Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1 No 01 (2020)"
:
10 Documents
clear
KONSEP DASAR IPA BERBASIS STEM PJBL PADA KETERCAPAIAN DOMAIN AFEKTIF MAHASISWA PGMI STIT SUNAN GIRI BIMA
Prihatin, Relly
Fashluna: Jurnal Pendidikan Dasar dan Keguruan Vol 1 No 01 (2020)
Publisher : Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (358.282 KB)
|
DOI: 10.47625/fashluna.v1i01.214
This study aims to describe the effect of learning the basic concepts of science-based STEM in the affective domain on student achievement of PGMI. STEM-based education is a new education concept. STEM is not only have meaning as strengthening educational praxis in fields of STEM separately, but rather to develop an educational approach to the problems solving in daily life, and also about attitude, motivation, responsibility for the task, collaboration, etc. Affective Domain is an important domain that should be raised because they relate to the experiences of learners in the learning environment. Method of this study uses a qualitative approach with classroom action research (CAR). The results of the study in the first cycle resulted the scores for each stage was 80% in average with students’ lowest score of 60 and 45. In the second cycle score increases become very good about 90% with students’ highest score was 85 and the lowest score was 75.
IMPLEMENTASI KURIKULUM GANDA (KTSP DAN KURIKULUM 2013) DI MIN 5 BIMA PADA KELAS IV A
Jamiin, Jamiin
Fashluna: Jurnal Pendidikan Dasar dan Keguruan Vol 1 No 01 (2020)
Publisher : Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (327.77 KB)
|
DOI: 10.47625/fashluna.v1i01.215
Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya ketidaksesuaian antara buku guru dan buku peserta didik serta penyajian materi pada buku K13 yang masih minim pada kelas IV. Maka peneliti melakukan mini riset di MIN 5 Bima untuk mengetahui sejauh mana implementasi kurikulum 2013 dan bagaimana tanggapan guru tentang ketidaksesuaian materi pada kelas IV (buku guru maupun buku peserta didik) serta minimnya penyajian materi pada buku tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik analisis dokumen atau studi dokumenter, observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak tahun 2013-2014 untuk mini piloting pada kelas IV. Upaya yang dilakukan untuk menanggulangi ketidaksesuaian materi (buku guru dan buku peserta didik) serta penyajian materi yang masih terbatas sehingga sekolah menerapkan dua kurikulum yaitu Kurikulum 2006 (KTSP) dan Kurikulum 2013 yang terdiri dari berbagai tema. Hasil penelitian ini berdampak pada bagaimana menerapkan kurikulum ganda guna menciptakan generasi yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi serta dapat mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
ANALISIS KEMAMPUAN MASALAH DITINJAU DARI KEMAMPUAN PENALARAN SISWA KELAS V SD/MI PADA PEMBELAJARAN MATERMATIKA
Zumratun, Zumratun
Fashluna: Jurnal Pendidikan Dasar dan Keguruan Vol 1 No 01 (2020)
Publisher : Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (487.263 KB)
|
DOI: 10.47625/fashluna.v1i01.216
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari kemampuan penalaran siswa kelas V SD/MI pada pembelajaran matematika secara mendalam berdasarkan penalaran siswa yang dilihat dari aspek kognitifnya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan permasalahan atau soal matematika. Di satu sisi pemecahan masalah matematika penting, namun di sisi lain siswa sering mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah matematika. Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V. Untuk menganalisis data peneliti menggunakan model kualitatif deskriptif sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik analisis dokumen atau studi dokumenter. Adapun hasil analisis pada kemampuan masalah ditinjau dari kemampuan penalaran siswa kelas V SD/MI pada pembelajaran matematika adalah sudah mampu membedakan, mengurut, mengelompokkan, dan menyelesaikan suatu permasalahan atau persoalan secara logis. Namun, pada tahap ini penalaran siswa masih terbatas karena pada tahap ini kemampuan siswa mengarah ke operasional kongkrit. Dengan kata lain, siswa juga membutuhkan suatu yang nyata, fakta dan contoh yang kongkrit. Kemudian siswa juga memerlukan bimbingan maupun arahan dari guru supaya proses pembelajaran berjalan dengan optimal. Kata kunci: Analisis Kemampuan pemecahan masalah, Kemampuan Penalaran Siswa Pada Pembelajaran Matematika
COMPARISON OF HIGH LEVEL THINKING SKILLS AND BIOLOGY LEARNING OUTCOMES OF STUDENTS WHO LEARNED USING PROBLEM-BASED LEARNING MODEL AND DISCOVERY LEARNING MODEL OF GRADE X IPA STUDENTS AT MAN 2 IN BIMA CITY
Indriani, Irma
Fashluna: Jurnal Pendidikan Dasar dan Keguruan Vol 1 No 01 (2020)
Publisher : Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (399.886 KB)
|
DOI: 10.47625/fashluna.v1i01.217
This study employed quasi experiment which aimed at examining high level thinking skills who learned using problem-based learning model and discovery learning model on environmental change and waste recycling. The populations of the study were all learning groups of grade X IPA of the second semester at MAN 2 in Bima city of academic year 2017/2018. Samples were selected by employing purposive sampling technique. Data of the study were collected by using test methods in forms essays test for high level thinking skills. The results of the study reveal than (i) high level thinking skills of grade X IPA students at MAN 2 in Bima city who learned using problem-based learning model is better than the one using discovery learning, (ii) there is a difference between high level thinking skills of grade X IPA students at MAN 2 in Bima city who learned using problem-based learning model is better than the one using discovery learning.
POLA PENDIDIKAN AKHLAK DALAM PERSEPEKTIF PESANTREN
Idhar, Idhar
Fashluna: Jurnal Pendidikan Dasar dan Keguruan Vol 1 No 01 (2020)
Publisher : Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (683.182 KB)
|
DOI: 10.47625/fashluna.v1i01.219
Apabila ditilik secara sepesifik bahwa kerisis multi dimensi yang melanda Indonesia sebernanya bersumber pada menurunnya kualitas akhlak. Bila melihat kejadian-kejadian negatif yang melibatkan pelajar di Indonesia, misalnya saja tawuran antar pelajar yang tak kunjung usai, narkoba, bahkan kasus video mesum. Hal tersebut terjadi karena hilangnya nilai-nilai moralitas yang luntur akibat kurangnya kepedulian sekolah. Pesantren merupakan lembaga pendidik, tidak hanya mendidik para santri ilmu agama, melainkan juga membekalinya dengan akhlak yang menjadi karakter khas dari seorang santri. Tidak berlebihan ketika pesantren dikatakan sebagai sumber pendidikan karakter untuk menjawab persoalan bangsa. Kasus yang banyak terjadi pada siswa ialah karena kurangnya pendidikan karakter pada diri mahasiswa. Ciri khas pesantren dan sangat sulit ditiru oleh lembaga pendidikan lainnya adalah kuatnya penanaman akhlak-akhlak terpuji. Label ‘santri’ pun secara dzahir telah identik dengan keshalehan, baik itu secara individu maupun sosial. Hal ini wajar, karena pembiasaan aplikasi akhlak terpuji telah mendarah daging dalam dunia pendidikan pondok pesantren. Kyai sebagai sentral figur di dalamnya memberikan uswah dan qudwah hasanah dalam pendidikan akhlak. Karena penanaman akhlak lebih mengena dengan perbuatan daripada penjejalan materi di dalam kelas, maka pendidikan akhlak di pondok pesantren sangat mengena di benak para santrinya. Itu pulalah ternyata yang menginspirasi Kemendiknas untuk memasukan unsur-unsur pendidikan karakter di sekolah-sekolah, yang diakui terinspirasi dari pendidikan akhlak pondok pesantren. Tujuan dari pendidikan ialah meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang (Pasal 31 ayat 3) Dalam pasal ini dijelaskan bahwa tujuan dari pendidikan di Indonesia adalah bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia pada pelajar pada realitanya seperti jauh api dari panggang. Sistem pengajaran yang diberikan sekolah terhadap siswanya sebagian besar ialah hanya berorientasi kepada kecerdasan intelektual semata (intelegensia) sedangkan penanaman nilai-nilai karakter (character education) pada diri siswa sangat kurang sekali. Dalam tulisan ini saya membahas tentang bahasan mengenai pola pendidikan di pesantren, dan juga penanaman nilai-nilai dalam menuntut ilmu
KONSEP DASAR IPA BERBASIS STEM PJBL PADA KETERCAPAIAN DOMAIN AFEKTIF MAHASISWA PGMI STIT SUNAN GIRI BIMA
Relly Prihatin
FASHLUNA Vol 1 No 01 (2020)
Publisher : Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (358.282 KB)
|
DOI: 10.47625/fashluna.v1i01.214
This study aims to describe the effect of learning the basic concepts of science-based STEM in the affective domain on student achievement of PGMI. STEM-based education is a new education concept. STEM is not only have meaning as strengthening educational praxis in fields of STEM separately, but rather to develop an educational approach to the problems solving in daily life, and also about attitude, motivation, responsibility for the task, collaboration, etc. Affective Domain is an important domain that should be raised because they relate to the experiences of learners in the learning environment. Method of this study uses a qualitative approach with classroom action research (CAR). The results of the study in the first cycle resulted the scores for each stage was 80% in average with students’ lowest score of 60 and 45. In the second cycle score increases become very good about 90% with students’ highest score was 85 and the lowest score was 75.
IMPLEMENTASI KURIKULUM GANDA (KTSP DAN KURIKULUM 2013) DI MIN 5 BIMA PADA KELAS IV A
Jamiin Jamiin
FASHLUNA Vol 1 No 01 (2020)
Publisher : Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (327.77 KB)
|
DOI: 10.47625/fashluna.v1i01.215
Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya ketidaksesuaian antara buku guru dan buku peserta didik serta penyajian materi pada buku K13 yang masih minim pada kelas IV. Maka peneliti melakukan mini riset di MIN 5 Bima untuk mengetahui sejauh mana implementasi kurikulum 2013 dan bagaimana tanggapan guru tentang ketidaksesuaian materi pada kelas IV (buku guru maupun buku peserta didik) serta minimnya penyajian materi pada buku tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik analisis dokumen atau studi dokumenter, observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak tahun 2013-2014 untuk mini piloting pada kelas IV. Upaya yang dilakukan untuk menanggulangi ketidaksesuaian materi (buku guru dan buku peserta didik) serta penyajian materi yang masih terbatas sehingga sekolah menerapkan dua kurikulum yaitu Kurikulum 2006 (KTSP) dan Kurikulum 2013 yang terdiri dari berbagai tema. Hasil penelitian ini berdampak pada bagaimana menerapkan kurikulum ganda guna menciptakan generasi yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi serta dapat mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
ANALISIS KEMAMPUAN MASALAH DITINJAU DARI KEMAMPUAN PENALARAN SISWA KELAS V SD/MI PADA PEMBELAJARAN MATERMATIKA
Zumratun Zumratun
FASHLUNA Vol 1 No 01 (2020)
Publisher : Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (487.263 KB)
|
DOI: 10.47625/fashluna.v1i01.216
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari kemampuan penalaran siswa kelas V SD/MI pada pembelajaran matematika secara mendalam berdasarkan penalaran siswa yang dilihat dari aspek kognitifnya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan permasalahan atau soal matematika. Di satu sisi pemecahan masalah matematika penting, namun di sisi lain siswa sering mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah matematika. Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V. Untuk menganalisis data peneliti menggunakan model kualitatif deskriptif sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik analisis dokumen atau studi dokumenter. Adapun hasil analisis pada kemampuan masalah ditinjau dari kemampuan penalaran siswa kelas V SD/MI pada pembelajaran matematika adalah sudah mampu membedakan, mengurut, mengelompokkan, dan menyelesaikan suatu permasalahan atau persoalan secara logis. Namun, pada tahap ini penalaran siswa masih terbatas karena pada tahap ini kemampuan siswa mengarah ke operasional kongkrit. Dengan kata lain, siswa juga membutuhkan suatu yang nyata, fakta dan contoh yang kongkrit. Kemudian siswa juga memerlukan bimbingan maupun arahan dari guru supaya proses pembelajaran berjalan dengan optimal. Kata kunci: Analisis Kemampuan pemecahan masalah, Kemampuan Penalaran Siswa Pada Pembelajaran Matematika
COMPARISON OF HIGH LEVEL THINKING SKILLS AND BIOLOGY LEARNING OUTCOMES OF STUDENTS WHO LEARNED USING PROBLEM-BASED LEARNING MODEL AND DISCOVERY LEARNING MODEL OF GRADE X IPA STUDENTS AT MAN 2 IN BIMA CITY
Irma Indriani
FASHLUNA Vol 1 No 01 (2020)
Publisher : Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (399.886 KB)
|
DOI: 10.47625/fashluna.v1i01.217
This study employed quasi experiment which aimed at examining high level thinking skills who learned using problem-based learning model and discovery learning model on environmental change and waste recycling. The populations of the study were all learning groups of grade X IPA of the second semester at MAN 2 in Bima city of academic year 2017/2018. Samples were selected by employing purposive sampling technique. Data of the study were collected by using test methods in forms essays test for high level thinking skills. The results of the study reveal than (i) high level thinking skills of grade X IPA students at MAN 2 in Bima city who learned using problem-based learning model is better than the one using discovery learning, (ii) there is a difference between high level thinking skills of grade X IPA students at MAN 2 in Bima city who learned using problem-based learning model is better than the one using discovery learning.
POLA PENDIDIKAN AKHLAK DALAM PERSEPEKTIF PESANTREN
Idhar Idhar
FASHLUNA Vol 1 No 01 (2020)
Publisher : Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (683.182 KB)
|
DOI: 10.47625/fashluna.v1i01.219
Apabila ditilik secara sepesifik bahwa kerisis multi dimensi yang melanda Indonesia sebernanya bersumber pada menurunnya kualitas akhlak. Bila melihat kejadian-kejadian negatif yang melibatkan pelajar di Indonesia, misalnya saja tawuran antar pelajar yang tak kunjung usai, narkoba, bahkan kasus video mesum. Hal tersebut terjadi karena hilangnya nilai-nilai moralitas yang luntur akibat kurangnya kepedulian sekolah. Pesantren merupakan lembaga pendidik, tidak hanya mendidik para santri ilmu agama, melainkan juga membekalinya dengan akhlak yang menjadi karakter khas dari seorang santri. Tidak berlebihan ketika pesantren dikatakan sebagai sumber pendidikan karakter untuk menjawab persoalan bangsa. Kasus yang banyak terjadi pada siswa ialah karena kurangnya pendidikan karakter pada diri mahasiswa. Ciri khas pesantren dan sangat sulit ditiru oleh lembaga pendidikan lainnya adalah kuatnya penanaman akhlak-akhlak terpuji. Label ‘santri’ pun secara dzahir telah identik dengan keshalehan, baik itu secara individu maupun sosial. Hal ini wajar, karena pembiasaan aplikasi akhlak terpuji telah mendarah daging dalam dunia pendidikan pondok pesantren. Kyai sebagai sentral figur di dalamnya memberikan uswah dan qudwah hasanah dalam pendidikan akhlak. Karena penanaman akhlak lebih mengena dengan perbuatan daripada penjejalan materi di dalam kelas, maka pendidikan akhlak di pondok pesantren sangat mengena di benak para santrinya. Itu pulalah ternyata yang menginspirasi Kemendiknas untuk memasukan unsur-unsur pendidikan karakter di sekolah-sekolah, yang diakui terinspirasi dari pendidikan akhlak pondok pesantren. Tujuan dari pendidikan ialah meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang (Pasal 31 ayat 3) Dalam pasal ini dijelaskan bahwa tujuan dari pendidikan di Indonesia adalah bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia pada pelajar pada realitanya seperti jauh api dari panggang. Sistem pengajaran yang diberikan sekolah terhadap siswanya sebagian besar ialah hanya berorientasi kepada kecerdasan intelektual semata (intelegensia) sedangkan penanaman nilai-nilai karakter (character education) pada diri siswa sangat kurang sekali. Dalam tulisan ini saya membahas tentang bahasan mengenai pola pendidikan di pesantren, dan juga penanaman nilai-nilai dalam menuntut ilmu