cover
Contact Name
Ferry Purnama
Contact Email
jurnalkharis@gmail.com
Phone
+6285959999152
Journal Mail Official
jurnalkharis@gmail.com
Editorial Address
Jln. Mekar Laksana no 8, Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi
ISSN : 27226433     EISSN : 27226441     DOI : -
Fokus dan Scope Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi adalah: Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Teologi Kontemporer, Teologi Praktika, Teologi Pastoral, Teologi Kontekstual
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2022): DESEMBER" : 5 Documents clear
Menyuarakan Ekuasi Terhadap Kaum Disabilitas di Dalam Gereja Berdasarkan Kitab Ulangan 23:1-8 Harefa, Melinia Juantri
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 3, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v3i2.89

Abstract

Misunderstanding of Bible verses often occurs because they are taken literally, without considering the context of the verse that was written. As a result, the essence of God's Word is often not captured properly, and often results in loss. Therefore, the writer uses a historiographic-critical approach, namely by paying attention to the historical and cultural aspects at the time the verse was written, which then provides a more critical rereading of one of the Bible verses of the legal genre, namely Deuteronomy 23:1-8, concerning those who cannot enter the congregation of the LORD. The result of the research is that this verse cannot be used as a basis for belief in rejecting people with disabilities who want to contribute to the church. It is the church that must speak out for these qualities. This voicing is supported by the fact that this verse only applies at the time the book was written, which is around 1405 BC, so it cannot be applied today. This law was not addressed directly to persons with disabilities, but to people who at that time carried out deviant practices that made them unworthy before God. Kesalahpahaman terhadap ayat-ayat Alkitab sering terjadi karena diartikan secara harfiah, tanpa mempertimbangkan konteks dari ayat yang ditulis.[1] Akibatnya, esensi dari Firman Tuhan sering tidak ditangkap dengan benar, dan tidak jarang mengakibatkan kerugian. Karena itu, penulis menggunakan metode pendekatan historiografi-kritis, yaitu dengan memperhatikan aspek historis dan budaya pada saat ayat tersebut ditulis, yang kemudian, memberikan pembacaan ulang yang lebih kritis terhadap salah satu ayat Alkitab bergenre hukum, yaitu Ulangan 23:1-8, tentang orang yang tidak boleh masuk Jemaah TUHAN. Hasil penelitiannya adalah, ayat ini tidak bisa dijadikan landasan keyakinan untuk menolak kaum disabilitas yang ingin berkontribusi dalam gereja. Justru gerejalah yang harus menyuarakan ekualitas tersebut. Penyuaraan ini didukung oleh kenyataan bahwa ayat ini hanya berlaku pada masa kitab itu ditulis, yaitu sekitar tahun 1405 SM, sehingga tidak bisa diterapkan di masa sekarang. Hukum ini pun tidak ditujukan kepada penyandang disabilitas secara langsung, melainkan kepada orang-orang yang pada saat itu melakukan praktek penyimpangan yang mengakibatkan mereka tidak layak di hadapan Allah.
Makna Kekudusan Hidup Menurut Imamat 19:2 Dan Implementasinya Bagi Kehidupan Rohani Persekutuan Pemuda Gereja Toraja Jemaat Sion Tiakka’ Tapparan, Resvin; Tapingku, Joni; Lilo, Deflit Dujerslaim
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 3, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v3i2.102

Abstract

The problem of holiness of life among young people is often in the spotlight. The young generation is vulnerable to an attitude of life that does not reflect holiness. The holiness of life itself is emphasized in Leviticus 19:2 which is God's command to His people. To explore this research, the author will use qualitative research methods. Through literature study, the author conducted grammatical analysis while field research was conducted by means of observation and interviews. After doing research, the writer found that First, the meaning of the holiness of life stated in Leviticus 19:2 is related to God's commandments and the life principles of believers, both concerning moral matters and status before God. Second, the members of the Toraja Church Youth Fellowship (PPGT) of the Sion Tiakka' Congregation, Klasis Ulusalu have not understood and implemented the behavior of living in holiness according to God's will. Therefore, the meaning of the holiness of life based on Leviticus 19:2 can be applied to PPGT members of the Sion Tiakka Congregation in order to create a paradigm pattern and a holy life behavior. Permasalahan kekudusan hidup di kalangan anak muda sering menjadi sorotan. Generasi muda rentan dengan sikap hidup yang tidak mencerminkan kekudusan. Kekudusan hidup itu sendiri ditekankan dalam kitab Imamat 19:2 yang merupakan perintah Allah kepada umat-Nya. Untuk mendalami penelitian ini, Penulis akan menggunakan metode penelitian kualitatif.  Melalui studi kepustakaan, penulis melakukan analisis gramatikal sedangkan penelitian lapangan dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Setelah melakukan penelitian, penulis menemukan bahwa Pertama, makna kekudusan hidup yang dinyatakan di dalam Imamat 19:2 berkaitan dengan perintah Allah dan prinsip hidup orang percaya baik yang menyangkut urusan moral maupun status di hadapan Allah. Kedua, para anggota Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) Jemaat Sion Tiakka’, Klasis Ulusalu belum memahami dan menerapkan perilaku hidup dalam kekudusan sesuai kehendak Allah. Karena itu, makna kekudusan hidup berdasarkan Imamat 19:2 dapat diterapkan kepada anggota PPGT Jemaat Sion Tiakka’ agar terciptanya pola paradigma dan perilaku hidup yang kudus.
Sudut Pandang Etika Kristen Terhadap Pembunuhan Aulia, Normando Justine; Simanjuntak, Ferry; Cristian, Lemuel Anugerah; Howardy, Kenny Gracia
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 3, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Murder is an act that is rife, both in Indonesia and in all parts of the world, and occurs due to various factors. In the Bible itself there is a clear command from God to “thou shalt not kill,” but are there exceptions for certain types of killing? This work was written to look at the act of murder from the perspective of Christian ethics as well as to find universal guidelines that apply to all types of murder. The conclusion obtained is that there are various factors causing the murder. By law, murder is an act deserving of severe punishment, with the exception of certain types of murder. Christian ethics defines murder as a violation of God's authority. Pembunuhan merupakan tindakan yang marak terjadi, baik di Indonesia maupun di seluruh belahan dunia, dan terjadi oleh karena berbagai faktor. Di dalam Alkitab sendiri terdapat perintah yang jelas dari Allah untuk “jangan membunuh”, namun apakah terdapat pengecualian bagi jenis-jenis pembunuhan tertentu? Karya ini ditulis untuk melihat tindakan pembunuhan dari sudut pandang etika Kristen sekaligus untuk mendapati pedoman universal yang berlaku bagi semua jenis pembunuhan dasar teori dan pembahasan disusun berdasarkan metode Deskriptif Kualitatif sedangkan pengumpulan data menggunakan metode Studi Pustaka. Kesimpulan yang didapatkan ialah terdapat beragam faktor penyebab pembunuhan. Secara hukum, pembunuhan merupakan tindakan yang patut diberi hukuman berat, dengan pengecualian jenis pembunuhan tertentu. Etika Kristen menyatakan pembunuhan sebagai pelanggaran terhadap otoritas Tuhan.
Tujuan Mazmur Kutukan (Mazmur 83): Sebuah Upaya Memahami Mazmur Kutukan Halawa, Ririn Valentina; Harefa, Yaaro
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 3, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Psalm of Curse is a psalm of revenge. But this Psalm raises ethical problems for humans because it contradicts God's Love. The purpose of this article is for people to understand the Curse Psalms properly. In this case, the method used is the exposition method. To explain that the psalm of curses does not contradict the law of love, the author concludes that psalm 83, can provide the first understanding, to find the enemy of God's Name. Second, knowing the enemy knows Allah. Thus, the cursed Psalms can be used to support humans with the aim of implementing prayer of warning and rebuke. Thus man knows God and realizes God. Mazmur Kutukan adalah mazmur balas dendam. Namun Mazmur ini menimbulkan masalah etika bagi manusia karena bertentangan dengan Kasih Tuhan. Tujuan artikel ini adalah agar orang-orang memahami Mazmur Kutukan dengan benar. Dalam hal ini metode yang digunakan adalah metode eksposisi. Untuk menjelaskan bahwa mazmur kutukan tidak bertentangan dengan hukum cinta, penulis menyimpulkan bahwa mazmur 83, dapat memberikan pemahaman pertama, untuk menemukan musuh Nama Tuhan. Kedua, mengetahui musuh mengenal Allah. Dengan demikian, Mazmur terkutuk dapat digunakan untuk mendukung manusia dengan tujuan melaksanakan doa peringatan dan teguran. Dengan demikian manusia mengenal Tuhan dan menyadari Tuhan.
Sistem Pemerintahan Pastoral Sinodal Dan Implikasinya Bagi Hamba Tuhan Sidianto, Daniel; Hermanto, Yanto Paulus; Abraham, Rubin Adi
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 3, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

History records that there are several systems of Church government namely: First, the system of government of the Episcopal Church; second, The system of government of the Presbyterian Church; third, the system of government of the Congregational Church; Fourth, There is no system of Church government. All its management activities move by relying on the Holy Spirit. P there was a session of the GBI Synod in 2021 which it was stated that the Indonesian Bethel Church (GBI) stated that it adheres to the system of government of the Synodal Pastoral Church.  The system of government of the Synodal Pastoral Church is a system of Church government that gives autonomous rights to the pastors of the congregation to administer their local Church.  What is the biblical basis of the Synodal Pastoral Church's system of government? It is this policy that has implications for the decision of the pastors of the local Church congregation to remain faithful to join this GBI synod until its old age because its leadership can be passed on to the next generation in accordance with the expectations of the pastors of the local Church congregation.  With the loyalty of the congregational pastors, it will lead to the enlargement of the second largest GBI synod in Indonesia. Sejarah mencatat ada beberapa sistem pemerintahan Gereja yaitu: Pertama, Sistem pemerintahan Gereja Episkopal; kedua, Sistem pemerintahan Gereja Presbiterian; ketiga, sistem pemerintahan Gereja Kongregasional; Keempat, Tidak ada sistem pemerintahan Gereja. Semua aktifitas manajemennya bergerak dengan mengandalkan Roh Kudus. Pada sidang Sinode GBI tahun 2021 yang lalu telah dicetuskan bahwa Gereja Bethel Indonesia (GBI) menyatakan menganut sistem pemerintahan Gereja Pastoral Sinodal. Sistem pemerintahan Gereja Pastoral Sinodal adalah sistem pemerintahan Gereja yang memberikan hak otonom kepada para gembala sidang untuk mengelola Gereja lokalnya. Bagaimanakah landasan Alkitab sistem pemerintahan Gereja Pastoral Sinodal? Kebijakan inilah yang berimplikasi kepada keputusan para gembala sidang Gereja lokal untuk tetap setia bergabung dalam sinode GBI ini hingga masa tuanya karena kepemimpinannya dapat diturunkan kepada generasi selanjutnya yang sesuai dengan harapan gembala sidang Gereja lokal. Dengan adanya kesetiaan para gembala sidang maka akan berujung pada pembesaran sinode GBI terbesar kedua di Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 5