cover
Contact Name
Bangun I R Harsritanto
Contact Email
bangunirh@arsitektur.undip.ac.id
Phone
+6281229999446
Journal Mail Official
jpps@arsitektur.undip.ac.id
Editorial Address
architecture campuss, faculty of engineering, Universitas Diponegoro, Jl Prof Soedarto SH, Tembalang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Poster Pirata Syandana
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27156397     DOI : -
Jurnal Poster Pirata Syandana (ISSN : 2715-6397)is an architecture poster journal publication in colaboration of Department of Architecture in Engineering Faculty at Diponegoro University with TA committee. Jurnal Poster Pirata Syandana is a scientific publication and communication media of design methods architecture design, human settlement, building construction, history of architecture, environmental design and building sciences. architecture education material and behaviour in architecture
Articles 1,124 Documents
RESORT HOTEL SIDO MUNCUL DENGAN PENDEKATAN SENSORY EXPERIENCE Renita Ayu Ramadhani
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengakuan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada tahun 2023 mendorong PT Sido Muncul Tbk mengembangkan kawasan industrinya di Ungaran menjadi destinasi wisata terpadu. Meskipun kunjungan wisatawan Kabupaten Semarang mencapai 4,33 juta pada tahun 2024, rata-rata lama menginap hanya 1,06 malam. Belum tersedianya fasilitas akomodasi yang terintegrasi dengan ekosistem wisata Sido Muncul menjadi salah satu penyebab rendahnya retensi tersebut. Perancangan ini mengusulkan resort hotel bintang 4 di tapak yang secara geografis memiliki potensi kuat, namun sekaligus menghadapi tantangan kedekatan dengan Kawasan Peruntukan Industri. Tantangan inilah yang menjadi dasar penerapan Sensory Experience Architecture berdasarkan teori Gibson (1966), yakni pendekatan yang secara aktif merancang ruang agar mampu memitigasi gangguan sensorik dari luar sekaligus memperkuat identitas herbal Sido Muncul. Lima sistem perseptual diterjemahkan ke dalam elemen arsitektur seperti pencahayaan alami melalui bukaan dan skylight, material kayu dan batu alam pada bidang sentuh, penataan elemen air dan vegetasi sebagai filter akustik, penanaman tanaman aromatik herbal di jalur sirkulasi, serta hierarki ruang dari zona publik ke privat. Pendekatan ini juga merespons prinsip Sapta Pesona, khususnya keamanan, keindahan, dan kenangan, yang diwujudkan melalui kualitas ruang restoratif berbasis budaya lokal. Metode perancangan mencakup analisis deskriptif, dokumentatif, dan komparatif terhadap tiga preseden yakni Laras Asri Salatiga, Bali Mandira Resort and Spa, dan Susan Spa & Resort Bandungan. Perancangan ini berkontribusi pada model transformasi tapak di kawasan industri menjadi ruang pemulihan budaya melalui modulasi sensorik yang menghubungkan identitas herbal lokal dengan kualitas pengalaman tinggal wisatawan.
Perancangan Bangunan Vertikal Mixed-use Berbasis Pendekatan Open Building Di SCBD Jakarta Muhammad Rayhan Fazil Hidayat
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan pola kerja menuju sistem hibrida, pertumbuhan ekonomi kreatif, serta keterbatasan lahan di kawasan pusat bisnis menuntut tipologi arsitektur baru yang mampu mengintegrasikan fungsi tinggal dan bekerja dalam satu sistem vertikal. Kawasan SCBD Jakarta sebagai pusat ekonomi strategis menghadapi tantangan kepadatan tinggi, mobilitas intensif, dan dinamika kebutuhan ruang yang terus berkembang. Sementara itu, tipologi bangunan tinggi konvensional cenderung memiliki konfigurasi ruang yang rigid sehingga kurang adaptif terhadap perubahan fungsi jangka panjang. Tugas akhir ini bertujuan merumuskan konsep perancangan bangunan vertikal mixed-use live–work di SCBD Jakarta dengan pendekatan Open Building sebagai kerangka sistematis. Pendekatan ini menekankan pemisahan antara elemen permanen (support) dan elemen yang dapat berubah (infill) guna memungkinkan fleksibilitas spasial, transformasi fungsi, serta keberlanjutan siklus hidup bangunan. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, studi preseden, dan analisis tapak yang disintesis menjadi perumusan program ruang, strategi struktur, organisasi utilitas, serta zonasi vertikal bangunan. Hasil perancangan menghasilkan sistem arsitektur adaptif yang mampu mengakomodasi berbagai skenario hunian dan kerja sekaligus merespons konteks urban tropis. Kajian ini berkontribusi pada pengembangan prototipe bangunan tinggi yang kontekstual dan fleksibel sebagai reinterpretasi prinsip Open Building di kawasan bisnis kontemporer Indonesia.  Kata kunci: mixed-use vertikal, live–work, open building, fleksibilitas spasial, SCBD Jakarta.
Nusantara 2100 : Design Concept of a vertical eVTOL Terminal as Future Urban Air Mobility Infrastructure Milzam Fathan Hindami Riyanto
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi Urban Air Mobility (UAM) melalui penggunaan electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) menjadi solusi potensial dalam menjawab permasalahan mobilitas perkotaan di masa depan, khususnya pada kota dengan pertumbuhan pesat dan keterbatasan lahan seperti kawasan Ibu Kota Nusantara. Konsep bandara vertikal eVTOL tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas transportasi udara, namun juga sebagai infrastruktur kota masa depan yang terintegrasi dengan sistem energi dan teknologi cerdas. Perancangan ini bertujuan untuk merancang terminal eVTOL vertikal berbasis konsep self- sustaining infrastructure yang mengintegrasikan sistem energi terbarukan, teknologi otomatisasi, serta prinsip arsitektur berkelanjutan. Pendekatan desain dilakukan melalui kajian literatur, studi preseden vertiport dan bangunan berteknologi tinggi, analisis tapak, serta pengembangan konsep spasial dan struktural bangunan vertikal. Hasil perancangan diharapkan menghasilkan sebuah model terminal eVTOL yang mampu mendukung efisiensi operasional penerbangan, optimalisasi sirkulasi manusia dan kendaraan udara, serta pengurangan dampak lingkungan melalui penerapan sistem energi mandiri dan strategi desain pasif tropis. Dengan demikian, perancangan ini diharapkan dapat menjadi referensi konsep infrastruktur mobilitas udara masa depan yang adaptif, berkelanjutan, dan relevan dengan visi pembangunan Nusantara 2100.
Apartement integrated urban farming resource innovation technology di Kawasan CBD Simpang Lima Semarang Iqbal Maulana
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepadatan Kawasan CBD Simpang Lima Semarang memicu tingginya kebutuhan hunian dan menipisnya ruang terbuka hijau. Proyek ini mengusulkan desain apartemen yang mengintegrasikan pariwisata urban farming dan resource innovation technology sebagai solusi hunian vertikal yang berkelanjutan. Bangunan dirancang multi-fungsi: sebagai tempat tinggal modern, ruang rekreasi agrikultur, dan pusat edukasi publik. Penerapan teknologi inovasi sumber daya, seperti efisiensi energi dan sirkulasi pengolahan limbah mandiri, memastikan operasional bangunan yang ramah lingkungan.
Bergota Stacked Cemetery Prana Kusuma
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Semarang menghadapi krisis pemakaman yang bersifat struktural dan mendalam: kapasitas Tempat Pemakaman Umum (TPU) tinggal kurang dari 30 persen, penurunan muka tanah akibat rob telah mengeliminasi lebih dari 120 hektar lahan produktif, dan diproyeksikan pada tahun 2038 kota ini tidak lagi memiliki lahan yang memadai untuk memakamkan warganya sendiri. TPU Bergota — pemakaman tertua dan terpadat di jantung kota, tempat di mana komunitas Islam, Tionghoa-Peranakan, dan Jawa pertama kali berbagi tanah sejak abad ke-14 — kini berdiri di titik kritis eksistensial dengan kapasitas terpakai mendekati 95 persen dan sisa umur pakai kurang dari dua tahun. Penelitian ini menyajikan konsep rancangan arsitektur Bergota Stacked Cemetery: Infrastructure of Silence, sebuah kolumbarium vertikal 12 lantai yang dibangun mengikuti kontur lereng bukit Bergota sebagai respons terpadu terhadap krisis lahan, keberlanjutan kota, dan penghormatan terhadap tradisi pemakaman multi-religi. Dengan menggunakan pendekatan architectural design research yang mengintegrasikan analisis tapak geoteknik, kajian tipologi pemakaman lintas budaya, dan sintesis kerangka teoritis — meliputi heterotopia Foucault, Thirdspace Soja, The Countryside Koolhaas, dan antropologi ritual kematian Koentjaraningrat — rancangan ini mengembangkan sistem niche modular into-hillside (200 × 70 cm) berkapasitas 160.000–240.000 niche, meningkatkan efisiensi lahan hingga 600–800 persen dibandingkan pemakaman konvensional. Konsep zonasi multi-religi dengan buffer minimum 3 meter antara zona Islam, Tionghoa, dan Kristen memungkinkan koeksistensi ritual yang bermartabat dalam satu infrastruktur vertikal bersama. Struktur hillside dengan fondasi tiang pancang, retaining wall FS ≥ 1,5, dan sistem filtrasi lindi tiga tahap menjawab tantangan geoteknik lereng sedimentasi aluvial Semarang. Hasil rancangan menunjukkan bahwa pemakaman vertikal bukan merupakan penolakan terhadap tradisi melainkan adaptasi organik yang justru dapat mempertahankan orientasi kiblat per niche, logika fengshui terasering bukit, dan psikologi ziarah terbuka melalui taman langit di setiap teras atap. Penelitian ini berkontribusi pada wacana tipologi baru infrastruktur kota yang menempatkan arsitektur kematian sebagai komponen aktif ketahanan dan identitas kota-kota Asia yang menghadapi tekanan urban serupa. 
Productive Vertical Villages: Bridging Home Industry and Social Cohesion in Sekayu Village 2050 Intan Safa Bisyarah
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Segitiga Emas Kota Semarang yang didominasi perdagangan modern memicu komersialisasi masif, sehingga mengancam eksistensi permukiman kampung kota, Kampung Sekayu. Tingginya nilai tanah berpotensi menyebabkan penggusuran kawasan secara total pada proyeksi tahun 2050 dan mereduksi kohesi sosial masyarakatnya. Sebagai solusi, rancangan Productive Vertical Villages atau Kampung Susun Produktif diusulkan dengan mengintegrasikan hunian vertikal dan ruang home industry fleksibel pada setiap unit rumah warga. Desain ini menerapkan permeabilitas urban yang memanfaatkan lantai dasar sebagai koridor lanskap terbuka untuk area pemasaran lokal, serta dibangun secara bertahap melalui metode relokasi in-situ guna menghindari penggusuran. Kesimpulannya, rancangan ini menawarkan model peremajaan kota yang regeneratif dan inklusif, yang tidak sekadar menyediakan ruang tinggal, tetapi berhasil menjembatani ketahanan ekonomi sirkular yang mandiri dengan pelestarian identitas serta solidaritas sosial warga Kampung Sekayu di masa depan.
DESAIN RUANG PUBLIK BERBASIS EKOLOGI AFFORDANCE SEBAGAI BENTUK PEMENUHAN WELL-BEING BAGI LANSIA DI KAWASAN SENDANGMULYO SEMARANG KHOIRUNNISA INDRIANI
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semarang sedang menuju fase aging society yang ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia dan age dependency ratio yang diproyeksikan meningkat dari 40,97% pada tahun 2025 menjadi 53,42% pada tahun 2045. Kondisi ini menunjukkan bahwa lansia akan menjadi kelompok pengguna kota yang semakin dominan. Namun, sebagian besar ruang dan layanan bagi lansia masih berorientasi pada aspek perawatan, sementara lansia masa depan diproyeksikan lebih aktif, mandiri, dan tetap terhubung dengan kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan baru dalam perancangan ruang publik yang mampu mendukung well-being melalui penyediaan ruang yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lansia masa depan.
DUAL-LIFE URBAN INFRASTRUCTURE: FOOD HUB ADAPTIF SEBAGAI SIMPUL KETAHANAN PANGAN DAN RESPONS BENCANA DI KECAMATAN GAJAHMUNGKUR Hari Utama
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan iklim, urbanisasi, dan meningkatnya frekuensi bencana menuntut kota memiliki infrastruktur yang lebih adaptif dan resilien. Di Kota Semarang, ketahanan pangan masih sangat bergantung pada stabilitas distribusi harian, sementara risiko banjir, longsor, dan gempa bumi berpotensi mengganggu jaringan logistik serta akses masyarakat terhadap pangan. Kondisi ini menunjukkan perlunya infrastruktur yang dapat melayani kebutuhan sehari-hari, sekaligus juga mampu mendukung respons darurat ketika terjadi krisis. Proyek ini bertujuan merancang Food Hub Adaptif sebagai simpul ketahanan pangan dan respons bencana di Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Metode perancangan menggunakan pendekatan dual-life urban infrastructure melalui identifikasi isu ketahanan pangan dan kebencanaan, analisis tapak, studi preseden, serta penerapan prinsip adaptabilitas, fleksibilitas, dan resiliensi dalam pengorganisasian ruang dan sistem bangunan. Hasil perancangan berupa Food Hub Adaptif yang berfungsi sebagai pusat distribusi pangan, pasar segar, retail, dan pengolahan pangan dalam kondisi normal, serta dapat bertransformasi menjadi pusat logistik, distribusi bantuan, dapur umum, pusat komando darurat, dan ruang perlindungan sementara saat bencana. Bangunan ini menjadi model infrastruktur perkotaan yang mengintegrasikan fungsi keseharian dan fungsi darurat dalam satu sistem, sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kapasitas respons bencana Kota Semarang.
REFRAMING URBAN WORKPLACE ADINDA AULIA RAHMADIANA
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ekonomi digital, perubahan budaya kerja, serta meningkatnya kebutuhan akan fleksibilitas ruang telah mendorong transformasi tipologi bangunan perkantoran di kawasan perkotaan. Model perkantoran konvensional yang didominasi oleh sistem single-tenant, organisasi ruang yang kaku, dan minimnya keterhubungan dengan ruang publik dinilai tidak lagi mampu mengakomodasi kebutuhan akan kolaborasi, adaptabilitas, dan keberagaman aktivitas kerja. Di sisi lain, Kota Semarang sebagai kota pesisir menghadapi tantangan berupa kepadatan kawasan pusat bisnis, peningkatan suhu, kelembapan tinggi, serta risiko banjir yang menuntut penerapan desain bangunan yang lebih responsif terhadap kondisi lingkungan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan baru dalam merancang bangunan perkantoran yang mampu mengintegrasikan kebutuhan pengguna, konteks perkotaan, dan aspek keberlanjutan secara menyeluruh. Tugas Akhir ini bertujuan merancang Multi-Tenant Office Tower di kawasan Simpang Lima, Semarang, melalui pendekatan Reframing the Urban Workplace sebagai upaya mendefinisikan kembali bangunan perkantoran menjadi infrastruktur perkotaan yang adaptif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Metode perancangan dilakukan melalui analisis tapak, studi preseden, analisis kebutuhan ruang, kajian tipologi bangunan perkantoran, serta penerapan prinsip arsitektur berkelanjutan yang disesuaikan dengan karakteristik iklim tropis pesisir. Hasil perancangan menghasilkan bangunan perkantoran multi-tenant yang mengintegrasikan ruang kerja fleksibel, fasilitas bersama, dan ruang publik dalam satu sistem vertikal. Konsep Reframing the Urban Workplace diwujudkan melalui tiga transformasi utama, yaitu perubahan dari ruang kerja yang statis menuju lingkungan kerja yang fleksibel dan kolaboratif, dari bangunan yang terisolasi menjadi bangunan yang terhubung dengan jaringan pejalan kaki dan ruang publik, serta dari pendekatan keberlanjutan yang bersifat teknis menuju strategi ekologis yang terintegrasi dalam bentuk, organisasi ruang, dan material bangunan. Pendekatan tersebut didukung oleh penerapan strategi desain pasif, efisiensi energi, penyediaan ruang hijau, dan peningkatan konektivitas kawasan. Melalui pendekatan tersebut, rancangan diharapkan mampu menghadirkan tipologi perkantoran yang lebih adaptif terhadap perkembangan pola kerja kontemporer, meningkatkan kualitas ruang perkotaan, serta mendukung terwujudnya kawasan pusat bisnis Simpang Lima yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing. Kata kunci: Multi-Tenant Office Tower, Urban Workplace, Arsitektur Berkelanjutan, Fleksibilitas Ruang Kerja, Konektivitas Urban.
Urban Connector Simpang Lima Normalita Edy
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring berkembangnya konsep kota ramah pejalan kaki, diperlukan suatu infrastruktur yang mampu menghubungkan berbagai titik aktivitas secara efektif dan terintegrasi. Melalui pendekatan urban connector ini bertujuan menciptakan sistem pedestrian yang aman nyaman dan berkelanjutan