cover
Contact Name
M. Djaswidi Al Hamdani
Contact Email
tsamratul.fikri@gmail.com
Phone
+6289526014568
Journal Mail Official
tsamratul.fikri@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kiai Ahmad Fadlil No. 8 Ciamis Jawa Barat Indonesia 46271
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Tsamratul Fikri (TF)
ISSN : 20865546     EISSN : 28076265     DOI : -
Tsamratul Fikri adalah jurnal yang diterbitkan oleh Asosiasi Mahasiswa Program Pascasarjana, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Jawa Barat, yang memuat karya ilmiah kajian konseptual maupun karya hasil penelitian ilmiah di bidang kajian Islam, khususnya di bidang pendidikan Islam.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 12 No 1 (2018): Januari-Juni 2018" : 7 Documents clear
Budaya Pondok Pesantren YAMISA Soreang Bandung dalam Membangun Kemandirian Karakter Santri Saparudin, Hery
Tsamratul Fikri | Jurnal Studi Islam Vol 12 No 1 (2018): Januari-Juni 2018
Publisher : Asosiasi Mahasiswa Program Pascasarjana | Institut Agama Islam Darussalam | IAID | Ciamis | Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren is basically a traditional Islamic education where the students lived with and studied under the guidance of one (or more) teachers are better known as kyai. Although pesantren was considered traditional, but still exist and survive in modern age and global era. Obviously because this institution has its own characteristics and maintain institutional elements that have formed since former. The characteristics of education in pesantren classified to two: (1) the general pattern of education, which are pesantren institutions introducing levels, from that teach simple texts until sublime pesantren that teach high level texts. (2) Teaching systems are the sorogan system and bandongan system. As for the institutional elements in pesantren are cottage, mosques, students, kyai, classical Islamic books
Al-Tadzkîr wa al-Ta’nîts li Bina’î al-Jumlah fî al-Siyâq al-Qur’âni: Dirâsah Nahwiyyah Dilâliyyah wa Ma’ânîha fî al-Qur’ân al-Karîm Al-Fauzi, Cecep Moch Ramli
Tsamratul Fikri | Jurnal Studi Islam Vol 12 No 1 (2018): Januari-Juni 2018
Publisher : Asosiasi Mahasiswa Program Pascasarjana | Institut Agama Islam Darussalam | IAID | Ciamis | Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada hakikatnya kemukjizatan Al-Quran terkandung disetiap lafadz dan makna. Salah satu aspek dari wujud kemukjizatan yang nampak adalah struktur kalimat tadzkîr dan ta’nîst dalam konteks Al-Quran berbeda-beda, oleh karena itu jika dianalisis dengan kajian semantik sintaksis akan mendapatkan makna-makna kontekstual. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui konsep tadzkîr dan ta’nîst dan bentuk-bentuk dari keduanya dalam Al-Quran serta mengetahui makna kontekstual yang terkandung didalamnya. Hal yang nampak dari keduanya terbagi ke dalam empat bentuk diantaranya: Kata kerja yang bisa mudzakkar dan mu’annats, maka subjeknya berbentuk jama’ taksîr, jama’ mu’annats salîm, isim jama’ dan mu’annats majazî. Terdapat makna-makna kontekstual yang berbeda-beda, diantaranya, jika kata kerjanya mudzakkar maka makna subjeknya menunjukan perintah yang bersifat umum, ibadah, larangan, petunjuk, tanda-tanda, konteks akhir dan siksa di akhirat, dan jika kata kerjanya mu’annats, maka makna subjeknya menunjukan kekhususan, konteks manusia, jama‘ qillah dan katsrah, mukjizat di dunia, siksa di dunia, kebahagiaan di akhirat.
Konsep Etika Belajar Mengajar Dalam Persfektif Islam Taufiqurrohman, Ofik; Handayani, Tri
Tsamratul Fikri | Jurnal Studi Islam Vol 12 No 1 (2018): Januari-Juni 2018
Publisher : Asosiasi Mahasiswa Program Pascasarjana | Institut Agama Islam Darussalam | IAID | Ciamis | Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam proses belajar dan mengajar, etika dalam kaitannya dengan belajar mengajar bertujuan mengarahkan bagaimana proses belajar dan mengajar yang sebenarnya, tentu saja dengan adanya rujukan yang jelas, maka diharapkan dapat menghasilkan out put yang maksimal terutama para anak didik yang berilmu sekaligus beriman dan beretika. Etika Islam yang dikenal dengan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan sebagai aktualisasi dari Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi Muhammad saw. Etika belajar mengajar dalam pandangan Islam merupakan sikap mencari ridha Allah, membantu manusia dalam mengambil sebuah tindakan mana dan apa yang harus dilakukan dan apa yang hendaknya dijauhi. Etika dalam proses belajar mengajar secara jelas dapat kita simpulkan sebagai pemilihan sikap dalam proses belajar mengajar yang sangat menentukan hasil dari pendidikan (belajar mengajar).
Makna Puisi Zuhdiyyât Abû Nuwâs: Kajian Semiotika Riffaterre Julaihah, Elis Siti
Tsamratul Fikri | Jurnal Studi Islam Vol 12 No 1 (2018): Januari-Juni 2018
Publisher : Asosiasi Mahasiswa Program Pascasarjana | Institut Agama Islam Darussalam | IAID | Ciamis | Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap karya sastra yang diciptakan tidaklah berarti apa-apa bila tidak ada peran pembaca untuk memaknainya, khususnya yang dilakukan dalam penelitian ini, yakni pemaknaan puisi Zuhdiyyât Abû Nuwâs yang terhimpun dalam Dîwânu Abî Nuwâs yang disusun oleh Ahmad ‘Abdul-Majîd al-Gazâly. Dalam pemaknaan tersebut diperlukan identifikasi terhadap tanda-tanda yang muncul dalam teks puisi. Oleh sebab itulah, dibutuhkan teori semiotik yang menganggap karya sastra (puisi) sebagai sebuah sistem tanda. Teori semiotik yang dikemukakan Michael Riffaterre dipilih dalam penelitian ini karena dianggap mampu mengungkap makna yang terkandung dalam puisi. Puisi menyatakan suatu hal yang mengandung arti bukan seperti yang diungkapkan dalam bait-bait puisi, tetapi mengandung sesuatu yang lain. Untuk mengungkap makna yang terkandung dalam lima puisi yang diteliti, yaitu puisi Âsifun ‘alal-Mâdy, Afirru Ilayka Minka, an-Nafsu wad-Dunyâ, Allâhu A‘lâ, dan Tadarraʻa, diaplikasikan dua pembacaan semiotik yaitu pembacaan heuristik dan hermeneutik. Dalam pembacaan heuristik dilakukan pembacaan sesuai konvensi bahasa. Adapun dalam pembacaan hermeneutik dimulai dengan pencarian hipogram potensial, identifikasi matriks, model, dan varian, kemudian ditelusuri hipogram aktual yang menjadi latar penciptaan masing-masing puisi. Berdasarkan pembacaan heuristik ditemukan arti yang heterogen, yang belum cukup untuk memahami makna puisi secara utuh. Melalui pembacaan heurmeneutik ditemukan lima makna puisi, yaitu khawf, raja`, zuhud, fana dan baqa`, dan tobat. Kelima makna ini mengandung indikasi tasawuf, dapat pula dikatakan sebagai embrio tasawuf sunni/ akhlaki yang kemudian dikembangkan oleh para tokoh sufi setelahnya.
Teks-teks Keagamaan dalam Cinta Kontroversial Yusuf dan Zulaikha Karya Molla Nuruddin ‘Abdurrahman Jami: Kajian Resepsi Intertekstual Julaihah, Elis Siti
Tsamratul Fikri | Jurnal Studi Islam Vol 12 No 1 (2018): Januari-Juni 2018
Publisher : Asosiasi Mahasiswa Program Pascasarjana | Institut Agama Islam Darussalam | IAID | Ciamis | Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kisah cinta Ysuf dan Zulaikha begitu populer, tidak hanya di kalangan muslim karena dalam kitab suci lain—Injil, Taurat—pun terdapat kisah serupa meskipun tidak seluruhnya sama. Kisah cinta Yusuf dan Zulaikha mendapat sambutan yang luar biasa dari berbagai negara dan kalangan muslim, baik dari muslim puritan maupun muslim pada umumnya. Penelitian ini akan mengulas bagaimana sambutan CKYZ terhadap kisah nabi Yusuf yang memuat berbagai teks-teks keagamaan. Oleh sebab itu, teori yang digunakan ialah teori resepsi yang membicarakan peran pembaca dalam menyambut suatu karya. Dalam memandang suatu karya, faktor pembaca sangat menentukan karena makna teks antara lain ditentukan oleh pembaca. Makna teks bergantung pada situasi historis pembaca dan sebuah teks hanya dapat mempunyai makna setelah teks itu dibaca. Adapun informasi tambahan bagi pembaca yang diberikan pengarang, sebagai cara untuk lebih memahami kisah nabi Yusuf as, di antaranyakKisah kehidupan Zulaikha yang tidak banyak diungkap dalam tafsir al-Misbah, tetapi diungkap dengan gamblang oleh pengarang CKYZ. Kisah penganiayaan yang dilakukan saudara-saudara Yusuf tidak diterangkan dalam tafsir, tetapi dgambarkan dalam CKYZ sehingga tampak bahwa saudara-saudara Yusuf sangat tidak menyukainya. Penjulan Yusuf di pasar budak dalam tafsir dikatakan harganya sangat murah, hal ini bertentangan dengan kisah yang terdapat dalam CKYZ.
Al-Matâ‘ dalam al-Qur’an: Kajian Term Perhiasan Perspektif Mufasirin Sulastri, Sulastri
Tsamratul Fikri | Jurnal Studi Islam Vol 12 No 1 (2018): Januari-Juni 2018
Publisher : Asosiasi Mahasiswa Program Pascasarjana | Institut Agama Islam Darussalam | IAID | Ciamis | Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam tulisan ini diuraikan secara singkat makna term al-matâ‘ dalam al-Qur’an surat al-Imran ayat 14 dan bagaimana pandangan para mufasir terhadap terma tersebut. Hasil penelitian penulis diketahui bahwa mufassir sepakat memakai term al-matâ‘ dengan makna segala kesenangan yang indah dan memikat untuk dimiliki dan hanya bersifat sementara. Kesenangan yang dimaksud ayat itu adalah wanita, anak, emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan ladang merupakan anugerah Allah. Namun, jika hal tersebut digunakan sesuai dengan ketentuannya untuk memperindah kehidupan secara wajar. Sebaliknya, bisa menjadikan fitnah bagi pemiliknya jika terpengaruh dengan ajakan setan dan menggunakannya sebagai sarana kemaksiatan. Allah memiliki yang lebih baik dari hiasan dunia yakni surga yang abadi.
Homoseksualitas Perspekttif Budaya dan Agama Niskaromah, Niskaromah
Tsamratul Fikri | Jurnal Studi Islam Vol 12 No 1 (2018): Januari-Juni 2018
Publisher : Asosiasi Mahasiswa Program Pascasarjana | Institut Agama Islam Darussalam | IAID | Ciamis | Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengupas sudut pandang agama dan Budaya terkait dengan faktor pemicu kemunculan homoseksualitas. Teori Freud menyatakan bahwa semua manusia akan mengalami fase homoseksualitas (homoerotic) dalam proses mencapai heteroseksusl. Orang yang bertahan pada fase homoerotic tersebut yang akan mempunyai kecenderungan pada homoseksualitas. Teori lain mengatakan bahwa homoseksual bukanlah murni inherent semenjak lahir, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan. Agama memberikan statemen haram pada masalah homoseksual, pelakunya dijatuhi hukuman yang sangat berat. Namun, pendekatan-pendekatan secara persuasif perlu dilakukan agar perilaku tersebut dapat dikembalikan sesuai fitrahnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 7