sermada Kelen Donatus
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tema hari studi tahun 2016 berhubungan dengan bulla Paus Fransiskus “Misericordiae Vultus” (Wajah Belaskasih) dan pencanangan Paus Fransiskus tahun 2016 sebagai tahun kerahiman ilahi. Seruan Paus ini ditujukan kepada umat Katolik sejagad untuk berorientasi pada Allah yang maha rahim sebagai sumber moral penghayatan hidup manusia kristiani. Karena Allah itu berbelaskasih dan maha rahim terhadap manusia lewat etika Yesus Kristus yang berbelaskasih, maka tindakan manusia kristiani dibangun di atas pemikiran teologis itu. Tetapi nomor 23 dari bula Paus Fransiskus itu berisikan perjumpaan sifat belaskasih kristiani secara khusus dengan sifat belaskasih yang ditemukan dalam tradisi agama monotheistis (Yudaisme dan Islam) dan ditemukan juga di dalam tradisi religius lain yang berharga. Filsafat agama mencoba merefleksikan dasar moral universal yang bisa digali dari tradisi agama-agama timur seperti Hinduisme, Buddhisme dan Konfusianisme. Ulasan di bawah ini bersifat filosofis, dan sifat belaskasih direfleksikan sebagai pembebasan, sementara kelemahan dan kekurangan manusia direfleksikan sebagai dosa dalam terang filsafat agama. Bagian terakhir artikel berbicara tentang nilai religius kerahiman ilahi dalam persaingannya dengan etika modern.
Trilogi Gerak Belas Kasih: Dosa, Pertobatan Dan Pengampunan (Sebuah Penelitian Fenomenologis Atas Karya Belas Kasih Romo Paul Jansen, Cm) Pius Pandor
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomenologi adalah sebuah cara mendekati realitas yang pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh Edmund Husserl. Orientasi dasarnya adalah menjadikan fenomenologi sebagai ilmu tentang kesadaran (science of consciousness). Seturut orientasi dasarnya ini fenomenologi merupakan sebuah cara untuk memahami realitas sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama. Dalam tataran ini, fenomenologi terkait dengan pengalaman subjektif manusia atas sesuatu. Dengan demikian, fenomenologi merupakan sebuah cara untuk memahami kesadaran yang dialami seseorang atas dunianya melalui sudut pandangnya sendiri atau dari sudut pandang orang pertama. Namun fenomenologi juga tidak mau terjatuh pada deskripsi perasaan semata karena yang ingin dicapainya adalah pemahaman akan pengalaman konseptual yang melampaui pengalaman inderawi itu sendiri. Pemahaman akan pengalaman tersebut mengantar kita untuk masuk dalam salah satu gagasan kunci dalam fenomenologi yaitu terkait makna (mean- ing). Setiap pengalaman manusia selalu memiliki makna. Manusia selalu memaknai pengalamannya akan dunia. Inilah yang membuat kesadarannya akan pengalaman yang unik atau khas. Dalam proses memaknai sesuatu, orang bersentuhan dengan dunia sebagai sesuatu yang teratur dan dapat dipahami. Dalam tataran ini, dunia dalam kajian fenomenologis merupakan sebuah kombinasi antara realitas yang dialami (dunia objektif) dengan proses orang memaknai realitas tersebut (dunia subjektif).
Mazmur 130: Mazmur Pertobatan Yang Ke-6 Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini berbicara tentang doa permohonan ampun dari Mzm 130. Teologi tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga kepada Tuhan. Itulah teologi yang sejati dan kitab Mazmur adalah salah satu buku Kitab Suci yang memiliki ciri semacam itu secara kuat. Dia tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga kepada Tuhan. Mazmur digunakan oleh Gereja setiap hari dalam ibadatnya. Gereja yang dalam liturginya mendidik anak-anaknya untuk berdoa menghitung 7 mazmur pertobatan yakni Mzm 6;32;38;51;102;130 dan 143.1 Dari ketujuh mazmur pertobatan ini, yang paling banyak digunakan Gereja ialah Mzm Mazmur ini digunakan oleh Gereja dalam ibadatnya setiap hari Jumat bila tidak ada pesta dalam Ibadat Akan tetapi, Mzm 130 juga menjadi cukup dikenal karena sudah sejak zaman dahulu biasanya didoakan pada salah satu peristiwa yang paling menyentuh hidup manusia yakni pada waktu merayakan kematian atau berdoa untuk arwah. Mengapa digunakan untuk arwah? Di samping untuk arwah Mzm 130 juga digunakan Gereja pada kesempatan yang bertolak belakang dengan kematian yaitu kelahiran, pada Ibadat Sore selama oktaf Natal. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?
Tulisan ini berbicara tentang doa permohonan ampun dari Mzm 130. Teologi tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga kepada Tuhan. Itulah teologi yang sejati dan kitab Mazmur adalah salah satu buku Kitab Suci yang memiliki ciri semacam itu secara kua Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGAMPUNAN termasuk salah satu tema yang berat. Berat karena kita hidup dalam dunia yang sulit mengampuni. Kita sendiri mungkin sulit mengampuni kesalahan sesama kita. Sulitnya mengampuni merupakan pengalaman banyak orang dan kiranya tidak perlu diberikan data-datanya di sini. Ada pengalaman-pengalaman yang amat memedihkan seperti pengkhianatan dalam cinta dan persahabatan, kebencian dan kekerasan, pemerkosaan, penghinaan dan masih banyak lagi. Semuanya itu bisa membawa dampak yang luar biasa pada jiwa manusia. Bagaimana saya bisa mengampuni orang yang telah melakukan hal itu terhadap saya atau terhadap orang-orang yang paling saya cintai? Kitab Suci sendiri telah memberi kesaksian tentang hal sulitnya mengampuni itu. Ada dua teks dalam Perjanjian Baru yang memberi kesaksian tentang hal ini. Keduanya terdapat dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Yang pertama, dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak tahu mengampuni (Mat 18:20-35) dan kedua, dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Tujuan tulisan ini ialah merenungkan kedua perumpamaan ini dan mendalami artinya bagi Gereja dewasa ini.

Page 8 of 29 | Total Record : 287