cover
Contact Name
Bangun I R Harsritanto
Contact Email
bangunirh@arsitektur.undip.ac.id
Phone
+6281229999446
Journal Mail Official
jpps@arsitektur.undip.ac.id
Editorial Address
architecture campuss, faculty of engineering, Universitas Diponegoro, Jl Prof Soedarto SH, Tembalang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Poster Pirata Syandana
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27156397     DOI : -
Jurnal Poster Pirata Syandana (ISSN : 2715-6397)is an architecture poster journal publication in colaboration of Department of Architecture in Engineering Faculty at Diponegoro University with TA committee. Jurnal Poster Pirata Syandana is a scientific publication and communication media of design methods architecture design, human settlement, building construction, history of architecture, environmental design and building sciences. architecture education material and behaviour in architecture
Articles 1,104 Documents
SAMPANGAN URBAN COMMONS Irfan Fathoni Zuhair
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan Kota Semarang yang pesat diproyeksikan mencapai populasi 2,5 juta jiwa pada tahun 2050 (BPS, 2023), mendorong tekanan terhadap ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) dan fasilitas publik akibat semakin terbatasnya lahan horizontal. Kondisi ini tercermin pada kawasan Sampangan, salah satu simpul permukiman, komersial, dan pendidikan yang padat di Semarang. Taman Sampangan seluas ±2.935 m², yang berpotensi menjadi ruang interaksi sosial kota, justru mengalami disfungsi keruangan akibat tiga permasalahan utama: parkir kendaraan yang memakan badan jalan, perluasan pedagang kaki lima (PKL) ke jalur pedestrian, serta minimnya pemanfaatan ruang hijau eksisting. Perancangan ini bertujuan merumuskan strategi optimalisasi ruang publik melalui pendekatan Urban Commons, yang memposisikan ruang kota sebagai milik bersama yang inklusif dan mampu menengahi konflik kepentingan antarpengguna. Pendekatan tersebut diwujudkan dalam rancangan "Sampangan Urban Commons", berupa transformasi taman eksisting menjadi ruang publik taman vertikal tiga lantai dengan stratifikasi fungsi: area parkir terpusat (off-street parking) di level bawah, sentra PKL yang terorganisir, serta RTH aktif pada level lainnya. Rancangan ini diarahkan untuk mewadahi kebutuhan beragam kelompok pengguna, mulai dari masyarakat permukiman lokal, mahasiswa, hingga pelaku ekonomi informal, sekaligus menjadi model intervensi spasial vertikal yang relevan untuk merespons tantangan densifikasi kota di masa depan.
BUILDING WITHOUT DISPLACING : PERANCANGAN HUNIAN VERTIKAL BERBASIS PERILAKU NELAYAN DI KAWASAN PESISIR TAMBAK LOROK. Adian Nirwanto Junio Silalahi
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Tambak Lorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, merupakan permukiman nelayan terbesar di Kota Semarang yang menghadapi permasalahan kepadatan bangunan, keterbatasan lahan, dan ancaman banjir rob secara berkala. Program relokasi konvensional kerap gagal karena memutus hubungan masyarakat dengan lingkungan sosial dan aktivitas ekonominya. Laporan ini menyajikan perancangan hunian vertikal berbasis perilaku nelayan dengan pendekatan Building Without Displacing, yaitu pembangunan di tempat (in-situ) tanpa menghilangkan identitas dan keterikatan masyarakat terhadap kawasannya. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, wawancara, pengamatan perilaku, studi literatur, serta analisis tapak dan kebutuhan ruang. Hasil perancangan berupa blok hunian vertikal dengan unit tipe 27 dan tipe 36 yang dilengkapi balkon, ruang produktif nelayan (area jemur dan bongkar muat), ruang komunal, aula serbaguna, klinik, serta ruang terbuka hijau. Sistem bangunan mempertimbangkan kondisi tanah aluvial pesisir, adaptasi banjir rob, ventilasi silang, dan pencahayaan alami. Perancangan ini menunjukkan bahwa hunian vertikal dapat menjadi solusi penataan kawasan pesisir yang layak, adaptif, dan berkelanjutan, sekaligus mempertahankan aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat nelayan Tambak Lorok.
Urban Wellness Hub: Ruang Aktivitas Sehat dan Interaksi Sosial di Kawasan Simpang Lima Semarang 2050 Farah Najibah Suminar
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan kualitas kesehatan publik masyarakat perkotaan kini menjadi isu kritis global maupun nasional akibat tingginya polusi, tingkat stres, dan minimnya ruang terbuka hijau. Kepadatan kawasan urban yang tidak diimbangi dengan lingkungan yang mendukung kesehatan fisik dan mental memperparah kerentanan masyarakat terhadap berbagai penyakit modern. Menanggapi permasalahan mendasar tersebut, proyek ini mengusulkan sebuah Urban Wellness Hub di Semarang sebagai respons spasial dan solusi arsitektural yang integratif.  Pendekatan desain difokuskan pada penciptaan ruang kota yang restoratif guna memulihkan serta meningkatkan kualitas hidup komunitas urban. Melalui penerapan prinsip arsitektur yang responsif terhadap lingkungan dan berorientasi pada pemulihan pengguna (healing environment), proyek ini hadir sebagai output konkret untuk mengintervensi penurunan kesehatan publik. Urban Wellness Hub ini diharapkan mampu mendefinisikan ulang kontribusi arsitektur dalam menyelesaikan isu perkotaan, sekaligus menjadi generator kesejahteraan komunitas yang berkelanjutan di area tapak dan sekitarnya.
Adaptive Culinary Infrastructure: Reintegrasi PKL di Simpang Lima Semarang Annisa Yita Prasetya
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Simpang Lima merupakan pusat aktivitas perkotaan sekaligus salah satu destinasi wisata utama di Kota Semarang yang memiliki peran penting dalam mendukung sektor ekonomi, pariwisata, dan kuliner. Namun, keberadaan pedagang kaki lima (PKL) kuliner yang tersebar di kawasan ini masih menimbulkan berbagai permasalahan, seperti ketidakteraturan tata ruang, gangguan terhadap sirkulasi pejalan kaki, serta belum optimalnya pemanfaatan potensi wisata kuliner sebagai identitas kota. Selain itu, perkembangan Kota Semarang menuju tahun 2050 menuntut tersedianya infrastruktur perkotaan yang lebih adaptif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Berdasarkan kondisi tersebut, perancangan Adaptive Culinary Infrastructure: Reintegrasi PKL di Simpang Lima Kota Semarang bertujuan menciptakan wadah terpadu bagi aktivitas kuliner, UMKM, dan wisata gastronomi dalam satu kawasan yang tertata dan responsif terhadap perkembangan kota di masa depan. Konsep perancangan mengedepankan integrasi fungsi kuliner, edukasi, wisata, dan ruang publik melalui penyediaan area PKL yang terorganisir, ruang makan indoor dan outdoor, galeri edukasi kuliner khas Semarang, serta area komunal yang mendukung interaksi sosial. Desain bangunan menerapkan prinsip arsitektur tropis adaptif dengan memanfaatkan ventilasi alami, pencahayaan alami, ruang terbuka, serta secondary skin bermotif batik sebagai identitas lokal. Hasil perancangan diharapkan mampu meningkatkan kualitas ruang publik, memperkuat ekonomi lokal, mengoptimalkan potensi wisata kuliner, serta menjadi infrastruktur strategis yang mendukung perkembangan Kota Semarang menuju tahun 2050.
Autonomous Simongan Market Semarang Bismar Ardhiansyah
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tantangan eksisting pasar tradisional yang hingga kini masih berhadapan dengan persoalan klasik seperti ketidakteraturan tata ruang, rendahnya standar kebersihan dan higienitas, serta sistem transaksi yang belum efisien dan minim integrasi teknologi. Memasuki era Industri 4.0 yang diproyeksikan berkembang lebih lanjut menuju sistem kehidupan cerdas di tahun 2050, integrasi teknologi seperti robotika, kecerdasan buatan, dan internet of things menjadi elemen kunci dalam transformasi sektor perdagangan. Konsep pasar otonom berbasis robot memungkinkan terciptanya sistem operasional yang lebih efisien melalui otomatisasi distribusi barang, pengelolaan stok secara real-time, serta sistem pembayaran tanpa kasir. Autonomous Simongan Market Semarang dilengkapi dengan Micro Fulfillment Center (MFC) sebagai pusat logistik cerdas yang mengintegrasikan perdagangan fisik dan digital, mendukung distribusi cepat, efisien, dan berkelanjutan menuju pasar masa depan tahun 2050. Pemesanan dapat dilakukan dari lokasi mana saja melalui platform digital yang terhubung secara langsung dengan sistem fulfillment center. Integrasi teknologi kecerdasan buatan dan otomasi memungkinkan pengiriman yang lebih cepat, akurat, dan efisien, sekaligus mendukung operasional pasar yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern.
Tambak Lorok Fish Hub 2050: Integrasi Infrastruktur Perikanan dan Distribusi dalam Transformasi Kawasan Ekonomi di Semarang An 'Umillah Hasya
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tambak Lorok merupakan sentra perikanan terbesar di Kota Semarang yang memiliki peran strategis sebagai pusat pendaratan, perdagangan, dan distribusi hasil laut. Namun, aktivitas perikanan yang terus berkembang juga menimbulkan berbagai permasalahan, seperti keterbatasan infrastruktur, rendahnya efisiensi rantai pasok, serta potensi pencemaran lingkungan akibat limbah dari proses pencucian ikan, pengolahan awal hasil tangkapan, dan sisa produksi perikanan. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas lingkungan pesisir sekaligus mengurangi nilai ekonomi hasil perikanan yang dihasilkan kawasan. Sejalan dengan arah pengembangan pemerintah yang menempatkan Tambak Lorok sebagai pusat perikanan terpadu, kawasan ini memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi pusat ekonomi maritim yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan. Tambak Lorok Fish Hub 2050 dirancang sebagai model pengembangan kawasan berbasis rantai pasok perikanan terintegrasi yang menghubungkan aktivitas pendaratan ikan, penanganan hasil tangkapan, pelelangan modern, penyimpanan dingin, hingga distribusi dalam satu sistem yang efisien. Melalui pendekatan Linear Cold Chain Fish Market, proyek ini menjawab tantangan logistik, menjaga kualitas produk, mengurangi kehilangan hasil tangkapan, serta mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Perancangan ini tidak hanya menghadirkan solusi arsitektur, tetapi juga membangun sistem ekonomi pesisir yang mampu meningkatkan daya saing kawasan, menciptakan nilai tambah bagi masyarakat nelayan, serta mendukung transformasi Tambak Lorok sebagai pusat ekonomi maritim berkelanjutan menuju tahun 2050.
Perancangan Pusat Edukasi Lingkungan sebagai Ruang Kolaborasi Masyarakat dan LSM WALHI Berbasis Sustainable Architecture Auriko Gamarsasi
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan kualitas lingkungan akibat aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan mendorong adanya kegiatan edukasi dan kolaborasi yang lebih intensif antara masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan. Oleh karena itu, perancangan Pusat Edukasi Lingkungan ini bertujuan untuk menyediakan wadah pembelajaran, interaksi, dan kolaborasi yang mendukung peningkatan kesadaran serta partisipasi publik terhadap isu-isu lingkungan. Pendekatan Sustainable Architecture diterapkan sebagai dasar perancangan yang berfungsi untuk menciptakan bangunan yang ramah lingkungan, efisien energi, serta responsif terhadap kondisi iklim dan konteks tapak. Metode perancangan ini meliputi analisis kebutuhan ruang, studi preseden, serta pendekatan aspek fungsional, teknis, dan kontekstual. Fasilitas yang dirancang mencakup ruang edukasi, ruang pamer interaktif, ruang diskusi, kantor LSM, serta area publik terbuka yang mendukung aktivitas komunitas. Hasil perancangan diharapkan mampu menjadi sarana edukatif sekaligus katalisator dalam membangun kesadaran kolektif dan mendorong aksi nyata masyarakat dalam pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum dan Ruang Komersial Dengan Pemanfaatan Energi Surya Di Jalan Gajahmada Nathaniel Suryo Anggoro Djati
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya penggunaan kendaraan listrik memerlukan pengembangan SPKLU yang tidak hanya berfungsi sebagai titik pengisian daya, tetapi juga sebagai pusat aktivitas yang nyaman, efisien, dan berkelanjutan. Bangunan ini menghadirkan konsep energy hub yang mengintegrasikan pengisian kendaraan listrik, fasilitas komersial, dan energi terbarukan dalam satu kesatuan desain.
Urban Flow Hub: Integrasi Mobilitas Cerdas Sebagai Secondary Node Simpang Lima 2050 Muhammad Raihan
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Simpang Lima Semarang merupakan pusat aktivitas perkotaan dengan intensitas pergerakan yang tinggi, didukung oleh fungsi perdagangan, jasa, rekreasi, dan perkantoran. Namun, sistem mobilitas kawasan masih bersifat terfragmentasi, ditandai oleh penyebaran area parkir, kurangnya integrasi transportasi publik, serta konflik antara kendaraan dan pejalan kaki yang menyebabkan penurunan efisiensi pergerakan dan kualitas ruang publik. Proyek Urban Flow Hub dirancang sebagai secondary node yang mendukung Simpang Lima sebagai primary node melalui integrasi sistem mobilitas perkotaan yang lebih terorganisasi. Pendekatan perancangan menempatkan bangunan sebagai infrastruktur urban yang tidak hanya mewadahi fungsi parkir, tetapi juga menghubungkan berbagai moda transportasi dalam satu sistem terpadu. Fasilitas yang diusulkan meliputi parkir otomatis berbasis kecerdasan buatan (AI), wireless EV charging, bike sharing, ruang publik, serta pemanfaatan energi surya untuk mendukung operasional bangunan yang berkelanjutan. Organisasi ruang disusun secara vertikal untuk mengoptimalkan keterbatasan lahan di pusat kota sekaligus meningkatkan kapasitas pelayanan mobilitas. Hasil perancangan menunjukkan bahwa Urban Flow Hub berpotensi menjadi simpul distribusi pergerakan yang mampu meningkatkan efisiensi mobilitas, mengurangi tekanan kendaraan di kawasan inti, serta menciptakan ruang publik yang adaptif terhadap kebutuhan Kota Semarang menuju tahun 2050.
BLUE FISHERES HUB COMACO - CONNECTING MARITIME COMMUNITIES TAMBAK LOROK SEMARANG UTARA Muhammad Arya Guna Akbar
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jawa Tengah memiliki wilayah pesisir yang panjang dengan potensi perikanan besar, namun konsumsi ikan masyarakatnya masih rendah (40,14 kg/kapita/tahun pada 2024) dibanding rata-rata nasional (57–60 kg/kapita/tahun). Permasalahan ini diperparah oleh minimnya ruang inovasi nelayan, tambak rentan rusak akibat ombak, sulitnya pengolahan hasil tangkapan, rendahnya daya jual, terbatasnya alat tangkap, serta tidak adanya ruang interaktif bagi anak pesisir di Tambak Lorok, Semarang Utara. Untuk menjawab isu tersebut, dirancang Blue Fisheries Hub dengan konsep COMACO (Connecting Maritime Communities), yaitu kawasan terpadu yang mengintegrasikan edukasi, aktivitas nelayan, dan sistem perikanan dalam satu ruang berkelanjutan. Rancangan menyatukan alur penangkapan ikan, pengolahan, distribusi, dan konsumsi, dengan fungsi pasar ikan, galeri nelayan, ruang aspirasi, area pemeliharaan kapal, dan kuliner dalam satu ekosistem bangunan di atas laut. Perancangan mempertimbangkan kebutuhan pengguna (nelayan, pengunjung, anak-anak, marketeer) yang diterjemahkan ke empat zona: eksibisi, workshop, fish market, dan shipyard. Transformasi massa menghasilkan bangunan panggung yang adaptif terhadap pasang surut, terbuka dan ramah iklim, serta mendorong konektivitas antarkomunitas pesisir. Konsep ini diharapkan menjadi wadah produktif dan sosial yang meningkatkan ekonomi nelayan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Kata kunci: Blue Fisheries Hub, COMACO, kawasan pesisir, perikanan berkelanjutan, arsitektur adaptif