cover
Contact Name
Dwi Wahyuni
Contact Email
dwiwahyuni@uinib.ac.id
Phone
+6281272162942
Journal Mail Official
al-adyan@uinib.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Mahmud Yunus Padang Kode Pos 25153
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Al-Adyan: Journal of Religious Studies
ISSN : 2745519X     EISSN : 2723682X     DOI : -
Al-Adyan: Journal of Religious Studies adalah jurnal ilmiah akademis yang diterbitkan oleh Program Studi (Prodi) Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang. Jurnal ini terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember yang mempublikasikan artikel berbasis hasil penelitian studi agama dalam ragam perspektif;perbandingan, sejarah, sosiologi, antropologi, fenomenologi, hubungan antar agama, multikulturalisme, serta isu-isu kontemporer lainnya. Al-Adyan: Journal of Religious Studies mengundang para penulis dan peneliti untuk menyumbangkan karya terbaik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2024)" : 7 Documents clear
Right of Religious Freedom and Belief (Case Studi Al-Zaytun Islamic Boarding School in Indramayu) Martalia, Martalia; Sabna, Anjali
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v5i1.8586

Abstract

 Freedom of religion and belief is a reality of life, where everyone is free to choose their religion or belief. However, this remains an unresolved issue in Indonesia. This article aims to examine the application and boundaries of the internal and external forums regarding freedom of religion and belief in Indonesia, highlighting the case of Al-Zaytun Islamic boarding school. The research employs a literature review method, followed by descriptive analysis of related studies. The findings indicate potential discrepancies in the implementation with principles outlined in internationally ratified covenants by Indonesia. Referring to the provisions of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), there exists freedom within internal and external forums. The internal forum pertains to the realm within an individual's mind or consciousness, acknowledging personal beliefs and religion as internal matters. Meanwhile, the external forum represents a dimension where freedom is manifested in actions and practiced collectively with others or in public spaces. Ratification by the state aims to uphold human rights and ensure fair legal protection for every individual.Kebebasan beragama dan berkeyakinan merupakan realitas kehidupan, dan setiap orang bebas memilih agama atau keyakinannya. Namun, ini masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk melihat penerapan serta batasan forum internum dan eksternum tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia dengan menyoroti kasus Pondok pesantren Al-Zaytun. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode literature review yang kemudian dianalisis secara deskriptif melalui data kajian yang berkaitan. Hasil studi ini menunjukkan dari kasus yang terjadi pada pondok pesantren Al-Zaytun, adanya potensi ketidaksesuaian penerapan dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam kovenan internasional yang telah di ratifikasi oleh Negara Indonesia. Merujuk pada ketetapan Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik (KIHSP) terdapat kebebasan dalam forum internal dan eksternal. Forum internal berada pada ruang yang ada dalam pikiran atau kesadaran individu. Forum ini mengakui keyakinan, dan agama yang merupakan urusan internal sifat pribadi seseorang. Sementara Forum eksternal merupakan suatu dimensi di mana kebebasan telah diwujudkan dalam tindakan dan dilaksanakan bersama-sama dengan orang lain atau di ruang publik. Pengesahan dari negara ini bertujuan untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia serta perlindungan hukum yang adil bagi setiap individu. 
Religious and Cultural Contestation in Strengthening The Role of Women Through Pedhalangan Art Arauf, Muta Ali
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v5i1.8550

Abstract

This article explores the contestation of religion and culture in the context of female puppeteers in Banyumas. Some young female puppeteers in Banyumas show their talent and interest in Wayang Golek performances performed by the Paguyuban Muda Banyumas to preserve existing local culture. This qualitative research uses data collection techniques through observation and interviews with the chairman and members of the Banyumas Young Dalang Art Association. The results of this study show that the role of women in the arts is interpreted from the point of view of religion and culture, so the dynamics are diverse. Religious and cultural contestation regarding the world of Pedhalangan Art provides ample opportunities for the Banyumas female puppeteer community to be more aggressive in facing the increasingly rampant Islamization fever that often marginalizes local culture, which is sometimes considered traditional and always synonymous with heresy. On the other hand, the phenomenon of female puppeteers played by young women in Banyumas is part of an effort to preserve ancestral culture that is increasingly fading on the surface. At least to preserve local culture, maintain and produce cultural products, create cultural agents, and strive to build national character.Artikel ini mengeksplorasi kontestasi agama dan budaya dalam konteks dalang perempuan di Banyumas. Beberapa dalang perempuan muda di Banyumas menunjukkan bakat dan minat mereka dalam pertunjukan wayang golek yang dilakukan oleh Paguyuban Muda Banyumas untuk melestarikan budaya lokal yang ada. Penelitian kualitatif ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara dengan ketua dan anggota Paguyuban Seni Dalang Muda Banyumas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam seni diinterpretasikan dari sudut pandang agama dan budaya, sehingga dinamikanya beragam. Kontestasi agama dan budaya terkait dunia seni pedhalangan memberikan peluang besar bagi komunitas dalang perempuan Banyumas untuk lebih agresif menghadapi demam Islamisasi yang semakin marak, yang seringkali meminggirkan budaya lokal yang terkadang dianggap tradisional dan selalu identik dengan bid'ah. Di sisi lain, fenomena dalang perempuan yang dimainkan oleh perempuan muda di Banyumas merupakan bagian dari upaya melestarikan budaya leluhur yang semakin memudar di permukaan. Setidaknya untuk melestarikan budaya lokal, memelihara dan menghasilkan produk budaya, menciptakan agen budaya, dan berupaya membangun karakter bangsa.
Religion and Modern Society: Criticism of Phil Zuckerman's Ideas on Religion Alfathoni, Waldi; Wijaya, Wijaya; Nugroho, Nugroho
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v5i1.7835

Abstract

 Phil Zuckerman, a prominent sociologist and professor at Pitzer College, California, explores the landscape of secularism in Denmark and Sweden through his empirical research. His work, particularly highlighted in "Society Without God", examines how this society functioned without significant religious influence. Zuckerman argues that secularism fosters ethical living and societal well-being, contrasting it with the perceived negative impacts of religious influence, such as intolerance. In this research, a comprehensive exploration of Phil Zuckerman was carried out analytically and critically regarding his ideas. The method used in this research is a qualitative method, with a hermeneutical analysis approach. The data collection technique uses literature or library research. The study found that while it received praise for its optimistic picture of a secular society, Zuckerman's views were criticized for oversimplifying complex social dynamics and the broader factors that influence societal conditions beyond religious observance.Phil Zuckerman, seorang sosiolog terkemuka dan profesor di Pitzer College, California, mengeksplorasi lanskap sekularisme di Denmark dan Swedia melalui penelitian empirisnya. Karyanya, khususnya yang disorot dalam "Society Without God” mengkaji bagaimana masyarakat ini berfungsi tanpa pengaruh agama yang signifikan. Zuckerman berpendapat bahwa sekularisme mendorong kehidupan etis dan kesejahteraan masyarakat, dibandingkan dengan dampak negatif pengaruh agama, seperti intoleransi. Studi ini melakukan eksplorasi analitis dan kritis yang mendalam terhadap ide-ide Phil Zuckerman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan pendekatan analisis hermeneutis. Teknik pengumpulan data melibatkan penelitian kepustakaan atau tinjauan pustaka. Studi ini menemukan bahwa meskipun gambaran optimis Zuckerman tentang masyarakat sekuler patut dipuji, pandangannya dikritik karena terlalu menyederhanakan dinamika sosial yang kompleks dan faktor-faktor lebih luas yang mempengaruhi kondisi masyarakat di luar ketaatan beragama.
Epistemology and Resistance to the Meaning of Religious Moderation in Islamic Boarding Schools Muhtador, Moh.; Shofaussamawati, Shofaussamawati; Rahman, Zaizul Ab
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v5i1.8368

Abstract

The concept of religious moderation has been widely promoted by the Ministry of Religious Affairs, but it has not fully reached pesantren, potentially leading to conflicts. This article aims to uncover the various meanings of moderation among the Santri and to examine the epistemological framework derived from the kitab kuning (classical Islamic texts). The exegesis-phenomenology method was used by asking the Santri for their views on religious moderation and confirming their behaviors to understand the sources and methods of their knowledge. The findings show that the meaning of religious moderation in pesantren is natural-adaptive, and its epistemology is characterized as Bayani-cognitive. This article contributes theoretically to understanding the various meanings of moderation in pesantren and practically to policy-making for the widespread dissemination of religious moderation in religious institutions.Gagasan moderasi beragama telah disebarkan secara luas oleh Kementerian Agama, namun belum sepenuhnya mencapai pesantren, ini berpotensi menimbulkan konflik. Artikel ini bertujuan mengungkap varian makna moderasi di kalangan santri dan meneliti bangunan epistemologi yang bersumber dari kitab kuning. Metode exegesis-fenomenologi digunakan dengan meminta pandangan santri tentang moderasi beragama dan mengkonfirmasi perilaku mereka untuk mengetahui sumber dan metode pengetahuan mereka. Temuan menunjukkan bahwa makna moderasi beragama di pesantren bersifat natural-adaptif dan epistemologinya bercorak bayani-kognitif. Artikel ini berkontribusi secara teoritis dalam memahami varian makna moderasi di pesantren dan secara praktis bagi kebijakan penyebaran moderasi beragama di lembaga keagamaan.
The Function and Social Value of Death Rituals: A Comparative Study of Confucian and Muslim Traditions Putra, Aqiel Sifa' Abdallah
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v5i1.8517

Abstract

The purpose of this research is to uncover the similarities and differences between the Ceng Beng and Grave Pilgrimage rituals and their impact on societal dynamics. Additionally, it highlights how these rituals create sacred and profane spaces for the community. Equally important, the study examines the social functions and values inherent in these rituals.The qualitative research method is used to collect data in the literature review with a descriptive analysis and comparative approach. Then it is analyzed using Durkheim's life cycle ritual theory. This article demonstrates that although the two death rituals have similarities and differences, they provide an understanding of the sacred and profane aspects within the ritual life cycle. Beyond their sacred aspects, the profane elements of these rituals play a significant role in the social functions and values of society, such as affection, family harmonization, reminders of mortality, filial piety, solidarity, and tolerance. The Ceng Beng and Ziarah Kubur rituals indicate that they are not only religious obligations but also social obligations within community life.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap persamaan dan perbedaan antara ritual Ceng Beng dan Ziarah Kubur, serta dampaknya pada dinamika masyarakat. Selain itu juga menyoroti bagaimana kedua ritual tersebut menciptakan ruang sakral dan profan bagi masyarakat. Tidak kalah penting fungsi sosial dan nilai-nilai dalam ritual tersebut juga tidak luput dalam kajian ini. Metode penelitian kualitatif menjadi pegangan dalam mengambil data-data dalam studi pustaka dengan pendekatan deskriptif analisis dan komparatif. Kemudian dianalisis menggunakan teori ritual life cycle oleh Durkheim. Artikel ini menunjukkan bahwa kedua ritual kematian, meskipun memiliki persamaan dan perbedaan, memberikan pemahaman tentang aspek sakral dan profan dalam siklus kehidupan ritual. Selain aspek sakral, aspek profan dari ritual-ritual ini memainkan peran penting dalam fungsi sosial dan nilai-nilai masyarakat, seperti kasih sayang, harmonisasi keluarga, pengingat kematian, bakti kepada orang tua, solidaritas, dan toleransi. Ritual Ceng Beng dan Ziarah Kubur menunjukkan bahwa keduanya tidak hanya merupakan kewajiban agama, tetapi juga kewajiban sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Dari Kegalauan Hingga Kedamaian: Tarekat Sammaniyah dalam Dekapan Milenial Minangkabau Khairiyah, Ulfa; Ashadi, Andri; Makhsus, Makhsus
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v5i1.8446

Abstract

Even though millennials have begun to utilize social media platforms to learn and explore religion, some of them still join tarekat. This article will explain the factors why some millennials join the Sammaniyah tarekat and what practices they practice in the tarekat. This study uses a qualitative approach that relies on data sources from observations and interviews with the murshid of the Sammaniyah tarekat and several millennials who are followers in West Pasaman Regency. The results of the study show that the motivations for millennials to join the Sammaniyah order include deepening religious knowledge with the guidance of the teacher/mursyid, seeking peace in life, and seeking the true nature of faith. For millennials and all congregations of the Sammaniyah order, there are several practices that must be followed, first, the practices carried out before becoming a student of the Sammaniyah order include conducting muzakarah with the murshid of the Sammaniyah order, taking a repentance bath and praying sunnah repentance, saying the pledge and staying in the Sammaniyah order surau for several days. The second practice after becoming a student of the Sammaniyah tarekat, including performing fardu prayers and increasing dhikr, both dhikr jahar and dhikr khofi. In addition to carrying out core practice activities, Sammaniyah tarekat students also have an agenda of other activities such as performing Friday prayers in congregation at the Sammaniyah tarekat surau, eating together on Fridays, gathering together in the recruitment of new congregants, conducting recitations and gatherings on other Islamic holidays.Sekalipun generasi milenial telah mulai memanfaatkan platform media sosial untuk mempelajari dan mendalami agama, namun sebagiannya masih bergabung sebagai jamaah tarekat. Artikel ini menjelaskan faktor-faktor mengapa sebagian generasi milenial bergabung dengan tarekat Sammaniyah dan amalan apa yang mereka praktikan dalam tarekat tersebut. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif yang mengandalkan sumber data dari hasil observasi dan wawancara dengan mursyid tarekat Sammaniyah dan beberapa generasi milenial yang menjadi pengikutnya di Kabupaten Pasaman Barat. Hasil  studi memperlihatkan bahwa motivasi kalangan milenial untuk mengikuti perguruan tarekat Sammaniyah di antaranya untuk memperdalam ilmu agama dengan bimbingan guru/mursyid, mencari kedamaian hidup, dan mencari hakikat iman yang sesungguhnya. Bagi  para milenial dan seluruh jemaah tarekat Sammaniyah ada beberapa amalan yang harus diikuti, pertama amalan sebelum menjadi murid seperti melakukan muzakarah dengan mursyid perguruan tarekat Sammaniyah, mandi taubat dan shalat sunnah taubat, pengucapan ikrar serta berdiam di surau tarekat selama beberapa hari. Kedua amalan pasca menjadi murid tarekat Sammaniyah, di antaranya melaksanakan shalat fardu dan memperbanyak zikir, baik zikir jahar maupun zikir khofi. Di samping melaksanakan amalan inti, murid tarekat Sammaniyah juga memiliki agenda kegiatan-kegiatan lainnya seperti melaksanakan shalat Jum’at berjamaah di surau tarekat Sammaniyah, makan bersama di hari Jum’at, kumpul bersama dalam kegiatan penerimaan jemaah baru, melakukan pengajian dan perkumpulan pada hari-hari besar Islam lainnya.
Agency, Accommodation, and Acculturation in the Space of American Muslim Women Madonna, Susan
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v5i1.8447

Abstract

This article aims to examine how immigrant Muslim women strive to create a space of recognition in American mosques. Based on selected books and articles that provide data on the agency, accommodation, and acculturation of American Muslim women in the context of the mosque as a religious center, this research reveals that immigrant Muslim women in America often show higher levels of participation in mosque services and activities compared to their counterparts in their countries of origin. Even in a progressive mosque in Cape Town, a woman was invited to deliver the Friday sermon, which is typically conducted by a male imam. While accommodation is clearly evident in the initiatives of agents, architects, and mosque designers in America who strive to meet the needs of women in future mosque constructions, mosques are also believed to play a crucial role in facilitating the acculturation process of immigrant Muslim women into the host society. In practice, immigrant community leaders and religious authorities interpret Islam in a futuristic and integrative manner, viewing the mosque as an evolving entity that grows and adapts to changing environments, thus effectively bridging its congregants with the broader society.Artikel ini bertujuan untuk melihat bagaimana perempuan Muslim imigran berupaya menciptakan ruang pengakuan di masjid-masjid Amerika. Berdasarkan buku-buku dan artikel-artikel terpilih yang memberikan data tentang agensi, akomodasi, dan akulturasi perempuan Muslim Amerika dalam konteks masjid sebagai pusat keagamaan, penelitian ini mengungkapkan bahwa perempuan Muslim imigran di Amerika seringkali menunjukkan tingkat partisipasi yang lebih tinggi dalam layanan dan kegiatan masjid dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di negara asal. Bahkan di sebuah masjid progresif di Cape Town, seorang perempuan diundang untuk menyampaikan khotbah Jumat, yang biasanya dilakukan oleh imam laki-laki. Sementara akomodasi terlihat jelas dalam inisiatif para agen, arsitek, dan perancang masjid di Amerika yang berupaya mengakomodasi kebutuhan perempuan dalam pembangunan masjid di masa depan. Selain itu, masjid diyakini memainkan peran penting dalam memfasilitasi proses akulturasi perempuan Muslim imigran ke dalam masyarakat tuan rumah. Dalam praktiknya, para pemimpin komunitas imigran dan otoritas agama menafsirkan Islam secara futuristik dan integratif, memandang masjid sebagai entitas yang berevolusi, tumbuh, dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, sehingga secara efektif menjembatani jamaahnya dengan masyarakat yang lebih luas.

Page 1 of 1 | Total Record : 7