cover
Contact Name
Bangun I R Harsritanto
Contact Email
bangunirh@arsitektur.undip.ac.id
Phone
+6281229999446
Journal Mail Official
jpps@arsitektur.undip.ac.id
Editorial Address
architecture campuss, faculty of engineering, Universitas Diponegoro, Jl Prof Soedarto SH, Tembalang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Poster Pirata Syandana
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27156397     DOI : -
Jurnal Poster Pirata Syandana (ISSN : 2715-6397)is an architecture poster journal publication in colaboration of Department of Architecture in Engineering Faculty at Diponegoro University with TA committee. Jurnal Poster Pirata Syandana is a scientific publication and communication media of design methods architecture design, human settlement, building construction, history of architecture, environmental design and building sciences. architecture education material and behaviour in architecture
Articles 1,104 Documents
Urban Live Stock Farm MUHAMED YOGA DWIAJIWIYARNO
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

UrbanLivestockFarmis a sustainable urban farming facility that integrates livestock production, food processing, education, and public spaces within a modern architectural environment. The project promotes food security, environmental responsibility, and community engagement through innovative farming technologies and circular resource management systems.
Flexible Workplace as an Agora Elgin Valiant Woga
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Segregasi spasial antara sektor birokrasi, swasta, dan masyarakat sipil di lingkungan perkotaan selama ini telah memicu konflik horizontal dan menciptakan silo effect. Pemisahan batas kerja yang kaku ini mengakibatkan kebutaan kognitif, di mana masing-masing sektor gagal memahami batasan (constraint) dan gambaran besar dari permasalahan kota. Kondisi ini diperparah oleh tata pemerintahan kota yang terpusat dan hierarkis, yang menyebabkan dinas-dinas pemangku keahlian teknis terisolasi dari realitas spesifik di tingkat kewilayahan, sehingga memunculkan fenomena "kebutaan konteks". Di sisi lain, amanat reformasi kelembagaan melalui Permen PANRB No. 7 Tahun 2022 menuntut aparatur pemerintah untuk bertransformasi menuju sistem kerja yang agile, lintas fungsi, dan menanggalkan segregasi vertikal maupun horizontal. Merespons urgensi tersebut, perancangan ini mengusulkan penerapan Flexible Workspace terpadu yang diiringi dengan desentralisasi Aparatur Sipil Negara (ASN) dari pusat ke tingkat wilayah. Peleburan ruang kerja ini dilandasi oleh prinsip psikologi sosial, di mana intensitas perjumpaan fisik yang berulang (mere exposure) dirancang untuk mereduksi bias antarkelompok dan meleburkan polarisasi sektoral menjadi satu kesatuan identitas komunitas. Lebih jauh, ruang kerja kolaboratif ini difungsikan sebagai wadah penyerapan pengalaman empiris dan transfer pengetahuan tak terucap (tacit knowledge) yang tidak dapat difasilitasi oleh dokumen tertulis. Melalui interaksi tatap muka, observasi langsung, dan pergesekan sosial di dalam ekosistem keruangan yang inklusif, perancangan ini bertujuan untuk membongkar sekat birokrasi, membangun empati lintas sektor, serta menghasilkan solusi tata kota yang akurat dan berakar kuat pada konteks lokal.
Redesigning the Marketplace into Q-Commerce Experiences for a Practical Future in 2050 Ath Thaariq Rifqi Oktafri
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evolusi ruang komersial perkotaan di Semarang pada proyeksi tahun 2050 memicu pergeseran radikal dari pasar fisik tradisional menuju ekosistem Quick Commerce (Q-Commerce) yang menuntut efisiensi logistik. Merespons tantangan urbanisasi tersebut, proyek arsitektur "Redesigning the Marketplace" ini bertujuan mendekonstruksi tipologi gudang konvensional yang pasif menjadi sebuah mesin distribusi cerdas (smart logistics node). Berdiri di atas lahan strategis seluas 15.625 meter persegi, desain ini mengakomodasi sistem otomasi tingkat tinggi melalui sirkulasi spasial tiga dimensi. Pendekatan ini diwujudkan melalui integrasi drone-port di area atap bangunan sebagai infrastruktur udara, serta penyediaan jalur bebas hambatan bagi kendaraan otonom di lantai dasar. Pada akhirnya, proyek ini berupaya menghasilkan sebuah purwarupa arsitektur hibrida masa depan yang mensintesiskan teknologi robotik dan infrastruktur micro-fulfillment guna menciptakan layanan logistik perkotaan yang praktis, mulus, dan terdesentralisasi.
Perancangan Prototipe Vertical Housing sebagai Solusi Hunian di Kawasan Semarang 2050 Sheren Melly Silitonga
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Pedurungan merupakan salah satu kawasan permukiman padat di Kota Semarang yang mengalami peningkatan kebutuhan hunian akibat pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Kondisi kawasan yang didominasi hunian horizontal, keterbatasan lahan, minimnya ruang komunal, serta permasalahan genangan dan banjir menunjukkan perlunya pendekatan hunian yang lebih efisien dan adaptif. Proyek ini merancang prototipe vertical housing sebagai solusi hunian perkotaan di Pedurungan, Semarang, dengan fokus pada penyediaan hunian yang layak, aman, dan mampu meningkatkan kualitas hidup penghuninya. Konsep perancangan mengedepankan efisiensi lahan melalui hunian vertikal, ruang komunal sebagai wadah interaksi sosial, pilotis terbuka untuk merespon potensi genangan, serta pencahayaan dan ventilasi alami guna menciptakan lingkungan hunian yang sehat dan nyaman. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, rancangan ini juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat berpenghasilan menengah terhadap hunian yang terjangkau dan relevan dengan dinamika perkotaan. Melalui pendekatan tersebut, proyek ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan hunian masa depan yang responsif terhadap tantangan lingkungan dan perkembangan Kota Semarang dalam visi Imagining Semarang 2050.
COASTAL ADAPTIVE HOUSING : KEHIDUPAN KOMUNITAS INDUSTRI TERBOYO SEMARANG 2050 Arnia Iga Meirta
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan pesisir Terboyo, Kota Semarang, menghadapi permasalahan banjir rob, penurunan muka tanah, dan dampak perubahan iklim yang mengancam kualitas lingkungan serta kelayakan hunian. Kondisi tersebut menuntut pengembangan permukiman yang mampu beradaptasi terhadap dinamika lingkungan pesisir di masa mendatang. Perancangan ini bertujuan menghasilkan hunian vertikal adaptif yang meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap ancaman banjir sekaligus menyediakan lingkungan tinggal yang layak, aman, dan berkelanjutan. Metode perancangan dilakukan melalui analisis tapak, kondisi lingkungan pesisir, kebutuhan pengguna, serta kajian prinsip arsitektur adaptif. Hasil perancangan berupa bangunan hunian vertikal 10 lantai dengan luas lahan 5.500 m² dan total luas bangunan 9.874 m². Konsep yang diterapkan adalah Coastal Adaptive Housing 2050 yang mengintegrasikan sistem hunian vertikal dengan pengelolaan air berbasis adaptasi banjir. Strategi utama berupa penerapan floodable open space, yaitu ruang terbuka yang berfungsi sebagai area komunal pada kondisi normal dan berubah menjadi tampungan sementara saat terjadi hujan ekstrem atau banjir rob sebelum dialirkan menuju sistem polder eksisting. Selain itu, perancangan dilengkapi ruang komunal dan fasilitas pendukung untuk meningkatkan kualitas hidup penghuni serta mewujudkan permukiman pesisir yang tangguh dan berkelanjutan. Kata kunci: hunian vertikal adaptif, kawasan pesisir, floodable open space.
Cultural Center Sebagai Urban Public Sphere di Simpang Lima Semarang Farah Zahirah
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Kota Semarang sebagai pusat aktivitas ekonomi, budaya, dan pariwisata meningkatkan kebutuhan akan ruang publik yang mampu mewadahi interaksi sosial, kegiatan budaya, serta kreativitas masyarakat. Namun, fasilitas yang mengintegrasikan fungsi budaya dengan ruang publik yang inklusif masih terbatas, khususnya di kawasan Simpang Lima sebagai pusat aktivitas kota. Oleh karena itu, dirancang sebuah Cultural Center dengan pendekatan Urban Public Sphere yang berfungsi sebagai wadah ekspresi seni, edukasi, rekreasi, dan interaksi masyarakat. Perancangan dilakukan melalui metode analisis terhadap kondisi tapak, karakter kawasan, kebutuhan pengguna, program ruang, serta studi preseden untuk menghasilkan konsep desain yang kontekstual. Pendekatan Urban Public Sphere diterapkan melalui penyediaan ruang yang terbuka, mudah diakses, dan mampu menghubungkan aktivitas di dalam maupun di luar bangunan. Hasil perancangan berupa Cultural Center yang menyediakan ruang pamer, studio seni, perpustakaan, ruang kolaborasi, ruang seminar, amphitheater, serta ruang terbuka publik yang saling terintegrasi. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya Kota Semarang, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan budaya, serta menciptakan ruang publik yang aktif, inklusif, dan berkelanjutan. Kata kunci: Cultural Center, Urban Public Sphere, ruang publik, budaya, Simpang Lima Semarang.
Srawa Cultural Hub Of Semarang M ALVIANO RIZQIA PUTRA YAFENZA
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SRAWA Cultural Hub of Semarang: Perancangan Pusat Kebudayaan Mixed-Use sebagai Katalis Revitalisasi Urban di Kota Semarang Semarang sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah menyimpan kekayaan budaya yang kaya namun belum memiliki infrastruktur kebudayaan terpadu yang mampu mengakomodasi kebutuhan ekspresi seni, pelestarian warisan lokal, dan aktivitas ekonomi kreatif secara bersamaan. Proyek SRAWA Cultural Hub hadir sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut — sebuah pengembangan mixed-use berskala urban yang dirancang untuk menjadi pusat gravitasi budaya, edukasi, dan interaksi komunitas di Kota Semarang. Proyek ini mengadopsi konfigurasi multi-massa bangunan yang terdiri dari empat massa utama dengan karakter program dan struktur yang saling melengkapi. Strategi dilatasi struktural diterapkan untuk merespons kondisi geoteknik dan dinamika termal lokal, sementara sistem bekisting yang dipilih mempertimbangkan efisiensi konstruksi dan kualitas estetika beton ekspos. Pendekatan perancangan mengintegrasikan prinsip arsitektur tropis kontemporer dengan idiom budaya Jawa Tengah, menciptakan identitas visual yang kontekstual sekaligus progresif. Dari sisi keberlanjutan ekonomi, SRAWA Cultural Hub dikembangkan melalui model pendapatan bertahap — dimulai dari fase operasional awal pada tahun 2031 hingga mencapai kematangan pada tahun-tahun berikutnya — dengan tolok ukur yang didasarkan pada kinerja pusat kebudayaan serupa di Indonesia. Proyeksi pendapatan mencakup diversifikasi sumber mulai dari sewa ruang pertunjukan, galeri, ruang komersial, program residensi seniman, hingga penyelenggaraan event skala nasional dan internasional. SRAWA Cultural Hub diproyeksikan tidak hanya sebagai bangunan, melainkan sebagai ekosistem budaya yang aktif: mempertemukan seniman, akademisi, pelaku industri kreatif, dan masyarakat umum dalam satu kawasan yang dirancang untuk menginspirasi, mempertukarkan gagasan, dan merayakan keberagaman budaya Nusantara. Kata Kunci: pusat kebudayaan, mixed-use development, multi-massa, arsitektur tropis, ekonomi kreatif, Semarang, revitalisasi urban
PERANCANGAN WISATA RELIGI TEGALWARENG Mutiara Nabila Wirajaya
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Semarang memiliki kekayaan nilai sejarah, akar budaya, dan tradisi lokal yang menjadi fondasi identitas kota. Namun, di tengah akselerasi pembangunan menuju visi kota metropolitan 2050, terjadi ancaman serius berupa memudarnya memori kolektif dan hilangnya jejak-jejak sejarah tersebut. Banyak situs penting yang mulai terabaikan, kehilangan eksistensi, hingga terpinggirkan dari kesadaran publik" Salah satu situs yang merepresentasikan krisis ini adalah Makam Mbah Nyai Genuk di Jalan Sriwijaya yang merupakan sang tokoh perintis (Babad Alas) Tegalsari sekaligus keturunan trah Sunan Amangkurat IV. Kondisi fisik yang terbengkalai menyebabkan situs ini kehilangan marwahnya, bahkan terdegradasi menjadi sekadar area yang dianggap kosong dan sepi. Padahal, keberadaan situs ini sangat penting bagi sejarah peradaban lokal Semarang. Untuk merespons kondisi tersebut, diperlukan sebuah strategi revitalisasi yang tidak hanya memperbaiki kondisi fisik, tetapi juga membangun konektivitas ruang dengan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Dengan mengintegrasikan kedua kawasan ini ke dalam satu koridor budaya yang utuh, situs makam dapat kembali terhubung dengan dinamika aktivitas masyarakat. Perancnagan ini bertujuan untuk merevitalisasi kawasan makam, mengembalikan marwah sejarah yang memudar, serta mewujudkan ruang yang memuliakan sosok Mbah Nyai Genuk sebagai tokoh penting yang patut dihormati oleh generasi masa kini dan mendatang.
Lab Bio Retention Waduk Pendidikan Undip Ubaidillah Al Farosi
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi spasial akibat fenomena studentification di Kecamatan Tembalang, Semarang, memicu peningkatan persentase permukaan kedap air yang berdampak pada krisis ekohidrologi multidimensi di Waduk Pendidikan Universitas Diponegoro. Lonjakan koefisien limpasan hulu memicu sedimentasi akut sebesar 45.000–65.000 m³/tahun dan degradasi kualitas air yang melampaui baku mutu Kelas II PP No. 22 Tahun 2021. Sebagai solusi berbasis alam (Nature-Based Solutions), proyek "The Living Gateway" dirancang berupa infrastruktur hijau-biru laboratorium bio-retensi terpadu. Perancangan ini mengintegrasikan Bio-Retention Cell (BRC) generasi ketiga dengan filter media berlapis (underdrain, pasir, kerikil, arang aktif/biochar 5-10%) dan vegetasi fitoremediasi (Typha latifolia, Cyperus papyrus) untuk mereduksi Total Suspended Solids (TSS) sebesar 80-90% serta nutrien berlebih (TP, TN). Bangunan lima lantai ini menerapkan prinsip Bangunan Gedung Hijau (BGH) premium melalui sistem net-zero water, rainwater harvesting, panel surya 40 kWp, perkerasan beton berpori, dan pemantauan kualitas air berbasis IoT. Selain fungsi riset ekologis, proyek ini memfasilitasi interaksi sosial ekonomi inklusif ("Ruang Ketiga") guna memberdayakan komunitas lokal dan meredam ketegangan spasial.
Midimarket dengan Implementasi Drive-thru dan Pemanfaatan Drone Sebagai Last-Mile Delivery di Pedurungan Velya Maya Trisani
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya aktivitas perdagangan elektronik dan layanan pengiriman barang telah mendorong pertumbuhan sistem last-mile delivery yang berdampak pada peningkatan kemacetan dan emisi kendaraan di kawasan perkotaan. Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, sebagai wilayah perdagangan dan jasa dengan intensitas pergerakan kendaraan yang tinggi, menghadapi tantangan dalam mewujudkan sistem distribusi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Perancangan Midimarket dengan implementasi drive-thru dan pemanfaatan drone sebagai fasilitas last-mile delivery diusulkan sebagai solusi yang mampu mengintegrasikan fungsi ritel modern dengan teknologi distribusi masa depan. Bangunan dirancang pada lahan seluas 2.668 m² dengan konsep arsitektur futuristik tropis yang menggabungkan karakter visual modern dan respons terhadap kondisi iklim setempat. Fasilitas drive-thru memungkinkan pelanggan memperoleh layanan secara cepat tanpa meninggalkan kendaraan, sementara area drone hub pada bagian atap berfungsi sebagai pusat distribusi barang ke kawasan sekitar. Pengolahan massa bangunan, sistem zonasi, dan sirkulasi dirancang untuk mendukung keterpaduan fungsi komersial dan logistik secara optimal. Hasil perancangan menunjukkan bahwa integrasi teknologi distribusi berbasis drone dan layanan drive-thru dapat meningkatkan kualitas pelayanan ritel, mempercepat proses distribusi barang, serta berpotensi mengurangi dampak lingkungan akibat penggunaan kendaraan konvensional. Perancangan ini diharapkan menjadi model pengembangan fasilitas ritel yang inovatif, efisien, dan berkelanjutan di kawasan perkotaan. Kata kunci: Midimarket, drive-thru, drone delivery, last-mile delivery, arsitektur futuristik tropis.